Indonesia
NovelToon NovelToon

Teknisi Rendahan Sebenarnya Dewa Perang

Bab 1

Plak!

​Sebuah tamparan keras menggema dengan jelas di tengah lobi utama kantor Grup Rajawali yang sibuk.

​"Mulai hari ini kita putus, Devan!" teriak Siska dengan wajah memerah karena marah.

​Devan hanya berdiri diam sambil memegang pipi kirinya yang terasa sedikit panas.

​Pria dengan seragam petugas kebersihan itu menatap wanita yang sudah menjadi kekasihnya selama dua tahun ini dengan tatapan datar.

​"Bisa kamu jelaskan kenapa mendadak seperti ini, Siska?" tanya Devan dengan nada suara yang anehnya sangat tenang dan stabil.

​"Apanya yang mendadak? Aku sudah sangat muak melihatmu terus-terusan menjadi pesuruh rendahan di kantor ini!" jawab Siska sambil melipat kedua tangannya di dada.

​"Aku ini butuh pria yang bisa menjamin masa depanku, bukan pria pecundang yang bahkan tidak sanggup membelikan sepotong gaun bagus untukku." lanjut wanita itu dengan nada yang sangat mengejek.

​Dari arah belakang Siska, perlahan muncul seorang pria berjas rapi yang menyunggingkan senyum penuh kemenangan.

​Itu adalah Riko, seorang Manajer Pemasaran di perusahaan ini yang memang terkenal sering memanfaatkan jabatannya untuk merayu wanita.

​"Kamu dengar sendiri kan apa kata Siska, Devan? Wanita cantik seperti dia pantas mendapatkan pria mapan sepertiku." ucap Riko dengan bangga sambil merangkul pinggang ramping Siska.

​Siska sama sekali tidak menolak rangkulan itu, dia justru bersandar dengan manja di bahu Riko di depan mata Devan.

​"Lagipula, ibuku sekarang butuh biaya operasi jantung puluhan juta, apa kamu sanggup membayarnya dengan gaji kebersihanmu yang menyedihkan itu?" tambah Siska sambil mendengus sinis.

​Devan menarik napas panjang mendengar ucapan wanita di hadapannya.

​"Siska, tadi subuh aku baru saja mentransfer uang sebesar lima puluh juta ke rekeningmu untuk biaya penuh rumah sakit ibu." ucap Devan pelan.

​Mendengar ucapan Devan, Siska sempat terdiam dan terkejut sesaat sebelum akhirnya tawanya meledak.

​"Lima puluh juta? Kamu sedang bermimpi atau mabuk? Uang dari mana pria miskin sepertimu bisa memiliki lima puluh juta?" tawa Siska menggema dengan sangat meremehkan.

​"Kalaupun kamu benar mentransfernya, anggap saja uang itu sebagai biaya ganti rugi karena kamu sudah membuang masa mudaku selama dua tahun ini!" lanjut Siska tanpa ada rasa bersalah sedikit pun di wajahnya.

​Devan hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.

​"Bahkan seekor anjing jalanan pun tahu cara berterima kasih setelah diberi makan," batin Devan dalam hati.

​Dia sama sekali tidak merasa sedih atau ingin menangis, dia hanya merasa kecewa karena pengorbanannya menyamar menjadi orang biasa ternyata dibalas dengan pengkhianatan murahan.

​Selama dua tahun terakhir ini, dia sengaja membuang identitas lamanya dan hidup miskin demi menghindari radar musuh-musuh internasionalnya.

​Tapi sepertinya hidup damai memang hal yang paling mustahil didapatkan oleh seorang mantan Dewa Perang.

​Ting!

​Tiba-tiba, suara mekanik yang sangat familiar berdenging nyaring di dalam kepala Devan.

​[Peringatan: Deteksi pengkhianatan dan fluktuasi emosi target.]

​[Sistem Kehidupan Damai gagal dipertahankan.]

​[Sistem Dewa Perang diaktifkan kembali secara paksa.]

​[Misi Utama Baru: Berhenti menjadi pecundang dan hancurkan harga diri orang-orang yang merendahkan Anda.]

​[Hadiah Penyelesaian: Pembukaan segel kekuatan fisik tahap pertama.]

​Devan menatap kosong layar biru transparan yang melayang di depan matanya itu.

​Sudah sangat lama dia tidak melihat antarmuka sistem ini sejak dia memutuskan untuk keluar dari medan perang perbatasan berdarah.

​"Hei orang bodoh, kenapa kamu malah melamun menatap udara kosong? Cepat kembali mengepel lantai sana!" bentak Riko memecah lamunan Devan.

​Riko dengan sengaja menendang ember air pel di dekat kaki Devan dengan keras.

​Byur!

​Air pel yang kotor dan bau itu tumpah membasahi celana kerja dan sepatu kets usang milik Devan.

​Orang-orang di lobi yang sejak tadi berkerumun menonton drama itu kini mulai tertawa terbahak-bahak.

​"Ya ampun kasihan sekali si Devan, sudah miskin, diselingkuhi, disiram air kotor pula," ucap salah satu karyawan wanita sambil menutupi mulutnya yang tertawa.

​"Itu salahnya sendiri tidak tahu diri berani memacari Siska, level mereka itu ibarat bumi dan langit," sahut karyawan pria lainnya dengan nada mengejek.

​Devan menatap air kotor yang menetes dari sepatunya, lalu perlahan mengangkat wajahnya untuk menatap mata Riko.

​Tatapan mata Devan yang sedari tadi terlihat sangat datar, kini perlahan berubah menjadi luar biasa tajam dan sedingin bongkahan es abadi.

​Riko tiba-tiba merasakan bulu kuduknya berdiri dan hawa dingin merayap cepat di tengkuknya saat bersitatap dengan Devan.

​Pria berjas itu merasa seolah-olah sedang ditatap oleh seekor monster buas yang siap merobek lehernya kapan saja.

​"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Kamu mau memukulku? Coba saja pukul kalau kamu berani, pesuruh bodoh!" tantang Riko berusaha menutupi rasa takutnya yang tiba-tiba muncul.

​"Riko, kamu baru saja mengotori sepatuku dengan air pel ini." ucap Devan dengan suara bariton rendah yang sangat mengintimidasi.

​"Hah? Terus kenapa kalau sepatumu kotor? Kamu mau aku mengelapnya? Ngaca dong, sepatumu itu harganya tidak lebih mahal dari harga kaos kakiku!" balas Riko mencoba kembali meninggikan suaranya.

​Sebelum Devan sempat mengambil langkah maju untuk meremukkan rahang Riko, suara langkah sepatu yang tegas memecah keributan di lobi.

​Tap! Tap! Tap!

​Suasana lobi yang tadinya sangat bising penuh tawa, dalam sekejap berubah menjadi sunyi senyap seolah ada malaikat maut yang baru saja turun dari langit.

​Dari arah pintu kaca utama, seorang wanita berjalan masuk dengan membawa aura dominan yang luar biasa kuat dan menekan.

​Wajah wanita itu sangat cantik bagaikan pahatan dewi, namun ekspresinya terlihat sangat dingin tanpa ada emosi sedikit pun.

​Dia mengenakan setelan jas kerja wanita berwarna hitam pekat yang sangat pas membalut lekuk tubuh indahnya yang sempurna.

​Itu adalah Clarissa, CEO sekaligus pemegang saham terbesar dari Grup Rajawali yang terkenal bertangan besi dan kejam dalam dunia bisnis.

​Riko segera melepaskan tangannya dari pinggang Siska dan buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam.

​"Selamat pagi, Bu Clarissa." sapa Riko dengan senyuman penjilat yang paling lebar dan suara yang dibuat seramah mungkin.

​Siska juga ikut menunduk ketakutan, dia sama sekali tidak berani menatap langsung wajah bos besar yang kecantikannya selalu membuat wanita mana pun merasa rendah diri itu.

​Namun, Clarissa sama sekali tidak mempedulikan sapaan Riko.

​Wanita super cantik itu terus melangkah ke depan melewati Riko dan Siska seolah-olah mereka berdua hanyalah seonggok sampah yang tidak terlihat.

​Langkah Clarissa akhirnya berhenti tepat di depan Devan yang masih memegang gagang pel di tangannya.

​Semua orang di lobi menahan napas mereka karena tegang.

​Mereka semua berpikir bahwa CEO dingin itu pasti akan langsung memecat Devan dengan tidak hormat karena membuat keributan bodoh di pagi hari.

​Clarissa menatap Devan dari ujung sepatu ketsnya yang basah, hingga ke ujung rambutnya yang sedikit berantakan.

​"Bawa KTP dan kartu keluargamu sekarang juga." ucap Clarissa dengan suara yang sangat merdu namun penuh dengan perintah mutlak.

​Devan mengerutkan keningnya karena merasa tidak mengerti dengan situasi ini.

​"Untuk apa saya harus membawa KTP saya, Bu CEO?" tanya Devan santai, dia menjadi satu-satunya orang di gedung ini yang berani membalas tatapan mata Clarissa secara langsung.

​Riko membelalakkan matanya ngeri melihat kelancangan Devan.

​"Heh pesuruh bodoh! Jaga nada bicaramu di depan Bu CEO, apa kamu mau mati!" bentak Riko berusaha mencari muka di depan Clarissa.

​"Diam kamu." desis Clarissa tajam tanpa menoleh sedikit pun pada Riko.

​Mendengar desisan sedingin es itu, Riko langsung kicep dan wajahnya berubah pucat pasi karena ketakutan.

​Clarissa kembali memusatkan seluruh perhatiannya ke dalam mata hitam kelam milik Devan.

​"Kita akan pergi ke kantor catatan sipil sekarang juga." ucap Clarissa dengan nada datar seolah dia hanya sedang membicarakan menu makan siang.

​"Kamu akan menikah denganku hari ini juga, Devan."

​Brak!

​Seorang karyawan di sudut lobi tidak sengaja menjatuhkan tumpukan dokumennya saking terkejutnya mendengar ucapan Clarissa.

​Siska menganga lebar dengan mata melotot seolah bola matanya akan keluar dari sarangnya.

​Riko nyaris pingsan karena kedua kakinya mendadak lemas seperti jeli.

​Sementara itu Devan, sang mantan Dewa Perang yang namanya dulu membuat para jenderal musuh kencing di celana, untuk pertama kalinya dalam hidupnya merasa sangat bingung.

​"Apakah wanita gila ini sedang mabuk pagi-pagi begini?" batin Devan sambil menatap wajah cantik tanpa cacat di hadapannya.

Bab 2

Wush!

​Angin seolah berhenti berhembus di lobi utama Grup Rajawali pagi itu.

​Pernyataan Clarissa baru saja menjatuhkan bom atom imajiner yang menghancurkan akal sehat semua orang di sana.

​Siska menatap Clarissa dan Devan secara bergantian dengan mulut yang masih terbuka lebar.

​"Ini pasti bercanda, kan?" batin Siska dengan dada yang bergemuruh aneh.

​Dia baru saja membuang pria miskin itu beberapa menit yang lalu karena malu.

​Tapi sekarang, wanita paling berkuasa dan tercantik di kota ini malah melamar mantan pacarnya yang hanya seorang pesuruh rendahan?

​Riko memaksakan sebuah tawa canggung yang terdengar sangat sumbang memecah keheningan.

​"Ahahaha, Bu Clarissa pasti sedang bercanda untuk mencairkan suasana pagi ini, benar kan?" ucap Riko dengan keringat dingin yang mengucur deras di pelipisnya.

​Clarissa menoleh perlahan ke arah Riko dengan tatapan yang bisa membekukan darah.

​"Apa aku terlihat seperti sedang melucu di matamu?" desis Clarissa sangat tajam.

​Riko langsung menutup mulutnya rapat-rapat dan menunduk ketakutan hingga dagunya menyentuh dada.

​Tidak ada yang berani bersuara lagi setelah melihat kemarahan tertahan dari sang CEO bertangan besi itu.

​Devan mengusap tengkuknya perlahan merasa situasinya menjadi terlalu merepotkan untuknya.

​Dia datang ke kota ini untuk bersembunyi dari para pembunuh bayaran internasional dan hidup dengan tenang.

​Menikahi seorang CEO terkenal yang selalu dikejar kamera wartawan jelas akan menempatkannya tepat di bawah sorotan lampu yang terang benderang.

​"Maaf, Bu Clarissa, tapi saya harus menolak tawaran Anda." ucap Devan dengan nada datar yang terkesan sangat santai.

​Grep!

​Siska tanpa sadar meremas ujung lengan jas Riko dengan sangat kuat.

​Pria bodoh itu baru saja menolak wanita paling sempurna di kota ini dengan wajah tanpa dosa?

​Bahkan para pria dari keluarga konglomerat rela mengantre berhari-hari dan saling membunuh hanya untuk mendapat kesempatan makan malam bersama Clarissa.

​Clarissa sedikit menyempitkan matanya mendengar penolakan langsung dari mulut Devan.

​Seumur hidupnya yang dipenuhi kemewahan, belum pernah ada satu orang pria pun yang berani menolak permintaannya secara langsung di depan umum seperti ini.

​"Aku tidak sedang meminta persetujuanmu, Devan." ucap Clarissa melangkah maju memangkas jarak di antara mereka berdua.

​Wangi parfum mewah bercampur aroma mawar yang dingin langsung menyerbak masuk ke dalam indra penciuman Devan.

​"Ikut aku ke ruanganku sekarang, atau aku akan membuat hidupmu dan semua orang yang kamu kenal di kota ini hancur berantakan." bisik Clarissa pelan namun dipenuhi ancaman yang mematikan.

​Devan menghela napas panjang dalam hati mendengar ancaman tersebut.

​Ancaman semacam ini sebenarnya sama sekali tidak mempan untuk diucapkan kepada seorang mantan Dewa Perang sepertinya.

​Namun dia tiba-tiba teringat misi dari sistem barusan yang mengharuskannya untuk berhenti menjadi pecundang di mata orang lain.

​Mungkin bermain-main sedikit dengan CEO yang berlagak dingin ini bisa membantunya menyelesaikan misi pertama itu tanpa perlu bersusah payah.

​"Baiklah, kalau itu memang mau Anda, bos." jawab Devan sambil mengangkat bahunya pertanda menyerah.

​Clarissa berbalik tanpa membuang waktu dan melangkah anggun menuju lift khusus eksekutif.

​Devan berjalan mengekor santai di belakangnya sambil menenteng ember pel yang isinya sudah tumpah ke mana-mana tadi.

​Langkah kaki Devan tiba-tiba berhenti tepat saat dia berjalan melewati Siska dan Riko yang masih mematung di tempat mereka.

​"Siska, ingat satu hal, mulai hari ini kita benar-benar tidak ada hubungan apa-apa lagi." ucap Devan tanpa menoleh sedikit pun ke arah wanita itu.

​"Dan Riko, aku sarankan kamu beli sepatu baru besok karena sepatu mahalku itu kelihatannya membawa sial bagimu." tambah Devan menatap tajam ke arah kaki Riko.

​Setelah mengatakan kalimat perpisahan yang menohok itu, Devan kembali melangkah menyusul Clarissa masuk ke dalam lift khusus yang perlahan tertutup rapat.

​Siska menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga hampir berdarah.

​Perasaan cemburu dan gengsi yang luar biasa besar tiba-tiba meledak dan membakar di dalam dadanya.

​"Kenapa CEO itu memilih Devan? Apa bagusnya si miskin itu dibandingkan Riko yang punya jabatan manajer?" batin Siska merasa harga dirinya sedang diinjak-injak tanpa ampun.

​Sementara itu, di dalam lift eksekutif yang meluncur cepat ke lantai atas, suasana di dalam kotak besi itu terasa sangat canggung.

​Devan berdiri bersandar nyaman di dinding lift sambil sesekali melirik sosok Clarissa dari sudut matanya.

​Wanita itu berdiri tegak menghadap pintu lift dengan wajah dinginnya yang sama sekali tidak bisa ditebak jalan pikirannya.

​Ting!

​Pintu lift terbuka di lantai paling atas gedung yang merupakan area terlarang karena itu adalah ruang pribadi milik sang CEO.

​Clarissa berjalan keluar melintasi lorong yang lantainya dilapisi karpet mewah dan membuka pintu ganda besar yang menuju ruang kerjanya.

​Ruangan itu sangat luas dan megah, didominasi warna monokrom elegan dengan dinding kaca raksasa yang menampilkan pemandangan seluruh gedung pencakar langit kota dari atas.

​"Tutup pintunya dan kunci dari dalam." perintah Clarissa tanpa repot-repot menoleh ke belakang.

​Devan menurut saja dan memutar kunci pintu sebelum berjalan santai mendekati meja kerja Clarissa yang berukuran sangat besar.

​Brak!

​Clarissa tiba-tiba melemparkan sebuah tumpukan map yang cukup tebal ke atas mejanya dengan sedikit kasar.

​"Duduk di sana." perintah Clarissa menunjuk sebuah kursi tamu berbahan kulit mahal di depan mejanya.

​Devan menjatuhkan dirinya di kursi itu dan menyandarkan punggungnya senyaman mungkin seolah dia sedang nongkrong di warung kopi langganannya.

​"Jadi, bisa Anda jelaskan sekarang kenapa wanita sesempurna Anda mendadak ingin menikahi pesuruh bodoh seperti saya?" tanya Devan menembak langsung ke intinya.

​Clarissa duduk di kursi kebesarannya dan memijat pelipisnya perlahan dengan jari lentiknya.

​Wajah dinginnya kini perlahan memudar dan terlihat sedikit kelelahan seolah dia sedang menanggung beban dunia di pundaknya.

​"Keluargaku sudah menyusun rencana untuk menjodohkanku dengan putra tertua dari Keluarga Sanjaya besok malam." ucap Clarissa memulai penjelasan panjangnya.

​"Keluarga Sanjaya adalah mafia bisnis paling kotor dan licik di negara ini, dan aku lebih baik mati daripada harus menyerahkan perusahaanku ke tangan busuk mereka." lanjut wanita itu dengan tatapan penuh dengan kebencian mendalam.

​Devan mengangguk-angguk paham mendengarkan cerita yang terdengar seperti drama klise perebutan harta keluarga konglomerat itu.

​"Lalu apa hubungannya masalah itu dengan saya? Anda kan bisa menyewa aktor tampan di luar sana untuk menjadi suami bohongan Anda." tanya Devan karena masih penasaran.

​Clarissa mendengus pelan dan meremehkan mendengar pertanyaan bodoh Devan.

​"Keluarga Sanjaya punya mata dan telinga yang tersebar di mana-mana, mereka akan tahu dalam hitungan jam kalau aku hanya menyewa aktor bayaran." jawab Clarissa merapikan beberapa lembar berkas di mejanya.

​"Aku butuh seseorang yang benar-benar tidak terduga, seseorang yang memiliki latar belakang sangat bersih dan tidak punya koneksi apa pun dengan dunia bisnis kotor ini." jelas Clarissa menatap lurus ke sepasang mata hitam Devan.

​"Dan yang paling penting dari semua itu, aku butuh seseorang yang cukup bodoh dan penurut agar mudah aku kendalikan setelah kita resmi menikah nanti." tambah Clarissa tanpa ragu sedikit pun melontarkan hinaan itu.

​Devan tertawa kecil mendengar kejujuran yang sangat menyakitkan dari bibir wanita cantik di depannya.

​Ternyata bosnya ini memilihnya semata-mata justru karena dia dianggap terlalu bodoh dan sangat mudah untuk disetir sesuka hati.

​"Ini adalah draf surat perjanjian pernikahan kontrak kita berdua." ucap Clarissa sambil mendorong map tebal di atas meja itu ke arah Devan.

​"Kamu hanya perlu tutup mulut dan berpura-pura menjadi suamiku di depan keluargaku dan Keluarga Sanjaya selama satu tahun penuh." jelas Clarissa membeberkan syarat utamanya.

​"Setelah waktu satu tahun berakhir, kita berdua akan resmi bercerai dan aku akan memberimu uang pesangon sebesar sepuluh miliar rupiah murni." ucap Clarissa menyebutkan angka yang sangat fantastis untuk memancing targetnya.

​Devan menatap map perjanjian di depannya tanpa ada minat sama sekali untuk menyentuhnya.

​Sepuluh miliar mungkin jumlah kekayaan yang gila untuk orang biasa, tapi bagi Dewa Perang yang pernah memonopoli ekonomi negara kecil, uang sebanyak itu hanyalah recehan sisa jajan.

​"Lalu bagaimana kalau ternyata saya menolak tawaran Anda ini?" pancing Devan sekadar ingin melihat reaksi wanita yang terlalu angkuh ini.

​Brak!

​Clarissa menggebrak meja kayunya dengan cukup keras hingga cangkir kopi di sampingnya sedikit terguncang.

​"Kamu pikir kamu benar-benar punya pilihan di sini, Devan?" desis Clarissa dengan mata indahnya yang kini menyorotkan ancaman tajam.

​"Mantan pacarmu baru saja membuangmu seperti sampah karena kamu miskin, ibunya butuh puluhan juta untuk biaya operasi, dan kamu adalah target perundungan favorit di kantor ini." ucap Clarissa membeberkan semua fakta menyedihkan yang dia baca dari laporan personalia.

​"Tanda tangani ini dan menikahlah denganku, maka kamu akan langsung mendapatkan uang, tempat tinggal mewah, serta perlindungan mutlak di bawah namaku." tawar Clarissa yang kini terdengar setengah memaksa.

Bab 3

Ting!

​Suara mekanik sistem yang sudah lama dirindukan Devan kembali berbunyi di dalam pikirannya tepat pada saat yang krusial itu.

​[Misi Opsional Ditemukan: Setujui dan jalani pernikahan kontrak dengan target Clarissa.]

​[Deskripsi: Clarissa terdeteksi memiliki garis keturunan Yin Murni yang sangat langka di dunia ini. Berada di dekatnya akan secara drastis mempercepat pemulihan energi spiritual Host yang saat ini sedang tersegel rapat.]

​[Hadiah Penyelesaian Opsional: Bonus 10% pembukaan segel teknik pernapasan naga kuno.]

​Mata Devan sedikit melebar saat membaca barisan teks biru transparan yang melayang statis di hadapannya itu.

​Dia benar-benar tidak peduli dengan uang sepuluh miliar, tapi pemulihan energi spiritual murni adalah sesuatu yang sangat dia butuhkan lebih dari apa pun saat ini.

​Dulu saat dia berada di medan perang perbatasan, inti energinya hancur parah akibat dikeroyok oleh sepuluh petarung level dewa dari berbagai negara musuh.

​Siapa yang sangka CEO cerewet dan menyebalkan ini ternyata adalah kunci rahasia untuk mengembalikan semua kekuatannya yang hilang.

​Devan menarik sudut bibirnya secara perlahan membentuk senyuman tipis yang sangat misterius.

​"Satu tahun bersandiwara untuk sepuluh miliar ya? Kedengarannya ini seperti kesepakatan yang sangat menguntungkan untuk pesuruh rendahan sepertiku." ucap Devan santai sambil mengambil pena mahal yang tergeletak di atas meja.

​Clarissa menghela napas sangat lega dalam hati melihat pria keras kepala ini akhirnya menyerah dan mau mengambil pena itu.

​Dia benar-benar sudah terdesak waktu dan tidak punya pilihan rencana lain selain harus memanfaatkan pria miskin ini sebaik mungkin.

​Sret! Sret!

​Devan langsung menandatangani kontrak tebal bermeterai itu dengan gerakan cepat di halaman paling belakang tanpa repot-repot membacanya sama sekali.

​"Bagus, keputusan yang cerdas karena kamu ternyata tidak sebodoh yang terlihat dari luar." ucap Clarissa menarik napas lega seraya mengambil kembali map tersebut dan memasukkannya ke dalam laci mejanya yang terkunci.

​"Kita akan pergi ke kantor catatan sipil sekarang juga untuk melegalkan pernikahan ini sebelum keluargaku curiga dengan gerak-gerikku." perintah Clarissa bersemangat sambil berdiri tegak dan mengambil tas tangan mahalnya.

​Devan ikut berdiri dari kursinya dan menepuk-nepuk seragam kebersihannya yang masih sedikit basah dan kotor akibat ulah Riko tadi.

​"Tunggu dulu." ucap Clarissa segera menghentikan langkahnya saat melihat penampilan berantakan Devan dari ujung kepala hingga kaki.

​"Aku tidak mungkin nekat membawa seorang pesuruh berseragam dekil dan bau sepertimu ke kantor catatan sipil." keluh Clarissa kesal sambil memijat keningnya lagi.

​Clarissa berjalan cepat menuju sebuah lemari besar tersembunyi di sudut ruangan dan mengeluarkan sebuah paper bag hitam yang tampak sangat eksklusif.

​"Ambil pakaian ini dan segera ganti bajumu di kamar mandi dalam itu." perintah Clarissa setengah melempar paper bag tersebut ke arah dada Devan.

​Devan menangkapnya dengan tangkas tanpa masalah dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi pribadi CEO tanpa berniat protes lagi.

​Di dalam kamar mandi yang luasnya bahkan mengalahkan ukuran kamar kost kumuh Devan, pria itu membuka pelan isi paper bag tersebut.

​Isinya ternyata adalah satu setel kemeja putih berlengan panjang bermerek mahal buatan desainer Italia, celana bahan hitam yang dipotong dengan sangat sempurna, dan sepasang sepatu pantofel kulit mengilap.

​"Seleranya dalam memilih barang boleh juga," gumam Devan sambil melepaskan seragam petugas kebersihannya yang sangat bau air pel.

​Saat seragam longgar itu terlepas dan jatuh ke lantai, terlihatlah bentuk tubuh asli Devan yang sangat kekar dan atletis dengan otot-otot perut yang terbentuk sempurna menyerupai pahatan patung dewa Yunani kuno.

​Namun yang paling mengerikan adalah, seluruh punggung tegap dan dadanya dipenuhi oleh berbagai macam bekas luka mengerikan yang tumpang tindih.

​Ada bekas sayatan pedang tajam yang sangat panjang, beberapa bekas tembakan peluru tajam, dan bekas luka bakar parah yang menjadi saksi bisu betapa brutal dan berdarahnya masa lalu pria yang merendah ini.

​Devan mengabaikan kenangan buruk itu lalu segera memakai kemeja mahal pemberian Clarissa dan merapikan rambut hitamnya sedikit menggunakan air dingin di wastafel.

​Hanya dalam waktu kurang dari lima menit berganti pakaian, aura pesuruh rendahan yang selalu melekat erat pada dirinya selama dua tahun ini lenyap seketika tanpa ada sisa.

​Saat Devan memutar kenop pintu kamar mandi dan melangkah keluar dengan santai, Clarissa yang sedang sibuk mengecek tabletnya otomatis menoleh ke arah suara.

​Deg!

​Jantung Clarissa tiba-tiba berdetak satu ketukan jauh lebih cepat saat melihat penampakan pria yang baru saja keluar dari kamar mandinya itu.

​Devan yang kini mengenakan kemeja putih pas badan tanpa dasi itu terlihat sangat luar biasa tampan, bersih, dan memancarkan aura kejantanan yang pekat.

​Postur tubuhnya yang tinggi dan tegap sempurna membuat pakaian mahal itu terlihat seolah-olah memang dirancang khusus hanya untuk dikenakan olehnya.

​Bahkan aura datar yang selalu dia pancarkan setiap hari kini terasa seperti ketenangan menawan seorang bangsawan kelas atas yang sedang bersantai di rumahnya.

​"Apakah pria tampan ini benar-benar Devan si pesuruh lobi yang selalu dimaki orang-orang?" batin Clarissa sama sekali tidak berani percaya dengan penglihatan matanya sendiri.

​Clarissa buru-buru memalingkan wajah cantiknya ke arah jendela luar untuk menyembunyikan semburat merah tipis yang mendadak muncul di kedua pipinya tanpa permisi.

​"Ekhem, penampilanmu lumayan juga. Setidaknya kamu tidak akan terlihat terlalu memalukan saat berdiri di sampingku nanti." ucap Clarissa berusaha sangat keras menjaga nada suaranya agar tetap terdengar dingin dan angkuh seperti biasa.

​Devan hanya bisa tersenyum kecil menahan tawa melihat tingkah salah tingkah sang CEO yang sangat ketara itu.

​Sebagai mantan jenderal lapangan di medan perang, insting Devan sangat tajam untuk menyadari perubahan sekecil apa pun pada detak jantung dan bahasa tubuh seseorang yang berbohong.

​"Jadi, istriku yang sangat cantik, apakah kita akan berangkat sekarang?" goda Devan dengan nada suara bariton yang sengaja dibuat sedikit rendah dan menggoda telinga.

​Wajah putih mulus Clarissa langsung memerah hebat hingga ke ujung telinga mendengar panggilan mesra yang sangat tak terduga itu.

​"Tutup mulutmu rapat-rapat! Jangan pernah berani memanggilku seperti itu kalau tidak ada orang lain di sekitar kita!" bentak Clarissa dengan galak sambil memutar tubuhnya dan berjalan cepat mendahului Devan menuju pintu keluar ruangan.

​Devan tertawa pelan mendengarnya dan segera melangkah panjang menyusul calon istri bohongan yang ternyata sangat temperamental itu dari belakang.

​"Sangat menarik, sepertinya jalan kehidupanku di kota ini tidak akan seboring yang aku bayangkan selama ini," batin Devan sambil menatap punggung ramping dan pinggul Clarissa yang bergoyang anggun saat berjalan.

​Hari ini dipastikan adalah hari terakhirnya menjadi seorang pesuruh bodoh yang selalu dihina dan diinjak-injak orang sesuka hati.

​Mulai besok pagi, orang-orang picik yang selama ini berani meremehkan harga dirinya harus bersiap-siap menghadapi mimpi buruk yang sesungguhnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!