Indonesia
NovelToon NovelToon

Anak Kembar Jenius Untuk Sang Mantan CEO

Bab 1

Bibir Flossie berdarah, karena tamparan keras yang menggema dan mengalahkan suara gemuruh guntur di luar kediaman megah Kincaid.

Tubuh ringkih Flossie terhuyung dan ambruk di atas lantai marmer yang terasa sedingin es. Gaunnya basah kuyup oleh sisa hujan dan menempel ketat di tubuhnya yang gemetar.

Sebuah amplop cokelat di genggaman tangannya terlepas dan meluncur ke bawah meja yang menyembunyikan secarik kertas berharga dari rumah sakit yang bertuliskan, bahwa ia positif hamil empat minggu.

​Flossie mendongak dengan pandangan berkunang-kunang dan pipi yang terasa panas. Willa Kincaid berdiri di depannya.

Napas ibu mertuanya itu memburu dan wajahnya nampak pucat pasi. Namun, matanya memancarkan kilatan amarah. Di dekat kakinya sebuah cangkir porselen hancur berantakan dan menumpahkan cairan teh herbal yang berwarna aneh ke lantai marmer yang putih.

​"Wanita ular! Jadi begini caramu membalas kebaikan keluarga Kincaid?!" pekik Willa histeris. "Kamu mau membunuhku, kan?!"

​Flossie menyeka darah segar yang merembes di bibirnya dengan tangan gemetar.

"I-Ibu, apa salah Flossie? Flossie baru saja kembali dan ...."

​"Jangan berlagak polos, Flossie!"

Willa memotong tajam dan tangannya tiba-tiba mencengkeram perutnya sendiri dengan kuat. Tubuhnya membungkuk dan wajahnya berkerut menahan sakit.

"Kamu sudah menaruh racun di teh herbal yang kamu seduh sebelum pergi tadi, kan?! Kamu dendam karena aku selalu menegur kelakuanmu yang miskin dan tidak tahu aturan!"

​"Tidak, Ibu! Demi Tuhan, tidak!"

Flossie menggeleng panik dan mencoba merangkak maju untuk menolong.

"Flossie hanya menyeduh teh seperti biasa. Flossie tidak pernah ...."

​"Bohong!"

​Tepat pada detik itu, pintu ganda setinggi tiga meter di belakang mereka terbanting terbuka. Alfie Kincaid melangkah masuk. Setelan jas hitamnya basah di bagian bahu.

Langkah kakinya yang tegas mendadak terkunci saat melihat kekacauan di aula utama rumahnya.

​"Ibu! Ada apa ini?"

Alfie langsung berlari kencang dan melewati Flossie begitu saja tanpa menoleh seolah istrinya itu hanya pajangan tak kasat mata.

Ia menangkap tubuh Willa yang hampir ambruk.

​"Alfie, Tolong Ibu!" ratap Willa dengan suara yang mendadak melemah dan bersandar di dada putranya.

"Istrimu, Flossie, dia meracuniku. Perut Ibu seperti terbakar."

​Alfie beralih menatap cangkir pecah di lantai, lalu pandangannya perlahan naik dan menghujam langsung ke arah Flossie yang masih bersimpuh tidak berdaya dengan bibir berdarah.

​Flossie menatap suaminya dan memohon dengan sisa keberanian yang ia miliki.

"Alfie, dengarkan aku dulu! Bukan aku yang melakukannya. Aku bahkan baru melangkah masuk ke rumah ini!"

​"Diam, Flossie!" bentak Alfie.

​"Alfie, tolong percayalah padaku kali ini saja!" isak Flossie.

Air matanya jatuh bercampur dengan noda darah di pipinya.

"Kenapa aku harus meracuni Ibu? Aku tidak punya alasan untuk melakukan hal sekeji itu!"

​Willa kembali mengerang keras dan memotong pembelaan Flossie dengan sempurna.

"Argh! Alfie, sakit sekali, rasanya organ dalam Ibu terkoyak."

​"Ibu, bertahanlah! Jangan banyak bergerak!" ucap Alfie cemas.

​Namun, begitu dia mendongak untuk menatap Flossie kembali, seluruh kehangatan itu menguap. Alfie menatap Flossie dengan tatapan muak yang belum pernah Flossie lihat sebelumnya selama dua tahun pernikahan mereka.

​Jantung Flossie serasa berhenti berdetak. Tatapan dingin Alfie menghantam batinnya jauh lebih sakit daripada tamparan Willa tadi.

​"Alfie," bisik Flossie lirih.

Dia ingin berteriak dan ingin memberi tahu pria itu tentang janin yang baru saja hadir di rahimnya, tetapi kilat kebencian di mata Alfie membuat lidahnya mendadak mati rasa.

​Alfie tidak memedulikan keputusasaan istrinya. Ia merogoh saku jasnya dengan cepat dan mengeluarkan ponselnya, lalu berteriak dengan suara menggelegar yang menggema di seluruh penjuru mansion.

​"Panggil ambulans ke kediaman Kincaid sekarang! Cepat! Ibuku keracunan!"

​Setelah memutus panggilan, Alfie kembali menatap Flossie dan mengabaikan keberadaab wanita itu seolah-olah Flossie hanyalah debu tak berharga yang harus segera disingkirkan dari hidupnya.

***

Aroma antiseptik yang menyengat berbaur dengan hawa dingin pendingin ruangan di koridor rumah sakit malam itu.

Jam dinding digital di atas ruang gawat darurat menunjukkan pukul tiga pagi. Hujan di luar mulai mereda dan menyisakan ketukan rintik di kaca jendela.

​Pintu ruang tindakan bergeser terbuka. Seorang dokter dengan snelli putih melangkah keluar sambil melepas masker bedahnya.

​Alfie yang sejak tadi berdiri kaku bersandar di dinding langsung menegakkan tubuhnya.

"Bagaimana kondisi ibu saya, Dok?"

​"Dokter, bagaimana Ibu?"

Flossie ikut menghambur maju dan mengabaikan rasa perih di bibirnya yang mulai membiru.

​Dokter itu menatap keduanya bergantian sebelum mengembuskan napas lega.

"Beruntung jumlah zat asing yang masuk ke tubuh Pasien tidak terlalu banyak dan tindakan bilas lambung segera dilakukan. Kondisi Ibu Willa sudah stabil. Saat ini beliau sedang beristirahat untuk memulihkan kesadarannya."

​"Zat asing? Maksud Anda benar-benar racun?" suara Alfie merendah, namun getaran amarah di dalamnya begitu kuat.

​"Kami masih mengirim sampel cairan ke laboratorium untuk memastikan jenisnya, Pak Kincaid. Namun gejala klinisnya memang menunjukkan indikasi intoksikasi akut akibat zat korosif ringan."

Dokter itu mengangguk sopan.

"Permisi, saya harus memeriksa pasien lain."

​Begitu langkah dokter menjauh, keheningan mencekam kembali di koridor. Flossie memberanikan diri menyentuh lengan jas Alfie yang masih menyisakan rasa lembap akibat air hujan.

"Alfie, demi Tuhan, dengarkan aku sekarang!" bisik Flossie.

"Hasil medis Ibu sudah keluar, dia baik-baik saja. Sekarang tolong beri aku waktu satu menit untuk menjelaskan. Aku tidak tahu ...."

​Alfie menyentak lengannya dengan kasar dan membuat jemari Flossie melayang di udara. Pria itu berbalik dan menatap Flossie dengan mata yang memancarkan kebencian.

​"Menjelaskan apa, Flossie? Menjelaskan bagaimana caramu menakar racun itu agar Ibu tidak langsung mati di tempat?" tanya Alfie dengan nada sarkastis.

​"Alfie! Aku tidak sekeji itu!"

Bab 2

Flossie mencengkeram dadanya sendiri dan merasakan detak jantungnya berdegup kencang. Di dalam rahimnya, ada nyawa kecil yang ingin dia lindungi, namun masalah di depannya terlalu besar.

"Aku istrimu! Dua tahun kita hidup bersama, apa di matamu aku ini monster?"

​"Dua tahun, benar."

Alfie terkekeh sinis dan sebuah tawa yang terdengar mengerikan di koridor sunyi itu.

"Dua tahun aku membiarkan wanita miskin bermuka dua bersikap seolah dia adalah malaikat paling tulus di rumahku dan malam ini topengmu lepas berantakan."

​"Apa maksudmu bermuka dua? Aku selalu menghormati Ibu, aku selalu melayanimu dengan semua yang aku punya!"

​"Melayaniku?"

Alfie mendengus, lalu ia merogoh saku dalam jas hitamnya dan mengeluarkan sebuah amplop berwarna cokelat tua, lalu melemparkannya tepat ke dada Flossie.

Brak! Amplop itu jatuh terbuka di lantai rumah sakit.

"Lalu apa yang dilakukan pelacur murahan ini di belakangku?!"

Flossie tersentak dan pandangannya turun ke lantai. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat lembaran-lembaran kertas foto yang berserakan di atas ubin putih.

​Di sana terpampang foto dirinya. Namun, wanita di foto itu sedang mengenakan pakaian minim yang robek di beberapa bagian, berada di atas ranjang sebuah hotel mewah, dan sedang berpelukan mesra dengan seorang pria asing berambut gondrong dan bertato.

Ada belasan foto dengan sudut pengambilan gambar yang berbeda dan semuanya memperlihatkan keintiman yang menjijikkan.

​"T-Tidak. Ini bukan aku."

Flossie menggeleng histeris. Ia berlutut dan memungut foto-foto itu dengan tangan yang bergetar hebat.

"Alfie, ini bukan aku! Aku bersumpah demi nyawaku, aku tidak pernah pergi ke hotel ini! Aku tidak kenal pria ini!"

​Alfie berjongkok di depan Flossie dan mencengkeram dagu wanita itu dengan jari-jarinya yang kuat hingga Flossie terpaksa mendongak.

​"Foto itu diambil tiga hari lalu, tepat saat kamu pamit pergi mengunjungi ibumu yang sakit di pinggiran kota.Ternyata ini caramu merawat ibumu? Di atas ranjang pria lain?" ujar Alfie tepat di depan wajah Flossie.

"Ini fitnah, Alfie! Ini rekayasa digital. Seseorang sengaja mengedit wajahku!"

Air mata Flossie menetes deras dan membasahi jemari Alfie yang mencengkeram rahangnya.

"Tolong, periksa kembali! Mengapa kamu lebih percaya pada selembar kertas sialan ini daripada istrimu sendiri?"

​Alfie mengempaskan dagu Flossie sehingga kepala wanita itu tertoreh ke samping. Ia berdiri dan menatap Flossie dari ketinggian dengan pandangan penuh rasa jijik.

​"Karena aku sudah memeriksa aliran rekeningmu, Flossie," ujar Alfie dingin.

"Sepuluh ribu dollar keluar dari tabungan pribadimu ke rekening pria bertato itu di hari yang sama. Mau beralasan apa lagi? Kamu membayar selingkuhanmu menggunakan uang dari keluargaku!"

Flossie terpaku di lantai.

"Aliran rekening? Tabungannya? Bagaimana mungkin? Uang di tabungan itu adalah sisa uang bulanan yang ia kumpulkan untuk biaya persalinan nanti jika sewaktu-waktu ia hamil," pikirnya.

Ia tidak pernah menyentuhnya sama sekali.

​Willa. Sebuah nama tiba-tiba terlintas di benak Flossie. Dua hari lalu, Willa meminjam ponselnya dan kartu identitasnya dengan alasan untuk mendaftarkan asuransi kesehatan keluarga.

"Apakah semuanya sudah direncanakan serapi ini?" pikirnya lagi.

​"Alfie, dengarkan aku, ini jebakan."

Flossie merangkak dan memeluk kaki celana panjang Alfie.

"Ibu meminjam ponselku dua hari lalu. Aku bersumpah bukan aku yang mengirim uang itu! Ada seseorang yang ingin menghancurkanku, Alfie! Tolong, demi an ...."

Kata-kata Flossie terputus. Kata anak itu tertelan kembali di tenggorokannya saat Alfie menarik kakinya dengan kasar dan membuat Flossie terjatuh tengkurap di lantai koridor.

​"Cukup, Flossie! Jangan pernah berani menuduh Ibuku lagi!" bentak Alfie.

"Kamu berselingkuh, lalu saat Ibuku memergoki kelakuan busukmu, kamu mencoba melenyapkannya dengan racun agar kamu bisa menguasai harta warisan Kincaid setelah aku mati, bukan? Wanita miskin sepertimu memang hanya mengincar uang sejak awal!"

Hati Flossie rasanya seperti diremas hingga hancur berkeping-keping. Dua tahun pernikahan dan pria ini masih menganggapnya sebagai wanita oportunis yang haus harta.

Semua ketulusannya dan semua malam-malam sepi yang ia lalui demi menunggu pria ini pulang kerja tidak ada artinya sama sekali untuknya.

​Flossie perlahan bangkit berdiri. Tangannya tanpa sadar bergerak melindungi perutnya dan mendekap janin empat minggu yang bahkan belum sempat diketahui oleh ayahnya.

"Tidak," batin Flossie getir, "Pria ini tidak berhak menjadi ayahnya."

​Alfie menatap dingin ke arah Flossie yang berdiri diam dengan tatapan mata yang perlahan mulai kehilangan cahayanya. Dari balik saku jas hitamnya yang mahal, Alfie mengeluarkan selembar kertas putih yang terlipat rapi.

Ia membuka lipatan itu dengan sekali sentakan, lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Flossie.

Di bagian atas kertas itu, tercetak huruf tebal yang sangat jelas. SURAT PERJANJIAN PERCERAIAN.

​"Tanda tangani ini atau aku pastikan seluruh keluargamu membusuk di penjara malam ini juga," ancam Alfie yang sanggup membekukan seluruh darah di tubuh Flossie.

Flossie menatap lembaran kertas di depannya. Huruf-huruf tebal bertuliskan SURAT PERJANJIAN PERCERAIAN itu tampak mengabur, terhalang oleh lapisan air mata yang kembali menggenang di pelupuk matanya.

​"Kau mengancam keluargaku, Alfie?" suara Flossie nyaris berupa bisikan dan bergetar di antara keputusasaan dan rasa tidak percaya.

"Ayahku sedang sakit keras, ibuku tidak tahu apa-apa dan kamu ingin menjebloskan mereka ke penjara atas tuduhan palsu ini?"

​"Itu bukan tuduhan palsu jika aku yang memegang kendali hukumnya, Flossie."

Alfie melangkah lebih dekat. Ia menatap Flossie dengan tatapan yang sanggup menguliti harga diri wanita itu.

"Satu telepon dariku ke kepala kepolisian dan seluruh keluargamu akan diseret dari rumah reot mereka sebelum fajar menyingsing. Pilihannya ada di tanganmu. Tanda tangani atau tonton kehancuran mereka."

"Baik."

Flossie membuka matanya. Sorot matanya yang semula penuh permohonan, sekarang digantikan oleh kekosongan.

"Ambilkan pulpen!"

Bab 3

Alfie mendengus, lalu mengeluarkan sebuah pulpen berujung emas dari saku jasnya dan menyodorkannya dengan kasar.

"Pilihan yang cerdas."

​Sebelum menerima pulpen itu, Flossie bergerak secara refleks. Tangan kirinya meraba tas jinjingnya yang tergeletak di kursi koridor.

Ia mendorong amplop cokelat berisi hasil tes kehamilannya jauh ke dalam bawah tasnya dan menutupinya dengan syal rajut.

​Jantungnya berdegup liar.

"Pria ini tidak boleh tahu. Mengapa aku harus membagi darah dagingku dengan pria kejam yang menganggapku seorang pembunuh? Janin ini adalah milikku sepenuhnya. Hanya milikku," jerit batinnya.

​Flossie menerima pulpen itu dengan tangan gemetar. Setiap goresan tinta yang dia torehkan terasa seperti sayatan pisau yang memotong sisa-sisa rasa cintanya pada Alfie hingga tak berbekas.

Air matanya menetes dan membasahi kertas putih itu, membuat noda tinta hitamnya sedikit melebar.

​Flossie Kincaid. Tidak, mulai detik ini, nama belakang itu bukan lagi miliknya.

​"Sudah."

Flossie meletakkan pulpen itu di atas meja koridor. Dia berdiri tegak dan mengabaikan rasa pening yang mendera kepalanya dan rasa melilit yang samar di perut bagian bawahnya.

Ia menarik tasnya dan mendekapnya erat di depan perut sebagai pelindung naluriah untuk bayinya.

"Aku sudah menandatanganinya. Sekarang, tepati janjimu. Jangan sentuh keluargaku!"

​Alfie menyambar kertas itu dan memeriksanya sejenak dengan tatapan tajam sebelum melipatnya kembali dan memasukkannya ke dalam saku jas.

​"Urusan kita selesai," kata Alfie dingin.

"Pengacaraku akan mengurus sisanya ke pengadilan. Kamu tidak akan mendapatkan satu sen pun dari harta Kincaid."

​"Aku tidak pernah menginginkan uang sialanmu, Alfie," sahut Flossie membuat Alfie sempat menaikkan sebelah alisnya karena terkejut.

"Tahan saja semua hartamu sampai kamu mati."

​Wajah Alfie mengeras mendengar kelancangan Flossie. Ia melangkah maju dan mencengkeram lengan Flossie dengan kekuatan yang membuat wanita itu meringis.

Ia menyeret Flossie kasar menyusuri koridor dan mengabaikan protes lirih yang keluar dari bibir istrinya.

​"Alfie, lepaskan! Apa yang kamu lakukan?!"

​"Mengusir seonggok sampah dari pandanganku," jawab Alfie tanpa perasaan.

​Mereka sampai di pintu lobi utama rumah sakit. Di luar suara guntur tiba-tiba menggelegar dengan dahsyat dan menggetarkan kaca-kaca gedung.

​Alfie mendorong Flossie keluar ke area drop-off yang terbuka, tepat di bawah guyuran hujan yang deras.

​"Jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi di kediaman Kincaid dan jangan pernah berani mendekati Ibuku lagi," ujar Alfie.

"Jika aku melihatmu berkeliaran di dekat keluargaku, aku tidak akan segan-segan menggunakan surat ini untuk menjebloskanmu sendiri ke balik jeruji besi."

​Flossie berdiri gemetar di bawah guyuran angin malam dan menatap suaminya untuk yang terakhir kali.

"Kamu akan menyesali malam ini, Alfie Kincaid. Kamu akan memohon ampun atas setiap air mata yang jatuh malam ini."

​Alfie tidak membalas dan ia berbalik dengan acuh tak acuh dan membiarkan pintu kaca otomatis rumah sakit tertutup di belakangnya dan memisahkan dunia mereka.

***

Dingin yang menggigit langsung menyergap kulit Flossie. Dalam hitungan detik, gaun tipis yang dikenakannya basah kuyup dan menempel ketat pada kulitnya yang mulai memucat dan menggigil hebat.

​Tanpa uang sepeser pun di saku, tanpa payung, dan tanpa arah tujuan, Flossie melangkah keluar dari area drop-off menuju pelataran parkir yang luas.

​"Tuhan, ke mana aku harus pergi?" bisik Flossie.

​Setiap langkahnya terasa begitu berat. Batinnya hancur dan terkoyak oleh tuduhan keji dan pengkhianatan dari pria yang paling dicintainya.

Flossie terus berjalan menyusuri aspal dingin dan keluar dari area rumah sakit menuju jalan raya yang sepi. Kedua tangannya tidak pernah lepas dari tas jinjing yang didekap erat di depan perutnya dan mencoba memberikan kehangatan minimal bagi janin di dalam rahimnya.

​Di saat yang sama, sebuah mobil sedan mewah hitam melesat membelah genangan air di area parkir rumah sakit. Di kursi belakang, Alfie duduk bersandar dengan rahang yang mengatup rapat.

Pengawal pribadinya memegang kemudi dengan fokus penuh menembus badai.

​"Pak, kita langsung kembali ke mansion atau ke kantor?" tanya sang sopir memecah keheningan.

"Mansion," jawab Alfie singkat.

​Mobil bergulir mulus melewati gerbang luar rumah sakit dan berbelok ke jalan raya. Saat mobil melaju kencang, lampu sorot depan menerangi sosok wanita yang berjalan limbung di pinggir jalan yang gelap.

Wanita itu tidak memakai alas kaki, rambut panjangnya lepek menempel di punggung, dan tubuhnya tampak sangat rapuh di bawah hantaman hujan.

​Alfie secara refleks menoleh ke arah kaca spion luar melalui pantulan cermin yang buram oleh titik-titik air, ia melihat bayangan Flossie yang nyaris tumbang diterpa angin kencang.

​Secercah rasa bersalah dan sesak yang asing tiba-tiba menghantam dada Alfie. Jantungnya berdenyut nyeri melihat pemandangan itu.

​"Pak Alfie."

Sopir itu ikut melirik dari kaca spion tengah, suaranya ragu-ragu.

"Itu bukankah Ibu Flossie? Apakah kita harus berhenti dan ...."

​"Tidak," potong Alfie cepat berusaha keras untuk mengeraskan hatinya kembali.

Kilasan foto-foto intim Flossie dengan pria lain dan wajah ibunya yang kesakitan kembali berputar di otaknya.

"Jangan berhenti. Terus melaju!"

​"Tapi, Pak, badainya semakin ...."

"Aku bilang jalan terus!" bentak Alfie dan matanya menatap lurus ke depan, menolak untuk menoleh ke belakang lagi.

Alfie mengepalkan tangannya di atas lutut untuk mengusir paksa rasa sesak yang terus mengimpit dadanya.

​Sementara itu di tepi jalan yang sunyi, langkah kaki Flossie mendadak terhenti. Puluhan meter di depannya ada lampu belakang mobil Alfie perlahan menjauh dan menghilang di balik tikungan yang meninggalkan dirinya dalam kegelapan total.

​"Kamu benar-benar tidak peduli," lirih Flossie.

Tawa getir lolos dari sela bibirnya yang bergetar.

"Bahkan jika aku mati di jalan ini, kamu tidak akan peduli, Alfie."

Tepat setelah kata-kata itu terucap, sebuah rasa sakit yang luar biasa hebat tiba-tiba menyerang perut bagian bawah Flossie.

Rasa mulas yang tajam seperti ditarik dan diperas secara paksa, membuat Flossie refleks membungkuk dalam.

​"Ah!"

Flossie mengerang kesakitan. Tas jinjingnya terlepas dari dekapan dan jatuh ke atas kubangan air di aspal.

​Ia mencengkeram perutnya dengan kedua tangan. Rasa sakit itu begitu intens hingga membuatnya sulit untuk sekadar bernapas. Tubuhnya berlutut di tepi jalan dan bertumpu pada aspal yang kasar.

​"Tidak. Tidak sekarang," bisik Flossie panik.

Keringat dingin mulai bercampur dengan air hujan di pelipisnya.

"Kumohon, bertahanlah anakku, bertahanlah!"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!