Indonesia
NovelToon NovelToon

Reven & Ratu Perang

Episode 1 Kembali ke Indonesia

Sebuah jet pribadi milik Don Vincenzo, perlahan mendarat halus di landasan pacu Bandara Internasional Jakarta. Di dalam kabin, seorang gadis cantik berusia tujuh belas tahun menatap keluar jendela dengan pandangan campur aduk antara rasa rindu akan tanah kelahirannya bercampur rasa asing yang mendalam.

Savira Aurelia Putri, atau akrab disapa Sara. Rambut coklatnya terurai indah menyentuh bahu, sepasang mata cokelat jernih menyimpan kecerdasan dan ketangkasan yang tak terlihat kasat mata. Baru saja tiba setelah bertahun‑tahun tinggal jauh di Italia, bersama kakek angkatnya.

Tak lama kemudian, ia berjalan keluar dengan langkah tegas. Di sana sudah menunggu seorang pemuda berbadan tegap, berwajah tegas dan tampan berusia sekitar 35 tahun, Leon, pengawal kepercayaan sekaligus pelindung yang dipercayakan langsung oleh Don Vincenzo untuk cucu kesayangannya.

"Selamat datang kembali di tanah air, Nona Sara,” ujar Leon sopan sambil mengambil alih tas koper di tangan Sara. “Semuanya sudah disiapkan. Mobil sudah menunggu di luar, kita langsung ke apartemen.”

Sara tersenyum manis sambil menggeleng pelan. “Terima kasih, Kak Leon. Tapi kau duluan saja bawa barang‑barang itu ke apartemen. Aku ingin berjalan‑jalan sendiri sebentar, menikmati suasana kota ini dulu."

Leon tampak ragu sejenak. “Tapi Nona… Tuan Don Vincenzo berpesan agar saya selalu mendampingi Nona ke mana pun.”

“Di sini aku hanya gadis biasa yang ingin berkenalan kembali dengan tempat ini,” potongnya lembut namun tegas. “Kau tahu aku bisa menjaga diriku sendiri dengan sangat baik. Pergilah duluan, aku akan menyusul segera.”

Melihat ketegasan yang tak bisa dibantah itu, sifat yang melekat kuat pada sosoknya yang dikenal sebagai Ratu Perang. Leon akhirnya mengangguk patuh. “Baiklah. Tapi tolong berhati‑hati. Segera hubungi saya jika ada sesuatu."

Sara mengangguk setuju, lalu melihat kendaraan yang membawa barang‑barangnya perlahan menjauh meninggalkan gerbang bandara. Ia pun berjalan santai keluar, memanggil ojek pangkalan yang ada di dekat situ, dan berkeliling menikmati pemandangan kota yang sibuk namun penuh kehidupan itu. Hatinya berdebar tak menentu, ada kenangan lama yang hilang tertutup kabut, namun ia berjanji perlahan akan mengungkapnya semua.

perjalanan Sara sampai di jalan raya yang agak sepi dan rimbun pepohonan, tempat yang tenang namun terasa agak sunyi. Hanya beberapa kendaraan yang terlihat melintas di sana.

Sebuah mobil mewah berwarna gelap berhenti menyandar di tepi jalan, asap tipis mengepul dari bagian mesinnya. Seorang wanita paruh baya berpakaian anggun keluar dengan wajah cemas, berusaha memeriksa apa yang terjadi namun tak mengerti sedikit pun soal mesin kendaraan.

Belum sempat ia berusaha mencari bantuan, tiba‑tiba dua pria berpenampilan kasar berjalan mendekat dengan langkah tak ramah. Senyum jahat terukir di bibir mereka saat melihat perhiasan berkilauan dan tas mahal yang dibawa wanita itu.

“Wah, lihat Bro, kebetulan sekali ada mangsa empuk sendirian di sini,” ucap salah satu pria itu dengan nada ancaman, sambil menyandarkan tubuhnya ke body mobil. “Serahkan tas dan perhiasanmu, dan kami takkan menyakitimu.”

Wanita itu mundur kaget sambil memeluk erat tas tangannya di dada. “Siapa kalian? Pergilah! Jangan mendekat! Kalau kalian mendekat aku akan berteriak biar kalian di amuk massa!” ancamnya.

"Hahaha! Coba saja berteriak, tak ada yang akan mendengarmu di sini!” sahut pria berkepala plontos sambil mencoba merebut paksa tas mahalnya. Wanita itu tak menyerah begitu aja ia sekuat tenaga menahan tasnya namun kekuatannya kalah besar dibandingkan dua preman di hadapannya.

Saat itulah Sara lewat bersama kang ojek. Matanya yang tajam langsung menangkap pemandangan yang tak ia sukai. Tanpa ragu sedikit pun, ia menyuruh Kang ojeknya berhenti tak jauh dari Sana. "Pak, tunggu sebentar ya!" ucap Sara lalu langsung melangkah mendekat dengan langkah tenang namun mantap.

"Hati-hati Nona!" teriak kang ojek dengan rasa khawatir pada penumpangnya yang nekat itu.

“Lepaskan!” ucapnya pelan namun tegas.

Kedua preman itu menoleh serentak, lalu saling pandang sekilas sedetik kemudian mereka tertawa meremehkan melihat gadis asing yang tampak tak berdaya tapi berani menegur mereka.

“Minggir saja kalau tak mau ikut celaka, cantik! Ini urusan kami!” ancam salah satu sambil menatapnya tajam.

Namun Sara tak bergeming. Sorot matanya berubah dingin dan tajam, sifat aslinya kembali muncul, sifat pemimpin yang tak kenal takut dan terlatih menghadapi bahaya berat sekalipun.

“Aku tak akan mengulang perkataanku untuk kedua kalinya,” ucapnya tenang. “Kembalikan barang itu dan pergilah selagi masih bisa berjalan tegak.”

Kedua preman itu tak terima ditentang gadis muda di hadapannya, mereka berdua langsung menyerang serentak. Namun mereka tak tahu siapa yang sedang dihadapi.

Bagh!

Bugh!

Bagh!

Dalam sekejap mata, Sara bergerak lincah bak bayangan, menangkis serangan satu demi satu dengan gerakan bela diri yang sempurna, cepat, dan tepat sasaran. Tanpa melukai mereka parah, namun cukup kuat menjatuhkan keduanya terguling ke tanah tak berdaya dalam hitungan detik saja.

“Kalian beruntung aku tak berniat menyakiti,” ucapnya dingin sambil berdiri tegak kembali. “Tapi jangan pernah berbuat jahat lagi pada siapa pun, atau lain kali aku tak akan selembut ini.”

Kedua nyali preman itu langsung menciut mereka dengan susah payah bangkit sambil menahan rasa remuk di badannya lalu lari tergopoh‑gopoh meninggalkan tempat itu secepat mungkin seolah takut jika gadis itu akan berubah pikiran.

Sara menghela nafas pelan lalu berbalik menghampiri wanita yang masih berdiri terpukau takjub melihat kejadian itu. Ia menyerahkan kembali tas yang sempat di ambil si preman tadi.

“Ini milik Ibu, semoga tak ada yang hilang,” ucapnya lembut kembali, wajahnya kembali ceria dan ramah.

Wanita bernama Maria dengan cepat mengambil tasnya matanya tak lepas mengamati gadis penolongnya dengan berbinar kagum sekaligus lega yang luar biasa. "Terima kasih, Nak… terima kasih banyak. Kau sangat hebat bisa membuat dua preman itu lari terbirit-birit seperti itu. Siapa namamu? Ibu berhutang nyawa sama kamu!"

Sara hanya tersenyum sambil menggeleng pelan. “Aku Sara Bu! Dan tak perlu terima kasih segala, aku hanya berbuat apa yang seharusnya saja."

Sara kembali tersenyum lalu langsung pamit dengan tergesa menuju kang ojek yang menunggu tak jauh dari sana.

Sebelum sempat Maria bertanya lebih jauh atau menahan langkahnya, ojek yang ia tumpangi sudah melesat membelah jalanan kota dan menghilang dari pandangan seolah tak pernah ada di sana. Namun kesan mendalam yang ditinggalkannya takkan mudah hilang dari ingatan Maria.

"Tunggu deh tapi wajahnya terasa tak asing deh! Tapi siapa ya? gumamnya pelan.

Bersambung...

💞 Hy semua apa kabarnya? semoga sehat selalu ya. Author sedang nulis karya baru lagi, jika kalian suka jangan lupa tinggalkan jejak dan nilai buku ini ya. terima kasih sebelumnya 💞

Episode 2 Murid baru

Keesokan harinya, Sara sudah berpakaian rapi mengenakan seragam sekolah barunya. Ia berdiri tegak di depan cermin besar, memastikan penampilannya sempurna sebagai murid baru. Seragam putih‑abu yang pas di badan itu membuatnya tampak makin anggun, bersahaja namun memancarkan pesona yang tak terlukiskan.

Setelah puas memastikan segala sesuatunya, ia membuka pintu kamar dan berjalan menuju ruang tamu. Di sana Leon sudah menunggu dengan tenang, mengenakan setelan olahraga rapi lengkap, serta kartu identitas baru yang tergantung di lehernya. Ia kini resmi terdaftar sebagai guru olahraga baru di SMA Bina Bangsa.

“Apakah Nona Sara sudah siap menyambut hari pertamanya di sekolah baru?” sapa Leon dengan nada sopan.

"Siap dong! Oh ya jangan panggil aku Nona terus, panggil Sara aja! Ingat Kak Leon misi kita di sini!"

"Siap Nona... eh maksudnya Sara. Aku mengerti."

"Bagus, kalau gitu kita sarapan dulu biar enggak telat di hari pertama sekolah!"

Keduanya sudah duduk di meja makan yang sebelumnya sudah Leon siapkan.

Tak lama kemudian, mereka berangkat berpisah kendaraan, Leon berangkat dengan mobil lebih dulu menuju sekolah, sementara Sara memilih mengendarai sepeda motor sport berwarna gelap yang telah disiapkan khusus untuknya.

Lima belas menit kemudian, deru mesin yang berat dan berirama halus terdengar bergema di halaman sekolah.

Bruumm!

Sepeda motor itu berhenti dengan mulus tepat di area parkir utama.

Sara gegas mematikan mesin motornya dan menyimpan kuncinya kedalam saku jaket kulitnya lalu membuka helm full facenya dengan gerakan pelan, begitu helm itu terlepas sempurna rambut cokelat tuanya terurai bebas indah membingkai wajah cantik alami yang memukau siapa saja yang memandang.

Tatapan matanya yang tajam namun tenang, dan percaya diri membuat semua siswa yang ada di sekitarnya seketika berhenti bergerak dan terpaku menatapnya dengan penuh kagum.

beberapa siswa yang ada di sekitar seketika mengalihkan pandangan mereka pada sosok murid asing di sekolah mereka.

“Lihat deh… cantik banget gak sih! Chelsea mah kalah jauh sama nih cewek." bisik seorang gadis takjub.

"Iya jir, lihat deh kulitnya bening bangat, terus bodynya juga ideal bangat jir!" tambah yang di sebelahnya.

"Apalah dayaku yang hanya remahan rengginang ini, hu hu hu!" sahut yang lainnya.

Berbagai bisikan kagum dan penasaran terdengar samar-samar di sekitar area parkir, namun Sara berjalan santai seolah tak mendengar apapun, tatapannya lurus ke depan tanpa terganggu.

Saat langkahnya masuk ke koridor sekolah yang ramai, tiba‑tiba seorang pemuda dari arah berlawanan berjalan dengan langkah lebar dan tegas, dikelilingi beberapa teman-temannya yang tampak setia mengikutinya.

Pemuda dengan wajah tampan yang nyaris sempurna itu memancarkan wibawa yang membuat siapa saja secara tidak sadar memberi jalan. Dia adalah Raven Krishnawardhana, pewaris tunggal keluarga Wardana, kapten basket sekaligus ketua motor Geng Phoenix yang di segani seluruh sekolah.

Saat berpapasan, bahu Raven tak sengaja menyenggol tas yang tersampir di bahu Sara hingga melorot jatuh ke lantai. Raven berhenti sejenak, sedikit terkejut, ia hendak menegur namun gadis itu hanya membungkuk tenang mengambil tasnya kembali, lalu menatap sekilas pemuda di hadapannya tanpa kemarahan maupun kekaguman, lalu kembali melanjutkan langkahnya begitu saja tanpa sepatah kata pun.

Raven terpaku di tempatnya, takjub sekaligus penasaran. Belum pernah ada gadis yang berpapasan dengannya namun bersikap seolah ia tak ada.

“Siapa gadis itu?” gumamnya pelan, matanya tak lepas dari sosok gadis yang makin menjauh itu.

"Sepertinya dia murid pindahan deh! Aku belum pernah melihatnya!" sahut Arga dengan mata masih tertuju pada punggung Sara yang mulai menjauh.

"Wah! Jadi tambah semangat aku ke sekolah, kalau ada bidadari secantik itu di sekolah!" tambah Andra dengan senyum lebar, mata berbinar cerah.

Belum sempat Raven menanggapi ocehan teman-temannya, seorang siswi dengan penampilan modis berlari kecil mendekatinya dengan senyum yang sudah terlatih sempurna. Chelsea Amanda Wijaya yang di kenal sebagai ratu bully di SMA Bina Bangsa.

"Raven! Ternyata kau ada di sini,” sapanya akrab sambil berdiri tepat di hadapan pemuda itu. "Daddy dan Mommy bilang nanti malam mereka akan datang ke rumahmu. Ada hal penting yang ingin dibicarakan bersama orang tuamu…"

Raven hanya mendengarkan dengan wajah dingin dan kaku. Ia tahu persis apa maksud kata‑kata itu, yang tak jauh dari acara perjodohan demi keuntungan bisnis keluarga. Tanpa menanggapi lebih jauh, ia hanya berdeham pelan lalu berjalan melewati gadis itu begitu saja.

"Hmm! Sudahkan! Aku ada urusan penting sama teman-teman,” ucapnya singkat, membuat Chelsea berdiri diam menatap punggungnya yang menjauh dengan rasa kesal yang mulai menyusup di hati.

"Awas aja kau Raven,aku yakin tak lama lagi kamu pasti akan mengemis cinta padaku, setelah perjodohan ini!" desis Chelsea penuh percaya diri.

***

***

Sementara itu, di ruang kelas Sara baru saja duduk di bangku tengah dekat jendela saat dua siswa lain mendekat dengan ramah, seorang pemuda bertubuh tegap bernama Bima, dan gadis ceria dengan rambut di kepang dua bernama Dewi.

"Hai! Aku Bima, ini Dewi. Kau pasti siswi baru pindahan, kan?” sapa Bima antusias. "Kalau butuh teman berkeliling sekolah atau tanya tentang aturan sekolah, tanya saja pada kami!”

Sara tersenyum tulus, senyum yang jarang ia tunjukkan pada orang baru. “Terima kasih Bim, Dewi. Aku Sara.

***

***

Tak lama kemudian, suara langkah kaki teratur terdengar mendekat, dan seketika seluruh ruangan menjadi hening seketika, semua siswa duduk tegak di tempatnya masing‑masing. Seorang wanita masuk dengan senyum ramah, Bu Sofi, guru Bahasa Inggris sekaligus wali kelas mereka. Di belakangnya berjalan tenang seorang pria berbadan tegap mengenakan seragam olahraga. Keduanya berdiri tegak di depan ruangan.

“Selamat pagi, anak‑anak!” sapa Bu Sofi ceria.

“Selamat pagi, Bu!” jawab mereka serentak.

“Baiklah! Kalian pasti sudah penasaran dengan sosok yang berdiri di sebelah Ibu ini, bukan? Langsung saja Ibu perkenalkan ya,” ucapnya sambil menunjuk ke arah pria itu. “Ini Pak Leon! Beliau akan menjadi guru olahraga baru kita, menggantikan Pak Bram untuk waktu yang belum ditentukan.”

“Selamat bergabung dan salam kenal, Pak Leon!” seru seluruh siswa serentak.

Leon mengangguk sopan sambil tersenyum ramah. “Terima kasih semuanya. Salam kenal juga untuk kalian semua.”

"Apa ada yang ingin kalian tanyakan lagi sebelum kita ke lapangan?" tanya Leon ramah.

Salah satu siswi yang duduk paling depan langsung mengangkat tangannya. "Apa bapak punya kekasih atau sudah menikah? Kalau masih jomblo aku mau jadi calon ibu dari anak-anak kita nanti"

Suara sorakan terdengar memenuhi ruangan. Leon menggeleng pelan menghadapi tingkah remaja di hadapannya.

"Hmm! Untuk saat ini belum, saya masih sendiri."

“Wah… ternyata guru olahraga baru kita tampan sekali, persis seperti tokoh utama dalam drama Korea yang sering kutonton! Tapi ini versi nyatanya!” bisik Dewi berbinar penuh kekaguman Sara di sebelahnya.

“Dasar pencinta dunia halu!” sahut Bima sambil tersenyum geli melihat tingkah sahabatnya itu.

Dewi hanya memutar bola matanya malas menanggapi Bima.

Suasana kelas menjadi riuh rendah oleh bisikan kagum para siswi yang tak menyangka akan memiliki guru muda baru yang begitu berkarisma dan tampan. Di sudut ruangan, Sara hanya tersenyum geli dalam hati melihat bagaimana asisten setianya kini menjadi pusat perhatian dan siswi SMA. Matanya melirik sekilas ke arah Leon dengan tatapan bercanda seolah berkata: Siapa sangka kau begitu populer, Kak Leon?

"Sudah, sudah! Jangan berisik, ya!” tegur Bu Sofi dengan nada tegas namun tetap ramah. “Selain itu, di kelas ini juga ada teman baru yang pindah dari luar negeri. Silakan maju ke depan untuk memperkenalkan dirimu!”

Sara segera bangkit tegak dan berjalan tenang menuju depan ruangan sekilas tatapannya bertemu dengan tatapan Leon yang kini juga menatapnya.

“Silahkan perkenalkan namamu dan asal tempatmu,” pinta Bu Sofi lembut.

Sara mengangguk sopan, lalu menatap seluruh teman sekelasnya dengan pandangan tenang dan percaya diri.

“Salam kenal semuanya. Namaku Savira, pindahan dari Italia. Kalian cukup memanggilku Sara saja.”

"Salam kenal Sara!" serentak para murid.

***

***

Saat jam istirahat tiba, Sara, Bima, dan Dewi duduk bersama di meja sudut kantin sekolah yang ramai.

"Kau mau makan apa, biar aku pesan?" tanya Dewi.

"Aku tidak tahu makanan di Indonesia yang enak, bagaimana kalau kamu aja yang pesan sesuai seleramu aku akan mencobanya!"

"Ah iya juga ya, kau kan bukan orang Indonesia mana tahu makanan Indonesia! Kalau gitu aku yang pesan saja."

Tak berapa lama Dewi kembali dengan nampan berisi beberapa mekanan kesukaannya.

Sara menatap penuh rasa ingin tahu pada hidangan yang ada di hadapannya, nasi goreng hangat lengkap dengan lauk dan sambal yang harum semerbak. Ada bakso, soto dan juga batagor.

“Wah… warnanya begitu indah, dan aromanya sungguh menggugah selera,” ucapnya takjub, menatap makanan itu seolah sedang mempelajari sesuatu yang penuh makna mendalam.

Dewi dan Bima saling berpandangan lalu tertawa renyah mendengar ucapan itu. “Ini makanan yang sangat umum dan disukai semua orang di sini, Sara! Namanya nasi goreng, dan yang ini Bakso dan terus yang ada bubu kacangnya itu namanya batagor!” jelas Dewi sambil tersenyum ramah.

"Cobain deh, aku yakin kau pasti ketagihan dengan rasa gurihnya!" tambah Bima menyakinkan.

Di sudut lain kantin, Raven duduk diam bersama teman‑temannya, namun pandangannya tak lepas sedikit pun dari gadis yang sedang bercakap‑cakap riang dari meja yang tak jauh darinya.

Bersambung…

Episode 3

Di sudut kantin yang lain, Raven bersandar santai di kursinya, namun matanya yang tajam tak sekalipun beralih dari sosok Sara. Di sekelilingnya, Arga, Andra, Alden dan anggota inti Geng Phoenix terus saja berbisik‑bisik sambil melirik ke arah murid baru itu.

“Raven! Jangan lupa kedip dong!” goda Andra sambil menyenggol bahu Raven pelan dengan senyum jahil terukir di bibirnya.

“Iya nih! Biasanya Si Bos paling malas noleh jika ada gadis‑gadis yang berebut mendekat.” timpal Alden yang juga merasa ada yang aneh dengan Raven hari ini.

Arga di sebelahnya ikut menimpali sambil mengunyah roti bakarnya. “Gadis itu memang menarik. Bukan sekadar cantik biasa… ada wibawa yang terasa meski hanya duduk santai begitu. Seolah dia bukan orang yang bisa dianggap remeh.”

Raven hanya mendegus pelan tanpa menimpali ocehan teman-temannya, jari‑jarinya mengetuk pelan permukaan meja. Di dalam benaknya, ribuan pertanyaan terus berputar tak kunjung reda. Siapa sebenarnya murid baru itu? Mengapa sikapnya begitu tenang, seolah ia sudah terbiasa menghadapi dunia yang jauh lebih keras dibandingkan sekadar hiruk‑pikuk kehidupan sekolah? Dan yang paling aneh… setiap kali tatapan mereka tak sengaja bertemu sekilas, ada kilatan tajam di sana, kilatan yang sangat ia kenal… kilatan milik seseorang di masa lalunya.

Belum sempat Raven membalas ocehan teman‑temannya, suasana riuh di kantin tiba‑tiba sedikit berubah. Dari arah pintu masuk, Chelsea berjalan melenggang dengan langkah sengaja dibuat berisik, diikuti oleh dua orang pengikut setianya yang selalu siap mendukung segala kemauannya. Wajahnya yang biasanya tampil cantik kini terlihat masam dan penuh kerut halus di dahi, karena sejak tadi ia sudah melihat jelas ke mana arah pandangan Raven tertuju.

Dengan sengaja, Chelsea berjalan lurus membelah kerumunan siswa, menuju tepat ke meja tempat Sara, Bima, dan Dewi sedang duduk santai menikmati makanan mereka.

Di belakangnya, dua siswi yang merupakan antek setianya, Rina dan Yuli, tersenyum sinis sambil saling melirik penuh arti.

"Jadi Kau anak baru yang sok cantik itu!” ucap Chelsea dengan suara yang cukup keras hingga terdengar oleh beberapa siswa di sekitarnya. Ia berdiri tegak tepat di sisi meja Sara, menatap ke bawah dengan tatapan merendahkan dan penuh keangkuhan. "Wah, hebat sekali ya baru hari pertama sudah menarik perhatian semua orang.”

Dewi yang duduk di sebelah Sara langsung menegakkan punggungnya, wajahnya berubah tegang dan cemas. Ia tahu betul betapa kejam dan liciknya sang “Ratu Bully” sekolah ini. Bima pun ikut berhenti mengunyah, tangannya mengepal pelan di bawah meja, bersiap membela teman barunya jika diperlukan.

Namun Sara? Gadis itu hanya mengangkat wajahnya perlahan, menatap Chelsea dengan tatapan tenangnya seperti biasa, tanpa sedikitpun rasa takut, marah, bahkan tanpa terganggu sedikit pun. Ia masih memegang sendoknya dengan santai, seolah gadis yang berdiri di hadapannya itu hanyalah angin yang lewat saja.

"Sorry! Tapi aku memang cantik dari lahir! Dan terima kasih untuk pengakuannya!” jawab Sara santai.

“Apakah masih ada keperluan penting lainnya yang membuat kamu harus berdiri di sini dan menghalangi cahaya matahari yang masuk?”

Orang‑orang di sekitar seketika membelalakkan mata tak percaya. Belum pernah ada yang berani menantang sang Ratu Sekolah secara terang‑terangan begitu.

Tak terkecuali Chelsea sendiri. Ia tertegun diam, sama sekali tak menyangka gadis baru itu berani menjawab balik dengan tegas. Ia sudah bersiap menghadapi ketakutan, air mata, atau setidaknya wajah pucat Sara namun yang didapatnya justru ketenangan yang membuat keangkuhannya runtuh seketika.

“Kau! Beraninya berbicara seperti itu sama Chelsea!” desis Rina tak terima.

“Kau belum tahu siapa Chelsea di sini, ya?” tambah Yuli sambil menyeringai sinis. “Dia Chelsea Amanda Wijaya! Semua orang tahu… siapa saja yang berani menyinggung atau bersaing dengannya pasti akan mendapat pelajaran pahit yang takkan terlupakan seumur hidupnya! Bahkan ada yang hilang begitu saja tanpa kabar!”

Sara hanya tersenyum tipis, senyum yang bahkan tak sampai ke matanya. Perlahan ia meletakkan sendoknya ke piring, lalu menatap lurus tepat ke manik mata Chelsea.

“Menjadi berharga atau dihormati tidak dibuktikan dengan menghalangi orang lain atau mengancam yang baru datang,” ucap Sara tenang namun berisi tekanan kuat, suaranya cukup terdengar oleh mereka dan siapa saja yang mulai berhenti bergerak mengamati kejadian itu. “Dan percayalah… aku bukan tipe yang suka bersaing demi hal yang tak berarti, apalagi berusaha merebut sesuatu yang bukan milikku atau yang tidak aku inginkan sama sekali."

Kalimat terakhir itu terasa seperti tusukan halus namun tepat sasaran. Wajah Chelsea memerah padam menahan amarah yang meluap. Ia merasa dipermalukan di depan umum oleh gadis pendatang baru di hari pertama sekolah.

Tangannya terangkat hendak memberi pelajaran pada Sara… namun gerakannya tiba‑tiba terhenti di udara.

Saat sebuah bayangan tinggi dan tegap tiba‑tiba berdiri di samping meja itu. Kehadirannya seketika membuat udara di sekitar terasa lebih berat dan dingin.

“Cukup, Chelsea.”

Suara itu rendah, berat, dan penuh tekanan dingin yang membuat darah Chelsea seolah membeku seketika. Ia menoleh perlahan, dan tepat di sana berdiri Raven Krishnawardhana. Matanya yang biasanya dingin namun tenang kini menyala tajam dan penuh ketidakpuasan, menatap lurus tepat ke arah gadis yang berdiri mengancam itu.

Di belakangnya, Arga dan Andra juga ikut berdiri dengan sikap waspada, menunjukkan bahwa sang pemimpin Geng Phoenix berdiri di sisi yang berbeda kali ini.

“R‑Raven…?” gumam Chelsea tergagap, tangannya yang tadi terangkat kini perlahan jatuh lemas ke sisi tubuhnya. Wajahnya yang tadi penuh kemarahan berubah seketika menjadi pucat dan panik. “Aku… aku hanya… ingin mengingatkan gadis baru ini saja… supaya tahu tata krama dan tidak sembarangan…”

“Mengingatkan tidak perlu dengan cara mengancam dan membuat keributan di kantin sekolah,” potong Raven singkat dan tegas, tanpa memberi ruang untuk pembelaan. Ia melirik sekilas ke arah Sara yang masih duduk tenang di sana, tak bergoyang sedikit pun seolah kejadian ini hanyalah hal biasa yang tak berarti. Sekali lagi rasa kagum dan rasa ingin tahu itu tumbuh makin kuat di hatinya. Gadis ini benar‑benar menarik.

“Kembalilah ke tempatmu, Chelsea,” lanjut Raven kembali dengan nada yang tak bisa dibantah. “Dan ingatlah baik‑baik: mulai saat ini, di SMA Bina Bangsa tidak ada lagi yang namanya penindasan.”

"Raven! Kamu bela murid baru ini!" Teriak Chelsea tak terima.

“Aku tidak membela siapa‑siapa. Aku hanya ingin bisa makan dengan tenang di sini!” jawabnya tegas.

Dengan hati hancur karena dipermalukan tepat di depan orang yang paling ia cintai dan dambakan, Chelsea tak punya pilihan lain selain menggigit bibirnya menahan tangis dan kemarahan yang tertahan. Dengan langkah berat dan penuh dendam yang makin membara, ia berbalik pergi diikuti oleh kedua pengikutnya yang juga menunduk takut. Namun sebelum benar‑benar menjauh, tatapan tajam tertuju ke arah Sara, seolah berkata: Ini belum selesai, anak baru!

Setelah kepergian si ratu bully dan dayang-dayangnya pergi, suasana perlahan kembali tenang dan siswa‑siswa kembali melanjutkan aktivitasnya meski masih ada bisikan‑bisikan samar, yang masih terdengar.

Raven perlahan mengalihkan pandangannya kembali kepada Sara. Ia berdiri tegak di sisi meja itu sejenak, jantungnya entah mengapa berdebar sedikit lebih cepat dari biasanya.

“Kau tidak apa‑apa?” tanyanya akhirnya, suaranya sedikit melembut dibandingkan saat berbicara dengan Chelsea tadi.

Sara mengangkat wajahnya kembali, menatap pemuda tampan itu dengan tatapan jernih dan tenang. Di sudut matanya, ada kilatan kecil yang seolah menyimpan pesan rahasia yang belum bisa Raven pahami sepenuhnya.

“Terima kasih atas bantuanmu, meskipun sebenarnya itu tak perlu!” jawabnya pelan namun tulus. “Hal seperti ini bukanlah sesuatu yang cukup kuat untuk membuatku goyah.”

Raven tertegun sejenak mendengarnya. Keyakinan diri yang terpancar dari setiap ucapannya sungguh luar biasa. Di dalam hatinya ia makin yakin satu hal yang tak terbantahkan: kedatangan gadis ini telah mengubah segala hal di sekolah ini… dan mungkin juga akan mengubah jalan hidupnya sendiri selamanya.

Di kejauhan, dari ambang pintu kaca kantin yang agak tersembunyi, Leon berdiri bersandar santai sambil memegang botol minumannya. Matanya yang tajam mengamati segala hal dengan teliti, mulai dari sikap Chelsea yang penuh niat jahat, hingga interaksi antara Sara dan pemuda bernama Raven itu. Di sudut bibirnya terukir senyum tipis yang penuh arti.

“Permainan baru saja dimulai…” gumamnya pelan hanya untuk dirinya sendiri. “Dan tampaknya… jalan yang akan dilalui Nona Sara di sini akan jauh lebih berwarna dan penuh kejutan dari yang aku duga sebelumnya.

 

Bersambung…

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!