Bau amis darah bercampur pekat dengan aroma tanah basah setelah diguyur hujan di lereng Gunung Lawu. Di dalam sebuah gubuk kayu yang sudah agak miring, suasana mendadak sunyi setelah jeritan terakhir seorang wanita diredam oleh tikaman keris.
Erlang kecil, yang saat itu baru berusia tujuh tahun, meringkuk di dalam gentong beras kosong di pojok dapur. Tubuhnya gemetar hebat. Matanya mengintip lewat celah kayu gentong yang retak. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai-sampai ia takut suara detak jantungnya sendiri akan terdengar oleh orang-orang kejam di luar.
Di ruang tengah, ayahnya, Ki Sadewa, sudah berlutut dengan napas memburu. Darah segar mengalir dari pundak dan dadanya. Di hadapannya, berdiri tiga orang pria tegap berpakaian hitam dengan wajah tertutup kain. Salah satu dari mereka memegang selembar kain sutra pembungkus kitab yang sudah kosong.
"Di mana kitab sisanya, Sadewa? Jangan buat kami mencincang tubuhmu menjadi potongan kecil," tanya pria bertopeng yang tampaknya menjadi pemimpin kelompok itu. Suaranya berat, dingin, dan tanpa ampun.
Ki Sadewa terbatuk, memuntahkan darah segar ke lantai tanah. Ia terkekeh lemah, seolah ejekan terakhir untuk musuhnya. "Kalian... kalian tidak akan pernah bisa menguasai inti tenaga dalam itu, karena hatimu terlalu kotor oleh ambisi."
"Mulutmu masih saja lancang!" bentak pria bertopeng lainnya sambil menendang dada Ki Sadewa hingga pria paruh baya itu terjerembap ke belakang.
"Cepat katakan! Di mana bagian inti dari kitab pusaka itu?!" bentak sang pemimpin lagi, ujung kerisnya yang berlumuran darah kini tepat berada di depan tenggorokan Ki Sadewa.
"Aku sudah membakarnya. Kalian hanya mendapatkan kulit luarnya saja. Percuma..." bisik Ki Sadewa dengan sisa-sisa tenaganya.
"Bohong! Geledah seluruh rumah ini! Cari sampai dapat!" perintah sang pemimpin dengan geram.
Dua anak buahnya langsung mengacak-acak isi rumah. Mereka membanting lemari, memecahkan gerabah, dan merobek kasur jerami. Erlang yang berada di dalam gentong beras semakin menyusutkan badannya. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, air matanya meleleh tanpa suara.
“Ibu... Ayah...” jerit Erlang dalam hati. Beberapa menit lalu, ia masih melihat ibunya tersenyum sambil menyuapinya makan malam. Sekarang, ibunya sudah terkapar tak bernyawa di dekat pintu depan.
Salah satu penjahat berjalan mendekati dapur. Langkah kakinya yang berat terdengar semakin jelas. Deg... deg... deg... Pria itu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru dapur yang berantakan. Matanya sempat tertuju pada gentong beras tempat Erlang bersembunyi.
"Ada sesuatu di dapur?" teriak pemimpinnya dari ruang tengah.
"Tidak ada apa-apa di sini, hanya gentong kosong dan beberapa peralatan masak," sahut pria itu sambil menendang kuali hingga pecah, lalu berbalik kembali ke ruang tengah. Erlang mengembuskan napas yang sempat tertahan dengan sangat perlahan.
Di ruang tengah, sang pemimpin tampaknya sudah kehilangan kesabaran. "Jika kau tidak mau bicara, maka matilah bersama rahasiamu, Sadewa."
"Silakan... Tapi ingat, gusti Allah tidak tidur. Kejahatanmu... akan menuai badainya sendiri," kata Ki Sadewa dengan pandangan mata yang mulai meredup.
Jleb!
Keris itu tertancap telak di dada Ki Sadewa. Pria itu menegang sejenak, lalu perlahan ambruk ke lantai, menyusul istrinya yang sudah lebih dulu tiada.
"Sialan! Kita tidak menemukan kitab intinya. Cari ke luar, mungkin dia menyembunyikannya di sekitar pekarangan!" seru sang pemimpin frustrasi. Ketiga orang bertopeng itu kemudian bergegas keluar dari gubuk, meninggalkan sepasang suami istri yang telah menjadi mayat.
Suasana gubuk kembali sunyi, hanya menyisakan suara jangkrik malam dan angin gunung yang berembus lewat celah dinding. Erlang masih tidak berani keluar. Ia terus menangis membisu di dalam kegelapan gentong.
Hampir setengah jam berlalu, tiba-tiba terdengar langkah kaki lain yang tergesa-gesa masuk ke dalam rumah. Langkah kaki ini terdengar panik, berbeda dengan langkah kaki tiga pembunuh tadi.
"Sadewa! Nyi Sadewa!" Sebuah suara pria paruh baya memecah kesunyian dengan nada penuh kekhawatiran.
Pria itu mengenakan pakaian kain blacu sederhana, rambutnya diikat rapi ke belakang. Namanya Ki Suro, paman seperguruan dari ayah Erlang. Begitu melihat dua tubuh yang terbujur kaku di lantai, Ki Suro langsung berlutut. Wajahnya pucat pasi.
"Ya Gusti... Sadewa... Maafkan aku, aku terlambat," bisik Ki Suro dengan suara bergetar. Ia memeriksa urat nadi Ki Sadewa, namun sudah tidak ada denyutan lagi. Air mata menetes dari sudut mata pria perkasa itu.
Tiba-tiba, Ki Suro menajamkan pendengarannya. Sebagai seorang yang memiliki sedikit dasar ilmu meringankan tubuh, ia mendengar suara isakan yang sangat halus dari arah dapur. Dengan waspada namun cepat, Ki Suro melangkah ke dapur.
"Siapa di sana? Keluar," kata Ki Suro dengan lembut namun tegas. Ia mendekati gentong beras yang agak bergoyang.
Saat Ki Suro membuka tutup gentong, ia melihat seorang anak kecil dengan mata sembap dan wajah penuh ketakutan. Erlang langsung menjerit kecil dan mencoba menyembunyikan wajahnya.
"Jangan bunuh aku! Jangan bunuh aku!" teriak Erlang ketakutan.
Melihat anak itu, runtuhlah pertahanan hati Ki Suro. Ia segera mengenali anak itu. "Erlang? Ini Paman Suro, Nak. Ini Paman Suro. Jangan takut, Paman di sini."
Erlang mendongak perlahan. Begitu mengenali wajah familier yang sering berkunjung ke rumahnya, Erlang langsung menghambur keluar dari gentong dan memeluk leher Ki Suro dengan sangat erat. Tangisnya pecah sejadi-jadinya.
"Paman... Ayah... Ibu... Mereka semua dibunuh orang-orang jahat hitam!" racau Erlang di sela tangisnya yang histeris.
Ki Suro mengusap punggung Erlang dengan lembut, mencoba menenangkan bocah yang gemetaran itu. "Iya, Paman tahu, Nak. Paman tahu. Sekarang kamu aman bersama Paman. Jangan menangis lagi, ya?"
"Kenapa mereka jahat sekali, Paman? Ayah dan Ibu salah apa?" tanya Erlang dengan polos, matanya yang memerah menatap Ki Suro penuh tuntutan penjelasan yang belum bisa ia pahami.
Ki Suro menghela napas panjang, hatinya terasa seperti diiris. "Mereka orang-orang serakah yang mencari sesuatu yang bukan milik mereka, Erlang. Sudahlah, jangan dilihat lagi. Ikut Paman sekarang. Kita harus pergi dari sini sebelum mereka kembali."
"Tapi Ayah dan Ibu..." Erlang menoleh ke arah ruang tengah, ingin mendekati jasad orang tuanya.
Ki Suro langsung memutar tubuh Erlang agar tidak melihat pemandangan mengerikan itu lagi. "Ayah dan Ibumu sudah tenang di sana, Erlang. Kita tidak bisa berlama-lama di sini. Orang-orang tadi mungkin masih ada di sekitar lereng gunung. Ayo, naik ke punggung Paman."
Erlang yang masih lemas hanya bisa mengangguk pasrah. Ia naik ke punggung Ki Suro dan memeluk pundak pria itu dengan erat. Ki Suro mengambil selembar kain panjang untuk mengikat tubuh Erlang ke punggungnya agar tidak terjatuh.
Sebelum melangkah keluar, Ki Suro menatap jasad sahabat seperguruannya untuk yang terakhir kali. "Sadewa, demi ikatan persaudaraan kita, aku bersumpah akan merawat dan menjaga Erlang dengan seluruh jiwaku. Istirahatlah dengan tenang."
Ki Suro kemudian meniup lampu minyak di meja, membuat gubuk itu menjadi gelap gulita. Dengan gerakan yang cepat namun senyap, Ki Suro melompat keluar lewat jendela belakang dapur, menembus kegelapan malam dan lebatnya hutan lereng Gunung Lawu.
Sepanjang perjalanan menuruni bukit, Erlang tidak berbicara sepatah kata pun. Ia hanya menyandarkan kepalanya di bahu Ki Suro, menatap ke arah gubuk mereka yang semakin lama semakin menjauh dan menghilang di balik pepohonan. Di malam yang berdarah itu, masa kecil Erlang yang damai telah direnggut paksa, dan sebuah perjalanan hidup yang baru, yang penuh dengan ketidakpastian, baru saja dimulai di bawah asuhan sang paman guru.
Delapan tahun telah berlalu sejak malam kelam di lereng Gunung Lawu. Di sebuah ceruk tersembunyi di bagian barat hutan lereng gunung, berdiri sebuah pondok kayu kecil yang sederhana, hampir tertutup oleh rimbunnya pohon bambu. Di sinilah Erlang, yang kini telah tumbuh menjadi pemuda berusia lima belas tahun, menghabiskan hari-harinya bersama Ki Suro.
Pagi itu, asap tipis mengepul dari dapur pondok. Erlang sedang sibuk mengaduk bubur di atas tungku tanah liat, sementara dari bilik sebelah, terdengar suara batuk yang kering dan berat bersahut-sahutan.
"Uhuk! Uhuk! Erlang... apakah airnya sudah hangat, Nak?" panggil sebuah suara parau dari dalam bilik.
Erlang segera mematikan api tungku, memindahkan bubur ke mangkuk kayu, lalu melangkah cepat ke bilik Ki Suro sambil membawa sebaskom air hangat dan selembar kain blacu.
"Sudah, Paman. Ini air hangatnya. Buburnya juga sudah matang, agak encer sedikit supaya Paman lebih mudah menelannya," kata Erlang sambil meletakkan baskom di amben bambu, lalu membantu Ki Suro untuk duduk bersandar pada dinding.
Ki Suro menatap pemuda di depannya dengan pandangan sayu. Wajah pria tua itu pucat, garis-garis penuaan dan penyakit paru-paru yang dideritanya bertahun-tahun membuat tubuh kekarnya dulu kini tampak ringkih. "Terima kasih, Erlang. Merepotkanmu setiap pagi seperti ini. Harusnya di usiamu sekarang, kau sedang gagah-gagahnya bermain di luar."
Erlang tersenyum tipis, memeras kain hangat lalu menyeka wajah dan lengan paman gurunya dengan telaten. "Bicara apa toh, Paman? Siapa lagi yang merawat Paman kalau bukan aku? Paman sudah menyelamatkanku dulu, merawatku sampai sebesar ini. Ini belum seberapa."
"Uhuk! Iya, tapi pamanmu ini rasanya makin hari makin jadi beban saja. Tubuh ini sudah seperti kayu lapuk," keluh Ki Suro sambil menerima mangkuk bubur yang disodorkan Erlang.
"Jangan berkata begitu, Paman. Minum dulu ramuan jamunya setelah makan bubur ini, nanti siang pasti badannya agak enakan," sahut Erlang menenangkan.
"Jamu pahit itu lagi? Rasanya lidahku sudah mati rasa, Erlang," gurau Ki Suro dengan tawa lemah yang langsung dipotong oleh batuk kecil.
"Pahit itu tandanya obatnya manjur, Paman. Ayo, dihabiskan buburnya," desak Erlang ramah.
Sembari menunggu Ki Suro menyelesaikan makannya, Erlang merapikan pakaian-pakaian kering di pojok ruangan. Ki Suro memperhatikan gerak-gerik keponakan seperguruannya itu. Pemuda itu memiliki wajah yang rupawan, mewarisi ketampanan mendiang ayahnya, namun pembawaannya sangat polos dan rendah hati.
"Erlang, setelah ini, jangan lupa latihan silatmu di halaman," kata Ki Suro setelah meletakkan mangkuk kosongnya.
Erlang berbalik, dahinya agak berkerut. "Latihan jurus yang kemarin lagi, Paman? Jurus Tapak Angin SePOI dan Langkah Bambu Gurun?"
"Iya, kenapa? Kau bosan?" tanya Ki Suro sambil menaikkan alisnya.
Erlang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa agak sungkan. "Bukan bosan, Paman. Tapi... rasanya jurus-jurus itu biasa saja. Hanya memukul lurus, menangkis ke bawah, lalu melangkah ke kiri dan ke kanan. Waktu aku melihat pemburu desa sebelah tempo hari, gerakan mereka bahkan terlihat lebih cepat dan mantap daripada jurus yang Paman ajarkan."
Ki Suro tersenyum misterius, meskipun di dalam hatinya ada rasa perih. Ia tahu betul ilmu silat yang diajarkannya pada Erlang memang hanya ilmu silat kelas bawah, ilmu biasa yang didapatnya dari sisa-sisa pelajaran perguruan dulu, bukan ilmu tingkat tinggi. "Silat itu bukan soal terlihat hebat atau cepat di luar, Erlang. Yang penting adalah ketekunanmu. Lakukan saja seratus kali setiap gerakan pagi ini."
"Baiklah, Paman. Aku akan latihan di halaman sekarang. Kalau Paman butuh sesuatu, panggil saja aku ya," ujar Erlang patuh.
Erlang melangkah ke halaman pondok yang beralaskan tanah keras. Udara gunung yang dingin menusuk kulit, namun pemuda itu langsung mengambil kuda-kuda rendah. Ia mulai menggerakkan kedua tangannya, mendorong ke depan dengan perlahan, lalu menariknya kembali. Gerakannya sangat standar, tidak ada hawa sakti yang menderu, tidak ada debu yang berterbangan. Benar-benar seperti latihan pemuda desa pada umumnya.
Satu... dua... tiga... Erlang menghitung dalam hati, mengulangi gerakan pukulan lurus dan tangkisan dasar itu berulang-ulang hingga keringat mulai membasahi pelipisnya.
Dari balik jendela bilik, Ki Suro memperhatikan dengan dada yang terasa sesak. Ia berbisik lirih pada dirinya sendiri, "Maafkan Paman, Erlang. Hanya ini ilmu biasa yang bisa kuajarkan padamu. Tubuhku yang ringkih ini tidak sanggup lagi menuntunmu lebih jauh, dan ilmuku memang tidak seberapa dibanding mendiang ayahmu."
Setelah menyelesaikan seratus hitungan, Erlang beristirahat di bawah pohon dewandaru dekat pondok. Ia mengatur napasnya yang agak memburu. Ia memandangi kedua telapak tangannya sendiri dengan perasaan bimbang.
“Kenapa rasanya hambar sekali ya? Setiap kali aku memukul, rasanya tidak ada tenaga yang tersalurkan dengan benar. Ah, mungkin memang aku yang kurang berbakat,” batin Erlang sambil menghela napas panjang.
"Erlang! Sini sebentar, Nak!" panggil Ki Suro dari dalam pondok. Suaranya terdengar agak tergesa-gesa.
Erlang langsung bangkit dan berlari masuk ke dalam gubuk. "Ada apa, Paman? Ada yang sakit?"
Ki Suro menggeleng, menunjuk ke arah gentong air di dapur yang sudah mulai kosong. "Air di dapur sudah hampir habis. Tolong ambilkan air ke sendang di bawah bukit sekarang, ya? Paman mendadak merasa sangat haus dan ingin membasuh kaki."
"Oh, siap, Paman. Aku ambil jeriken dulu," jawab Erlang cekatan. Ia mengambil dua buah jeriken bambu berukuran besar dan mengikatnya di bilah kayu untuk dipikul.
"Hati-hati di jalan, jangan melamun," pesan Ki Suro dari tempat tidurnya.
"Iya, Paman. Tidak lama kok, sendangnya kan dekat," sahut Erlang sambil melangkah keluar dari pondok dengan langkah yang ringan.
Keseharian seperti inilah yang dijalani Erlang selama bertahun-tahun. Menumbuk jamu, memasak bubur, menyeka tubuh paman gurunya yang sakit, lalu dilanjutkan dengan latihan gerak silat dasar yang terasa monoton di halaman. Bagi Erlang, kehidupan di pondok terpencil ini adalah dunianya yang sekarang. Ia tidak pernah mengeluh, tidak pernah menuntut lebih, dan selalu menjalaninya dengan penuh rasa ikhlas demi merawat satu-satunya orang tua yang tersisa di hidupnya.
Erlang berjalan menyusuri jalan setapak di antara semak belukar menuju mata air, membawa serta kepolosan dan ketidaktahuannya tentang betapa luas dan kejamnya dunia persilatan di luar sana, yang suatu hari nanti harus ia hadapi.
Malam itu, dinginnya udara Gunung Lawu terasa berkali-kali lipat lebih menusuk tulang. Di dalam pondok terpencil, suasana begitu mencekam. Suara embusan angin yang menerpa dinding-dinding bambu berpadu dengan suara napas yang terengah-engah dan tersendat dari atas amben.
Erlang duduk bersimpuh di samping tempat tidur paman gurunya. Wajah pemuda berusia lima belas tahun itu tampak sangat panik. Tangannya gemetar saat memeras kain basah untuk diletakkan di dahi Ki Suro. Di dekat mereka, sebuah mangkuk berisi ramuan jamu masih penuh, sudah mendingin karena tidak kunjung disentuh.
"Paman... Paman harus minum jamunya dulu. Sedikit saja, Paman," bujuk Erlang dengan suara yang mulai serak menahan tangis.
Ki Suro perlahan membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat. Pandangannya sudah mulai kabur, kekuningan, dan tidak lagi fokus. Ia menggerakkan tangannya yang kurus kering, menolak mangkuk jamu itu dengan lemah. "Sudah... sudah tidak perlu, Erlang. Percuma... Jamu itu tidak akan bisa menambal paru-paruku yang sudah hancur ini."
"Jangan bicara begitu, Paman! Paman pasti sembuh. Besok pagi aku akan turun ke desa bawah, mencari tabib yang lebih hebat. Paman harus bertahan," kata Erlang, air matanya kini benar-benar runtuh membasahi pipinya.
"Uhuk! Uhuk! Uhok!"
Ki Suro terbatuk hebat, membuat tubuh ringkihnya terguncang ke atas amben. Kali ini, gumpalan darah hitam kental keluar dari mulutnya, membasahi kain penutup dadanya. Erlang semakin panik dan langsung menyeka darah itu dengan tergesa-gesa.
"Paman! Paman Suro!" jerit Erlang ketakutan.
"Dengarkan... dengarkan Paman, Erlang," bisik Ki Suro, suaranya kini terdengar sangat lirih, hampir menyerupai desiran angin malam. "Waktuku... waktuku sudah tidak lama lagi. Tolong jangan potong ucapan Paman."
Erlang menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan isakannya agar bisa mendengar suara sang paman. Ia mengangguk cepat sambil menggenggam tangan Ki Suro yang terasa sedingin es. "Iya, Paman. Aku dengar. Aku dengar."
"Selama delapan tahun ini... kau pasti sering bertanya-tanya dalam hati, kenapa ilmu silat yang kuajarkan kepadamu sangat biasa dan hambar, bukan?" tanya Ki Suro dengan senyum getir yang dipaksakan.
Erlang menggeleng kuat-kuat. "Tidak, Paman. Aku tidak pernah berpikiran buruk seperti itu. Ilmu dari Paman sudah sangat cukup bagiku."
"Jangan berbohong, Nak. Paman tahu kau pemuda yang cerdas," kata Ki Suro, napasnya semakin pendek-pendek. "Kenyataannya... ilmu pamanmu ini memang dangkal. Dulu, pamanmu ini hanyalah murid biasa di perguruan, tidak seperti ayahmu, Sadewa, yang merupakan murid emas. Paman tidak punya ilmu tingkat tinggi untuk diwariskan kepadamu."
"Aku tidak peduli tentang ilmu tinggi atau rendah, Paman! Yang penting Paman tetap hidup!" jawab Erlang dengan emosional.
"Kau harus peduli, Erlang! Karena kau... kau punya beban besar di pundakmu," potong Ki Suro, tiba-tiba mendapatkan sedikit kekuatan batiniah untuk berbicara lebih tegas. Matanya menatap lurus ke dalam netra Erlang. "Kau harus membalaskan dendam kematian orang tuamu. Kau tidak bisa membiarkan para pembunuh itu berkeliaran dengan tenang setelah merenggut nyawa Sadewa dan isrinya."
Erlang terpaku. Ingatan tentang malam berdarah delapan tahun lalu kembali berputar di kepalanya bagai mimpi buruk yang nyata. "Tapi... tapi sampai sekarang aku bahkan tidak tahu siapa mereka, Paman. Siapa orang-orang bertopeng hitam itu?"
Ki Suro menarik napas dalam-dalam, menahan rasa sakit yang luar biasa di dadanya. "Paman juga tidak tahu nama asli mereka. Tapi... ada satu orang yang tahu. Ada satu orang yang memegang kunci rahasia tentang siapa dalang di balik pembunuhan malam itu."
"Siapa, Paman? Katakan padaku! Di mana aku bisa menemukannya?" tanya Erlang, mencondongkan badannya lebih dekat.
"Pergilah... pergilah ke arah selatan, ke pesisir Pantai Parangtritis," bisik Ki Suro. "Di sana, carilah seorang lelaki tua bernama Mbah Wiro. Dia dulu adalah sahabat karib ayahmu dan juga seorang penyelidik rahasia dunia persilatan yang sangat ulung. Mbah Wiro tahu persis siapa orang-orang yang mengincar kitab pusaka milik keluargamu dulu."
"Mbah Wiro di Parangtritis..." Erlang mengulangi nama itu dalam hati agar tidak pernah lupa. "Baik, Paman. Aku akan mencarinya setelah Paman sembuh."
"Tidak, Erlang. Kau harus mencarinya sekarang, setelah aku tiada," ujar Ki Suro, mencengkeram tangan Erlang dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya. "Tapi ingat pesan Paman ini baik-baik. Jangan sekali-kali kau menantang musuhmu sebelum kau memiliki ilmu silat tingkat tinggi. Ilmu yang kuberi selama ini tidak akan cukup untuk menghadapi mereka. Mereka adalah orang-orang kuat."
"Lalu... lalu bagaimana aku bisa mendapatkan ilmu tingkat tinggi itu, Paman?" tanya Erlang bingung.
"Dalam perjalananmu menuju selatan nanti... bukalah matamu lebar-lebar. Carilah guru sakti, carilah perguruan besar. Mintalah untuk diangkat menjadi murid. Dengan bakat dan ketulusan hatimu, Paman yakin akan ada pendekar hebat yang mau menurunkan ilmunya kepadamu. Jangan pernah menyerah sampai kau menemukan guru yang tepat, mengerti?"
"Iya, Paman. Aku mengerti. Aku berjanji akan mencari guru sakti dan menuntut ilmu sampai tinggi," jawab Erlang sambil meremas kembali tangan paman gurunya.
Ki Suro tampak sedikit lega mendengarnya. Ketegangan di wajahnya perlahan mengendur. "Bagus... Anak pintar. Tugas Paman di dunia ini... rasanya sudah selesai. Aku sudah mengantarmu sampai usia lima belas tahun..."
"Paman... jangan pergi dulu, Paman. Tolong temani aku lebih lama lagi," pinta Erlang, air matanya mengalir semakin deras, membasahi punggung tangan Ki Suro.
"Jangan menangis, Erlang. Pendekar... pendekar tidak boleh cengeng. Jadilah... jadilah orang baik yang selalu menolong sesama, seperti yang selalu diajarkan ayahmu dulu..." Suara Ki Suro semakin mengecil, berubah menjadi bisikan yang putus-putus.
"Paman? Paman Suro!" Erlang memanggil dengan nada yang semakin panik.
"Mbah Wiro... Parangtritis... Carilah... guru... sakti..."
Itu adalah kalimat terakhir yang keluar dari bibir Ki Suro. Perlahan, cengkeraman tangannya pada jemari Erlang terlepas. Matanya menutup dengan sangat perlahan, dan dadanya tidak lagi bergerak naik turun. Napasnya telah berhenti sepenuhnya. Suasana di dalam kamar mendadak menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara angin malam yang terus menderu di luar pondok.
Erlang terdiam selama beberapa detik, terpaku menatap wajah paman gurunya yang kini tampak begitu tenang, bebas dari rasa sakit yang menyiksanya selama bertahun-tahun. Keheningan itu pecah saat Erlang merebahkan kepalanya di atas dada Ki Suro yang sudah dingin, lalu menangis sejadi-jadinya meluapkan rasa kehilangan yang teramat sangat.
"Paman... Terima kasih untuk semuanya... Aku berjanji akan melaksanakan semua wasiatmu," bisik Erlang di sela-sela tangisnya.
Malam itu, di dalam gubuk yang sepi di lereng Gunung Lawu, Erlang kehilangan orang tua kedua dalam hidupnya. Namun di balik kesedihan yang mendalam itu, sebuah petunjuk baru telah terbentang di depannya. Nama Mbah Wiro dan tempat bernama Parangtritis kini telah terpatri kuat di dalam benaknya, menjadi arah kompas pertama bagi langkah kaki Erlang untuk memulai petualangan besarnya di dunia luar.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!