Indonesia
NovelToon NovelToon

The Dark Lord

Mimpi Sonja

Semak berduri menggores kaki telanjang gadis kecil itu. Namun, gadis itu terus berlari mengikuti wanita paruh baya yang masih menggenggam erat tangannya. Walaupun kelelahan terlihat jelas di wajah mungilnya, dia terus berlari. Mereka masuk lebih jauh ke dalam hutan. Kening gadis kecil itu berkerut bingung, hatinya sedang dipenuhi dengan banyak pertanyaan.

Kenapa ibunya terus saja berlari seperti ini?

Apakah ada yang sedang mengejar mereka?

Karena dilanda rasa penasaran yang sangat besar, gadis itu pun menoleh ke belakang.

Sepi.

Tidak ada siapa pun."Ibu, aku sangat lelah. Bisakah kita berhenti sejenak?" Gadis kecil itu mulai merengek. Dia sudah tidak bisa berkompromi dengan tubuhnya.

Lelah.

Dia juga merasakan perih di kakinya yang sudah dipenuhi dengan banyak goresan.

"Tidak, tidak, Sonja. Kita harus terus berlari." Kemudian wanita itu mengangkat tubuh kecil putrinya ke dalam pelukan.

"Kita akan selamat, Sonja ... Ibu akan menyelamatkanmu. Kita akan selamat."

"Ibuuuuuuuuu..." Gadis itu terbangun dengan napas yang tersengal. Kemudian dia diam sejenak untuk menormalkan deru napasnya.

Mimpi itu lagi.

Sonja bangkit dari ranjangnya dan berjalan dengan lesu menuju meja makan untuk mengambil segelas air, menenggaknya sampai habis. Dia terlihat memejamkan mata seolah berusaha menikmati saat cairan dingin itu masuk dan mengalir di tenggorokannya.

Mimpi itu, kenapa selalu saja datang mengganggu tidurnya? Tapi terkadang, ada kalanya Sonja menginginkan mimpi itu terus ada di tidurnya, karena hanya lewat mimpi dia bisa melihat paras elok sang ibu.

Lalu gadis itu memutuskan untuk kembali menaiki ranjang empuk miliknya. Walaupun, mungkin matanya tidak akan bisa terlelap tapi biarlah. Tubuhnya membutuhkan istirahat, setelah seharian bekerja.

***

Pagi itu cukup sunyi. Mentari pun sepertinya malu untuk keluar dari peraduan. Tetapi gadis mungil itu sudah berada di dalam kafe tempatnya bekerja. Setiap hari dia selalu datang lebih awal dari pada pegawai lainnya.

"Pagi, Sonja," sapa seorang pria muda yang baru saja datang. Pria itu juga salah satu pegawai kafe.

"Pagi, Andrian," jawab Sonja sambil menampakkan senyum manis miliknya.

"Apa kau sudah sarapan?" tanya pria yang bernama Andrian itu, kemudian dia terlihat menghampiri Sonja yang masih sibuk membersihkan meja-meja yang terlihat kotor dan berantakan.

"Sudah." Sonja masih mengulum senyum tipis.

Kafe tempat Sonja bekerja memang selalu ramai pengunjung karena letaknya yang ada di pusat kota. Setiap harinya, gadis cantik itu selalu disibukkan oleh pelanggan yang datang silih berganti. Dia bergerak ke sana kemari tanpa letih. Sonja juga merupakan pegawai kesayangan dari bosnya, karena gadis itu sangat rajin dan tekun. Tidak pernah mengeluh, walaupun kadang bosnya menyuruh lembur dadakan sampai malam. Seperti hari ini, bosnya menyuruh Sonja untuk lembur. Jadi, gadis itu baru bisa pulang ketika malam sudah sangat larut.

Di perjalanan pulang Sonja melewati trotoar yang sudah mulai sepi. Tempat tinggalnya cukup dekat dengan kafe. Jadi, cukup dengan berjalan kaki saja untuk sampai ke rumah kecilnya. Tetapi entah kenapa malam ini udara terasa sangat berbeda. Lebih dingin.

Bulu kuduknya pun terasa meremang. Namun, Sonja terus berjalan walaupun dia merasa sedikit ketakutan. Sesekali dia menengok ke belakang.

Tidak ada orang, sangat sepi. Tapi kenapa dia merasa seperti ada yang mengikutinya? Sonja pun segera mempercepat langkah kakinya.

Sedikit lagi.

Sedikit lagi sampai.

Bruuuukkk...

Tiba-tiba terdengar suara seperti sesuatu yang sangat besar terjatuh. Suara itu berasal dari lorong gelap yang ada di dekat rumahnya. Dengan langkah perlahan Sonja menghampiri lorong. Rasa penasaran yang membuncah mengalahkan ketakutannya. Dia mendekat pada lorong gelap itu. Ketika dia sampai di sana, kedua matanya langsung melebar. Gadis itu melihat seorang wanita muda dengan rambut pendek sebahu dan menggunakan pakaian serba hitam.

Wanita itu terlihat meringis kesakitan dan sebelah tangannya terus memegang bagian dadanya yang berlumuran darah dengan posisi duduk. Terlihat dari ekspresi raut wajahnya wanita itu tampak sedang menahan sakit yang teramat dalam. Walau takut tapi Sonja tetap berusaha untuk mendekat. Dan sepertinya wanita itu baru menyadari kehadiran Sonja.

"Pergi," gumam tajam wanita itu, suaranya terdengar lemah.

"Ka-kau berdarah," Sonja menjawab dengan terbata-bata. Dan dengan menahan ketakutannya, Sonja mencoba untuk duduk di hadapan wanita itu agar bisa melihat luka yang ada di dada wanita itu. "Terlihat seperti luka cakaran?" Sonja membelalak ngeri melihat luka yang begitu parah dengan darah yang terus saja mengalir.

Sesaat Sonja terdiam ketika melihat warna dari darah yang bercecer di tubuh wanita itu.

Darahnya berwarna hitam.

"Menyingkir dari hadapanku!" Kembali suara tajam itu terdengar. Lalu tiba-tiba saja kedua matanya berubah warna menjadi merah, Sonja juga melihat ada sepasang taring di bibir wanita itu.Tidak salah lagi, wanita ini adalah vampir.

Sonja tidak bergeming dari posisinya yang sangat dekat dengan wanita vampir itu, walaupun ketakutan sedang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ini bukan pertama kalinya Sonja melihat dan bertemu dengan vampir. Mahluk yang bagi sebagian orang hanyalah mitos belaka itu, pernah dia jumpai sebelumnya. Dan dia juga sudah sedikit mengerti tentang makhluk buas peminum darah ini. Wanita itu tidak akan mampu untuk melukai Sonja karena dia sedang terluka parah.

"A, aku akan mengobatimu," ucap Sonja tergagap. Gadis mungil itu sangat tahu apa yang dibutuhkan oleh vampir ketika dia sedang lemah.

"Menyingkir kubilang!"Berulang kali wanita itu mengusir dan berusaha membuat Sonja pergi. Tapi Sonja malah terlihat semakin mendekat. Kemudian Sonja mengambil sesuatu dari dalam tas miliknya, sampai akhirnya dia menemukan benda tajam yang ia cari. Lalu Sonja mengiris pucuk jari tangannya yang sontak membuat tetesan darahnya langsung keluar. Dengan segera Sonja memasukkan jarinya ke mulut wanita yang sudah mulai hilang kesadarannya itu.

Perih.

Sangat perih...

Seketika itu juga Sonja merasakan tubuhnya melemas. Perlahan gadis mungil itu ambruk tak sadarkan diri.

Pria Aneh

Gadis mungil yang mengenakan kemeja biru tua berlengan pendek dengan setelan jeans berwarna hitam itu terlihat begitu sibuk. Dia bergerak ke sana kemari melayani setiap pengunjung yang mendatangi kafe.

Kafe itu sudah memiliki banyak pelanggan, jadi selalu ramai. Senyum tipisnya tidak pernah lepas dari bibir Sonja. Semalam dia tidur dengan begitu pulas tanpa dikunjungi mimpi buruk yang biasa hadir. Itu karena semalam ada Arthur, pria yang merupakan kekasihnya. Sonja sangat heran kenapa mimpi itu tidak mendatangi Sonja setiap kali Arthur bersamanya.

Walaupun mereka sudah lama bersama, tapi Sonja selalu menjaga batasannya. Gadis itu tidak akan menyerahkan mahkotanya sebelum ada ikatan pernikahan di antara mereka. Ajaran Bibi Carmen selalu dia ingat. Untungnya Arthur mau mengerti.

“Jangan melamun, kau mau Pak Tua itu ceramah,” terdengar suara pelan serupa bisikan dari belakang sehingga membuat Sonja menoleh.

Gadis itu tersenyum pada Andrian yang juga terlihat sedang sibuk melayani para pengunjung. Pak Tua yang dimaksud Andrian adalah Tedy, atasan mereka. Padahal Tedy belum setua itu, tapi rekan kerjanya selalu saja memanggil Tedy dengan sebutan Pak Tua.

Hari pun sudah mulai sore, Sonja mulai bersiap-siap untuk pulang. Hari ini Tedy tidak menyuruhnya untuk lembur. Bosnya itu berkata, “Ini adalah malam minggu.” Jadi, dia sengaja menyuruh Sonja pulang cepat.

Pengertian sekali bukan.

“Cepatlah keluar. Pria aneh mu itu sudah menunggu,” ujar Andrian yang sedang mencoba menggoda Sonja.

Lagi-lagi Sonja hanya tersenyum tipis, dia sudah tahu siapa yang dimaksud oleh Andrian. Lalu Sonja pun keluar dari kafe dan langsung menghampiri pria yang sedang bersandar dengan memasang ekspresi datar dan dingin khas Arthur. Kekasihnya itu selalu terlihat tampan walaupun tanpa senyum yang menghiasi wajahnya.

Pria yang dijuluki aneh oleh Andrian itu menatap datar ke arah wajah manis Sonja, yang saat ini sedang berjalan pelan untuk menghampirinya. Sonja membalas tatapan datar itu dengan senyum manis. Andrian benar, kekasihnya ini memang pria aneh. Sonja kembali teringat pertemuan pertama

Flashback on

Malam itu ketika Sonja baru saja pulang dari kafe, dia harus lembur dan pulang larut malam, tanpa sengaja, Sonja melihat seorang pria yang tak lain adalah Arthur, sedang mengisap darah seorang gadis yang sontak membuat Sonja langsung berteriak karena melihat pemandangan mengerikan yang ada di hadapannya itu. Karena suara teriakan Sonja, Arthur menghentikan aktivitasnya, lalu dengan cepat pria bertaring itu menghampiri Sonja.

Sonja membelalakkan kedua matanya ketika melihat Arthur yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya dengan bibir yang berlumuran darah.

“Ka-kau meminum darahnya?” tanya Sonja gugup. Wajah manisnya mulai memucat. Pria mengerikan itu hanya diam mengabaikan pertanyaan Sonja. Mata tajamnya terus tertumpu pada wajah ketakutan Sonja. Perlahan gadis itu bergerak mencoba untuk menjauhi Arthur. Namun, ketika baru beberapa langkah, pria itu menarik tangan Sonja dengan kasar berusaha mendekatkan kembali tubuh mungil itu pada tubuhnya. Mendekapnya, erat.

Seketika Sonja memejamkan matanya, dia akan mati, pikirnya, Sonja enggan menatap pria kasar yang sedang memeluk tubuhnya itu. Gadis itu menegang, napasnya seolah terputus. Sonja merasakan kaku di sekujur tubuhnya sehingga ia tidak mampu untuk bergerak apalagi mengelak. Rasanya dia ingin menjerit sekencang-kencangnya.

Dia sangat ketakutan. Butiran bening itu pun akhirnya mengalir dari pelupuk mata membasahi kedua pipi mulusnya, disusul dengan isakan, yang langsung disadari oleh Arthur. Sehingga membuat pria itu melepaskan tubuh Sonja.

Sejenak Arthur terdiam, dengan sorotan tajam yang masih mengunci mata Sonja. Tangan dinginnya terulur mencoba untuk menghapus air mata gadis itu. Lalu beberapa detik kemudian, tangan dingin itu sudah tidak terasa lagi di wajah mungilnya sehingga membuat Sonja membuka matanya dengan perlahan. Dan ketika mata bulat itu terbuka.

Sepi.

Hanya Sonja seorang diri.

Pria lancang itu sudah pergi dengan begitu cepat, sampai Sonja saja tidak menyadarinya sama sekali.

Flashback off

Sejak kejadian malam itu, Arthur selalu datang setiap hari menemui Sonja. Arthur terus mengikuti Sonja ke mana pun dia pergi, sering sekali gadis itu marah dan mengusirnya tapi Arthur tak bergeming. Sampai pada akhirnya Sonja mulai terbiasa dengan keberadaan Arthur, dan entah sejak kapan? Sonja jatuh cinta pada pria dingin yang jarang sekali mengeluarkan suaranya itu. Yang Sonja tahu, saat ini dia begitu mencintai Arthur.

“Apa kau sedang membaca pikiranku? Aku pernah membaca satu buku, tertulis disana kalau vampir mampu membaca pikiran,” gumam Sonja sambil menyentuh wajah kekasihnya. “Kulitmu begitu dingin.” lanjutnya.

Sekarang ini, mereka masih berada di depan kafe tempat Sonja bekerja. Arthur masih terdiam menatap dalam wajah cantik kekasihnya tanpa berniat menjawab pertanyaan Sonja. Lalu Arthur mendekatkan tubuh mungil Sonja pada tubuhnya. “Bukankah sudah kukatakan padamu untuk menjauhi pria itu. Atau kau ingin aku yang akan menjauhkan dia darimu, Sonja?” bisik Arthur.

Sonja tersenyum tipis. Inilah sebabnya, kenapa Sonja selalu dingin pada para pria yang ada di sekitarnya. Karena pria anehnya ini sangat posesif.

“Aku sudah menjauhinya seperti yang kau mau."

“Sonja, aku yakin kau tidak akan suka jika sampai aku marah.”

“Iya baiklah, aku akan berusaha lebih menjauhinya lagi. Apa kau puas?” tegas Sonja, mengakhiri perdebatan kecilnya.

Rahasia Arthur

Semilir angin laut membelai wajah Sonja, yang tengah berbaring santai di atas kap mobil sport hitam milik Arthur. Langit malam dipenuhi taburan bintang, sementara debur ombak yang memecah pantai menjadi satu-satunya suara yang menemani mereka. Udara mulai terasa semakin dingin, tetapi Arthur sama sekali tidak berniat menyalakan mesin mobil atau mengajak pulang.

Sonja memiringkan kepalanya menatap pria di sampingnya. Sejak tadi Arthur hanya diam, menatap hamparan laut yang gelap dengan sorot mata yang sulit ditebak.

"Arthur," panggil Sonja pelan.

"Hmm."

"Ayo kita pulang. Di sini semakin dingin."

Arthur menoleh. Tatapannya yang biasanya dingin mendadak melembut. Tanpa berkata apa-apa, ia meraih tangan Sonja yang membeku lalu menggenggamnya erat. "Masih dingin?"

Sonja tersenyum tipis."Sedikit."

Arthur kemudian menarik tubuh gadis itu hingga bersandar di dadanya. Kedua lengannya melingkar erat, menghalangi angin malam yang terus berembus."Begini?"

Sonja mengangguk kecil. "Jauh lebih hangat."

Sesaat mereka hanya menikmati keheningan. Sonja bisa mendengar detak jantung Arthur yang tenang, membuatnya enggan melepaskan pelukan itu. Namun tiba-tiba Arthur membuka suara."Aku memiliki masalah penting yang harus segera diselesaikan Sonja, sepertinya membutuhkan waktu yang sedikit lama, jadi aku ingin kau menjaga sikapmu selama aku pergi."

Sonja mengernyit. "Masalah? Ada apa Arthur? Masalah apa?" Sonja langsung bersikap waspada.

"Tidak perlu khawatir, ini hanya masalah sepele. Setelah selesai, aku akan langsung menemui mu."

Raut wajah Sonja perlahan sendu."Kau selalu seperti ini, bersikap semaunya sendiri."

Arthur mengusap pelan pipi Sonja yang mulai memerah diterpa angin."Percayalah padaku."

"Aku selalu percaya." Sonja tersenyum, meski matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi aku tetap akan merindukanmu."

Arthur menatap wajah gadis itu lama, seolah ingin menghafal setiap lekuknya."Aku juga." Sebuah kecupan lembut mendarat di kening Sonja.

Keesokan paginya Sonja terbangun oleh sinar matahari yang menyelinap melalui celah gorden. Dengan mata yang masih setengah terpejam, ia meraba sisi ranjang tempat Arthur semalam berbaring.

Kosong.

Seketika kantuknya lenyap."Arthur?"

Tidak ada jawaban.

Sonja bergegas memeriksa setiap sudut flat kecil mereka. Ruang tamu, dapur, balkon, bahkan kamar mandi. Semuanya kosong. Arthur benar-benar telah pergi. Dia mengembuskan napas panjang sambil memeluk tubuhnya sendiri.

Sebenarnya Sonja sudah terbiasa dengan kebiasaan Arthur yang kerap menghilang tanpa kabar lalu kembali seolah tidak pernah terjadi apa pun. Namun kali ini berbeda. Ada sesuatu dalam tatapan Arthur semalam yang membuat hatinya dipenuhi firasat buruk.

Urusan apa yang sebenarnya harus diselesaikan pria itu? Apakah berkaitan dengan keluarganya? Atau masa lalu yang selama ini selalu ia sembunyikan?

Sonja tidak pernah tahu.

Setiap kali ia mencoba menanyakan tentang keluarga Arthur, pria itu selalu memilih diam, seakan ada luka yang tak ingin disentuh siapa pun.

Kini yang bisa Sonja lakukan hanyalah menunggu, berharap Arthur akan menepati janjinya untuk kembali.

***

Rumah itu terlihat begitu besar bahkan tampak seperti istana dengan interior yang sangat indah. Terlihat seorang pria muda sedang melakukan percakapan serius dengan seorang pria yang terlihat sudah menua.

“Apakah Ayah tidak bisa merasakan sedikit saja tanda dari gadis itu?” tanya pria muda itu kepada ayahnya.

Pria tua menggeleng pelan."Kondisiku yang seperti ini tidak akan bisa melacak siapapun. Lagipula, hanya kakakmu yang bisa merasakan tanda keberadaan gadis itu." Napasnya sedikit tersengal. "Tapi kau memiliki tiga Liontin Naga yang bisa mengantarkan mu untuk menemukan gadis itu Alex. Dan sepertinya kita harus cepat bergerak karena bulan purnama akan segera datang." Lanjutnya, dengan ekspresi wajah yang terlihat begitu khawatir.

“Aku akan berusaha menemukan gadis itu sebelum kakak menemukannya,” janji pria muda yang bernama Alex itu.

Alex Fabian Kell, mengemban tugas cukup berat dari ayahnya yang merupakan pemimpin tertinggi Klan. Dia harus menemukan gadis yang diberkati sebelum gadis itu ditemukan oleh kakaknya. Gadis terberkati memiliki darah yang bisa membangunkan kekuatan besar kakaknya, kalau sampai saudaranya meminum darah gadis yang diberkati itu, kekuatan terkutuk yang ada di tubuh kakaknya akan keluar dan saudaranya akan menjadi vampir terkuat.

Masih jelas dalam ingatan, ketika saudara kandungnya itu mengancam akan menghabisi seluruh klan, jika dia berhasil membebaskan kekuatan besar yang bersarang di tubuhnya.

Alex meninggalkan ayahnya dan memasuki aula besar yang dimiliki rumah itu. Dia harus segera bergerak, karena beberapa hari lagi bulan purnama akan muncul.“Bastian. Panggil Elleanor dan Alea. Aku memiliki tugas penting untuk mereka berdua."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!