Bab 1: Kembali dari Neraka
Pintu besi Lapas Porong terbuka tepat ketika langit Surabaya mulai memucat.
Ardi Pratama berdiri beberapa detik di ambang gerbang, membawa satu tas kain lusuh dan map cokelat berisi surat bebas. Udara pagi menampar wajahnya dengan bau debu, asap knalpot, dan hujan semalam yang belum benar-benar kering di aspal.
Dua tahun.
Selama dua tahun, dunia di luar tembok itu berjalan tanpa menunggunya.
Istrinya pergi. SIP-nya dicabut. Namanya dikubur di bawah satu kalimat yang lebih tajam daripada vonis hakim: dokter malpraktik.
Ardi menunduk, membuka dompet tua yang pinggirnya sudah mengelupas. Di balik plastik buram, ada selembar foto kecil yang lecek. Gatra berdiri dengan senyum lebar, memeluk Sari yang masih bulat pipinya. Foto itu sudah berkali-kali basah oleh keringat dan air mata, tapi wajah dua anak itu masih jelas.
Ibu jarinya menekan lipatan di tengah foto.
“Ayah pulang, Nak,” bisiknya.
Tidak ada yang menjemput.
Dia sudah tahu. Meski begitu, kakinya tetap membawanya ke rumah berpagar hijau di kawasan lama Surabaya, rumah tempat Dewi tinggal bersama ibunya setelah cerai gugat selesai. Motor ojek berhenti di ujung gang. Ardi turun, membayar dengan uang pas, lalu berdiri di depan pagar yang dulu pernah ia buka tanpa ragu.
Belum sempat ia mengetuk, pintu depan terbuka.
Ibu Sumiati muncul dengan kerudung rapi dan wajah yang langsung mengeras.
“Untuk apa kamu datang?”
Ardi menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. “Saya cuma mau lihat Gatra dan Sari, Bu.”
“Jangan panggil saya Bu.” Ibu Sumiati melangkah mendekat, suaranya rendah tapi tajam. “Anak-anak tidak perlu melihat mantan napi seperti kamu.”
Jari Ardi bergerak ke dompetnya. Ia tidak mengeluarkan foto itu. Tidak di depan perempuan yang selama ini mengajari cucunya untuk takut pada ayah sendiri.
“Saya ayah mereka.”
“Ayah?” Ibu Sumiati tertawa pendek. “Ayah macam apa yang masuk penjara? Yang bikin keluarga malu satu RT? Dewi sudah mulai hidup baru. Jangan ganggu.”
Dari dalam rumah, suara kecil sempat terdengar.
“Nenek, siapa?”
Jantung Ardi seperti diremas.
Gatra.
Ia maju satu langkah. “Gatra, ini Ayah.”
Pintu langsung ditarik setengah tertutup. Wajah Ibu Sumiati berubah panik, lalu marah. “Pulang, Ardi. Kalau kamu bikin keributan, saya panggil satpam komplek.”
“Lima menit saja.”
“Tidak.”
Pintu tertutup.
Di balik kayu itu, suara Gatra memanggil sekali lagi, samar dan bingung. “Ayah?”
Ardi berdiri lama di depan pagar. Tangannya menggenggam besi sampai ruas jarinya memutih. Ia bisa menendang pagar itu. Ia bisa berteriak sampai satu gang keluar. Tapi kalau ia melakukannya, besok Dewi akan punya alasan baru untuk bilang pada hakim bahwa ia tidak stabil.
Jadi Ardi mundur.
Setiap langkah terasa seperti menelan pecahan kaca.
Siang itu, ia kembali ke RSUD Soetomo.
Gedung rumah sakit tidak banyak berubah. Koridornya tetap penuh, bau antiseptik bercampur keringat pasien tetap menempel di udara, dan suara roda brankar masih berdecit di lantai yang terlalu sering dipel. Namun ketika Ardi melewati pintu IGD, beberapa orang yang mengenalinya langsung menoleh.
Lalu memalingkan wajah.
Seorang perawat yang dulu sering minta bantuannya memasang akses vena tiba-tiba sibuk menunduk. Dua dokter muda berbisik di dekat ruang triase. Kata yang mereka tahan tidak benar-benar tertahan.
“Itu kan...”
“Mantan napi.”
Ardi pura-pura tidak mendengar.
Di ujung koridor, Dokter Fajar menunggunya dengan jas putih terbuka dan mata yang sama lelahnya seperti dulu. Pria itu tidak tersenyum berlebihan. Ia hanya mengulurkan tangan.
“Selamat datang kembali, Ardi.”
Kalimat sederhana itu hampir membuat dada Ardi retak.
Ia menjabat tangan atasannya. “Terima kasih, Pak Fajar.”
“STR kamu masih valid. SIP masih harus diproses ulang, jadi sementara kamu masuk sebagai tenaga kontrak. Kamu tidak boleh mengambil keputusan operasi sendiri. Semua tindakan besar harus di bawah DPJP. Paham?”
“Paham.”
Dokter Fajar menyerahkan map tipis. “Kontrak awal tiga bulan. Gaji tidak besar.”
Ardi melihat angka di lembar itu. Rp 6.000.000 per bulan.
Kost Gubeng: Rp 1.500.000. Makan. Transport. Cicilan utang pengacara Rp 200.000.000. Biaya untuk memperjuangkan hak asuh nanti.
Angka itu seperti mengejeknya.
Tapi ia tetap mengambil pulpen.
“Saya terima.”
“Pikirkan dulu.”
“Saya sudah pikirkan dua tahun, Pak.”
Dokter Fajar menatapnya agak lama, lalu mengangguk. “Kalau begitu, mulai malam ini kamu ikut shift IGD.”
Belum sempat Ardi menjawab, suara lain memotong dari belakang.
“Pak Fajar serius?”
Hendro Cahyono berjalan mendekat dengan lengan terlipat. Jas putihnya licin, ID card-nya tergantung rapi, dan senyumnya dingin seperti lampu ruang operasi.
“Kita kekurangan tenaga, bukan berarti harus mengambil risiko nama baik rumah sakit.” Hendro memandang Ardi dari ujung kepala sampai kaki. “Mantan napi kok bisa kembali ke IGD?”
Beberapa orang berhenti pura-pura sibuk.
Rudi Setiawan, dokter muda yang berdiri dekat meja perawat, ikut menoleh. Ia tidak bicara, tapi matanya jelas menunggu jawaban.
Ardi memegang map kontrak lebih erat.
Dokter Fajar menjawab datar, “Keputusan ini sudah saya bicarakan dengan direktur.”
“Kalau dia bikin masalah, siapa yang bertanggung jawab?” Hendro menunjuk Ardi dengan dagu. “Pasien kita manusia, Pak. Bukan bahan percobaan untuk dokter yang baru keluar penjara.”
Udara koridor mendadak berat.
Ardi bisa merasakan semua mata menempel di punggungnya. Dulu, di tempat yang sama, para residen berebut masuk tim operasinya. Dulu, namanya disebut dengan hormat. Sekarang satu label membuat semua tahun kerja keras itu seperti tidak pernah ada.
Ia mengangkat wajah.
“Saya tidak akan menyentuh pasien di luar kewenangan saya, Dokter Hendro.”
Hendro tersenyum miring. “Bagus kalau kamu sadar posisi.”
“Tapi kalau pasien di depan saya berhenti bernapas,” lanjut Ardi, suaranya tetap rendah, “saya tetap akan menolong.”
Senyum Hendro menipis.
Dokter Fajar menyelipkan map ke dada Ardi. “Cukup. Ardi, ikut saya.”
Shift pertama berjalan seperti berjalan di atas kaca.
Pasien pertama hanya pria paruh baya dengan luka robek di lengan akibat kecelakaan kecil di bengkel. Perawat ragu menyerahkan alat. Keluarga pasien sempat bertanya pelan, “Dokter yang itu aman, kan?”
Ardi mendengar. Tangannya tidak gemetar.
Ia membersihkan luka, memeriksa kedalaman, memastikan tidak ada kerusakan tendon, lalu menjahit dengan rapi. Tidak cepat mencolok, tidak pamer. Hanya bersih, stabil, dan tepat.
Rudi yang tadi diam akhirnya mendekat setelah pasien pergi.
“Jahitannya halus juga,” katanya, seolah tidak sengaja.
Ardi melepas sarung tangan. “Terima kasih.”
Rudi menggaruk kepala, canggung. “Gue cuma bilang fakta.”
Sebelum pembicaraan bisa lanjut, Hendro lewat sambil membawa berkas. “Jahitan sederhana saja jangan dibanggakan. Di IGD, satu kesalahan kecil bisa membunuh orang.”
Ardi tidak menjawab.
Malam turun. Hujan tipis mengetuk kaca ruang istirahat. Setelah shift berakhir, Ardi pulang ke kost kecil di Gubeng, kamar sempit dengan kasur tipis, kipas angin tua, dan kamar mandi bersama di ujung lorong.
Ia duduk di tepi kasur, membuka sepatu, lalu menghitung uang di dompet.
Tidak sampai Rp 300.000.
Ponselnya menyala. Ada pesan dari nomor Dewi.
Jangan datang lagi tanpa izin. Anak-anak sudah mulai lupa. Jangan rusak hidup mereka.
Ardi menatap layar lama sekali.
Lalu ia membuka foto Gatra dan Sari, meletakkannya di atas meja kecil di samping kontrak kerja.
“Ayah pasti akan menjemput kalian,” katanya pelan. “Bukan dengan marah-marah. Bukan dengan memohon. Ayah akan datang dengan nama yang sudah bersih, pekerjaan yang kuat, dan putusan yang tidak bisa mereka robek.”
Kipas angin berputar dengan suara serak.
Untuk pertama kalinya sejak keluar dari lapas, mata Ardi terasa panas. Tapi tidak ada air mata yang jatuh. Penjara sudah mengajarinya satu hal: menangis tidak membuka pintu.
Pukul 02.13, ponselnya berdering.
Nama Dokter Fajar muncul di layar.
Ardi langsung mengangkat. “Pak?”
“Kembali ke IGD sekarang. Ada pasien VIP rujukan darurat. Anak perempuan, sepuluh tahun. Kondisi jantung sangat buruk. Tim jantung dari beberapa rumah sakit sudah dihubungi, tapi kasusnya rumit.”
Ardi sudah berdiri sebelum panggilan selesai. “Saya berangkat.”
“Ardi.” Suara Dokter Fajar menahan napas. “Ini bukan kasus biasa.”
Di luar, hujan makin deras. Ardi menyambar jaket, memasukkan foto anak-anak ke saku dada, lalu menyalakan motor tuanya menembus jalan Surabaya yang basah.
Ketika ia tiba di RSUD Soetomo, lampu IGD menyala putih menyilaukan. Sebuah ambulans hitam berhenti mendadak di depan pintu. Beberapa pengawal berjas turun lebih dulu. Di belakang mereka, seorang pria besar dengan wajah pucat berlari mengikuti brankar kecil.
Di atas brankar itu, seorang anak perempuan terbaring dengan bibir kebiruan.
Monitor portabel berbunyi cepat.
Dokter Fajar berdiri di tengah kekacauan, wajahnya tegang. Hendro ada di sisi lain, kali ini tidak sempat menyindir. Bahkan ia tampak takut.
“Transplantasi jantung paralel kiri,” kata Fajar pelan ketika Ardi mendekat. “Kalau menunggu tim luar kota, anak ini tidak akan bertahan.”
Ardi melihat dada kecil anak itu naik turun lemah.
Pria besar tadi mencengkeram lengan Fajar. “Dokter, selamatkan anak saya. Berapa pun biayanya.”
Fajar melepaskan genggaman itu perlahan, lalu menatap Ardi.
Semua suara di IGD seperti menjauh.
Ardi merasakan foto Gatra dan Sari menekan dadanya dari balik saku. Anak di brankar itu bukan anaknya. Tapi napas kecil yang hampir putus itu mengingatkannya pada satu hal yang tidak bisa dicabut oleh penjara, vonis, atau hinaan siapa pun.
Ia masih dokter.
Dokter Fajar mendekat setengah langkah.
“Kamu berani?”
Bab 2: Sistem yang Terbangun
“Kamu berani?”
Pertanyaan Dokter Fajar tidak keras, tapi di tengah IGD yang kacau, kalimat itu seperti pisau yang diletakkan tepat di depan dada Ardi.
Ardi melihat brankar kecil itu didorong melewati pintu otomatis. Anak perempuan di atasnya tampak terlalu kecil untuk semua kabel, selang oksigen, dan monitor yang menempel di tubuhnya. Bibirnya kebiruan. Kulitnya pucat seperti kertas basah.
Di samping brankar, pria besar berwajah keras nyaris kehilangan bentuknya sebagai orang berkuasa. Jasnya mahal, jam tangannya bisa membeli satu motor baru, tapi kedua matanya merah.
“Livi, Nak, tahan sebentar,” katanya serak. “Papa di sini.”
Hartono Harahap.
Nama itu cukup membuat beberapa perawat menahan napas. Pemilik tambang di Kalimantan, kebun sawit, jaringan logistik, dan koneksi yang bisa membuat direktur rumah sakit mengangkat telepon tengah malam. Namun malam itu, semua kekayaan itu tidak bisa memaksa jantung anaknya berdetak lebih kuat.
Monitor berbunyi cepat.
Beep. Beep. Beep.
Ardi menatap garis EKG yang naik turun tak stabil. “Usia?”
“Sepuluh tahun,” jawab perawat.
“Riwayat?”
“Kelainan jantung bawaan. Sudah beberapa kali operasi korektif. Kondisi memburuk mendadak. Rujukan terakhir menyebut gagal jantung terminal.”
Dokter Fajar menyerahkan tablet berisi hasil pemeriksaan. “Donor sudah tersedia. Tapi jendela waktu organ tinggal sedikit. Masalahnya...”
Ardi membaca cepat.
Transplantasi jantung paralel kiri.
Bukan transplantasi biasa. Pada kasus Livi, jantung lama tidak bisa langsung dilepas begitu saja karena struktur pembuluh dan riwayat operasi sebelumnya terlalu rumit. Jantung donor harus dipasang paralel untuk mengambil alih beban sirkulasi, sementara jantung lama tetap dipertahankan sementara. Satu kesalahan kecil pada anastomosis, tekanan paru, atau aliran balik vena, anak itu bisa mati di meja.
Ardi mengangkat mata. “Siapa operatornya?”
Diam.
Diam yang buruk.
Dokter senior jantung dari RS lain sedang dalam perjalanan, tapi butuh paling cepat empat puluh menit. Tim donor sudah memberi batas. Livi tidak punya empat puluh menit.
Hendro melangkah maju, wajahnya tegang tapi mulutnya tetap tajam. “Pak Fajar, jangan bilang Anda mau melibatkan dia.”
“Dia dokter bedah,” kata Fajar.
“Dia tenaga kontrak tanpa SIP aktif.” Hendro menoleh pada Hartono seolah mencari dukungan. “Pak Hartono, saya harus menjelaskan. Kalau orang ini masuk ruang operasi dan terjadi sesuatu, kasusnya bisa jadi masalah hukum besar.”
Hartono menoleh perlahan.
Tatapannya membuat Hendro berhenti bicara setengah detik.
“Yang saya pedulikan cuma satu,” kata Hartono. “Siapa yang bisa menyelamatkan anak saya?”
Hendro tidak punya jawaban.
Fajar punya.
Ia menatap Ardi lagi. “Secara administratif, kamu masuk sebagai asisten di bawah tanggung jawab saya sebagai DPJP. Keputusan final tetap saya tanda tangani. Tapi di dalam, saya butuh tangan dan kepala yang tidak panik.”
Ardi mengerti maksud kalimat itu.
Fajar bukan hanya memberinya kesempatan. Fajar sedang menaruh nama, jabatan, dan masa depannya sendiri di atas meja.
“Pak Fajar,” kata Ardi pelan, “kalau saya masuk, saya tidak bisa hanya berdiri di sudut.”
“Saya tahu.”
“Kalau ada langkah yang harus diambil cepat, saya akan ambil.”
“Saya tahu.”
Hendro tertawa pendek, kering. “Luar biasa. Kita akan menyerahkan anak seorang konglomerat pada mantan napi dan berharap keajaiban.”
Ardi menoleh.
Tidak ada ledakan di wajahnya. Tidak ada teriakan. Hanya dingin yang pelan-pelan turun di matanya.
“Dokter Hendro,” katanya, “kalau Anda punya operator yang lebih siap, panggil sekarang.”
Hendro membuka mulut.
Tidak ada nama yang keluar.
“Kalau tidak,” lanjut Ardi, “tolong jangan berdiri di depan pintu.”
Untuk pertama kalinya sejak Ardi kembali ke Soetomo, Hendro benar-benar kehilangan satu detik untuk menjawab.
Dokter Fajar memotong sebelum situasi pecah. “Ruang operasi. Sekarang.”
Brankar Livi meluncur ke koridor. Hartono hendak ikut, tapi perawat menahannya di garis steril.
“Pak Hartono, mohon tunggu di luar.”
Pria itu memandang Livi, lalu memandang Ardi. Di matanya ada sesuatu yang tidak pantas dimiliki orang sebesar dia: permohonan telanjang.
“Dokter,” katanya, suara pecah, “dia satu-satunya anak saya.”
Ardi tidak menjanjikan hal yang tidak bisa ia kendalikan.
Ia hanya mengangguk. “Saya akan melakukan semua yang bisa dilakukan seorang dokter.”
Pintu ruang operasi tertutup.
Dunia berubah menjadi putih, dingin, dan tajam.
Lampu operasi menyala. Bau povidone iodine dan udara steril menusuk hidung. Tim bergerak cepat: anestesi, perfusionist, perawat instrumen, scrub nurse. Setiap orang tahu kasus ini berada di luar zona nyaman mereka.
Ardi berdiri di wastafel scrub. Air mengalir di lengannya. Ia menggosok tangan sampai kulit terasa panas.
Di balik kaca kecil, ia melihat Hendro masih berdiri di luar, bicara dengan beberapa staf. Tidak sulit menebak isinya. Kalau operasi gagal, Hendro akan menjadi orang pertama yang berkata sudah memperingatkan semua orang.
Ardi menarik napas.
Foto Gatra dan Sari sudah ia titipkan di loker kecil bersama ponsel. Untuk pertama kalinya malam itu, dadanya terasa kosong tanpa kertas lecek itu.
Ayah akan pulang, Nak.
Tapi sebelum itu, ada anak lain yang harus pulang ke ayahnya.
Operasi dimulai.
Sayatan awal dilakukan di bawah komando Fajar. Ardi berdiri sebagai asisten, tapi matanya membaca lapangan operasi lebih cepat daripada tangannya bergerak. Jaringan parut lama. Adhesi di sekitar perikardium. Pembuluh yang tidak berada di posisi yang seharusnya. Setiap lapisan seperti jebakan yang menunggu pisau salah arah.
“Tekanan turun,” kata anestesi.
“Berapa?”
“Sistolik enam puluh delapan. Saturasi turun.”
Fajar mengencangkan rahang. “Cepat. Kita masuk bypass.”
Tim bergerak. Mesin jantung paru mulai disiapkan. Darah mengalir melalui selang bening. Suara mesin berpadu dengan bunyi monitor, seperti napas buatan bagi ruangan itu.
Ardi membantu membuka area pembuluh utama.
Tangannya masih stabil.
Namun stabil saja tidak cukup.
Ketika jantung donor masuk ke lapangan, semua orang di ruangan itu menahan napas. Organ kecil itu merah gelap, dingin, rapuh, tapi di dalamnya ada kesempatan hidup untuk Livi.
Fajar mulai melakukan langkah pemasangan awal. Ia dokter senior yang baik. Gerakannya bersih. Tapi pada saat mencapai bagian anastomosis paling sulit, ujung needle holder-nya berhenti sepersekian detik.
Sepersekian detik yang bisa dirasakan semua orang.
“Jaringan terlalu rapuh,” bisik Fajar.
Ardi melihat sudutnya.
Terlalu sempit. Jika jarum masuk terlalu dalam, pembuluh robek. Jika terlalu dangkal, kebocoran akan terjadi saat tekanan dinaikkan. Teknik standar tidak akan cukup.
“Pak Fajar,” kata Ardi.
Fajar tidak menoleh. “Ya?”
“Izinkan saya pegang.”
Ruangan itu langsung lebih sunyi.
Seorang perawat menatap Ardi seolah ia baru saja menginjak garis terlarang.
Fajar menahan napas. “Ardi...”
“Kalau diteruskan dengan sudut itu, dinding posterior bisa sobek. Kita harus masuk dari arah bawah, putar jarum setengah lingkaran, lalu kunci tepi vena sebelum tekanan dinaikkan.”
Fajar memandang lapangan operasi.
Ia tahu Ardi benar.
Dari luar kaca, Hendro seperti menyadari perubahan itu. Ia mendekat, wajahnya menegang.
Fajar menyerahkan needle holder.
“Saya sebagai DPJP mengizinkan,” katanya jelas, cukup keras untuk didengar tim. “Lanjut.”
Begitu logam dingin itu menyentuh sarung tangan Ardi, dunia di depan matanya tiba-tiba bergetar.
Bukan pusing.
Bukan lelah.
Cahaya biru tipis muncul di udara, tepat di atas dada terbuka Livi. Garis-garisnya membentuk panel transparan yang mustahil ada di ruang operasi.
Ardi membeku.
Tidak ada satu pun orang lain yang bereaksi.
Perawat tetap memegang suction. Fajar tetap menatap lapangan operasi. Monitor tetap berbunyi. Hanya Ardi yang melihat panel itu.
Jantungnya menghantam tulang rusuk.
Di panel biru itu, huruf-huruf muncul satu per satu.
```
╔══════════════════════════════════════╗
║ 【SISTEM MODIFIER AKTIF】 ║
║ ║
║ Skill baru terdeteksi! ║
║ ▸ Transplantasi Jantung Paralel ║
║ Kiri - Level: Pemula ║
║ ║
║ Poin Modifikasi tersedia: 10 PM ║
║ Upgrade ke Lanjutan? (Biaya: 10 PM)║
║ ║
║ [YA] [TIDAK] ║
╚══════════════════════════════════════╝
```
Sistem?
Modifier?
Poin Modifikasi?
Selama satu detik, pikiran Ardi kosong. Dua tahun di penjara tidak pernah membuatnya berhalusinasi. Kurang tidur pun tidak pernah membuat teks mengambang di udara.
“Ardi?” suara Fajar menekan. “Ada apa?”
Monitor berbunyi lebih cepat.
Beep. Beep. Beep.
“Tekanan makin turun,” kata anestesi. “Kita tidak punya waktu.”
Ardi menatap pilihan di panel.
10 PM.
Ia tidak tahu apa itu. Ia tidak tahu dari mana datangnya. Ia tidak tahu apakah menekan pilihan itu berarti gila, putus asa, atau justru satu-satunya jalan.
Tapi ia tahu satu hal.
Dengan kemampuan yang ia miliki sekarang, peluang Livi terlalu tipis.
Di luar sana ada seorang ayah yang sedang menunggu satu-satunya anaknya. Di dalam loker, ada foto dua anak yang masih menunggu ayah mereka kembali kuat.
Kalau ini jebakan, ia sudah tidak punya apa pun untuk dipertaruhkan selain hidup seorang pasien.
Dan kalau ini benar...
Ardi menggerakkan ibu jarinya sedikit, seolah menyentuh udara.
Pilihannya menyala.
[YA]
Panel itu pecah menjadi ribuan titik biru.
Rasa dingin menusuk dari ujung jari, naik ke pergelangan, lalu meledak ke seluruh lengan seperti arus listrik yang tidak menyakitkan. Dalam sekejap, gambar, sudut, tekanan jahitan, urutan pembuluh, variasi anatomi, dan puluhan skenario komplikasi membanjiri kepalanya.
Bukan seperti membaca buku.
Seperti ia pernah melakukan operasi ini ratusan kali.
Panel baru muncul sekilas.
```
╔══════════════════════════════════════╗
║ 【Upgrade Berhasil!】 ║
║ Skill Transplantasi Jantung Paralel ║
║ Kiri telah ditingkatkan ke level ║
║ Lanjutan. ║
║ ║
║ Saldo PM: 0 ║
╚══════════════════════════════════════╝
```
Ardi mengangkat needle holder.
Tangannya tidak lagi hanya stabil.
Tangannya tahu.
Jarum pertama masuk dari sudut yang bahkan tidak terpikirkan oleh Fajar. Tidak kasar, tidak ragu. Ia mengambil tepi pembuluh rapuh itu seperti mengangkat sehelai benang basah dari air. Putaran setengah lingkaran. Tarikan ringan. Kunci simpul.
Satu jahitan.
Dua.
Tiga.
Perawat instrumen tanpa sadar menahan napas.
Fajar menatap gerakan Ardi dengan mata yang perlahan melebar.
“Suction,” kata Ardi.
Perawat baru bergerak setelah setengah detik. “Ya, Dok.”
“Benang berikutnya. Lebih halus.”
“Baik.”
Tidak ada lagi yang memanggilnya tenaga kontrak di ruangan itu.
Di luar kaca, Hendro berdiri kaku. Dari posisinya, ia tidak bisa mendengar semua instruksi, tapi ia bisa melihat perubahan ritme tim. Ruang operasi yang tadi hampir panik kini bergerak mengikuti satu pusat.
Ardi.
“Tekanan masih rendah,” kata anestesi, tapi kali ini ada harapan di suaranya. “Namun saturasi mulai naik.”
“Pertahankan,” kata Ardi. “Jangan naikkan tekanan paru dulu. Beri saya dua menit.”
Fajar tidak memotong.
Ia hanya berkata, “Ikuti instruksi Dokter Ardi.”
Kalimat itu jatuh lebih keras daripada tamparan.
Di sisi kaca, wajah Hendro berubah gelap.
Ardi tidak sempat melihatnya. Seluruh dunianya menyempit pada jantung kecil di bawah lampu operasi. Jantung donor mulai terhubung. Aliran pertama masuk perlahan, seperti sungai yang menemukan jalannya setelah bendungan dibuka.
Satu bagian selesai.
Lalu bagian berikutnya.
Keringat dingin merayap di punggung Ardi, tapi pikirannya jernih. Panel biru sudah hilang, namun pengetahuan yang ditinggalkannya masih menyala di ujung jarinya.
Ia bisa melakukannya.
Untuk pertama kalinya sejak keluar dari penjara, kalimat itu bukan hiburan kosong.
Ia benar-benar bisa melakukannya.
“Siap turunkan bypass bertahap,” kata Fajar.
Ardi mengangguk. “Pelan. Jangan paksa.”
Mesin jantung paru mulai dikurangi.
Semua mata tertuju pada monitor.
Detik pertama aman.
Detik kedua, tekanan naik sedikit.
Detik ketiga, EKG tiba-tiba melonjak liar.
Beepbeepbeepbeep.
Anestesi berseru, “Aritmia ventrikel!”
Tubuh kecil Livi tersentak halus di bawah kain steril.
Garis EKG kacau, lalu dalam satu kedipan berubah menjadi hampir datar.
“Jantung berhenti!”
Ruangan meledak dalam kepanikan tertahan.
Ardi menatap jantung Livi yang baru saja mulai memberi harapan, kini diam di bawah cahaya putih.
Needle holder di tangannya masih basah.
Dan di sudut pandangnya, sisa cahaya biru Sistem Modifier berkedip tipis, seperti mata yang baru terbuka sepenuhnya.
Bab 3: Detak Jantung Pertama
Dan di sudut pandangnya, sisa cahaya biru Sistem Modifier berkedip tipis, seperti mata yang baru terbuka sepenuhnya.
“Jantung berhenti!”
Suara anestesi menghantam ruang operasi seperti alarm kebakaran.
Beberapa tangan bergerak bersamaan. Perawat mengambil defibrillator. Perfusionist bersiap menaikkan kembali dukungan mesin jantung paru. Dokter Fajar maju setengah langkah, tapi Ardi sudah lebih dulu meletakkan needle holder ke tray.
“Jangan naikkan bypass penuh,” kata Ardi.
Nada suaranya tidak tinggi.
Justru karena terlalu tenang, semua orang menoleh.
“Ardi?” Fajar menatap monitor yang hampir datar. “Kita kehilangan irama.”
“Bukan kegagalan graft. Ini aritmia karena transisi tekanan terlalu cepat.” Ardi menekan dua jari ke area jantung kecil itu, merasakan getaran samar yang hampir hilang. “Kalau kita naikkan bypass penuh sekarang, aliran baliknya bisa merusak sambungan posterior.”
“Tapi kalau dibiarkan, dia henti jantung.”
“Saya tahu.”
Satu detik.
Dua detik.
Di luar kaca, Hendro sudah bergerak mendekat. Wajahnya pucat, tapi di matanya ada kilatan gelap, kilatan orang yang melihat musuhnya hampir jatuh ke jurang.
Ardi tidak melihatnya.
Semua pengetahuan Lanjutan yang baru saja masuk ke kepalanya bekerja seperti peta hidup. Ia melihat bukan hanya jantung Livi yang diam, tapi juga aliran yang seharusnya lewat, titik tekanan yang terlalu tajam, dan satu simpul kecil pada anastomosis yang membuat irama baru itu tersandung.
“Adrenalin mikro. Siapkan defibrillator energi rendah,” katanya. “Pak Fajar, tolong pegang suction di sini. Jangan sentuh jahitan posterior.”
Fajar hanya ragu sepersekian detik.
Lalu ia mengangguk. “Ikuti dia.”
Kalimat itu membuat ruangan kembali bergerak.
Ardi mengambil forceps halus. Tangannya masuk ke area yang nyaris tidak memberi ruang untuk kesalahan. Ia tidak bisa membongkar ulang sambungan. Tidak ada waktu. Ia hanya perlu membebaskan sedikit tarikan pada tepi pembuluh, cukup agar aliran pertama tidak menghantam dinding rapuh seperti palu.
“Energi?”
“Siap, Dok.”
“Tunggu.”
Ardi menarik benang seperempat milimeter.
Seperempat milimeter yang menentukan hidup mati.
“Sekarang.”
Tubuh Livi tersentak kecil.
Garis EKG melompat liar, lalu jatuh lagi.
“Belum,” kata anestesi, suara mulai pecah.
“Sekali lagi. Energi sama. Jangan naikkan.”
“Dokter Ardi, saturasi turun!”
“Sekali lagi.”
Defibrillator menyala.
Tubuh kecil itu tersentak untuk kedua kalinya.
Satu detik kemudian, garis di monitor bergerak.
Bukan garis kuat. Bukan irama sempurna. Hanya gelombang kecil, ragu-ragu, seolah jantung itu sendiri belum yakin apakah ia berani kembali.
Beep.
Semua orang membeku.
Beep.
Ardi menahan napas.
Beep.
“Irama sinus kembali,” bisik anestesi. “Lemah, tapi kembali.”
Di bawah lampu operasi, jantung Livi berdenyut.
Kecil.
Rapuh.
Hidup.
Tidak ada yang bersorak. Belum. Semua orang terlalu takut jika suara mereka membuat keajaiban itu pecah. Ardi melanjutkan koreksi sambungan, menutup kebocoran mikro, menyesuaikan tekanan bertahap, dan mengarahkan tim seperti orang yang sejak awal memang diciptakan untuk berdiri di meja itu.
Waktu kehilangan bentuk.
Satu jam menjadi serangkaian angka di monitor. Dua jam menjadi keringat di balik masker. Tiga jam menjadi benang, darah, suction, instruksi pendek, dan tatapan Fajar yang semakin lama semakin sulit menyembunyikan keterkejutannya.
Ketika mesin jantung paru akhirnya dilepas sepenuhnya, tidak ada penurunan tekanan.
Ketika perdarahan diperiksa, tidak ada kebocoran besar.
Ketika dada Livi ditutup sementara untuk observasi, monitor menunjukkan irama yang stabil.
Beep.
Beep.
Beep.
Suara itu sederhana, tapi bagi Ardi, itu seperti pintu besi lapas yang terbuka untuk kedua kalinya.
Perawat instrumen yang sejak tadi menahan napas akhirnya berbisik, “Alhamdulillah...”
Satu orang menyusul. Lalu yang lain.
Ruangan operasi yang dingin mendadak dipenuhi napas lega yang tertahan terlalu lama.
Fajar melepas sarung tangan luarnya dan menatap Ardi. Di balik masker, matanya merah karena lelah dan sesuatu yang lebih dalam.
“Kamu...” Ia berhenti, mencari kalimat yang masuk akal. “Sejak kapan kamu bisa melakukan itu?”
Ardi merasakan panel biru samar muncul di tepi pandangnya.
```
╔══════════════════════════════════════╗
║ 【Misi Selesai!】 ║
║ Transplantasi Jantung Darurat ║
║ ║
║ Hadiah: +10 PM ║
║ Saldo: 10 PM ║
║ ║
║ Bonus: Buku Skill Kosong x1 ║
╚══════════════════════════════════════╝
```
Dadanya bergetar.
Ini nyata.
Sistem itu nyata.
Ia menunduk, pura-pura memeriksa catatan akhir operasi agar tidak ada yang melihat perubahan di wajahnya. “Saya pernah membaca beberapa laporan kasus, Pak.”
Fajar menatapnya.
“Laporan kasus tidak mengajari tangan seseorang bergerak seperti itu.”
Ardi tidak menjawab.
Fajar tidak memaksa. Mungkin karena masih banyak staf di ruangan itu. Mungkin karena Livi masih harus dibawa ke ICU. Mungkin juga karena sebagai dokter, ia tahu ada beberapa keajaiban yang lebih baik disimpan dulu sampai pasien melewati masa kritis.
Pintu ruang operasi terbuka menjelang subuh.
Hartono berdiri begitu cepat sampai kursi di belakangnya terdorong. Pria itu tampak seperti sudah menua sepuluh tahun dalam satu malam. Kemejanya kusut. Matanya merah. Di tangannya ada tasbih kecil yang sejak tadi ia genggam tanpa sadar.
“Dokter?”
Fajar melepas masker. “Operasi selesai. Kondisi masih kritis dan harus dipantau ketat di ICU, tapi jantungnya sudah berdetak stabil.”
Hartono terdiam.
Seolah kalimat itu terlalu besar untuk langsung masuk ke kepalanya.
Lalu bahunya turun.
Ia menutup wajah dengan satu tangan. Tidak ada tangis keras. Hanya napas yang pecah, napas seorang ayah yang baru saja melihat anaknya dikembalikan dari tepi jurang.
“Alhamdulillah,” bisiknya. “Alhamdulillah...”
Brankar Livi didorong keluar menuju ICU. Hartono berjalan di sampingnya, tapi sebelum melewati Ardi, ia berhenti.
“Anda yang tadi memegang operasi?”
Koridor mendadak hening.
Beberapa perawat menoleh. Hendro berdiri tidak jauh dari dinding, wajahnya gelap. Ia jelas mendengar.
Fajar membuka mulut, mungkin hendak menjelaskan struktur tim dan tanggung jawab DPJP, tapi Hartono sudah menatap langsung ke Ardi.
Ardi memilih jawaban yang aman. “Saya membantu di bawah tanggung jawab Dokter Fajar.”
Hartono memandang Fajar.
Fajar diam satu detik, lalu berkata, “Kalau Dokter Ardi tidak ada di meja tadi, Livi mungkin tidak melewati operasi.”
Kalimat itu jatuh di koridor seperti palu.
Hendro menunduk, rahangnya mengeras.
Hartono kembali menghadap Ardi. Pria yang biasa membuat direktur perusahaan berdiri saat ia masuk ruangan itu tiba-tiba membungkuk.
Cukup dalam.
“Dokter Ardi,” katanya dengan suara bergetar, “Anda menyelamatkan satu-satunya harta saya.”
Ardi refleks maju setengah langkah. “Pak Hartono, tidak perlu seperti itu. Saya dokter.”
“Justru karena Anda dokter, saya harus berterima kasih dengan benar.” Hartono mengangkat wajah. Matanya basah, tapi sorotnya sudah kembali tajam. “Mulai hari ini, kalau Anda membutuhkan sesuatu yang masih bisa dilakukan manusia, hubungi saya.”
Hendro mendengar itu.
Dan untuk pertama kalinya, wajahnya bukan hanya iri.
Ada takut tipis di sana.
Ardi tidak langsung menerima janji itu. Ia tahu orang besar tidak pernah memberi kalimat seperti itu tanpa bobot. Tapi ia juga tahu hidupnya tidak lagi berada di posisi yang bisa menolak semua tangan yang datang.
“Saya hanya ingin Livi melewati masa kritis dulu,” katanya.
Hartono menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk pelan. “Baik. Kita bicarakan setelah anak saya bangun.”
ICU menelan brankar Livi di balik pintu kaca.
Fajar menepuk bahu Ardi. “Pulanglah sebentar. Kamu sudah berdiri sejak malam.”
“Saya bisa tunggu.”
“Itu perintah, bukan saran. Kamu tenaga kontrak, ingat? Jangan mati sebelum SIP kamu kembali.”
Humor kering itu membuat beberapa perawat tersenyum lelah. Ardi pun hampir tersenyum, meski hanya sebentar.
Ia mengambil barang dari loker. Foto Gatra dan Sari masih di sana, terlipat aman. Ketika jarinya menyentuh kertas itu, panel biru kembali muncul, lebih jinak daripada di ruang operasi.
```
╔══════════════════════════════════════╗
║ 【SISTEM MODIFIER】 ║
║ ║
║ Status Pengguna: Ardi Pratama ║
║ Poin Modifikasi: 10 PM ║
║ ║
║ Skill Aktif: ║
║ ▸ Transplantasi Jantung Paralel ║
║ Kiri - Lanjutan ║
║ ║
║ Inventaris: ║
║ ▸ Buku Skill Kosong x1 ║
╚══════════════════════════════════════╝
```
Ardi menutup mata sesaat.
Selama dua tahun, ia hanya punya kenangan, utang, dan nama buruk.
Sekarang ia punya sesuatu yang tidak dimiliki Hendro, tidak diketahui Dewi, dan tidak bisa dirampas Rangga Pradana dengan laporan palsu.
Senjata.
Tapi senjata ini bukan untuk membunuh.
Senjata ini untuk menyelamatkan orang, mengembalikan namanya, dan menjemput anak-anaknya pulang.
Langit Surabaya mulai kelabu ketika Ardi sampai di kost. Lorong sempit itu masih lembap. Bau kopi sachet dari kamar sebelah bercampur dengan deterjen murah. Dunia di luar rumah sakit tampak terlalu biasa setelah semalaman melihat seorang anak hampir mati.
Ia masuk kamar, mengunci pintu, lalu duduk di tepi kasur.
Kakinya baru terasa lemas.
Tangannya gemetar sedikit setelah semua ketegangan lepas. Ia menatap telapak tangannya lama-lama. Tangan yang sama pernah diborgol. Tangan yang sama tadi memegang jantung seorang anak dan menariknya kembali dari garis datar.
Panel Sistem Modifier melayang sunyi di depannya.
“Poin Modifikasi,” gumamnya. “Buku Skill Kosong. Upgrade skill.”
Ia tertawa pelan, bukan karena lucu, tapi karena hidupnya tiba-tiba menjadi lebih tidak masuk akal daripada fitnah yang dulu menghancurkannya.
Di meja kecil, foto Gatra dan Sari ia tegakkan bersandar pada gelas plastik.
Gatra tersenyum lebar dalam foto itu. Sari memegang baju kakaknya dengan tangan kecil.
Ardi menyentuh bingkai foto murah itu dengan ujung jari.
“Ayah sekarang punya senjata, Nak,” katanya pelan. “Tunggu Ayah sedikit lagi.”
Ponselnya bergetar.
Pesan dari rumah sakit.
Livi stabil di ICU.
Belum sempat Ardi membalas, panel biru di depannya berkedip lagi.
```
╔══════════════════════════════════════╗
║ 【Misi Baru Terdeteksi!】 ║
║ Misi Perak: Luka Wajah Sang Bintang║
║ ║
║ Target: Rania Ayu ║
║ Kondisi: Cedera wajah akibat ║
║ kecelakaan lokasi syuting ║
║ ║
║ Hadiah: 20 PM + Bakat Pasif ║
║ Batas Waktu: 6 jam ║
╚══════════════════════════════════════╝
```
Ardi menatap panel itu.
Di luar, azan Subuh mulai terdengar dari masjid kecil ujung gang.
Ia belum tidur. Tubuhnya nyaris runtuh.
Tapi untuk pertama kalinya setelah keluar dari neraka, rasa lelah itu tidak terasa seperti kekalahan.
Itu terasa seperti awal.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!