Indonesia
NovelToon NovelToon

Kembalinya Dewa Kematian

Perubahan Mulai Terjadi

Malam menyelimuti Kota Shui. Dari lantai atas sebuah penginapan, seorang pemuda berdiri diam di dekat jendela kayu yang terbuka setengah. Angin malam masuk perlahan, membawa aroma kayu baru, makanan hangat, dan suara samar kehidupan yang belum benar-benar tidur.

Boqin Changing sedang memandang ke arah luar. Di bawah sana, lampu-lampu kota menyala seperti aliran bintang yang jatuh ke bumi.

Jalanan nampak masih ramai. Para pekerja terlihat berlalu-lalang. Bangunan-bangunan baru kini berdiri di banyak sudut. Bahkan beberapa menara yang dulu tidak ada kini sudah mulai menjulang.

Boqin Changing tersenyum tipis. Tatapannya tenang, tetapi pikirannya jauh. Beberapa waktu terakhir, terlalu banyak hal terjadi.

Ia bergumam pelan.

“…sudah berubah seperti ini ya.”

Boqin Changing telah menghabiskan waktu sangat lama di luar dunia ini. Berlatih dan berkelana di alam Pagoda Serpihan Surga dan dunia tempat Wu Xing dan Long Aotian berasal.

Perjalanan yang jika dihitung benar-benar telah memakan waktu bertahun-tahun. Namun saat akhirnya kembali dunia aslinya ternyata hanya bergerak beberapa hari saja.

Boqin Changing sudah menduga hal itu. Tempat bernama Pagoda Serpihan Surga memang memiliki hukum waktu berbeda. Satu tahun di sana hanyalah satu hari di dunia asal.

Saat pertama kali memahami hukum itu, bahkan ia sempat merasa tempat tersebut terlalu tidak masuk akal. Namun kini rasanya ia sudah terbiasa.

Ia memandang telapak tangannya. Perjalanan panjang itu memberinya banyak hal. Kekuatan, pengalaman, pusaka, dan kini dua orang pengikut baru, Wu Xing dan Long Aotian.

Boqin Changing sedikit memicingkan mata. Keduanya sangat kuat untuk ukuran dunia asal Boqin Changing ini.

Jika berita keberadaan mereka menyebar sekarang, kemungkinan besar seluruh dunia akan terguncang. Karena kekuatan seperti mereka, seharusnya belum muncul di dunia ini pada masa sekarang.

Boqin kembali memandang keluar jendela. Kota Shui, kota yang tidak asing. Kota terdekat dari Sekte Dua Pedang Petir, sekte asalnya.

Sebenarnya setelah memutuskan kembali ke Kekaisaran Qin, ia bisa langsung pulang ke sekte menggunakan pusaka Mutiara Gerbang Dimensi miliknya. Namun ia sengaja tidak melakukannya.

Ia ingin melihat. Melihat sendiri keadaan kekaisaran yang pernah ia tinggalkan. Melihat apakah dunia ini telah berubah?

Kota Shui kini berkembang jauh lebih cepat dari yang ia ingat. Bangunan diperluas, jalan diperbaiki, perdagangan meningkat, dan jumlah pendekar juga bertambah.

Boqin Changing memandang menara baru di kejauhan. Lalu tersenyum lagi. Sudut bibirnya sedikit terangkat.

“…jadi sudah sejauh ini perkembangannya.”

Sepertinya posisi Sekte Dua Pedang Petir yang telah meningkat membuat kota ini mau tidak mau ikut tumbuh. Semuanya saling memengaruhi.

Ia menarik napas pelan. Ini adalah kehidupan keduanya. Sudah sembilan tahun sejak ia kembali ke masa lalu. Sembilan tahun sejak ia mendapat kesempatan kembali ke masa lalunya. Kini masa depan yang pernah ia lihat sudah pasti berubah.

Sangat banyak hal yang telah ia ubah. Terlalu banyak kejadian yang kini tidak lagi sama.

Dalam rentang waktu kehidupan keduanya ini, banyak pendekar dari kelompok aliran hitam telah mati di tangannya. Kini para pendekar aliran hitam yang tersisa sibuk menyembunyikan dirinya atau bahkan melarikan diri ke kekaisaran lainnya.

Terutama setelah ia membunuh pemimpin Kelompok Tengkorak Hitam beberapa tahun lalu. Peristiwa itu mengguncang seluruh wilayah.

Kelompok-kelompok aliran hitam yang sebelumnya merajalela mulai pergi meninggalkan Kekaisaran Qin. Hasilnya, Kekaisaran Qin kini jauh lebih damai.

Namun masih ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya, sebuah pusaka bernama Bola Pemanggil. Tatapan Boqin Changing perlahan berubah lebih dalam.

Pusaka itu adalah pusaka yang mengubah kehidupannya di kehidupan pertama. Pusaka yang akhirnya menjadi salah satu fondasi saat ia berdiri di puncak dunia.

Ia sudah mencarinya. Beberapa tahun lalu, ia kembali ke tempat yang sama. Tempat ia menemukan pusaka itu di kehidupan pertamanya. Namun tidak ada apa-apa di sana.

Sampai sekarang ia belum menemukan jawabannya. Apakah pusaka itu memang tidak akan muncul lagi karena sudah pernah digunakan olehnya di kehidupan pertama? Atau apakah pusaka itu memang belum waktunya muncul?

Boqin Changing memejamkan mata sebentar. Lalu ada nama lain yang muncul di pikirannya, Xin Da, Kaisar Kekaisaran Xin. Di kehidupan pertamanya, orang itu adalah pengikutnya. Salah satu orang yang paling berjasa dalam membangun kekuasaannya.

Boqin Changing tahu betul kemampuan Xin Da. Orang itu bukan hanya kuat. Ia benar-benar seorang jenius. Bahkan mungkin orang paling cerdas yang pernah ia temui.

Namun di kehidupan keduanya ini, ia mulai mendengar cerita berbeda. Dari orang-orang yang ia temui beberapa tahun ini.

Mereka semua menggambarkan orang yang sama. Xin Da itu licik, dingin, penuh perhitungan, dan selalu punya tujuan tersembunyi.

Awalnya Boqin Changing menganggap itu hanya rumor. Namun semakin banyak cerita yang ia dengar semakin ia mulai berpikir. Apakah di kehidupan pertama ia tidak pernah benar-benar mengenal Xin Da?

Boqin Changing terdiam lama. Kemudian mengangkat kepala memandang langit malam di atas Kota Shui. Bintang-bintang bersinar tenang.

Ia menghembuskan napas pelan. Tidak peduli bagaimana, semua itu nanti saja. Sekarang ia hanya ingin pulang sejenak.

Boqin Changing menutup jendela perlahan. Lalu berjalan kembali ke ranjang penginapan. Besok, ia akan kembali ke Sekte Dua Pedang Petir. Kembali menemui orang-orang yang ia cintai. Setelah bertahun-tahun berpetualang, akhirnya ia pulang.

...******...

Pagi akhirnya tiba di Kota Shui. Kabut tipis masih menggantung di antara bangunan-bangunan baru kota itu.

Matahari belum sepenuhnya naik, tetapi jalanan sudah mulai hidup. Suara roda kereta, langkah kaki para pekerja, dan panggilan pedagang mulai memenuhi udara.

Di ruang makan penginapan, Boqin Changing duduk tenang di dekat jendela. Di depannya tersaji sarapan sederhana. Bubur hangat, beberapa lauk, teh, dan roti kukus yang baru diangkat.

Boqin Changing mengambil mangkuknya lalu mulai makan dengan tenang. Di hadapannya, dua orang ikut duduk. Mereka adalah Wu Xing dan Long Aotian.

Keduanya terlihat seperti pria berusia awal empat puluhan. Wu Xing tetap terlihat tenang dan rapi. Rambut hitam dengan sedikit helaian abu-abu membuatnya tampak seperti pendekar matang yang sudah mengalami banyak hal.

Sedangkan Long Aotian tetap terlihat sedikit lebih besar dan lebih kasar. Bahunya lebar, wajahnya tegas, tetapi auranya kini ditekan sampai hampir seperti manusia biasa. Tidak ada yang akan menyangka dua orang ini pernah berdiri di puncak dunia lain.

Mereka bertiga makan dengan tenang. Tidak banyak bicara.

Boqin Changing sendiri menikmati suasana itu. Sangat menyenangkan bisa makan seperti ini tanpa memikirkan pertarungan, pengejaran, atau perhitungan hidup dan mati.

Wu Xing meletakkan cangkir tehnya. Lalu berkata pelan.

“Tuan Besar.”

Boqin Changing melirik. Wu Xing memandang sekeliling penginapan beberapa saat sebelum melanjutkan.

“Sepertinya… orang-orang di alam ini lebih lemah dibandingkan asal alam kami.”

Nada bicaranya tenang. Bukan meremehkan, hanya menyampaikan pengamatan.

Long Aotian yang sedang makan ikut mengangguk.

“Benar.”

Ia melihat ke arah luar jendela.

“Kemarin saat kita masuk kota, aku memperhatikan para pendekar yang berlalu-lalang.”

Ia berpikir sebentar.

“Jumlah mereka memang cukup banyak… tapi kualitas rata-ratanya jauh di bawah.”

Boqin Changing diam beberapa saat. Lalu mengangguk kecil.

“Itu benar.”

Ia menaruh mangkuknya.

“Dunia ini memang lebih lemah.”

Wu Xing dan Long Aotian menoleh. Boqin Changing melanjutkan.

“Alam tempat kalian berasal memiliki energi dan sumber daya yang jauh lebih kaya. Teknik yang diwariskan juga lebih lengkap. Selain itu… persaingan di sana lebih kejam.”

Boqin Changing memandang keluar jendela.

“Di dunia ini…”

Ia berhenti sejenak.

“…orang yang mencapai tingkat pendekar bumi saja bisa dianggap legenda.”

Wu Xing mengangguk pelan. Ia mulai memahami. Bukan berarti dunia ini tidak bisa melahirkan orang kuat. Hanya saja batas atasnya memang berbeda.

Long Aotian tersenyum kecil.

“Kalau begitu… bukankah Tuan Besar sangat luar biasa?”

Ia tertawa kecil.

“Dengan dunia seperti ini, tapi bisa sampai ke titik sekarang.”

Boqin Changing tidak menjawab. Ia hanya kembali meminum tehnya.

Suasana kembali tenang. Namun beberapa saat kemudian, terdengar suara gaduh dari luar. Awalnya kecil. Lalu semakin ramai.

“Beri jalan!”

“Apa yang terjadi?!”

“Cepat lihat!”

Suara orang-orang mulai bercampur. Disusul langkah kaki yang tergesa-gesa.

Beberapa tamu penginapan mulai menoleh ke luar. Pekerja penginapan juga berjalan mendekati pintu.

Boqin Changing yang sedang memegang cangkir sedikit mengangkat alis. Ia tidak suka keributan saat makan. Pandangan matanya bergeser sedikit ke arah luar.

Perubahan ekspresi itu sangat kecil. Namun seseorang menyadarinya, Long Aotian. Ia langsung meletakkan sumpitnya. Lalu berdiri.

“Tuan Besar.”

Boqin Changing melirik.

Long Aotian berkata tenang.

“Biar aku lihat dulu.”

Keributan di Luar Penginapan

Long Aotian melangkah keluar dari ruang makan penginapan. Langkahnya tenang. Tidak cepat tapi juga tidak lambat. Namun begitu tubuhnya melewati pintu, orang-orang yang berdiri di sana tanpa sadar memberi jalan.

Di dalam ruang makan penginapan, Boqin Changing tetap duduk. Wu Xing mengambil cangkir tehnya lagi lalu meminumnya perlahan. Boqin Changing sendiri tidak ikut bergerak. Ia hanya memandang ke luar dari tempat duduknya.

Beberapa saat kemudian, keributan itu makin jelas terdengar. Orang-orang di jalan tampak membentuk lingkaran besar. Sebagian berdiri di pinggir jalan. Sebagian lagi menonton dari balkon bangunan sekitar.

Dari kejauhan terlihat dua kelompok besar sedang saling berhadapan. Masing-masing mengenakan pakaian dengan corak berbeda.

Satu kelompok mengenakan jubah putih dengan pola bunga teratai di dada. Itu adalah Kelompok Istana Teratai Putih.

Sedangkan kelompok lain mengenakan pakaian putih kebiruan dengan lambang sembilan mata air di punggung mereka. Itu adalah Sekte Sembilan Mata Air.

Melihat itu, beberapa orang di sekitar justru terlihat heran. Karena ini agak aneh. Kelompok Istana Teratai Putih terkenal sebagai kelompok aliran netral. Sementara Sekte Sembilan Mata Air dikenal sebagai kelompok aliran putih yang cukup berpengaruh di wilayah ini.

Secara umum, hubungan kelompok netral dan aliran putih biasanya cukup baik. Jadi melihat keduanya bersitegang seperti ini jelas mengejutkan.

Orang-orang mulai berbisik.

“Apa yang terjadi?”

“Bukannya mereka tidak punya masalah?”

“Kenapa sampai membawa orang sebanyak itu?”

Long Aotian berdiri di sisi luar dan ikut memperhatikan. Tidak lama kemudian, suara perdebatan kedua pihak mulai terdengar lebih jelas.

Seorang pria tua berjubah putih dengan rambut panjang berdiri di depan kelompok Istana Teratai Putih. Wajahnya memerah. Ia mendengus dingin.

“Kalian datang pagi-pagi membawa orang dan menuduh kami?”

Di sisi lain, seorang pria setengah baya dari Sekte Sembilan Mata Air maju selangkah. Tatapannya dingin.

“Menuduh?”

Ia tertawa dingin.

“Semalam kau mabuk arak lalu menghajar murid-murid kami di kedai!”

Kerumunan mulai heboh.

Pria itu melanjutkan.

“Salah satu murid kami terluka parah! Sekarang kalian ingin bilang itu tidak terjadi?”

Tetua Istana Teratai Putih itu langsung membalas.

“Jangan membalik fakta!”

Ia menunjuk ke arah mereka.

“Murid kalian yang lebih dulu membuat masalah! Kalau mereka tidak memprovokasiku, aku tidak akan bergerak?”

Orang-orang mulai saling memandang. Jadi ini penyebabnya. Ternyata masalahnya bukan perebutan wilayah atau pusaka.

Semalam ada keributan di kedai arak. Salah satu tetua Istana Teratai Putih mabuk lalu menyerang murid-murid Sekte Sembilan Mata Air. Hasilnya cukup parah sampai pagi ini orang-orang Sekte Sembilan Mata Air datang menuntut pertanggungjawaban.

Namun pihak Istana Teratai Putih tidak mau mengaku salah dan justru menuduh pihak lawan memulai masalah. Perdebatan makin panas.

“Kalian harus membayar mahal untuk itu!”

“Mustahil!”

“Kalian melindungi orang yang menyerang generasi muda!”

“Kalian pikir murid kalian suci?!”

Suasana mulai berubah. Beberapa orang dari kedua kelompok itu mulai melepaskan sarung senjata.

Srrtt…

Pedang keluar sedikit.

Srrt…

Pedang lain ikut terangkat.

Tensi mulai naik. Orang-orang yang menonton langsung mundur.

Situasi seperti ini bukan hal aneh di dunia pendekar. Meskipun bukan kelompok aliran hitam, perselisihan antara kelompok aliran putih dan netral tetap bisa terjadi. Kadang karena murid, kadang karena wilayah, namun kadang juga hanya karena harga diri.

Sekarang, keduanya sudah hampir mencapai titik tidak bisa kembali. Seseorang dari Sekte Sembilan Mata Air mengangkat pedangnya. Orang dari Istana Teratai Putih juga ikut menarik senjata.

Udara menjadi tegang. Lalu sesuatu terjadi.

Krekk…

Pintu penginapan terbuka. Semua orang tanpa sadar menoleh.

Seorang pria keluar dengan langkah tenang. Wajahnya terlihat seperti pria awal empat puluhan dengan pakaiannya sederhana.

Long Aotian berdiri di depan pintu penginapan. Ia memandang dua kelompok itu sebentar. Dengan nada datar ia berkata,

“…Tuan Besarku sedang makan...”

Ia berhenti sesaat.

“Bisakah kalian tenang?”

Begitu kata-kata itu jatuh, suasana justru menjadi semakin aneh. Orang-orang yang menonton dari kejauhan saling memandang. Lalu beberapa mulai menunjukkan ekspresi tidak percaya.

“…apa?”

“Dia serius?”

“Pertarungan hampir pecah dan dia menyuruh mereka tenang?”

“Orang ini gila?”

Beberapa penduduk bahkan mulai mundur lagi. Karena menurut mereka ini terlalu nekat.

Di depan sana ada dua kelompok besar. Dalam situasi seperti ini, orang normal pasti memilih menghindar. Tapi pria itu justru keluar dan meminta mereka berhenti. Beberapa orang bahkan sudah membayangkan pria itu akan dimarahi atau langsung dipukul.

Namun, tidak ada yang terjadi. Long Aotian tetap berdiri di sana. Lalu perlahan, ia tersenyum.

Senyumnya sederhana, tidak mengejek dan tidak meremehkan. Bahkan terlihat cukup ramah.

Kalau dilihat dari sudut para penduduk Kota Shui, pria itu terlihat seperti seseorang yang sedang mencoba menengahi masalah.

Namun bagi orang-orang dari Istana Teratai Putih dan Sekte Sembilan Mata Air itu berbeda. Begitu senyum itu muncul, tubuh beberapa pendekar langsung membeku.

Mereka tidak tahu kenapa. Tidak ada aura besar, tidak ada tekanan yang meledak, tidak ada energi yang terlihat, namun entah kenapa, mereka merasa seperti sedang ditatap sesuatu yang jauh lebih tinggi daripada mereka. Seolah seekor naga sedang berdiri di depan sekumpulan kelinci.

Jantung mereka mulai berdetak tidak normal. Tangan yang memegang senjata mulai bergetar.

Srrt…

Seorang murid Sekte Sembilan Mata Air tanpa sadar melepaskan pedangnya.

Clang.

Pedang jatuh ke tanah.

Lalu satu orang lagi.

Clang.

Lalu satu lagi.

Clang.

Dalam beberapa napas, senjata mulai berjatuhan. Para pendekar dari kedua kelompok mulai gemetar.

Mata mereka membesar. Keringat dingin muncul. Firasat mereka memburuk.

Mereka tahu satu hal, pria ini jelas sangat kuat. Sampai-sampai naluri tubuh mereka langsung menyerah sebelum bertarung.

Seorang murid Sekte Sembilan Mata Air yang berdiri di belakang tanpa sadar menoleh ke tetuanya. Wajahnya langsung berubah.

Ia melihat tetua mereka, seorang pendekar suci, tangannya juga sedang gemetar. Kening tetua mereka itu dipenuhi keringat dan pupil matanya menyusut.

Murid itu langsung membeku. Bahkan tetua? Bahkan seorang pendekar suci tertekan?

Tetua Sekte Sembilan Mata Air menatap Long Aotian. Tenggorokannya terasa kering. Ia tidak tahu siapa pria ini. Namun pengalaman puluhan tahunnya terus berteriak. Jangan bergerak, jangan menyinggung, dan jangan melawan.

Sementara di sisi lain Tetua Istana Teratai Putih yang semalam masih berani menghajar orang setelah mabuk, sekarang bahkan tidak berani mengangkat kepala. Tangannya gemetar hebat dengan mulutnya terbuka sedikit.

Namun tidak ada kata yang keluar. Ia ingin bicara, ingin meminta maaf, ingin menjelaskan. Tapi tenggorokannya seperti terkunci.

Lalu…

Bruk.

Seseorang berlutut.

Kemudian…

Bruk.

Satu lagi.

Bruk.

Bruk.

Tidak lama seluruh pendekar dari dua kelompok mulai berlutut. Wajah mereka dipenuhi keringat. Tubuh mereka gemetar. Tidak ada yang berani bicara.

Mereka hanya menatap Long Aotian. Pria itu masih tersenyum. Masih terlihat ramah. Namun sekarang, senyum itu terasa jauh lebih menakutkan daripada kemarahan.

Sementara para penduduk Kota Shui benar-benar kebingungan. Mereka saling memandang.

“…apa yang terjadi?”

“Kenapa mereka berlutut?”

“Bukannya tadi mau bertarung?”

“Apa pria itu memakai teknik rahasia?”

Mereka tidak mengerti. Dari sudut pandang mereka, pria itu hanya berdiri dan tersenyum. Lalu semua pendekar mendadak seperti melihat hantu.

Di saat suasana masih membeku,

Krekk.

Pintu penginapan kembali terbuka. Langkah kaki pelan terdengar.

Boqin Changing nampak keluar. Ia berjalan dengan tenang. Tatapannya pertama kali jatuh pada Long Aotian. Lalu bergeser ke dua kelompok yang sedang berlutut.

Boqin Changing diam beberapa saat. Kemudian memandang Long Aotian lagi dan berkata dengan nada tenang.

“…bukannya kau tadi hanya ijin melihat?”

Menyelesaikan Masalah Kecil

Long Aotian yang tadi masih berdiri dengan senyum ramah langsung menoleh. Wajahnya yang sempat terlihat menakutkan bagi para pendekar itu mendadak berubah sedikit canggung. Ia mengusap hidungnya.

“…aku memang hanya melihat mereka saja, Tuan Besar.”

Ia menunjuk ke arah kedua kelompok di depannya.

“Lihat… aku bahkan belum bergerak sedikit pun.”

Suasana mendadak menjadi semakin aneh. Orang-orang Kota Shui memandang pria itu dengan ekspresi sulit dijelaskan. Baru sekarang mereka benar-benar memperhatikan orang yang tadi berdiri di depan pintu penginapan itu.

Pria itu terlihat seperti pendekar paruh baya awal empat puluhan. Namun anehnya, saat berdiri di dekat pemuda yang baru keluar dari penginapan itu, perilakunya justru seperti seorang bawahan.

Lalu orang-orang nampak memandang pemuda itu. Semua mata tanpa sadar beralih ke Boqin Changing.

Sekilas, ia terlihat sangat muda. Paling berumur sekitar tujuh belas tahun.

Wajahnya tampan dan tenang. Rambut hitam panjangnya jatuh rapi di belakang punggung. Pakaiannya sederhana, tetapi entah kenapa memberi kesan mahal.

Yang paling aneh adalah auranya. Tidak menekan, tidak menunjukkan kekuatan, tetapi dari cara berdiri dan tatapan matanya muncul perasaan aneh. Perasaan seperti melihat seseorang yang memang terbiasa berada di atas.

Aura pemuda itu nampak seperti keturunan bangsawan besar. Aura seseorang yang terbiasa memberi perintah.

Orang-orang mulai bingung. Kenapa pria sekuat pria paruh baya itu memanggil pemuda ini dengan sebutan Tuan Besar? Bukan Tuan Muda?

Boqin Changing melirik sebentar ke arah orang-orang yang masih berlutut. Lalu berkata datar.

“Lepaskan mereka.”

Long Aotian langsung mengangguk.

“Baik, Tuan Besar.”

Ia mengangkat satu tangan. Lalu mengibaskannya ke depan dengan santai.

Wusss…

Tidak ada ledakan, tidak ada kilatan, namun dalam sekejap tekanan tak terlihat yang menyelimuti seluruh area menghilang.

Para pendekar dari Istana Teratai Putih dan Sekte Sembilan Mata Air langsung tersentak. Tubuh mereka yang tadi seperti tertindih gunung mendadak terasa ringan. Napas mereka kembali. Mulut mereka akhirnya bisa bergerak.

Beberapa orang langsung terbatuk keras.

“Uhuk!”

“Hah… hah…”

Seorang murid hampir roboh ke depan.

Tetua Sekte Sembilan Mata Air memegang dadanya. Wajahnya nampak pucat. Baru sekarang ia sadar jubahnya sudah basah oleh keringat.

Sementara Tetua Istana Teratai Putih diam beberapa saat sebelum perlahan menelan ludah. Tidak ada yang bicara. Karena mereka sadar, pria itu memang belum bergerak. Kalau tadi ia benar-benar berniat menyerang, mungkin mereka semua sudah mati.

Di sisi lain, para penduduk mulai ribut.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Kenapa mereka tiba-tiba normal lagi?”

“Teknik apa tadi?”

“Siapa orang-orang itu?”

Namun ketegangan jelas belum benar-benar hilang.

Dua kelompok itu masih berdiri saling berhadapan. Masalah mereka belum selesai.

Saat itulah sesuatu terjadi,

Krekk.

Pintu penginapan terbuka lagi. Seseorang keluar sambil menggigit roti. Pria itu berjalan santai. Usianya terlihat mirip pria yang sebelumnya memberikan tekanan. Penampilannya seperti pria awal empat puluhan dengan wajahnya yang tenang dan sorot mata yang tajam.

Ia bahkan tidak melihat kedua kelompok itu. Hanya menggigit rotinya pelan. Lalu berkata dengan santai.

“Sepertinya suasana sudah tenang.”

Long Aotian berkedip.

“Benarkah?”

Pria itu mengangguk sambil makan.

“Kurasa begitu.”

Seketika suasana kembali sunyi. Semua orang langsung sadar. Pria ini sepertinya juga berbahaya.

Tidak ada yang tahu alasannya. Tapi hanya dari cara berjalan dan tatapannya, mereka tahu orang ini jelas tidak lebih lemah dari pria sebelumnya.

Kini seluruh tatapan tertuju pada tiga orang di depan penginapan. Seorang pemuda dengan dua pria paruh baya di sisinya. Tidak ada yang mengenali mereka, atau setidaknya hampir tidak ada.

Sampai akhirnya, seorang murid muda dari Sekte Sembilan Mata Air tiba-tiba membeku. Matanya melebar. Ia menatap wajah Boqin Changing lagi, lalu lagi. Tubuhnya mulai gemetar.

“…tidak mungkin…”

Temannya menoleh.

“Ada apa?”

Murid itu menelan ludah. Ia mencoba mengingat. Wajah itu, penampilan itu, tatapan itu, dan tiba-tiba sesuatu terhubung.

Tubuhnya langsung bergetar hebat. Dengan suara gemetar ia menunjuk ke arah Boqin Changing.

“P… pemuda itu…”

Semua orang menoleh.

Murid itu hampir tersungkur ke belakang. Lalu berkata dengan suara yang tidak terlalu keras, tetapi cukup untuk membuat seluruh jalan mendengarnya.

“…itu Dewa Kematian…”

Ia menelan ludah.

“…Boqin Changing…”

Lalu matanya membesar. Ia melanjutkan dengan gemetar.

“Pelindung Kekaisaran Qin… dan orang yang diyakini paling kuat di kekaisaran ini…”

Seketika suasana meledak.

“Apa?!”

“Boqin Changing?!”

“Dewa Kematian?!”

“Yang membantai Kelompok Tengkorak Hitam itu?!”

“Yang dapat membunuh pendekar suci dengan sangat mudah?!”

Wajah para pendekar berubah. Tetua Istana Teratai Putih langsung membeku. Tetua Sekte Sembilan Mata Air langsung menarik napas dingin. Nama itu terlalu besar.

Beberapa penduduk Kota Shui bahkan langsung berlutut.

Bruk.

Bruk.

Bruk.

Beberapa orang menunduk. Karena mereka memang telah mendengar cerita tentang orang ini.

Pendekar yang mengubah banyak wilayah. Orang yang membuat kelompok aliran hitam meninggalkan Kekaisaran Qin. Orang yang sangat kuat dan dijuluki Dewa Kematian.

Sementara di tengah kegaduhan itu, Boqin Changing hanya berdiri tenang. Ia memandang orang-orang yang mulai berlutut. Lalu memandang para pendekar dari Kelompok Istana Teratai Putih dan Sekte Sembilan Mata Air.

Kemudian berkata datar.

“…bisakah kalian menyelesaikan masalah kalian tanpa keributan?”

Suasana yang tadi sudah sunyi kini terasa semakin berat. Orang-orang dari Istana Teratai Putih dan Sekte Sembilan Mata Air berdiri kaku di tempat mereka. Tidak ada yang berani berbicara lebih dulu.

Baru beberapa saat lalu mereka bersiap bertarung. Sekarang orang yang berdiri di depan mereka adalah Boqin Changing, Dewa Kematian dan Pelindung Kekaisaran Qin. Orang yang namanya bahkan lebih sering terdengar daripada nama sebagian pemimpin sekte.

Para murid mulai gemetar. Beberapa diam-diam menundukkan kepala lebih rendah.

Di sisi Sekte Sembilan Mata Air, seorang tetua akhirnya menarik napas panjang. Ia maju selangkah lalu menangkupkan tangan dengan hormat.

“Senior Chang..”

Ia berhenti sebentar.

Jelas ia nampak jauh lebih tua dari pemuda di depannya. Tetapi di dunia pendekar, usia bukan penentu. Yang kuat lebih dihormati.

Tetua itu melanjutkan dengan nada hati-hati.

“Kami akan segera menyelesaikan masalah ini.”

Boqin Changing tidak langsung menjawab. Tatapannya justru bergeser. Menuju Tetua Istana Teratai Putih.

Pria tua itu masih diam dengan wajahnya yang kusut. Tadi saat marah ia terlihat garang. Sekarang wajahnya pucat dan sedikit gemetar.

Boqin Changing memandangnya beberapa detik. Lalu sudut bibirnya sedikit terangkat. Namun itu jelas bukan senyuman.

Ia berkata pelan.

“…jadi para murid Sekte Sembilan Mata Air yang memprovokasimu…”

Ia berhenti.

“…sehingga kau menyerang mereka?”

Kalimat itu terdengar biasa. Tetapi semua orang tahu, itu sindiran. Boqin Changing jelas sudah mendengar garis besar masalah mereka.

Tetua Istana Teratai Putih langsung merasa dingin di seluruh tubuh. Ia buru-buru maju.

Bruk.

Ia langsung memberi hormat.

“Senior Chang!”

Suaranya sedikit bergetar.

“Ini… ini murni kesalahanku!”

Ia buru-buru menunduk lebih dalam.

“Aku mabuk semalam…”

“Aku tidak bisa mengendalikan diri…”

“Aku menyerang tanpa berpikir panjang…”

Tetua itu menelan ludah.

“Aku bersedia memberikan kompensasi yang setimpal.”

Boqin Changing memandangnya sebentar.

Lalu menjawab singkat.

“Kalau begitu lakukanlah.”

Tetua Istana Teratai Putih langsung bergerak. Ia menggerakkan cincin ruangnya.

Wussh.

Satu peti kayu muncul. Lalu satu lagi.

Kemudian muncul botol pil. Kemudian beberapa bahan langka. Kemudian senjata. Barang-barang terus keluar. Semakin lama semakin banyak.

Orang-orang yang menonton mulai membelalak.

“Itu…”

“Bukankah itu terlalu banyak?”

“Dia serius memberikan sebanyak itu?”

Jumlah kompensasi itu sudah jauh melampaui biaya pengobatan dan biaya hidup seseorang untuk beberapa tahun ke depan.

Tetapi tetua itu tidak peduli. Karena sekarang harta tidak berarti baginya.

Di depannya berdiri orang yang bisa menghancurkan seluruh kelompok mereka kalau mau. Bahkan pengikutnya saja bisa menekan seorang pendekar suci tanpa bergerak sedikit pun. Apa arti beberapa peti harta?

Tetua Sekte Sembilan Mata Air juga tampak terkejut. Awalnya ia masih ingin berdebat. Namun melihat jumlah itu, ia langsung menarik napas.

Lalu menangkupkan tangan.

“Kami menerima.”

Tetua Istana Teratai Putih segera membungkuk.

“Aku meminta maaf.”

Tetua Sekte Sembilan Mata Air diam beberapa detik. Lalu mengangguk.

“…kami juga tidak ingin memperbesar masalah.”

Keduanya saling memberi hormat. Perselisihan yang tadi hampir berubah menjadi pertumpahan darah, selesai hanya dalam waktu singkat.

Para penduduk masih sulit percaya. Baru beberapa menit lalu mereka berpikir akan melihat pertarungan besar. Sekarang semuanya selesai. Penyebabnya bahkan belum melakukan apa-apa.

Setelah urusan selesai, kedua kelompok kembali membungkuk hormat ke arah Boqin Changing.

“Terima kasih Senior Chang.”

Boqin Changing mengangguk kecil.

“Kalian boleh pergi.”

Tidak lama kemudian kedua kelompok mulai pergi. Tidak ada yang berani ribut lagi. Bahkan langkah mereka terasa jauh lebih pelan daripada sebelumnya.

Setelah jalan mulai kembali kosong, Boqin Changing memandang ke arah Long Aotian dan Wu Xing. Ia berkata santai.

“Masalah kecil sudah selesai.”

Lalu ia berbalik.

“Ayo kita pergi ke sekteku.”

Long Aotian tersenyum.

“Baik, Tuan Besar.”

Wu Xing menggigit sisa rotinya.

“Akhirnya.”

Boqin Changing melangkah.

Wussh.

Tubuhnya terangkat dari tanah. Jubahnya bergerak tertiup angin. Long Aotian dan Wu Xing ikut naik ke udara. Tiga orang melayang tenang di atas jalan.

Para penduduk yang tadi masih berdiri langsung membelalak.

“Terbang…”

“Dia benar-benar terbang…”

“Tidak memakai pusaka?”

“Pendekar benar-benar bisa melakukan itu?”

Bagi para pendekar mungkin itu luar biasa. Namun bagi penduduk biasa, melihat manusia benar-benar terbang dengan mata kepala sendiri terasa seperti melihat legenda hidup.

Anak-anak menunjuk ke langit. Beberapa orang tua menangkupkan tangan. Sebagian bahkan berlutut lagi.

Sementara di atas, Boqin Changing memandang ke arah lokasi sektenya. Ke arah tempat yang sangat dikenalnya, Sekte Dua Pedang Petir. Tempat ia memulai segalanya.

Sudut bibirnya sedikit terangkat.

“…aku pulang.”

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!