Kamis, 26 Februari 2020.
Di sebuah kota kecil yang berada di sebuah kabupaten yang terletak di jawa.
Seorang gadis dengan rambut panjang di gerai memakai cardigan rajut warna cokelat tengah duduk di kamar nya sambil melipat - lipat pakaian nya. Wajah nya sedih dan sesekali dia menghapus air matanya sambil memasukan pakaian yang di lipat nya tadi kedalam koper.
"Hiks! hiks!" Isak nya pelan.
Tak lama kemudian masuklah seorang laki yang di perkirakan berusia sekitar 48 tahunan, laki - laki itu menghampiri gadis yang sedang menangis tadi lalu mengusap kepala nya.
"Maafin ayah ya, dek." Ucap nya pada gadis yang sedang menangis itu.
"Aku mau ikut ibu sama mbak, yah.." Ucap gadis itu, wajah nya sembab dan menatap ayah nya dengan mata yang berlinang.
Mendengar ucapan anak perempuan nya, sang ayah terlihat sedih tapi masih menunjukan senyum kecil nya sambil mengusap kepala putrinya dengan lembut lalu memeluk nya.
"Kalo kamu ikut sama ibu.. ayah sama siapa, Kara?" Ucap nya, air matanya menetes..
Mendengar ayah nya menangis.. gadis yang di panggil Kara itu kemudian mendongak menatap ayah nya, itu adalah kali pertama gadis bernama Kara itu melihat ayah nya menangis sampai sesenggukan.
"Ayah ndak mau kamu pergi, nduk.. kamu ndak sayang ayah?''
Kara Nareswari, atau lebih akrab di panggil dengan Kara.. adalah gadis berusia 17 tahun yang tinggal di pusat kota kecil di sebuah kabupaten di Jawa. Dia memiliki ayah bernama Narendra, yaitu laki - laki yang sedang menangis sesenggukan tadi dan memiliki ibu bernama Hesti juga seorang kakak perempuan bernama Kayra, sementara Kara sendiri adalah anak kedua sekaligus bungsu.
Kara tidak pernah membayangkan sama sekali kehidupan ideal nya bersama keluarga nya berakhir berantakan, Kara pikir keluarganya adalah keluarga yang sangat hangat dan bahagia selama ini, tapi ternyata ada luka yang tidak pernah Kara tau yang memang sudah menghantui keluarga nya, sejak dulu..
Ibunya, Hesti.. sudah berselingkuh dari ayah nya Kara sudah sejak Kara kecil bahkan sejak Kara masih berusia 2 tahun. Tapi ayah Kara tidak mau menceraikan ibunya Kara karena memikirkan nasib anak - anak nya dan tidak mau kalau sampai nanti anak - anak mereka menjadi kekurangan kasih sayang.
Akhirnya selama belasan tahun itu ibu dan ayah nya Kara masih bertahan tinggal satu atap dan membesarkan anak - anak mereka sampai cukup dewasa, dalam catatan.. setelah Kara sudah berusia setidak nya 15 tahun.. baru ayah nya Kara akan setuju untuk bercerai dengan ibunya Kara..
"Ayah sudah berusaha agar ibumu ndak pergi, tapi ibumu tetap dengan keinginan nya.. sekarang kamu juga mau meninggalkan ayah?" Tanya ayah nya Kara masih di posisi yang sama.
Seharus nya mereka sudah bercerai dua tahun yang lalu saat Kara berusia 15 tahun sesuai perjanjian, tapi ayah Kara yang memang sangat mencintai istri nya itu terus mengundur dan tak kunjung mau mengurus surat perceraian mereka sampai dua tahun lama nya. Dan akhir nya.. baru lah sebulan yang lalu setelah Kara merayakan ulang tahun nya yang ke 17 tahun.. ibu nya melayangkan gugatan cerai dan akhir nya mereka resmi bercerai.
"Ayah.." Gumam Kara, dia lalu memeluk pinggang ayah nya sambil menangis.
"Jangan pergi ya.. kalo kamu pergi ayah sama siapa.." Lagi dan lagi ayah nya mengucapkan hal yang sama.
Tapi kali ini akhir nya Kara pun luluh dan dia mengangguk.. Kara berpikir meski memang dia sangat menyayangi ibunya dan ingin tinggal bersama ibu dan kakak nya tapi Kara juga sangat menyayangi ayah nya, melihat ayah nya yang sampai menangis sesenggukan itu.. Kara ikut sakit melihat nya.
Tapi.. yang Kara tidak tahu, saat dia memeluk pinggang ayah nya, tangan kanan ayah nya yang semula sedang mengusap kepala nya itu tiba - tiba mengambil sesuatu dari saku depan baju nya dan membuka nya.. dia memegang belati lipat kecil warna perak dan membuka belati itu, terlihatlah ujung belati yang terlihat ada corak merah seperti noda darah yang sudah mengering tapi belum terlalu kering.
Ayah Kara angkat tangan kanan nya yang sedang memegang belati itu seolah siap menikam Kara yang sedang memeluk pinggan nya, sampai..
"Kara tinggal sama ayah saja." Ucap Kara, barulah gerakan ayah Kara itu terhenyak seketika setelah mendengar ucapan putrinya.
"Kara ndak akan pergi ikut ibu, yah.." Ucap Kara, ayah Kara yang semula siap menikam Kara itu kemudian melipat kembali belati perak nya yang semula sudah siap dia layangkan untuk menikam Kara.
Kara mendongak menatap ayah nya sambil menghapus air matanya dan kemudian tersenyum, ayah nya pun tersenyum dna menyembunyikan belati nya ke belakang tubuh nya. Kara yang tidak tahu apapun hanya tersenyum saja, dia tidak tahu bahwa jawaban dan keputusan nya tadi itu telah menyelamatkan nyawa nya dari belati sang ayah.
"Janji ya, dek.. kamu ndak bohongin ayah, kan?" Ucap ayah Kara, Kara pun mengangguk.
AYah nya akhir nya kembali memeluk Kara sambil menangis bahagia, kali ini dia tidak mengeluarkan lagi belati di tangan nya dan memeluk Kara dengan penuh kasih sayang sambil mengecup pucuk kepala Kara berulang kali.
"Ayah sayang sekali sama Kara." Ucap ayah nya.. Kara mengangguk - angguk.
"Lanjutkan beberes nya ya, besok kita pindah dari sini." Ucap ayah Kara, dan lagi - lagi Kara pun mengangguk.
Setelah mengucapkan itu, ayah Kara kemudian berjalan keluar dari kamar Kara, sebelum benar - benar keluar.. ayah Kara sempat berbalik badan dan menatap putrinya itu sambil tersenyum. Sementara Kara, akhir nya dia kembali membereskan barang - barang nya dan di masukan nya kedalam koper.
Rencana nya memang besok dia dan ayah nya akan pindah dari rumah itu, itu di lakukan karena ayah nya tidak mau berlarut - larut sedih karena perceraian nya dengan ibunya Kara. Rumah itu memuat terlalu banyak kenangan dan harapan ayah nya selama belasan tahun berjuang agar bisa merubah pikiran ibunya Kara supaya tidak jadi bercerai.
Tapi usaha ayah Kara tidak berhasil karena bahkan setelah belasan tahun lama nya mereka menjalani pernikahan dingin tanpa cinta tapi harus selalu terlihat baik - baik saja di hadapan anak anak mereka itu.. ibunya Kara tetap memilih pergi.
KE ESOKAN HARINYA.
"Total kasus positif corona sembilan belas terus meningkat mejadi lebih banyak, pemerintah menghimbau warga untuk tidak keluar rumah tanpa menggunakan masker.."
[Suara berita di tv]
"SLUUURP!!"
''Ahh!" Ayah Kara baru saja menyeruput kopi paginya sambil melihat berita di tv.
"Ayah, ngomong - ngomong kita mau pindah kemana?" Tanya Kara, Kara baru saja datang sambil membawa ransel nya yang sudah dia isi dengan beberapa elektronik nya.
"Coba Kara tebak?" Ucap ayah nya, wajah ayah nya terlihat sudah sumringah dan tidak sedih seperti semalam.
"Ke Jakarta?" Tanya Kara dengan wajah berbinar..
"Kara mau ke Jakarta?" Tanya ayah nya balik, sambil kembali menyesap kopinya.
"Pengen tapi di sana lagi banyak orang yang meninggal." Ucap Kara, ayah nya terkekeh..
"Kalo mau ke Jakarta, nanti kita kesana juga boleh. Tapi..." Ucap ayah nya menggantung, Kara pun penasaran.
"Tapi apa, yah?" Tanya Kara.
"Ya kalo pandemi ini sudah berakhir, nanti kita pindah kesana sekalian supaya kamu bisa kuliah di universitas yang bagus dan ternama." Ucap ayah nya, mendengar itu Kara tentu tersenyum lebar..
"Horee.. janji ya, ayah?!" Ucap Kara, ayah nya terkekeh sambil mengangguk.
"Iya.. iya.. ayah janji." Ucap ayah Kara, Kara pun makin semangat lagi.. tapi sesaat kemudian dia pun kembali teringat dengan pertanyaan utamanya.
"Jadi kita mau pindah kemana?" Tanya Kara, barulah ayah nya Kara itu menatap Kara sambil meletakan cangkir kopinya di meja sambil lalu menjawab..
"Ke rumah almarhum kakek." Jawab ayah nya..
BERSAMBUNG!
Kara sudah memasukan semua barang - barang bawaan nya kedalam jok tengah mobil sedan warna hitam milik ayah nya. Sebenar nya rumah Kara yang itu juga merupakan rumah besar yang tergolong mewah dengan rumah utama dua lantai dan satu bangunan kecil terpisah yang merupakan tempat tinggal pekerja nya. Rumah itu berada di komplek perumahan, ayah nya bahkan memiliki seorang pembantu yang sudah bekerja di sana sejak Kara kecil dan kini pembantunya itu terpaksa harus di berhentikan.
Kara memandangi rumah nya yang penuh dengan kenangan bersama keluarga nya itu, suara tawanya dengan sang kakak, suara ribut pertengkaran nya dengan sang kakak, dan semua kilasan - kilasan kenangan indah nya bersama keluarga nya saat itu memutar di kepala Kara, membuat Kara sedih..
"Hati - hati di jalan ya, dek.. semoga kamu betah di rumah barumu nanti." Ucap pembantu rumah tangga nya yang biasa Kara panggil bude.
Kara menatap perempuan yang umur nya sudah tidak muda lagi itu, yang sudah menjaga dan merawat dia dan kakak nya sejak mereka kecil.. Kara lalu memeluk bude sambil sedih karena pada akhir nya dia dan bude juga akhir nya harus berpisah karena bude tidak bisa ikut dengan Kara.
"Makasih ya bude.. udah jagain aku sama kakak sejak kecil, semoga bude juga dapet majikan baru yang lebih baik lagi nanti nya." Ucap Kara sambil memeluk bude.
"Aaminn.. adek jaga diri baik - baik ya.. ndak boleh tinggalin sholat, jangan lupa juga mengaji." Ucap bude, Kara mengangguk sambil tersenyum tappi sambil berkaca - kaca juga.
"Bude, ini gaji terakhirmu sama bonus nya. Terimakasih ya sudah bersama keluarga kami sejak dulu, bude sangat berjasa buat kami." Ucap ayah Kara, bude hanya bisa mengangguk - angguk dengan sopan.
"Terimaksih, pak." Ucap bude, ayah Kara tersenyum.
"Titip rumah ini ya, nanti kalau ada pembeli kabari saya." Ucap ayah Kara, bude mengangguk.
"Iya, pak. Hati - hati di jalan pak, semoga selamat sampai tujuan." Ucap bude, ayah Kara manggut - manggut.
"Ayo, nduk.. masuk mobil." Ucap ayah Kara, Kara mengangguk.
"Pergi ya, bude.." Ucap Kara, bude mengangguk sambil tersenyum.
"Iya, hati - hati di jalan dek." Jawab bude.
Kara kemudian masuk kedalam mobil sedan hitam ayah nya, dia duduk di depan di samping kemudi karena ayah nya sendiri yang akan mengemudikan mobil itu. Tak lama mobil pun pergi dari sana.. meninggalkan bude yang hanya bisa menatap sedih atas kepindahan majikan nya.
Bude berbalik menatap kebelakang.. ke rumah itu, rumah yang sudah menjadi tempat nya bekerja selama puluhan tahun. Tidak dia sangka juga pada akhir nya kedua majikan nya itu akhir nya bercerai dan rumah itu pada akhir nya di tinggalkan, bude sangat menyayangkan atas perjuangan majikan laki - laki nya yang sama sekali tidak mendapat hasil.
Saat bude mengedarkan pandangan nya ke setiap sudut rumah itu, tiba - tiba dia menyipitkan matanya saat dia melihat ke jendela pojok rumah yang merupakan jendela kamar majikan nya, bude melihat seperti ada seorang perempuan yang sedang menatap nya.
"Heh! Sopo kui, kok iso ada orang di dalam!" Gumam bude, dia hendak masuk tapi tidak bisa karena kunci rumah utama nya di bawa oleh ayah Kara.
Sekedipan mata bude berpaling, saat itu juga perempuan yang bude lihat itu hilang, Bude sampai berjalan menghampiri kaca jendela kamar majikan nya untuk memastikan, tapi tidak ada siapapun di dalam sana yang terlihat selain barang - barang majikan nya yang sudah di tutup kain - kain putih..
"Salah lihat, aku." Gumam bude, dan akhir nya dia pun pergi dari sana.
Kembali ke sisi Kara..
Karena saat itu pandemi sedang merajalela dan sedang sangat parah sampai semua pemberitaan terus meng update kasus kematian yang tak henti - hentinya.. jalanan pun menjadi sepi. Pusat kota yang biasanya ramai di lalui oleh banyak orang itu kini tidak banyak yang lewat dan hampir jarang, sekilas kota itu seperti kota yang mati.
Kara menatap keluar jalanan, sepanjang jalanan yang dia kenali tentu akan menjadi kenangan.. mobil terus melaju pergi sampai akhir nya jauh dan Kara tidak lagi bisa mengenali jalanan di sana.. yang jelas mobil ayahnya melaju meninggalkan pusat kota.
"Tidur aja, dek.. nanti kalo sudah sampai ayah bangunin." Ucap ayah nya, Kara hanya berdehem..
"Hmm.." Jawab Kara, karena memang dia mengantuk.
Mobil membelah jalanan yang makin sepi, jalur yang di tempuh adalah jalur menuju ke daerah pegunungan dengan jalan yang berkelok dan di samping kanan dan kiri jalan itu adalah hamparan pepohonan. Sampai akhir nya mobil itu kemudian mobil itu memasuki pedesaan.
Kara terbangun karena mobil ayah nya tanpa sengaja menginjak lubang yang lumayan besar sampai guncangan nya membuat Kara terbangun. Dan saat Kara bangun itulah dia terkejut karena dia melihat tempat yang asing yang sepertinya tidak pernah dia datangi, dan juga kebetulan di sana sedang turun hujan yang deras.
"Kebangun ya, dek. Maaf ya, ayah ndak lihat ada lubang karena ketutup air hujan." Ucap ayah nya, masih sambil fokus menyetir dan memperhatikan jalan dengan seksama.
"Ini dimana, yah?" Tanya Kara, karena dia melihat ada beberapa orang yang menatap ke arah mobil nya dengan tatapan kebingungan dan juga seperti tatapan penuh kecurigaan.
"Kita hampir sampai di rumah kakek, dek.." Jawab ayah nya, Kara kembali melihat ke sekeliling nya..
"Kamu ndak akan kenal tempat iki soalnya kamu ndak pernah kesini, ayah bahkan juga ndak pernah pulang kesini setelah ayah menikah sama ibumu." Ucap ayah Kara..
"Rumah kakek ada yang jagain, jadi semoga saja masih bisa kita tinggali." Ucap ayah Kara lagi..
Saat ayah nya sedang menjelaskan, di saat bersamaan juga Kara sedang memperhatikan rumah - rumah yang dia lihat sepanjang jalan itu.. Rumah - rumah di sana masih menggunakan modelan rumah jadul dengan teras rumah yang memiliki beberapa anak tangga sebelum akhir nya naik ke tersas, dan rumah - rumah itu memiliki atap yang pendek.
Kara merasa sepertinya rumah - rumah itu terlihat nyaman karena meskipun kecil tapi terlihat sangat asri apalagi di beberapa rumah itu ada juga yang di tanami tanaman bunga - bunga dan tanaman hias hijau di sepanjang anak tangga teras rumah itu.
"Oiya, kamu mungkin akan sedikit kesulitan bersosialisasi, nduk." Ucap ayah Kara, Kara menoleh kearah ayah nya..
"Kenapa, yah?" Tanya Kara.
"Karena orang - orang di sini bicara menggunakan bahasa Sunda." Ucap ayah Kara.
"Tapi ndak apa - apa, nanti ayah ajari sedikit demi sedikit supaya kamu bisa." Imbuh ayah nya, senyum Kara pun terbit mendengar itu.
Dan kemudian mobil pun semakin masuk kedalam sampai akhir nya mereka tiba di depan sebuah rumah yang tampak sangat tua dan besar.
"Ini rumah siapa, yah?" Tanya Kara pada ayah nya, karena rumah itu lain dengan rumah - rumah sebelum nya yang dia lewati tadi.
"Inilah, rumah masa kecil ayah.. rumah kakek."
BERSAMBUNG!
Beberapa kali ayah Kara membunyikan klakson mobil nya tapi tidak ada yang membuka kan pintu, akhir nya ayah Kara mengambil payung lipat dari selokan pintu mobil dan dia keluar dari mobil untuk membuka gerbang rumah itu yang ternyata tidak di gembok.
Ayah Kara membuka lebar - lebar kedua gerbang tua itu dan Kara hanya bisa memperhatikan dari dalam mobil sambil merasa ngeri dengan penampakan rumah kakek nya yang menurut nya begitu seram. Rumah tua modelan jengki membentuk later L tapi di satu sisi nya berlantai dua dengan jendela - jendela kayu lawas.
"BRAK!"
Ayah Kara kembali masuk kedalam mobil sambil menggumam menggerutu karena pekerja yang seharus nya datang menjemput mereka ternyata tidak masuk karena sedang sakit.
"Kenapa, yah?" Tanya Kara, ayah nya hanya tersenyum saja sambil menggeleng.
Kara tau, jika ayah nya sudah begitu itu artinya ayah nya sedang kesal.. Kara pun diam akhir nya dan kemudian masuk ke dalam halaman rumah itu dan menuju ke teras rumah. Untung nya garasi samping rumah itu memiliki atap, jadi Kara bisa turun tanpa kehujanan, sementara ayah Kara.. akhir nya kembali menutup sendiri gerbang utama tadi.
Kara berinisiatif untuk menurunkan semua barang - barang bawaan nya, mula nya dia menurunkan semua barang nya dan ayah nya yang ada di jok belakang satu persatu dan dia letak kan di teras rumah.. setelah yang di jok belakang itu habis, Kara pun memutar ke belakang mobil dan berniat membuka pintu bagasi mobil untuk melihat barang kali ada koper milik ayah nya di sana.
Tapi pada saat Kara baru saja hendak membuka pintu bagasi itu, ayah nya datang dan menahan pintu bagasi nya sampai kembali menutup dengan keras dan membuat Kara terkejut.
''Brak!"
"Eh! Ayah ih ngagetin." Kara sampai mengusap dada nya.
"Mau ngapain, kamu jangan angkat barang - barang berat lho dek, di bagasi sudah ndak ada barang lagi." Ucap ayah nya, dan menghalangi bagian beakang mobil dengan badan nya.
"Oo.. ya udah aku bawa yang punyaku aja." Ucap Kara, dan akhir nya dia pergi sambil menggendong tas nya ke arah pintu masuk rumah.
Kara sempat menoleh ke belakang dan dia masih melihat ayah nya yang masih berdiri di belakang mobil nya sambil memperhatikan Kara, Kara merasa aneh dengan ayah nya yang seperti bukan ayah nya.. tapi Kara kemudian menggelengkan kepalanya untuk menepis prasangka nya sendiri.
"Mikir apa aku ini.." Gumam nya.
Saat kara sudah di depan pintu rumah, Kara kemudian membuka pintu yang yang rupanya tidak di kunci, Kara pelan - pelan mendorong pintu rumah itu dan kemudian terlihat lah ruangan di dalam nya, ruangan bernuansa klasik yang masih benar - benar peninggalan tangan pertama, atau bisa di bilang itu sama sekali belum pernah di renovasi.
"Assalamualaikum." Salam Kara, ia lalu masuk dan meletakan ransel nya di kursi,
Rapih memang, tidak ada debu sama sekali seolah rumah itu sangat terawat.. hanya saja Kara merasa justru rumah itu seram, tidak tahu kenapa..
"Langsung naik ke atas aja dek, di atas ada kamar ayah yang sebelah kiri nya tangga persis." Ucap ayah nya, sambil masuk membawa barang - barang bawaan mereka.
"Kita cuma berdua, yah?" Tanya Kara sambil melihat - lihat keseluruhan rumah itu.
"Untuk sekarang iya, seharus nya ada mang Jupri sama istrinya yang jaga rumah ini, tapi mereka ndak bisa datang untuk sekarang.. mang Juprinya sakit." Ucap ayah Kara, Kara pun manggut - manggut.
"JELEDERR!!"
"HUAaa!!" Kara kaget karena mendengar suara petir yang begitu kuat sampai dia lompat dari duduk nya dan memeluk ayah nya.
"Cuma petir, dek.." Ayah nya terkekeh melihat Kara yang ketakutan, Kara memang sangat takut dengan suara petir sejak kecil.
"Takuutt, yahh.." Rengek Kara, ayah nya makin terkekeh.
"Sudah sana naik, istirahat di kamar.." Ucap ayah nya, akhir nya Kara mengangguk.
Tapi, sebelum Kara melepas tangan nya dari lengan sang ayah.. Kara melihat lengan ayah nya memiliki luka baret memanjang yang terlihat memanjang, seperti ayah Kara baru saja terbaret sesuatu. Melihat Kara yang memperhatikan lengan nya.. ayah Kara lalu menutup lengan nya dengan tangan kanan nya, luka itu berada di tangan kiri.
"Tangan ayah kebaret apa?" Tanya Kara dengan wajah bertanya - tanya dan khawatir.
"Ndak kebaret apa - apa, iki ndak sengaja kena besi gerbang tadi. Sana naik, nanti ayah tinggal di kamar yang tepat di depan kamar kamu." Ucap ayah nya lembut sambil mengusap kepala Kara, dan akhir nya Kara mengangguk dan pergi.
Kara pun pergi menaiki tangga yang menuju kelantai 2 dimana kamar yang akan dia tempati berada, tangga rumah itu juga menggunakan kayu dan melingkar, mengingat rumah itu adalah rumah jaman dulu. Setiap Kara menginjak satu persatu anak tangga itu, maka akan terdengar bunyi "Krak" seperti kayu yang nyaris patah.
Kara pelan - pelan naik ke atas dan sampailah dia di lantai atas, terlihat di lantai atas itu ada banyak barang yang di tutupi kain putih, dan juga di lantai atas itu ada sebuah piano tua yang terpajang di dekat ruang yang sepertinya adalah ruang keluarga di lantai dua di sebelah kiri tangga dan di sebelah ruang keluarga itu lah ada ruangan dengan pintu cokelat tua yang tertutup.
Sementara di sebelah kanan tangga, ada sebuah lemari hias besar berisi pajangan dan beberapa foto keluarga dan kamar mandi yang pintu nya terbuka dan terlihat kaca oval nya dari luar, barulah di sebelah nya ada ruangan yang berpintu cokelat juga.
"Itu kali, ya.." Gumam Kara, dia pun berjalan menuju ke ruangan yang berpintu cokelat yang berada di sebelah kiri itu.
"Rumah kakek gede juga, ayah berapa sodara yah.." Gumam Kara, karena dia sama sekali tidak tahu menahu tentang keluarga ayah nya karena ayah nya yang tidak pernah memberi tahu nya.
"Ckrekk!!"
"Kriieet!!"
Kara membuka pintu kamar itu, dan ternyata isinya adalah kamar yang memang sudah rapi dengan sprei berwarna putih. Ruangan nya luas dengan ada sekitar 6 jendela kaca, tiga di kanan dan tiga di kiri yang menghadap ke halaman depan, sementara ranjang nya berada di tengah dan ada lemari besar yang sepertinya adalah lemari untuk pakaian.
"Dulu ayah tinggal nya di kamar ini? Kok ndak ada barang - barang ayah.." Gumam Kara.
Kara meletakan ransel nya lalu dia melemparkan dirinya di atas ranjang dan mengeluarkan hp nya dari saku jaket nya, dia menunggu barang kali ada pesan masuk dari kakak atau ibunya yang sudah tidak tinggal dengan nya. Kara sedih karena mereka bahkan tidak berpamitan dengan nya sama sekali saat pergi, dan sampai sekarang mereka juga tidak menghubungi nya.
"Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif!"
"Huufftt.. mbak sama ibu kok ndak bisa di hubungi sama sekali dari kemarin." Gumam Kara, dia sedih..
"Mereka tega sama aku, ndak pamit sekarang ndak juga bisa di telpon." Ucap nya lagi, akhir nya meletakkan hp nya, tapi dia juga jadi teringat dengan mimpinya tadi tentang ibu dan kakak nya.
"Tumben banget aku mimpi pas tidur siang.. mana serem." Gumam Kara, dia mengingat mimpi nya yang hanya sebentar tapi terasa sangat berkesan sampai Kara merasa tidak nyaman.
"Ibu sama mbak.. mereka kemana, ya.."
BERSAMBUNG!
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!