Indonesia
NovelToon NovelToon

Hanya Ibu Untuk Anakmu, Mas!

Alysia 1

Pukul enam pagi.

Seperti biasa, Alysia sudah berdiri di dapur sejak langit masih abu-abu. Aroma sup hangat mengepul di udara, roti sudah dipanggang, kopi hitam tanpa gula tersaji tepat seperti yang disukai Damian.

Tangannya bergerak cepat dan terlatih. Menyiapkan sarapan, mengecek bekal sekolah, memastikan seragam anak sudah rapi, lalu kembali ke meja makan. Dia melangkah menuju ke kamar utama, kamar yang selama enam tahun dia dan Damian huni dalam kesunyian dan dingin. Alysia menyiapkan segala kebutuhan Damian.

Alysia mendorong pintu kayu itu perlahan, nyaris tanpa suara. Di dalam, cahaya matahari pagi yang pucat baru saja merayap masuk melalui celah gorden, menerpa punggung Damian yang masih membelakanginya. Pria itu sudah terbangun, duduk di tepi ranjang dengan kemeja putih yang setengah terpasang, menyisakan kancing atas yang masih terbuka.

"Mas Damian," panggil Alysia pelan.

Suaranya terdengar datar, seolah dia sedang membaca daftar belanjaan alih-alih menyapa suaminya sendiri.

Damian tidak menoleh. Dia hanya berhenti sejenak dari aktivitasnya memasang jam tangan, lalu menghela napas pendek yang terdengar seperti embusan dingin di ruang yang pengap itu.

"Sudah jam enam?" tanyanya tanpa menoleh.

"Iya. Kopi sudah siap di meja. Sarapan juga," jawab Alysia.

Diaa mendekat, meletakkan setumpuk dokumen yang semalam Damian minta disiapkan di atas nakas, tepat di samping ponsel pria itu.

Gerakannya kaku, sengaja menjaga jarak agar tidak ada bagian tubuh mereka yang bersentuhan, walaupun itu tidak sengaja pun tidak. Karena Damian tak menyukainya. Dan Alysia mencoba memahami suaminya selama enam tahun ini.

Damian bangkit berdiri, merapikan kerah kemejanya dengan gerakan yang tegas dan ta-jam. Saat dia berbalik, tatapannya menyapu Alysia sekilas, namun tidak benar-benar melihat sosok wanita itu. Matanya dingin, seperti permukaan danau di musim dingin yang membeku.

"Arkhasa?" tanya Damian singkat.

"Sudah bangun. Sedang bersiap," balas Alysia.

Damian mengangguk sekali, sebuah gestur formal yang biasanya dia berikan pada rekan bisnis, bukan pada istrinya. Dia melangkah melewati Alysia menuju pintu, namun langkahnya terhenti tepat di samping bahu wanita itu. Ruang di antara mereka seolah dipenuhi oleh atmosfer yang hampa. Ada ribuan kata yang tersangkut di tenggorokan, namun tak satu pun yang berani meluncur.

Alysia mematung, menatap pantulan dirinya dan Damian di cermin besar lemari. Di sana, mereka terlihat seperti dua orang asing yang terjebak dalam sandiwara yang sama. Damian tidak mengatakan 'terima kasih' untuk sarapan yang telah disiapkan, dan Alysia tidak bertanya bagaimana tidurnya semalam.

Hanya ada suara detak jam dinding yang terdengar sangat nyaring, mengisi kekosongan yang mereka ciptakan sendiri selama enam tahun ini.

"Jangan lupa tanda tangani surat dari sekolah Arkhasa," tambah Alysia, memecah keheningan yang menyesakkan itu.

"Akan aku lakukan sebelum berangkat," sahut Damian, lalu pria itu melangkah keluar kamar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Alysia sendirian dengan aroma parfum kayu cendananya yang tertinggal, perlahan memudar dimakan udara pagi.

Alysia segera menyusul ke ruang makan. Di sana, Arkhasa sudah duduk di kursi tingginya, kakinya yang kecil menggantung tak sampai ke lantai, sementara tangannya sibuk memutar-mutar sendok.

"Mama! Tadi malam Arkha mimpi dikejar robot raksasa, tapi robotnya pakai dasi kayak Papa!" celoteh Arkhasa dengan mata berbinar, mengabaikan roti panggang yang sudah diolesi selai di depannya.

Damian, yang duduk di ujung meja, sedang menatap tablet di tangannya dengan alis berkerut. Laporan keuangan perusahaan mungkin sedang menuntut fokusnya sepenuhnya. Namun, mendengar suara nyaring putranya, jari Damian yang sedang menggeser layar terhenti sejenak.

"Robot pakai dasi?" Damian akhirnya bersuara. Suaranya rendah, namun tidak sedingin saat dia bicara dengan Alysia tadi.

Arkhasa mengangguk antusias.

"Iya! Terus robotnya bilang, 'Arkha, jangan lupa kerjakan PR matematika!' Serem banget, kan?"

Damian meletakkan tabletnya di atas meja dengan bunyi klik yang pelan. Dia menatap putranya, dan untuk pertama kalinya pagi ini, ketegangan di bahunya tampak sedikit mengendur. Sebuah tipis garis di sudut bibir Damian tertarik ke atas, bukan senyum yang lebar, hanya sebuah pengakuan akan kekonyolan cerita anaknya.

"Kalau robot itu pakai dasi, berarti dia robot yang disiplin. Kamu harus dengarkan dia kalau tidak mau disuruh lembur," sahut Damian singkat.

Arkhasa tertawa kecil, suara ceria yang kontras dengan suasana rumah yang biasanya bisu.

"Aku lebih suka robot yang jago main bola, Pa."

Alysia yang sedang menuangkan susu ke gelas Arkhasa berhenti bergerak. Dia berdiri di sisi meja, menyaksikan interaksi singkat itu dengan perasaan yang sulit diartikan. Di mata Damian, Arkhasa adalah satu-satunya celah di mana dinding es pria itu bisa mencair. Alysia adalah pelayan rutinitas, sementara Arkhasa adalah satu-satunya warna di rumah ini.

Damian kembali meraih tabletnya, namun kali ini dia tidak langsung kembali larut dalam angka-angka. Dia sempat melirik Alysia yang berdiri tak jauh dari mereka. Tidak ada kata, hanya tatapan sekilas yang kembali datar, seolah dia baru saja tersadar bahwa dia telah membiarkan dirinya terlalu lama terbuka.

"Habiskan sarapanmu, Arkha," perintah Damian, kini suaranya kembali ke mode formal. Alysia menunduk, merapikan letak kursi Arkhasa.

"Ayo dimakan, sayang. Nanti terlambat sekolah."

"Iya Mama, masakan Mama memang selalu yang terbaik! Apalagi bekal Mama! Aku selalu suka, karena teman-teman aku suka iri!"

Alysia hanya menjawab dengan senyuman sambil mengusap kepala Arkhasa. Di bawah meja, Alysia bisa merasakan kakinya sedikit ge-me-tar.

Kehangatan yang baru saja tercipta karena tawa Arkhasa terasa begitu rapuh, seolah bisa hancur kapan saja oleh satu hembusan napas Damian yang dingin. Damian hanya melihat hal itu dengan ujung matanya. Tak ada pembicaraan lebih antara mereka.

Sarapan berakhir dengan denting alat makan yang beradu dengan piring porselen, satu-satunya suara yang mengisi ruang makan hingga Damian berdiri. Pria itu menyambar tas kerja dari kursi di sebelahnya.

Alysia dengan sigap mengikuti di belakangnya menuju pintu depan, membawa serta sisa tanggung jawabnya sebagai istri. Dia berdiri di ambang pintu, menundukkan kepala sedikit. Sebuah ritual pagi yang selalu diaa lakukan meski tahu hasilnya akan selalu sama. Dengan napas yang tertahan, Alysia menyodorkan punggung tangannya ke hadapan Damian, sebuah upaya untuk meraih sedikit saja pengakuan akan keberadaannya.

Namun, tepat saat tangan Alysia terulur, Damian justru berpaling dengan tajam. Pria itu tiba-tiba sibuk membetulkan letak jam tangannya, lalu beralih merogoh saku jasnya seolah mencari kunci mobil yang sebenarnya sudah dia genggam. Dia bergerak menjauh satu langkah, membuat tangan Alysia yang terkatung di udara hanya menyentuh ruang kosong yang dingin.

Alysia merasakan jemarinya gemetar hebat. Dia menarik tangannya kembali ke sisi tubuh dengan gerakan yang sangat lambat, seolah tangannya itu terasa begitu berat dan tidak berguna.

Rasa sakit itu tidak lagi terasa tajam, melainkan tumpul, sebuah hantaman rutin yang sudah terlalu sering dia terima hingga ia hafal setiap detailnya.

"Arkha, jangan lari-lari saat turun dari mobil," ujar Damian, suaranya yang tegas memecah keheningan, diarahkan sepenuhnya kepada putranya yang sedang memakai sepatu, seolah Alysia tidak sedang berdiri di sana dengan hati yang sedikit retak.

"Siap, Papa!" seru Arkhasa ceria, tidak menyadari ketegangan yang baru saja terjadi di balik punggungnya.

Damian kemudian melangkah melewati Alysia tanpa meliriknya sedikit pun. Bau parfum cendana yang maskulin itu menyapu wajah Alysia saat pria itu lewat, meninggalkan sisa jejak yang menyesakkan.

Alysia berdiri mematung di dekat pintu, menatap bayang-bayang mobil Damian yang perlahan menjauh dari halaman. Dia memeluk lengannya sendiri yang terasa dingin, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tidak beraturan.

Di rumah yang besar dan mewah ini, keheningan kembali merayap masuk, menyelimuti Alysia seperti selimut yang berat, mengingatkannya bahwa dia hanyalah pajangan yang berfungsi dengan baik, tetapi tidak pernah benar-benar disentuh.

"Mama? Ayo, nanti Arkha telat!" panggil suara kecil itu dari balik pintu mobil.

Alysia menarik napas dalam, memulas wajahnya dengan topeng ketenangan yang sempurna, lalu berbalik dengan senyum yang dipaksakan.

"Iya, Sayang. Mama datang."

Alysia 2

Alysia melangkah cepat menuju mobil, langkah kakinya yang tenang di atas paving block halaman menutupi badai yang sedang berkecamuk di dalam dadanya. Begitu pintu mobil tertutup, aroma parfum yang tertinggal di kursi belakang. Sisa dari keberadaan Damian beberapa detik lalu menyambutnya. Alysia memejamkan mata sejenak, menghirup napas dalam untuk menstabilkan detak jantungnya yang masih terasa bergemuruh.

"Mama, nanti di sekolah ada sesi 'Show and Tell'. Aku mau cerita soal robot dasi itu!" Arkhasa berceloteh riang, kakinya mengayun-ayun di kursi belakang.

Alysia menoleh, menatap wajah polos itu melalui kaca spion tengah. Tatapannya melembut, menyentuh binar mata yang merupakan satu-satunya alasan dia bertahan di rumah ini.

Arkhasa, bayi yang dulu dia temukan di ranjang bayi dengan tangis yang memilukan, kini telah tumbuh menjadi anak yang penuh warna. Alysia tidak pernah melupakan hari itu, hari di mana dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa anak ini tidak akan pernah merasakan dinginnya tembok rumah ini seperti yang dia rasakan.

"Tentu saja, Sayang. Itu ide yang hebat," jawab Alysia lembut, suaranya kini kembali stabil dan hangat.

"Tapi ingat, cerita yang bagus harus punya pesan moral. Apa pesan moral tentang robot dasi itu?"

Arkhasa mengerutkan kening, berpikir keras sampai ujung hidungnya berkerut lucu.

"Hmm... harus disiplin biar tidak disuruh lembur?"

Alysia tertawa kecil, suara tawa yang jujur dan tulus.

"Pintar. Tapi ingat juga, robot yang baik harus punya waktu untuk bermain bola, kan?"

"Betul sekali!" Arkhasa tertawa lebar.

Sepanjang perjalanan menuju sekolah, suasana di dalam mobil terasa kontras dengan kediaman mereka. Alysia mendengarkan setiap celoteh Arkhasa, menanggapi dengan antusias seolah dia tidak baru saja mengalami penolakan yang paling menyakitkan di pagi hari. Namun, jauh di lubuk hatinya, Alysia tahu bahwa perannya hari ini baru saja dimulai.

Setelah menurunkan Arkhasa di depan gerbang sekolah, Alysia tidak langsung pulang. Dia memarkir mobil di sudut yang tenang, menatap gedung sekolah yang megah itu untuk beberapa saat. Jemarinya masih sedikit gemetar saat menyentuh setir. Dia teringat kembali pada gerakan Damian yang menghindar tadi. Seolah tangannya adalah sesuatu yang bisa menularkan kotoran atau wabah.

Enam tahun, batinnya. Berapa banyak lagi kancing yang harus kupasang, berapa banyak lagi kopi yang harus kusajikan sebelum dia benar-benar melihatku sebagai manusia? Sebagai seorang istri? Padahal Damian datang padanya dengan cara yang baik-baik menikahinya. Saat itu dia bekerja sebagai salah satu staff magang di perusahaan Damian.

Ponsel di sampingnya ber-ge-tar. Sebuah notifikasi masuk. Itu adalah email dari sekolah Arkhasa mengenai kegiatan "Family Day" yang akan diadakan minggu depan. Alysia membukanya, lalu matanya terpaku pada satu poin. Kehadiran kedua orang tua sangat diharapkan untuk mendukung partisipasi siswa.

Alysia mematikan layar ponselnya. Dia tahu apa yang harus dia lakukan. Dia tidak bisa membiarkan Arkhasa kecewa lagi seperti tahun lalu, di mana Damian hanya menitipkan pesan melalui asisten pribadinya bahwa dia ada rapat penting di luar kota.

Alysia menarik napas panjang, menatap pantulan dirinya di cermin mobil. Dia menghapus sisa embun di sudut matanya, memulas kembali lipstik berwarna lembut, dan menegakkan bahunya.

"Hari ini, Alysia," bisiknya pada diri sendiri.

"Hari ini, kamu akan melakukan sesuatu yang berbeda."

Dia akan menanyakan tentang Family Day itu malam nanti, bukan sebagai istri yang meminta belas kasihan, melainkan sebagai seorang ibu yang menuntut komitmen bagi kebahagiaan anaknya. Meskipun dia tahu risikonya adalah tatapan dingin yang akan kembali menghujamnya, Alysia tidak peduli. Untuk Arkhasa, dia rela menjadi tameng yang lebih kuat lagi.

Mobil pun melaju meninggalkan sekolah, membawa Alysia kembali ke rumah besar yang kini terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Namun, ada tekad baru yang menyala di matanya. Tekad yang mungkin, hanya mungkin, akan mengubah sedikit saja dinamika di antara mereka berdua.

Suara denting bel pintu kafe setiap kali ada pelanggan masuk menjadi musik latar yang kontras dengan keheningan rumah Damian. Alysia duduk di sudut yang tenang, memesan secangkir teh camomile yang uapnya perlahan menari di udara. Begitu layar laptopnya terbuka, atmosfer di sekitar Alysia berubah total.

Bukan lagi istri yang kaku dan tertunduk, di balik layar itu, Alysia adalah seorang profesional yang cekatan. Nama samarannya, ‘A.L.S’, sudah dikenal luas di kalangan agensi desain grafis dan konsultan konten digital internasional. Selama enam tahun, setiap kali Damian terkunci dalam dunianya sendiri atau sedang dalam perjalanan bisnis, Alysia menggunakan waktu tersebut untuk mengasah bakatnya. Dan dia baru benar-benar menekuni pekerjaannya ini dua tahun terakhir.

Jari-jemarinya menari dengan ritme yang energik di atas keyboard.

Ping.

Sebuah notifikasi project masuk dari kliennya di London. Mereka memuji hasil revisi logo yang dikirimkan Alysia tadi malam.

"Sangat presisi, minimalis, namun punya karakter yang kuat," tulis klien tersebut.

Alysia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak pernah dia tunjukkan di hadapan Damian.

Di dunia virtual ini, Alysia memiliki kendali. Dia adalah pengambil keputusan, dia dihargai atas opininya, dan dia memiliki suara.

Namun, saat dia sedang memproses file besar, matanya sempat teralih pada folder tersembunyi di desktop-nya. Folder itu berisi rincian tabungan pribadi yang selama bertahun-tahun dia sisihkan dari hasil kerjanya. Angkanya sudah cukup untuk menyewa apartemen kecil dan memulai hidup baru. Sebuah rencana pelarian? Mungkin lebih tepatnya, sebuah rencana cadangan.

Alysia menutup folder itu dengan gerakan cepat saat ponselnya bergetar. Bukan email klien, melainkan pesan singkat dari Damian.

Damian: Pastikan Arkha sudah makan siang. Aku ada pertemuan mendadak di Singapura malam ini.

Tidak pulang.

Pesan itu singkat, dingin, dan otoriter, seperti biasanya. Alysia terdiam, menatap layar ponsel itu selama beberapa detik. Ada rasa lega yang menyelinap. Tidak perlu ada ketegangan makan malam nanti, namun di saat yang sama, ada kesedihan yang sudah menjadi teman setianya.

"Singapura lagi," gumamnya pelan.

Dia kemudian teringat Family Day yang ia baca tadi pagi. Jika Damian tidak pulang malam ini, berarti dia harus mencari celah lain untuk membicarakan acara sekolah itu.

Alysia tidak bisa mengandalkan pesan teks untuk hal sepenting ini. Alysia menutup laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas kulit kecil yang selalu dia bawa. Dia menatap ke luar jendela kafe, memperhatikan jam yang menunjukkan pukul dua siang. Sebentar lagi sekolah Arkhasa usai.

Dia berdiri, merapikan blazer hitam yang dia kenakan, pakaian yang menurut Damian ‘tidak perlu’ untuk seorang ibu rumah tangga, namun bagi Alysia, ini adalah seragam perangnya.

Saat ia berjalan keluar kafe, Alysia merasa dirinya sedang menjalani dua kehidupan yang berjalan secara paralel. Di satu sisi, dia adalah istri yang terasing; di sisi lain, dia adalah wanita mandiri yang sedang membangun jalan keluar.

Dia melangkah menuju mobil, bersiap menjemput Arkhasa. Di jok penumpang, dia sudah menyiapkan buku cerita baru yang Arkhasa inginkan. Dia akan memastikan anak itu tetap bahagia, tidak peduli seberapa dingin dunia yang sedang dibangun ayahnya di sekitar mereka.

Pikiran tentang Family Day masih menghantui. Malam nanti, jika Damian benar-benar tidak pulang, Alysia berencana melakukan satu hal yang selama ini tidak pernah dia berani lakukan. Dia akan menelpon langsung ke kantor Damian, bukan ke ponsel pribadinya, untuk memastikan sang asisten memasukkan jadwal itu ke kalender pria itu.

Alysia 3

Alysia memarkir mobilnya di bahu jalan yang teduh tak jauh dari gerbang sekolah, tepat saat bel pulang berbunyi. Setelah memastikan Arkhasa duduk dengan aman di kursi belakang, dia membiarkan radio memutar lagu anak-anak, memberikan ruang bagi dirinya untuk menarik napas panjang.

Tangan Alysia meraih ponselnya. Jarinya menekan deretan angka kantor Damian yang sudah dia hapal di luar kepala, meskipun tak pernah dia gunakan.

"Halo, dengan kantor Bapak Damian di sini," suara seorang wanita, sekretaris baru Damian, terdengar profesional dan tajam.

Alysia menarik napas dalam, memantapkan suaranya agar terdengar setegas mungkin.

"Ini dari pihak sekolah Arkhasa. Saya ingin mengonfirmasi perihal agenda Family Day minggu depan, karena Bapak Damian sebelumnya diinformasikan sedang berada di Singapura."

Ada jeda sejenak di ujung sana, suara ketikan keyboard terdengar samar.

"Sebentar, Ibu. Saya cek jadwal Bapak untuk minggu depan."

Alysia menggenggam ponselnya erat hingga buku jarinya memutih.

"Bagaimana?" tanyanya, mencoba terdengar seperti pihak sekolah yang sibuk.

"Oh, mohon maaf," suara sekretaris itu terdengar sedikit kikuk.

"Sepertinya terjadi kekeliruan informasi. Bapak tidak ada agenda ke Singapura untuk urusan pekerjaan minggu depan. Jadwal beliau hari ini pun, sebentar, saya lihat catatan terakhir..."

Sekretaris itu terdiam, lalu melanjutkan dengan nada yang sedikit merendah.

"Bapak baru saja meminta izin untuk private leave sore ini. Beliau tadi memberikan instruksi agar saya tidak mengganggu untuk urusan apa pun. Sepertinya beliau sedang menghadiri acara pribadi di The Grand Pavilion."

The Grand Pavilion.

Alysia merasakan dunia di sekitarnya mendadak berhenti berputar. Hotel itu bukan tempat untuk pertemuan bisnis. Itu adalah tempat yang sering menjadi lokasi perjamuan eksklusif, tempat di mana orang-orang dari lingkaran sosial yang sama dengan Damian mengadakan acara-acara pribadi yang sangat privat.

"Ada lagi yang bisa saya bantu, Ibu?" tanya sekretaris itu.

"Kalau begitu tolong di informasikan untuk pekan depan acara dari sekolah Arkhasa kepada Pak Damian. Kami menunggu informasi lebih lanjut, terima kasih," jawab Alysia pelan, lalu memutus sambungan.

Dia mematikan ponselnya, jemarinya terkulai lemas di atas setir. Kebohongan itu terasa seperti tamparan yang lebih keras daripada penolakan fisik mana pun. Damian tidak pergi ke Singapura. Damian tidak sedang rapat. Dia hanya tidak ingin ada di rumah, dan dia lebih memilih tempat lain, entah dengan siapa. Daripada menghabiskan waktu bersama keluarganya sendiri.

"Mama? Kenapa diam saja? Kita mau beli es krim, kan?" suara Arkhasa dari kursi belakang membuyarkan lamunannya.

Alysia memejamkan mata, membiarkan kepedihan itu meresap ke tulang-tulangnya. Enam tahun pernikahan ini, yang bermula dari pernikahan yang dia kira dibangun di atas niat baik, kini terasa seperti sebuah sandiwara yang dia mainkan sendirian.

Dia menatap bayangannya di spion tengah. Matanya yang tadinya penuh dengan tekad kini tampak redup, namun kemudian perlahan mengeras.

"Iya, Sayang. Kita beli es krim," jawab Alysia dengan suara yang masih stabil, seolah tidak ada sesuatu yang hancur di dalam dadanya.

Dia melajukan mobilnya, bukan ke arah rumah, melainkan memutar arah menuju pusat kota. Jika Damian ingin bermain rahasia, maka Alysia tidak akan lagi menjadi istri yang duduk diam menunggu di rumah.

Dia adalah wanita yang mampu membangun dunianya sendiri, dan mungkin, sudah saatnya dia melihat dengan mata kepala sendiri ke mana sebenarnya Damian selama ini melangkah.

Di balik kemudi, Alysia tidak lagi merasa takut. Dia merasa kosong. Dan dalam kekosongan itu, dia menemukan keberanian untuk pertama kalinya sejak dia melangkah masuk ke rumah Damian enam tahun lalu.

Dia akan membawa Arkhasa ke tempat itu, bukan untuk membuat keributan, tapi untuk memberikan jawaban final pada dirinya sendiri. Apakah masih ada ruang bagi mereka di hidup Damian, atau apakah ini saatnya bagi Alysia untuk benar-benar menggunakan tabungan yang dia kumpulkan selama dua tahun terakhir untuk melangkah keluar?

Alysia melajukan mobilnya dengan tenang, namun setiap injakan pedal gas terasa seperti keputusan yang tidak bisa ditarik kembali. Arkhasa, yang duduk di belakang, sudah asyik dengan buku gambarnya, sama sekali tidak menyadari bahwa ibunya sedang membawa mereka menuju sebuah persimpangan hidup.

The Grand Pavilion berdiri megah dengan arsitektur klasik yang dingin dan angkuh. Alysia memarkir mobilnya agak jauh dari lobi utama, di barisan parkir yang tidak terlalu mencolok. Dia tidak turun, hanya memperhatikan pintu masuk hotel tersebut dari balik kaca jendela.

Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut ketahuan, melainkan karena rasa sesak yang luar biasa melihat bagaimana pria yang membagikan hidup dengannya selama enam tahun. Pria yang dia rawat setiap pagi, justru membuang waktu di tempat yang begitu jauh dari kata "keluarga".

Tak sampai sepuluh menit menunggu, sebuah mobil sedan hitam mewah melambat di depan lobi. Damian keluar dari sana. Dia mengenakan setelan jas yang berbeda dari yang ia pakai pagi tadi, yang ini tampak lebih santai namun tetap elegan.

Namun, bukan Damian yang membuat napas Alysia tercekat.

Seorang wanita keluar dari kursi penumpang depan. Anggun, dengan gaun berwarna champagne yang berkilau tertimpa lampu lobi. Wanita itu merangkul lengan Damian dengan sangat alami. Tidak ada jarak, tidak ada dingin, tidak ada kaku.

Damian bahkan menunduk sedikit, membisikkan sesuatu ke telinga wanita itu, yang dibalas dengan tawa renyah yang terdengar sampai ke telinga Alysia atau mungkin, hanya ilusi pendengarannya saja yang menciptakan suara itu.

Mereka melangkah masuk ke dalam hotel, bahu mereka bersentuhan, menciptakan pemandangan yang menghancurkan sisa-sisa harapan Alysia.

"Mama, itu Papa bukan?" suara kecil Arkhasa memecah keheningan di dalam mobil.

Arkhasa telah berpindah posisi, hidungnya menempel di kaca jendela, menatap ke arah yang sama dengan Alysia. Alysia berusaha mati-matian menahan air matanya di depan Arkhasa. Dia tak ingin anaknya melihat kehan-curan ibunya, ibu sambungnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!