Elnara memarkirkan mobil sport terbarunya di halaman sebuah mansion besar yang selama ini ia tempati di London. Ia baru saja pulang sekolah bersama teman-temannya. Selama berada di London, ia tinggal bersama oma dan opanya. Di sana juga terdapat salah satu cabang perusahaan Valenzia yang untuk sementara masih dikelola oleh sang opa.
Gadis yang biasa dipanggil Nara itu berjalan masuk ke dalam mansion sambil berlompat-lompat kecil. Wajahnya masih terlihat ceria setelah seharian beraktivitas di sekolah.
"Hai, Oma. Aku baru pulang," sapanya saat melihat sang oma duduk di sofa ruang keluarga.
Oma Ena yang sedari tadi tampak melamun langsung mengalihkan pandangannya ke arah cucu kesayangannya itu. Ada sesuatu yang berbeda dari raut wajah wanita paruh baya tersebut.
"Sayang, sini dulu, yuk. Ada yang mau Oma bicarakan," ujar Oma Ena sambil menepuk-nepuk sofa di sampingnya.
Niat Nara untuk langsung pergi ke kamar pun terurungkan. Ia berjalan mendekat lalu duduk di samping oma.
"Oma ada yang mau dibicarakan?" tanyanya penasaran.
Oma Ena mengangguk pelan.
"Oma mau ngomong apa?" tanya Nara lagi.
"Kita besok ke Indonesia, ya."
Ucapan mendadak itu membuat dahi Nara langsung berkerut.
"Why?" tanyanya heran.
"Tadi mami kamu ngabarin Oma kalau Naya kecelakaan dan sekarang kondisinya kritis."
Seketika tubuh Nara membeku.
"Naya? Kritis? Apa yang terjadi?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Ada yang mencelakainya di sekolah. Mami dan papi kamu juga baru tahu kalau selama ini Naya ternyata jadi korban perundungan di sekolahnya."
"What the—"
Nara refleks mengumpat.
"Oh God...!"
Tangannya langsung menutupi mulut. Dadanya terasa sesak mendengar kabar itu.
"Oma, aku mau lihat Naya," ucapnya penuh desakan.
Elnaya, atau yang biasa dipanggil Naya, adalah saudara kembar Nara yang tinggal bersama mami dan papi mereka di Indonesia. Sejak kecil mereka memang sengaja dipisahkan. Dunia bisnis keluarga Valenzia tidak sesederhana yang terlihat. Terlalu banyak musuh yang mengincar keluarga mereka, termasuk anak-anaknya.
Karena itulah mami dan papi mereka memilih menyembunyikan identitas kedua putrinya dengan cara yang berbeda. Nara dikirim bersekolah ke luar negeri sejak usia dua belas tahun, sementara Naya tetap tinggal di Indonesia.
Namun keputusan itu ternyata membawa konsekuensi yang tidak pernah mereka bayangkan.
Karena identitas keluarganya disembunyikan, banyak orang menganggap Naya berasal dari keluarga biasa, bahkan miskin. Hal itu membuatnya menjadi sasaran perundungan. Berbeda dengan Nara yang secara terbuka menggunakan nama keluarga Valenzia. Semua orang tahu siapa dirinya, sehingga tidak ada yang berani macam-macam padanya.
"Kita pulang besok, ya. Sekarang hubungi mami kamu dulu," ujar Oma Ena lembut.
Nara mengangguk pelan sebelum berjalan menuju lift pribadi yang mengarah ke lantai atas.
Sesampainya di kamar super mewah miliknya, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Ia duduk di tepi ranjang sambil menatap layar ponselnya.
Jam menunjukkan pukul sembilan malam di London. Itu berarti di Indonesia sudah pukul tiga dini hari.
Meski begitu, Nara tidak peduli.
Yang penting sekarang ia harus melihat kondisi adiknya.
Dengan tangan sedikit gemetar, ia langsung melakukan panggilan video kepada maminya.
Tidak butuh waktu lama hingga panggilan itu diangkat.
"Mami..." sapa Nara dengan mata yang sudah memerah.
"Sayang, kamu sudah dengar kabar dari Oma?" tanya maminya.
Suara wanita itu terdengar serak seperti habis menangis berjam-jam.
Mendengarnya, air mata Nara kembali jatuh.
"Mii, gimana bisa Naya kritis? Gimana bisa, Mi?" tanyanya sambil menangis.
"Naya diduga ada yang mendorongnya dari lantai dua."
Nara langsung menegang.
"Tapi untungnya sebelum kejadian itu, dia sempat menelepon Mami. Sayangnya saat Mami sampai di sana, ponselnya sudah hilang. Dan waktu akhirnya ditemukan..."
Ucapan maminya terhenti. Isakan terdengar jelas dari seberang layar.
"Kenapa, Mi? Jelasin pelan-pelan, ya," desak Nara dengan suara bergetar.
"Kepala adik kamu bocor karena benturan yang cukup keras. Dia jatuh dari lantai dua."
Tubuh Nara terasa dingin seketika.
"Siapa pelakunya?" tanyanya.
"Belum diketahui, Nara. Saat kejadian terjadi, ada seseorang yang meretas CCTV sekolah dan menghapus seluruh rekaman yang bisa dijadikan bukti."
Rahang Nara mengeras mendengarnya.
"Tapi kita nggak bisa sembarangan mengusut kasus ini secara terbuka," lanjut maminya.
"Kenapa?"
"Papi sedang memikirkan dampaknya untuk kalian berdua ke depannya. Kalau identitas keluarga kita sampai terekspos karena kasus ini, keselamatan kalian bisa terancam."
Nara terdiam.
Ia mengerti maksud maminya.
Jika kasus itu dibawa ke media dan diusut secara terang-terangan, maka bukan tidak mungkin banyak musuh lama keluarga Valenzia akan mengetahui keberadaan mereka.
"Besok Nara pulang ke Indonesia bersama Oma dan Opa," ucapnya akhirnya.
Maminyanya mengangguk pelan sambil mengusap air mata yang terus mengalir.
"Ya, Sayang. Kami tunggu."
Setelah itu panggilan berakhir.
Nara menurunkan ponselnya perlahan. Tatapannya kosong mengarah ke jendela kamar yang memperlihatkan gemerlap kota London di malam hari.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa begitu takut.
Takut kehilangan satu-satunya saudara kembar yang sangat ia sayangi.
***
Pukul tujuh pagi di London, Elnara, Oma Ena, dan Opa Jhon sudah bersiap untuk berangkat ke Indonesia. Setelah semua barang selesai dimasukkan ke dalam jet pribadi keluarga Valenzia, mereka pun segera lepas landas dari London.
Sepanjang perjalanan, Nara hampir tidak bisa tidur dengan tenang. Pikirannya terus tertuju pada Naya yang masih terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit. Berkali-kali ia menatap ponselnya, berharap ada kabar baik yang datang.
Setelah menempuh perjalanan panjang, jet pribadi itu akhirnya mendarat di Jakarta sekitar pukul tiga dini hari keesokan harinya.
Begitu keluar dari bandara, mereka langsung disambut seorang sopir pribadi yang sudah menunggu.
"Selamat datang, Tuan, Nyonya dan Nona muda," sapa pria itu sopan.
Tanpa membuang waktu, mereka segera masuk ke dalam mobil dan berangkat menuju rumah sakit tempat Naya dirawat.
Sesampainya di sana, Nara langsung berlari memasuki area VIP rumah sakit. Matanya segera mencari sosok yang paling ingin ia temui.
"Mami!"
Felly yang sedang duduk di luar ruang ICU langsung menoleh. Begitu melihat putri sulungnya datang, matanya kembali berkaca-kaca.
"Nara, sayang..."
Mereka langsung berpelukan erat.
"Mami, aku kangen," ujar Nara dengan suara bergetar.
"Mami juga kangen sama kamu, Nak," jawab Felly sambil mengusap rambut putrinya.
Tak lama kemudian, Ronal ikut mendekat dan memeluk anak gadisnya itu.
"Sudah lama kamu nggak pulang, Baby. Gimana perjalanannya?" tanya Ronal yang jelas sangat merindukan putrinya.
"Aman, Papi. Keadaan Naya gimana?" tanya Nara.
"Masih kritis, Sayang," jawab Felly lirih.
Nara menatap kedua orang tuanya. Wajah mereka terlihat sangat lelah, mata sembap, dan jelas kurang tidur selama dua hari terakhir. Kondisinya tidak jauh berbeda dengan dirinya, Oma, dan Opa yang juga kelelahan setelah perjalanan panjang.
"Lebih baik kita istirahat dulu. Nggak bagus, kan, kalau Naya sadar nanti malah kalian yang jatuh sakit," ujar Oma Ena kepada anak dan menantunya.
"Iya, Oma. Pihak rumah sakit sudah menyediakan dua kamar VVIP untuk kita menginap," jawab Felly.
Sejak Naya dirawat, mereka memang memilih tinggal di rumah sakit daripada pulang ke rumah.
Pagi menjelang siang, mereka berlima akhirnya memutuskan pulang ke rumah untuk beristirahat. Awalnya Felly menolak dan ingin tetap berada di rumah sakit, tetapi setelah dibujuk oleh Nara, Ronal, serta kedua mertuanya, ia akhirnya bersedia pulang.
Lagipula, ada beberapa bodyguard yang berjaga di depan ruang ICU Naya selama dua puluh empat jam.
Sesampainya di rumah, Nara langsung menuju kamar barunya yang sudah dibersihkan oleh para maid. Kamar itu berada di lantai tiga dan memiliki balkon besar yang menghadap taman belakang.
Baru saja ia meletakkan koper, terdengar ketukan di pintu.
Tok.
Tok.
"Nara, boleh masuk?" tanya Ronal dari luar.
"Boleh, Pi."
Ronal masuk lalu duduk di sofa yang berada di sudut kamar. "Nara, Papi mau ngomong sesuatu sama kamu."
Nara ikut duduk di hadapan papinya. "Papi mau ngomong apa?"
Ronal menarik napas pelan sebelum menjawab.
"Kamu bisa, kan, gantikan Naya di sekolah sampai dia sadar dan kasus ini terbongkar?"
Nara langsung mengernyit. "What? Jadi aku harus pindah sekolah gitu, Pi?"
"Iya, sementara waktu."
"Nanti Papi yang urus surat kepindahan kamu. Yang penting untuk sekarang kamu masuk dulu sebagai Naya."
"Dan berpenampilan seperti Naya juga?"
Nara tentu tahu bagaimana penampilan saudara kembarnya itu. Naya selalu memakai seragam yang sedikit kebesaran dan kacamata minus yang membuatnya terlihat semakin pendiam. Sangat berbeda dengan dirinya yang lebih percaya diri dan fashionable.
"Iya. Tapi kalau nggak persis juga nggak apa-apa. Kamu tetap jadi diri kamu sendiri," jawab Ronal.
Nara berpikir sejenak.
"Kenapa nggak sebagai diri sendiri aja? Kan aku nggak perlu pusing."
"Soalnya kalau kamu masuk sebagai Elnara, prosesnya bakal lebih rumit. Harus ada berkas baru dan berbagai administrasi lainnya. Sedangkan sekarang Papi butuh kamu menyamar sebagai Naya untuk menyelidiki kasus ini."
Nara terdiam cukup lama.
Ia memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi jika dirinya benar-benar masuk ke sekolah itu.
"Oke. Tapi dengan satu syarat."
"Apa?" tanya Ronal bingung.
"Aku nggak mau nutupin identitas aku sebagai bagian dari keluarga Valenzia. Aku mau mereka mengenal aku sebagai Naya dari keluarga Valenzia. Papi bisa, kan, ngumumin ke publik kalau Naya itu anak Papi?"
Ronal langsung menghela napas panjang.
"Ini nggak semudah itu, Nara. Kamu tahu sendiri risikonya."
"Aku tahu. Kalau Papi yang mempublikasikannya, mereka pasti percaya. Dan Papi nggak usah khawatir, aku bisa jaga diri. Aku nggak sepolos Naya, Pi."
Ronal terdiam.
"Kalau Papi benar-benar mengumumkan Naya ke publik, apa yang akan terjadi di sekolah itu? Dan kamu gimana?"
"Mereka nggak akan semudah itu ganggu aku kalau tahu aku berasal dari kalangan atas. Sedangkan untuk aku sendiri, nggak masalah kalau identitasku tetap disembunyikan dulu. Nanti kalau aku sudah siap, baru aku perkenalkan diri sebagai Elnara."
Ronal menatap putrinya beberapa saat.
Ia tahu Nara jauh lebih berani dan kuat dibandingkan Naya. Namun tetap saja, sebagai seorang ayah, ia tidak bisa berhenti khawatir.
Akhirnya ia mengangguk pelan.
"Oke. Papi akan lakukan itu untuk kamu."
Mendengar jawaban tersebut, senyum tipis akhirnya muncul di wajah Nara.
Bagaimanapun caranya, ia akan menemukan siapa orang yang sudah berani menyakiti saudara kembarnya.
Hari itu berlalu begitu cepat. Sejak identitas asli Naya dipublikasikan, banyak orang mulai mencari akun media sosial gadis itu untuk diikuti. Namun, ternyata tidak semudah itu. Naya memang terbiasa menggunakan nama samaran di semua akun media sosialnya. Berbeda dengan Elnara yang menggunakan nama aslinya. Meski begitu, karena berita itu terus beredar, Elnara memilih menonaktifkan sementara akun media sosialnya agar tidak ikut terseret ke dalam kehebohan yang sedang terjadi.
Sementara itu, papinya kembali mendatangi sekolah tersebut. Sayangnya, ada beberapa kejanggalan yang ia temukan dari informasi yang didapatkan. Kepala sekolah mengatakan bahwa CCTV saat kejadian diretas dan seluruh rekamannya dihapus hingga tidak menyisakan bukti apa pun.
Tentu saja papinya tidak menerima begitu saja penjelasan tersebut. Rasanya ia ingin langsung menempuh jalur hukum, tetapi sayangnya belum ada bukti atau pernyataan yang cukup kuat untuk mendukung langkah itu. Jika dipaksakan, justru bisa berbalik menjadi tuntutan terhadap dirinya.
Cara paling efektif saat ini adalah masuk ke lingkungan sekolah tersebut dan mencari bukti secara diam-diam.
Dan Nara menyetujuinya.
Pagi itu, keluarga Valenzia sedang sarapan bersama. Meja makan hanya diisi oleh Nara, kedua orang tuanya, dan oma. Sementara opanya sudah kembali ke London untuk melanjutkan urusan bisnisnya.
"Papi, mobil sama motorku kapan sampainya ke sini? Kok lama banget sih?" tanya Nara sambil menyantap nasi goreng kesukaannya.
Jujur saja, ia sangat merindukan masakan Indonesia. Tidak peduli sudah berapa lama tinggal di London, makanan khas Indonesia tetap menjadi favoritnya.
"Papi perkirakan siang nanti sampai. Kamu sabar dulu ya," jawab papinya.
"Tapi motor sport itu jangan dipakai balapan ya, Nara. Mami nggak suka kamu balap-balapan," timpal maminya.
Nara langsung terdiam sesaat sebelum mengangguk pelan.
"Aku nggak pernah balapan, loh, Mi," ujarnya berbohong.
Padahal di London, ia cukup sering mengikuti kompetisi balap. Bukan karena mengincar hadiahnya, melainkan untuk melatih kemampuan sekaligus membuktikan dirinya kepada banyak orang. Selama ini ia selalu punya cara untuk berbohong kepada oma. Biasanya ia akan bilang sedang menginap di rumah teman, padahal kenyataannya ia pergi balapan dan baru pulang keesokan harinya.
Sekarang situasinya berbeda. Tinggal bersama mami dan papi membuatnya harus mencari alasan baru jika suatu hari nanti ingin ikut balapan lagi.
Siang harinya, akhirnya dua barang kesayangannya tiba juga.
"AAAAA! KITTY! SNOWY!" teriak gadis itu sambil berlari keluar rumah begitu melihat mobil pink dan motor sport pink miliknya sudah sampai.
"I miss you so much, baby!" lanjutnya heboh.
Ia langsung memeluk mobil dan motornya bergantian, lalu mencium keduanya seolah sedang melepas rindu kepada sahabat lama.
"Gimana perjalanannya ke sini, sayang? Lancar nggak?" lanjutnya lagi sambil memeriksa ke segala arah, memastikan tidak ada lecet sedikit pun pada kendaraan kesayangannya.
Beberapa bodyguard yang melihat pemandangan itu hanya bisa saling pandang sambil menahan tawa.
"Siang, Nona Muda. Mobil dan motor sport Anda sudah kami antarkan dengan selamat," ucap seorang pria bertubuh tegap yang mengenakan pakaian serba hitam.
"Oke, thank you, Bodyguard," jawab Nara santai sebelum kembali sibuk memeriksa mobil dan motornya.
Hari ini gadis itu memang sedang bersemangat. Besok adalah hari pertamanya bersekolah di sekolah tempat sang kembaran selama ini belajar. Seminggu penuh berada di rumah membuatnya benar-benar bosan. Karena itu, ia memutuskan untuk keluar menikmati hari bersama mobil kesayangannya.
Nara segera bersiap. Ia mengenakan celana jeans hitam, kaus polos, dan jaket crop top kulit favoritnya. Penampilan serba hitam itu membuat aura bad girl dalam dirinya semakin terasa.
Setelah memastikan semuanya siap, ia berjalan keluar rumah sambil membawa kunci mobil di tangannya. Senyum tipis terukir di wajahnya ketika melihat mobil pink kesayangannya terparkir rapi di halaman.
Tanpa menunggu lama, ia membuka pintu mobil, masuk ke dalam, lalu menyalakan mesin kendaraan itu. Suara mesin yang familiar membuat senyumnya semakin lebar.
"Akhirnya jalan juga kita, Kitty."
Dan beberapa detik kemudian, mobil itu melaju meninggalkan rumah keluarga Valenzia.
Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan Jakarta di sore hari. Nara tersenyum senang sambil menikmati pemandangan di balik kaca mobilnya. Akhirnya, ia bisa menikmati waktunya di Jakarta tanpa harus berdiam diri di rumah.
"Jalan-jalan di Jakarta not bad lah ya. Sebelas dua belas sama di London," ujarnya sambil terkekeh kecil.
Tangannya santai berada di atas setir, sementara lagu favoritnya mengalun pelan dari speaker mobil. Perjalanan itu terasa menyenangkan sampai akhirnya ia tiba di sebuah sekolah mewah yang berdiri megah di tengah perkotaan.
Gedung lima lantai itu menjulang tinggi dengan desain modern yang mengingatkannya pada sekolah-sekolah elite di drama Korea. Area sekolahnya sangat luas, lengkap dengan taman yang tertata rapi dan bangunan utama yang terlihat begitu elegan.
Nara sampai mengangguk pelan melihatnya.
Menurutnya, arsitektur sekolah itu pantas mendapatkan lima bintang.
Di bagian depan bangunan terpampang nama sekolah tersebut dengan huruf besar.
"GIS (Global International School)."
Senyum smirk kecil langsung menghiasi wajahnya.
"Oh, jadi gue besok sekolah di sini," gumamnya.
Karena hari itu hari Minggu, suasana sekolah tampak sepi. Tidak ada murid maupun guru yang terlihat berkeliaran.
Nara menatap bangunan itu beberapa saat sebelum menyandarkan tubuhnya ke mobil.
"Oke, tunggu gue ya sampai besok. Akan gue guncangkan dunia," ujarnya penuh percaya diri.
Setelah puas melihat sekolah yang akan menjadi tempat barunya, Nara kembali melajukan mobilnya.
Tidak jauh dari sekolah itu, matanya langsung tertuju pada sebuah kafe mewah yang berdiri di pinggir jalan. Bangunannya terlihat elegan dengan dominasi kaca besar yang memperlihatkan suasana hangat di dalamnya.
"Anjir, penasaran banget gue sama makanan di dalam," ujarnya.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung membelokkan mobil dan memarkirkannya di area parkir kafe.
Begitu turun dari mobil, beberapa orang yang berada di sekitar sana langsung menoleh ke arahnya.
Bukan hanya karena mobil pink yang mencolok, tetapi juga karena penampilan Nara yang memang sulit untuk diabaikan.
"Anjir, cakep bener..."
"Ini ada masalah apa ya di bumi sampai ada bidadari turun dari surga?"
"Eh, tapi kayak mirip seseorang deh."
"Loh, itu Naya nggak sih?"
Begitulah bisikan-bisikan yang masuk ke telinga Nara.
Awalnya ia tidak peduli jika orang-orang membicarakan dirinya sebagai Nara. Namun, entah kenapa telinganya langsung sensitif setiap kali mendengar nama Naya disebut.
Langkahnya yang semula santai langsung terhenti.
Ia menoleh ke arah dua gadis yang sedang berbisik tidak jauh darinya.
"Eh, kalau ngomongin gue tuh kecilin suara lo. Masih kedengeran sama gue!" sewotnya.
Setelah mengatakan itu, Nara langsung berbalik dan berjalan masuk ke dalam kafe tanpa menunggu respons mereka.
Sementara itu, dua gadis tadi hanya bisa membeku di tempat dengan mata membulat sempurna.
"Anjir..."
"Dia denger..."
Sesampainya di dalam, ternyata suasana kafe itu memiliki vibes Eropa modern yang elegan. Dominasi warna krem, lampu gantung mewah, dan dekorasi minimalis membuat tempat itu terlihat mahal. Jujur saja, Nara sedikit takjub melihatnya, tetapi ekspresi wajahnya tetap datar seolah semua itu hal biasa.
Ia berjalan menuju order counter untuk memesan.
"Selamat sore, Kak. Selamat datang di Kafe Adinata. Apakah ada menu yang ingin Kakak pesan?" ucap seorang counter staff dengan ramah.
"Gue mau caffe latte satu aja," balas Nara.
Setelah melakukan pembayaran, ia kemudian diantar ke sebuah meja yang posisinya sangat strategis di dekat jendela. Dari sana ia bisa melihat suasana jalanan di luar dengan jelas.
Saat sedang sibuk memainkan ponselnya, tiba-tiba terdengar suara beberapa cewek yang duduk tidak jauh dari tempatnya. Mau tidak mau, matanya sesekali melirik ke arah mereka.
"Sumpah ya, gue juga kaget sih kalau Naya ternyata berasal dari Valenzia."
"Bener lagi. Untung gue nggak ikutan jahat sama dia."
"Eh, tapi kok bisa secepat itu ya Naya keluar dari rumah sakit? Bukannya..."
"Bundir? Mungkin alibi dia kali. Ingin menghilang sejenak dengan alasan dia bundir."
"Iya kali ya. Jahat nggak sih? Padahal yang bermasalah dia sama siswa petinggi, kok nama sekolah jadi ikut tercoreng juga ya?"
"Gatau juga sih. Tapi kayaknya setelah orang-orang tahu siapa dia sebenarnya, nggak banyak lagi deh yang berani macam-macam sama dia. Nggak tahu tuh trio itu."
Nara tidak memedulikan obrolan mereka. Baginya itu bukan sesuatu yang perlu dilayani.
Tak lama kemudian, tiga pelanggan baru memasuki kafe.
Kimberly menatap ke sekeliling ruangan hingga matanya menangkap sosok seorang gadis yang sedang duduk di dekat jendela. Ia menyipitkan mata, memastikan apa yang dilihatnya benar.
Begitu yakin, mulutnya langsung membentuk huruf O karena terkejut.
Ia menepuk bahu temannya dan menunjuk ke arah gadis tersebut.
Nessa yang sejak tadi sibuk menatap layar ponselnya langsung merasa terganggu.
"Apa sih?" gerutunya kesal.
"Itu liat. Si cupu nggak sih?" ujar Kimberly, atau yang biasa dipanggil Kimly.
Nessa pun menoleh.
Dan benar saja.
Gadis yang duduk sendirian sambil memainkan ponselnya itu adalah Nara, meskipun mereka mengira gadis itu adalah Naya.
Setelah Cassandra yang biasa dipanggil Sandra selesai memesan, mereka bertiga langsung berjalan menjauh dari counter.
"Kita ke sana. Tuh si cupu," ucap Nessa.
Sandra ikut melihat ke arah yang ditunjuk dan senyum smirk langsung muncul di bibirnya.
"Let's go."
Mereka bertiga pun berjalan menuju meja Nara.
"Cupu, ini lo?" ucap Sandra dengan nada mengejek.
Nara yang sedang bermain ponsel perlahan mengalihkan pandangannya ke arah gadis yang baru datang itu.
"Wow, setelah lo bongkar identitas lo, sekarang penampilan lo berubah drastis gitu ya?" ejek Sandra lagi.
"Lo kira gue percaya lo berasal dari Valenzia?"
Sandra menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Lo siapa?" tanya Nara dingin.
Mendengar itu, ketiga gadis tersebut langsung terkekeh mengejek.
"Hahaha, liat guys. Setelah bikin drama bunuh diri sekarang dia pura-pura lupa sama kita," ujar Sandra.
"Hello, bitch. Lo kira gue percaya sama sandiwara lo?" lanjutnya.
Sandra bahkan mendorong bahu Nara dengan jijik.
"Barang KW ya? Lo kira gue percaya lo berasal dari Valenzia? Bisa aja lo nge-hack website resmi keluarga itu, kan? Atau jangan-jangan lo nyogok pakai tubuh lo supaya bisa booming?"
Kalimat terakhir itu sukses membuat kesabaran Nara habis.
"MAKSUD LO APAAN, NJING?! NGOMONGIN GUE KAYAK GITU, BANGSAT!"
Teriakan Nara membuat seluruh isi kafe langsung menoleh ke arah mereka.
Tanpa pikir panjang, Nara mendorong Sandra cukup kuat hingga gadis itu terdorong beberapa langkah ke belakang.
"Wow, santai dong. Lo udah berani ngelawan gue, hah?" ujar Sandra sewot.
"Kalau iya emang kenapa, hah? Lo siapa sampai gue harus setakut itu sama lo?" balas Nara.
"Oh, cari mati si cupu ini. Yuk, girls, lawan!"
Sandra langsung maju dan menarik rambut Nara dengan kuat sambil melayangkan tangannya untuk menampar.
Namun refleks Nara jauh lebih cepat.
Ia menahan pergelangan tangan Sandra sebelum tamparan itu mengenai wajahnya, lalu memutar tangan gadis itu ke belakang.
"AWWW! SAKIT, ANJIR!" teriak Sandra kesakitan.
Kimly dan Nessa yang melihat itu langsung ikut maju.
Namun Nara bergerak lebih dulu.
Ia berbalik dan melayangkan tendangan ke arah salah satu dari mereka hingga gadis itu terdorong dan kepalanya menoleh ke samping.
Sementara Sandra langsung dilempar begitu saja hingga jatuh terduduk di lantai.
Seluruh pengunjung kafe kini benar-benar terdiam.
Tidak ada yang menyangka gadis yang selama ini dikenal lemah dan selalu menjadi korban ternyata bisa melawan seperti itu.
Nara berjalan mendekati Sandra yang masih meringis kesakitan.
Ia mencengkeram pipi gadis itu dengan kuat hingga Sandra memekik.
"Lo kira sekarang gue nggak bisa lawan lo, hah?" ucap Nara dingin.
"Sehebat apa sih lo sampai gue harus takut lagi?"
Nara menatap tajam tepat ke mata Sandra.
"Dan lo harus ingat. Gue sekarang bukan lagi yang kayak dulu."
Setelah mengatakan itu, Nara melepaskan cengkeramannya lalu berdiri.
Tanpa peduli pada tatapan semua orang di dalam kafe, ia mengambil ponsel dan tasnya, kemudian berjalan pergi begitu saja.
Sementara Sandra, Kimly, dan Nessa masih membeku karena syok.
Mereka bahkan belum sempat memahami apa yang baru saja terjadi.
Di sisi lain ruangan, tanpa Nara sadari, ada seorang cowok yang sejak tadi memperhatikan seluruh kejadian itu dari meja paling belakang.
Tatapannya terus mengikuti punggung gadis tersebut yang semakin menjauh menuju pintu keluar.
Berbagai pertanyaan langsung memenuhi kepalanya.
"Siapa dia?"
Besok paginya, Nara bersiap untuk pergi ke sekolah barunya. Ia mengenakan seragam milik kembarannya yang ternyata ukurannya cukup besar untuk tubuhnya. Untung saja semalam ia sudah meminta bantuan maid-nya untuk mengecilkan seragam itu. Sekarang, kemeja lengan pendek tersebut pas di tubuhnya dan membuat penampilannya benar-benar mirip dengan sang kembaran. Mulai dari gaya rambut, cara berpakaian, hingga detail kecil lainnya, semuanya dibuat semirip mungkin tapi versi lebih badasnya.
"Nah, sekarang baru sempurna," gumam Nara sambil bercermin sekali lagi.
Ia memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada yang aneh pada penampilannya. Setelah merasa puas, gadis itu tersenyum lebar.
"Oke, Nara. Let's go, mari kita beraksi!" ujarnya penuh semangat.
Dengan langkah ringan, Nara turun ke lantai dasar menuju ruang makan. Aroma sarapan yang baru matang langsung menyambutnya begitu ia tiba.
"Morning, Oma, Papi, Mami," sapa Nara dengan ceria sambil menarik kursinya.
"Morning, sayang. Udah siap buat sekolah di tempat baru?" tanya papinya sambil tersenyum.
"Of course. Lihat nih, sekarang aku udah lebih cantik dan jauh berbanding terbalik sama Naya," ujar Nara dengan semangat sambil menunjukkan penampilannya.
Maminya hanya menggeleng kecil melihat tingkah putrinya, sementara Oma tersenyum tipis.
"Good. Tapi kamu harus hati-hati di sekolah baru kamu. Kalau ada sesuatu yang mencurigakan, langsung laporin aja, oke?" timpal Oma dengan nada mengingatkan.
"Oke, Oma," jawab Nara patuh.
Tak lama kemudian, mereka pun menikmati sarapan bersama. Suasana pagi itu terasa hangat dan menyenangkan. Meski terlihat santai dan penuh candaan, Nara tahu bahwa hari ini bukan hari biasa. Ini adalah langkah awal dari rencananya, dan ia harus menjalankan semuanya dengan baik agar tidak ada yang curiga.
Lima belas menit kemudian, akhirnya mobil mewah itu sampai juga di sebuah gerbang yang lebih mirip gerbang kerajaan daripada sekolah. Bangunannya berdiri megah dan luas, membuat siapa pun yang baru pertama kali datang pasti akan terpukau.
Nara memarkirkan mobilnya di area parkir khusus siswa. Tidak banyak mobil yang terparkir di sana, hanya beberapa milik siswa-siswi yang memang membawa kendaraan pribadi. Area parkir guru berada di tempat yang berbeda.
Sebelum turun, gadis itu sempat bercermin sejenak. Ia mengambil liptint rasa stroberi dari tasnya lalu memoleskannya kembali ke bibir.
"Oke, perfect," gumamnya puas.
Setelah itu, ia mengambil tasnya dan menyandangnya ke punggung. Baru kemudian ia turun dari mobil.
Sontak, kehadirannya langsung menjadi pusat perhatian siswa yang baru datang. Nara melangkah dengan penuh percaya diri layaknya seorang model yang sedang berjalan di atas runway. Wajah cantiknya, aura percaya dirinya, dan penampilannya yang jauh berbeda dari biasanya membuat banyak orang terkesima.
"Itu Naya?"
"Cok, gue nggak nyangka ternyata dia seperfect itu."
"Waduh, gue kira mulung, ternyata bidadari."
"Ini mah bidadari nyamar jadi mulung."
"Gue masih belum nyangka dia bagian dari keluarga Valenzia."
"Duh, gimana nasib gue nanti ya?"
Begitulah obrolan beberapa siswa yang bisa ditangkap oleh telinga Nara.
"Mampus lo," gumamnya dalam hati sambil menyeringai tipis.
Saat memasuki koridor sekolah, tiba-tiba bahunya diputar paksa oleh seseorang.
"Aww."
Nara langsung menoleh dengan wajah jijik. Ternyata tiga cewek rempong yang kemarin.
"Apaan sih lo?" dengusnya kesal.
Masih pagi juga.
"Lo yang apaan, hah? Gara-gara lo kemarin nama gue sama temen-temen gue jadi jelek di sosial media!" bentak Sandra dengan emosi. Dua temannya, Kimly dan Nesa, ikut melipat tangan di dada sambil menatap sinis.
Nara mendengus pelan lalu mengembuskan napas panjang.
"Hello? Lo nggak salah? Yang mulai itu lo, bukan gue. Gue cuma balas apa yang lo lakuin ke gue. Jadi gue salah, kah?"
"HARUSNYA LO YANG SALAH! Lo yang memulai pertengkaran itu!"
"Mulut cabe lo itu yang nggak bisa dijaga!"
"Apa lo bilang?" Sandra makin emosi.
Tanpa peringatan, Sandra langsung menarik rambut Nara.
"Aww! Sakit, bego!" teriak Nara sambil membalas menarik rambut Sandra.
"Aww! Sakit!" teriak Sandra.
"Lo yang mulai, brengsek!" balas Nara nggak kalah keras.
Keributan itu langsung menarik perhatian banyak siswa. Orang-orang mulai berkumpul mengelilingi mereka.
Anehnya, kali ini tidak ada yang menyudutkan Nara seperti yang biasa terjadi pada Naya. Dulu, setiap Naya mencoba melawan, orang-orang langsung menyalahkannya. Sekarang malah banyak yang tercengang, bahkan ada beberapa yang terlihat terpesona melihat keberaniannya.
"Kelakuan lo sekarang bikin gue muak. Gue nggak segan-segan buat nyingkirin lo, Naya!" ancam Sandra.
"Lo yang lebih dulu gue singkirin, bego!" teriak Nara.
"Apa lo bilang?!"
"Apa, hah? Lo budek atau gimana? Omongan gue aja masih nanya apa? Kalau lo orang kaya, periksa dulu tuh telinga. Takut makin budek."
Sandra makin naik pitam.
Setelah saling tarik rambut, sekarang keduanya mulai saling mencakar. Kimly dan Nesa sebenarnya ingin membantu Sandra, tapi mereka masih trauma dengan tendangan yang mereka dapat kemarin dari gadis itu.
Di saat yang sama, suara deru beberapa motor sport terdengar memasuki gerbang sekolah.
"Itu apaan?" tanya Vano yang baru sampai.
Azka dan Marel yang baru turun dari motor ikut mendekati kerumunan.
"Misi, misi. Ada apaan tuh?" tanya Azka.
"Minggir dikit, kami mau lewat," sambung Marel.
Namun begitu mereka berhasil sampai ke barisan paling depan, ketiganya langsung terkejut.
"Naya?" cengang Marel.
Nathaniel atau yang biasa dipanggil Niel juga ikut mendekat. Saat melihat ada keributan, ia langsung menerobos ke tengah.
"Woi! Woi! Berhenti!" teriaknya.
Dengan sigap, Niel memisahkan Nara dan Sandra. Karena dorongan yang cukup kuat, Sandra sampai terjatuh ke lantai.
"Woi, apa-apaan ini?" tanyanya dingin.
Tatapannya lalu beralih ke gadis di sebelahnya.
"Naya?" gumamnya penasaran.
"Minggir lo, njir. Gue mau habisin tuh cewek!" teriak Nara dengan emosi.
Niel langsung shock.
"Ehh, tunggu. Lo kenapa? Kok udah berani gitu?" tanyanya heran.
"Apa lo, hah? Lo mau bela dia? Minggir lo. Urusan gue sama dia, bukan sama lo."
Namun Niel tetap menghalangi.
Niel tahu kalau Naya berasal dari keluarga Valenzia, tapi dia sama sekali tidak tahu kalau gadis di depannya sekarang bukan Naya, melainkan Nara.
Karena Niel tidak bergerak, Nara langsung mendorong cowok itu ke samping lalu kembali menarik rambut Sandra yang masih terduduk di lantai.
"Lo mau apa sekarang? Mau pura-pura nangis seolah-olah lo yang tersakiti? Play victim, lo."
"Lo jahat tau nggak!" protes Sandra sambil mulai menangis lagi.
"Lo yang jahat! Lo yang mulai cari masalah sama gue!" teriak Nara.
Membuat seseorang datang menghampiri keributan itu.
"Ada apa ini?"
Suara dingin itu langsung membuat beberapa siswa menoleh.
Alden berjalan membelah kerumunan dengan wajah datar. Begitu melihat siapa yang terlibat, ia langsung menghentikan keduanya.
"Siapa yang nyuruh kalian ribut di sini?" tanyanya tegas.
Dengan mudah ia membuat Sandra dan Nara mundur beberapa langkah.
Nara menatap kesal ke arah cowok yang melerainya. Namun saat Alden membalas tatapannya dengan dingin, entah kenapa Nara langsung mati kutu sesaat.
"Dia yang mulai duluan, Alden. Tiba-tiba rambut gue ditarik sama dia!" adu Sandra.
Mendengar itu, Nara langsung tidak terima.
"Eh, yang mulai duluan tuh lo! Gue baru sampai, langsung lo labrak begitu aja."
"Ya kalau lo nggak lawan, nggak bakal begini!"
"Kalau lo nggak mulai, nggak bakal gue lawan!"
"CUKUP!"
Bentakan Alden membuat suasana langsung hening.
"Sehabis upacara, kalian berdua temui gue di ruang OSIS. Jangan ada yang nggak datang, dan jangan ada yang kabur."
Setelah mengatakan itu, Alden langsung pergi begitu saja.
Sementara itu, Niel yang melihat seluruh kejadian tadi hanya menyunggingkan senyum smirk ke arah gadis yang penampilan dan sifatnya berubah seratus delapan puluh derajat itu.
"Semakin menarik aja," gumamnya pelan sebelum ikut pergi.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!