Indonesia
NovelToon NovelToon

Setelah Terlahir Kembali, Aku Menikahi Jenderal Perang

Satu — Hari Kematianku

​Musim dingin di wilayah Yu'an tampaknya kian menggigit hingga menusuk tulang. Salju turun lebih tebal dari biasanya, menyisakan kepulan uap dari mulut setiap pejalan kaki yang nekat keluar rumah.

​Di dapur kediaman Adipati Yu'an, Gu Mingyue tengah sibuk memasak iga yang baru saja dibelinya dari pasar. Lengan gaun hanfu-nya digulung hingga ke siku, sementara asap dari tungku kayu mengepul pelan dan rendah. Aroma tumisan rempah tercium samar di udara, terutama wangi khas dari cabai kering yang baru saja ia peroleh dengan harga mahal, sepuluh tael perak.

​Gadis itu memasak sambil menyenandungkan sajak tentang burung yang merindukan kekasihnya—salah satu bait sajak yang tengah populer di ibu kota.

​Gu Mingyue tersenyum puas melihat hasil masakannya. Suaminya, sang Adipati Yu'an, dikabarkan akan kembali ke kediaman malam ini setelah memenuhi panggilan Kaisar untuk memasuki gerbang istana.

​Namun, lamunannya buyar ketika suara dobrakan keras pada pintu terdengar begitu nyaring dan memekakkan telinga.

​Sang suami, Adipati Yu'an, berdiri tegak di ambang pintu dalam balutan mantel bulu gelap. Rambutnya terikat rapi, sementara kedua tangannya tersembunyi di balik jubah. Siluet wajahnya terlihat samar, terbiaskan oleh cahaya lentera dan lilin malam. Di belakangnya, beberapa prajurit bersenjata tampak berjaga.

​"Suamiku ...," panggil Mingyue pelan. Namun, ia langsung teringat bahwa Yuchen—suaminya—tidak pernah suka dipanggil seperti itu.

​Tepat saat itu, dari balik tubuh tinggi suaminya, seorang wanita bergaun hanfu merah muda dengan mantel bulu merah rusa melangkah pelan, lalu berdiri dengan anggun di samping Yuchen.

​Lidah Gu Mingyue mendadak kelu. Ia merasa sekujur tubuhnya kian membeku—bukan hanya karena diterpa angin musim dingin yang berembus masuk dari pintu yang terbuka, melainkan karena tatapan tajam suaminya yang berkilat dingin.

​"Tangkap dia!" perintah Yuchen tegas.

​Suara derap langkah sepatu bot bergemuruh di atas lantai kayu. Para prajurit segera maju dan mencengkeram kedua lengan Mingyue dengan kuat. Gu Mingyue sempat kebingungan selama beberapa detik sebelum akhirnya mulai memberontak dengan panik. "Yuchen, ada apa ini?!"

​Pria itu melangkah mendekat tanpa belas kasihan, membawa sebuah guci kecil berwarna hijau di tangannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tangan kasarnya langsung mencengkeram rahang Gu Mingyue, memaksanya untuk membuka mulut.

​Cairan pekat di dalamnya mengalir paksa ke tenggorokan Mingyue meski ia menolak keras. Sesaat kemudian, dadanya terasa sangat sesak. Tenggorokannya tercekat, berlanjut dengan rasa mual yang hebat di ulu hati. Seolah-olah seluruh pasokan darah di tubuhnya mendadak berhenti mengalir.

​Uhuk!

​Mingyue terbatuk hebat, memuntahkan darah segar yang seketika mengotori gaun hanfu-nya. Melalui pandangannya yang mulai mengabur, ia bisa melihat senyum puas yang tersungging di bibir sang suami dan wanita di sampingnya.

​Gu Mingyue mengenali wanita itu. Dia adalah Gu Lian—putri selir dari ayahnya sendiri. Beberapa hari lalu, Gu Lian tak sadarkan diri setelah memakan kue osmantus buatannya yang dikirim ke kediaman Jenderal Gu.

​Gu Lian melangkah mendekat, lalu berbisik dengan nada mengejek, "Kakak, aku tidak menyangka ternyata suamimu bisa senekat ini jika menyangkut cintanya kepadaku."

​Tubuh Gu Mingyue bergetar halus. Darah kental terus merembes keluar dari sudut mulutnya. Ia menatap nanar ke arah dua manusia yang kini mulai dilaknatnya dalam hati.

​Aroma tumisan iga masih mengambang di udara, kontras dengan nyawa sang pembuat yang perlahan-lahan ditarik paksa dari raga.

​Gu Mingyue menatap kepergian orang-orang itu dari dapurnya. Tempat itu masih terasa hangat, namun menyisakan dingin yang mematikan di hatinya. Sebelum ditinggalkan, jemarinya sempat dipaksa menyentuh guci racun hijau tersebut—sengaja diposisikan untuk meninggalkan jejak palsu bahwa ia mati bunuh diri.

​Dalam kegelapan yang menjemputnya, Gu Mingyue bersumpah demi sisa jiwanya: jika ada kehidupan kedua, ia bersumpah tidak akan pernah lagi sudi menikahi Zhao Yuchen, sang Adipati Yu'an.

...----------------...

Dua—Jamuan Jenderal Gu

Rasa sesak di dadanya seketika tergantikan oleh helaan napas panjang. Dinginnya malam musim dingin perlahan terangkat, berganti kehangatan yang asing. Gu Mingyue tersentak bangun di atas kasur empuknya saat sebuah suara dari luar menginterupsi pelan.

"Nona, matahari sudah lebih tinggi daripada pohon kesemek di sisi timur." Seorang gadis dengan pakaian pelayan melangkah mendekat.

Gu Mingyue segera memeriksa hanfu-nya. Matanya menunduk, mendapati tubuhnya tengah mengenakan baju tidur yang bersih tanpa noda darah. Pandangannya kemudian terkunci lurus ke arah Fan Li'er—pelayan kecilnya yang setia, yang di kehidupan lalu harus mati mengenaskan pada tahun pertama pernikahannya.

Li'er tewas karena dituduh mencuri perhiasan milik Gu Lian.

"Li'er," panggil Gu Mingyue pelan.

Pelayan kecilnya menoleh dengan senyum simpul. "Ayolah, Nona. Kita harus segera bersiap untuk jamuan kepulangan Tuan Besar."

Namun, alih-alih mendengarkan, Gu Mingyue justru menarik dan memeluk erat pelayan kecilnya itu. Tindakan mendadak tersebut membuat Fan Li'er membeku sesaat, sebelum akhirnya berusaha melepaskan diri sambil terkekeh pelan. "Ya ampun, Nona. Ini sesak."

Gu Mingyue melepaskan pelukannya, lalu menatap Li'er dengan nanar. "Aku senang kamu baik-baik saja."

Fan Li'er mengernyit bingung. "Nona, kita benar-benar harus bersiap sekarang."

"Untuk apa?"

"Jamuan kepulangan Jenderal Besar."

Gu Mingyue memutar kembali roda ingatannya. Jamuan kepulangan ayahnya kali ini ... adalah momen krusial saat ide pernikahan antara dirinya dan Zhao Yuchen pertama kali dicetuskan.

Musim semi tujuh tahun lalu, saat ia dengan malu-malu menunjuk Zhao Yuchen yang tampak kaku di antara para tamu. Mengingat hal itu, rasa jijik seketika membuncah di dada Gu Mingyue. Terlebih ketika ia mengingat bagaimana pria licik itu tega menyuguhkan racun bersama si wanita ular.

Kemarahan dalam dirinya seketika naik drastis, membuat wajahnya memerah menahan kesal.

"Nona?" Panggilan Fan Li'er seketika menyadarkannya dari lamunan kelam.

"Li'er, segera siapkan pakaian terbaikku. Kita harus menyambut tamu agung," ucapnya tegas.

Gadis itu langsung turun dari ranjang, melangkah menuju ruang pemandian di sisi samping paviliun kediamannya. Ia harus memulai pembalasan dendamnya, bahkan dari hal paling dasar sekalipun.

Mingyue memutar otak, mencoba menggali lebih dalam memori di kehidupan lalunya tentang hari ini. Ia mengingat sebuah fakta krusial: pada Jamuan Musim Semi ini, Zhao Yuchen dan Gu Lian datang terlambat secara beriringan dengan napas tersengal-sengal. Di kehidupan lalu, ia mengira itu hanya kebetulan. Namun sekarang, ia tahu persis apa yang sebenarnya mereka lakukan di belakangnya.

Sebuah senyum tipis yang sarat akan intrik terangkat di bibir Gu Mingyue. Ia akan memulai permainannya, bahkan sejak detik ini.

...****************...

Aula di paviliun utama kediaman Jenderal Gu terasa begitu luas, dengan suasana yang jauh lebih ramai daripada biasanya. Sorak-sorai dan bisikan rendah dari para pejabat serta tamu undangan yang hadir memenuhi udara.

Di ambang pintu, Gu Mingyue berdiri dengan anggun dalam balutan hanfu berwarna toska. Aksen giok pada tusuk konde dan perhiasan di pergelangan tangannya memantulkan kilau yang lembut. Ia mulai melangkah, berjalan dengan tenang melalui lorong berlantai kayu yang menimbulkan gema kecil di setiap ketukan langkahnya.

Suara riuh dan bisikan rendah di dalam ruangan itu seketika berangsur hening saat putri sulung dari istri sah Jenderal Gu tersebut melangkah memasuki aula paviliun utama. Pesonanya yang murni dan berwibawa langsung mencuri perhatian semua orang.

Dengan gerakan yang sempurna tanpa cela, ia membungkuk hormat. "Salam, Ayahanda."

Salah seorang pejabat berdiri dan membungkuk hormat. "Jenderal Gu, putri sulung Anda sungguh begitu anggun."

"Terima kasih atas pujiannya, Pejabat Wang. Dia memang sangat mirip dengan mendiang istriku," ucap ayahnya sembari menoleh ke arah samping kirinya yang kosong. Tempat Mendiang Nyonya Besar Gu.

Namun, Gu Mingyue tahu persis bahwa itu semua hanyalah sandiwara ayahnya. Di kehidupan lalu, ayahnya bersikap manis sebelum ibunya tewas secara misterius tepat setelah upacara kedewasaan Mingyue—menyebabkan rumor bahwa dirinya adalah bintang kesialan.

Apalagi kini tatapan Jenderal Gu turun ke selirnya, Nyonya Ling yang duduk dengan wajah angkuh. Garis wajahnya yang tajam dengan mata melirik ke arah Mingyue.

Dengan senyum tipis yang tak mencapai mata, Mingyue melangkah maju. "Putri mendengar Ayahanda kembali hari ini, jadi Putri sengaja menyiapkan sebuah hadiah."

"Hadiah apa, Putriku?"

"Fan Li'er," panggil Mingyue lembut.

Pelayan kecilnya segera masuk, membawa nampan berisi dua guci besar arak yang mengepulkan aroma harum.

Gu Mingyue menjelaskan, "Ini adalah arak racikan istimewa dariku. Sangat cocok dinikmati bersama oleh para tamu di sini."

Jenderal Gu tampak senang. "Tentu, silakan sajikan."

"Li'er," perintah Gu Mingyue pelan. Fan Li'er segera bergerak lincah, menuangkan arak racikan itu ke setiap cawan kosong yang ada.

Sementara itu, Gu Mingyue melangkah dengan anggun menuju kursi yang telah disiapkan khusus untuknya di sisi kanan ayahnya, lalu duduk dengan tenang sembari mengamati reaksi para tamu terhadap araknya.

Mata Gu Mingyue menyapu seluruh aula, menyadari ada tiga tempat duduk yang masih kosong. Kursi-kursi itu milik Zhao Yuchen, Gu Lian, dan Shen Mufeng—yang di kehidupan lalu sama sekali tidak menghadiri jamuan ini.

Namun, seolah takdir mulai bergeser, derap langkah pelan yang membawa aura sedingin es terdengar memasuki aula. Seorang pria dalam balutan jubah putih berdiri dengan tegap di ambang pintu. Garis wajahnya tampak tegas dengan mata tajam sewarna elang yang mengintimidasi.

Shen Mufeng—pria yang di kehidupan lalu memilih mangkir, kini justru menampakkan wajahnya.

Seluruh tamu undangan saling pandang, sebelum akhirnya suasana aula berubah menjadi riuh rendah oleh bisikan. Gu Mingyue menatap sosok itu lekat-lekat. Pria di hadapannya seolah langsung memicu jalinan ingatan lain di kepalanya.

Dia ... sang penolong di Jembatan Xue saat perampokan berandal, sekaligus pria di pasar lentera tahun baru.

Mata gadis itu terus menatap lurus ke arah sosok di depannya tanpa berkedip.

"Wah, ternyata Jenderal Mufeng berkenan datang." Salah seorang pejabat berdiri dan segera memberikan penghormatan.

Shen Mufeng tidak membalas sapaan itu, ia hanya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan sinisme.

"Tentu saja. Kudengar Jenderal Gu berhasil menumpas kaum barbar di wilayah barat. Prestasi yang sungguh luar biasa," ucapnya dengan nada suara yang dingin dan rendah.

Namun, Gu Mingyue yang kini dibekali pengetahuan masa depan mulai menyadari makna tersembunyi di balik kalimat itu. Kemenangan ayahnya bukanlah kemenangan mutlak yang bersih. Ada harga dari nyawa ratusan prajurit yang dikorbankan, serta rencana pengkhianatan dari pejabat tinggi yang membawa nama ayahnya kian melambung.

Di kehidupan lalu, nama Perdana Menteri Kiri terseret dalam kasus percobaan melengserkan takhta kaisar. Jenderal Gu mendapat penghargaan besar setelah membuka kedok sang Perdana Menteri Kiri. Kekayaan yang ditimbun cukup banyak setelah penghargaan tersebut. Bahkan dapat membeli sebidang tanah dari provinsi Yuan Tengah—memakai nama asistennya.

Jenderal Gu memaksakan seulas senyum, mencoba mencairkan ketegangan. "Jenderal Mufeng terlalu memujiku."

Tanpa menunggu dipersilakan, Shen Mufeng meraih cawan dan meminum arak racikan Mingyue yang baru saja dituangkan pelayan. "Karena ini sangat menarik. Saya penasaran, bagaimana bisa Anda yang dikabarkan kekurangan prajurit, mendadak mampu memukul mundur kaum barbar barat yang terkenal sangat kuat?"

Mendengar suara yang sarat akan kedinginan dan intimidasi itu, Gu Mingyue melirik ke arah ayahnya. Benar saja, wajah sang Jenderal Besar tampak sedikit membeku dengan rahang mengetat.

Gu Mingyue membatin tajam. Ada yang tidak beres di sini.

...****************...

Tiga—Keterlambatan Tamu Agung

Suasana di dalam aula kian menegang setelah mendengar pernyataan blak-blakan dari Shen Mufeng. Namun, Gu Mingyue yang menyadari perubahan atmosfer itu justru menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.

"Jenderal Agung Shen, seingatku pernah mendengar sebuah rumor bahwa strategi perang adakalanya memang berada di luar batas akal sehat kita," ucap Mingyue pelan, memecah keheningan yang mencekam.

Mendengar intervensi tersebut, Shen Mufeng justru terkekeh pelan. "Putri sulung Anda begitu cerdas, Jenderal Gu."

Sementara itu, Jenderal Gu masih mematung diam dengan wajah kaku.

"Tentu saja, kecerdasannya itu jelas bukan turun darimu, melainkan dari istrimu, Nyonya Besar Gu," ejek Shen Mufeng lagi tanpa tedeng aling-aling.

Jenderal Gu mengepalkan tangannya di balik jubah, berusaha menahan geram sebelum memaksakan suara, "Jenderal Agung Shen terlalu memuji putriku."

"Tentu saja tidak. Sebab, kehadiran Nona Besar Gu di sini setidaknya berhasil membawa sedikit kelegaan di antara ketegangan para pejabat yang hadir," ucap Shen Mufeng pelan.

Namun, sepasang mata elangnya menyapu seisi ruangan dengan tatapan jenaka sekaligus mengintimidasi, membuat para pejabat yang tadinya menahan napas langsung memalingkan wajah dengan canggung.

Tepat setelah tatapan intimidatif Shen Mufeng menyapu ke segala penjuru, derap langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar bergema dari arah luar aula. Begitu sosok itu melangkah masuk, seisi ruangan langsung tertuju padanya.

Zhao Yuchen berdiri di sana dalam balutan jubah biru bangsawannya yang tampak kusut di bagian depan. Napasnya tersengal-sengal, sementara wajahnya memerah dengan bulir peluh yang membasahi dahi.

Tak berselang lama, Gu Lian menyusul masuk ke dalam ruangan. Gaun hanfu merah mudanya yang senada dengan kulit putihnya tampak tidak rapi, terutama di bagian rok bawah yang terlihat sangat kusut. Dengan napas yang sama-sama tersengal, wajah gadis itu merona merah padam, dan ia berjalan dengan tubuh yang seolah gemetar menahan sesuatu.

Melihat pemandangan memalukan itu, Gu Mingyue menyandarkan tubuhnya dengan tenang. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang dingin sebelum melempar pertanyaan dengan nada suara yang teramat lembut.

"Adik, apakah kamu sangat ketakutan hingga tubuhmu gemetar seperti itu?"

Gu Lian yang akhirnya berhasil mencapai kursinya tampak terdiam sesaat. Jika dilihat secara saksama, riasan di sudut bibirnya agak berantakan.

"Salam, Ayahanda. Tadi ... Lian terlambat karena bangun agak siang," kilah Gu Lian terbata.

Gu Mingyue menatap lekat rona merah di wajah adiknya yang tidak wajar. "Adik, apakah kamu kelelahan setelah berlarian?" tanyanya lagi, berpura-pura cemas.

Gu Lian menatap balik mata Gu Mingyue, mencoba menyembunyikan kepanikan. "Kakak, maafkan saya. Adik memang agak kelelahan."

"Duduklah dan nikmati jamuannya. Namun, jika kamu merasa tidak nyaman dengan pakaianmu yang kusut itu, mintalah Li'er untuk mengambilkan pakaian ganti terbaik milikku."

Gu Lian menggeleng pelan dengan senyum kaku. "Kurasa tidak perlu, Kak."

"Baiklah, jika kamu berubah pikiran, katakan saja padaku." Tatapan Gu Mingyue mendikte tajam selama beberapa saat. "Sebab selain kusut, pakaianmu juga tampak agak basah karena keringat."

"Terima kasih atas perhatiannya, Kakak."

Tiba-tiba, sebuah suara paruh baya menginterupsi pelan. "Nona Besar Gu sungguh sangat perhatian, bahkan pada hal-hal kecil milik adiknya," puji Pejabat Wang yang kembali bersuara. "Semoga kalian berdua selalu akur seperti ini."

Gu Mingyue menyunggingkan senyum samar. Ia mengangkat cawan araknya ke arah Pejabat Wang sebagai bentuk penghormatan, lalu meminumnya dengan anggun.

"Ngomong-ngomong, saya mendengar kabar burung bahwa Nona Besar Gu akan segera menikah dengan Tuan Muda Zhao," lanjut pria paruh baya itu lagi.

Sensasi déjà vu seketika menghantam benak Gu Mingyue. Ucapan Pejabat Wang masih persis sama seperti di kehidupan lalunya. "Sungguh berkat dari Dewa jika pernikahan itu memang terjadi. Mereka adalah pasangan yang sangat serasi."

Gu Mingyue tidak lagi tersipu malu seperti dulu. Ia justru mengalihkan pandangannya, menatap lurus ke arah Zhao Yuchen yang sejak tadi matanya terus mencuri pandang ke arah Gu Lian.

"Saya rasa, Tuan Muda Zhao jauh lebih menyukai adik saya, Gu Lian," ucap Mingyue tenang, memotong harapan kosong semua orang.

Seketika itu juga, suasana aula mendadak hening. Beberapa pasang mata menatap Gu Mingyue dengan pandangan syok dan tidak percaya. Namun, sang Putri Sulung justru menggeser arah tatapannya, mengunci pandangannya tepat pada manik mata Shen Mufeng.

"Sama halnya seperti saya ... yang jauh lebih menyukai Jenderal Agung Shen, sang penolong saya."

BOM!

Keheningan yang tadinya canggung seketika pecah menjadi riuh bisikan yang riuh rendah di sudut-sudut ruangan. Shen Mufeng perlahan menoleh, menatap Gu Mingyue dengan sepasang mata elangnya yang berkilat tajam dan berbahaya. Sebelah alisnya terangkat tipis. Tangannya yang memainkan cawan arak seketika berhenti.

Gu Mingyue masih mengingat jelas rumor jahat yang beredar luas di kehidupan sebelumnya: desas-desus bahwa Shen Mufeng tidak memiliki ketertarikan pada wanita. Seolah membenarkan berita itu, sang Jenderal Agung memang tidak pernah menikah, bahkan hingga Gu Mingyue tewas di usia pernikahannya yang ketujuh di masa lalu.

Kini, pria berwibawa itu menatapnya lurus tanpa ekspresi. Di sisi lain, Zhao Yuchen juga memelotot ke arah Gu Mingyue dengan wajah tersinggung.

"Apa maksud Anda berkata seperti itu, Nona Besar Gu?" tuntut Zhao Yuchen, berusaha menahan suaranya agar tidak meninggi.

Gu Mingyue membalas tatapan itu dengan ketenangan sedingin es. "Tidak ada maksud lain, Tuan Muda Zhao. Saya hanya kebetulan melihat ... betapa lembutnya tatapan Anda yang tertuju kepada adik saya sejak melangkah masuk ke aula ini."

"Tapi..." Ucapan Zhao Yuchen menggantung di udara, tenggorokannya mendadak tercekat oleh rasa malu dan amarah yang bergolak.

"Bagaimana jika pernikahan Anda dan Gu Lian segera dilaksanakan saja?" potong Gu Mingyue dengan nada bicara yang meniru antusiasme tipis.

Namun, sebuah deheman berat dan penuh penekanan dari ayahnya seketika memotong kalimat Mingyue.

"Gu Mingyue, urusan pernikahan sebaiknya kita bicarakan nanti setelah jamuan ini selesai," tegur Jenderal Gu dengan kilat mata memperingatkan.

Gu Mingyue menyunggingkan senyum samar yang tampak patuh, namun sorot matanya tetap dingin. "Tentu saja, Ayahanda. Saya juga perlu bersiap karena saya telah menemukan pria yang cocok untuk saya."

Suasana di dalam aula kian mencekam, diselimuti keheningan yang jauh lebih pekat dari sebelumnya. Tatapan para tamu undangan bergerak gelisah, menatap bergantian antara Gu Mingyue yang tampak tenang dan Shen Mufeng yang masih bergemas dalam kebungkamannya.

Sebelum ayahnya sempat mengamuk karena harga dirinya diinjak-injak, Gu Mingyue kembali melempar umpan matang. "Sebab, saya telah menyaksikan sendiri bagaimana kegagahan Jenderal Agung Shen ketika menolong saya di Jembatan Xue, saat festival lentera di pasar pusat bergulir."

Seketika itu juga, lusinan pasang mata langsung beralih menatap Shen Mufeng dengan penuh rasa ingin tahu. Ucapan blak-blakan dari Putri Sulung kediaman Gu tersebut seolah menjadi kapak besar yang siap mematahkan rumor jahat tentang sang Jenderal Agung yang selama ini beredar di ibu kota.

...----------------...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!