Indonesia
NovelToon NovelToon

Noda ( Pewaris Yang Dibuang )

BAB 1: Sisa Waktu yang Sempit

"Nadia! Mau ke mana kamu?"Langkah kaki Nadia yang baru saja mencapai ambang pintu depan langsung terpaku. Gadis itu menoleh pelan, meremas tali tas kanvasnya yang sudah mulai menipis di bagian pundak. Di hadapannya, berdiri Nyonya Sarah, yang selalu mengklaim dirinya sebagai 'penolong' hidup Nadia, meski perlakuan sehari-harinya justru membuktikan sebaliknya.

"Saya mau berangkat kuliah, Nyonya. Pagi ini ada ujian kelas Profesor burhan jam delapan," jawab Nadia selembut mungkin, berusaha menyembunyikan kepanikannya saat melirik jam tangan murah di pergelangan tangannya.

Pukul tujuh lewat sepuluh menit. Untuk sampai ke kampus dengan angkutan umum, ia setidaknya butuh waktu empat puluh lima menit. Waktunya sudah sangat mepet.

Nyonya Sarah berkacak pinggang, menatap Nadia dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan. "Kuliah? Enak sekali kamu ya. Memangnya semua pekerjaan rumah sudah selesai? Kamu pikir kami membiayai sebagian uang kuliahmu agar kamu bisa bersenang-senang dan bermalas-malasan?"

"Saya sudah mencuci piring, menyapu halaman, dan menyiapkan sarapan sejak jam lima pagi, Nyonya," bisik Nadia, menahan rasa sesak yang mulai merayap di dadanya.

"Jangan membantah!" bentak Nyonya Sarah. "Itu meja makan belum dilap bersih! Lalu, jas dan kemeja Axel yang mau dia pakai ke kantor hari ini belum kamu setrika, kan? Axel ada rapat penting siang ini dengan papanya. Setrika sekarang! Jangan sampai ada satu kerutan pun, atau kamu saya usir dari rumah ini!" ancam Sarah.

Mendengar nama Axel disebut, jantung Nadia berdegup sedikit lebih kencang. Axel, putra tunggal di rumah ini, adalah sosok yang selalu dingin dan acuh tak acuh padanya. Tapi ancaman diusir dari Nyonya Sarah bukanlah main-main. Tanpa tempat bernaung ini, Nadia tidak akan bisa melanjutkan impian kuliahnya.

"Baik, Nyonya. Saya kerjakan sekarang," lirihnya pasrah.

Nadia meletakkan tasnya kembali di kursi dapur. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena dikejar waktu, ia menyalakan setrika. Helai demi helai kemeja milik Axel ia haluskan dengan sangat hati-hati. Wangi parfum maskulin khas Axel menguar dari serat kain kemeja mahal itu, memenuhi indra penciuman Nadia, menyisakan perasaan asing yang tak pernah ia mengerti.

Setengah jam berlalu seperti kedipan mata."Nadia! Kenapa lama sekali?" teriak Nyonya Sarah dari ruang tengah.

"Sudah selesai, Nyonya!" Nadia bergegas merapikan jas tersebut ke dalam gantungan baju, lalu meletakkannya di dekat kamar Axel yang pintunya masih tertutup rapat. Pemilik kamar itu tampaknya belum bangun, atau mungkin sedang tidak ada di rumah sejak semalam.

Pukul tujuh lewat empat puluh lima menit, Nadia hampir menangis melihat angka digital di ponselnya."Nyonya, saya pamit sekarang," pamit Nadia tergesa-gesa tanpa menunggu jawaban panjang dari Sarah, yang hanya membalas dengan kibasan tangan tak peduli.

Nadia berlari sekencang yang ia bisa. Kakinya yang hanya beralaskan flat shoes tipis menghantam aspal jalanan kompleks perumahan elite yang sangat luas itu.

Karena ini kawasan elite, tidak ada angkutan umum yang diperbolehkan masuk ke dalam kompleks. Nadia harus berlari hampir satu kilometer untuk mencapai gerbang luar, tempat angkot biasanya melintas. Napasnya memburu, peluh dingin mulai membasahi dahi dan punggungnya. Sambil berlari, Nadia terus berdoa di dalam hati agar Profesor Burhan belum menutup pintu kelasnya. Jika ia gagal dalam ujian pagi ini, beasiswa prestasinya terancam dicabut.

"Tolong... sekali ini saja, jangan terlambat," gumamnya dengan air mata yang nyaris menetes akibat panik bercampur lelah.

Begitu matanya menangkap jalan raya di luar gerbang kompleks, sebuah mobil sedan mewah hitam melesat masuk melewati pos satpam. Kaca mobil itu sedikit terbuka, memperlihatkan siluet seorang pria berahang tegas dengan kacamata hitam yang tampak acuh tak acuh menyetir dengan satu tangan. Itu Axel. Dia baru pulang pagi ini, entah dari mana. Namun, Nadia tidak punya waktu untuk peduli. Begitu melihat sebuah angkot hijau melintas di seberang jalan, ia langsung berteriak sambil melambaikan tangannya dengan panik.

"Kiri, Bang! Kiri! Tolong berhenti!”

Suara Nadia hampir habis, tertelan deru bising kendaraan di jalan raya. Beruntung, sang sopir angkot melihat lambaian tangan paniknya. Mobil hijau itu mengerem mendadak dengan bunyi berdecit nyaring, berhenti tepat beberapa meter di depan Nadia.

Tanpa membuang waktu, Nadia melompat masuk ke dalam angkot yang untungnya tidak terlalu penuh. Ia duduk di pojok dekat pintu, berusaha meredakan napasnya yang memburu. Dadanya naik-turun kencang, dan peluh membasahi pelipisnya hingga beberapa helai rambut menempel di wajahnya yang pucat.

Nadia melirik jam di layar ponselnya yang retak. ‘Pukul 07.52.’

‘Delapan menit lagi,’ batinnya menjerit panik.

"Bang, bisa agak cepat sedikit? Saya ada ujian jam delapan pas," pinta Nadia dengan nada memohon, suaranya sedikit bergetar.

"Sabar ya, Neng. Ini juga Abang lagi usahakan, tapi di depan agak padat," sahut sopir angkot dari kaca spion tengah.

Nadia meremas tali tas kanvasnya dengan sangat erat, menatap nanar ke arah jalanan. Setiap detik terasa seperti siksaan. Ketika angkot akhirnya berhenti di depan gerbang kampus, jam digitalnya tepat menunjukkan ‘pukul 08.01’.

Begitu menyerahkan selembar uang ribuan, Nadia langsung meloncat turun dan kembali berlari. Lorong-lorong kampus yang biasanya ramai kini tampak sepi karena jam perkuliahan pertama sudah dimulai. Langkah kaki Nadia menggema di koridor lantai dua, menuju ruang aula tempat ujian Profesor Burhan dilaksanakan.

Profesor Burhan terkenal sebagai dosen killer paling disiplin se-fakultas. Terlambat satu menit saja setelah pintu ditutup, tidak akan ada toleransi.

Braak!

Nadia mendorong pintu aula yang untungnya belum dikunci rapat. Napasnya tersengal-sengal, seluruh pasang mata di dalam ruangan luas itu langsung tertuju padanya. Di depan kelas, berdiri Profesor Burhan dengan kacamata yang bertengger di hidungnya, memegang selembar kertas ujian. Suasana seketika hening mencekam.

"Nadia Salsabila," suara berat Profesor Burhan menggelegar. "Jam berapa sekarang?"

"Ma-maaf, Prof... Saya..." Nadia terbata-bata, tenggorokannya terasa sangat kering. "Angkotnya tadi sempat tertahan macet..."

Profesor Burhan menatap jam dinding aula, lalu beralih menatap penampilan Nadia yang berantakan. Wajah kelelahan, keringat bercucuran, dan sepatu yang tampak kotor setelah berlari jauh. Semua mahasiswa tahu betapa pintarnya Nadia dan bagaimana dia selalu berjuang mempertahankan beasiswanya.

"Masuk," ucap Profesor Burhan dingin, namun ada sedikit kilat maklum di matanya. "Ambil lembar soalmu. Ini kelonggaran pertama dan terakhir untukmu, Nadia. Satu menit lagi kamu datang terlambat, kamu silakan keluar."

"Terima kasih banyak, Prof. Terima kasih," bisik Nadia berulang kali sambil membungkuk hormat.

Nadia berjalan menuju kursinya di barisan tengah dengan tangan gemetar. Ia mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih menggila, mengambil pena dari tasnya, dan mulai fokus pada lembar ujian di depannya. Bagaimanapun caranya, dia harus lulus ujian ini demi masa depannya. Demi bisa lepas dari cengkeraman rumah keluarga Pramoedya.

**

Ujian yang melelahkan itu akhirnya berlalu, namun penderitaan Nadia belum usai. Sepulang dari kampus sore tadi, Nyonya Sarah sudah menyambutnya dengan tumpukan cucian dan tugas rumah tangga lainnya yang seolah tidak ada habisnya.

Malam telah larut. Jam dinding besar di ruang tengah sudah menunjukkan pukul 23.30.

Seluruh penghuni rumah, termasuk Nyonya Sarah dan suaminya, tampaknya sudah terlelap di kamar mereka masing-masing yang nyaman di lantai atas. Sementara Nadia, dengan tubuh yang teramat letih dan sisa-sisa tenaga yang dipaksakan, melangkah menuju kamar mandi lantai bawah yang terletak di dekat area dapur.

Ia membawa sebuah ember, sikat, dan cairan pembersih.

Kenapa larut malam begini Nadia baru sempat membersihkan kamar mandi? Jawabannya sederhana, pekerjaannya hari ini terlalu menumpuk. Dari pagi ia harus kuliah, siang harinya ia harus membantu bibi di dapur menyiapkan makan malam besar karena ada kolega Tuan rumah yang datang, dan baru malam inilah dia punya waktu luang untuk menyelesaikan tugas terakhirnya.

Nadia berlutut di lantai kamar mandi yang dingin, mulai menyikat dinding keramik dengan gerakan berirama. Suara gesekan sikat dan gemercik air menjadi satu-satunya bunyi yang memecah keheningan malam itu. Kepalanya terasa sedikit pening karena kelelahan, namun ia tetap memaksakan diri agar besok pagi tidak ada omelan lagi dari Nyonya Sarah.

Tiba-tiba, dari arah luar, terdengar suara dentuman keras pintu utama yang dibuka secara kasar.

Brak!

Nadia tersentak, gerakannya menyikat lantai langsung terhenti. Ia menajamkan pendengarannya. Terdengar langkah kaki yang berat, tidak beraturan, dan sesekali terdengar suara barang yang tersenggol di ruang tengah. Langkah kaki itu terdengar semakin mendekat ke arah area dapur dan kamar mandi.

Perasaan Nadia mendadak tidak enak. Dengan jantung yang kembali berdegup kencang karena takut, ia berdiri dan berjalan perlahan menuju pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.

Begitu ia melongokkan kepalanya ke luar, sosok jangkung itu berdiri di sana.

Axel.

Pria itu bersandar pada meja konter dapur dengan napas yang tidak teratur. Dasinya sudah melonggar, jas mahal yang tadi pagi disetrika Nadia dengan susah payah kini entah ke mana, dan kemeja putihnya sudah terbuka dua kancing teratas. Dari jarak beberapa meter saja, Nadia bisa mencium bau alkohol yang sangat menyengat menguar dari tubuh pria itu.

Axel pulang dalam keadaan mabuk berat. Rambutnya berantakan, dan tatapan matanya yang biasanya tajam serta dingin, kini tampak sayu, liar, dan dipenuhi oleh kabut kemarahan yang tak terbendung.

Mata Axel yang memerah perlahan bergeser, menangkap siluet Nadia yang berdiri di ambang pintu kamar mandi yang remang-remang.

 ***

Bab. 2. Tuduhan kejam

Nadia membeku saat sepasang mata elang Axel yang memerah mengunci tatapannya. Sebelum gadis itu sempat melangkah mundur untuk mengunci diri di kamar mandi, Axel sudah bergerak cepat dengan langkah sempoyongan namun agresif.

Cshhh!

Tangan kekar Axel mencengkram pergelangan tangan Nadia dengan teramat erat, menariknya keluar dari ambang pintu kamar mandi. Bau alkohol dan amarah bercampur menjadi satu, mengintimidasi seluruh kesadaran Nadia.

"T-Tuan Axel... lepaskan... sakit," bisik Nadia ketakutan, mencoba menarik tangannya yang terasa seperti dijepit besi raksasa. Tubuhnya yang kurus karena kurang istirahat sama sekali bukan tandingan kekuatan Axel yang sedang kehilangan akal sehat.

Axel tidak bersuara. Dengan napas memburu dan rahang yang mengeras, ia justru membalikkan badan dan mulai menyeret tubuh kurus Nadia dengan kasar. Langkah kakinya yang lebar memaksa Nadia setengah terseret di atas lantai dingin, menuju tangga dan koridor arah kamarnya.

"Tuan, saya mohon... Nyonya Sarah bisa bangun... Tolong lepaskan saya, Tuan!" Nadia menangis tanpa suara, berusaha menahan berat badannya agar tidak terseret, namun ia justru terhuyung dan hampir jatuh. Ketakutannya memuncak saat menyadari ke mana Axel akan membawanya.

Pintu kamar mewah itu dibuka kasar dengan satu tendangan, dan tubuh Nadia dihempaskan ke dalam keheningan kamar yang gelap.

Klik.

Suara anak kunci yang berputar di dalam slotnya bagaikan vonis mati bagi kebebasan Nadia. Kamar luas milik Axel itu gelap gulita, hanya diterangi sekelibat cahaya bulan yang menerobos masuk dari sela-sela gorden balkoni yang terbuka sedikit.

Nadia mundur teratur hingga punggungnya membentur pintu kayu yang kokoh. Napasnya tersengal-sengal, air matanya kini luruh membasahi pipi. Di depannya, dalam keremangan, siluet tubuh tinggi Axel berdiri tegak, menghalangi satu-satunya jalan keluar.

"Tuan Axel... saya mohon, sadar, Tuan..." suara Nadia bergetar hebat, nyaris tidak keluar karena rasa takut yang mencekik tenggorokannya. "Ini saya, Nadia..."

Axel tidak menyahut. Pria itu melempar kacamatanya ke sembarang arah hingga terdengar bunyi kelontang di atas lantai marmer. Ia melangkah maju, langkahnya berat namun pasti, mengikis jarak di antara mereka. Aroma alkohol yang pekat kini bercampur dengan aura intimidasi yang pekat. Axel sedang tidak berada di dunia nyata, jiwanya dikuasai oleh rasa frustasi dan kemarahan entah karena apa yang terjadi di luar sana malam ini.

"Nadia...?" gumam Axel rendah, suaranya serak dan berat. Namun, tatapan matanya yang sayu dan merah sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia mengenali gadis di depannya sebagai manusia. Di matanya yang dipenuhi kabut alkohol, Nadia hanyalah pelampiasan dari rasa sesak yang membakar dadanya.

"Jangan, Tuan! Tolong..."

Nadia mencoba merangsek ke samping, hendak menggapai knop pintu, namun gerakan Axel jauh lebih cepat. Kedua tangan kekar pria itu mencengkeram bahu sempit Nadia, mengunci tubuh kurus itu di antara pintu dan dadanya yang bidang.

"Dendam... semua orang menuntutku..." Axel meracau tidak jelas, napasnya yang panas memburu di pucuk kepala Nadia. Rahangnya mengeras.

Nadia memukul-mukul dada Axel dengan sisa tenaga yang ia miliki. "Lepas, Tuan! Ini salah! Tolong lepaskan saya!" Nadia menjerit tertahan, ia tidak berani berteriak terlalu kencang karena ketakutan setengah mati jika Nyonya Sarah atau Tuan Pramoedya terbangun dan melihat posisi mereka seperti ini. Dilema itu justru menyiksa batinnya sendiri.

Pemberontakan Nadia justru membuat amarah Axel yang terpendam semakin tersulut. Menganggap penolakan itu sebagai tantangan, Axel mencengkeram kedua pergelangan tangan Nadia dengan satu tangan kekarnya, mengangkatnya ke atas kepala Nadia, dan menekannya kuat-kuat ke pintu.

"Diam!" bentak Axel rendah, sebuah perintah yang mutlak dan tak terbantahkan.

Kreeek!

Sentakan kasar itu membuat kerah kemeja lusuh yang dipakai Nadia robek di bagian atas. Sentuhan kulit yang dingin beradu dengan hawa panas tubuh Axel seketika meruntuhkan seluruh pertahanan dan akal sehat sang tuan muda. Nadia memejamkan matanya rapat-rapat, menangis sejadi-jadinya saat tubuhnya yang tak berdaya diangkat dan dihempaskan ke atas ranjang king-size yang empuk namun terasa seperti bara api bagi Nadia.

Malam itu, di dalam kamar yang terkunci rapat, jeritan pilu Nadia tenggelam oleh keegoisan dan kekejaman seorang Axel yang mabuk. Noda itu telah tertoreh, merenggut paksa kesucian dan masa depan seorang gadis tak bersalah yang hanya ingin menyambung hidup.

**

Keesokan Harinya... Pukul 06.00 Pagi.

Cahaya matahari pagi mulai mengintip dari balik gorden, menerangi kekacauan di dalam kamar mewah tersebut. Pakaian yang robek berserakan di lantai, selimut yang berantakan, dan sebuah tragedi yang telah usai.

Axel melenguh, memegangi kepalanya yang terasa pening luar biasa akibat efek hangover. Perlahan, ia membuka matanya dan mengedarkan pandangan ke sekeliling ranjang. Begitu kesadarannya terkumpul sepenuhnya, jantung Axel seakan berhenti berdetak.

Di sudut ranjang, meringkuk sebuah tubuh kurus yang bergetar. Nadia sedang memeluk lututnya sendiri, menyembunyikan wajahnya yang sembab dan pucat di sana. Pakaiannya koyak, rambutnya berantakan, dan ada jejak air mata yang mengering di pipinya.

Axel terpaku, melihat noda merah yang kontras di atas seprai putih bersih miliknya. Ingatan samar-samar tentang malam tadi mulai berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

"Kau..." suara Axel tercekat di tenggorokan.

Sebelum Axel sempat mengucapkan sepatah kata pun atau menyentuhnya, terdengar suara ketukan keras dari luar pintu kamar, diikuti oleh suara melengking yang sangat familiar.

Tok! Tok! Tok!

"Axel! Kamu sudah bangun? Kenapa jam segini jas dan kemejamu belum dipindahkan ke kamarmu? Nadia! Di mana anak sialan itu, kenapa belum membuatkan kopi?" Suara Nyonya Sarah terdengar melengking dari balik pintu, bersiap memutar knop kamar putranya.

Nadia tersentak hebat mendengar suara itu, matanya membelalak penuh ketakutan yang luar biasa, menatap Axel dengan pandangan memohon sekaligus hancur.

**

Mendengar suara langkah kaki Nyonya Sarah yang semakin mendekat di luar pintu, atmosfer di dalam kamar berubah menjadi mencekam. Axel, yang awalnya sempat terpaku melihat noda merah di seprai dan kondisi Nadia yang hancur, tiba-tiba dikuasai oleh rasa panik dan harga diri yang terusik. Rasa bersalah di dalam dirinya seketika bermutasi menjadi pembelaan diri yang agresif.

Axel turun dari ranjang dengan kasar. Ia menyambar sehelai jubah mandi, memakainya dengan tergesa-gesa, lalu berbalik menatap Nadia yang masih meringkuk ketakutan. Tatapan mata Axel yang sempat melembut kini kembali mengeras, dipenuhi kilat amarah dan penghinaan.

"Kenapa kau diam saja?" desis Axel rendah namun tajam, menghampiri sisi ranjang tempat Nadia berada.

Nadia mendongak pelan, menatap Axel dengan mata yang bengkak dan tatapan kosong yang hancur.

"Kau..." Axel menunjuk wajah Nadia dengan jarinya yang gemetar karena amarah. "Kenapa malam tadi kau tidak menolak? Kenapa kau hanya pasrah, hah? Kau punya mulut untuk berteriak, kau punya tangan untuk mencakar! Tapi kau membiarkanku!"

Air mata Nadia kembali menetes mendengar rentetan tuduhan itu. Tenggorokannya tercekat. Ia ingin berteriak bahwa ia sudah memohon, sudah memukul dadanya, dan sudah menangis semalaman. Namun, ketakutannya akan Nyonya Sarah yang bisa terbangun malam tadi justru berbalik menjadi senjata yang menyerang dirinya sendiri pagi ini.

"Tuan... saya... saya sudah memohon..." bisik Nadia dengan suara yang serak dan habis.

"Memohon? Atau kau sengaja membiarkanku karena tahu aku sedang mabuk?" potong Axel kejam. Ia mencengkeram rahang Nadia, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam matanya yang dipenuhi prasangka buruk.

"Kau memanfaatkan keadaan, hah? Kau sengaja menjebakku!" tuduh Axel, suaranya bergetar menahan luapan emosi. "Kau sengaja mengambil jalan pintas untuk menjadi nona muda di rumah ini dengan cara naik ke atas ranjangku! Kau pikir dengan menyerahkan tubuhmu, kau bisa mengubah nasibmu yang miskin itu?"

Plak!

Nadia tidak menampar Axel, melainkan kata-kata Axel-lah yang rasanya menampar batin Nadia hingga hancur berkeping-keping. Rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan hancurnya harga diri Nadia saat dituduh sebagai wanita murahan yang sengaja menjual diri demi harta.

"Bukan... bukan seperti itu, Tuan Axel..." tangis Nadia pecah, tubuhnya berguncang hebat di balik selimut yang ia dekap erat. "Saya tidak pernah berpikir seperti itu..."

"Cukup!" Axel menghempaskan rahang Nadia dengan kasar hingga wajah gadis itu terbuang ke samping. "Pakai pakaianmu dan keluar lewat pintu belakang balkon sekarang juga sebelum mamaku melihatmu di sini! Jangan harap kau bisa memeras keluargaku setelah malam ini!"

Tok! Tok! Tok!

"Axel! Kenapa pintunya dikunci? Kamu di dalam, kan?" Suara Nyonya Sarah kembali menggedor pintu, kali ini terdengar bunyi kunci cadangan yang mulai dimasukkan ke dalam lubangnya dari luar.

****

Bab. 3. Tuduhan Yang Sama Kejamnya

Klek.

Suara kunci cadangan yang diputar oleh Nyonya Sarah dari luar membuat jantung Nadia serasa copot. Dengan sisa-sisa tenaga dan air mata yang terus mengalir, Nadia menyambar pakaian lusuhnya yang robek. Tanpa memperdulikan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya, ia membuka pintu kaca balkon kamar Axel, lalu menyelinap keluar tepat saat pintu utama kamar itu terbuka lebar.

Nadia melompati pembatas balkon lantai dua yang untungnya terhubung dengan tangga besi darurat menuju area cuci belakang. Namun, malang tak dapat ditolak. Saat kakinya yang gemetar menapak anak tangga terakhir, keseimbangannya goyah.

Krak!

"Ahg..." Nadia memekik tertahan, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar suaranya tidak lolos. Pergelangan kaki kanannya tertekuk parah. Rasa nyeri yang luar biasa menjalar seketika. Kakinya keseleo.

Dengan kondisi fisik yang hancur, pakaian berantakan yang ditutupi jaket seadanya, serta kaki yang cedera, Nadia terpaksa berjalan dengan terseok-seok, menyeret langkahnya menuju kamarnya sendiri di dekat area belakang. Langkahnya pincang, menyisakan rasa perih di setiap seretan kakinya. Kondisi psikisnya jauh lebih mengenaskan. Ia merasa kotor, terhina, dan jiwanya seolah direnggut paksa dari tubuhnya.

Namun, di rumah sebesar itu, Nadia tidak sendirian. Keluarga Pramoedya memiliki asisten rumah tangga lain, yaitu Bi Sumi, yang tugasnya berfokus di area dapur dan sumur belakang.

Pagi itu, Bi Sumi sudah terbangun untuk menjerang air. Pendengarannya yang tajam menangkap suara langkah kaki yang aneh dan berat di koridor belakang.

"Nadia...?" panggil Bi Sumi, muncul dari balik sekat dapur dengan daster batiknya.

Nadia langsung mematung, mencoba menyembunyikan sisi tubuhnya yang kotor dan kakinya yang pincang di balik bayangan pintu. "I-iya, Bi..." jawab Nadia, suaranya parau dan bergetar hebat.

Bi Sumi mengernyitkan dahi, melangkah mendekat karena melihat gelagat Nadia yang sangat mencurigakan. "Kamu kenapa jalannya menyeret begitu? Ya Tuhan... wajahmu pucat sekali, Nad! Kamu sakit? Terus itu... kenapa jaketmu dikancing sampai atas begitu, gerah loh ini."

Nadia semakin panik, ia meremas ujung jaketnya untuk menutupi kerah kemejanya yang robek di dalam. "Eng-enggak apa-apa, Bi. Tadi... Nadia kepleset di tangga waktu mau ambil jemuran yang tertinggal semalam. Kaki Nadia keseleo, agak susah jalan," bohong Nadia, matanya bergerak gelisah, tidak berani menatap mata Bi Sumi.

Bi Sumi menatap Nadia dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan menyelidik. Sebagai wanita yang lebih tua, dia merasa ada yang tidak beres dengan tatapan mata Nadia yang kosong dan ketakutan, seolah baru saja melihat hantu.

"Beneran cuma kepleset? Tapi kok sampai gemetaran begitu tubuhmu? Nad, kamu nggak apa-apa, toh?" tanya Bi Sumi lagi, melangkah satu kali lagi ke depan, berniat menyentuh dahi Nadia.

"Nadia beneran nggak apa-apa, Bi! Nadia... Nadia mau ke kamar mandi dulu, mau kompres kaki," potong Nadia setengah histeris karena takut rahasianya terbongkar, lalu dengan cepat ia memaksa kakinya yang pincang dan tersorot nyeri untuk melangkah cepat masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Bi Sumi yang berdiri termangu di koridor dengan sejuta rasa curiga.

Bi Sumi menggeleng-gelengkan kepalanya. Sambil berjalan kembali ke dapur, matanya tiba-tiba menangkap sesuatu di atas lantai ubin yang tadi dilewati Nadia. Ada noda setitik darah kering yang terjatuh dari robekan kain, serta kancing kemeja kecil berwarna putih yang tergeletak di dekat tangga darurat.

Bi Sumi memungut kancing itu, dahinya berkerut dalam. ‘Ini... bukan kancing baju Nadia. Ini seperti kancing kemeja mahal…’

**

Sementara itu, di lantai dua, pintu kamar tidur Axel akhirnya terbuka sempurna. Nyonya Sarah melangkah masuk dengan anggun, namun ekspresi wajahnya langsung berubah drastis begitu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.

Kamar yang biasanya rapi itu kini bak kapal pecah. Kacamata Axel tergeletak di lantai marmer, dasinya tercampak di dekat sofa, dan aroma alkohol serta parfum maskulin yang pekat masih tertinggal di udara, menyesakkan dada.

"Astaga, Axel! Kenapa kamarmu berantakan sekali seperti gudang?" omel Nyonya Sarah sambil berkacak pinggang. Matanya yang tajam menatap sang putra tunggal yang kini berdiri membelakanginya di dekat balkon, masih mengenakan jubah mandi dengan sisa-sisa wajah pening.

Axel memijat pelipisnya, berusaha bersikap setenang mungkin meski jantungnya berdegup kencang. "Aku mabuk semalam, Ma. Pusing. Jangan mengomel dulu pagi-pagi begini," sahut Axel dingin, mencoba mengalihkan perhatian ibunya agar tidak melangkah lebih jauh ke dalam kamar.

Namun, naluri seorang Nyonya Sarah yang perfeksionis tidak bisa dibendung. Langkah kakinya justru mendekat ke arah ranjang king-size, berniat untuk merapikan selimut yang bergulung tidak beraturan.

"Kamu ini sudah besar, Axel! Sebentar lagi mau pegang perusahaan Papa, jangan keseringan mabuk-mabukan…."

Kalimat Nyonya Sarah terputus di udara. Tangan kanannya yang baru saja hendak menarik selimut tiba-tiba membeku. Matanya membelalak sempurna, menatap sprei putih sutra yang kini tampak kusut masai. Di atas kain putih bersih itu, terdapat sebuah noda merah muda yang sudah mengering.

Noda darah.

Bukan hanya itu, pandangan Nyonya Sarah yang jeli menangkap sepotong robekan kain katun murahan berwarna biru pudar yang terselip di bawah bantal. Jenis kain yang sangat ia kenali karena ia sendiri yang membelikan lusinan pakaian murah itu untuk... Nadia.

Napas Nyonya Sarah tercekat. Wajahnya yang dilapisi riasan tebal seketika menegang, dipenuhi rasa terkejut sekaligus murka yang luar biasa.

"Axel..." Suara Nyonya Sarah mendadak merendah, namun sarat akan intimidasi yang mematikan. Ia berbalik, menatap putranya dengan pandangan menghunus. "Noda apa ini di atas sepreimu? Dan... kain siapa ini?!"

Axel menoleh, dan sedetik kemudian wajahnya memucat melihat potongan kain kemeja Nadia yang tertinggal di atas ranjangnya. Sial, dia melewatkan detail itu karena panik menyuruh Nadia kabur tadi.

"Itu... bukan apa-apa, Ma. Mungkin aku terluka semalam saat mabuk, aku tidak ingat," bohong Axel, suaranya terdengar agak gugup walau ia mencoba mempertahankan rahang tegasnya.

"Jangan bohongi Mama, Axel!" bentak Nyonya Sarah, amarahnya meledak. Ia melempar potongan kain itu ke dada Axel. "Mama tahu ini kain baju siapa! Ini kain baju si anak pungut sialan itu, kan? Nadia semalam masuk ke kamarmu?"

Pikiran Nyonya Sarah langsung berputar cepat. Sebagai wanita yang licik, ia tidak memikirkan bahwa putranyalah yang bersalah. Otaknya langsung menyimpulkan skenario terburuk, Nadia, gadis miskin yang menumpang di rumahnya, telah sengaja merayu Axel yang sedang mabuk demi menaikkan derajat sosialnya.

"Gadis tidak tahu diri..." desis Nyonya Sarah, kedua tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih. "Dia sengaja menjebakmu, Axel! Dia ingin menjadi nyonya di rumah ini dengan cara menjijikkan seperti ini!"

"Ma, sudah, jangan dibahas…."

"Tidak bisa!" potong Nyonya Sarah dengan mata menyalang merah karena murka. "Mama tidak akan membiarkan anak pungut itu merusak masa depanmu dan rencana pernikahan besar kita! Berani-beraninya dia menaruh noda di keluarga Pramoedya!"

Tanpa memedulikan Axel lagi, Nyonya Sarah berbalik dengan langkah menghentak kasar. Ia berjalan cepat keluar kamar, menuruni anak tangga dengan urat-urat leher yang menegang. Tujuannya hanya satu, paviliun belakang, tempat kamar Nadia berada. Dia akan memberi pelajaran yang tidak akan pernah dilupakan oleh anak pembantu yang dituduhnya sebagai wanita penggoda itu.

**

Sebelum badai murka Nyonya Sarah menghantam paviliun belakang, mari kita mundurkan waktu sejenak. Siapa sebenarnya Nadia? Mengapa dia bisa berada di rumah megah keluarga Pramoedya dengan status yang begitu mengambang?

Nadia bukanlah anak yang diadopsi dengan penuh kasih sayang. Statusnya di rumah itu lebih tepat disebut sebagai utang budi yang mengikat leher.

Dua belas tahun yang lalu, ibu kandung Nadia adalah seorang janda miskin yang bekerja sebagai asisten rumah tangga setia di rumah keluarga Pramoedya. Saat itu, Nadia masih kecil, seorang anak perempuan kurus yang sering duduk di sudut dapur sambil memandangi Axel kecil yang hidup bergelimang kemewahan.

Nyonya Sarah sejak dulu memperlakukan ibunya Nadia dengan keras, namun beliau tetap bertahan demi membiayai sekolah Nadia. Hingga sebuah tragedi besar terjadi.

Suatu malam, kebakaran hebat melanda area dapur dan paviliun belakang akibat kebocoran gas. Di tengah kobaran api yang membumbung tinggi, Ibu Rahma, ibunya Nadia melihat Axel kecil yang saat itu berusia sepuluh tahun terjebak di dalam ruang keluarga yang terkepung asap pekat. Tanpa memikirkan nyawanya sendiri, Ibu Rahma menerobos api, memeluk Axel, dan membawanya keluar hingga anak tunggal kaya raya itu selamat tanpa luka berarti.

Namun, harga yang harus dibayar terlalu mahal. Ibu Rahma menderita luka bakar yang teramat parah di sekujur tubuhnya. Di ambang sakaratul maut di rumah sakit, dengan sisa-sisa napas terakhirnya, Ibu Rahma menggenggam tangan Nyonya Sarah dan Tuan Pramoedya. Ia menangis, memohon satu hal, "Nyonya... Tuan... Saya mohon... Tolong jagalah Nadia... Dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini... Tolong jangan telantarkan anak saya..."

Disaksikan oleh para dokter dan demi menjaga nama baik keluarga sebagai orang yang 'tahu balas budi', Tuan Pramoedya akhirnya menyanggupi permintaan itu. Nadia yang yatim piatu pun resmi dibawa ke rumah besar tersebut.

Namun, "dipungut" karena utang nyawa ternyata tidak membuat hidup Nadia seindah dongeng Cinderella.

Begitu Nadia menginjak usia remaja, Nyonya Sarah mulai menunjukkan sifat aslinya. Rasa bersalah dan utang budi itu lama-lama berubah menjadi rasa risih. Nyonya Sarah enggan menganggap Nadia sebagai anak angkat resmi di mata hukum atau memperkenalkannya ke kehidupan sosial sebagai bagian dari keluarga Pramoedya. Bagi Sarah, darah Nadia tetaplah darah seorang pembantu.

"Kami sudah berbaik hati memberikanmu atap untuk berteduh dan membiayai sekolahmu, Nadia. Jadi, sudah kewajibanmu untuk membalasnya dengan bekerja di rumah ini," Begitulah kalimat yang selalu ditanamkan Nyonya Sarah ke kepala Nadia sejak remaja.

Alhasil, Nadia tumbuh menjadi gadis yang serba salah. Di satu sisi, Tuan Pramoedya sesekali membiayai sebagian uang kuliahnya di kampus negeri karena mengingat jasa ibunya. Namun di sisi lain, di dalam rumah itu, Nadia diperlakukan tak lebih dari seorang pelayan tanpa gaji yang sah. Dia harus mencuci, menyapu, dan membersihkan rumah dari subuh hingga larut malam di sela-sela waktu kuliahnya yang padat.

Nadia bertahan hanya demi satu impian, lulus kuliah, mendapatkan pekerjaan yang layak, mengumpulkan uang, dan keluar dari rumah neraka itu demi membebaskan harga dirinya yang selama bertahun-tahun telah diinjak-injak.

Namun kini, malam jahanam bersama Axel telah menghancurkan seluruh rencana masa depan yang ia bangun dengan susah payah.

**

Kembali ke masa kini...

Langkah kaki Nyonya Sarah yang menghentak kasar di atas lantai keramik koridor belakang seketika membuyarkan lamunan masa lalu. Wajah wanita paruh baya itu merah padam, memegang robekan kain biru milik Nadia dengan tangan yang gemetar karena murka.

Brak!

Pintu kamar Nadia didobrak kasar hingga membentur dinding.

Nadia, yang saat itu sedang duduk di tepi ranjangnya sambil mengompres pergelangan kakinya yang bengkak dan membiru, tersentak hebat. Ia membelalak ketakutan, refleks menarik selimut lusuhnya untuk menutupi tubuhnya yang gemetaran.

"Nadia!!! Dasar anak pelayan tidak tahu diuntung!" teriak Nyonya Sarah melengking, suaranya memenuhi seluruh sudut paviliun belakang.

***

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!