Indonesia
NovelToon NovelToon

Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Episode 1

Bab 1

Gudang tua di dekat Pelabuhan Tanjung Priok meledak tepat ketika azan subuh dari masjid kampung nelayan mulai terdengar.

Api menyambar langit yang masih gelap. Sirene polisi, mobil pemadam, dan teriakan petugas bea cukai bercampur menjadi satu.

Di layar berita daring, judul besar muncul hampir bersamaan.

Bayang Kembali Membantu Polisi Bongkar Jalur Narkoba Pelabuhan.

Sosok Misterius di Balik Operasi Tanjung Priok Menghilang Sebelum Media Datang.

Nama itu membuat banyak orang penasaran. Bayang. Tidak ada foto wajah, tidak ada alamat, tidak ada akun media sosial pribadi. Yang ada hanya jejak laporan kasus yang rapi, potongan rekaman CCTV yang selalu datang tepat waktu, dan data terenkripsi yang tiba-tiba muncul di meja penyidik ketika semua orang sudah buntu.

Orang-orang membayangkan Bayang sebagai pria dewasa dengan jaringan luas.

Tidak ada yang membayangkan bahwa orang itu baru saja turun dari bak truk sayur di pinggir jalan menuju Kaliurang, melepas jaket hitam, lalu menyelipkan topi ke dalam tas kain.

Namanya Alya Maheswari.

Delapan belas tahun.

Dan malam ini, ia baru saja menyelesaikan pekerjaan terakhir sebelum kembali ke neraka yang dulu membunuhnya.

"Alya."

Suara rendah itu muncul dari balik pagar bambu. Alya berhenti, tetapi tidak terkejut.

Seorang pria muda berdiri di sana. Tubuhnya tinggi, bahunya lebar, wajahnya teduh tetapi matanya tajam. Kemeja hitam yang ia pakai membuatnya hampir menyatu dengan bayangan pohon mangga di halaman.

"Kamu belum tidur, Raf?" tanya Alya.

Rafael Pradipta, yang selama bertahun-tahun hanya dipanggil Rafi di rumah Eyang Laras, menatapnya dari kepala sampai kaki.

"Kamu baru pulang setelah bikin satu pelabuhan ribut. Aku harus tidur?"

Alya mengangkat alis. "Berita cepat sekali sampai sini."

"Internet ada juga di desa ini."

Alya tertawa kecil. Tawanya pendek, hampir tidak terdengar. Ia melewati Rafi dan masuk ke halaman. Rumah Eyang Laras tidak besar, tetapi selalu terasa hangat. Ada pot tanaman di sudut teras, kursi rotan tua, dan lampu kuning yang tidak pernah dimatikan kalau Alya belum pulang.

Rafi mengikuti dari belakang.

"Ada mobil di depan," katanya.

Langkah Alya berhenti.

Rafi melanjutkan, "Dua mobil. Plat Jakarta. Mereka datang hampir satu jam lalu. Sekarang bicara dengan Eyang di ruang tengah."

Udara pagi yang tadi dingin mendadak terasa keras di kulit Alya.

Jakarta.

Keluarga Wiratama.

Ternyata hari itu tetap datang.

Di kehidupan sebelumnya, ia pernah sangat menunggu hari ini. Ia pernah membayangkan ayah kandungnya datang dengan pelukan, meminta maaf, lalu membawanya pulang ke rumah besar yang seharusnya menjadi tempatnya sejak kecil.

Yang ia dapat justru tiga tahun penghinaan.

Baskara Wiratama, ayah kandungnya, tidak pernah menganggapnya anak. Maya, istri kedua ayahnya, tersenyum manis sambil mengajari semua orang melihat Alya sebagai gadis kampung yang tidak tahu aturan. Dinda, anak kesayangan keluarga itu, memakai semua yang seharusnya menjadi milik Alya, lalu menangis setiap kali Alya mencoba bernapas sedikit lebih lega.

Lalu Kevin Santoso.

Nama itu membuat tangan Alya mengepal.

Di kehidupan lalu, mereka menikahkannya dengan Kevin demi kerja sama bisnis. Kevin menjadikan hidupnya lelucon. Dinda menjadi perempuan yang diam-diam ia lindungi. Maya menutup semua jalan pulang. Baskara menandatangani apa pun selama nama keluarga tetap bersih.

Pada akhirnya, Alya mati dikubur oleh orang-orang yang pernah ia panggil keluarga.

Tuhan, atau takdir, atau siapa pun yang sedang bermain dengan hidupnya, mengirimnya kembali ke usia tujuh tahun. Sejak itu ia belajar. Ia belajar membaca orang, meretas sistem, membedah laporan medis, bertarung, berbohong, dan menunggu.

Sebelas tahun ia menunggu.

Sekarang mereka datang sendiri menjemputnya.

Dari dalam rumah terdengar suara Eyang Laras, tajam menahan marah.

"Anak itu kalian buang sejak bayi. Sekarang setelah delapan belas tahun, kalian datang seolah punya hak?"

Suara pria menjawab dengan nada dibuat halus. "Bu Laras, jangan bilang begitu. Alya tetap anak saya. Saya datang untuk membawa dia pulang."

"Pulang?" Eyang Laras tertawa getir. "Rumahnya di sini. Dia tumbuh di sini. Dia sakit, menangis, belajar berjalan, semua di sini. Kalian di mana waktu itu?"

Alya berdiri di ambang pintu. Ia melihat ruang tengah yang diterangi lampu kuning. Eyang Laras duduk tegak di kursi kayu. Rambut putihnya disanggul rapi, wajahnya penuh garis usia, tetapi matanya masih setajam dulu.

Di depannya duduk Baskara Wiratama. Jasnya rapi, jam tangannya mahal, rambutnya disisir licin. Di sampingnya, seorang pria muda memandang sekeliling dengan ekspresi tidak nyaman.

Mas Raka.

Kakak pertama Alya.

Di kehidupan lalu, hanya Raka yang pernah memberinya segelas air saat ia menangis sendirian di dapur rumah Wiratama. Kecil, tetapi cukup membuat Alya ingat bahwa di rumah itu tidak semua orang sepenuhnya busuk.

"Eyang," panggil Alya pelan.

Semua mata menoleh.

Baskara bangkit setengah berdiri. Wajahnya berubah cepat, dari terkejut menjadi senyum ayah yang terlambat dua dekade.

"Alya."

Alya menatapnya lama.

Ia ingin tertawa.

Nama itu terdengar asing keluar dari mulut pria ini. Seperti seseorang yang membaca nama dari berkas, bukan memanggil anak.

"Papa?" Alya membuat suaranya ragu, polos, seperti gadis desa yang belum tahu dunia.

Baskara tampak lega. Ia mungkin mengira semuanya akan mudah.

"Iya, Nak. Papa datang menjemput kamu. Mulai sekarang kamu tinggal di Jakarta bersama keluarga."

Eyang Laras memukul lantai dengan tongkatnya. "Aku belum setuju."

"Eyang." Alya mendekat dan berlutut di sampingnya. Tangannya menggenggam tangan tua itu. "Alya ingin pergi."

Wajah Eyang Laras berubah.

Rafi yang berdiri di belakang pintu juga menegang.

"Kamu tahu apa yang kamu katakan?" tanya Eyang Laras dengan suara rendah.

Alya mengangguk. "Tahu."

Tidak ada air mata. Tidak ada pelukan dramatis. Hanya tangan Eyang Laras yang pelan-pelan mengencang di tangannya.

Perempuan tua itu mengenal Alya lebih dari siapa pun. Ia tahu cucunya tidak pernah mengambil keputusan karena bujukan manis.

Baskara tersenyum lebar. "Bagus. Papa senang kamu mengerti. Kamu tidak perlu khawatir. Di Jakarta semuanya lebih baik. Sekolah, fasilitas, masa depan."

Masa depan.

Alya hampir lupa bagaimana rasanya mendengar orang ini menjual kebohongan dengan wajah penuh kasih.

Raka berdiri dan berjalan mendekat. "Alya, aku Raka. Kakakmu."

"Mas Raka," ucap Alya.

Raka tampak tersentuh mendengar panggilan itu. "Kita pulang malam ini juga?"

Baskara menjawab lebih dulu, "Lebih cepat lebih baik. Besok pagi ada urusan keluarga."

Alya menunduk, menyembunyikan senyum tipis.

Tentu saja. Mereka tidak datang karena rindu. Ada urusan keluarga. Ada alasan yang cukup besar sampai mereka perlu mengambil anak yang selama ini dibuang.

Rafi tiba-tiba berkata, "Aku ikut."

Baskara menoleh, baru menyadari keberadaan pria itu. "Kamu siapa?"

"Orang yang menjaga Alya."

Nada Rafi datar, tetapi ruang tengah mendadak dingin.

Baskara mengerutkan kening. "Kami membawa anak kami pulang. Tidak perlu orang luar ikut campur."

Alya berdiri. "Rafi ikut. Kalau tidak, aku tidak jadi pergi."

Baskara menatap Alya. Ia jelas tidak suka, tetapi ia lebih takut Alya berubah pikiran. Setelah beberapa detik, ia tersenyum kaku.

"Baik. Untuk sementara."

Rafi tidak berterima kasih. Ia hanya berdiri di belakang Alya seperti bayangan.

Eyang Laras menarik Alya ke kamar sebelum mereka berangkat. Di dalam kamar kecil yang penuh buku dan kotak obat, Eyang membuka laci, mengambil gelang tipis dari perak tua.

"Pakai ini."

Alya menunduk. "Eyang tidak marah?"

"Aku marah kalau kamu pergi karena percaya pada mereka." Eyang memasangkan gelang itu. "Tapi kalau kamu pergi karena punya rencana, aku hanya bisa mendoakan."

Hidung Alya terasa panas.

Eyang menyentuh wajahnya. "Jangan biarkan dendam membuatmu lupa pulang."

"Aku akan pulang."

"Dan jangan percaya darah hanya karena darah. Orang yang melukaimu tetap orang asing, meski namanya tertulis di akta lahirmu."

Alya mengangguk.

Saat ia keluar, mobil hitam sudah menunggu. Langit mulai memucat. Ayam tetangga berkokok. Dari kejauhan, suara motor pedagang sayur mulai terdengar.

Alya menoleh sekali lagi ke rumah Eyang.

Di kehidupan lalu, ia pergi dari rumah ini sebagai anak bodoh yang haus kasih sayang.

Kali ini, ia pergi sebagai seseorang yang membawa daftar nama.

Dan satu per satu, mereka akan membayar.

Episode 2

Bab 2

Mobil itu melaju meninggalkan Kaliurang saat matahari belum benar-benar naik.

Alya duduk di kursi belakang, di antara Raka dan jendela. Rafi duduk di depan, di samping sopir. Baskara memilih mobil lain, mungkin karena merasa lebih nyaman berbicara lewat telepon daripada duduk bersama anak yang baru ia jemput setelah delapan belas tahun.

Keheningan di dalam mobil tidak sepenuhnya kosong. Ada suara pendingin udara, suara ban menabrak sambungan jalan, dan sesekali notifikasi ponsel Raka.

Raka beberapa kali melirik Alya.

Alya tahu ia ingin bicara.

Di kehidupan lalu, ia terlalu gugup sampai tidak berani menatap kakak ini. Ia terus meremas ujung bajunya, menjawab dengan suara pelan, berharap Raka menyukainya. Harapan itu menjadi celah pertama yang dipakai Maya dan Dinda untuk membuatnya tampak menyedihkan.

Kali ini, Alya yang membuka suara lebih dulu.

"Mas Raka sering ke Yogyakarta?"

Raka tampak lega karena diberi jalan. "Tidak terlalu sering. Biasanya untuk kerja. Kamu suka tinggal di sini?"

"Suka."

"Tapi kamu tetap mau ke Jakarta?"

Alya menoleh. Tatapannya jernih, seolah tidak menyimpan apa pun. "Papa bilang keluarga menunggu."

Raka terdiam.

Kalimat itu seharusnya terdengar bahagia. Namun dari mulut Alya, entah kenapa terdengar seperti pertanyaan.

"Mama juga menunggu," kata Raka pelan. "Maksudku, Tante Maya. Dia... dia mungkin agak kaku, tapi dia sudah menyiapkan kamar untukmu."

Alya hampir tersenyum.

Kamar.

Di kehidupan lalu, kamar yang "disiapkan" untuknya adalah kamar tamu paling belakang, dekat gudang. Dinda menangis karena takut kamar lamanya direbut, lalu seluruh rumah menyuruh Alya mengerti. Ia mengerti. Ia terlalu mengerti sampai akhirnya tidur bertahun-tahun di ruangan yang bahkan lebih dingin daripada gudang.

"Dinda juga ada di rumah?" tanya Alya.

Raka mengangguk. "Dinda adik kita. Dia... kamu mungkin sudah dengar tentang dia."

"Anak Tante Maya?"

"Iya. Tapi Papa sudah menganggap Dinda seperti anak sendiri sejak kecil."

Tentu.

Sejak kecil, Dinda mendapat panggilan anak.

Alya mendapat kiriman uang sekolah yang sering terlambat, seolah itu pun kemurahan hati.

Raka menatap wajah Alya, lalu buru-buru menambahkan, "Tapi itu bukan berarti posisimu tergantikan. Kamu tetap anak Papa."

Alya menunduk sedikit. "Aku mengerti, Mas."

Raka semakin tidak nyaman.

Mungkin karena Alya terlalu tenang. Anak yang baru dijemput keluarga kandungnya seharusnya banyak bertanya, menangis, bahagia, atau marah. Alya tidak melakukan semuanya. Ia hanya duduk rapi, memandang jalan, seperti seseorang yang sudah tahu akhir perjalanan.

Di kursi depan, Rafi tidak menoleh. Namun Alya tahu ia mendengarkan setiap kata.

Perjalanan ke Jakarta memakan waktu berjam-jam. Baskara beberapa kali menelepon Raka dari mobil depan, menanyakan apakah Alya mabuk, apakah ia rewel, apakah mereka perlu berhenti.

Nada ayah itu terdengar perhatian.

Alya tahu semua itu hanya latihan.

Sore menjelang ketika mobil memasuki kompleks elite di Jakarta Selatan. Gerbang tinggi, pos keamanan, taman yang terlalu rapi, dan deretan rumah besar dengan halaman luas menyambut mereka.

Rumah Wiratama berdiri di ujung jalan. Putih, besar, dingin.

Alya menatapnya lewat kaca.

Rumah itu pernah menjadi kubur berjalan baginya.

Begitu mobil berhenti, pintu utama terbuka. Seorang perempuan berusia empat puluhan berdiri di sana dengan gaun rumah mahal dan senyum lembut. Maya Wiratama. Cantik, tenang, matanya penuh perhitungan.

Di sampingnya, seorang gadis muda bergaun pastel menggenggam lengan Maya. Rambutnya panjang tertata, wajahnya manis, matanya tampak berkaca-kaca.

Dinda.

Alya keluar dari mobil.

Dinda maju lebih dulu, suaranya bergetar. "Kak Alya?"

Tanpa menunggu jawaban, ia memeluk Alya.

Aroma parfum mahal langsung menusuk hidung. Pelukan itu terlihat hangat dari luar, tetapi tangan Dinda menekan bahu Alya terlalu keras.

"Akhirnya Kakak pulang," bisik Dinda. "Aku takut Kakak membenciku."

Kalimat itu cukup pelan untuk terdengar pribadi, tetapi cukup keras agar Maya, Baskara, dan beberapa ART mendengarnya.

Bagus.

Pembukaan yang sama seperti dulu.

Jika Alya menjawab dingin, ia akan tampak kejam. Jika ia menjawab terlalu lembut, Dinda akan mengambil peran korban.

Alya mengangkat tangan dan menepuk punggung Dinda pelan.

"Kenapa aku harus membencimu?"

Dinda melepaskan pelukan, tertegun. Ia mungkin tidak menyangka jawaban itu.

Alya tersenyum tipis. "Kamu tidak salah karena dibesarkan di sini, kan?"

Wajah Maya berubah sepersekian detik.

Raka menatap Alya.

Baskara berdeham. "Sudahlah, masuk dulu. Perjalanan panjang pasti melelahkan."

Maya segera tersenyum. "Iya, Nak. Masuk. Tante sudah siapkan makan malam. Kamu pasti belum terbiasa dengan makanan Jakarta, jadi Tante minta dapur masak yang ringan."

Tante.

Di kehidupan lalu, Maya memaksanya memanggil Mama pada hari pertama. Jika Alya ragu, Maya akan menangis. Jika Alya menolak, Baskara akan marah.

Kali ini Maya memilih aman, menunggu Alya sendiri jatuh ke perangkap.

Alya berkata lembut, "Terima kasih, Tante Maya."

Senyum Maya sedikit kaku.

Rafi turun dari mobil dan berdiri di belakang Alya sambil membawa satu tas. Beberapa satpam menatapnya curiga.

Baskara baru ingat keberadaannya. "Kamu bisa tinggal di paviliun belakang untuk sementara."

"Dia tinggal dekat kamarku," kata Alya.

"Alya," suara Baskara langsung mengeras, lalu ia menurunkan nada karena ingat mereka baru bertemu. "Rumah ini punya aturan."

"Di rumah Eyang juga ada aturan." Alya menatapnya polos. "Rafi bertugas menjagaku. Kalau Papa merasa rumah ini aman, seharusnya tidak masalah ada satu orang lagi yang melihat."

Raka hampir tersedak.

Maya tersenyum cepat. "Tidak apa-apa, Mas. Mungkin Alya masih butuh waktu menyesuaikan diri. Kita jangan membuatnya merasa asing."

Tentu saja Maya setuju. Selama ia bisa terlihat bijak di depan semua orang.

Baskara akhirnya mengangguk. "Baik. Tapi dia tetap tidak boleh sembarangan masuk area keluarga."

Rafi hanya menjawab, "Saya paham."

Makan malam berlangsung di meja panjang. Piring porselen, sendok garpu berkilau, gelas kristal. Alya duduk di sisi yang ditunjukkan Maya. Dinda duduk dekat Baskara seperti biasa, seolah posisi itu tidak pernah bisa diganggu.

Maya menatap piring Alya. "Alya, kalau tidak terbiasa pakai pisau dan garpu, tidak apa-apa. Di sini semua keluarga sendiri."

Beberapa ART yang berdiri di dekat dapur menunduk, tetapi telinga mereka jelas terbuka.

Dinda buru-buru berkata, "Ma, jangan begitu. Kak Alya pasti bisa."

Alya mengambil pisau dan garpu dengan tenang, memotong daging di piringnya dengan gerakan bersih. Tidak cepat, tidak lambat. Ia bahkan menyisihkan saus agar tidak menodai piring.

"Aku pernah membantu acara makan di hotel waktu ada kegiatan sekolah," katanya ringan. "Tidak terlalu sulit."

Maya tertawa. "Bagus kalau begitu."

Baskara tampak puas. "Kamu cepat belajar."

Alya hampir ingin mengatakan bahwa ia belajar ini bukan dari hotel sekolah, melainkan dari kehidupan lalu, ketika satu kesalahan kecil di meja makan membuatnya ditertawakan semalaman.

Namun ia hanya tersenyum.

Dinda menggigit bibir. "Kak Alya pasti lelah. Setelah makan, aku antar ke kamar ya."

"Tidak perlu," kata Maya cepat. "Kamar Alya sudah Tante minta Mbak Sari siapkan."

Alya menatap Maya. "Kamar yang mana, Tante?"

Suasana meja hening sesaat.

Maya masih tersenyum. "Kamar tamu di belakang. Untuk sementara saja. Kamar depan sedang direnovasi."

Raka mengerutkan kening. "Kamar belakang? Bukankah itu dekat gudang?"

Dinda cepat menunduk. "Mas Raka, kamar depan yang kosong itu... dulu kamarku. Barang-barangku masih banyak di sana. Tapi kalau Kak Alya mau, aku bisa pindah kok."

Matanya langsung berkaca-kaca.

Permainan dimulai lagi.

Alya meletakkan garpu, suaranya tenang. "Aku tidak mau mengambil kamar siapa pun."

Dinda tampak lega terlalu cepat.

Lalu Alya melanjutkan, "Aku hanya ingin tahu, dari semua kamar di rumah sebesar ini, kenapa anak kandung Papa ditempatkan di kamar tamu belakang."

Tidak ada yang langsung menjawab.

Raka menatap Baskara.

Baskara menatap Maya.

Maya akhirnya tertawa pelan. "Alya, kamu salah paham. Ini hanya sementara."

"Kalau sementara, berapa hari?"

Senyum Maya semakin tipis. "Kita bicarakan nanti."

"Baik." Alya mengangguk. "Kalau begitu malam ini aku tidur di hotel saja. Rafi, pesan kamar."

Rafi langsung mengeluarkan ponsel.

Baskara menepuk meja. "Alya!"

Alya menatapnya tanpa gemetar. "Papa menjemputku untuk pulang. Kalau di rumah ini tidak ada tempat untukku, aku tidak perlu memaksakan diri."

Ruang makan menjadi beku.

Di wajah Dinda, air mata yang sudah disiapkan tidak jadi turun.

Raka tiba-tiba berdiri. "Pakai kamar depan di lantai dua. Kamar itu kosong sejak tahun lalu."

Maya menoleh tajam. "Raka."

"Apa?" Raka menatap ibunya tiri. "Alya benar. Rumah ini besar. Tidak masuk akal dia tidur dekat gudang."

Baskara memijat pelipis. "Sudah. Pakai kamar depan."

Dinda menunduk lebih dalam. Kali ini air matanya benar-benar jatuh.

Alya mengambil gelas air.

Ini baru malam pertama.

Dan mereka sudah mulai retak.

Episode 3

Bab 3

Kamar depan lantai dua ternyata memang kosong, tetapi bukan berarti siap ditempati.

Begitu pintu dibuka, aroma pengharum ruangan yang terlalu manis menyambut hidung Alya. Seprai baru sudah dipasang, lemari dilap, tirai diganti warna krem. Semua terlihat rapi. Terlalu rapi.

Alya berdiri di ambang pintu, memandang sekeliling.

Di kehidupan lalu, ia tidak pernah masuk kamar ini. Dinda menangis semalaman hanya karena Baskara sempat mengatakan mungkin kamar depan cocok untuk Alya. Keesokan harinya, seluruh rumah memutuskan Alya lebih nyaman di belakang.

Sekarang, karena Raka bicara, kamar itu menjadi miliknya hanya dalam lima menit.

Ternyata aturan rumah Wiratama tidak sekeras yang mereka katakan. Aturan itu hanya keras untuk orang yang mereka anggap bisa ditekan.

Mbak Sari, kepala ART, berdiri di samping pintu dengan wajah kaku.

"Non Alya, kalau ada yang kurang, bilang saja."

Non.

Di rumah ini, Dinda dipanggil Non Dinda dengan suara manis. Untuk Alya, panggilan yang sama terdengar seperti kewajiban.

Alya mengangguk. "Terima kasih, Mbak."

Mbak Sari tampak terkejut karena Alya tidak bersikap sombong. Ia buru-buru menunduk lalu pergi.

Rafi masuk setelah memastikan koridor kosong. Ia menaruh tas Alya di atas kursi, lalu memeriksa sudut ruangan. Lampu, rak, meja, belakang lukisan.

"Ada kamera?" tanya Alya.

"Belum terlihat."

"Belum?"

Rafi mengangkat satu vas bunga dari meja kecil. Di bawahnya ada perangkat kecil seukuran kancing.

Alya tertawa pendek. "Cepat sekali mereka menyambutku."

Rafi mematikan alat itu tanpa merusaknya, lalu memasukkannya ke kantong plastik kecil.

"Mau langsung dibuang?"

"Jangan." Alya duduk di tepi ranjang. "Biarkan mereka berpikir alatnya masih bekerja. Besok kita isi dengan suara yang mereka ingin dengar."

Rafi menatapnya lama. "Kamu menikmati ini?"

"Tidak." Alya melepas gelang dari Eyang Laras, mengusap permukaan peraknya. "Aku hanya tidak mau mati kedua kalinya karena terlalu sopan."

Rafi tidak menjawab.

Ada ketukan di pintu.

"Kak Alya?"

Suara Dinda.

Alya memberi isyarat pada Rafi untuk berdiri di sisi yang tidak terlihat dari pintu. Lalu ia membuka.

Dinda berdiri dengan piyama sutra berwarna lembut. Matanya masih merah, tetapi wajahnya sudah dirapikan. Di tangannya ada nampan kecil berisi susu hangat.

"Aku boleh masuk?"

"Ada apa?"

Dinda menggigit bibir. "Aku mau minta maaf soal kamar tadi. Aku tidak tahu Mama menyiapkan kamar belakang. Kalau aku tahu, aku pasti melarang."

Alya memiringkan kepala. "Benarkah?"

"Tentu." Dinda menatapnya dengan mata basah. "Aku tahu Kak Alya mungkin merasa aku mengambil semuanya. Tapi aku tidak pernah minta berada di posisi ini. Aku juga takut Kakak pulang lalu membenciku."

Dialog yang bagus.

Jika ada orang ketiga mendengar, Dinda akan terdengar sebagai gadis malang yang terjebak situasi.

Alya membuka pintu lebih lebar. "Masuklah."

Dinda melangkah masuk, matanya cepat menyapu kamar. Ia berhenti sejenak pada tas Alya yang sederhana, lalu pada Rafi yang berdiri dekat jendela.

"Kak, dia..."

"Rafi. Dia ikut dari rumah Eyang."

Dinda tersenyum canggung. "Oh. Aku kira kamar perempuan tidak boleh dimasuki laki-laki."

Alya duduk kembali. "Di rumah ini aturan seperti itu penting?"

Dinda terdiam sesaat. Ia cepat mengubah senyum. "Bukan begitu. Aku cuma takut nanti orang salah paham. Keluarga kita cukup dikenal. Kalau ada gosip..."

"Kalau begitu jangan sebarkan."

Wajah Dinda membeku.

Alya mengambil gelas susu dari nampan, tetapi tidak meminumnya. "Terima kasih."

Dinda duduk di kursi kecil dekat meja. "Kak Alya marah padaku?"

"Aku baru tiba. Belum ada alasan."

"Tapi sikap Kakak tadi di meja makan..." Dinda menunduk. "Aku merasa Kakak sengaja membuat Mama terlihat jahat."

Alya menatap susu di tangannya. "Tante Maya yang menyiapkan kamar belakang. Aku hanya bertanya."

"Kakak tahu Mama sensitif."

"Aku juga sensitif kalau ditempatkan dekat gudang."

Dinda menggenggam lututnya. Air mata muncul lagi. "Kak, jangan bicara seperti itu. Aku sungguh ingin kita akur. Aku sudah lama membayangkan punya kakak perempuan."

"Kamu sudah punya Mas Raka."

"Itu berbeda."

"Memang." Alya tersenyum. "Karena aku pulang membawa masalah untukmu."

Dinda mengangkat wajah, kali ini tidak sempat menyembunyikan keterkejutan.

Alya melanjutkan dengan suara lembut, "Aku bercanda. Kenapa wajahmu begitu?"

Dinda memaksa tertawa. "Kakak lucu juga."

Rafi yang sejak tadi diam tiba-tiba berkata, "Sudah malam. Alya harus istirahat."

Dinda menoleh. "Aku bicara dengan kakakku."

"Dan aku menjaga orang yang harus istirahat."

Nada Rafi tidak tinggi, tetapi Dinda tampak seperti ditampar. Ia berdiri sambil membawa nampan kosong.

"Baik. Kak Alya istirahat saja. Besok Mama mau ajak Kakak ke butik. Katanya ada acara keluarga beberapa hari lagi."

"Acara apa?"

Dinda tersenyum lebih manis. "Mungkin Papa belum bilang. Keluarga Santoso akan datang."

Susu hangat di tangan Alya hampir tidak bergerak.

Santoso.

Kevin.

Dinda memperhatikan wajah Alya, mencari reaksi. "Kakak belum tahu? Dulu keluarga kita dan keluarga Santoso punya pembicaraan lama. Papa bilang setelah Kakak pulang, semuanya bisa dibicarakan lagi."

Dia datang bukan untuk meminta maaf.

Dia datang untuk melempar umpan.

Alya mengangguk. "Begitu."

"Kakak tidak penasaran?"

"Besok juga tahu."

Dinda kecewa. Ia mungkin berharap Alya panik, bertanya, atau marah. Namun Alya hanya meletakkan susu di meja.

"Selamat malam, Dinda."

"Selamat malam, Kak."

Pintu tertutup.

Rafi mengambil gelas susu, menciumnya sebentar. "Ada obat tidur ringan."

Alya tersenyum dingin. "Malam pertama, kamera dan susu. Keluarga ini rajin sekali."

"Aku buang?"

"Tidak." Alya berdiri, membuka lemari, lalu mengeluarkan kantong kecil dari tasnya. Ia meneteskan sedikit cairan bening ke susu itu. "Kita kirim kembali."

Rafi menatapnya. "Untuk siapa?"

"Untuk orang yang paling ingin aku tidur nyenyak."

Beberapa menit kemudian, Alya keluar kamar dengan gelas susu di tangan. Rafi mengikuti dari jarak beberapa langkah.

Koridor lantai dua sepi. Namun dari bawah terdengar suara Maya berbicara pelan dengan Baskara.

"Anak itu tidak sesederhana kelihatannya," kata Maya.

Baskara menjawab, "Dia baru datang. Jangan membuat masalah."

"Aku tidak membuat masalah. Tapi kamu lihat sendiri tadi. Raka langsung membelanya."

"Raka memang selalu lembut."

"Lembut? Dia menentangku di depan anak itu."

Alya berhenti di tangga, mendengarkan.

Maya melanjutkan, "Kalau dia memengaruhi Raka, posisi Dinda bagaimana?"

Baskara terdengar lelah. "Dinda tetap anak kita."

"Tapi bukan darahmu."

Keheningan jatuh.

Alya tersenyum tanpa suara.

Ternyata Maya juga takut mengucapkan kebenaran itu.

Ia turun beberapa anak tangga. "Papa?"

Maya dan Baskara langsung menoleh. Wajah Maya berubah cepat menjadi lembut.

"Alya? Kenapa belum tidur?"

Alya mengangkat gelas susu. "Dinda tadi membawakan susu. Aku tidak biasa minum susu malam-malam. Tante mau?"

Maya menatap gelas itu.

Sedetik.

Dua detik.

Kalau ia menolak, ia akan tampak aneh. Kalau ia menerima, ia harus meminum sesuatu yang ia tahu sudah diberi obat.

Alya menunggu dengan wajah polos.

Baskara berkata, "Maya, minum saja. Anak ini sudah baik membawakan."

Jari Maya menegang. Ia menerima gelas itu, tersenyum pada Alya, lalu meneguk sedikit.

"Terima kasih, Nak."

"Sama-sama, Tante."

Alya berbalik naik.

Rafi menahan tawa ketika mereka kembali ke kamar.

"Kamu kejam."

"Tidak." Alya menutup pintu. "Aku hanya mengembalikan barang ke pemiliknya."

Malam itu, rumah Wiratama akhirnya tenang.

Namun pukul tiga pagi, terdengar suara panik dari kamar utama.

Maya tidak bisa bangun untuk rapat video penting dengan keluarga Santoso.

Dan ketika Baskara memanggil dokter keluarga, Alya berdiri di balik pintu kamarnya, mendengar semuanya dengan wajah tanpa rasa bersalah.

Permainan baru dimulai.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!