Indonesia
NovelToon NovelToon

RESEP RAHASIA MANTAN ISTRI

Bab 1: Keringat, Cinta, dan Rahasia Rasa

​Bab 1: Keringat, Cinta, dan Rahasia Rasa

​Suara gemerincing sudip besi yang beradu dengan wajan besar terdengar bagai musik klasik di telinga Hana. Asap tipis yang membawa aroma gurih dari campuran kemiri sangrai, ketumbar, dan lengkuas menguar hebat, memenuhi dapur utama Rumah Makan "Rasa Hana" Cabang Pertama. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas siang, tiga puluh menit lagi sebelum pintu gerbang restoran dibuka, dan ketegangan di area dapur sudah terasa begitu pekat.

​"Mbak Hana! Sambal bajak untuk Cabang Dua agak keasinan! Kepala koki di sana panik, mereka takut komplain pelanggan seperti bulan lalu!" seru Joko, salah satu pegawai senior, sambil berlari membawa semangkuk kecil sambal berwarna merah menyala.

​Hana tidak panik. Wanita berusia 26 tahun itu tetap tenang. Ia mengambil sendok kecil, mencicipi sedikit sambal di ujung lidahnya, lalu tersenyum tipis. "Ini bukan keasinan karena garam, Jok. Ini karena terasinya terlalu matang saat disangrai, jadi rasa asinnya mengunci lidah. Sini, ambilkan gulan aren cair dan perasan jeruk nipis murni. Kita imbangi rasanya, jangan ditambah air nanti aromanya mati."

​Tangan Hana dengan cekatan menuangkan takaran yang pas tanpa perlu timbangan. Setelah diaduk ulang, ia menyodorkannya kembali ke Joko. "Coba lagi."

​Mata Joko langsung berbinar setelah mencicipinya. "Luar biasa! Mbak Hana memang punya lidah emas. Kalau bukan Mbak Hana yang pegang kendali bumbu inti, tiga cabang kita ini pasti sudah limbung sejak lama."

​Hana tersenyum tulus, meskipun rasa lelah yang teramat sangat mulai menjalar di punggungnya. Lima tahun lalu, "Rasa Hana" hanyalah sebuah warung tenda pinggir jalan yang kerap digusur satpol PP. Hana ingat betul bagaimana jemarinya sampai melepuh karena mengulek berilo-kilo cabai secara manual, sementara Adrian—suaminya yang tampan—berdiri di tepi jalan dengan peluh bercucuran untuk membagikan brosur kertas kepada para pengendara yang lewat. Mereka merintis semuanya dari nol, dari modal nikah yang pas-pasan, hingga kini sukses memiliki tiga cabang megah yang selalu antre di pusat kota. Hana adalah otak, lidah, dan jantung dari bisnis ini.

​"Sayang, kenapa masih di dapur yang panas ini?"

​Sebuah suara berat nan bariton memecah kesibukan. Adrian berjalan masuk ke dapur utama. Penampilannya sangat kontras dengan para pekerja dapur yang bersimbah keringat. Adrian mengenakan kemeja satin hitam melekat pas, mengekspos bentuk tubuh bidangnya yang atletis, lengkap dengan jam tangan mewah yang berkilau di bawah lampu neon. Di usianya yang menginjak 28 tahun, ketampanan Adrian yang matang dan karismatiknya sebagai pemilik restoran sukses selalu berhasil memikat siapapun—termasuk para pelanggan wanita yang kerap mencuri pandang ke arah meja kasir.

​Adrian berjalan mendekati Hana dari belakang. Tanpa peduli pada noda minyak yang menempel di celemek Hana, tangan kokohnya merayap perlahan ke pinggang ramping sang istri, menarik tubuh Hana hingga punggungnya menempel erat pada dada bidang Adrian.

​"Mas, geli... banyak anak-anak," bisik Hana pelan, wajahnya merona merah sembari mencoba melepaskan diri dari dekapan hangat itu.

​Adrian justru terkekeh rendah, suaranya serak di ceruk leher Hana. Ia mengabaikan tatapan segan dari Joko dan beberapa asisten koki yang sengaja memalingkan wajah. Adrian mendekatkan bibirnya ke telinga Hana, mengendus aroma tubuh istrinya yang bercampur dengan wangi bumbu dapur. "Aroma ketumbar dan bawang ini... entah kenapa jika melekat di kulitmu, selalu berhasil membuatku lapar dalam arti yang berbeda, Han," bisik Adrian penuh gairah, jemarinya meremas lembut pinggang Hana, memberikan tekanan intim yang membuat detak jantung Hana berdesir hebat.

​Hana selalu lemah jika Adrian sudah menunjukkan sisi dominan dan penuh gairah seperti ini. Baginya, sentuhan Adrian adalah obat penawar paling mujarab dari segala rasa lelahnya mengurus bisnis harian.

​"Malam ini, kita tidak usah pulang ke rumah cepat-cepat, ya?" bisik Adrian lagi, bibirnya menyapu lembut kulit bahu Hana yang sedikit terekspos karena kerah kaosnya yang melonggar. "Aku sudah meminta sekretarisku untuk mengosongkan jadwalku setelah jam makan malam. Aku ingin kita menghabiskan waktu berdua... di ruang kerja atas."

​Hana hanya bisa mengangguk pasrah dengan wajah memerah, menenggelamkan diri dalam pesona suaminya yang begitu memabukkan. Namun, kebahagiaan dan keintiman yang membara itu seketika meredup ketika sebuah suara langkah kaki yang angkuh terdengar dari arah pintu masuk VIP dapur.

​Seorang wanita paruh baya dengan sanggul rapi, mengenakan perhiasan emas yang mencolok di pergelangan tangan dan lehernya, berjalan masuk dengan wajah berkerut masam. Ibu Broto, ibu mertua Hana.

​"Astaga, Adrian! Hana!" tegur Ibu Broto dengan suara melengking, memecah suasana intim suami-istri itu. "Kalian ini tidak tahu tempat sekali! Ini dapur, tempat kotor, kenapa malah bermesraan seperti orang kelaparan begitu? Lagipula, Hana... Ibu kan sudah bilang berkali-kali, penampilanmu itu dijaga sedikit!"

​Adrian perlahan melepaskan pelukannya dari Hana, sementara Hana langsung membenarkan letak celemeknya dengan gugup. "Ada apa, Ibu? Kok tumben siang-siang ke Cabang Satu?" tanya Adrian dengan nada yang mendadak formal.

​Ibu Broto berjalan mendekati Hana, menatap menantunya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan. "Ibu ke sini mau makan siang bersama teman-teman arisan Ibu. Dan Ibu malu, Hana! Lihat dirimu itu. Rambut cuma dicepol asal-asalan, wajah berminyak, bau bawang, pakai kaos oblong longgar yang sudah pudar warnanya. Kamu itu sekarang istri dari Adrian, pengusaha sukses pemilik tiga cabang rumah makan besar! Kalau teman-teman Ibu melihat menantu Ibu penampilannya seperti pelayan dapur begini, mau ditaruh di mana muka Ibu?!"

​Hana menunduk, meremas ujung celemeknya yang bernoda. Kalimat ketus itu bukan pertama kalinya ia dengar dari mulut Ibu Broto. Sejak "Rasa Hana" mulai sukses dan menghasilkan miliaran rupiah, sikap mertuanya berubah drastis menjadi sangat serakah, cerewet, dan selalu merasa bahwa kesuksesan ini murni karena kehebatan Adrian dalam mengelola bisnis, seolah melupakan bahwa resep dan modal awal adalah milik Hana.

​"Ibu, Hana kan memang harus turun ke dapur untuk memastikan kualitas rasa masakan kita tidak berubah sebelum restoran dibuka..." Hana mencoba menjelaskan dengan suara selembut mungkin, menahan sesak di dadanya.

​"Halah! Alasan saja!" potong Ibu Broto dengan kibasan tangan yang angkuh. "Urusan bumbu mah tinggal suruh pegawai gajihan juga bisa! Kamu itu tugasnya cuma berdandan yang cantik, melayani Adrian di rumah, bukan malah betah mendekam di dapur kotor ini sampai badanmu bau sangit! Adrian, kamu sebagai suami harusnya tegas! Jangan biarkan istrimu mempermalukan nama keluarga kita dengan penampilan kumal seperti ini!"

​Hana menoleh ke arah Adrian, matanya berkaca-kaca, berharap sang suami yang beberapa detik lalu memeluknya dengan penuh gairah dan cinta akan berdiri membelanya di depan sang ibu.

​Namun, Adrian justru mengalihkan pandangannya. Pria itu membetulkan kerah kemeja satin hitamnya, lalu menghela napas panjang. Tatapan matanya yang tadi penuh gairah, kini perlahan berubah menjadi dingin dan dipenuhi rasa risih saat melihat penampilan Hana yang memang tampak kusam di bawah pencahayaan dapur yang terang.

​"Ibu benar, Han," ucap Adrian akhirnya, kalimat yang seketika membuat dada Hana terasa seperti dihantam batu besar. "Kamu... sebaiknya mulai mengurangi waktu di dapur. Benar kata Ibu, penampilanmu belakangan ini agak kurang terawat. Aku... aku juga kadang merasa rikuh jika harus mengajakmu bertemu dengan rekan investor kuliner kalau penampilanmu masih bau asap seperti ini."

​Deg.

​Hana membeku di tempatnya. Kata-kata Adrian barusan terasa jauh lebih menyakitkan daripada seluruh omelan Ibu Broto yang melengking. Pria yang ia temani merintis dari warung tenda kelaparan, pria yang kulitnya pernah melepuh bersamanya demi menghemat biaya pegawai, kini merasa malu melihat penampilan istrinya yang kusam akibat mempertahankan rasa dari bisnis yang membesarkan nama mereka.

​Ibu Broto tersenyum sinis, merasa menang karena anaknya berada di pihaknya. Sementara Adrian hanya menepuk bahu Hana sekilas tanpa kehangatan yang tersisa. "Ya sudah, Ibu tunggu di meja VIP atas ya, Mas ganti baju dulu baru kita makan bersama teman-teman Ibu," ujar Adrian lalu melangkah pergi begitu saja bersama ibunya, meninggalkan Hana sendirian di tengah dapur yang mendadak terasa sangat dingin dan asing.

​Hana berdiri mematung, menatap punggung suaminya yang perlahan menjauh. Di tengah riuh rendah suara persiapan restoran yang akan dibuka dalam sepuluh menit lagi, sebutir air mata Hana jatuh, menetes tepat di atas wadah bumbu rahasia yang baru saja ia selesaikan. Hana tidak pernah tahu, bahwa penolakan kecil atas penampilannya siang ini adalah awal dari keretakan besar yang sengaja dirancang untuk mendepaknya dari rumah dan dari bisnis yang ia bangun dengan seluruh jiwanya.

Bab 2: Skenario di Balik Pintu Kamar

Bab 2: Skenario di Balik Pintu Kamar

​Malam harinya, rumah mewah berlantai dua di kawasan elit itu terasa begitu sunyi. Setelah ketegangan di dapur siang tadi, Adrian benar-benar mengabaikan Hana. Janji untuk menghabiskan waktu berdua di ruang kerja atas menguap begitu saja. Adrian pulang larut dengan alasan harus menemani Ibu Broto dan teman-teman arisannya makan malam lanjutan, lalu langsung mendengkur di sisi ranjang tanpa menyentuh Hana sedikit pun.

​Hana terbangun pukul lima pagi dengan tubuh yang terasa luar biasa lelah. Rasa mual yang aneh mendadak bergejolak di dadanya. Ia bergegas berlari ke kamar mandi, memuntahkan cairan bening ke dalam wastafel. Kepalanya berdenyut nyeri, dan seluruh sendi tubuhnya terasa lemas.

​Apakah aku terlalu kelelahan? pikir Hana sembari membasuh wajahnya yang pucat di cermin. Kulitnya memang terlihat kusam, ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya. Ucapan Adrian siang kemarin kembali terngiang, menyisakan rasa perih yang teramat sangat. 'Apalagi kalau penampilanmu masih bau asap seperti ini.'

​Hana menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran buruk. Ia harus kuat. Hari ini ada audit keuangan bulanan untuk Cabang Dua dan Cabang Tiga. Hana tidak boleh lengah karena dialah yang memegang seluruh sistem arus kas masuk dan keluar.

​Setelah mandi dan memoleskan bedak tipis agar tidak terlihat terlalu layu, Hana turun ke lantai bawah. Di meja makan, Ibu Broto sudah duduk dengan anggun sembari menyesap teh melati. Begitu melihat Hana melangkah turun, wanita paruh baya itu langsung meletakkan cangkirnya dengan dentingan yang sengaja dikeraskan.

​"Bagus ya, jam segini baru turun," sindir Ibu Broto, matanya melirik tajam ke arah Hana. "Suami mau berangkat kerja itu disiapkan sarapannya, Hana. Jangan cuma tahu beres. Kamu itu sekarang sudah jadi istri orang kaya, tapi kelakuan masih seperti anak kost yang malas bangun pagi!"

​Hana menarik napas dalam, mencoba menekan egonya demi kedamaian rumah. "Maaf, Ibu. Tadi Hana agak mual di kamar mandi, jadi agak terlambat turun. Sarapan untuk Mas Adrian sudah Hana siapkan di dapur, tinggal dihangatkan."

​"Mual? Halah, paling cuma alasan karena malas!" ketus Ibu Broto. "Lagipula, hari ini kamu tidak usah ke restoran. Adrian yang akan pergi sendiri membawa berkas keuangan."

​Hana tersentak. "Tapi Ibu, hari ini jadwal audit keuangan bulanan. Selama ini Hana yang selalu memeriksa pembukuan bersama akuntan kita. Mas Adrian kurang paham detail potongan vendor daging di Cabang Tiga."

​Tepat saat itu, Adrian turun dari tangga dengan setelan jas rapi bernuansa abu-abu gelap, terlihat sangat maskulin dan berwibawa. Bau parfum mahalnya langsung memenuhi ruangan. Ia mendengar kalimat terakhir Hana dan langsung menyela dengan nada suara yang datar, dingin, dan tanpa senyuman.

​"Tidak perlu, Han. Kali ini biar aku yang pegang audisinya sendiri," ujar Adrian sembari duduk di kursi utama meja makan. Ia bahkan tidak menatap mata Hana, melainkan sibuk memeriksa ponsel pintarnya.

​"Tapi, Mas—"

​"Hana! Kamu tidak dengar kata suamimu?!" Ibu Broto memotong dengan bentakan melengking. "Adrian itu lulusan manajemen bisnis! Kamu itu cuma pintar masak di dapur, jangan sok tahu soal audit dan angka besar! Lagipula, Ibu lihat belakangan ini kamu terlalu dominan di restoran. Di mana-mana, laki-laki itu kepala keluarga. Malu Adrian kalau semua pegawai tahu kalau keuangan saja harus disetujui oleh istrinya dulu. Kamu mau bikin suamimu kelihatan bodoh di depan bawahannya, hah?!"

​Hana mengepalkan tangannya di bawah meja. Dadanya sesak mendengarkan untaian kalimat manipulatif dari mertuanya. Ia kembali menatap Adrian, mencari pembelaan, mencari sisa-sisa pria yang dulu selalu menggenggam tangannya erat saat mereka dikejar-kejar petugas ketertiban di jalanan.

​"Mas... apa kamu juga berpikir begitu?" tanya Hana, suaranya bergetar menahan tangis.

​Adrian akhirnya meletakkan ponselnya, menatap Hana dengan pandangan mata yang tidak lagi hangat, melainkan penuh dengan rasa risih dan kalkulasi. "Han, apa yang dikatakan Ibu ada benarnya. Ini demi kebaikan nama baik kita juga. Akhir-akhir ini, investor dari luar mulai melirik tiga cabang kita untuk dikembangkan menjadi sistem franchise. Mereka butuh melihat aku sebagai figur tunggal yang memegang kendali penuh agar mereka percaya pada stabilitas perusahaan. Kalau kamu terus ikut campur di depan umum, struktur kepemimpinan kita terlihat tidak profesional."

​Adrian menghela napas, lalu menambahkan dengan nada meremehkan yang disamarkan sebagai perhatian, "Kamu di rumah saja hari ini. Istirahat. Berbenah diri. Lihat wajahmu, pucat dan kusam begitu. Bagaimana kalau rekan bisnisku tiba-tiba datang ke restoran dan melihatmu dalam kondisi berantakan seperti ini? Aku yang tidak enak, Han."

​Kata-kata itu bagai belati yang menghujam tepat di jantung Hana. Rikuh. Tidak enak. Berantakan. Itulah kata-kata yang sekarang keluar dari mulut suaminya sendiri untuk menggambarkan dirinya yang telah memberikan seluruh masa mudanya demi kesuksesan pria itu.

​"Baiklah kalau itu maumu, Mas," ucap Hana lirih. Ia berbalik, berjalan kembali ke lantai atas dengan langkah kaki yang terasa begitu berat. Di belakangnya, ia masih bisa mendengar tawa puas Ibu Broto dan gumaman Adrian yang kembali acuh.

​Siang harinya, rumah besar itu terasa seperti penjara yang mewah bagi Hana. Tanpa aktivitas di restoran, Hana merasa kehilangan separuh dari jiwanya. Rasa mual di perutnya kembali datang, kali ini disertai pusing yang amat sangat hingga membuatnya harus berbaring di kamar.

​Ketika jam menunjukkan pukul dua siang, Hana memutuskan untuk turun ke lantai bawah demi mengambil air hangat. Namun, langkah kakinya terhenti di undakan tangga tengah ketika mendengar suara Ibu Broto yang sedang berbicara serius dengan seseorang di ruang tamu.

​"Pokoknya, kamu harus pastikan Adrian memegang semua dokumen legalitas itu, Yan," suara Ibu Broto terdengar berbisik namun penuh penekanan.

​Hana menahan napas, menyembunyikan tubuhnya di balik pilar tangga. Di ruang tamu, ternyata Adrian sudah pulang lebih cepat dari jadwal audit, duduk berhadapan dengan ibunya dengan beberapa lembar dokumen di atas meja kaca.

​"Semua sudah aman, Bu," jawab Adrian dengan nada santai, bersandar pada sofa. "Akuntan sudah memindahkan hak otorisasi rekening utama Cabang Dua dan Tiga ke atas namaku penuh. Hana tidak akan bisa mengaksesnya lagi dari laptop rumah tanpa persetujuanku."

​Ibu Broto terkekeh puas. "Bagus! Begitu dong jadi laki-laki! Harus pegang kendali. Jangan mau disetir sama perempuan kampung seperti dia. Dulu waktu susah saja kita butuh resepnya, sekarang setelah punya tiga cabang besar, posisi dia harus perlahan digeser. Biarkan dia jadi ibu rumah tangga seutuhnya yang tidak punya taring. Kalau dia tidak punya uang, dia tidak akan bisa macam-macam dan akan selalu tunduk pada kita."

​Adrian terdiam sejenak, menatap dokumen di tangannya. "Tapi Bu, bagaimana dengan resep inti untuk menu baru bulan depan? Para koki lama hanya mau menerima racikan bumbu langsung dari tangan Hana. Mereka sangat loyal pada Hana."

​"Itu urusan gampang, Adrian! Nanti kita paksa dia menuliskan seluruh takaran dan formula resepnya di atas kertas dengan alasan demi dokumentasi perusahaan. Setelah semua resep ada di tanganmu, Hana sudah tidak ada gunanya lagi di restoran. Dia tinggal duduk manis di rumah, mengurus rumah, dan tidak usah banyak tingkah," ujar Ibu Broto dengan senyuman licik yang mengerikan.

​Air mata Hana menetes tanpa suara, membasahi pipinya yang pucat. Tubuhnya bergetar hebat menahan rasa hancur sekaligus amarah yang membakar dada. Pria yang tidur di sisinya setiap malam, pria yang baru saja ia beri kepatuhan mutlak, ternyata sedang menyusun strategi bersama ibunya untuk merampok seluruh jerih payahnya dari belakang. Mereka ingin menguras habis bakatnya, mengambil alih tiga cabang rumah makannya, lalu membuangnya menjadi pajangan rumah tangga yang tak berdaya.

​Hana meremas dadanya yang terasa sangat ngilu. Tega kamu, Mas... Tega sekali kalian melakukan ini padaku, jerit Hana dalam hati.

​Namun, sebelum Hana sempat menenangkan diri atau melangkah maju untuk melabrak mereka, rasa pusing yang teramat sangat mendadak menyerang kepalanya dengan hebat. Pandangannya berputar, ulu hatinya bergejolak hebat, dan rasa sakit yang tajam menusuk bagian bawah perutnya.

​"Ah..." Hana mengerang pelan, tangannya kehilangan pegangan pada pilar tangga. Tubuhnya limbung dan langsung terjatuh, berguling ke bawah undakan tangga dengan suara dentuman yang cukup keras.

​"Astaga! Suara apa itu?!" seru Ibu Broto dari ruang tamu.

​Adrian segera berdiri dan berlari ke arah sumber suara. Matanya terbelalak lebar ketika melihat Hana sudah tergeletak pingsan di lantai bawah tangga, dengan wajah seputih kertas dan seuntai darah segar yang perlahan mengalir di sela-sela kakinya, menodai lantai marmer yang putih bersih.

​"Hana!" teriak Adrian, mendadak panik melihat kondisi istrinya.

​Di tengah kesadarannya yang perlahan menipis dan pandangan yang menggelap, Hana sempat melihat wajah panik Adrian yang mendekat. Namun di belakang Adrian, Ibu Broto hanya berdiri dengan pandangan mata yang dingin, tanpa ada rasa bersalah sedikit pun. Bersamaan dengan kegelapan yang merenggut kesadarannya, Hana menyadari satu hal dalam kepasrahannya: badai dalam hidupnya baru saja dimulai, dan nyawanya serta rahasia besar di dalam rahimnya kini berada di ujung tanduk.

Bab 3: Rapuhnya Takhta sang Ratu Dapur

Bab 3: Rapuhnya Takhta sang Ratu Dapur

​Bau menyengat cairan antiseptik langsung menyergap indra penciuman Hana begitu kesadarannya perlahan kembali. Kelopak matanya terasa sangat berat, dan ketika ia mencoba menggerakkan jemarinya, ada rasa ngilu yang menjalar dari punggung hingga ke bagian bawah perutnya. Langit-langit ruangan yang putih bersih dan suara ritmis dari mesin electrocardiogram (ECG) di samping ranjang menegaskan satu hal: ia berada di rumah sakit.

​Hana menoleh pelan ke arah kanan. Di sana, Adrian duduk di sebuah kursi besi, masih mengenakan kemeja abu-abu yang kini tampak sedikit kusut. Pria itu menyandarkan siku di lutut dengan kedua tangan menangkup wajah, tampak seperti suami yang sedang dirundung kecemasan hebat.

​"Mas..." suara Hana keluar dalam bentuk bisikan parau, tenggorokannya terasa sekering padang pasir.

​Adrian langsung menegakkan tubuhnya. Gurat keterkejutan sekaligus kelegaan melintas di wajah tampannya. Ia segera menggenggam jemari Hana yang terasa dingin. "Han? Kamu sudah sadar? Jangan banyak bergerak dulu, ya. Kamu tadi jatuh dari tangga dan pingsan cukup lama."

​Mendengar kata 'tangga', memori Hana sebelum kehilangan kesadaran langsung berputar kembali. Suara bisikan manipulatif Ibu Broto dan persetujuan dingin dari Adrian mengenai rencana pemindahan hak otorisasi rekening serta pencurian resep rahasia kembali menghantam dadanya. Rasa sakit di hatinya jauh lebih berdenyut dibanding luka fisik akibat terjatuh.

​Hana menarik tangannya perlahan dari genggaman Adrian, sebuah penolakan halus yang membuat suaminya itu sedikit mengernyitkan dahi. "Anakku... bagaimana dengan kandunganku, Mas?" tanya Hana lirih, matanya menatap lurus ke arah langit-langit, enggan menatap manik mata pria yang mulai mengkhianatinya.

​Adrian menghela napas panjang, sebuah senyuman tipis yang sulit diartikan terukir di bibirnya. "Anak kita selamat, Han. Dokter bilang ini sebuah keajaiban. Usia kandunganmu ternyata sudah memasuki minggu kedelapan. Tapi... kondisinya sangat lemah. Benturan saat kamu jatuh tadi hampir saja memicu keguguran spontan."

​Hana memejamkan mata rapat-rapat. Air mata mengalir di sudut matanya, membasahi bantal rumah sakit. Di satu sisi, ia merasa sangat bersyukur karena malaikat kecil di dalam rahimnya masih bertahan. Namun di sisi lain, ketakutan besar mulai merayap. Ia sedang hamil di tengah-tengah sebuah rumah tangga yang fondasinya mulai digerogoti oleh keserakahan suami dan mertuanya sendiri.

​Pintu kamar VIP itu mendadak terbuka dengan kasar. Ibu Broto melangkah masuk dengan tas jinjing bermerek yang menggelantung di lengan kirinya. Alih-alih menunjukkan guratan kecemasan atau rasa bersalah karena telah membuat menantunya stres hingga terjatuh, wanita paruh baya itu justru langsung melayangkan tatapan jengkel.

​"Tuh, kan! Ibu bilang juga apa, Adrian!" suara Ibu Broto langsung melengking, mengabaikan ketenangan ruang perawatan. "Hana ini memang keras kepala. Sudah tahu badannya lemas dan mual-mual, masih saja sok kuat jalan ke sana kemari. Sekarang lihat akibatnya? Malah merepotkan semua orang! Biaya kamar VIP rumah sakit ini tidak murah, lho. Belum lagi Adrian harus meninggalkan urusan restoran hanya untuk menunggui kamu di sini."

​Hana tetap memejamkan mata, enggan menanggapi. Ia sedang mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, baik fisik maupun mental.

​"Ibu, sudahlah. Hana baru saja sadar," tegur Adrian, meskipun nada suaranya tidak terdengar benar-benar membela Hana, melainkan hanya ingin meredam kegaduhan ibunya.

​Adrian kemudian berbalik, menatap Hana dengan tatapan yang kini dipenuhi oleh aura otoritas yang baru. "Han, dokter memberikan instruksi yang sangat ketat. Kamu mengalami placenta previa ringan akibat benturan dan stres tingkat tinggi. Kamu diwajibkan bed rest total selama minimal tiga bulan ke depan. Tidak boleh banyak berjalan, tidak boleh banyak pikiran, dan yang paling penting..." Adrian jeda sejenak, menatap ibunya sebelum kembali menatap Hana, "Kamu sama sekali tidak boleh menginjakkan kaki di dapur restoran atau memikirkan urusan bisnis lagi. Sama sekali."

​Bed rest total selama tiga bulan. Kata-kata itu terdengar bagai vonis penjara seumur hidup bagi Hana. Tiga bulan adalah waktu yang lebih dari cukup bagi Adrian dan Ibu Broto untuk menghapus seluruh jejak pengaruh Hana di ketiga cabang Rumah Makan "Rasa Hana". Dalam tiga bulan, para pegawai lama bisa saja dimanipulasi, dan semua sistem keuangan akan sepenuhnya dikunci dari jangkauannya.

​"Mas, tapi setidaknya biarkan aku memeriksa laporan mingguan lewat laptop dari atas ranjang ini," pinta Hana, mencoba menawar dengan suara yang bergetar. "Aku tidak akan lelah, aku hanya perlu memantau arus kas agar—"

​"Tidak ada laptop, tidak ada laporan keuangan, Hana!" potong Ibu Broto dengan ketus, melangkah mendekati ranjang. "Kamu itu fokus saja bertelur dan melahirkan cucu untuk keluarga ini! Adrian sudah mengambil alih semua dokumen dan laptop kerjamu dari rumah. Mulai hari ini, urusan uang, manajemen, dan pasokan bahan baku di semua cabang adalah mutlak urusan Adrian. Kamu tidak punya hak lagi untuk mencampuri urusan luar!"

​Hana menatap Adrian, menuntut penjelasan dari suaminya. Namun, Adrian hanya mengangguk pelan dengan wajah dingin. "Ibu benar, Han. Ini demi keselamatan anak kita. Aku sudah mengunci semua akses rekening atas namaku untuk sementara waktu, agar kamu tidak terdistraksi dengan angka-angka kurva omzet. Kamu cukup fokus pada kandunganmu."

​Mendengar konfirmasi langsung dari Adrian, runtuh sudah sisa-sisa harapan Hana. Skenario yang ia dengar di balik pilar tangga siang tadi kini benar-benar dieksekusi dengan memanfaatkan kondisi kesehatannya yang rapuh sebagai alasan yang sah di mata medis. Mereka tidak sedang menyelamatkannya; mereka sedang melucuti seluruh senjatanya secara perlahan dan elegan, membuat Hana menjadi ratu tanpa takhta, tanpa mahkota, dan tanpa kekuatan finansial sedikit pun.

​Satu minggu berlalu, Hana akhirnya diperbolehkan pulang ke rumah. Kehidupan di dalam rumah megah itu kini benar-benar berubah menjadi neraka dingin bagi Hana. Ia seperti hantu yang terisolasi di kamar lantai atas. Adrian semakin jarang pulang, dengan alasan bahwa mengurus tiga cabang sendirian membuatnya sangat sibuk dan kelelahan. Sementara itu, Ibu Broto sengaja memotong menu makanan Hana di rumah, dengan dalih bahwa Hana tidak perlu makan banyak karena tidak bekerja dan hanya berdiam diri di kamar.

​Suatu sore di minggu kedua masa pemulihannya, Ibu Broto masuk ke dalam kamar Hana tanpa mengetuk pintu. Ia membawa sebuah buku catatan tebal dan sebuah pena, lalu melemparkannya ke atas selimut yang menutupi kaki Hana.

​"Apa ini, Ibu?" tanya Hana datar.

​"Itu buku resep," jawab Ibu Broto sembari melipat tangan di dada dengan angkuh. "Adrian bilang, kepala koki di Cabang Dua dan Tiga mulai mengeluh karena rasa masakan bumbu inti buatan pegawai baru agak berbeda dengan buatanmu dulu. Pelanggan mulai memberikan ulasan buruk di internet. Jadi, sekarang kamu tuliskan semua takaran gramasi, merek rempah, waktu penyusutan kaldu, hingga formula rahasia dari menu sup iga, ayam bakar bumbu rujak, dan sambal bajak milikmu di dalam buku itu."

​Hana menatap buku catatan kosong itu, lalu beralih menatap wajah mertuanya. Darah pebisnis dan harga diri Hana bergejolak hebat. Ini adalah benteng pertahanan terakhir miliknya. Jika ia menyerahkan resep rahasia ini sekarang, maka hilang sudah nilai tawar dirinya di mata keluarga Broto. Di momen itulah, Hana menyadari bahwa ia tidak boleh lagi menjadi Hana yang lemah dan penurut. Ia harus mulai bermain cantik jika ingin bertahan dan membalas dendam di kemudian hari.

​Hana menarik napas dalam, memalsukan ekspresi wajahnya menjadi tampak patuh dan penuh kepasrahan seorang istri yang tertindas. "Baik, Ibu. Hana akan menuliskan semuanya di buku ini. Tapi... ingatan Hana agak buruk semenjak jatuh kemarin. Hana butuh waktu beberapa minggu untuk merangkai takarannya secara perlahan agar tidak ada yang salah tulis. Jika salah sedikit saja, rasanya bisa rusak total."

​Ibu Broto tersenyum puas, mengira menantunya yang bodoh ini telah sepenuhnya tunduk di bawah ancaman penindasan finansial. "Bagus. Jangan lama-lama! Tulis yang detail. Ingat, kamu dan anak di dalam kandunganmu itu hidup dari uang hasil keringat Adrian sekarang. Jadi setidaknya, berikan kontribusi yang berguna untuk bisnis suamimu!" Setelah mengatakan kalimat beracun itu, Ibu Broto berbalik dan melangkah keluar dengan tawa sinis yang tertahan.

​Begitu pintu kamar tertutup rapat, senyuman patuh di wajah Hana seketika lenyap, digantikan oleh tatapan mata yang sedingin es. Ia mengambil pena tersebut, lalu membuka halaman pertama buku catatan.

​Tentu saja aku akan menuliskan resepnya untukmu, Ibu... Mas Adrian... bisik Hana dalam hati dengan seringai tipis yang sarat akan kepedihan sekaligus dendam. Namun, aku akan sengaja mengubah satu atau dua takaran rempah penting yang akan membuat masakan itu terasa nikmat di awal, namun akan merusak cita rasa keseluruhannya secara perlahan dalam jangka panjang jika aku tidak ada di sana untuk memperbaikinya. Kalian ingin merebut restoranku? Silakan nikmati kehancurannya secara perlahan.

​Malam harinya, Adrian pulang dalam kondisi mabuk ringan. Aroma alkohol bercampur dengan bau asap rokok yang pekat menguar dari bajunya saat ia membuka pintu kamar. Ia langsung mengempaskan tubuhnya di sofa kamar tanpa memandang Hana yang sedang duduk bersandar di tempat tidur.

​Hana memperhatikan suaminya dengan saksama. Ada sesuatu yang aneh. Di kerah kemeja abu-abu milik Adrian, Hana tidak hanya mencium bau alkohol, melainkan ada semacam aroma manis yang samar—bukan aroma parfum mewah yang biasa Adrian gunakan untuk menghadiri rapat investor, melainkan aroma parfum murah beraroma buah yang biasa digunakan oleh remaja perempuan.

​Hana menekan gejolak kecurigaan di dadanya. "Mas, kamu baru pulang dari mana? Katanya hari ini hanya ada pertemuan dengan pemasok sayur di Cabang Satu?" tanya Hana dengan nada selembut mungkin.

​Adrian mendengus jengkel, melonggarkan dasinya dengan kasar tanpa membuka mata. "Jangan banyak tanya, Han. Aku pusing, lelah mengurus tiga cabang sendirian sementara kamu hanya enak-enakan tidur di kamar ini. Mengurus operasional itu tidak mudah, tahu?! Kepalaku mau pecah!"

​Hana terdiam. Kepedihan kembali mengiris hatinya, namun kali ini Hana menolak untuk menangis di depan pria itu. Ia menyadari, tabiat playboy Adrian yang dulu sempat diredam oleh kerja keras mereka saat merintis bisnis, kini perlahan-lahan mulai bangkit kembali seiring dengan kekayaan dan kekuasaan yang ia pegang sendiri tanpa kontrol dari Hana.

​Keesokan paginya, Ibu Broto masuk ke kamar Hana dengan wajah yang tampak berbinar, membawa sebuah ide baru yang sudah ia diskusikan dengan Adrian semalam.

​"Hana, bulan depan kita semua akan pulang ke kampung halaman," ujar Ibu Broto tanpa basa-basi. "Kebetulan ini momen libur panjang, dan Adrian juga butuh menyegarkan pikiran dari kepenatan restoran. Lagipula, kamu kan sedang hamil. Kata orang kampung, wanita hamil tua itu bagus kalau auranya disegarkan di desa, sekalian menjenguk saudaramu yang di sana."

​Hana mengernyitkan dahi. Pulang kampung? Di saat kondisi kandungannya masih rapuh? Hana tahu ini bukan sekadar perjalanan mudik biasa. Ada niat terselubung di balik kepedulian mendadak dari mertuanya. Namun, Hana memilih untuk mengangguk patuh. Baguslah kalau kita pulang kampung, pikir Hana. Aku butuh keluar dari atmosfer beracun rumah ini untuk sesaat, sekaligus mencari peluang dan sekutu yang bisa membantuku bangkit.

​Hana tidak pernah menduga, bahwa perjalanan mudik ke kampung halaman yang direncanakan oleh mertuanya adalah sebuah jebakan takdir yang jauh lebih besar. Di sanalah, di tanah kelahirannya sendiri, sebuah duri baru bernama Santi—gadis muda lulusan SMA yang cantik, polos namun menyimpan ambisi gila—sedang mengintai, siap diajukan sebagai baby sitter yang akan melengkapi penderitaan Hana sekaligus menjadi pemantik dari kehancuran gairah di dalam rumah tangganya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!