Benua Azure
Desa Angin Sepoi terletak di wilayah selatan di Benua Azure. Desa paling terpencil di antara Semua wilayah nya. Di balik hutan yang rindang menyimpan suasana khas desa pinggiran.
Kita fokus ke Sebuah gubuk reyot jika di lihat seperti tak ada penghuni. Inilah tempat tinggal keluara Lin. Malam itu Di dalam gubuk, tercium bau arak murah yang menyengat bercampur dengan aroma tanaman obat kering.
Terlihat seorang remaja berusia lima belas tahun bernama Lin Tian sedang berlutut di depan tungku batu. Wajahnya yang pucat dan tubuhnya yang kurus legam terkena asap jelaga. Dengan napas yang agak terengah-engah, dia mengipas api kecil yang sedang memanaskan sebuah kuali tanah liat berisi ramuan obat herbal.
Lin Tian terlahir dengan fisik yang lemah. Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, di mana anak-anak seumurnya di desa sudah berhasil mencapai Level 2 atau 3 Ranah Pengumpulan Qi, Lin Tian bahkan belum bisa merasakan energi spiritual alam (Qi) di sekitarnya. Dantiannya terasa seperti kolam kering yang retak.
"Uhuk... uhuk..."
Sebuah suara batuk berat terdengar dari atas ranjang jerami di sudut ruangan. Seorang pria paruh baya dengan pakaian compang-camping dan janggut berantakan bergerak gelisah. Di tangannya, sebuah botol labu berisi arak masih digenggam erat. Dia adalah Lin Xiao, ayah Lin Tian.
Bagi seluruh penduduk Desa Angin Sepoi, Lin Xiao hanyalah seorang pemabuk tidak berguna yang menumpang hidup dari hasil jerih payah anaknya yang cacat.
"Ayah"
"minumlah obat ini selagi hangat. Ini bisa meredakan nyeri di dadamu," ucap Lin Tian lembut
sambil membawa mangkuk tanah liat berisi cairan hitam pekat yang pahit.
Lin Xiao membuka matanya yang merah dan sayu. Dia menatap putranya, lalu meraih mangkuk itu dengan tangan yang gemetar dan meminumnya dalam sekali teguk. Setelah itu, dia kembali terkekeh pahit, membuka sumbat botol araknya, dan menenggaknya lagi.
"Obat ini... tidak ada gunanya, Tian'er," gumam Lin Xiao dengan suara serak.
"Hanya membuang-buang uang dan tenagamu yang berharga."
Lin Tian hanya tersenyum tipis, menyembunyikan rasa perih di hatinya.
"Selama bisa membuat Ayah merasa lebih baik, itu tidak membuang-buang tenaga."
Lin Xiao terdiam. Di balik matanya yang mabuk dan sayu, ada kilatan kepedihan yang mendalam yang tidak bisa dipahami oleh anak seusia Lin Tian.
Penduduk desa tidak ada yang tahu. Bahkan Lin Tian sendiri tidak tahu. Pria compang-camping yang mereka panggil "si pemabuk Lin" ini adalah sosok yang pernah mengguncang Domain Atas—seorang kultivator legendaris yang namanya dulu membuat sekte-sekte raksasa gemetar. Namun, karena sebuah pengkhianatan besar dan pertempuran yang menghancurkan langit, jiwanya terluka parah, basis kultivasinya hancur, dan dia terpaksa melarikan diri ke sub-domain terpencil ini untuk menyembunyikan putranya.
"Tian'er," panggil Lin Xiao tiba-tiba.
Suaranya malam ini terdengar sedikit berbeda, lebih berat dan sunyi.
"Iya, Ayah?"
"Apakah kamu membenciku?"
"Karena kamu terlahir lemah, dan memiliki ayah sepertiku yang hanya tahu cara minum arak?" tanya Lin Xiao Serius
Lin Tian menghentikan kegiatannya membersihkan tungku. Dia menatap ayahnya lurus-lurus. Meskipun fisiknya lemah, matanya memiliki keteguhan yang luar biasa.
"Aku tidak pernah membenci Ayah."
"Jika bukan karena Ayah yang merawatku, aku pasti sudah mati kelaparan di musim dingin tahun lalu"
"Mengenai fisikku yang lemah... aku percaya, jika Langit menutup satu jalan, pasti ada jalan lain yang terbuka. Aku hanya belum menemukannya." jawab Lin fan
Mendengar jawaban itu, tangan Lin Xiao yang memegang botol arak tiba-tiba berhenti gemetar. Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, tatapan matanya menjadi sangat tajam, sedalam lautan dan setajam pedang abadi, merobek topeng kemabukannya dalam sekejap.
*Anak ini... jiwanya begitu kokoh meski tubuhnya rapuh. Bakat mentalnya jauh melampaui diriku di masa muda,* batin Lin Xiao berbisik
Lin Xiao menghela napas panjang. Dia berdiri dari ranjang jeraminya. Gerakannya yang biasa terhuyung-huyung kini mendadak menjadi sangat tegap. Atmosfer di dalam gubuk reyot itu tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin dan menekan, membuat Lin Tian kesulitan bernapas tanpa tahu apa yang terjadi.
"Tian'er, hari ini adalah hari ulang tahunmu yang kelima belas. Di benua ini, ini adalah usia kedewasaan,"
"usia kedewasaan?. Fikir Lin Tian Bingung
ucap Lin Xiao sambil berjalan ke sudut ruangan, menggeser sebuah papan lantai yang longgar, dan mengeluarkan sebuah kotak kayu hitam yang berdebu.
Lin Tian terbelalak. Dia merasa ayahnya seperti orang yang sama sekali berbeda malam ini.
Lin Xiao meniup debu di atas kotak itu, lalu membukanya. Di dalamnya, terletak sebuah cincin perunggu kuno yang tampak biasa saja, dan sebuah batu hitam berbentuk aneh yang memancarkan aura dingin.
"sebenarnya Dantianmu itu tidak rusak, Tian'er."
"Alasan kenapa kamu tidak bisa menyerap Qi fana di Benua Azure ini... adalah karena tubuhmu memiliki Fisik Suci Yang Terbalik (Inverted Sacred Physique). Tubuhmu menolak energi spiritual tingkat rendah yang kotor di tempat ini," ujar Lin Xiao tenang,
namun setiap katanya terdengar seperti petir di telinga Lin Tian.
"Mak, Maksud ayah gimana?" Lin Tian terbata-bata, jantungnya berdegup kencang.
Lin Xiao menatap putranya dengan tatapan rumit, antara bangga dan khawatir.
"Dunia ini jauh lebih luas dari apa yang kamu lihat, Tian'er."
"Langit di atas Benua Azure ini hanyalah permulaan"
ia mengambil sebuah kotak kayu terbuat dari bahan tidak di ketahui. Jika orang orang di benua Azure melihat nya maka akan memicu perang untuk merebutkan nya.
"Lihat ini Nak"
"Kotak ini berisi warisan asli dari klan kita, klan yang pernah menguasai wilayah di atas awan."
Seraya membuka kotak tersebut, Lin Xiao mengambil cincin perunggu kuno dan melemparkannya ke arah Lin Tian.
"ambil lah, lalu.."
"Teteskan darahmu di atas cincin itu"
"Malam ini, ayah akan membantumu membuka segel fisikmu."
"Tapi ingat, begitu jalan ini kamu pilih, tidak ada jalan untuk kembali. Kamu akan dikejar oleh badai, darah, dan musuh-musuh yang bisa menghancurkan benua ini dengan satu jentikan jari."
"Apakah kamu siap?"
Lin Tian menatap cincin di tangannya, lalu menatap ayahnya yang kini memancarkan aura seperti seorang kaisar tak tertandingi. Rasa takut di hatinya lenyap, digantikan oleh kobaran api ambisi yang sudah lama dia pendam dalam diam.
Tanpa ragu, Lin Tian menggigit jarinya hingga berdarah, lalu menempelkannya ke permukaan cincin perunggu tersebut.
WUZHHH!
Seketika itu juga, cahaya keemasan yang menyilaukan meledak dari dalam gubuk kecil itu, membubung lurus menembus atap, membelah awan malam di atas Desa Angin Sepoi!
Cahaya keemasan yang membubung ke langit malam itu hanya bertahan selama beberapa detik sebelum akhirnya meredup dan lenyap, diserap kembali ke dalam tubuh Lin Tian. Namun, efek yang ditinggalkannya di dalam gubuk kecil itu jauh dari kata selesai.
Lin Tian jatuh berlutut. Keringat dingin mengucur deras membasahi seluruh pakaiannya yang koyak. Di dalam tubuhnya, rasa sakit yang luar biasa menjalar bagaikan jutaan semut api yang membakar pembuluh darahnya.
"AARRRGGH!"
Lin Tian mengerang, mencengkeram dadanya.
Di dalam Dantiannya yang semula kering dan retak, sebuah pusaran energi berwarna hitam-emas tiba-tiba muncul. Pusaran itu berputar dengan kecepatan gila, menciptakan daya hisap yang luar biasa.
Wuuushhhhhh..
Energi spiritual (Qi) di sekitar Desa Angin Sepoi—yang biasanya menolak masuk ke tubuh Lin Tian—kini dipaksa tertarik secara brutal. Namun, begitu Qi fana dari Benua Azure itu menyentuh kulit Lin Tian, energi tersebut langsung disaring dengan sangat ketat. Ampas spiritual yang kotor langsung dibakar habis, meninggalkan esensi Qi yang paling murni untuk menempa tulang dan ototnya.
"TAHAN, Tian'er!
"Jangan biarkan kesadaranmu runtuh!" suara Lin Xiao menggelegar, bergema langsung di dalam pikiran Lin Tian.
Lin Xiao melangkah maju. Dia mengangkat tangan kanannya, dan dalam sekejap, aura pemabuknya benar-benar lenyap. Jari-jarinya bergerak secepat kilat, mengetuk sembilan titik nadi utama di punggung dan dada Lin Tian. Setiap ketukan melepaskan sepercik energi murni berwarna perak untuk menstabilkan pusaran energi yang mengamuk di tubuh anaknya.
"Fisik Suci Yang Terbalik adalah berkah sekaligus kutukan," gumam Lin Xiao, matanya menatap tajam pada garis-garis emas yang mulai muncul di bawah kulit Lin Tian.
"Jika di Domain Atas, tubuh ini membutuhkan sumber daya tingkat dewa hanya untuk memulai. Di sub-domain miskin energi seperti ini, kamu harus memeras setiap tetes esensi dari batu roh tingkat tinggi. Beruntung, Ayahmu masih menyisakan sedikit modal untukmu."
Lin Xiao mengambil batu hitam berbentuk aneh dari kotak kayu tadi. Itu bukan batu biasa, melainkan Batu Roh Esensi Murni dari Domain Atas. Di Benua Azure, batu seperti ini bahkan tidak ada dalam catatan sejarah.
KRETEK!
Lin Xiao meremukkan batu itu dengan tangan kosong. Seketika, kabut spiritual berwarna ungu pekat yang sangat padat keluar dan langsung membungkus tubuh Lin Tian.
Begitu merasakan energi tingkat tinggi ini, tubuh Lin Tian yang awalnya menolak Qi fana langsung bereaksi gembira. Pusaran di Dantiannya melahap kabut ungu tersebut dengan rakus.
BOOOM!
Sebuah gelombang energi tak kasatmata meledak dari tubuh Lin Tian, menghempaskan debu dan barang-barang di dalam gubuk.
Ranah Pengumpulan Qi... Level 1!
Level 2!
Level 3!
Kultivasi Lin Tian melonjak seperti kuda liar yang lepas dari kekang. Dalam hitungan menit, dia melewati tiga level yang biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun bagi anak-anak di desa untuk mencapainya. Dan lonjakan itu baru berhenti setelah menyentuh Puncak Level 3 Pengumpulan Qi.
Bersamaan dengan itu, lapisan cairan hitam berbau busuk keluar dari pori-pori kulit Lin Tian—itu adalah kotoran dan racun fana yang selama lima belas tahun ini menyumbat tubuhnya. Proses pembersihan sumsum tulang (Marrow Cleansing) telah selesai.
Lin Tian membuka matanya. Sepasang manik matanya kini berkilat dengan cahaya keemasan yang samar sebelum kembali normal. Dia menarik napas dalam-dalam, dan untuk pertama kalinya dalam hidup, dia merasa dunianya menjadi begitu jernih. Dia bisa mendengar kepakan sayap nyamuk di sudut ruangan, dan bisa merasakan aliran energi hangat yang mengalir lancar di dalam meridiannya.
"Aku... aku bisa berkultivasi?"
Lin Tian melihat kedua tangannya yang kini tampak lebih bersih dan berisi. Rasa lemas yang selama ini membebani tubuhnya telah sirna, digantikan oleh kekuatan murni yang meluap-luap.
"Ini baru permulaan, Fan'er" ucap Lin Xiao,
suaranya kembali terdengar agak lelah. Aura kaisar yang tadi memancar perlahan meredup, dan dia kembali tampak seperti pria paruh baya yang ringkih. Menembus segel tadi rupanya menguras sisa-sisa energi jiwanya yang terluka.
Lin Tian segera bersujud di depan ayahnya, kepalanya menyentuh lantai kayu.
"Terima kasih, Ayah!"
Anak ini tidak akan mengecewakan pengorbanan Ayah!"
Lin Xiao tersenyum tipis, lalu duduk kembali di ranjang jeraminya. Dia mengambil botol araknya, namun tidak meminumnya.
"Cincin perunggu di jarimu di sebut Cincin Ruang Angkasa Roh Abadi."
"Di dalamnya ada teknik kultivasi warisan klan kita, Sutra Sembilan Transformasi Langit. Mulai besok, latih teknik itu dalam diam. Jangan pernah memperlihatkan kekuatan sejatimu di depan orang-orang desa."
"Meskipun di desa kecil ini tidak ada kultivator kuat, fluktuasi energi yang terlalu mencolok bisa menarik perhatian mata-mata dari sekte besar di Benua Azure, atau bahkan... musuh masa lalu Ayah dari Domain Atas."
Lin Tian mengangguk dengan serius. Dia tahu betul konsep 'pohon yang tinggi akan tumbang oleh angin'. Di dunia yang kejam ini, menyembunyikan kartu AS adalah cara terbaik untuk bertahan hidup.
"Satu hal lagi," lanjut Lin Xiao,
matanya menyipit. "Ledakan cahaya tadi... meskipun Ayah sudah mencoba mengisolasinya dengan formasi mini, fluktuasi energinya pasti sempat bocor ke luar gubuk. Besok, kemungkinan besar akan ada orang yang datang menyelidiki."
Baru saja Lin Xiao menyelesaikan kalimatnya, dari arah luar gubuk—di kejauhan jalan desa—terdengar suara langkah kaki beberapa orang yang berjalan tergesa-gesa, diiringi suara teriakan yang kasar.
"Hei! Pemabuk Lin!"
"Keluar kau!"
"Aku melihat ada cahaya aneh jatuh di sekitar gubuk rongsokanmu ini!"
Lin Tian mengenali suara itu. Itu adalah suara Gu Chen, putra dari kepala desa Desa Angin Sepoi, seorang jenius lokal berusia tujuh belas tahun yang terkenal angkuh karena sudah mencapai Level 4 Pengumpulan Qi.
Lin Tian melirik ayahnya. Lin Xiao hanya kembali merebahkan diri di atas ranjang jerami, menarik selimut loak yang menutupi tubuhnya, lalu memejamkan mata seolah tidak terjadi apa-apa.
"Urus sendiri, Tian'er. Anggap ini batu asahan pertamamu,"
gumam Lin Xiao tanpa membuka mata. Bau arak kembali keluar dari tubuhnya, menyembunyikan aura kultivator hebat yang tadi sempat bangkit.
Lin Tian tersenyum tipis. "Dimengerti, Ayah."
Dengan gerakan cepat, Lin Tian menyambar sehelai kain bersih untuk mengelap cairan hitam berbau busuk yang keluar dari pori-pori kulitnya akibat pembersihan sumsum tulang tadi. Begitu selesai, dia melangkah menuju pintu kayu gubuknya yang reot.
DUAAAARR
Belum sempat tangan Lin Tian menyentuh gagang pintu, pintu tersebut sudah ditendang kasar dari luar hingga engselnya hampir lepas.
Tiga orang remaja melangkah masuk dengan angkuh. Di depan mereka berdiri Gu Chen, mengenakan jubah sutra abu-abu yang tampak mewah untuk ukuran desa terpencil. Wajahnya yang tirus dipenuhi ekspresi meremehkan. Di belakangnya, dua anteknya yang merupakan pemuda desa setempat langsung menutup hidung mereka.
"Ughh! Bau apa ini? Mengapa busuk sekali? Seperti bau bangkai tikus!"
seru salah satu antek Gu Chen sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan hidungnya.
Gu Chen tidak memedulikan bau itu. Matanya yang tajam langsung mengedar ke seluruh penjuru gubuk yang sempit, lalu tertuju pada Lin Tian. Alis Gu Chen bertaut saat menyadari ada sesuatu yang berbeda dari penampilan Lin Tian malam ini. Kulit remaja lemah itu tampak lebih bersih, dan matanya tidak lagi sayu melainkan jernih dan tajam.
Namun, Gu Chen segera membuang pikiran itu. Di matanya, Lin Tian selamanya hanyalah seonggok sampah yang tidak bisa berkultivasi.
"Lin Tian! Di mana harta karunnya?" tanya Gu Chen ketus, nadanya penuh pemaksaan.
"Tadi aku dan anak buahku melihat cahaya emas membubung tinggi dari arah gubukmu. Jangan coba-coba berbohong! Sampah seperti kalian tidak mungkin bisa memicu fenomena alam seperti itu. Pasti ada harta karun kuno atau obat spiritual tingkat tinggi yang jatuh dari langit ke gubuk ini!"
Lin Tian berdiri tegak dengan tenang. Di dalam tubuhnya, pusaran Dantian di Level 3 Pengumpulan Qi berputar perlahan, siap meledak kapan saja. Namun, dia menekan auranya dengan rapat menggunakan teknik dasar penyembunyian napas yang dia pahami secara insting setelah fisiknya bangkit.
"Tuan Muda Gu, Anda pasti salah lihat," jawab Lin Tian datar, wajahnya tanpa ekspresi.
"Tidak ada harta karun di sini. Cahaya yang Anda maksud mungkin hanya pantulan petir atau ilusi malam. Gubuk kami hanya berisi barang rongsokan dan arak murah."
"Salah lihat? Kamu pikir mataku buta? HAH!" Gu Chen mendengus geram. Dia melangkah maju, melepaskan tekanan energi dari tubuhnya.
Wush!
Aura Ranah Pengumpulan Qi Level 4 mengalir keluar dari tubuh Gu Chen, menciptakan angin kecil yang membuat debu di lantai beterbangan. Bagi orang biasa di desa, tekanan ini sudah cukup membuat mereka berlutut ketakutan.
"Lin Tian, aku beri kamu satu kesempatan terakhir."
"Serahkan harta itu, atau aku akan menggeledah gubuk ini dan mematahkan kaki kirimu!" ancam Gu Chen sambil mengepalkan tinjunya yang mulai dialiri sedikit Qi fana.
Melihat keangkuhan Gu Chen, sebersit kilatan dingin melintas di mata Lin Tian. Di masa lalu, dia selalu mengalah dan menahan diri karena fisiknya yang lemah. Namun sekarang, segel tubuhnya telah terbuka. Mengapa dia harus takut pada seekor katak di dalam sumur?
Level 4 Pengumpulan Qi?
Meskipun kultivasi Lin Tian saat ini berada di Puncak Level 3, kualitas Qi yang dimilikinya berasal dari Batu Roh Esensi Murni dan dimurnikan oleh Fisik Suci Yang Terbalik. Dari segi kemurnian dan kepadatan, Qi milik Lin Tian jauh melampaui Qi fana milik Gu Chen yang kotor dan tipis!
"Bagaimana jika aku katakan... memang tidak ada apa-apa di sini?" ucap Lin Tian, nadanya kini beralih menjadi dingin dan menantang.
Gu Chen tertegun sejenak. Dia tidak menyangka si pengecut Lin Tian berani berbicara seperti itu padanya. Rasa bersalah dan terhina langsung membakar emosinya.
"Bocah cacat, kamu benar benar mencari mati!"
Gu Chen berteriak murka. Dia melangkah maju dengan cepat, tangan kanannya membentuk cakar dan mengarah langsung ke pundak Lin Tian. Ini adalah teknik bela diri tingkat rendah klan kepala desa: Cakar Macan Angin.
Di mata kedua anteknya, gerakan Gu Chen sangat cepat dan mematikan. Mereka sudah tersenyum sinis, membayangkan Lin Tian akan menjerit kesakitan dengan tulang pundak yang retak.
Namun, di mata Lin Tian, gerakan Gu Chen terasa sangat lambat. Berkat kebangkitan fisiknya, indra penglihatan dan refleks tubuh Lin Tian telah meningkat ribuan kali lipat.
Tepat saat cakar Gu Chen hampir menyentuh pakaiannya, Lin Tian sedikit memiringkan tubuhnya ke kiri. Gerakannya sangat halus, membuat cakar Gu Chen hanya mengenai angin kosong.
"APA?!" Gu Chen terkejut saat serangannya meleset.
Belum sempat Gu Chen menarik kembali tangannya, Lin Tian sudah mengepalkan tangan kanannya. Energi spiritual murni di dalam Dantiannya mengalir deras menuju lengannya, membuat tinju Lin Tian bergetar samar memancarkan aura keemasan yang tersembunyi.
Pukulan Penghancur Batu!
Tanpa teknik bela diri yang rumit, hanya mengandalkan kekuatan fisik murni dan kepadatan Qi, Lin Tian menghantamkan tinjunya lurus ke arah perut Gu Chen yang terbuka lebar.
BOOM!
Suara hantaman tumpul bergema keras di dalam gubuk.
"Ughaaak!"
Mata Gu Chen membelalak lebar, wajahnya langsung memucat seketika. Dia merasakan seolah-olah perutnya dihantam oleh godam besi seberat seribu kati. Energi murni yang sangat ganas menembus pertahanan Qi miliknya, mengoyak jalur energinya dari dalam.
BRUAAAK!
Tubuh Gu Chen melesat mundur dengan cepat, menabrak pintu gubuk hingga hancur berkeping-keping, lalu terlempar keluar dan berguling di atas tanah berlumpur di halaman. Dia memegangi perutnya sambil memuntahkan seteguk darah segar, wajahnya dipenuhi rasa tidak percaya yang mendalam.
Suasana di dalam dan luar gubuk mendadak menjadi sunyi senyap. Dua antek Gu Chen berdiri mematung di tempat, rahang mereka hampir jatuh ke lantai melihat pemandangan mengerikan di depan mata mereka.
Seorang jenius Level 4 Pengumpulan Qi... dikalahkan dalam satu pukulan oleh si cacat desa?
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!