Indonesia
NovelToon NovelToon

Drummer Cantik, Istri Rahasia Ketos Tampan

Bab 1

Suara ketukan stik drum di udara menjadi aba-aba. Satu, dua, tiga, empat!

Hentakan bas yang menggelegar langsung memenuhi seisi aula sekolah. Almeera Azzahra—atau yang lebih suka dipanggil Al—memutar stik drum di tangan kanannya dengan gerakan luwes sebelum menghantam crash cymbal dengan tenaga penuh. Rambut sebahunya yang diikat asal-asalan bergoyang mengikuti irama, beberapa helai poni menempel di dahinya yang berkeringat.

Di depan sana, Nino melompat ke tengah panggung, menggenggam mikrofon dengan gaya khas vokalis papan atas yang sedang konser di stadion, padahal penonton mereka hanyalah deretan kursi kosong dan beberapa siswa yang nongkrong di pinggir aula.

"Kupetik bintang, untuk kau simpan... Cahayanya tenang, berikan kau perlindungan..."

Suara Nino mengalun menyanyikan lagu Melompat Lebih Tinggi dari Sheila on 7. Di sebelah kirinya, Darren memetik gitar dengan ekspresi kalem yang selalu berhasil membuat siswi-siswi menjerit tertahan. Di sisi kanan, Baim mengangguk-anggukkan kepala sambil memainkan basnya, sesekali melempar cengiran ke arah Almeera yang membalasnya dengan gebukan drum yang makin bersemangat.

Almeera berada di elemennya. Di balik set drum ini, dia bukan Almeera si siswi dengan nilai matematika pas-pasan. Dia adalah jantung dari NOISE, band kebanggaan SMA Bina Bangsa. Setiap ketukan yang ia buat adalah detak jantung lagu ini. Ia memejamkan mata sejenak, meresapi adrenalin yang mengalir deras di nadinya, bersiap untuk masuk ke bagian reffrain.

Namun, tepat sebelum ketukan klimaks itu jatuh...

NGUIIIIING!

Suara feedback mikrofon yang melengking tajam merobek gendang telinga siapa pun yang berada di aula. Nino sampai menjatuhkan mikrofonnya sambil menutup telinga. Petikan gitar Darren terhenti dengan nada sumbang. Almeera menahan pedal basnya secara refleks, matanya membelalak kaget.

Suasana aula yang tadinya penuh energi seketika mati. Sepi. Hanya menyisakan dengungan sisa amplifier.

Almeera berdiri dari kursi drumnya. Napasnya memburu. Matanya yang tajam menyapu sekeliling ruangan, mencari pelaku di balik sabotase barusan. Pandangannya langsung terkunci pada sebuah siluet yang berdiri di dekat panel listrik aula.

Seorang cowok jangkung dengan seragam putih abu-abu yang dimasukkan rapi, dibalut jaket navy kebanggaan OSIS. Tangan kanannya dengan santai memegang ujung kabel ekstensi yang baru saja ia cabut dari stop kontak.

Akram Pradana.

Cowok itu memiringkan kepalanya sedikit. Sebuah senyum miring perlahan terbentuk di bibirnya—senyum menyebalkan yang selalu berhasil membuat darah Almeera mendidih dalam hitungan detik.

"Ups," ucap Akram. Suaranya tidak keras, tapi menggema di aula yang mendadak hening. "Kesenggol."

Almeera mencengkeram stik drumnya kuat-kuat. "Kesenggol mata lo!" serunya, suaranya membelah kesunyian. Ia melompat turun dari panggung, mengabaikan Baim yang berusaha menahan lengannya. Langkahnya lebar dan penuh emosi menuju ke arah cowok itu.

Di belakang Akram, Bastian, sang Wakil Ketua OSIS, terlihat mengusap wajahnya pasrah. Bastian bergumam pelan, "Udah gue bilang jangan dicabut paksa, Kram. Habis kita diterkam." Tapi Akram sama sekali tidak menggubris sahabatnya itu. Matanya hanya tertuju pada Almeera yang kini berdiri berhadap-hadapan dengannya, dada cewek itu naik-turun menahan marah.

"Pasang lagi." Almeera menunjuk kabel di tangan Akram dengan ujung stik drumnya. Suaranya rendah, mengancam.

Akram malah memasukkan kedua tangannya ke saku jaket OSIS-nya, membiarkan kabel itu jatuh begitu saja ke lantai. Ia menunduk sedikit untuk menyejajarkan pandangannya dengan mata Almeera. Wangi parfum maskulin bercampur mint langsung menguar, entah kenapa membuat Almeera semakin kesal karena cowok ini selalu terlihat—dan tercium—sempurna bahkan di cuaca panas begini.

"Gue rasa latihan kalian udah cukup, Al," kata Akram santai. Nada suaranya terdengar seperti seorang guru yang sedang menasihati anak TK. "Anak-anak OSIS di ruang sebelah lagi pusing ngurusin proposal pensi. Dan jujur aja, suara gebukan lo barusan lebih mirip orang lagi mukulin kaleng rombeng daripada main musik."

Rahang Almeera mengeras. "Kita udah booking aula ini dari minggu lalu buat latihan! Lo yang Ketua OSIS harusnya tahu jadwal, dong. Jangan mentang-mentang lo punya jabatan, lo bisa seenaknya matiin listrik orang latihan!"

Nino yang baru saja turun dari panggung ikut menimpali dari belakang. "Iya, Bos! Lo kalau mau rapat ya rapat aja. Aula kan emang buat ekskul. Lagian lo iri aja kan nggak bisa nyanyi sehebat gue?"

Akram menoleh sekilas ke arah Nino, senyumnya semakin lebar. "Bukan iri, Nin. Gue cuma peduli sama kesehatan mental anggota gue. Mendengar suara lo nyanyi nada tinggi tadi, gue takut mereka malah mual."

"Wah, ngajak ribut beneran ini anak," Baim menggulung lengan seragamnya, bersiap maju, namun Darren dengan cepat menahan kerah belakang baju Baim.

"Biarin Al yang urus," bisik Darren rasional. Ia tahu, kalau urusannya sudah dengan Akram, tidak ada yang bisa menghentikan Almeera.

Almeera melangkah maju satu tindak, mengikis jarak di antara mereka berdua. Ia mendongak menatap Akram dengan sorot mata menantang, sama sekali tidak terpengaruh oleh pesona sang Ketua OSIS yang diagung-agungkan separuh siswi SMA Bina Bangsa.

"Gue nggak peduli sama proposal pensi lo, Akram. Pasang. Kabelnya. Sekarang," desis Almeera, menekankan setiap kata.

Akram menatap mata cokelat terang milik Almeera. Ia selalu menyukai momen ini. Momen di mana mata cewek itu berkilat marah, pipinya memerah karena emosi, dan semua fokusnya hanya tertuju pada Akram. Ada kepuasan tersendiri saat ia berhasil memancing singa betina ini keluar dari sarangnya.

Bagi orang lain, Akram adalah sosok sempurna. Cerdas, tampan, ramah, dan bisa diandalkan. Tapi di depan Almeera, ia tidak perlu berpura-pura menjadi 'Ketua OSIS Teladan'. Ia bisa menjadi dirinya sendiri: jahil, menyebalkan, dan suka mencari gara-gara.

"Kalau gue nggak mau?" Akram mencondongkan wajahnya lebih dekat, nyaris berbisik. Jarak mereka begitu dekat sampai Almeera bisa melihat pantulan dirinya di mata hitam cowok itu. "Lo mau apa, Al? Mau mukul gue pakai stik drum lo itu?"

Bulu kuduk Almeera meremang, tapi pantang baginya untuk mundur. Ia menegakkan dagunya. "Lo pikir gue nggak berani? Muka lo itu emang pantes dipukul biar senyum sok kecakepan lo itu luntur sekalian."

Akram malah tertawa pelan. Tawa yang renyah dan dalam, membuat beberapa siswi yang sedari tadi menonton pertengkaran mereka dari ambang pintu menahan napas. "Sok kecakepan? Gue rasa lo diam-diam juga ngakuin kalau gue emang cakep, kan?"

"Najis!" umpat Almeera refleks.

"Hati-hati, Al. Benci sama cinta itu bedanya tipis. Hari ini lo mau mukul gue, besok bisa-bisa lo nangis minta peluk." Akram mengedipkan sebelah matanya.

"AKRAM!" Almeera mengangkat stik drumnya, benar-benar bersiap untuk memukul lengan cowok itu.

Namun, sebelum stik itu mendarat, sebuah melodi nyaring memecah ketegangan. Ringtone dari saku rok Almeera.

Almeera menghentikan gerakannya di udara. Ia mendengus kasar, menurunkan tangannya, lalu merogoh saku roknya. Layar ponselnya menyala, menampilkan nama 'Mama Negara'.

Di saat yang hampir bersamaan, ponsel di saku celana Akram juga bergetar. Cowok itu menarik mundur wajahnya, mengeluarkan ponselnya dengan santai. Keningnya sedikit berkerut melihat nama 'Papa' di layar.

Almeera menatap layar ponselnya curiga, lalu menekan tombol hijau. "Halo, Ma? Al lagi ekskul ini—"

"Pulang sekarang, Almeera. Nggak ada tapi-tapian." Suara mamanya terdengar tegas di seberang sana, memotong kalimat Almeera. "Papa udah nunggu di rumah. Malam ini kita ada makan malam penting. Dandan yang rapi, jangan pakai kaos oblong band kamu itu."

"Ma, tapi Al—"

Tut. Sambungan diputus sepihak.

Almeera mengerang frustrasi, memasukkan kembali ponselnya ke saku dengan kasar. Ia menoleh dan mendapati Akram juga baru saja menurunkan ponsel dari telinganya. Ekspresi santai cowok itu sedikit memudar, digantikan oleh sorot bingung yang jarang terlihat.

"Bokap gue," gumam Akram pelan, entah bicara pada siapa. Ia menatap Almeera. "Gue disuruh pulang. Sekarang."

"Nggak peduli gue!" balas Almeera sewot. Ia berbalik badan, berjalan hentak-hentak kembali ke panggung. "Beresin alat-alat, Guys. Latihan bubar. Ratu drama udah manggil pulang."

Nino mengeluh panjang, Baim mendengus kecewa, sementara Darren hanya mengangguk dan mulai membereskan kabel gitarnya.

Akram masih berdiri di tempatnya. Matanya terus mengikuti sosok Almeera yang sedang memasukkan stik drumnya ke dalam tas dengan gerakan kasar dan penuh emosi. Tiba-tiba saja, perasaan aneh menyelinap di dada Akram. Papanya tidak pernah memaksanya pulang di tengah jam OSIS kecuali ada hal yang benar-benar genting. Dan melihat reaksi Almeera barusan, cewek itu juga sepertinya ditarik pulang secara mendadak.

Kebetulan?

"Kram, jadi balik ke ruang OSIS nggak nih?" tegur Bastian, menyadarkan Akram dari lamunannya.

Akram menoleh, menarik sudut bibirnya kembali membentuk senyum santai. "Balik. Lo urus anak-anak, Bas. Gue harus cabut duluan."

Ia kembali menatap punggung Almeera untuk terakhir kalinya sebelum berbalik pergi. Pertandingan hari ini seri, Al, batin Akram geli.

Keduanya melangkah keluar dari aula melalui pintu yang berbeda, sama-sama merasa kesal dengan panggilan mendadak dari keluarga mereka. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari, bahwa makan malam keluarga yang menunggu mereka malam ini akan menjadi garis start dari kekacauan terbesar, dan terpanjang, dalam hidup mereka.

Makan malam yang akan mengubah status musuh bebuyutan mereka menjadi sesuatu yang sangat, sangat mustahil.

Bab 2

Almeera berkali-kali membenarkan posisi kerah gaun rajut berwarna peach yang dipaksakan mamanya untuk ia pakai malam ini. Rasanya benar-benar tidak nyaman. Gaun itu terlalu feminin, bahunya terasa kaku, dan ia merindukan kaos hitam longgar bergambar tengkorak serta celana jin robeknya.

"Al, berhenti cemberut. Lipstik kamu bisa retak nanti," tegur Mama dari arah dapur sambil membawa mangkuk berisi sup iga hangat.

Papa yang sedang duduk di meja makan sambil membaca koran digital di ponselnya hanya terkekeh. "Anak gadis Papa sekali-sekali tampil cantik begini, dong. Masa setiap hari penampilannya mirip tukang pukul pasar."

"Pa, Al ini drummer, bukan tukang pukul!" gerutu Almeera sambil menghempaskan dirinya ke kursi makan. Ia melirik jam dinding. Sudah jam tujuh malam lewat. "Sebenarnya tamu penting siapa sih, Ma? Sampai Al harus dandan kayak mau kondangan begini?"

"Teman lama Papa sama Mama, Al. Dulu waktu kuliah, kami sering susah senang bareng. Sekarang mereka baru pindah lagi ke Jakarta," jawab Mama sambil menata piring-piring porselen terbaik yang biasanya hanya keluar setahun sekali saat Lebaran. "Nah, itu mereka datang!"

Suara bel rumah berbunyi. Papa langsung berdiri dengan wajah berseri-seri, melangkah lebar menuju pintu depan untuk menyambut tamu mereka. Mama menyusul di belakang, meninggalkan Almeera sendirian di meja makan.

Almeera menghela napas, menyandarkan dagunya di punggung tangan. Di kepalanya, melodi lagu Melompat Lebih Tinggi masih berputar-putar, bersahut-sahutan dengan bayangan senyum miring Akram yang tadi siang sukses merusak suasana hatinya. Mengingat cowok itu membuat Almeera reflek menusuk-nusuk potongan wortel di piringnya dengan garpu. Awas aja lo besok di sekolah, Kram. Gue kempesin ban motor lo.

Dari arah ruang tamu, terdengar suara tawa bariton pria yang saling bersahutan, disusul suara pekikan heboh khas ibu-ibu yang sedang melepas rindu.

"Ya ampun, Jihan! Kamu nggak berubah ya, tetap awet muda!" suara Mama terdengar antusias.

"Bisa aja kamu, Ratna. Eh, ini anak laki-laki aku. Sini, Nak, salaman sama Om dan Tante."

Almeera memutar bola matanya malas. Ah, paling anak cowok cupu berkacamata yang bakal sibuk sama dunianya sendiri, batinnya prasangka.

Langkah kaki terdengar mendekati ruang makan. Almeera terpaksa menegakkan tubuhnya, memasang senyum formal paling ramah yang bisa ia paksakan di wajahnya. Pintu ruang makan terbuka. Papa dan Mama masuk terlebih dahulu, diikuti oleh sepasang suami istri paruh baya yang berpenampilan sangat elegan.

Dan tepat di belakang mereka, muncul seorang cowok.

Cowok itu mengenakan kemeja flanel kotak-kotak hitam-merah yang kancing atasnya dibuka santai, dipadukan dengan celana jins gelap. Rambutnya yang tadi siang agak berantakan karena angin aula, kini tertata rapi. Wangi parfum mint yang sangat familier langsung menyergap indra penciuman Almeera.

Senyum formal di wajah Almeera langsung membeku. Matanya membelalak sempurna. Garpu di tangan kanannya nyaris terlepas.

Cowok itu juga sedang melangkah masuk dengan senyum sopan di bibirnya. Namun, begitu matanya menangkap sosok Almeera yang duduk di ujung meja, langkahnya terhenti seketika. Mata hitamnya melebar, ekspresi santai dan percaya dirinya runtuh dalam hitungan detik.

"Lo?!" Almeera berdiri dari kursinya begitu cepat hingga kursi itu berderit nyaring di atas lantai keramik. Jarinya menunjuk langsung ke arah cowok itu.

"Almeera?" Akram mengerjapkan matanya berulang kali, memastikan bahwa penglihatannya tidak sedang bermasalah akibat terlalu lama membaca proposal OSIS.

"Lho, kalian sudah saling kenal?" Papa Almeera menoleh bergantian ke arah putri dan anak temannya dengan wajah heran.

Mama Akram—Tante Jihan—tersenyum lebar, tampak sangat gembira. "Wah, bagus dong kalau sudah kenal! Kalian satu sekolah, kan? Akram sering cerita tentang sekolahnya, tapi dia nggak pernah bilang kalau satu sekolah sama anak kamu, Ratna."

Almeera masih mematung, otaknya mendadak macet total. Dari jutaan remaja laki-laki di kota Jakarta, kenapa harus makhluk menyebalkan ini yang berdiri di ruang makannya?

Sementara itu, Akram dengan cepat menguasai keterkejutannya. Sudut bibirnya perlahan merayap naik, membentuk senyuman tipis yang sangat dikenal Almeera sebagai sinyal bahaya. Cowok itu maju selangkah, menunduk sopan ke arah orang tua Almeera. "Iya, Om, Tante. Kami satu sekolah. Bahkan sering... interaksi di sekolah."

Interaksi katanya?! Berantem, bego! Almeera menjerit dalam hati, matanya mendelik tajam pada Akram, mengirimkan sinyal ancaman pembunuhan lewat tatapan mata. Namun Akram justru membalasnya dengan kedipan mata jail yang tak terlihat oleh orang tua mereka.

"Ya sudah, ayo duduk-duduk. Kita makan dulu sambil ngobrol," ajak Papa Almeera ramah.

Posisi duduk malam itu benar-benar menjadi malapetaka bagi Almeera. Akram duduk tepat di hadapannya. Setiap kali Almeera mengangkat sendok, ia terpaksa harus melihat wajah cowok itu yang sedang mengunyah sup dengan gaya sok anggun. Beberapa kali Akram sengaja menatap Almeera sambil menaikkan sebelah alisnya, memamerkan ekspresi mengejek yang membuat Almeera ingin sekali menyiramkan kuah sup iga panas ini ke kepala Akram.

"Jadi," Papa Akram membuka suara setelah hidangan utama hampir habis, suaranya terdengar tenang namun berwibawa. "Hendra, Ratna... karena anak-anak kita sepertinya sudah saling kenal dan tidak canggung lagi, bagaimana kalau kita langsung bicarakan tujuan utama pertemuan malam ini?"

Almeera menghentikan kunyahannya. Perasaan tidak enak mendadak menyergap dadanya. Ia melirik Akram, dan untuk pertama kalinya malam itu, ia melihat guratan ketegangan yang sama di wajah cowok itu.

Mama Almeera tersenyum manis, meraih tangan Almeera dan mengelusnya lembut. "Al... kamu ingat kan, dulu waktu kamu masih kecil, Papa dan Om Baskoro pernah membuat sebuah janji?"

Almeera mengernyitkan dahi. "Janji apa, Ma? Janji mau ngasih Al set drum baru?"

Papa terkekeh, menggelengkan kepala. "Bukan, Sayang. Ini tentang masa depan kamu. Dan masa depan Akram." Papa menatap Akram dan Almeera bergantian dengan tatapan serius namun penuh kasih sayang. "Dulu, saat perusahaan keluarga kami berdua hampir bangkrut dan kami saling bahu-membahu menyelamatkannya, kami mengikat janji. Kami ingin persahabatan dan keluarga kami menyatu secara permanen."

Suasana di meja makan mendadak hening. Almeera bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang mulai berpacu cepat. Di seberang meja, Akram tampak menegakkan punggungnya, tangannya mengepal di atas lutut.

"Maksud Papa...?" suara Almeera mencicit, egonya yang biasa tinggi mendadak menciut.

"Kami ingin menjodohkan kalian berdua," ujar Om Baskoro, papa Akram, dengan nada final yang tidak menerima bantahan. "Kalian berdua akan menikah."

Hening.

Detik berikutnya, Almeera tersedak air liurnya sendiri hingga terbatuk-batuk hebat. Mama dengan sigap menyodorkan segelas air putih yang langsung ditenggak habis oleh Almeera.

Di seberang meja, Akram yang biasanya selalu punya seribu kata untuk membalas ucapan orang, kini hanya bisa melongo. Mulutnya sedikit terbuka, matanya menatap sang papa dengan tatapan tidak percaya. "Pa... ini bercanda, kan? Akram masih SMA. Akram masih Ketua OSIS. Dan... sama dia?!" Akram menunjuk Almeera dengan ekspresi horor yang tidak disembunyikan.

"Heh! Lo pikir gue mau sama lo?!" semprot Almeera, melupakan sopan santun di depan orang tua karena syok. "Ma, Pa, Al nggak mau! Al masih mau main band, masih mau kuliah! Lagian, dari semua cowok di dunia ini, kenapa harus si tukang cabut kabel ini sih?!"

"Almeera, jaga bicara kamu," tegur Papa dengan nada rendah yang tegas, membuat Almeera bungkam seketika. Papa memandang Akram. "Akram, Om tahu ini mengejutkan buat kalian. Tapi ini sudah keputusan mutlak dari kedua keluarga. Surat-surat dan semuanya sudah diurus. Pernikahan kalian akan dilangsungkan minggu depan. Secara agama dulu."

"Minggu depan?!" teriak Akram dan Almeera berbarengan. Suara mereka bersahutan, menggema di ruang makan yang mendadak terasa seperti ruang sidang.

Tante Jihan menghela napas, menatap putranya dengan pandangan memohon. "Akram, kesehatan Kakek kamu di Bandung makin menurun. Keinginan terakhir Kakek sebelum operasi besar bulan depan adalah melihat kamu, cucu laki-laki pertamanya, sudah memiliki pasangan hidup yang jelas dari keluarga yang kami percayai. Tolong, Nak... lakukan ini buat Kakek."

Akram tertegun. Kata-kata mamanya menghantam tepat di titik terlemahnya. Kakek adalah orang yang sangat ia hormati. Namun, menikah di usia tujuh belas tahun? Dengan Almeera Azzahra? Cewek galak yang hobi meneriakinya setiap hari di koridor sekolah? Ini adalah definisi dari mimpi buruk yang menjadi nyata.

Almeera memandang Akram, berharap cowok itu akan mengeluarkan argumen-argumen cerdasnya yang biasanya dipakai untuk mendebat guru atau anak-anak OSIS. Tapi, melihat Akram yang hanya diam menunduk dengan rahang mengeras, Almeera tahu... cowok itu kalah telak oleh alasan keluarga. Dan itu berarti, dirinya juga kalah.

"Tapi, Pa... sekolah gimana?" Almeera mencoba mencari celah terakhir. "SMA Bina Bangsa itu ketat banget. Kalau ketahuan ada siswanya yang menikah, kita berdua bisa dikeluarkan secara tidak hormat! Prestasi Akram sebagai Ketua OSIS bakal hancur, dan Al... Al nggak bakal bisa lulus!"

Papa Almeera tersenyum tipis, seolah sudah mengantisipasi pertanyaan itu. "Pernikahan ini akan dirahasiakan dari pihak sekolah. Hanya keluarga inti kita yang tahu. Di sekolah, kalian tetaplah Akram si Ketua OSIS dan Almeera si anak band. Tidak ada yang berubah. Kalian tinggal di rumah masing-masing dulu sampai lulus, baru setelah lulus kalian akan tinggal bersama."

Almeera menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lemas. Dunianya rasanya baru saja runtuh. Menikah rahasia dengan musuh bebuyutannya sendiri. Bagaimana mungkin ia bisa menyembunyikan hal sebesar ini di sekolah, terutama dari Sophia yang memiliki radar gosip setajam elang, dan anak-anak NOISE yang setiap hari bersamanya?

Ia melirik ke arah Akram. Cowok itu kini sedang menatapnya juga. Tidak ada lagi senyum menyebalkan, tidak ada lagi tatapan jail. Yang ada hanyalah sorot mata yang sama-sama frustrasi dan tak berdaya.

Malam itu, di bawah pendar lampu ruang makan yang hangat, sebuah kesepakatan tak tertulis namun mengikat resmi terjadi. Almeera dan Akram, dua kutub magnet yang selalu tolak-menolak, dipaksa untuk menyatu dalam sebuah ikatan suci yang sakral, sekaligus menjadi rahasia paling berbahaya dalam hidup remaja mereka.

Gue nikah... sama Tom (Nama karakter kucing di kartun Tom&Jerry) di sekolah gue? batin Almeera meratapi nasibnya, sementara sup iga di depannya mendadak terasa hambar sama sekali.

Bab 3

Hari Senin biasanya selalu menjadi musuh terbesar bagi siswa SMA Bina Bangsa, tidak terkecuali Almeera. Namun, Senin kali ini terasa jauh lebih mengerikan dari sekadar upacara bendera di bawah terik matahari atau ulangan harian Matematika minat.

Almeera berjalan menyusuri koridor lantai dua dengan langkah gontai, ransel hitamnya menggantung miring di satu bahu. Kantung matanya menghitam, persis seperti panda yang kurang tidur tiga hari. Sepanjang akhir pekan, otaknya tidak berhenti memutar ulang kejadian di ruang makan malam itu.

Menikah. Minggu depan. Dengan Akram.

Tiga frasa itu terus berputar seperti kaset kusut di kepalanya, membuat Almeera nyaris gila.

"Al! Ya ampun, muka lo kenapa kayak zombi belum sarapan gitu, sih?"

Sebuah tepukan kencang di bahu membuat Almeera terkesiap. Sophia Nareswari—sahabatnya sejak kelas sepuluh yang merangkap sebagai lambe turah sekolah—muncul dari belakang. Rambut panjang Sophia dikepang dua rapi, matanya berbinar-binar cerah, sangat kontras dengan aura suram Almeera.

"Kurang tidur," jawab Almeera singkat. Suaranya serak. Ia membuka pintu lokernya yang bernomor 07 dengan kasar, memasukkan beberapa buku paket yang terasa seberat beban hidupnya saat ini.

"Pasti gara-gara lo overthinking aransemen lagu buat pensi, ya?" tebak Sophia sambil bersandar di loker sebelah. Belum sempat Almeera mengiyakan agar urusannya cepat selesai, Sophia sudah memekik tertahan sambil memukul lengan Almeera berulang kali. "Al! Al! Lihat arah jam sembilan! Ya ampun, itu manusia atau dewa Yunani nyasar, sih?!"

Almeera memutar bola matanya malas. Tanpa perlu menoleh pun, dari wangi mint samar yang terbawa angin koridor dan pekikan tertahan siswi-siswi lain, ia sudah tahu siapa yang datang.

Dari ujung koridor, Akram berjalan santai bersama Bastian. Seragam cowok itu seperti biasa, rapi dan pas di badan, lengan kemejanya digulung sebatas siku memperlihatkan urat-urat lengannya yang menonjol. Di lehernya terkalung tali id card OSIS kebanggaannya. Ia menyapa beberapa siswa yang berpapasan dengannya, menebar senyum miring yang entah kenapa membuat separuh populasi perempuan di sekolah ini rela antre jadi pacarnya.

Melihat wajah tanpa dosa itu, amarah Almeera yang tadinya hanya bara kecil kini tersiram bensin. Bisa-bisanya dia senyum secerah itu setelah bikin masa depan gue hancur?! batin Almeera kesal.

Saat jarak mereka semakin dekat, mata Akram tanpa sengaja bersirobok dengan mata cokelat Almeera yang sedang memelototinya garang. Langkah Akram melambat sedetik. Ada kilat keterkejutan di sana, seolah ia juga baru teringat status absurd mereka. Namun, dengan cepat Akram menguasai dirinya. Alih-alih menghindar, cowok itu malah membelokkan langkahnya tepat ke arah loker Almeera.

Bastian yang mengekor di belakangnya mengernyit. "Kram? Ruang OSIS belah sana, woi."

Akram mengabaikan Bastian. Ia berhenti tepat di depan Almeera, jarak mereka hanya tersisa satu langkah. Sophia di sebelah Almeera sudah menahan napas, matanya berbinar-binar melihat Ketos idaman sekolah berdiri sedekat ini.

"Pagi, Al," sapa Akram ramah. Terlalu ramah, sampai-sampai Almeera bisa mendengar nada ejekan di baliknya. Mata hitam Akram menyapu wajah Almeera dari atas ke bawah. "Kusut banget muka lo. Habis jaga lilin semalaman?"

Rahang Almeera mengeras. Ia menutup pintu lokernya dengan bantingan keras. BAM!

"Bukan urusan lo," ketus Almeera, suaranya tajam seperti belati. "Minggir. Udara di sini mendadak beracun."

Bukannya menyingkir, Akram malah mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan satu tangannya di pintu loker Almeera, mengurung cewek itu di antara tubuhnya dan deretan loker besi. Wangi mint dan aroma khas maskulin menguar kuat, membuat Almeera refleks menahan napas. Suasana koridor yang ramai mendadak terasa hening bagi mereka berdua.

Sophia di sebelah mereka sudah mematung dengan mulut sedikit terbuka. Ini adalah momen langka. Akram memang suka menjahili Almeera, tapi biasanya tidak pernah sedekat ini.

"Kusut-kusut begini, nanti kalau dilihat keluarga lo, mereka bisa sedih lho," bisik Akram tepat di telinga Almeera. Suaranya rendah, hanya bisa didengar oleh cewek itu. Ada penekanan aneh pada kata keluarga. "Apalagi bentar lagi kita ada acara penting, kan? Masa lo mau tampil dengan muka zombi begini di depan penghulu—akh!"

Kalimat Akram terputus oleh ringisan tertahan.

Almeera baru saja menginjak sepatu pantofel hitam Akram dengan sepatu ketsnya sekuat tenaga. Mata cewek itu berkilat memperingatkan. Satu kata lagi lo sebut soal nikah di sini, gue bantai lo, isyarat mata Almeera jelas.

Akram menarik napas panjang, berusaha mempertahankan senyumnya meski kakinya berdenyut nyeri. Ia menegakkan tubuhnya, melangkah mundur perlahan.

"Keras kepala banget sih lo jadi cewek," kekeh Akram, sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar normal di telinga orang lain. Ia merapikan kerah seragamnya santai. "Gue cuma ngingetin, jangan sampai acara pensi sekolah hancur gara-gara drummer band-nya sakit tipes."

"Gue. Nggak. Bakal. Sakit." Almeera mendesis, mengeja setiap kata. "Mending lo urusin aja proposal lo itu. Jangan sok peduli sama urusan gue."

"Woy, woy, woy! Ada apa nih pagi-pagi udah panas?"

Sebuah suara nyaring memecah ketegangan. Nino muncul dengan gaya khasnya, merangkul pundak Almeera dari samping dengan santai. Di belakangnya, Baim dan Darren menyusul. Mereka baru saja kembali dari kantin dengan es teh plastik di tangan.

"Biasa, Bos Ketos lagi cari masalah sama primadona kita," celetuk Baim sambil menyeruput es tehnya.

Nino menatap Akram dengan gaya menantang yang konyol. "Kenapa lo, Kram? Mau cabut kabel kita lagi? Sori ya, sekarang kabelnya udah gue gembok."

Akram hanya tersenyum tipis menanggapi anak-anak NOISE. Matanya beralih dari Nino, lalu menatap tangan cowok itu yang bertengger santai di pundak Almeera. Entah kenapa, ada perasaan aneh yang berdesir cepat di dadanya. Perasaan tidak suka yang tidak masuk akal.

Gue kenapa sih? Dia kan cuma musuh gue, batin Akram, menepis cepat perasaan konyol itu. Ia mengalihkan pandangannya kembali ke wajah Almeera.

"Tenang aja, gue sibuk. Nggak ada waktu buat ngurusin band kalian yang berisik itu," kata Akram santai. Ia menepuk bahu Bastian pelan. "Cabut, Bas. Udah mau bel."

Sebelum benar-benar pergi, Akram membalikkan badannya sedikit, menatap Almeera dengan senyum jailnya yang khas. "Oh ya, Al. Jangan lupa cek HP. Ada pesan penting." Setelah mengedipkan sebelah matanya yang sukses membuat Sophia nyaris pingsan, Akram berlalu pergi menyusuri koridor.

Begitu sosok Akram hilang di belokan tangga, Nino langsung mengipasi wajah Almeera dengan sebelah tangannya. "Lo nggak kesurupan kan, Al? Tumben lo nggak ngelempar sepatu ke muka dia?"

"Gue lagi males buang-buang tenaga," kilah Almeera cepat. Ia buru-buru melepaskan rangkulan Nino dan merogoh saku roknya. Jantungnya berdebar tidak enak mengingat ucapan terakhir Akram tadi.

Ponselnya menyala. Ada satu notifikasi pesan masuk dari Mama.

Mama Negara:

Pulang sekolah langsung ke butik Tante Ratna di Sudirman. Jangan kabur. Akram juga nanti nyusul ke sana buat fitting baju pengantin kalian. Mama udah minta izin wali kelas kamu buat pulang cepet.

Mata Almeera terbelalak membaca rentetan kata di layar ponselnya. Fitting baju pengantin?! Hari ini?! Di saat gue ada kumpul rapat band buat pensi?!

Almeera meremas ponselnya kuat-kuat, buku-buku jarinya memutih. Pantas saja tadi Akram tersenyum sangat menyebalkan. Cowok itu pasti sudah membaca pesan dari mamanya lebih dulu.

"Al? Lo kenapa? Muka lo pucet banget," tegur Darren yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Almeera dalam diam. Suara kalem Darren menyentak kesadaran Almeera.

"Eh? N-nggak apa-apa, Ren." Almeera buru-buru memasukkan ponselnya ke saku dengan canggung. Ia memaksakan sebuah tawa hambar. "I-ini... nyokap gue. Kucing tetangga gue melahirkan. Iya, melahirkan! Jadi gue disuruh pulang cepet nanti siang buat... bantu potong pusar kucing."

Nino, Baim, dan Sophia menatap Almeera dengan tatapan kosong yang diisi oleh tanda tanya besar.

"Sejak kapan lo peduli sama pusar kucing, Al?" tanya Sophia curiga.

"S-sejak hari ini!" Almeera langsung berbalik badan, melangkah cepat menuju kelasnya. "Udah ah, gue mau ke kelas! Belnya keburu bunyi!"

Darren menatap punggung Almeera yang menjauh dengan kening berkerut. Sebagai orang yang paling rasional dan peka di antara anak-anak NOISE, instingnya mengatakan ada sesuatu yang salah. Sangat salah. Almeera tidak pernah gugup, dan cewek itu adalah pembohong yang sangat buruk.

Sementara itu, di dalam ruang OSIS yang dingin, Akram duduk di kursi kebesarannya. Matanya menatap kosong ke arah tumpukan proposal di atas meja. Tangannya memegang ponsel yang layarnya menampilkan pesan dari mamanya dengan isi yang persis sama dengan yang diterima Almeera.

Bastian meletakkan setumpuk dokumen baru di depan Akram. "Kram, draf susunan acara pensi nih. Coba lo cek dulu sebelum gue kasih ke kepsek."

Akram tidak merespons. Pikirannya melayang jauh melintasi ruang dan waktu, membayangkan dirinya berdiri di depan cermin butik, memakai jas pengantin, dan di sebelahnya berdiri Almeera dalam balutan kebaya.

Bulu kuduk Akram meremang seketika. Ia mengusap wajahnya kasar, membuang napas panjang.

"Gila," umpat Akram pelan. "Gue beneran bisa gila kalau begini caranya."

Bastian menaikkan sebelah alisnya bingung. "Siapa yang gila? Kepsek gara-gara proposal kita?"

"Bukan." Akram memasukkan ponselnya ke saku celana, lalu berdiri sambil meraih jaket OSIS-nya. "Gue yang gila, Bas. Gue cabut duluan hari ini. Urusin sisanya, ya."

Tanpa menunggu jawaban Bastian yang masih melongo, Akram melangkah keluar ruangan. Di kepalanya kini hanya ada satu misi: bagaimana caranya bertahan hidup di sesi fitting baju pengantin nanti siang tanpa harus mencekik leher calon istrinya sendiri.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!