Malang.
"Alhamdulillah, akhirnya Alea kita bakal nikah juga ya Pa bulan depan." Ungkap Ayu Windarsih, ibu kandung Alea Widya Laksono,. penuh senyum bahagia terpancar di raut wajah tua nya.
"Iya, Ma. Alhamdulillah," sahut Brigjen Pol (Purn) Bayu Laksono, ayah kandung Alea, yang juga tampak ikut bahagia walaupun terselip sebuah kekhawatiran.
Ya, khawatir akan masa depan putrinya ke depan selepas menjadi seorang istri dari abdi negara karena Alea pernah memiliki catatan luka di masa lalu.
Sepasang suami-istri yang usianya sudah lanjut tersebut begitu sumringah berbincang di ruang tamu kediaman pribadinya perihal rencana pernikahan saudari kembar Langit itu.
Tak hanya Bayu dan Ayu yang berada di sana. Tampak Alea duduk di salah satu sudut sofa sembari kepalanya menunduk ke lantai. Wanita berhijab hitam dengan pakaian gamis senada warna tersebut tampak berbeda dengan kedua orang tuanya yang terus tersenyum membahas rencana pernikahannya.
Hal itu tak luput dari pandangan kedua mata Bayu. Namun, ia memilih diam karena tak ingin merusak suasana bahagia hati sang istri. Terlebih kondisi kesehatan Ayu yang kian membaik ketimbang beberapa tahun lalu saat Alea masih berada di dalam rumah sakit jiwa.
Alea Widya Laksono pernah menderita gangguan mental setelah tragedi pemer_kosaan yang menimpa dirinya tujuh tahun yang lalu di sebuah gudang tua oleh segerombolan pre_man jalanan.
Para terpidana kasus tersebut sudah mendapatkan hukuman penjara. Ada yang mendapat hukuman lima tahun, enam tahun dan ada juga yang sembilan tahun.
Alea menatap pantulan dirinya di cermin besar yang ada di dalam kamarnya. Tahun ini usianya sudah menginjak tiga puluh lima tahun.
Wanita seumuran dirinya dominan sudah menikah, bahkan punya anak. Akan tetapi, hingga kini Alea masih single alias belum menikah. Boro-boro menikah, pacar saja tak punya. Teman atau sahabat sesama perempuan, ia juga tak punya.
Setelah kasus yang menimpanya tujuh tahun lalu Alea ditinggalkan teman-teman dekatnya.
Setelah keluar dari rumah sakit jiwa, Alea sering menghabiskan waktunya di dalam rumah. Sesekali ikut kajian untuk memperdalam ilmu agama dan pengetahuan secara umum seperti memasak, membuat kue hingga belajar menjahit atau mendesign sebuah baju.
Jika keluar rumah, Alea terbiasa menggunakan hijab dan busana yang menutup auratnya.
Trauma masa lalu membuatnya tak lagi berpakaian se_xy atau terbuka. Bahkan Alea tak pernah pergi ke cafe atau tempat hiburan malam lagi sejak kejadian naas beberapa tahun yang lalu yang sempat merenggut kesucian hingga kewarasan mentalnya.
Beruntung percobaan buu_nuh diri yang pernah beberapa kali dilakukan Alea ketika di dalam rumah sakit jiwa berhasil digagalkan dokter dan perawat.
"Kok kamu diem aja, Lea. Kenapa?" tegur Mama Ayu yang baru saja kedua matanya melihat Alea seakan menyembunyikan sesuatu. Entah semacam sebuah kekhawatiran atau kegelisahan.
"Enggak apa-apa, Ma."
"Apa ada yang mengganjal di pikiranmu, Nak?" pancing Ayu sebagai seorang ibu yang tentu punya kedekatan feeling dengan anaknya, terutama anak perempuannya ini. "Apa kamu gak suka sama perjodohan ini?" imbuhnya.
Bayu memilih diam dan menyimak obrolan sang istri dengan putrinya itu.
"Gak ada, Ma. Cuma..." ucapan Alea sejenak menggantung.
"Cuma apa? Katakan saja. Papa dan mama pasti dengerin mau kamu kok," desak Ayu dengan tatapan cemas dan serius tertuju pada Alea.
"Papa dan mama pasti tau aku udah enggak..." ucapan Alea kembali menggantung dengan kepala setia tertunduk. Ayu dan Bayu memilih tetap diam sembari sabar menunggu Alea menyelesaikan kalimatnya.
Jika mengingat masa lalunya, sungguh Alea begitu malu terhadap keluarga terutama pada kedua orang tuanya yang telah bersusah payah membesarkan dirinya. Semua mimpi dan harapannya pupus karena kebodohan dirinya serta kebiada_pan pelaku yang tega mengambil kesuciannya malam itu.
Alea menarik nafasnya sejenak. Rasanya sungguh sesak jika harus terus mengingat masa lalu kelam itu.
Nasi sudah menjadi bubur. Alea tak mampu mengubah apa yang telah rusak dan hilang dari dirinya. Ia hanya pasrah dan berdoa akan takdir masa depannya. Walaupun bayang-bayang buruk itu akan tetap meninggalkan luka dan tak semudah itu hilang dari pikiran serta hatinya.
"Bagaimana perkara tes kesehatanku untuk pendaftaran pernikahan militer?" tanya Alea yang akhirnya berani mengeluarkan unek-unek di hatinya sejak beberapa minggu yang lalu dipendamnya.
Calon istri anggota TNI wajib mengikuti serangkaian tes meliputi Pemeriksaan Kesehatan (Rikes) di rumah sakit militer, Penelitian Khusus (Litsus) untuk mengecek latar belakang dan ideologi, serta Pembinaan Mental (Bintal). Selain itu, terdapat verifikasi kelengkapan dokumen administrasi pernikahan dan sesi wawancara khusus dengan Komandan Satuan sebelum melakukan pernikahan secara militer.
Ayu tersenyum sembari bernafas lega usai mendengar pertanyaan Alea.
"Kamu tak perlu khawatir, Lea. Calon ibu mertuamu sudah membantu mengurus untuk menyelesaikan semua beban pikiranmu tadi,"
"Maksud mama?"
"Keluarga mertuamu itu orang yang punya pangkat dan kedudukan gak sembarangan. Calon suamimu juga baru saja diangkat jadi Danyon. Urusan rikes dan te_tek be_ngek prosedur pendaftaran pernikahan kalian berdua secara militer sudah beres. Kamu gak perlu cemas lagi,"
Alea sempat melirik ke arah Bayu sejenak. Bayu pun paham arti tatapan Alea padanya saat ini.
"Apa yang dibilang mama mu memang benar, Lea. Prabu dan keluarganya sudah membantu papa menyelesaikan semua urusan prosedur itu,"
"Apa dia tau kalau a_ku u_dah enggak...?" cicit Alea bertanya sedikit terbata dan ragu-ragu.
Bersambung...
🍁🍁🍁
* Danyon adalah singkatan dari Komandan Batalyon, yaitu perwira militer yang memimpin sebuah batalyon. Batalyon sendiri merupakan satuan dasar tempur dalam organisasi militer (seperti TNI) yang terdiri dari beberapa kompi.
*Assalammualaikum...
Apa kabar Sobat Safira semua?
Sesuai janji othor solehot, novel baru tayang di bulan Juni. Maaf aku sempat off beberapa minggu karena sibuk mengurus dunia nyata, terutama urusan pendaftaran sekolah anak-anak. 🙏🙏
Ini kisah Alea ya. Masih ingat kan Alea itu siapa?
"Prabu dan keluarganya sudah tau. Percayalah mereka ikhlas menerimamu. Mama berharap kamu jangan pernah mengungkit hal pahit itu lagi nantinya setelah kalian menikah," tutur Ayu seraya menggenggam erat tangan Alea.
Ayu tampak jelas memberi kekuatan serta kasih sayangnya secara penuh pada Alea.
"Kamu juga sudah mendengar cerita dan alasan kandasnya pernikahan Prabu di masa lalu. Semua manusia pasti diciptakan punya kekurangan dan kelebihan baik kamu maupun Prabu. Jangan pernah merasa rendah diri terus. Banyak berdoa saja agar kelak pernikahan kalian berdua langgeng hingga akhir hayat. Kamu dan Prabu memang terikat takdir jodoh seperti ini," sambung Ayu.
Perlu diketahui, Alea dan Prabu belum pernah bertemu secara langsung perkara membahas perjodohan antara mereka berdua.
Mayor Prabu Rasyid Wicaksono sendiri tengah sibuk dengan jabatan baru nya yakni sebagai komandan Batalyon Infanteri Mekanis 201/Jaya Yudha di Jakarta Timur.
Keluarga besar Wicaksono adalah perpaduan gambaran keluarga militer dan old money. Mendiang kakek Prabu adalah seorang pengusaha sukses di era Orde Baru. Sedangkan ayah Prabu yakni Jenderal TNI (Purn.) Dr. Mahendra Wicaksono S.I.P. memilih berkarir di militer. Jabatan terakhirnya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).
Ayah kandung Prabu terpaksa pensiun lebih awal dari karirnya di dunia militer. Dikarenakan setahun yang lalu ia mengalami kecelakaan mobil yang cukup parah. Sopir pribadi dan ajudannya meninggal dunia. Sedangkan Ayah Hendra mengalami koma hingga detik ini.
Perjodohan ini terjadi ketika Citraningtyas yang biasa dipanggil Bunda Citra (53 tahun) tanpa sengaja bertemu Ayu dan Alea di sebuah acara pernikahan rekan militer di Malang. Kala itu Bayu sedang ada urusan ke luar kota sehingga tak bisa hadi memenuhi undangan pernikahan dari anak rekan sejawatnya.
Bunda Citra adalah ibu sambung Prabu.
☘️☘️
Satu bulan kemudian, Malang.
"Sah!"
Satu kata terucap dari bibir para saksi menandakan kini Mayor Prabu Rasyid Wicaksono telah resmi menjadi suami dari Alea.
Papa Bayu tak kuasa menahan haru hingga kedua mata tua mereka berkaca-kaca dan menangis lirih.
"Alhamdulillah..." ucap Papa Bayu yang menitikkan air matanya karena telah menikahkan putrinya dengan Prabu.
Ia tentu berharap ke depan pernikahan antara Alea dan Prabu bisa langgeng hingga maut memisahkan.
Di sebuah kursi yang berada dekat di belakang Prabu, Bunda Citra duduk penuh rasa bahagia dan haru.
"Semoga pernikahan Prabu kali ini yang terakhir. Bahagiakan lah mereka berdua ya Tuhan. Berikan anak-menantuku keturunan yang saleh dan salehah. Aamiin..." batin Bunda Citra seraya memanjatkan doa untuk pernikahan Prabu dan Alea.
Ayah Hendra tidak hadir dalam pernikahan Prabu dan Alea karena masih terbaring koma. Namun Bunda Citra dan Prabu sudah mengatakan perihal pernikahan ini pada Ayah Hendra lewat bisikan di telinga. Mereka sangat berharap Ayah Hendra lekas bangun dari koma nya.
Di sebuah ruangan tak jauh dari tempat Prabu dan Bayu berada saat ini, Ayu begitu lega sekaligus terharu usai telinganya mendengar jelas dalam satu tarikan nafas Prabu mengucapkan ijab qobul.
"Alhamdulillah Lea-putri mama. Akhirnya kamu sekarang sudah sah jadi istri Prabu. Ingat selalu nasehat-nasehat mama ya, Sayang..." ucap Ayu di telinga Alea seraya memeluk tubuh putrinya itu.
Alea hanya mampu terdiam dengan kedua matanya yang ikut berkaca-kaca.
Bahagia
Terharu
Namun, Alea juga masih merasa takut.
Hanya Alea yang mengerti akan rasa ketakutannya sendiri tersebut.
"Selamat ya, Lea. Semoga kamu dan Prabu bahagia terus dan setelah ini segera punya banyak anak," ucap Nanda seraya bergantian memeluk tubuh adik iparnya itu.
"Makasih, Mbak."
"Kalau kamu ada yang ditanyakan urusan wanita, dapur, kasur, aku siap berbagi kok. Hehe..." celetuk Nanda sedikit bercanda agar suasana di dalam ruangan itu lebih cair alias tidak tegang.
Ketiga wanita berbeda usia itu pun saling tertawa kecil.
Walaupun hubungan di masa lalu antara Alea dengan Nanda-kakak iparnya pernah bermasalah, tetapi sekarang sudah tidak lagi. Justru keduanya semakin akrab, terutama setelah Alea keluar dari rumah sakit jiwa.
Pembawa acara segera memanggil mempelai wanita yakni Alea Widya Laksono untuk keluar dan duduk di meja akad nikah. Dikarenakan segera melakukan penandatanganan buku nikah serta sesi foto bersama.
Tap...tap...tap...
Alea hari ini tampil begitu cantik memakai gaun muslim berwarna putih dengan hijab warna yang senada. Bahan satin premium mewah dengan aksen bordiran serta brukat yang melekat pada gaun putih yang dikenakan Alea semakin membuat semua mata terpesona memandangnya, tak terkecuali Prabu.
Alea digandeng oleh Mama Ayu di sisi kanan. Sedangkan di sisi kiri Nanda menggandeng lengan adik iparnya itu. Langit bagian mendorong perlahan kursi roda sang ibu yang bersikeras ingin mengantar Alea ke meja ijab qobul.
Secara perlahan mereka berempat melangkah dan mendekat ke meja ijab qobul.
Prabu sekilas melihat Alea dari kejauhan. Tak dapat dipungkiri hati kecilnya mendadak bergemuruh aneh. Mirip hati seseorang apabila sedang merasakan jatuh cinta. Padahal Prabu tipikal pria yang cukup sulit untuk jatuh cinta pada seorang wanita.
Entah ia terpesona akan kecantikan wanita yang sudah menjadi istrinya itu atau ada hal lain yang membuat hatinya seakan tersentuh pada paras Alea. Walaupun wanita itu sejak tadi menjatuhkan pandangannya terus ke arah lantai.
Alea pun kini sudah mendaratkan b0_kong nya di sebuah kursi, tepat di samping Prabu.
"Silahkan tanda tangan, Bu," ucap petugas sambil menggeser map ke arah Alea dan menyerahkan sebuah pena.
Terdengar suara hembusan nafas Alea di telinga Prabu. Tampak jelas wanita di sampingnya ini terlihat grogi. Jari-jemari Alea yang memegang pena sedikit bergetar. Hal itu tak luput dari tatapan mata elang Prabu.
Acara tanda tangan dokumen pun telah usai. Nama keduanya kini tercetak rapi di dokumen negara.
Pernikahan kedua Prabu kali ini dihelat secara tertutup, namun tetap tergolong mewah. Lokasinya di sebuah hotel berbintang di Malang Kota. Hanya mengundang keluarga, teman dan kolega dekat saja seperti inti_mate wedding.
Pemandangan yang sangat kontras dapat terlihat jelas jika dibandingkan dengan pernikahan pertamanya dahulu bersama Kinanti Putri Salim yang dihelat begitu besar-besaran bahkan disiarkan secara live di sebuah stasiun televisi swasta ternama di Jakarta. Kinan juga menggelar pesta kedua yang mengusung tema private party beberapa hari setelah acara di Jakarta.
Tentu semua itu atas permintaan mantan istri Prabu yang biasa dipanggil Kinan. Wanita itu berprofesi sebagai model sekaligus pewaris tunggal perusahaan ternama negeri ini yakni Salim Grup.
Namun sayang, pernikahan keduanya kandas dua tahun yang lalu.
☘️☘️
Kembali ke masa sekarang.
Sebagian besar tamu sudah pulang. Alea sudah dibawa oleh Mama Ayu dan Nanda untuk kembali ke kamar pengantin.
Papa Bayu datang mendekat ke tempat Prabu berdiri. Prabu cukup terkejut, namun dengan cepat ia berhasil tenang di depan ayah mertuanya itu
"Nak," sapa Papa Bayu seraya menepuk pundak Prabu lembut namun tetap tampak penuh ketegasan.
Bibir Prabu memilih tetap diam, namun ia membalas sapaan Papa Bayu penuh hormat dari gestur dan gerak matanya.
"Papa titip Alea ke kamu. Bahagiakan dia semampumu," tutur Papa Bayu menjeda ucapannya sejenak. "Kalau putri papa melakukan kesalahan, tolong kamu bimbing dia dan maafkan. Kamu bisa beritahu papa, nanti kami yang akan menegurnya."
"Prabu juga masih banyak belajar, Pa. Prabu juga bukan manusia yang sempurna," sahut Prabu.
Papa Bayu pun menganggukkan kepalanya kecil di depan menantunya itu. Ia begitu mengerti.
"Jika suatu hari nanti kamu sudah tak sanggup hidup bersama, tolong pulangkan Alea baik-baik ke rumah kami. Papa tidak akan banyak bertanya atau menyalahkan siapapun termasuk kamu. Alea sudah pernah mengalami luka yang sangat dalam. Papa berharap kamu menyembuhkan luka itu, bukan untuk menambahkan luka baru di hatinya."
Bersambung...
🍁🍁🍁
Ceklek...
Derit pintu salah satu kamar terbaik di Hotel Tugu-Malang itu pun perlahan terbuka. Prabu melangkah masuk ke dalam kamar pengantin miliknya.
Langkah kaki Prabu terhenti sejenak kala tatapan kedua matanya beradu pandang dengan sorot mata sayu melembutkan dari wanita berhijab putih yang beberapa jam lalu baru saja resmi menjadi istri barunya. Tatapan mata Alea sungguh menenangkan bagi Prabu, namun jelas menyimpan sebuah trauma masa lalu yang penuh misteri baginya.
Alea tak lama-lama memandang Prabu. Ia tetap berada di posisi semula, sama sekali tak beranjak sejengkal pun. Alea tetap duduk di tepian ranjang pengantin. Ia masih lengkap memakai baju pengantin dan hijabnya. Sungguh sejak tadi
"Ehem," Prabu berdehem bermaksud memecah keheningan yang ada.
Alea sedikit terkejut mendengar suara deheman Prabu yang begitu dingin, tegas tapi ada hal yang sedikit aneh. Seakan Alea familiar dengan suara Prabu di telinganya, tapi otaknya tengah buntu saat ini. Ia tak mampu berpikir atau mengingatnya dengan jelas. Berakhir melupakan pikirannya sepintas lalu.
Saat ini Alea benar-benar tengah dilanda canggung yang luar biasa. Di antara kepingan trauma masa lalunya, sekarang ia harus berada satu kamar bersama lawan jenis. Hal yang sudah tujuh tahun lebih dirinya hindari yakni berdekatan dengan lawan jenis selain keluarganya. Walaupun pria di hadapannya sekarang ini adalah suami sah nya. Pria yang berhak atas dirinya secara utuh.
"Kenapa belum ganti baju?"
"Eh..." refleks bibir Alea yang juga kepalanya ikut menongak menatap Prabu yang berdiri tak jauh darinya saat ini.
"Ehm, a_ku..." ucapan Alea menggantung dengan bola mata bergulir resah ke sana-kemari.
Pikirannya tengah kebingungan mencari jawaban apa yang tepat untuk pertanyaan Prabu tersebut tanpa membuat dirinya malu sebagai istri. Hati Prabu memaklumi sikap Alea yang canggung di malam pengantin.
Namun, Prabu adalah sosok tentara yang terbiasa dengan tatapan dingin menusuk dan penuh ketegasan. Tak jarang apabila orang yang belum mengenal dirinya, pasti beranggapan bahwa Prabu adalah sosok manusia es alias kulkas dua belas pintu.
"Apa kamu lupa bawa baju ganti?" pancing Prabu.
"Ah, enggak Mas." Jawab Alea refleks cepat.
Sejujurnya Alea begitu merutuki bibirnya sendiri yang suka berucap tanpa bisa ia kendalikan. Alea semakin malu pada Prabu. Padahal dirinya bukan gadis pera_wan lagi, tapi tingkahnya mirip gadis yang masih suci yang seolah ingin kabur dari malam pertamanya
Melihat tingkah Alea yang terlihat gemetaran, Prabu semakin menabur bensin dalam kobaran api kecanggungan itu. Prabu memilih untuk mendaratkan bo_kong nya di samping Alea.
"Maaf, kalau di ruang ijab qobul tadi adalah pertemuan pertama kita. Seharusnya aku hadir saat lamaran di rumah orang tuamu beberapa waktu yang lalu. Tapi aku dapat panggilan tugas mendadak. Sekali lagi aku minta maaf," ucap Prabu.
Nyess...
Sungguh hati Alea begitu terharu karena kalimat pertama kali Prabu ucapkan di kamar pengantin mereka adalah sebuah permintaan maaf yang terlihat jelas begitu murni dan tanpa bumbu yang lain.
Alea tak banyak berharap jika malam pengantinnya diisi kata cinta dari Prabu. Toh mereka berdua baru saja menikah karena perjodohan singkat dari kedua orang tua. Tentu secara logika, kata cinta itu masih sangat jauh.
Bagi Alea, seorang pria hebat seperti Prabu menerima dirinya saja, ia sudah sangat bersyukur.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku mengerti kesibukan Mas Prabu," balas Alea lirih dan apa adanya.
Sejak lahir, Alea juga hidup di keluarga militer sehingga ia begitu paham kesibukan seorang abdi negara terlebih Prabu baru saja menjabat sebagai komandan batalyon.
☘️☘️
Hening tercipta beberapa saat sebelum akhirnya Prabu kembali membuka suara.
"Apa kamu tau kalau aku seorang duda cerai hidup tanpa anak?" tanya Prabu seraya menatap sekilas wajah Alea dari samping.
"Tau," jawab Alea singkat seraya kepalanya mengangguk kecil.
Alea tetap memilih untuk menjatuhkan pandangannya ke lantai sembari jari-jemarinya saling bertautan untuk mengurangi rasa groginya.
"Apa yang kau tau?"
"Bunda Citra bilang Mas Prabu diceraikan Mbak Kinan setelah tiga tahun menikah. Mas Prabu dikatakan man_dul," jawab Alea apa adanya sesuai informasi dari ibu sambung Prabu.
Sebuah helaan nafas berat keluar jelas dari bibir Prabu.
"Kalau nanti kita tetap gak punya anak atau aku enggak bisa nyenengin kamu, gimana?"
"Hah, gimana apanya Mas?" tanya Alea terlihat polos 'ceng0'.
Gara-gara pertanyaan barusan, akhirnya Prabu bisa melihat cukup jelas wajah Alea dari dekat. Terlebih kali ini wanita yang duduk di sampingnya tersebut ikut mendongak dan menatapnya juga walau hanya beberapa detik saja. Sebelum akhirnya Alea tersadar dan kembali menjatuhkan pandangannya ke lantai kamar hotel.
"Apa kamu akan berbuat hal yang sama seperti Kinan?" tanya Prabu. "Meminta bercerai dariku," sambungnya memperjelas kalimatnya.
Sejenak Alea terdiam membisu. Namun, ia pun akhirnya menjawab pertanyaan penting Prabu tersebut.
"Buatku pribadi, sebuah pernikahan bukanlah permainan yang bisa selesai sesuai kehendak manusia. Berharap pernikahan ini bisa berjalan dengan baik hingga maut memisahkan. Aku hanya meminta satu hal pada Mas Prabu, apa boleh?"
"Apa?" sahut Prabu. "Katakan saja," desaknya seakan tak sabaran mendengarnya.
Sebab dari penuturan Bunda Citra, Alea adalah sosok wanita muda berpikiran dewasa, gak neko-neko, tapi irit bicara. Jadi mendengar Alea ingin sesuatu, Prabu tanpa sadar seolah ikut didera penasaran.
"Jangan ada perselingkuhan dalam pernikahan ini," pinta Alea terdengar begitu serius. "Kalau Mas Prabu memang ingin menikah lagi entah dengan seorang gadis atau wanita dewasa yang lain, aku rela mundur dengan baik tanpa banyak drama," sambungnya.
"Besok setelah makan siang aku akan langsung pergi ke Jakarta. Apa kamu mau tetap di sini dulu atau ikut bersamaku?" tanya Prabu. "Mungkin kamu masih berat ninggalin keluarga di sini. Aku enggak masalah kalau memang kamu mau menghabiskan waktu lebih lama sama keluargamu di sini," imbuhnya.
"Aku ikut ke mana Mas Prabu pergi. Itu sudah janji dan tugasku sebagai istri seorang tentara," jawab Alea penuh keyakinan.
"Apa kamu pernah ke Jakarta sebelumnya?" tanya Prabu.
"Pernah," jawab Alea singkat.
"Kapan terakhir kali kamu berkunjung ke Jakarta?" tanya Prabu.
Deg...
Seketika memori Alea kembali terngiang akan trauma masa lalunya yang pahit nan kelam di kota itu.
Bersambung...
🍁🍁🍁
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!