Indonesia
NovelToon NovelToon

KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

BAB 2: Sisik yang Gatal

Sisa-sisa malam Sabtu Kliwon meninggalkan rasa lelah yang teramat sangat di rongga dada Sekar. Pagi itu, matahari sabtu terbit dengan malas, tertutup awan mendung abu-abu yang menggantung rendah di langit kota. Kamar Sekar tidak lagi sedingin semalam, dan bangkai ular hitam bermata merah yang sempat tergeletak di dekat lemari sudah lenyap tanpa bekas.

Namun, ketakutan itu tidak benar-benar pergi. Ia hanya berganti wujud.

Sejak melangkah keluar dari tempat tidur pukul enam pagi tadi, ada sensasi ganjil yang berdenyut di punggung kanan Sekar. Tepat di bawah tulang belikatnya.

Awalnya, itu hanya terasa seperti gigitan nyamuk yang sepele. Sebuah rasa gatal yang samar. Namun, seiring berjalannya waktu dan jarum jam yang merayap menuju angka sembilan, rasa gatal itu mulai bermutasi. Rasa gatal itu merayap di bawah kulit, bergerak-gerak seperti ada ratusan semut kecil yang berbaris dan menggeliat di dalam dagingnya.

"Shh... akh," Sekar meringis, tangannya bergerak ke belakang, mencoba menggaruk area tersebut di balik kaus katun longgarnya.

Bukannya mereda, garukan itu justru memicu sensasi lain yang membuat Sekar terlonjak. Panas. Kulit di punggung kanannya mendadak terasa seperti ditempeli plat besi panas yang baru diangkat dari perapian. Rasa bakarnya tidak membakar pakaiannya, melainkan menusuk lurus ke dalam, membakar saraf-saraf di dalam tubuhnya.

Didorong oleh rasa sakit yang kian menghebat, Sekar bergegas menuju kamar mandi. Dia mengunci pintu rapat-rapat. Dengan tangan yang gemetar menahan perih, dia menyibak kaus longgarnya ke atas dan memutar tubuhnya menghadap cermin gantung yang buram.

Mata Sekar membelalak.

Sejak lahir, Sekar memiliki sebuah tanda lahir di punggung kanan bawah belikat. Hanya sebuah bercak kecokelatan samar berbentuk oval berdiameter sekitar lima sentimeter, yang selama dua puluh dua tahun ini tidak pernah mengganggunya. Ibu selalu bilang itu hanya tanda lahir biasa, tanda bawaan rahim.

Namun apa yang dilihatnya di cermin hari ini sama sekali tidak biasa.

Warna tanda lahir itu telah berubah menjadi cokelat tua kehitaman, pekat dan kontras dengan kulit kuning langsatnya yang pucat. Dan yang paling mengerikan adalah teksturnya. Permukaan kulit di area tanda lahir itu tidak lagi halus. Kulitnya mengeras, menebal, dan terbelah menjadi fragmen-fragmen kecil yang tersusun rapi, tumpang tindih satu sama lain membentuk pola geometris yang sangat spesifik.

Tekstur sisik.

Sekar menyentuhnya dengan ujung jari telunjuk kirinya. Kulit itu terasa dingin, kasar, dan kaku—persis seperti menyentuh punggung reptil purba. Saat jemarinya menekan pelan, rasa gatal yang hebat kembali meledak dari dalam, disertai sensasi geli yang ganjil, seolah jaringan kulit baru itu sedang dipaksa tumbuh dan mekar dengan cara merobek jaringan kulit manusianya secara perlahan dari dalam.

"Enggak... ini enggak mungkin," bisik Sekar, suaranya bergetar hebat di dalam kamar mandi yang pengap.

Dia menyalakan keran, meraup air dingin, dan membasuh punggungnya dengan kasar. Dia berharap ini hanya halusinasi, atau mungkin reaksi alergi kosmetik yang parah. Namun, setiap kali air dingin menyentuh pola sisik itu, air tersebut seolah langsung menguap karena hawa panas yang memancar dari sana. Pola sisik itu justru tampak makin tegas, berkilau hitam samar di bawah cahaya lampu kamar mandi yang temaram.

Sesuatu yang gaib telah bangun di dalam tubuhnya. Sesuatu itu mulai bermanifestasi ke dunia fisik.

Pikiran Sekar langsung melayang pada bisikan misterius semalam: "Sabtu Kliwon-ku..." Apakah wujud sisik ini adalah tanda kepemilikan yang mulai dicapkan ke tubuhnya?

"Sekar? Kamu di dalam, Nduk?" Suara ketukan dari luar pintu kamar mandi mengejutkannya. Itu suara Ibu.

Sekar buru-buru menurunkan kausnya, merapikan rambutnya yang agak berantakan, lalu membuka pintu. Dia berusaha keras menyembunyikan ekspresi ketakutan di wajahnya.

Ibu berdiri di depan pintu dengan wajah yang tampak jauh lebih tua dan lelah dari usianya. Lingkar hitam di bawah mata Ibu menunjukkan bahwa wanita itu juga tidak tidur semalaman. Pandangan Ibu langsung menyapu tubuh Sekar, tajam dan penuh selidik, sebelum akhirnya tertuju pada punggung kanan Sekar yang sedikit membungkuk menahan perih.

"Kamu enggak apa-apa?" tanya Ibu, suaranya terdengar penuh kecurigaan.

"Enggak apa-apa, Bu. Cuma... punggung Sekar agak gatal," jawab Sekar jujur, berharap Ibu akan memberikan penjelasan atau setidaknya menunjukkan kepedulian yang menenangkan.

Mendengar kata 'gatal', raut wajah Ibu mendadak berubah drastis. Warna kulitnya perlahan memucat, dan cengkeraman tangannya pada kain daster yang dikenakannya mengencang. Ibu melangkah mundur satu tapak, menatap Sekar seolah-olah anak kandungnya sendiri telah berubah menjadi sosok yang asing dan berbahaya.

"Ibu... kenapa?" Sekar melangkah mendekat, namun Ibu justru makin mundur.

"Jangan digaruk," bisik Ibu dengan suara ketakutan yang tertahan. "Jangan sesekali kamu garuk sampai berdarah, Sekar. Biarkan saja. Kalau kamu lawan... dia akan marah."

"Siapa yang marah, Bu?! Apa yang sebenarnya terjadi sama Sekar?!" tuntut Sekar, air mata frustrasi mulai menetes di pipinya. Rasa sakit di punggungnya dan sikap misterius Ibunya membuat kewarasannya perlahan terkikis.

Namun, Ibu tidak menjawab. Wanita itu memalingkan wajah, berjalan cepat menuju dapur tanpa memedulikan tangisan putrinya, meninggalkan Sekar sendirian dalam badai kebingungan dan rasa perih yang kian membakar di punggungnya.

Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Sekar harus segera bersiap pergi ke kampus untuk menyelesaikan urusan tugas kuliahnya. Meskipun tubuhnya menolak, menetap di rumah tua yang pengap ini bersama Ibu yang mendadak menutup diri justru terasa jauh lebih menyiksa.

Sekar mengenakan kemeja berbahan tebal dan longgar untuk menutupi tanda lahirnya, serta jaket denim untuk memastikan tidak ada satu orang pun yang bisa melihat atau tidak sengaja menyenggol punggung kanannya. Sepanjang perjalanan di atas angkutan kota, rasa gatal itu terus berdenyut konstan, seolah-olah ada sesuatu di balik kulitnya yang sedang bernapas, ikut berdetak seirama dengan detak jantungnya sendiri.

Dia tidak pernah menduga, bahwa rasa perih di punggungnya itu bukan sekadar penyakit atau kutukan yang pasif.

Sesuatu yang bersarang di dalam tubuhnya itu memiliki kesadaran sendiri. Dan siang ini, di tengah keramaian koridor kampus yang bising, entitas itu akan menunjukkan taringnya untuk pertama kali kepada siapa pun yang berani mengusik ketenangan 'miliknya'.

Koridor gedung Fakultas Ilmu Budaya siang itu terhitung ramai. Suara derap sepatu bersahutan dengan riuh obrolan mahasiswa yang berkumpul di depan mading dan ruang administrasi. Namun bagi Sekar, seluruh keriuhan itu terasa seperti dengung lalat yang jauh. Fokusnya sepenuhnya terenggut oleh rasa panas yang kian menjalar dari punggung kanan, merambat naik ke pundak hingga ke pangkal lehernya.

Setiap kali dia melangkah, kain kemeja dan jaket denim yang dipakainya terasa seperti amplas kasar yang menggesek luka bakar terbuka. Sekar berjalan agak membungkuk, memeluk map berkasnya erat-erat ke dada, mencoba menahan ringisan agar tidak menarik perhatian orang.

"Sekar!"

Sebuah suara bariton yang terlampau akrab membuat langkah Sekar terhenti di dekat belokan menuju tangga darurat. Sekar memejamkan mata sesaat, merutuki nasib sialnya. Begitu dia berbalik, sosok Rian sudah berdiri di sana.

Rian adalah mahasiswa tingkat akhir dari fakultas sebelah yang sudah berbulan-bulan mengejar Sekar. Lelaki itu bertubuh jangkung, atletis, dan terkenal dengan tabiatnya yang bebal serta tidak suka menerima penolakan. Beberapa kali Sekar menolak ajakannya jalan secara halus hingga kasar, namun Rian selalu menganggapnya sebagai "jual mahal".

"Kebetulan banget ketemu di sini. Nomor telponku kenapa kamu blokir lagi sih, Kar?" Rian melangkah maju, langsung memotong jalur jalan Sekar. Wajahnya menampilkan senyum yang dipaksakan, namun matanya memancarkan ego yang terusik.

"Aku sibuk, Rian. Tolong minggir, aku harus ke ruang dekanat sekarang," jawab Sekar datar. Suaranya terdengar bergetar, bukan karena takut pada Rian, melainkan karena menahan gelombang rasa gatal dan panas di punggungnya yang mendadak berdenyut dua kali lebih cepat.

Deg. Deg. Deg.

Anehnya, bersamaan dengan kemunculan Rian, pola sisik di punggung Sekar bereaksi. Rasa gatalnya mendadak hilang, berganti dengan sensasi getaran halus yang dingin, seolah-olah sesuatu yang tertidur di dalam sana langsung menegakkan kepalanya, waspada.

"Sebentar dong, jangan buru-buru. Kita perlu ngomong," Rian menolak bergeser. Dia justru maju satu langkah lagi, mengikis jarak di antara mereka hingga Sekar bisa mencium bau parfum maskulin Rian yang menyengat. Bau yang entah kenapa membuat perut Sekar mendadak mual.

"Enggak ada yang perlu diomongin, Rian. Permisi." Sekar mencoba bergeser ke kanan, namun Rian bergerak cepat mengadang.

"Kar, kamu jangan keterlaluan ya!" Nada suara Rian meninggi, mulai tidak sabar karena merasa harga dirinya diinjak-injak di koridor yang mulai sepi itu. "Aku cuma mau ngajak ngomong baik-baik!"

Sebelum Sekar sempat menghindar, tangan kanan Rian terangkat. Dengan kasar dan posesif, Rian mencengkeram pundak kanan Sekar—tepat di atas batas di mana tanda lahir misterius itu merayap naik.

Detik itu juga, waktu seolah melambat.

Tepat saat kulit telapak tangan Rian menekan pundak Sekar, meskipun terhalang oleh dua lapis kain tebal—kemeja dan jaket denim—sebuah reaksi mengerikan terjadi. Sekar merasakan sensasi seperti ada aliran listrik bertegangan tinggi yang meledak dari punggungnya, menghantam tangan Rian.

Cessssssssss!

Suara daging yang dipanggang di atas bara api terdengar begitu nyaring di koridor sunyi itu.

"AAAKKKHHHHHHGGG!!!"

Rian menjerit histeris. Lengkingan suaranya begitu melengking, penuh dengan rasa sakit yang teramat sangat, hingga gema jeritan itu memantul di dinding-dinding koridor. Lelaki bertubuh besar itu langsung jatuh berlutut di lantai semen, memegangi pergelangan tangan kanannya yang mendadak gemetar hebat.

Sekar terperangah, melangkah mundur hingga punggungnya membentur loker besi. Dia menatap Rian dengan mata membelalak ketakutan.

Dari telapak tangan Rian yang digunakan untuk menyentuh Sekar, asap putih tipis mengepul ke udara. Bau hangus yang pekat—perpaduan antara kulit yang terbakar dan aroma anyir yang aneh—langsung memenuhi indra penciuman. Kulit telapak tangan Rian melepuh parah dalam hitungan detik. Kulitnya mengelupas merah kehitaman, membengkak, dan dipenuhi gelembung-gelembung air besar seolah-olah dia baru saja menggenggam besi cair yang membara.

"Panas! Panas banget! Tangan gua... tangan guaaa!" Rian mengerang, bergulingan di lantai koridor sambil memegangi tangannya yang hancur. Wajahnya pucat pasi, dibanjiri keringat dingin dan air mata menahan rasa sakit yang tak tertahankan.

Beberapa mahasiswa dan seorang dosen yang mendengar jeritan itu langsung berlari keluar dari ruangan terdekat.

"Ada apa ini?! Astaga, Rian! Kenapa tanganmu?!" tanya Pak Satrio, dosen administrasi yang mendapati Rian dalam kondisi mengenaskan.

"Dia... dia bawa sesuatu, Pak! Dia pakai apa di badannya?!" Rian menunjuk ke arah Sekar dengan tangan kirinya yang gemetar, matanya memancarkan horor yang murni. "Tangan saya melepuh pas megang dia! Panas... seperti dibakar api setan!"

Semua mata di koridor itu mendadak tertuju pada Sekar.

Sekar berdiri mematung. Kepalanya berputar gila. Dia menatap telapak tangannya sendiri, lalu meraba pundak kanannya. Jaket denim dan kemejanya sama sekali tidak robek, tidak terbakar, bahkan tidak terasa panas dari luar. Namun, tepat di balik kain itu, Sekar bisa merasakan dengan sangat jelas: pola sisik di punggungnya perlahan-lahan mereda, kembali tenang dan dingin, seolah-olah kepuasan yang ganjil baru saja mengalir di dalam aliran darahnya.

Sesuatu di dalam dirinya baru saja menyerang Rian. Bukan untuk menyakiti Sekar, melainkan untuk melindunginya. Sebuah perlindungan yang teramat posesif, agresif, dan mematikan.

"Sekar, apa yang terjadi?" Pak Satrio melangkah mendekati Sekar dengan tatapan penuh selidik dan kewaspadaan.

"S-saya... saya enggak tahu, Pak. Saya enggak melakukan apa-apa. Rian cuma... tiba-tiba teriak," bisik Sekar, suaranya nyaris hilang.

Tanpa menunggu pertanyaan lebih lanjut, didorong oleh rasa panik yang memuncak karena menjadi pusat perhatian, Sekar membalikkan badan. Dia berlari sekencang-kencangnya meninggalkan koridor, menghiraukan panggilan Pak Satrio dan jeritan Rian yang perlahan menjauh di belakangnya.

Dia terus berlari keluar dari gedung fakultas, menembus rintik hujan gerimis yang mulai turun membasahi bumi. Di bawah langit yang kian menggelap, Sekar mendekap dadanya yang naik-turun tidak beraturan.

Rasa gatal di punggungnya kini benar-benar lenyap, digantikan oleh sensasi hangat yang merayap naik, mengelus tengkuknya dengan lembut—persis seperti belaian tangan gaib yang tak kasat mata. Bersamaan dengan itu, wangi bunga kenanga kuno yang matang kembali menyeruak samar dari pori-pori kulitnya, bercampur dengan aroma tanah yang basah oleh hujan.

Sekar tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Entitas yang mengklaim dirinya pada malam Sabtu Kliwon itu tidak lagi bersembunyi di balik bayang-bayang kolong ranjang. Ia telah menyatu di dalam dagingnya, mengawasi setiap gerak-geriknya, dan siap menghancurkan siapa pun yang berani menyentuh apa yang telah menjadi 'miliknya'.

BAB 1: Aroma yang Salah

Matahari baru saja tergelincir sepenuhnya di ufuk barat, meninggalkan semburat merah keunguan yang tampak kotor di langit malam. Bagi sebagian besar orang, Jumat malam adalah gerbang menuju akhir pekan yang santai. Namun bagi Sekar, tiga puluh menit setelah azan Magrib berkumandang selalu menjadi waktu di mana atmosfer di sekitarnya mendadak berubah menjadi berat, dingin, dan... asing.

Kalender dinding di kamarnya menunjukkan angka yang dilingkari spidol merah: Jumat Wage. Dan malam ini, begitu jarum jam melewati angka dua belas, hari akan berganti menjadi Sabtu Kliwon.

Sekar duduk di tepi ranjangnya yang bermaterial kayu jati tua. Kamar berukuran empat kali empat meter itu terasa lebih sempit dari biasanya. Udara malam yang berembus dari celah ventilasi di atas jendela mendadak berhenti. Sepi yang datang bukan sepi yang menenangkan, melainkan keheningan yang mengintimidasi—seolah seluruh dunia sedang menahan napas, bersiap menyaksikan sesuatu yang ganjil.

"Kenapa harus malam ini lagi?" bisik Sekar pada kesunyian.

Dia mengangkat pergelangan tangan kirinya mendekat ke hidung. Detik itu juga, dadanya berdenyut agak nyeri. Bau sabun mandi aroma mawar yang dia gunakan satu jam lalu telah menguap tanpa bekas. Digantikan oleh sesuatu yang lain. Sesuatu yang muncul dari dalam pori-pori kulitnya sendiri.

Wangi itu sangat pekat. Harum bunga kenanga yang terlampau matang, hampir membusuk, berbaur dengan aroma tanah yang basah kuyup setelah diguyur hujan deras di area pemakaman tua. Itu bukan wangi parfum modern. Itu adalah aroma yang langsung memicu memori kolektif tentang kematian, kemenyan, dan ruang-ruang gelap yang tak tersentuh cahaya.

Setiap siklus Sabtu Kliwon datang, tubuh Sekar memproduksi aroma ini. Awalnya, beberapa bulan lalu, wangi itu hanya samar-samar. Namun malam ini, aromanya begitu tajam hingga membuat kepala Sekar agak pening. Celakanya, wangi ini tidak bisa disamarkan. Disemprot parfum semahal apa pun, bau kenanga mistis ini akan selalu dominan, seolah kulit Sekar menolak segala hal yang berbau duniawi.

Sekar berdiri, berjalan menuju cermin rias yang diletakkan di sudut kamar. Di bawah pendar lampu kamar yang agak temaram, dia menatap pantulan dirinya sendiri. Sekar adalah gadis berusia dua puluh dua tahun dengan paras yang terhitung manis, tipikal perempuan Jawa dengan rambut hitam legam sepinggang. Namun malam ini, dia merasa ada yang keliru dengan pantulannya.

Matanya tampak sedikit lebih sayu, namun bagian hitamnya—pupilnya—terlihat entah bagaimana seolah lebih pekat dan dalam.

Sret...

Sekar tersentak. Dia menoleh cepat ke arah jendela. Hanya suara daun pohon mangga di luar yang bergesekan karena angin yang mendadak berembus kencang. Sekar mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang mulai bertalu tidak beraturan.

Dia memutuskan untuk keluar kamar, mencari Ibunya. Setidaknya, suara televisi atau riuh rendah aktivitas Ibunya di dapur bisa mengikis rasa tidak nyaman yang terus merayap di tengkuknya.

Ketika Sekar membuka pintu kamar, aroma kenanga itu langsung menyeruak ke koridor rumah yang sepi. Rumah tua peninggalan almarhum ayahnya ini memang berarsitektur agak kuno, dengan langit-langit tinggi dan pilar-pilar kayu yang mulai menghitam dimakan usia.

Di ruang tengah, sang Ibu sedang duduk di atas tikar pandan, jemarinya sibuk memilah-milah sayuran untuk jualan besok pagi. Begitu langkah kaki Sekar mendekat, gerakan tangan Ibunya mendadak berhenti. Wanita paruh baya itu tidak langsung menengadah, melainkan menghirup udara di sekitarnya dengan cuping hidung yang kembang kempis.

"Nduk..." Suara Ibu terdengar parau, ada getaran halus yang ditahan di sana.

"Ya, Bu?" Sekar mengambil posisi duduk di dekat Ibunya.

Ibu menatap Sekar. Sorot matanya tidak memancarkan ketenangan seorang orang tua, melainkan ketakutan yang disembunyikan dengan sangat buruk. Mata Ibu tertuju pada leher dan lengan Sekar.

"Kamu... pakai wewangian apa lagi?" tanya Ibu, suaranya sengaja diredam, seolah takut ada kuping lain yang mendengar di dinding-dinding rumah mereka.

Sekar menggeleng lesu. "Sekar enggak pakai apa-apa, Bu. Seperti biasa. Wangi ini keluar sendiri sejak Magrib tadi."

Tangan Ibu yang memegang seikat kangkung perlahan gemetar. Dia meletakkan sayuran itu begitu saja. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Ibu berdiri, berjalan cepat menuju pintu depan, lalu memeriksa grendel kunci dan memastikan semua jendela rumah sudah terkunci rapat. Tindakan paranoid yang sudah Sekar hapal setiap kali malam Sabtu Kliwon tiba.

"Masuk kamar, Sekar. Jangan keluar lagi sampai besok pagi," perintah Ibu tanpa menatap mata putrinya.

"Tapi, Bu, kenapa tubuh Sekar selalu begini setiap—"

"Jangan banyak tanya!" potong Ibu dengan nada yang mendadak meninggi, tidak menyisakan ruang untuk perdebatan. "Masuk kamar. Kunci pintunya dari dalam. Kalau kamu dengar suara apa pun dari luar rumah, jangan sesekali membuka mata atau menjawabnya. Mengerti?"

Ketegangan di wajah Ibunya membuat Sekar tidak punya pilihan lain. Dia mengangguk pelan, lalu berdiri dan melangkah kembali ke kamarnya. Bau kenanga dari tubuhnya justru terasa makin mengental saat dia berjalan di koridor yang remang-remang.

Begitu masuk ke dalam kamar, Sekar langsung memutar kunci pintu dua kali. Dia menyandarkan punggungnya di daun pintu, memejamkan mata, dan mencoba mengatur napasnya. Keheningan kembali menyergap. Rumah ini mendadak terasa seperti peti mati yang kedap suara.

Jam dinding berdetak. Tik. Tok. Tik. Tok.

Waktu menunjukkan pukul 23.45. Lima belas menit lagi menuju Sabtu Kliwon yang sesungguhnya.

Sekar berjalan perlahan menuju ranjangnya. Dia berniat untuk segera tidur agar malam yang ganjil ini cepat berlalu. Namun, tepat saat kakinya baru saja naik ke atas kasur, suhu di dalam kamar anjlok drastis. Udara menjadi begitu dingin hingga embus napas Sekar membentuk kabut tipis yang samar.

Dan saat itulah, keheningan malam itu pecah oleh sebuah suara yang membuat seluruh bulu kuduk di tubuh Sekar berdiri tegak.

Ssssshhh... ssssssttt...

Suara desisan halus. Sangat dekat. Suara itu tidak berasal dari luar jendela, bukan juga dari balik pintu.

Suara desisan itu merayap tepat dari bawah ranjang tempat tidurnya.

Sekar membeku. Tubuhnya mendadak kaku seolah seluruh sendinya dikunci oleh udara dingin yang kian mencekam. Jantungnya berdentum begitu keras di rongga dada, menciptakan gema yang seakan berpacu dengan detak jam dinding.

Ssssshhh... ssssssttt...

Suara itu terdengar lagi. Gesekan sesuatu yang bersisik pada lantai semen di bawah ranjangnya. Suaranya pelan, ritmis, namun teramat jelas di tengah keheningan malam yang mati. Sesuatu yang berada di bawah sana seolah sedang bergerak melingkar, gelisah, atau mungkin... sedang mengendus aroma tubuh Sekar yang kian pekat memenuhi kamar.

Bau kenanga bercampur tanah basah itu kini terasa begitu menyesakkan dada, seolah mengundang entitas apa pun yang menyukai aroma kematian untuk datang mendekat.

Sekar menarik kedua kakinya ke atas kasur, memeluk lututnya erat-erat. Air mata dingin mulai menggenang di pelupuk matanya. Dia ingin berteriak memanggil Ibunya, namun tenggorokannya mendadak tercekat, kering layaknya padang pasir. Kata-kata Ibu kembali terngiang di kepalanya: “Kalau kamu dengar suara apa pun... jangan sesekali membuka mata atau menjawabnya.”

Namun, rasa ingin tahu manusia terkadang jauh lebih besar daripada rasa takutnya. Paranoia yang menyiksa justru mendorong Sekar untuk memastikan hal mengerikan apa yang sedang mengintai di bawah tempat tidurnya.

Secara perlahan, dengan gerakan seminim mungkin, Sekar bergeser ke tepi ranjang. Dia menundukkan kepala, membiarkan rambut hitamnya yang panjang menjuntai ke bawah. Jantungnya berdegup makin liar saat wajahnya kian dekat dengan celah gelap di bawah dipan kayu tersebut.

Keadaan di bawah sana teramat gelap. Gulita.

Sekar menyalakan senter dari ponselnya yang gemetar di genggaman. Dia mengarahkan seberkas cahaya putih itu ke kolong ranjang.

Kosong.

Tidak ada apa-apa di sana. Hanya lantai  berdebu dan beberapa kotak kardus tua yang tersusun rapi. Suara desisan yang tadi mendengung jelas di telinganya mendadak lenyap tanpa bekas, menyisakan kesunyian yang justru terasa jauh lebih mengintimidasi.

Sekar mengembuskan napas panjang yang gemetar, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanyalah halusinasi akibat stres. Namun, saat dia hendak menarik kembali kepalanya ke atas kasur, pandangannya tidak sengaja menangkap sesuatu di sudut kamar, tepat di dekat lemari pakaian kayunya yang usang.

Ada sesuatu yang tergeletak di atas lantai  yang dingin.

Sebuah objek kecil, hitam, dan memanjang.

Rasa penasaran kembali mencengkeramnya. Sekar turun dari ranjang dengan kaki telanjang. Begitu telapak kakinya menyentuh lantai, rasa dingin yang tidak wajar langsung menjalar hingga ke sumsum tulang, membuat tubuhnya menggigil hebat. Dia berjalan mengendap-endap, mengarahkan cahaya senter ponselnya ke arah objek tersebut.

Napas Sekar tercekat di tenggorokan.

Itu adalah seekor ular kecil. Panjangnya tidak lebih dari tiga puluh sentimeter, dengan sisik berwarna hitam legam yang tampak mengilat aneh di bawah terpaan cahaya senter, seolah dilapisi oleh minyak atau lendir yang tipis.

Ular itu mati. Tubuhnya kaku, melingkar membentuk pola yang ganjil mirip simbol kuno. Namun, ada dua hal yang membuat darah Sekar mendadak berdesir dingin hingga dia hampir menjatuhkan ponselnya.

Pertama, ular itu sama sekali tidak memiliki luka fisik. Tidak ada darah, tidak ada bekas hantaman benda tumpul, dan tidak ada tanda-tanda pembusukan. Ia tampak mati begitu saja, seolah nyawanya dicabut secara paksa dalam satu detik.

Kedua—dan ini yang paling mengerikan—kelopak mata ular itu terbuka. Sepasang matanya tidak berwarna hitam atau abu-abu layaknya reptil mati pada umumnya. Sepasang mata kecil itu berwarna merah darah yang menyala, pekat, dan seolah menatap lurus ke arah manik mata Sekar dengan tatapan yang penuh dengan kecerdasan... dan kedengkian.

Klek.

Bersamaan dengan itu, jarum jam dinding kamarnya tepat berdenting satu kali. Pukul 00.00. Hari telah resmi berganti menjadi Sabtu Kliwon.

Mendadak, hawa dingin di dalam kamar lenyap, digantikan oleh gelombang hawa hangat yang aneh, yang entah bagaimana terasa datang dari arah punggungnya. Bau bunga kenanga pembusukan yang tadi menguar dari tubuh Sekar mendadak mengendap, berubah menjadi wangi yang jauh lebih magis, lebih manis, dan... memikat.

Sekar mundur selangkah, matanya masih terpaku pada bangkai ular bermata merah itu. Pertanyaan-pertanyaan mengerikan mulai berputar gila di kepalanya. Dari mana ular ini masuk sedangkan seluruh celah rumah sudah dikunci rapat oleh Ibunya? Mengapa ia mati tepat di dalam kamarnya tanpa luka? Dan yang paling membuat bulu kuduknya meremang... apakah ular ini mati karena tidak kuat menahan aroma tubuhnya sendiri, ataukah ular ini hanyalah sebuah 'pesan' pembuka dari sesuatu yang jauh lebih besar dan mengerikan di luar sana?

Tiba-tiba, lampu kamar Sekar berkedip beberapa kali sebelum akhirnya padam total, menyisakan kegelapan pekat yang menelan segalanya. Di dalam kegelapan itu, Sekar bersumpah, dia sempat mendengar suara bisikan halus yang teramat dingin berembus tepat di daun telinga kanannya.

"Sabtu Kliwon-ku..."

Sekar menjerit pelan, menutup kedua telinganya, dan langsung melompat ke atas ranjang, menyembunyikan seluruh tubuhnya di balik selimut tebal sembari menangis dalam kegelapan. Di luar, angin malam Sabtu Kliwon mulai melolong panjang, seolah menyambut awal dari sebuah teror yang baru saja dimulai.

 

BAB 3: Undangan di Alam Mimpi

Kabar mengenai insiden mengerikan di koridor kampus menyebar secepat wabah yang mematikan. Meskipun pihak rektorat mencoba meredam isu tersebut dengan alasan Rian mengalami kecelakaan akibat kelalaian pribadi—terkena cairan kimia atau disfungsi gawai yang meledak—gosip di kalangan mahasiswa tidak bisa dibendung.

Mereka mulai berbisik-bisik setiap kali Sekar lewat. Tatapan mata mereka dipenuhi oleh kombinasi rasa curiga, ngeri, dan syak wasangka yang tebal. Sekar dipulangkan lebih awal demi menenangkan situasi.

Sore itu, rumah tua peninggalan ayahnya terasa jauh lebih mencekam daripada biasanya. Hujan gerimis yang mengguyur sejak siang tidak juga reda, meninggalkan bau tanah basah yang kini terasa mengintimidasi indra penciuman Sekar.

Di dalam kamarnya, Sekar duduk meringkuk di atas ranjang kayu jatinya. Kemeja tebal dan jaket denimnya sudah ditanggalkan, diganti dengan kaus katun putih yang longgar.

Punggung kanannya tidak lagi terasa panas membara, namun sensasi dingin yang kaku—seperti es batu yang ditempelkan langsung ke daging—masih tertinggal di sana. Tanda lahir bersisik itu seolah sedang beristirahat setelah mengonsumsi energi ketakutan dari Rian tadi siang.

Ibunya kembali mengurung diri di dapur. Tidak ada obrolan hangat. Suara denting pisau dan talenan dari arah belakang rumah terdengar ritmis, monoton, dan lambat, justru menciptakan atmosfer yang membuat kepala Sekar kian pening.

Rasa lelah yang teramat sangat, baik secara fisik maupun mental, perlahan-lahan mulai menjalar ke seluruh saraf tubuh Sekar. Kelopak matanya terasa seberat timah. Jam dinding baru menunjukkan pukul delapan malam, namun kegelapan di luar jendela kamarnya seolah merayap masuk secara paksa, memaksanya untuk menyerah pada rasa kantuk yang tidak wajar.

Sekar merebahkan tubuhnya dalam posisi terlentang. Dia menarik selimut tebalnya hingga ke batas dada, memejamkan mata, dan berharap bahwa esok hari semua kegilaan ini hanyalah mimpi buruk yang akan menguap begitu fajar tiba.

Dia tertidur. Namun, tidur kali ini tidak membawanya ke dalam kedamaian.

Klek.

Suara itu terdengar sangat lirih, namun entah bagaimana berhasil menembus lapisan ketidaksadaran Sekar.

Sekar membuka matanya. Hal pertama yang dia sadari adalah hawa dingin yang luar biasa ekstrem telah menyelimuti kamarnya. Kamar itu mendadak begitu gelap, jauh lebih gelap daripada malam paling kelam yang pernah dia lalui. Dia mencoba menggerakkan ujung jari tangan kirinya.

Gagal.

Jemarinya terasa beku, mati rasa, seolah-olah seluruh pasokan darah ke tangannya telah dihentikan. Sekar mencoba menarik napas dalam-dalam, namun paru-parunya menolak untuk mengembang. Ada tekanan tak kasat mata yang teramat berat mendarat tepat di atas dadanya. Beban itu begitu masif, seperti ada sebongkah batu hitam besar yang diletakkan di atas tulang rusuknya, menekannya hingga dia hampir tidak bisa menghirup udara.

Ketindihan. Sekar mendiagnosis kondisinya dengan panik yang mulai membubung. Sebagai mahasiswa, dia tahu penjelasan ilmiah tentang sleep paralysis—sebuah kondisi di mana otak sudah terbangun namun tubuh masih dalam fase tidur dalam (REM sleep).

Namun, penjelasan ilmiah itu langsung hancur berkeping-keping ketika Sekar menyadari bahwa indra pendengaran dan penciumannya berfungsi dengan ketajaman yang tidak normal.

Bau kenanga yang matang dan busuk kembali menyeruak, kali ini begitu pekat hingga membuat tenggorokannya terasa tersumbat. Dan dari sudut kamarnya yang gulita, keheningan itu mulai dikoyak oleh suara desisan yang teramat halus, disusul oleh suara gesekan kain sutra yang diseret di atas lantai semen.

Sreeet... sreeet... ssssshh...

Sekar mencoba menjerit. Dia mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk membuka mulut dan meneriakkan nama Ibunya. Namun, tidak ada suara yang keluar dari celah bibirnya. Hanya desis napas pendek yang tertahan di tenggorokan. Matanya melirik liar ke sekeliling ruangan, namun pandangannya perlahan-lahan mulai kabur, diselimuti oleh kabut hitam tebal yang mendadak muncul dari lantai kamarnya.

Kabut hitam itu bergerak lambat namun pasti, merayap naik ke atas ranjang, menyelimuti kakinya, badannya, hingga pandangan Sekar sepenuhnya tertutup oleh kegelapan yang absolut.

Ketika kabut itu perlahan menipis, Sekar menyadari dia tidak lagi berada di dalam kamarnya yang sempit.

Suhu udara merosot kian ekstrem. Sekar mendapati dirinya berdiri di atas lantai marmer hitam yang begitu licin dan mengilat, memantulkan bayangan dirinya dengan sangat jelas. Tempat itu adalah sebuah aula keraton kuno yang ukurannya teramat megah, luas tak bertepi, dengan pilar-pilar kayu jati raksasa berwarna hitam legam yang menjulang tinggi hingga menembus kegelapan di langit-langit bangunan.

Tidak ada dinding di tempat ini. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan kabut hitam pekat yang bergulung-gulung lambat di antara pilar-pilar raksasa tersebut, seolah-olah bangunan ini didirikan di tengah-tengah dimensi hampa udara yang terisolasi dari dunia luar.

Atmosfer di dalam aula ini begitu magis, agung, namun di saat yang sama memancarkan aura ancaman yang luar biasa intimidatif. Bau kemenyan bakar bercampur dengan wangi kenanga kuno memenuhi seluruh ruangan, menciptakan rasa pening yang mencekik di kepala Sekar.

Di sepanjang koridor aula, samar-samar Sekar bisa melihat siluet mahluk-mahluk yang berdiri diam di balik pilar. Mereka mengenakan pakaian prajurit keraton zaman dahulu, lengkap dengan tombak dan keris di pinggang. Namun, tubuh mereka terlalu kaku untuk ukuran manusia, dan dari balik kegelapan kabut, Sekar bisa melihat ekor panjang bersisik yang merayap lambat di lantai dari balik kain jarik yang mereka kenakan.

Mereka bukan manusia. Mereka adalah barisan mahluk halus yang menjaga tempat ini.

Langkah kaki Sekar seolah digerakkan oleh kekuatan tak kasat mata. Tubuhnya berjalan maju secara otomatis, melintasi karpet merah beludru panjang yang membentang di tengah aula, menuju ke ujung ruangan di mana sebuah singgasana kayu berukir naga dan ular raksasa berdiri dengan megahnya.

Di atas singgasana itu, duduk seorang pria.

Langkah kaki Sekar terhenti tepat beberapa meter di depan undakan singgasana. Kabut hitam yang tadinya menyelimuti ujung aula perlahan menyusut, mengendap di lantai seolah tunduk pada sosok yang duduk di atas kursi megah tersebut.

Pria itu duduk dengan posisi santai, namun posturnya memancarkan otoritas yang mutlak dan tak terbantahkan. Dia mengenakan pakaian kebesaran bangsawan Jawa kuno berwarna hitam pekat, dengan sulaman benang emas berbentuk sulur-sulur tanaman malam di sepanjang kerah dan lengannya. Dodot atau kain jarik yang dikenakannya bermotif parang rusak berukuran besar, namun warnanya kelabu gelap seperti abu jenazah.

Wajah pria itu... luar biasa tampan.

Parasnya memiliki simetri yang teramat sempurna untuk ukuran manusia. Kulitnya putih pucat dengan rahang yang tegas, kontras dengan rambut hitam legamnya yang panjang dibiarkan terurai sebagian ke bahu. Di atas kepalanya, sebuah mahkota emas kuno berbentuk kepala naga melingkar dengan anggun, bertatahkan batu permata merah yang memantulkan pendar cahaya suram.

Namun, ketampanan itu tidak memberikan rasa aman sedikit pun bagi Sekar. Ketampanan pria itu terasa dingin, statis, dan mematikan—seperti melihat patung marmer indah yang dipahat untuk diletakkan di atas sebuah makam raja.

Saat pria itu perlahan mengangkat wajahnya, jantung Sekar terasa berhenti berdetak.

Sepasang mata pria itu menatap lurus ke arah Sekar. Sepasang mata yang tidak memiliki bagian putih layaknya mata manusia biasa. Seluruh bola matanya berwarna kuning keemasan yang redup, dengan pupil bermanik vertikal tajam—persis seperti sepasang mata ular raksasa yang sedang mengunci mangsanya di tengah kegelapan semak. Tatapan itu begitu tajam, menguliti seluruh isi pikiran Sekar, meninggalkannya dalam kondisi telanjang dan tak berdaya.

Pria itu tersenyum tipis. Sudut bibirnya terangkat, menampilkan deretan gigi yang teramat rapi, namun ada kilatan taring yang samar di balik celah bibirnya.

"Kau datang juga, Cah Ayu..." Suara pria itu bergema di dalam aula keraton.

Suaranya tidak menggelegar, melainkan berupa bisikan bariton yang teramat lembut, halus seperti beludru, namun entah bagaimana getarannya merambat langsung ke dalam rongga dada Sekar, memicu detak jantungnya untuk berpacu liar. Suara itu terasa begitu memikat, seolah memiliki daya hipnotis yang memaksa Sekar untuk tunduk dan berlutut di hadapannya.

Sekar mencoba melangkah mundur, namun kedua kakinya seolah telah melekat kuat pada lantai marmer hitam. Dia terperangkap dalam pesona yang mengerikan.

Pria itu bangkit berdiri dari singgasananya. Gerakannya teramat luwes, hampir tanpa suara, seolah dia tidak berjalan melainkan melayang di atas kabut hitam yang menyelimuti undakan. Dia melangkah turun, mendekati Sekar yang gemetar hebat. Setiap kali kaki pria itu menginjak lantai, aroma kenanga dan tanah kuburan di dalam aula meledak kian pekat, menyiksa indra penciuman Sekar hingga kepalanya pening.

Kini, jarak mereka hanya tersisa satu jengkal. Sekar bisa merasakan hawa dingin yang luar biasa kuat memancar dari tubuh pria rupawan di hadapannya.

Tangan pria itu terangkat. Jemarinya panjang, dengan kuku-kuku yang sedikit meruncing dan berkilau gelap. Dengan gerakan yang teramat lembut, seolah sedang menyentuh barang pecah belah yang sangat berharga, ujung jari pria itu mengelus pipi pucat Sekar. Sentuhan itu terasa sedingin es, mengirimkan sensasi kejut yang membuat seluruh bulu kuduk Sekar berdiri tegak.

"Lama sekali aku menunggumu di sini," bisik pria itu lagi, wajahnya mendekat ke telinga Sekar. Napasnya tidak hangat, melainkan berupa embusan angin es yang berbau harum bunga kenanga kuno. "Tempatmu bukan di dunia yang fana dan kotor itu. Di sini... bersamaku... kau adalah segalanya."

"S-siapa... kamu?" Sekar akhirnya berhasil meloloskan satu pertanyaan dari tenggorokannya yang tercekat, suaranya parau dan bergetar hebat.

Pria itu terkekeh pelan, sebuah suara tawa yang terdengar dingin dan bergema janggal. Manik mata vertikalnya melebar, menatap lurus ke dalam pupil mata Sekar dengan kedalaman horor yang murni.

"Aku adalah pemilik janjimu. Aku adalah pelindungmu. Panggil aku... Kalingga."

Tangan Kalingga beralih dari pipi Sekar, merayap turun ke leher, lalu berputar menuju pundak kanan Sekar—tepat di atas tanda lahir bersisik yang dimilikinya. Begitu telapak tangan Kalingga menempel di sana, tanda lahir di punggung Sekar mendadak berdenyut sangat kencang, memancarkan rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya, meruntuhkan seluruh pertahanan psikologis yang Sekar miliki.

"Kembalilah pulang, Cah Ayu... Waktumu sudah hampir tiba. Sabtu Kliwon-ku..."

Kalingga mencengkeram pundak Sekar sedikit lebih erat. Bersamaan dengan itu, wajah tampan Kalingga perlahan mulai bergetar. Kulit putih pucatnya mulai retak-retak, mengelupas menyedihkan, menampilkan lapisan sisik hitam legam di bawahnya. Rahangnya melebar secara tidak wajar, memanjang, dan sepasang mata kuningnya menyala benderang di tengah kegelapan aula yang mendadak runtuh.

Sekar berteriak histeris—

"AHHH!!!"

Sekar terlonjak tegak di atas ranjangnya. Napasnya memburu hebat, memutus keheningan kamarnya yang gelap. Dadanya naik-turun dengan cepat, mencoba meraup oksigen sebanyak-banyaknya seolah dia baru saja tenggelam di dasar laut yang dalam.

Dia menoleh ke sekeliling dengan panik. Kamarnya yang berukuran empat kali empat meter kembali terlihat. Cahaya fajar yang abu-abu samar merayap masuk melalui celah ventilasi jendela. Jam dinding menunjukkan pukul 05.15 pagi.

Itu hanya mimpi. Sebuah sleep paralysis yang teramat nyata.

Namun, saat Sekar mencoba menurunkan kakinya dari tempat tidur, tubuhnya mendadak bergidik hebat. Dia merasakan sesuatu yang basah dan tidak nyaman menempel di kulit punggung dan pahanya.

Sekar menarik selimut tebal yang semalaman membungkus tubuhnya.

Jantungnya seolah copot dari tempatnya. Selimut katun tebal itu tidak lagi hangat. Seluruh permukaan bagian dalam selimut itu... terasa sangat dingin, lembap, dan basah kuyup, seolah-olah selimut itu baru saja direndam di dalam air sumur tua atau sumur pemakaman yang gelap. Dan ketika Sekar mengangkat selimut itu mendekati wajahnya, bau yang menyeruak bukan lagi bau sisa keringat tidurnya.

Itu adalah wangi kemenyan bakar dan harum bunga kenanga yang teramat pekat—aroma yang persis sama dengan yang dihirupnya di aula keraton milik Kalingga beberapa menit lalu.

Teror itu tidak tinggal di dalam mimpi. Undangan itu nyata, dan Kalingga telah meninggalkan jejak kehadirannya di atas ranjang Sekar sebagai pengingat bahwa pelarian apa pun yang dicoba Sekar... akan sia-sia.

 

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!