Indonesia
NovelToon NovelToon

Menguak Tabir Di Matamu

1. Kasus yang Mempertemukan

"Bu, anda mendapat surat dari atasan," kata Tejo, Penyidik pembantu yang selalu bekerja bersama dengan Emma.

"Ck, pasti skors lagi. Lagu lama kembali berdendang." Emma melempar surat pemberitahuan dengan ogah-ogahan.

"Paling tidak, turunkan kakimu lah Bu. Kalau Pak Irwan lihat bisa ngamuk lagi."

Sudah menjadi kebiasaan, Emma meletakkan kedua kakinya di atas meja saat mencoba memecahkan beberapa kasus, seperti memang letak kaki seharusnya memang di situ.

Seolah mendengarkan nasehat Tejo-junior setianya, Emma menurunkan kakinya. Namun ia melakukannya bukan karena introspeksi atau semacamnya, tapi bermaksud menemui Pak Irwan.

"Skors selama sebulan ya? Apa alasannya? Oh... Bapak takut, saya mengobrak-abrik Chanel Bapak?" Teriaknya di depan muka Pak Irwan tanpa rasa takut sedikitpun.

"Lancang sekali kamu!" Pak Irwan melotot dan menggerakkan giginya seperti anjing yang melihat musuh.

"Kalau bukan, apa masalahnya? Saya sudah hampir menangkap pembunuh itu. Tapi apa? Bapak lepaskan dia dengan alasan kurang bukti," kata Emma tak mau kalah.

"Karena memang kurang bukti! Yang kamu punya hanya bukti tidak langsung!"

"Bukti tidak langsung? Saya bahkan membawa senjata pelaku beserta sidik jarinya. Tapi Bapak bilang itu kurang?"

"Bisa saja dia dijebak. Cctv! Kamu perlu video cctv!" Pak Irwan masih saja ngotot.

"Cctv? Seolah tidak ada yang berusaha menghancurkan bukti cctv. Dan entah kenapa semua cctv di area tersebut mati. Ahh... Berdebat dengan Bapak tidak ada untungnya. Yang ada aku capek sendiri!" Gumamnya sambil berjalan keluar kantor dan mengakhirinya dengan bantingan pintu.

Brakkk!!!!

Tejo yang menguping di balik pintu gemetar hebat. Dia takut partner kerjanya dicopot jabatannya. Sedangkan dirinya pasti kena imbas juga.

Emma yang berjalan dengan emosi yang menggebu tak menghiraukan keadaan sekitar. Dia bahkan tidak mendengar teriakan Tejo yang memanggilnya terus menerus.

"Bu... Bu Emma!" Tejo berlari mengikuti atasannya yang sedang marah itu.

"Bu, mau kemana?"

"Kemana lagi? Ya pulang! Bukankah aku dapat skors!" Kata Emma membuka pintu mobil dengan kencang.

"Tapi Bu?"

"Kamu disini saja! Kalau nggak mau kena masalah lagi!" Perintah Emma.

Tejo hanya diam, pasrah dengan perintah Emma yang menurutnya ada benarnya.

"Kalau ada apa-apa hubungi aku," mata anjing Tejo berbinar seolah sedih berpisah dengan majikannya.

"Iya, iya nanti aku hubungi kalau ada apa-apa. Aku nggak bakal bikin ulah lagi. Tenang aja!"

"Terakhir kali ibu juga bilang gitu, tapi apa yang terjadi? Anda kena skors. Kan sudah saya bilang, jangan menyelidiki sendirian." Guman Tejo.

"Iya, iya bawel amat lu!"

Emma melanjutkan langkahnya untuk mengendarai mobilnya.

...****************...

Emma sengaja membuka sedikit jendela mobilnya, membiarkan angin semilir menerpa rambut lepeknya. Perjalanan yang menenangkan, mungkin. Baginya, yang sehari-sehari selalu disibukkan dengan tumpukan kasus itu, perjalanan ini membuatnya sedikit bernafas.

"Haaah.... Anggap saja ini liburan hehe. Yuhuuuu!!!" Dia berteriak kencang di tengah-tengah tol.

Emma memang bermaksud untuk pulang ke rumah. Tapi entah kenapa, mobilnya melaju lebih jauh dari rumahnya. Bahkan tidak terasa sudah seharian ia menyetir. Hingga ia tersadar bahwa mobilnya telah mengantarkannya ke kampung halaman. Kampung dimana orang tuanya tinggal, Kampung Maju Mundur.

'Akhirnya aku pulang juga,' batinnya sembari berjalan ke rumah nyamannya. Tentu saja Emma disambut dengan hangat dan penuh kasih sayang oleh kedua orang tuanya.

"Sebentar, kok kamu tiba-tiba pulang nggak ngabarin ibu? Kamu pasti kena masalah ya di kantor? Ngaku aja udah!" Tanya Ibu Emma, Bu Tiwi yang sering dikira kakaknya karena terlalu awet muda.

"Jadi nggak boleh nih? Ya udah deh balik Jakarta aja!" Goda Emma.

"Yaelah, gitu aja ngambek. Awas cepet tua!" Ejek Bu Tiwi.

"Sudah, sudah anak baru pulang dimarahin. Cepetan masuk, mandi, dan istirahat." Kata Pak Izul, ayah Emma.

"Siap Daddy!!!" Emma hormat seperti bersama dengan atasan.

"Dasar! Disekolahin tinggi-tinggi terus dijadiin polisi eh malah kerjaannya buat masalah terus, capek aku tuh!" Lagi-lagi Bu Tiwi ngedumel.

Namun, Emma tak menghiraukan kicauan ibunya dan langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

...****************...

Kamarnya masih seperti dulu, banyak tumpukan buku usang bekas persiapan tes Kepolisian 10 tahun yang lalu dan banyak sticky note yang menempel di tembok. Hanya lebih bersih saja, karena setiap hari Bu Tiwi membersihkan kamar anaknya tersebut sebagai pelepas rindu.

Semua yang ada di kamarnya menyimpan kenangan, berapa sulitnya perjuangannya untuk masuk ke Kepolisian. Namun apa yang terjadi sekarang? Dia kembali ke kamar ini dalam posisi di skors. "Ya, setidaknya aku tidak dipecat."

"Huft..." Emma melempar badannya ke kasur empuk miliknya dan menatap plafon yang mulai berjamur. "Ini memang cita-citaku dari SMA. Ini versi diriku yang aku idam-idamkan sejak kecil. Aku harus terima ini!" Pikirannya melayang membayangkan dirinya waktu SMA.

SMA, masa yang indah. Semua dipenuhi dengan persahabatan yang seru, cerita pencarian jati diri, pencarian cita-cita, harapan, dan Levi.

Seketika Emma membuka matanya setelah mengingat Levi. Dia bukan mantan pacar atau sejenisnya tapi dia cinta pertama dan satu-satunya orang yang pernah ia cintai. Dia ingat, hanya dengan mendengar namanya disebut jantungnya berdebar dan ingin pingsan. Sungguh cinta bertepuk sebelah tangan yang tragis. "Sekarang dia dimana ya? Apa pekerjaannya? Dia dulu anggota band sih. Pasti udah jadi artis," pikir Emma.

Seolah tak ingin larut dengan bayangannya akan cinta pertamanya itu, dia memutuskan untuk segera tidur. Mungkin besok ia akan pergi ke sekitar lingkungan SMA untuk melepas rindu. Memikirkannya saja, sudah membuatnya tak sabar.

Keesokan harinya, Emma benar-benar pergi ke sekitar SMA-nya. Ia berjalan menyusuri jalan trotoar seberang sekolah. Ia melihat ada banyak penjual jajanan yang siap menyambut kepulangan para siswa.

"Wah...sekarang gedungnya tinggi-tinggi banget. Ada 4 lantai lagi. Mmm... Sedikit bahaya sih." Batin Emma sembari menghitung banyak tingkat di gedung sekolah.

"Sebentar apa itu?" Katanya sambil mengunyah cilok.

Dia menyipitkan matanya untuk menjaganya fokus. Namun masih saja tak jelas. Di atas gedung tertinggi dia melihat sosok berseragam yang sedang melihat ke bawah.

"Apa yang sedang ia lakukan?" Emma berlari cepat menyeberang jalan. Namun usahanya sia-sia.

BRAK!!!!

Di depan matanya, ia melihat seorang siswa jatuh bersimbah d*rah.

Semua orang kaget. Semua berhamburan dan mendekat. Bahkan Emma hampir terjatuh karena ada bapak-bapak yang menabraknya.

Emma sekuat tenaga berlari kearah siswa tersebut untuk memeriksa keadaannya.

"Cepat telpon ambulan cepat!" Teriaknya pada semua orang. Namun anak itu tak tertolong. Emma tak bisa merasakan detak jantungnya.

"Tidak, tidak. Ya Tuhan kumohon! Dion! Bertahanlah! " Teriak salah satu orang yang ada di dekatnya.

Mendengar ada seseorang mengenalnya, Emma menoleh. "Kamu mengenalnya?"

"Tentu saja, dia muridku," kata laki-laki itu.

Betapa terkejutnya Emma setelah tahu laki-laki yang mengatakan kalau itu muridnya adalah seseorang yang ia kenal.

Tentu saja ia mengenalnya, ia adalah Levi, cinta bertepuk sebelah tangannya.

2. Orang Asing yang Lewat

Suara sirine ambulan meraung-raung merambah ramainya TKP saat itu. Orang-orang yang saling bertanya tentang kronologi penuh sesak hingga membuat Emma jengah. Beberapa ada yang menunjuk-nunjuk tubuh korban seolah dia adalah objek viral, benar-benar menjengkelkan.

"Tolong semua menyingkir! Biarkan petugas bekerja!" Bentak Emma kehilangan kesabaran.

"Anda siapa? Seenaknya nyuruh bubar!" Kata orang tua sangar bertato.

"Apa aku perlu mengatakan siapa aku hanya untuk membuat kalian bubar? Kalian tidak sadar ini TKP? TKP harus bersih!" Kali ini Emma berusaha untuk meladeni orang tersebut walaupun sebenarnya dia malas.

"Menyingkir! Biarkan mereka bertugas!" Emma kembali membentak dan disusul dengan para petugas yang bergegas membawa tandu untuk mengangkat korban.

"Saya ikut. Saya wali kelasnya," kata Levi menghentikan langkah Emma yang sudah siap naik ambulan. Emma hanya mengangguk melihat wajah Levi yang tampak khawatir.

Di dalam mobil ambulan yang melaju kencang, Emma yang duduk berhadapan dengan Levi tanpa sengaja mencuri pandang seperti melakukan kebiasaannya waktu SMA dulu.

Emma menyusuri wajah Levi untuk membandingkannya dengan Levi idolanya dulu. Matanya, hidungnya, dan bibir, semua hampir sama hanya lebih tegas dan dewasa saja.

Emma ingin sekali bertanya tentang update aktivitas Levi akhir-akhir ini. Tapi setelah Levi menoleh ke arahnya, semua buyar. Dia bahkan hanya bisa melengos dan pura-pura menatap korban. Lagi pula ini bukan saat yang tepat untuk reuni SMA.

Saat Emma menatap tubuh korban, ada yang tidak beres. Bukankah seharusnya lukanya terlihat baru? Seperti luka terbuka atau memar yang baru? Tapi mengapa di pergelangan tangannya ada luka memar bekas tali? Dan itu tampak lama.

Dengan cepat, Emma membuka seragam korban. Saking cepatnya, hingga membuat Levi dan petugas ambulan terkejut.

"Apa yang anda lakukan?" Tanya petugas ambulan.

"Maaf saya hanya ingin memeriksa sesuatu," tegasnya.

"Tapi...." Petugas itu masih ingin memprotes.

Namun tatapan tajam Emma mampu membuat petugas tersebut terdiam.

Kemudian Emma memanfaatkan kediaman mereka untuk memfoto luka-luka yang ada di dada, perut, tangan dan pergelangan kaki korban.

"Aneh!" Emma berpikir keras.

"Pak, anda kan wali kelasnya. Apakah bapak tidak pernah mendapat laporan tentang anak ini? Misalnya dia pernah dibully atau semacamnya?" Tanyanya formal karena tahu, pasti Levi tak mengenalnya.

"Ti...tidak," ucap Levi ragu.

"Benarkah?" Emma menekankan agar Levi mengatakan yang sebenarnya.

Levi hanya menggeleng namun Emma sepertinya tahu kalau idolanya itu sedang berbohong. Kenapa berbohong?

Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung disambut oleh dokter. Emma dengan tegas menjelaskan bagaimana keadaan korban saat itu. Petugas langsung membawa korban ke IGD dan dokter segera melakukan pemeriksaan. Setelah dokter memastikan kematian korban, mereka langsung menelpon polisi di daerah tersebut dan keluarga.

Keadaan saat itu sangat chaos. Keluarga korban meraung-raung. Tangisan menggema ke seluruh penjuru rumah sakit. Serta ada beberapa penonton dadakan yang akhirnya dibubarkan oleh petugas rumah sakit.

Levi yang merasa bertanggung jawab dengan korban, berusaha menenangkan Ibu korban. Ia mengatakan beberapa kata penghibur yang mungkin tidak benar-benar menghibur. Sampai akhirnya Polisi yang bertugas datang.

Emma yang saat itu duduk di depan IGD langsung menyambut dan membawa Polisi itu ke sisi lain. Ia mengatakan bahwa ia saksi yang ada saat itu. Ia juga menjelaskan kronologi yang ia lihat.

"Berarti ini kasus bunuh diri," salah satu dari dua orang polisi itu menyimpulkan.

"Kurasa tidak sesederhana itu, kelihatannya ada pihak ketiga dalam kasus ini," kata Emma mantap. " Kita perlu menyelidikinya lebih dalam. Kalian harus periksa gedungnya. Oh ya gedungnya."

Emma seketika ingin berlari tapi tangannya ditarik oleh salah satu polisi.

" Anda siapa? Anda tidak boleh mencampuri kasus ini!"

"Saya juga penyidik, lepaskan tangan anda."

"Walaupun anda penyidik, ini bukan kasus anda. Ini kasus kami!"

Emma sangat jengkel karena apa yang mereka katakan itu benar. Dia tidak bisa seenaknya mencampuri kasus daerah lain tanpa adanya perintah. Dia hanya bisa diam dan melotot tak terima.

Sedangkan dari kejauhan di ruang IGD, Levi menyimak pembicaraan mereka dengan kaki gemetar gelisah. "Apa yang sedang diskusikan?" Levi bergumam sendiri.

"Pak?" sapaan ibu Dion membuyarkan fokusnya dari pemandangan tiga orang yang sedang bersitegang.

"iya," jawab Levi.

"Hiks ... Sebenarnya apa yang terjadi?"

"Sa...saya juga tidak mengerti Bu. Lebih baik kita dengar dari pihak polisi," Levi benar-benar bingung menghadapi Ibu Dion.

"Hiks ... Pak Polisi tolong anak saya. Hiks .... Hiks...." Ibu Dion meraung ketika kedua polisi tersebut memutuskan untuk kembali ruang IGD, sedangkan Emma masih berdiri mematung.

"Kita tunggu hasil visum ya Bu, sabar ya Bu...," salah satu polisi berusaha menenangkan sekedarnya.

"Kemungkinan ini adalah kasus Bun*h diri," polisi lainnya memberikan pernyataan gegabahnya. Ibu Dion kembali meraung lebih keras dan berlutut di depan ketiga orang itu.

Emma yang awalnya hanya berdiri di koridor Rumah Sakit langsung berjalan cepat dan mendorong keras polisi tersebut.

"Hei, kalau ngomong jangan sembarangan! Bagaimana bisa seorang Polisi dengan seenaknya memberikan pernyataan tanpa bukti dan penyelidikan!" Emma mengeraskan suaranya dan melotot ke arah Polisi yang ia dorong, meskipun dorongan Emma tidak bisa membuat polisi tersebut jatuh.

Ingin sekali Emma mengumpati polisi tersebut. Tapi di sebelahnya Ibu Dion bersimpuh dengan semua tangisannya, membuat Emma tak kuasa meneruskan amarahnya.

"Bu, ibu tenang saja. Kita tunggu saja hasil visumnya. Ibu pasti tahu Dion anak seperti apa. Dia bukanlah anak yang lemah, yang bisa mengakhiri hidupnya dengan mudah," Emma membantu Ibu Dion untuk berdiri dan menuntunnya ke kursi tunggu.

"Kalau bukan bunuh diri? Lalu kenapa? Hiks... Jangan-jangan..." Ibu Dion berhenti berkata.

Emma mengerutkan dahinya dan memejamkan matanya. Dia tidak habis pikir dengan dirinya yang juga memberikan pernyataan sepihak. Bukannya membuat beliau tenang tapi malah memperkeruh keadaan.

"Maksud saya, kita tunggu saja hasil visumnya ya Bu," Emma menegaskan dan memeluk Ibu Dion dengan hangat.

Kedua polisi yang awalnya berwajah sangar, melunakkan ekspresi mereka. Mereka pun memilih untuk menyingkir entah kemana. Hal itu tak lagi menjadi masalah bagi Emma. Dia masih memegang erat tangan Ibu Dion dengan harapan bisa meringankan kesedihannya, meskipun itu tidak mungkin.

"Anu.... Maaf," Levi menyela.

"iya," Emma menatapnya dengan mengumpulkan keberaniannya.

"Maaf anda siapa?" keheningan kembali mengudara, bahkan kepala Emma mendadak menjadi kosong. Sepertinya waktu di sekitar kembali berhenti, persis seperti waktu dulu.

"Maksud saya, sepertinya anda sangat mengerti dengan kejadian ini. Seperti bukan hanya orang yang kebetulan lewat," lanjut Levi karena bingung dengan diamnya Emma.

Suasana kembali hening, Emma meletakkan genggaman tangannya dari Ibu Dion. Dia menarik nafasnya lalu membuangnya.

.

.

"Saya hanya orang yang lewat."

3. Amatir

Setelah beberapa menit menghabiskan waktu untuk duduk disamping Ibu Dion, kemudian Emma mulai memutar kembali otaknya. Apa yang sebenarnya terjadi? Jelas-jelas dia melihat banyak bekas luka dan lebam biru di perut Dion. Dia juga bisa melihat bekas lilitan tali di tangan anak itu. Tapi dimana talinya?

"Sebentar..." gumam Emma tiba-tiba, sehingga menarik perhatian Levi untuk menengoknya yang duduk terapit olehnya dan Ibu Dion.

"Ck, mengapa aku begitu bodoh," celetuknya langsung berdiri dari tempat duduknya. Ia berlari mencari kedua polisi tersebut tanpa menghiraukan Levi yang sedang memanggilnya tanpa nama.

Di sudut Kantin, Emma akhirnya melihat kedua polisi sedang asyik mengobrol dan menyeruput kopinya.

"Slurp....ah, nikmatnya kopi hitam," salah satu polisi yang tampak lebih tua, duduk menikmati kopi dengan wajah berserinya.

"Sudah jelas itu kasus bunuh diri, kita tak perlu bersusah payah hari ini," celetuknya.

"Tapi ndan, cewek tadi gimana? Nanti kalau dia buat masalah gimana coba?" kata polisi yang lebih muda.

"Santai saja, orang jelas banget kok. Banyak saksi yang mengatakan anak itu bunuh diri. Dia mau melakukan apapun, hasilnya akan tetap sama."

Kedua manggut-manggut tanpa terlihat terbebani dengan kondisi keluarga korban.

"Haish.... Mereka keterlaluan!" umpat Emma yang langsung meninggalkan pemandangan yang tidak mengenakkan itu.

Emma yang awalnya ingin membantu kedua polisi tersebut untuk menyidik TKP, mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk menyelidikinya sendiri.

"Percuma ngomong sama mereka. Bahkan mereka lebih lambat dari Tejo," gerutunya sambil berlari cepat menuju halte bis.

"Ck, seharusnya tadi aku bawa mobil saja kesini."

Kecerobohannya lagi-lagi membuatnya mengeluh. Tubuhnya selalu saja bergerak lebih cepat dari otaknya. Alasan itu juga yang membuatnya membutuhkan rekan seperti Tejo yang lebih teliti, meskipun pekerjaannya lelet.

"Setidaknya karena kecerobohanku, aku jadi tahu kondisi badan Dion," hiburnya pada diri sendiri setelah duduk di kursi bis.

"Hah! Ck!"

Kesabarannya yang setipis tisu dibagi empat itu membuatnya tak bisa diam. Dia berulang kali menghentakkan ujung kakinya, tangannya meremas lutut, dan beberapa kali ia bangun dari tempat duduknya.

"Pak, bisa tolong lebih cepat?" tanyanya kepada Pak Sopir yang sedang khidmat mengendarai bis.

"Maaf neng, ini sudah yang paling cepat. Banyak orang yang mau naik bis ini," jawab Pak Sopir. "Kalau mau lebih cepat, mending naik ojol saja neng," tambahnya.

"Benar juga!" pikir Emma.

...****************...

Sesampainya di SMA X, dengan sigap Emma menghampiri TKP.

Disana terlihat polisi lain sedang menandai TKP dan memasang Police Line. Namun fokus Emma bukan tempat dimana Dion jatuh. Tapi gedung 4 lantai itu.

Ia melangkah mantap menyusuri tangga. Memang situasi saat itu masih ramai, tapi entah mengapa semua orang tidak benar-benar memperhatikan Emma yang memakai baju kemeja gombrong dan celana jins berlalu di depan mereka.

Itu membuat Emma semakin leluasa untuk menelusuri dan mencari bukti di sekitar gedung 4 lantai itu.

Emma memakai peralatan penyidiknya yang selalu ia bawa kemana-mana, seperti sarung tangan latex dan alas sepatu agar tak merusak TKP. Ia juga mencari dimana gerangan tali yang mengikat tangan Dion. Tapi tali tersebut tidak ada dimanapun.

"Ck, ini sulit sekali," gumamnya.

Meskipun begitu, Emma tidak menyerah begitu saja. Dengan berbekal perlatan seadanya, ia mengumpulkan sidik jari yang ada di besi pagar atap gedung tersebut. Dia juga memfoto semua jejak yang tertinggal disana. Dia melihat banyak sekali jejak yang tertinggal. Itu membuatnya kembali menghela nafas.

Memang menyidik TKP di tempat umum itu sangat menyusahkan. Selain karena banyaknya orang yang pastinya berlalu lalang, tidak adanya data base untuk anak di bawah umur juga menjadi kendala.

"CCTV! Tentu, CCTV."

Tanpa pikir panjang, ia berkeliling mencari CCTV yang ada hingga ia menemukannya. Tapi jangkauannya sangat jauh dari tempat Dion menjatuhkan dirinya.

"Apapun itu, yang penting aku harus mengumpulkannya.."

Emma berlari kembali ke ruang Kepala Sekolah untuk meminta rekaman CCTV tersebut. Dengan mengandalkan akting payahnya, ia berlagak sebagai penyidik yang sedang bertugas.

Hampir saja Emma mendapatkan apa yang ia inginkan. Akan tetapi Pak Kepala Sekolah tiba-tiba menerima panggilan dari entah siapa.

"Halo, iya... Iya... Baiklah," kata Kepala Sekolah mengiyakan apapun si penelpon katakan.

"Maaf, saya mendapatkan telpon dari Polsek. Katanya saya harus mengusir siapapun orang yang mengaku menjadi penyidik dan ciri-cirinya persis seperti anda," katanya tegas.

"Tapi pak, saya..." Emma ingin mengelak.

"Sekali lagi maaf ya Bu, saya tidak bisa memberikan yang anda inginkan."

Dengan langkah kesalnya, Emma keluar dari ruang Kepala Sekolah. Ia berjalan gontai menyusuri jalan kecil menuju gerbang depan sekolah, yang kini sudah tampak lenggang karena semua siswa diminta untuk segera pulang. Warga sekitar juga tak lagi mengerubungi TKP yang sudah dipasang garis polisi tersebut.

'Cuma inikah yang aku dapatkan? Haaah....' batinnya merayap merongrong rasa percaya dirinya.

Dia terdiam sebentar....

"Tidak.... Aku nggak boleh nyerah begitu saja."

Emma kembali ke TKP atap gedung untuk sekali lagi mencari petunjuk.

"Apapun itu, aku harus menemukannya," bisiknya dengan semua kerutan di dahinya.

Lalu...

"Bukankah ini..." perhatiannya terpusat pada bekas goresan yang ada di pinggir pagar besi.

Dengan cepat Emma memfoto bekas goresan tersebut. Ada dua goresan hitam yang melingkar namun tidak terlalu jelas. "Ini terlihat seperti goresan bekas lilitan tali," batinnya kembali memunculkan kepercayaan bahwa Dion bukanlah korban bunuh diri.

Namun, ditengah aktivitas penyelidikannya, tiba-tiba sakit berat menyerang kepala Emma.

"Aaakh."

Emma merasa kepalanya berdengung hebat dan lantai yang dipijaknya seperti terombang-ambing.

"Ahh...Kurasa aku harus pulang," ucapnya sambil menekan kepalanya yang masih berdengung.

...****************...

Setelah melalui semua kesusah payahnya dalam menyelidiki kasus yang baru saja ia saksikan sendiri, akhirnya Emma bisa melonggarkan kakinya di kamar nyamannya.

Di kamar setengah terang yang hanya mengandalkan satu lampu LED kecil itu, Emma menjejer semua foto yang telah ia print. Ia memasang kertas hitam besar di temboknya dan menempelkan foto-foto tersebut.

"Ini jelas bukan bunuh diri biasa. Semua lukanya tak masuk akal kalau dikatakan sebagai luka Karena jatuh dari gedung."

"Tapi pertanyaannya, semua luka itu ia dapatkan darimana? Sekolah? Rumah? Huft..."

"Seharusnya aku menanyai teman korban. bukannya malah berlarian kesana-kemari tak jelas seperti seorang amatir." Protesnya pada diri sendiri.

"Visum, hasil visum... Ah seharusnya aku menunggu lebih lama."

"Ck.. apa yang aku lakukan?" Emma menjatuhkan dirinya ke kasurnya.

"Aku bukan polisi yang bertugas. Ini juga bukan wilayahku. Berhenti ikut campur Emma, biarkan mereka bekerja. Kamu tinggal percayakan saja," ucapnya pada dirinya sendiri.

Setelah hampir setengah jam ia merelaksasikan badannya di atas kasur, Emma bangun untuk mengambil segelas air. Namun entah mengapa, kelapanya mendadak pusing. Semua tampak berputar dan ia mengeluarkan darah di hidungnya. "Apa ini? Ck... Kurasa aku kelelahan."

Baru saja ia hendak melangkahkan kakinya lagi, namun badannya terhuyung lemas dan jatuh.

Brakkkk!!!

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!