"Aku hamil." Kalimat Kayla membuat tangan Aurel yang sedang menyusun berkas di meja makan terhenti. Perlahan Aurel mengangkat kepala, menatap perempuan yang berdiri di hadapannya.
Kayla. Sahabatnya sejak remaja. Wajah Kayla pucat. Kedua tangannya gemetar menggenggam sebuah test pack dengan dua garis merah yang tampak begitu jelas.
Aurel tersenyum tipis. "Selamat... akhirnya kamu hamil juga. Terus kenapa malah nangis? Bukannya tinggal minta tanggung jawab sama Ardi?"
Kayla justru menggeleng semakin keras. Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung.
"Aurel... maafin aku."
Senyum di wajah Aurel memudar. "Maafin apa?"
Kayla terduduk di lantai. Bahunya bergetar hebat. "Bayinya... bukan dari Ardi."
Dada Aurel berdesir. Ia ikut duduk di depan sahabatnya, menggenggam kedua tangan Kayla.
"Terus... dari siapa?"
Keheningan memenuhi ruangan. Kayla menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Aku nggak sanggup ngomong...."
"Kayla!" suara Aurel meninggi. "Jawab!"
Beberapa detik berlalu. Lalu, dengan suara yang hampir tak terdengar, Kayla berbisik,
"...Mahesa."
Seisi rumah mendadak sunyi. Aurel menatap Kayla tanpa berkedip. Ia menunggu. Menunggu sahabatnya tertawa dan berkata kalau semua itu hanya lelucon yang kelewatan.
Namun tidak ada tawa. Yang terdengar hanya isak tangis.
Aurel tersenyum kecil. Senyum yang dipaksakan.
"Jangan bercanda." kata Aurel berusaha mencairkan suasana.
"Aku nggak bohong...." jawab Kayla.
"Kayla."
"Maaf...."
"Kayla!" Aurel berdiri begitu cepat hingga kursi di belakangnya terjatuh.
"Suamiku?" tegas Aurel.
Kayla menangis semakin keras.
"Sejak kapan?" tanya Aurel.
Tak ada jawaban.
"SEJAK KAPAN?"
"...Tujuh tahun." jawab Kayla sambil terisak.
Kalimat itu menghantam Aurel jauh lebih keras daripada pengakuan sebelumnya. Tujuh tahun. Bukan tujuh minggu. Bukan tujuh bulan. Melainkan tujuh tahun.
Aurel mundur selangkah. Kakinya terasa lemas.
Tujuh tahun.
"Tujuh tahun." ucap Aurel lirih. Ingatan Aurel tiba-tiba melesat pada malam ketika putra pertamanya lahir.
Malam yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Namun justru menjadi malam paling sepi.
"Aurel, kamu yang kuat ya. Sebentar lagi pembukaannya lengkap." Suara bidan masih terngiang jelas di telinganya.
Saat itu rasa sakit datang bergelombang. Kontraksi membuat tubuhnya menggigil.
Di ruang persalinan, ia terus mencari satu wajah. Mahesa. Suaminya.
"Apa suami saya sudah datang?" tanya Aurel di sela napas yang memburu.
Perawat hanya tersenyum simpati. "Katanya masih ada pekerjaan penting, Bu."
Pekerjaan penting. Begitulah alasan yang diterimanya malam itu.
Mahesa hanya sempat menelepon beberapa menit. "Maaf ya, Sayang. Aku benar-benar nggak bisa ninggalin pekerjaan. Kamu pasti kuat."
Saat itu Aurel tidak marah. Ia justru meminta maaf karena telah merepotkan suaminya.
"Iya... hati-hati di jalan nanti."
Telepon ditutup. Lalu Aurel melahirkan putra mereka tanpa ditemani suaminya. Yang menggenggam tangannya justru ibunya. Yang pertama kali mendengar tangis bayinya juga ibunya. Sedangkan Mahesa baru datang keesokan paginya. Dengan wajah lelah. Dan sejuta permintaan maaf.
Saat itu Aurel percaya. Ia percaya suaminya memang sedang bekerja. Ia bahkan memarahi siapa pun yang menyalahkan Mahesa.
"Mahesa nggak mungkin sengaja. Dia kerja buat keluarga kami."
Kini..Ucapan Kayla kembali menggema di kepalanya.
"Sejak tujuh tahun lalu." ucap Aurel kembali.
Tepat saat anak pertama mereka lahir. Napas Aurel mendadak tercekat. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, muncul sebuah pertanyaan yang tak pernah berani ia pikirkan.
Kalau malam itu Mahesa tidak sedang bekerja, lalu sebenarnya dia sedang bersama siapa? Dan entah mengapa, Aurel merasa dirinya sudah mengetahui jawabannya. Jawaban yang selama ini bersembunyi di balik kepercayaan yang ia berikan kepada dua orang paling berarti dalam hidupnya.
"Maaf..." Suara Kayla pecah oleh tangis.
"Aku tahu aku nggak pantas dimaafin. Tapi aku benar-benar minta maaf, Rel." kata Kayla.
Aurel tidak menjawab. Tatapannya kosong. Seolah-olah seluruh suara di ruangan itu menghilang. Yang tersisa hanya denging panjang di telinganya.
Mahesa. Kayla. Dua nama itu terus berputar di kepalanya.
"Aurel... tolong bilang sesuatu." Kayla mencoba meraih tangan sahabatnya.
Namun sebelum jemarinya menyentuh kulit Aurel, perempuan itu menarik tangannya seolah baru saja menghindari bara api.
"Jangan sentuh aku." Suara Aurel lirih. Begitu lirih hingga justru terdengar lebih menyakitkan daripada teriakan.
Kayla menangis semakin keras. "Rel, aku khilaf...."
"Khilaf?" Aurel terkekeh pelan. Tawa yang terdengar begitu asing, bahkan bagi dirinya sendiri.
"Kamu bilang ini khilaf?" Air mata Aurel akhirnya jatuh.
"Satu kali itu namanya khilaf, Kayla." Aurel menatap lurus ke arah perempuan yang selama ini dianggap saudara.
"Tapi tujuh tahun?"
"Tujuh tahun itu pilihan." kata Aurel lagi.
Kayla tak mampu membalas. Ia hanya menundukkan kepala.
"Aku memang perempuan paling jahat...."
"Iya." Jawaban Aurel cepat. Tanpa ragu.
"Kamu memang jahat." Kalimat Aurel membuat Kayla semakin terisak.
"Aku tahu...."
"Nggak." Aurel menggeleng pelan.
"Kalau kamu tahu, kamu nggak akan datang ke rumahku. Nggak akan duduk semeja sama aku. Nggak akan memangku anakku. Nggak akan pura-pura jadi sahabatku."
Setiap kalimat keluar dengan tenang. Namun justru ketenangan itulah yang membuat dada Kayla sesak.
"Aku bahkan pernah nitip anakku sama kamu." Suara Aurel mulai bergetar.
"Aku percaya sama kamu lebih dari aku percaya sama orang lain." Tangis Aurel pecah.
"Ternyata selama ini... aku menitipkan anakku pada perempuan yang tidur dengan ayahnya."
Kayla menutup mulutnya. Dadanya terasa dihantam rasa bersalah yang tak lagi bisa ditahan.
"Aurel... aku...."
"Aku capek." Aurel berdiri. Langkahnya pelan. Lututnya terasa begitu lemah hingga ia hampir kehilangan keseimbangan.
Aurel tidak sanggup lagi menatap wajah Kayla.
Setiap melihat perempuan itu, yang terbayang bukan lagi sahabatnya. Melainkan pengkhianatan.
Tanpa mengatakan apa pun, Aurel berjalan menuju kamarnya.
"Rel... jangan tinggalin aku begini." Kayla mengikuti dari belakang.
"Tolong dengarkan penjelasanku...."
Brak! Pintu kamar tertutup tepat di depan wajah Kayla.
Klik. Suara kunci diputar.
"Aurel!" Kayla mengetuk pintu berkali-kali.
"Rel... buka pintunya. Aku mohon."
Tidak ada jawaban.
"Aku tahu aku salah."
"Aku tahu aku nggak pantas disebut sahabat lagi." Tangis Kayla menggema di balik pintu.
"Tapi jangan diam begini. Aku takut...."
Tetap sunyi. Di balik pintu itu, Aurel bersandar perlahan hingga tubuhnya meluncur jatuh ke lantai. Ia memeluk kedua lututnya. Tatapannya kosong. Dadanya sesak. Rasanya seperti ada sesuatu yang mencengkeram jantungnya begitu kuat hingga ia kesulitan bernapas.
Semuanya terasa tidak nyata. Beberapa menit yang lalu hidupnya masih baik-baik saja. Ia masih memiliki sahabat terbaik. Masih memiliki suami yang ia cintai.
Kini... Dalam hitungan detik, semuanya runtuh.
"Kenapa...?" Bisik Aurel lirih.
"Apa salahku...?" Air mata terus mengalir tanpa bisa dihentikan.
Aurel tidak pernah membayangkan hidupnya akan menjadi seperti ini.
Bukan karena suaminya selingkuh. Tetapi karena perempuan itu adalah Kayla.
Perempuan yang selalu ia sebut sebagai saudara. Perempuan yang hadir di setiap momen penting dalam hidupnya.
Perempuan yang menjadi pendamping pengantin saat ia menikah. Perempuan yang memeluknya ketika anak pertamanya lahir.
Perempuan yang ikut merayakan ulang tahun anaknya. Dan kini, Perempuan yang sama mengaku telah mengambil suaminya selama tujuh tahun.
Aurel memejamkan mata. Ingatan demi ingatan mulai bermunculan, seolah kepingan puzzle yang selama ini berserakan perlahan menemukan tempatnya.
Senyum Mahesa yang terkadang berubah canggung saat Kayla datang. Alasan lembur yang terlalu sering. Pesan-pesan yang buru-buru dihapus. Dulu semua itu ia abaikan. Karena satu hal. Kepercayaan. Dan malam ini, ia sadar.
Kepercayaan itulah yang telah membutakan matanya selama tujuh tahun.
Tangisan Kayla perlahan mereda. Tangannya yang semula terus mengetuk pintu kini terkulai di sisi tubuh. Ia mengusap sisa air mata di pipinya, menarik napas panjang, lalu menatap daun pintu yang masih tertutup rapat.
"Aku benar-benar minta maaf, Rel..." Kalimat itu meluncur pelan.
Namun kali ini tidak ada jawaban dari dalam.
Kayla menundukkan kepala beberapa detik, lalu berbalik meninggalkan rumah Aurel.
Pintu pagar ditutup perlahan. Begitu berada di luar, Kayla menghentikan langkahnya.
Tangannya merogoh tas dan mengeluarkan benda kecil berwarna putih. Yaitu Test pack.
Dua garis merah itu masih tampak jelas. Kayla menatapnya lama. Kemudian, Senyum tipis terbit di sudut bibirnya.
Kayla menghapus sisa air mata di pipinya hingga tak ada lagi jejak tangisan.
"Maaf, Rel..." Suara Kayla kini terdengar jauh lebih tenang.
"tapi aku juga capek terus jadi perempuan kedua."
Dengan santai, Kayla membuka tutup test pack tersebut. Dari dalam tasnya, ia mengeluarkan spidol merah yang tadi digunakan untuk menebalkan garis samar pada alat itu.
Kayla menatap hasil tes kehamilan buatannya sendiri. Lalu tertawa pelan.
"Aku bahkan nggak hamil." kaya Kayla sambil terkekeh.
Benda itu ia patahkan menjadi dua, kemudian membuangnya ke tempat sampah di tepi jalan.
Selama ini, hubungan Kayla dengan Ardi tak pernah lebih dari status tunangan. Tidak pernah ada yang melampaui batas. Ardi adalah laki-laki baik. Terlalu baik, bahkan.
Sayangnya, Kayla tidak pernah benar-benar mencintainya. Yang ia cintai hanya satu orang.
Yaitu Mahesa.
Hubungan terlarang itu telah berlangsung selama tujuh tahun. Awalnya, Kayla selalu berkata pada dirinya sendiri bahwa semua ini hanya sementara.
Bahwa suatu hari ia akan mengakhirinya. Namun semakin lama, semakin sulit baginya untuk melepaskan Mahesa. Terlebih ketika keluarga mulai mendesaknya.
"Kapan nikah, Kay?"
"Ardi sudah mapan."
"Jangan ditunda terus. Umurmu juga sudah cukup." Pertanyaan-pertanyaan itu datang hampir setiap kali ada acara keluarga.
Ibunya Kayla bahkan sudah mulai menentukan tanggal pernikahan. Ayahnya Kayla sibuk membahas gedung.
Sedangkan Ardi, Laki-laki itu terus bersabar menunggu jawaban pasti darinya.
Kayla tidak sanggup. Ia tidak ingin menikah dengan pria yang tidak ia cintai.
Namun ia juga lelah menjalani hubungan yang selalu disembunyikan. Karena itulah Kayla mengambil keputusan nekat. Menghancurkan semuanya.
"Kalau Aurel tahu..."
Kayla memandang langit malam. "nggak akan ada jalan buat Mahesa kembali."
Kayla percaya. Setelah pengakuan tadi, rumah tangga Aurel pasti akan retak. Dan saat rumah itu runtuh, Mahesa tak akan punya pilihan selain melepaskan masa lalunya. Lalu memilih dirinya.
Kayla tersenyum puas. "Sebentar lagi..."
"Aku nggak perlu jadi perempuan yang selalu menunggu." kata Kayla dengan senyum puas.
Di waktu yang sama, Sebuah mobil hitam berhenti di depan sebuah gedung perkantoran.
Mahesa baru saja menyelesaikan rapat dengan klien. Ia membuka ponselnya. Belasan panggilan tak terjawab memenuhi layar. Semuanya dari Kayla. Keningnya berkerut.
"Kenapa dia nelepon terus?" Mahesa bertanya dalam hati.
Belum sempat Mahesa menghubungi balik, sebuah pesan baru masuk.
"Aku sudah bilang semuanya ke Aurel." isi pesan dari Kayla membuat Mahesa membeku.
Jantung Mahesa serasa berhenti berdetak. Tangannya gemetar saat membaca ulang pesan itu.
"Aku sudah bilang semuanya ke Aurel."
Hanya satu kalimat. Namun cukup untuk membuat dunia Mahesa yang selama tujuh tahun dibangun di atas kebohongan, terancam runtuh dalam satu malam.
Tanpa pikir panjang, Mahesa menyalakan mesin mobil dan melaju meninggalkan pelataran parkir. Dalam benak Mahesa hanya ada satu tujuan. Yaitu rumah. Rumah yang mungkin, saat ia tiba nanti, sudah tak lagi mau menerimanya.
Suasana rumah berubah begitu sunyi. Tangis yang sejak tadi memenuhi kamar perlahan mereda.
Aurel masih terduduk di lantai, bersandar pada sisi ranjang. Napasnya mulai teratur, meski dadanya masih terasa sesak.
Ia menatap kosong ke arah jendela. Malam semakin larut. Tidak ada lagi suara ketukan dari luar kamar.
"Kayla benar-benar telah pergi." ucap Aurel lirih.
Aurel mengusap pipinya yang basah. Air mata memang masih mengalir, tetapi tidak sederas beberapa menit yang lalu.
Entah mengapa, setelah tangisan itu berhenti, pikirannya justru menjadi lebih jernih. Lalu hanya ada satu keputusan yang terlintas di benaknya. Yaitu Cerai. Tidak ada kata lain. Tidak ada kesempatan kedua. Tidak ada alasan yang mampu membenarkan pengkhianatan selama tujuh tahun.
Tujuh tahun. Bukan kesalahan sesaat. Bukan pula hubungan yang baru dimulai. Mereka telah memilih berbohong kepadanya selama bertahun-tahun.
Aurel mengembuskan napas panjang. "Aku nggak akan bertahan..." Bisiknya lirih.
"Aku nggak akan hidup dengan laki-laki yang menjadikanku pilihan kedua."
Tatapan Aurel beralih pada foto keluarga yang berada di atas nakas.
Di sana, Mahesa berdiri sambil menggendong putra mereka. Sedangkan Aurel tersenyum di sampingnya. Potret keluarga yang selama ini ia banggakan. Kini terasa seperti kebohongan yang dipajang dalam bingkai.
Perlahan Aurel mengambil foto itu. Jemarinya mengusap wajah putra kecilnya. "Maafin Mama ya, Nak." Air matanya kembali jatuh.
"Mungkin nanti keluarga kita nggak akan utuh lagi."
Namun kali ini ia segera menghapus air mata itu.
Tidak. Ia tidak boleh terus menangis. Masih ada anak yang harus ia lindungi. Masih ada masa depan yang harus ia perjuangkan.
Untungnya, Aurel tidak bergantung pada Mahesa. Sejak menikah, Aurel tetap mempertahankan kariernya. Pekerjaannya memberinya penghasilan yang lebih dari cukup untuk hidup layak. Ia memiliki tabungan. Memiliki rumah yang dibeli atas nama bersama. Dan yang terpenting, Aurel memiliki kemampuan untuk membesarkan anaknya sendiri.
"Aku bisa." Aurel menatap bayangannya di cermin.
"Aku pasti bisa." ulang Aurel.
Kalaupun nanti pengadilan memutuskan perceraian, Aurel yakin mampu menjadi ibu sekaligus ayah bagi putranya. Mungkin tidak akan mudah. Namun jauh lebih baik daripada mempertahankan rumah tangga yang dibangun di atas kebohongan.
Aurel berdiri. Kakinya masih terasa lemas. Ia melangkah menuju kamar mandi.
Air keran mengalir membasahi telapak tangannya. Perlahan Aurel membasuh wajahnya berkali-kali, seolah ingin menghapus jejak tangis yang sejak tadi membekas.
Aurel menatap pantulan dirinya di cermin.
Matanya sembap. Hidungnya memerah. Namun tatapannya kini jauh berbeda. Bukan lagi tatapan perempuan yang hancur. Melainkan tatapan seseorang yang telah mengambil keputusan.
"Aku akan dengar penjelasanmu, Mahesa." Suara Aurel terdengar tenang.
"Tapi itu bukan untuk mengubah keputusanku." Aurel menarik napas dalam.
"Lima belas tahun aku mengenal Kayla."
"Delapan tahun aku menjadi istrimu."
"Dan kalian memilih mengkhianatiku selama tujuh tahun." Aurel menggeleng pelan.
"Tidak ada penjelasan yang bisa menghapus itu."
Aurel merapikan rambutnya, mengganti pakaian rumahnya yang telah basah oleh air mata, lalu keluar dari kamar. Rumah masih sunyi. Jam dinding menunjukkan hampir pukul sembilan malam.
Aurel duduk di sofa ruang tamu. Tangannya menggenggam erat secangkir teh hangat yang sudah mulai mendingin.
Tatapannya tertuju ke arah pintu utama. Ia tidak akan menghubungi Mahesa. Tidak akan bertanya di mana suaminya berada.
Malam ini, ia hanya akan menunggu. Menunggu laki-laki yang selama ini ia cintai pulang. Dan setelah mendengar penjelasannya, Aurel akan mengakhiri pernikahan yang selama ini ia perjuangkan dengan sepenuh hati.
Suara mesin mobil berhenti tepat di depan rumah. Aurel tidak bergerak. Ia tetap duduk di sofa dengan kedua tangan terlipat di pangkuannya. Lampu ruang tamu sengaja tidak ia nyalakan. Hanya cahaya temaram dari lampu teras yang menyelinap melalui jendela, menciptakan bayangan panjang di lantai.
Tidak lama kemudian terdengar suara kunci diputar. Pintu utama terbuka perlahan.
Mahesa melangkah masuk sambil menarik napas panjang. Namun langkahnya langsung terhenti.
"Aurel..." Suara Mahesa nyaris tak terdengar.
Di tengah ruang tamu yang gelap, siluet istrinya masih duduk diam menatap lurus ke arahnya. Mahesa menelan ludah. Ia sudah membayangkan Aurel akan menangis, mengamuk, atau melemparkan barang-barang ke arahnya. Namun yang ia lihat justru jauh lebih mengerikan. Aurel diam. Tatapan Aurel begitu datar. Tidak ada air mata. Tidak ada bentakan. Hanya kesunyian yang membuat napas Mahesa terasa semakin berat.
Mahesa perlahan menutup pintu di belakangnya. Rumah yang biasanya terasa hangat kini berubah menjadi tempat yang asing.
"Aurel..." Mahesa mencoba mendekat.
"Jangan." Kata Aurel. Satu kata itu berhasil menghentikan langkah Mahesa
Mahesa membeku. Jarak di antara mereka kini hanya beberapa meter, tetapi terasa seperti jurang yang tak mungkin diseberangi.
"Aku..." Mahesa membuka mulut, lalu kembali menutupnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak tahu harus memulai dari mana. Apa yang harus ia jelaskan? Bahwa semua ini berawal dari sebuah kesalahan? Bahwa ia sebenarnya mencintai Aurel? Atau bahwa hubungan itu terjadi begitu saja? Semua alasan terdengar murahan. Apalagi setelah tujuh tahun. Mahesa mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
Dalam perjalanan pulang, Mahesa sudah mencoba menyusun berbagai kalimat. Namun kini, saat berhadapan langsung dengan Aurel, semua kata itu lenyap begitu saja. Yang tersisa hanyalah rasa takut. Takut kehilangan perempuan yang selama ini menjadi rumahnya. Dan yang lebih membuatnya terpukul. Ia sama sekali tidak siap menghadapi malam ini. Ia tidak pernah menyangka Kayla akan membuka semuanya secepat ini. Selama ini mereka selalu sepakat untuk merahasiakan hubungan itu. Setidaknya sampai. Bahkan Mahesa sendiri tidak tahu sampai kapan. Karena setiap kali ingin mengakhirinya, Kayla selalu memohon agar ia bertahan. Dan setiap kali ingin meninggalkan Aurel, hatinya tak pernah sanggup. Selama tujuh tahun Mahesa hidup di antara dua perempuan. Mengira ia mampu mengendalikan semuanya. Padahal kenyataannya, Ia hanya sedang menunda kehancuran.
Mahesa mengembuskan napas pelan. "Rel..." Suaranya serak.
"Aku tahu kamu marah."
Aurel akhirnya mengangkat wajah. Tatapan mereka bertemu.
"Marah?" Aurel tersenyum tipis.
Entah mengapa, senyum Aurel membuat Mahesa jauh lebih takut daripada jika Aurel menamparnya.
"Aku bahkan nggak tahu perasaan ini masih bisa disebut marah atau nggak." kata Aurel.
Mahesa terdiam.
"Aku cuma mau tanya satu hal." Aurel berdiri perlahan. Langkahnya tenang menghampiri Mahesa. Berhenti tepat satu meter di depan Mahesa.
"Tujuh tahun lalu..."
Mahesa mulai merasakan jantungnya berdetak semakin kencang.
"Malam saat aku melahirkan anak kita..." Suara Aurel mulai bergetar, tetapi tatapannya tetap tajam.
"kamu bilang sedang bekerja." Aurel menarik napas dalam.
"Lalu sekarang jawab aku dengan jujur." Aurel menatap lurus ke dalam mata suaminya.
"Malam itu... kamu benar-benar sedang bekerja?"
Ruangan kembali hening. Mahesa menundukkan kepala. Bibirnya terbuka, tetapi tak satu kata pun keluar.
Keheningan itu. Sudah menjadi jawaban yang paling menyakitkan bagi Aurel.
Mata Mahesa masih tertunduk. Pertanyaan Aurel menggantung di udara, menyesakkan dada keduanya.
"Jawab aku, Mahesa." Suara Aurel tetap tenang.
"Malam itu... saat aku melahirkan anak kita... kamu benar-benar sedang bekerja?"
Mahesa membuka mulut. "Rel, aku bisa jelaskan—"
"Cukup." Satu kata itu memotong kalimat Mahesa.
Aurel memejamkan mata sejenak, lalu mengembuskan napas panjang.
"Aku nggak minta cerita."
"Aku cuma minta jawaban."
Mahesa menggenggam kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Beberapa detik berlalu. Lalu perlahan, Mahesa menggeleng. Sangat pelan. Namun cukup bagi Aurel untuk melihatnya.
Malam itu Mahesa tidak sedang bekerja. Jantung Aurel seperti diremas. Meski sudah menduga jawabannya, mendengar pengakuan tanpa kata itu tetap terasa menghancurkan.
Aurel tersenyum tipis. Senyum yang dipenuhi luka.
"Terima kasih."
Mahesa mengangkat kepala. "Aurel, tolong dengarkan aku."
"Tidak." Aurel mundur selangkah.
"Malam ini aku nggak mau dengar apa pun."
"Rel...."
"Aku capek." kata Aurel. Suaranya nyaris berbisik.
"Sangat capek." Tanpa memberi kesempatan Mahesa berbicara lagi, Aurel berbalik. Langkahnya pelan menuju kamar.
Pintu kamar tertutup. Kali ini tanpa dibanting. Tanpa tangisan. Hanya sebuah pintu yang menandai bahwa percakapan mereka telah selesai.
Mahesa berdiri seorang diri di ruang tamu. Ia tidak mengejar. Tidak mengetuk pintu. Ia tahu, Apa pun yang ia katakan malam ini tidak akan mengubah apa pun. Rumah yang selama ini dipenuhi tawa kini terasa begitu asing.
Mahesa akhirnya duduk di sofa. Sofa yang beberapa menit lalu diduduki Aurel. Ia menatap langit-langit rumah tanpa berkedip. Semalaman. Mahesa tidak benar-benar tidur.
♡♡♡
Mentari pagi mulai menyelinap melalui jendela. Jam menunjukkan pukul enam. Seperti biasanya, Mahesa bangun lebih dulu. Namun kali ini tidak tercium aroma kopi. Tidak ada suara penggorengan dari dapur. Tidak ada lagu yang biasa diputar Aurel setiap pagi. Rumah terasa sunyi.
Mahesa berjalan menuju dapur. Kosong. Ia menoleh ke meja makan. Tidak ada sarapan. Tidak ada bekal makan siang yang biasanya sudah disiapkan rapi. Semuanya kosong.
Baru kali ini, Mahesa menyadari betapa banyak hal kecil yang selama ini dilakukan Aurel untuknya. Hal-hal yang selalu ia anggap biasa. Ternyata begitu berarti ketika semuanya menghilang.
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki. Aurel keluar dari kamar dengan pakaian kerja yang rapi. Rambutnya disanggul sederhana. Riasan tipis menutupi matanya yang semalam sembab. Ia berjalan melewati Mahesa tanpa menoleh sedikit pun. Seolah laki-laki itu tidak ada di hadapannya.
"Aurel..." Mahesa memberanikan diri memanggil.
Aurel berhenti. Namun tidak berbalik.
"Aku... minta maaf." Kalimat Mahesa menggantung di udara.
Beberapa detik kemudian, Aurel kembali melangkah. Tanpa sepatah kata. Ia mengambil tas kerjanya, kunci mobil, lalu mengenakan sepatu.
Mahesa mengikuti dari belakang. "Rel, tolong... kasih aku kesempatan buat jelasin."
Kali ini Aurel menoleh. Tatapannya dingin.
"Dalam tujuh tahun, kamu punya ribuan kesempatan untuk jujur." Suara Aurel datar.
"Tapi kamu memilih diam." lanjut Aurel.
Mahesa terdiam. Tidak bisa berkata apa-apa
"Jadi jangan minta aku memberi kesempatan sekarang." kata Aurel yang kemudian membuka pintu rumah.
Sebelum melangkah keluar, Aurel berkata pelan tanpa melihat ke arah Mahesa. "Mulai hari ini... urus kebutuhanmu sendiri."
"Laundry."
"Makan."
"Dan apa pun itu."
"Aku sudah berhenti menjadi istrimu."
Kalimat Aurel menghantam Mahesa lebih keras daripada teriakan.
Pintu rumah kembali tertutup. Mahesa hanya mampu berdiri mematung. Mendengar suara mesin mobil Aurel yang perlahan menjauh. Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Rumah itu terasa benar-benar kosong.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!