Indonesia
NovelToon NovelToon

Luka Chelsea

Bab Satu

Malam itu, rumah keluarga Arsaka kembali dipenuhi suara tawa. Sudah lama rumah ini menjadi tempat berkumpul yang selalu dirindukan.

Tidak peduli sesibuk apa pun mereka, Arsaka dan Hana selalu memastikan satu hal. Makan malam bersama keluarga harus tetap ada. Karena bagi mereka, keluarga bukan hanya tentang tinggal di rumah yang sama.

Tapi tentang meluangkan waktu untuk duduk bersama, bercerita, dan mengingat bahwa ada orang-orang yang selalu menunggu kepulangan mereka.

"Tambah nasi lagi, Al."

Hana menunjuk piring anak bungsunya yang sudah hampir kosong. Althaf Arkananta, atau yang lebih sering dipanggil Al, langsung menggeleng.

"Mom, aku sudah makan banyak."

Arsaka yang duduk di sebelah Hana langsung melirik putranya. "Baru dua kali tambah."

Al langsung tertawa. "Daddy memperhatikan sekali."

"Aku memperhatikan semua anakku."

Jawaban Arsaka membuat Hana tersenyum kecil. Di usianya yang tidak lagi muda, pria itu tetap sama. Ia tetap menjadi sosok ayah yang selalu memperhatikan hal-hal kecil tentang anak-anaknya.

Di ujung meja, El hanya tersenyum melihat keluarganya. Pria berusia dua puluh tujuh tahun itu kini sudah jauh berbeda dari anak kecil yang dulu selalu berlari mengejar Chelsea di rumah.

Sekarang El adalah penerus perusahaan keluarga. Menggantikan posisi Arsaka sebagai pemimpin perusahaan bukanlah hal mudah, tapi El membuktikan bahwa ia bukan hanya anak dari seorang Arsaka. Ia memiliki kemampuan dan caranya sendiri. Selalu terlihat tenang tapi tegas dan bertanggung jawab.

Namun bagi keluarganya, El tetaplah El. Anak pertama mereka. Kakaknya Chelsea dan juga Al.

Sementara di samping El, Chelsea hanya tersenyum kecil sambil mendengarkan obrolan keluarganya. Di usia dua puluh tujuh tahun, Chelsea tumbuh menjadi wanita yang lembut dan mandiri.

Tidak banyak yang tahu bahwa gadis kecil yang dulu datang ke rumah ini saat berusia lima bulan pernah merasa takut tidak diterima. Takut dianggap berbeda. Takut suatu hari akan kehilangan tempatnya.

Tapi Arsaka dan Hana tidak pernah membuatnya merasa seperti itu. Bagi mereka, Chelsea adalah anak mereka. Bukan anak angkat. Bukan seseorang yang harus berterima kasih karena diberikan rumah. Chelsea adalah bagian dari rumah itu.

Dan mungkin karena itulah, Chelsea menyimpan satu perasaan yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Bahkan kepada dirinya sendiri pun terkadang ia menyangkal. Ia mencintai El.

Bukan sebagai seorang adik kepada kakaknya. Tapi sebagai seorang wanita kepada pria yang sejak kecil selalu ada untuknya.

Pria yang dulu menggenggam tangannya ketika ia takut. Pria yang selalu membelanya. Pria yang membuatnya merasa aman.

El adalah rumah pertama Chelsea. Dan justru karena itu, Chelsea takut kehilangan.

"Kenapa diam saja?"

Suara El membuat Chelsea tersadar. Ia menoleh. "Hm, tak ada Bang."

Walau usia El dan Chelsea hanya terpaut beberapa bulan, tapi kedua orang tua mereka meminta memanggilnya abang.

"Kamu dari tadi cuma makan sedikit."

Chelsea langsung tersenyum. "Aku lagi dengar kalian ngobrol."

El mengernyit. "Kebiasaan kamu masih sama."

"Apa?"

"Selalu memperhatikan orang lain sampai lupa diri sendiri."

Chelsea hanya tertawa kecil. "Abang juga masih sama."

"Sama apanya?"

"Masih suka mengatur."

El tersenyum. "Karena kamu masih suka tidak menjaga diri."

Kalimat sederhana itu., yang bagi El mungkin biasa. Tidak bagi Chelsea, selalu punya arti lebih.

Ia menunduk sebentar, menyembunyikan senyum kecilnya. Namun malam itu, senyum Chelsea perlahan menghilang ketika El tiba-tiba meletakkan sendoknya.

"Aku mau bilang sesuatu."

Semua orang langsung melihat ke arahnya.

Arsaka mengangkat alis. "Ada apa?"

El menarik napas kecil. Sesuatu yang membuat Chelsea langsung merasa aneh.

"Aku saat ini telah memiliki teman spesial."

Ruangan itu mendadak berubah. Hana langsung tersenyum. "Serius, Nak?"

El mengangguk. "Iya, Mom."

Al langsung bersiul kecil. "Wah, akhirnya ...."

El menatap adiknya. "Akhirnya apa?"

"Akhirnya CEO muda ini punya pacar juga."

Semua orang tertawa. Tapi tidak dengan Chelsea. Bukan karena ia tidak bahagia. Bukan karena ia tidak ingin El menemukan seseorang. Tapi karena ada sesuatu yang tiba-tiba terasa ada yang mengoyak hatinya.

Seseorang yang diam-diam selalu ia sebut namanya di setiap helaan napas. El kini. sudah memiliki seseorang.

Padahal selama ini, tanpa sadar Chelsea selalu menyimpan harapan kecil, bahwa mungkin suatu hari El akan melihatnya lebih dari sekadar adik kecilnya.

Namun sekarang ia sadar. Mungkin perasaan itu memang hanya miliknya. El menyayangi dirinya hanya sebagai saudara.

"Chel."

Chelsea tersentak. El menatapnya. "Kamu tidak tanya siapa?"

Chelsea langsung tersenyum. "Emangnya siapa wanita yang beruntung itu, Bang?"

"Namanya Zoya."

Chelsea mengangguk pelan. "Pasti wanita itu cantik, baik dan lembut. Sehingga bisa menaklukkan hati Abangku."

El tersenyum. "Dia memang baik dan cantik."

Jawaban itu membuat dada Chelsea terasa semakin sesak. Karena dari cara El tersenyum saat menyebut namanya Chelsea sadar kalau pria itu benar-benar telah jatuh cinta dengan wanita bernama Zoya.

"Dad, Mom ...."

El melihat Arsaka dan Hana. "Aku ingin mengenalkan Zoya ke keluarga."

Hana langsung tersenyum bahagia. "Tentu saja kamu harus mengenalkannya pada kami. "

El mengangguk. "Nanti aku ajak dia makan malam bersama. Biar semua kenal dengan Zoya-ku."

Chelsea mencoba tersenyum. Berusaha terlihat biasa. Tetap menjadi Chelsea yang selalu mendukung El, seperti selama ini ia lakukan.

Lalu El kembali menatapnya. "Chel."

"Iya, Abang?"

"Aku mau kamu jadi orang pertama yang aku kenalkan ke Zoya."

Chelsea terdiam sesaat sebelum berkata, "Kenapa aku?"

El tersenyum seperti itu adalah hal yang paling wajar. "Karena kamu orang yang paling penting buat aku setelah Daddy dan mommy."

Kalimat itu seharusnya membuat Chelsea bahagia. Tapi entah kenapa ada rasa sakit kecil yang muncul bersamaan.

El melanjutkan ucapannya. "Aku mau ajak kamu makan malam bertiga sama aku dan Zoya."

Chelsea menatap El. Bertiga, itu berarti ia akan melihat langsung kemesraan pria yang sangat ia cintai dengan wanita yang akan menjadi seseorang paling spesial bagi El.

Untuk pertama kalinya, Chelsea merasa takut kehilangan tempatnya. Namun seperti biasa, ia hanya tersenyum. Karena sejak dulu, Chelsea selalu menanamkan pada dirinya sendiri, tidak boleh mencintai El. Dan ia tidak boleh menghancurkan kebahagiaan El.

"Baik, Bang. Aku juga ingin kenalan."

Jawaban itu keluar dengan suara lembut. Sementara di dalam hatinya. Chelsea sedang berusaha menerima kenyataan bahwa mungkin cinta pertamanya tidak pernah melihatnya sebagai seorang wanita. Hanya sebagai adik kecil yang selalu ingin ia lindungi.

Bab Dua

Malam itu, rumah keluarga Arsaka kembali terasa hangat seperti biasanya. Namun bagi Chelsea, ada sesuatu yang berbeda. Sejak makan malam kemarin, pikirannya terus berputar pada satu hal.

El memiliki seseorang. Dan lebih menyakitkan lagi, El terlihat begitu bahagia saat menyebut nama Zoya.

Chelsea berusaha meyakinkan dirinya bahwa itu adalah hal yang seharusnya membuatnya bahagia juga. Karena bukankah selama ini ia selalu ingin melihat El bahagia? Tapi kenapa rasanya begitu sulit?

Chelsea berdiri di depan cermin kamarnya. Ia menatap pantulan dirinya sendiri dengan senyum kecil yang dipaksakan. Malam ini ia hanya akan menemani El makan malam. Tidak lebih.

Ia bukan siapa-siapa bagi El selain adik. Adik yang selalu dilindungi dan diperhatikan. Bukan wanita yang akan dipilih.

"Chelsea, kamu sudah siap?" Suara Hana terdengar dari luar kamar.

Chelsea segera mengambil tas kecilnya lalu membuka pintu. "Aku sudah siap, Mom."

Begitu keluar, langkah Chelsea langsung membuat dua orang yang sedang duduk di ruang keluarga menoleh. Arsaka yang sedang membaca sesuatu di tablet langsung menghentikan kegiatannya.

Matanya melebar sedikit melihat putrinya. Bukan karena Chelsea berubah menjadi orang lain. Tapi karena di mata Arsaka, Chelsea selalu menjadi gadis kecilnya yang cantik.

"Kamu cantik banget, gadisku."

Chelsea langsung tersenyum malu. "Daddy mulai lagi."

Arsaka berdiri sambil menghampiri putrinya. Ia memperhatikan Chelsea dari atas sampai bawah dengan tatapan seorang ayah yang masih tidak percaya anak kecil yang dulu ia gendong kini sudah tumbuh menjadi wanita dewasa.

"Siapa pria beruntung yang mendapatkan cinta kamu, hm?"

Chelsea langsung tertawa kecil. "Daddy ...."

"Tapi Daddy serius." Arsaka menunjuk Chelsea. "Daddy tidak akan membiarkan ada pria yang menyakitimu."

Nada suaranya terdengar seperti ancaman, membuat Chelsea dan Hana langsung tertawa. Hana yang duduk di sofa hanya menggeleng sambil tersenyum.

"Mas, Chelsea pasti tahu dengan pilihannya."

Hana berdiri lalu menghampiri Chelsea. "Mommy yakin kamu akan mendapatkan pria yang baik. Karena anak Mommy juga anak yang baik dan sangat cantik."

Chelsea langsung memeluk lengan Hana. "Daddy dan Mommy jangan terlalu memuji. Nanti ada yang dengar, malu."

"Kenapa malu?" tanya Hana.

Chelsea mengangkat bahu kecil. "Karena cuma Daddy sama Mom yang bilang aku cantik. Orang lain belum tentu."

Mendengar itu, Arsaka langsung memasang wajah serius. "Siapa yang berani bilang kamu jelek?"

Chelsea menahan tawa. "Mungkin saja ada."

"Berani bilang kamu jelek. Daddy kirim ke pulau komodo. Belum tau ya, Chelsea adalah putri kesayangan Arsaka. Seorang CEO dingin dan kejam!"

Kalimat itu membuat Chelsea dan Hana langsung tertawa. Al yang baru turun dari tangga ikut mendengar perkataan ayahnya. Ia langsung tertawa.

"Daddy, itu bukan hukuman. Itu namanya kirim orang liburan."

Arsaka menoleh santai. "Al."

"Iya, Dad?"

"Jangan lawan Daddy."

Al langsung mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Tapi Daddy memang benar, Kak Chelsea memang cantik."

Chelsea menggeleng sambil tersenyum. "Al, kamu jangan ikut-ikutan."

Al berjalan mendekat lalu berpura-pura berpikir. "Kalau begitu ...." Ia menatap Chelsea dengan wajah jahil. "Kak Chelsea mau jadi istriku?"

Chelsea langsung membelalakkan mata. "Al!"

Tawa memenuhi ruang keluarga. Namun sebelum Chelsea sempat membalas, suara lain terdengar dari arah tangga.

"Mimpi kamu?"

Semua orang menoleh. El berdiri di sana dengan jas santai yang sudah rapi. Tatapannya langsung tertuju pada Al.

"Chelsea itu kakak kamu."

Al tersenyum jahil. "Kan cuma bercanda."

El turun perlahan. "Sampai kapan pun dia tetap kakak kamu."

Lalu pandangan El beralih pada Chelsea. "Walaupun kalian tidak sedarah, tapi semua orang tahu kalian bersaudara."

Kalimat itu membuat senyum Chelsea sedikit memudar. Tak boleh ada cinta. Karena kalian saudara. Itu adalah kalimat yang selalu ia tahu sejak kecil. Tapi mendengar El sendiri yang mengatakannya, entah kenapa tetap terasa sakit.

El melanjutkan. "Tak boleh ada cinta seperti itu."

Arsaka yang mendengar hanya mengangguk. "Betul apa yang Abang El katakan." Pria itu melihat ketiga anaknya. "Kalian bertiga bersaudara. Jangan ada kata cinta selain cinta karena persaudaraan."

Chelsea tersenyum kecil. "Iya, Dad." Jawaban itu terdengar ringan. Padahal berbeda dalam hatinya.

El mengambil kunci mobil. "Ayo, Chel. Kita pergi."

Chelsea mengangguk. Ia berpamitan pada Arsaka dan Hana sebelum mengikuti El keluar. Sepanjang perjalanan, Chelsea lebih banyak diam. Bukan karena tidak ingin bicara. Tapi karena ia sedang mencoba mengendalikan hatinya sendiri.

Sementara El sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi. Baginya, Chelsea tetap Chelsea. Gadis yang selalu ada di sampingnya sejak kecil.

"Kamu kenapa diam?" Suara El membuat Chelsea menoleh.

"Tidak kenapa-kenapa."

"Kamu biasanya lebih banyak bicara."

Chelsea tersenyum. "Mungkin aku cuma capek."

El mengangguk. "Kalau capek bilang sama Abang."

Chelsea menatap wajah El yang sedang fokus menyetir. Satu kalimat sederhana yang penuh perhatian. Hal-hal kecil seperti itu yang membuatnya sulit berhenti mencintai pria ini. Karena El selalu membuatnya merasa istimewa. Walaupun hanya sebagai adik.

Beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah restoran mewah yang sudah El pilih. Begitu turun dari mobil, Chelsea berjalan di samping El. Dan tanpa sadar, saat mereka memasuki restoran, El menggenggam tangannya.

Chelsea langsung terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat. Genggaman itu terasa berbeda. Padahal El sudah sering menggenggam tangannya sejak mereka kecil.

Tapi malam ini berbeda, mungkin karena untuk pertama kalinya, Chelsea sadar bahwa tangan itu suatu hari nanti akan menggenggam tangan wanita lain.

Di dalam restoran, beberapa pasang mata langsung melihat ke arah mereka. Banyak yang tersenyum kecil. Melihat mereka seperti pasangan yang sangat serasi.

El dengan wajah tegas dan elegannya. Chelsea dengan wajah ayu dan senyumnya yang manis. Walaupun kulit Chelsea tidak seputih El, kecantikannya memiliki pesona tersendiri. Ia terlihat lembut. Dan membuat siapa pun mudah merasa nyaman.

Beberapa orang bahkan berbisik kecil, mengira mereka pasangan. Chelsea yang mendengarnya hanya diam. Sedangkan El sama sekali tidak peduli. Ia tetap menggenggam tangan Chelsea. Seolah ingin mengatakan pada semua orang bahwa gadis itu adalah seseorang yang penting baginya..

Mereka akhirnya sampai di meja yang sudah dipesan. Seorang wanita cantik duduk di sana. Rambut panjangnya tergerai rapi. Wajahnya terlihat anggun dengan senyum yang sebelumnya terlihat bahagia.

Namun senyum itu perlahan menghilang ketika matanya menangkap pemandangan di depannya. El datang, tapi tidak sendirian. Di sampingnya ada seorang gadis.

Dan yang membuatnya semakin terkejut, El menggenggam tangan gadis itu. Wanita itu berdiri perlahan. Matanya berpindah dari El ke Chelsea. Ekspresi bingung jelas terlihat di wajahnya.

"El ...." Suara wanita itu terdengar pelan.

El tersenyum. "Zoya."

Chelsea menatap wanita itu. Jadi ini Zoya, pikirnya dalam Wanita yang berhasil mendapatkan hati El.

Namun berbeda dengan bayangan Chelsea, Zoya tidak langsung tersenyum. Ia justru masih terlihat terkejut. Karena dalam ini kekasihnya datang membawa seorang wanita lain. Dan wanita itu terlihat sangat dekat dengannya.

El belum sempat menjelaskan apa pun. Sementara Chelsea hanya berdiri diam.

Bab Tiga

Zoya masih berdiri di tempatnya. Tatapannya berpindah dari El ke Chelsea berkali-kali. Ada banyak pertanyaan yang jelas terlihat di matanya.

“El ...,” panggil Zoya dengan suara pelan.

El yang masih memegang tangan Chelsea akhirnya sadar dengan situasi itu. Ia langsung melepaskan genggamannya perlahan.

“Iya, Zoya”

Zoya menatap Chelsea. “Siapa wanita ini?”

Suasana di antara mereka seketika berubah. Chelsea yang sejak tadi diam langsung merasa tidak nyaman. Ia tidak ingin menjadi alasan kecanggungan di antara El dan kekasihnya.

El yang tidak menyadari perasaan Chelsea hanya tersenyum kecil. Ia juga tak perhatian dengan sikap Zoya yang agak sedikit tak suka dengan kehadiran gadis di sebelah kekasihnya.

“Oh iya, aku belum kenalkan.” Ia lalu menoleh ke arah Chelsea. “Chel, kenalkan. Ini Zoya, kekasihku.”

Jantung Chelsea terasa berhenti sesaat saat mendengar kalimat itu, kekasihku. Satu kata sederhana yang tetap terasa sakit meskipun sejak awal ia sudah tahu.

El kemudian menatap Zoya. “Zoya, ini Chelsea.”

Chelsea mencoba tersenyum. Ia mengulurkan tangannya. “Hai, Zoya.”

Zoya menatap tangan Chelsea beberapa detik sebelum akhirnya menyambutnya. “Hai, Chel.”

Namun ekspresi wanita itu masih terlihat penuh rasa ingin tahu. Ia masih kurang suka dengan kehadiran gadis itu.

“Oh … ini anak angkat orang tua kamu itu?”

Pertanyaan itu mungkin terdengar biasa. Bahkan mungkin bagi orang lain tidak memiliki arti apa-apa. Tapi bagi Chelsea, kalimat itu seperti menusuk tepat di tempat yang paling sakit.

Tangannya perlahan turun. Anak angkat, itu memang benar. Ia memang bukan anak kandung Arsaka dan Hana.

Ia masih ingat bagaimana dulu orang tuanya menjelaskan semuanya ketika ia sudah cukup besar untuk mengerti. Bahwa ia bukan lahir dari keluarga Arsaka. Bahwa ia hanya seorang bayi kecil yang kemudian dipilih untuk menjadi bagian dari keluarga itu.

Mereka tidak pernah menyembunyikan kenyataan itu. Dan Chelsea sudah tahu.

Tapi mengetahui sebuah kenyataan tidak berarti mendengar orang lain mengatakannya tidak akan menyakitkan. Karena di dalam hatinya, terkadang masih ada rasa takut.

Takut kalau suatu hari orang lain akan menganggapnya berbeda. Takut kalau suatu hari seseorang akan mengingatkannya bahwa ia hanya datang sebagai orang luar.

“Zoya.” Suara El terdengar sedikit berubah.

Wanita itu menatap El. “Kenapa, El?”

“Kamu nggak harus berkata seperti itu.”

Zoya mengangkat alis. “Aku cuma mengatakan kenyataan, El.”

Chelsea langsung merasa tidak enak. Ia melihat keduanya mulai berbeda pendapat karena dirinya. Sebelum El membalas, Chelsea buru-buru tersenyum kecil.

“Benar, Zoya. Aku anak angkat Daddy dan Mommy Bang El."

El langsung menoleh. “Chel .…”

Chelsea mengabaikannya. "Kenapa, Bang El? Zoya berkata benar." Ia mencoba tertawa kecil agar suasana tidak terasa berat. “Nggak ada yang salah. Aku memang bukan anak kandung Daddy dan Mommy.”

Tapi senyumnya terlihat terlalu dipaksakan. El menatap Chelsea cukup lama. Ia tahu gadis itu sedang berusaha terlihat baik-baik saja.

“Chelsea.” Nada suara El lebih lembut.

“Kalau Daddy sama Mommy dengar kamu bicara seperti itu, mereka pasti sedih.”

Chelsea terdiam. Memang benar. Arsaka dan Hana selalu berkata, "Dalam tubuhmu memang tak mengalir darah daddy, dan kamu bukan terlahir dari rahim mommy. Tapi kamu hadir dari hati kami. Cinta kami untuk kamu sama besar dengan cinta untuk El dan Al."

“Bagi mereka, kamu bukan sekadar anak angkat.” El menatapnya. “Kamu putri kesayangan mereka.”

Kalimat itu membuat Chelsea menunduk, karena ia tahu El benar. Arsaka dan Hana tidak pernah membedakannya. Mereka selalu membuatnya merasa dicintai. Tapi luka kecil itu tetap ada. Luka karena ia tahu darahnya bukan darah keluarga Arsaka.

Zoya yang mendengar perkataan El terlihat sedikit berubah. Ekspresinya tidak lagi setegang tadi.

Ia akhirnya duduk. “Ya sudah. Kita makan saja.”

El mengangguk. Mereka bertiga akhirnya duduk bersama. Namun suasana yang awalnya ingin dibuat santai menjadi sedikit kaku.

Chelsea lebih banyak diam. Ia hanya menjawab ketika ditanya. Sementara El beberapa kali mencoba mengajak bicara agar suasana kembali nyaman.

Zoya juga mulai berbicara hal-hal ringan. Tentang pekerjaannya, tentang restoran itu, dan beberapa cerita kecil lainnya.

Perlahan suasana kembali normal. Sampai akhirnya pesanan mereka datang. Makanan memenuhi meja.

Chelsea mencoba menikmati malam itu. Ia tidak ingin membuat semuanya semakin buruk. Namun seperti biasa, El tetap menjadi El. Pria yang sejak kecil selalu memperhatikannya. Ketika Chelsea mengambil udang, El tanpa berpikir langsung mengambilnya.

“Kamu jangan makan dulu.”

Chelsea menatapnya bingung. El mulai mengupas kulit udang itu seperti kebiasaannya sejak dulu.

“Biar aku kupaskan.”

Chelsea terdiam. Mungkin bagi sebagian orang menganggap itu hal kecil. Tapi itulah masalahnya. Hal-hal kecil dari El selalu berhasil membuat hatinya berharap. Padahal ia tahu tidak boleh.

Dari seberang meja, Zoya memperhatikan mereka. Sampai akhirnya wanita itu bersuara.

“Apa kamu hanya mengupas kulit udang buat Chelsea saja?”

Tangan El berhenti. Chelsea langsung merasa tidak nyaman.

“Zoya .…”

Namun sebelum El menjawab, Chelsea lebih dulu tersenyum. “Maaf, Zoya.”

Ia mengambil napas kecil. “Mungkin ini cuma kebiasaan saja. El selalu begitu dari kami kecil."

Zoya menatapnya. “Kebiasaan?”

Chelsea mengangguk. “Iya. Dari dulu Bang El memang begitu.”

Zoya menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Seharusnya kebiasaan itu diubah.”

Chelsea jadi terdiam mendengar ucapan Zoya. Begitu juga El. Ia mau mendengarkan ucapan selanjutnya dari sang kekasih.

“Kamu sudah dewasa, Chelsea.”

Nada Zoya tidak kasar, tapi cukup membuat Chelsea merasa tersindir. “Nanti kamu pasti akan punya pasangan juga.”

Ia menatap El sebentar. “Dan kamu harus menjaga perasaan pasangan kamu.”

Chelsea langsung menunduk. Kalimat itu sepertinya bukan hanya ditujukan untuknya. Tapi Zoya juga menyindir El. Sepertinya tak terima pria itu memperhatikan dirinya.

“Zoya, udahlah.” El akhirnya bicara. “Aku juga akan mengupaskan udang untuk kamu.”

Ia mengambil udang lain. “Cuma harus bergantian.”

Zoya tersenyum kecil, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. “Bergantian?”

El menatapnya. “Iya.”

Zoya lalu bertanya dengan suara pelan. “Chelsea yang utama dan pertama?”

Pertanyaan itu membuat meja makan kembali hening. Chelsea langsung merasa bersalah. Ia ingin mengatakan tidak. Ia ingin menjelaskan bahwa ia tidak pernah meminta El memperlakukannya seperti itu.

Tapi sebelum ia sempat bicara, El menarik napas panjang. Pria itu terlihat benar-benar memahami posisi Zoya.

“Maafkan, aku." Suara El terdengar lebih serius. Seperti merasa bersalah.

“Aku nanti pasti akan mendahului kamu dalam segala hal dan dari siapapun.”

Chelsea membeku. Sementara Zoya hanya diam. Malam ini Chelsea sadar, mungkin selama ini ia terlalu menikmati perhatian El.

Sampai lupa bahwa perhatian itu suatu hari akan diberikan kepada orang lain. Kepada wanita yang benar-benar menjadi pilihan hatinya El.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!