"Al, minggu depan istrimu mulai tinggal di sini. Kamu nanti jemput istrimu di terminal, ya?" tanya Mahira sembari meletakkan secangkir teh hangat di atas meja ruang tengah. Matanya menatap penuh harap pada putranya.
"Apa?" pekik Albiru, hampir tersedak camilan yang sedang dikunyahnya. Ia menatap ibunya dengan tatapan tak percaya. "Bunda, kenapa dia harus ke sini sih? Kenapa Bunda gak diskusikan dulu sama Al? Pokoknya, Al gak setuju!"
"Albiru!" Nada suara Mahira meninggi, sarat akan teguran.
"Bunda, please!" Albiru mengacak rambut hitamnya frustrasi. Ia bangkit dari sofa, berjalan mondar-mandir di depan ibunya. "Sudah cukup masa depan Al dikorbankan lewat pernikahan konyol setahun lalu itu. Al ini masih SMA, Bun! Masih sekolah! Dan sekarang wanita itu mau datang ke sini? Mau menghancurkan hidup Al di sekolah kalau sampai teman-teman tahu?"
"Astaghfirullah, Albiru! Jaga bicaramu!" Mahira mengusap dadanya yang mendadak sesak. Tatapannya berubah kecewa dan terluka melihat penolakan keras dari putranya. "Ellea itu istrimu. Sah secara agama, sah juga di mata hukum. Neneknya baru saja meninggal seminggu yang lalu, Al. Dia sebatang kara di kampung. Mau di mana lagi dia tinggal kalau bukan di rumah suaminya sendiri?"
Albiru mendengus kasar. Pernikahan via video call satu tahun lalu adalah noda hitam dalam hidupnya yang selalu ingin ia hapus dari ingatan. Saat itu, ia terpaksa mengiyakan demi memenuhi wasiat terakhir sang kakek, ditambah kondisi nenek Ellea yang kala itu sakit keras. Sejak hari itu, Albiru memilih amnesia. Ia tidak pernah menghubungi gadis itu, tidak tahu-menahu kabarnya, dan menolak mencari tahu.
Bagi Albiru, status pernikahan itu hanyalah coretan tak berarti di atas selembar kertas.
"Al gak peduli. Dan Al gak akan pernah sudi menjemputnya," ucap Albiru dingin.
Tepat saat Albiru hendak melangkah pergi, terdengar suara deru motor ninja hitamnya memasuki halaman rumah. Detik berikutnya, pintu depan terbuka, menampilkan sosok pria paruh baya yang tak lain adalah paman Albiru, mengembalikan motor yang kemarin dipinjamnya. Namun, fokus Mahira teralihkan saat menyadari Albiru langsung menyambar kunci motor tersebut dari meja.
Mata Mahira berbinar seketika. Senyum tipis terbit di bibirnya. Ia mengira amarah putranya mereda dan nurani remaja itu akhirnya terketuk.
"Al?" panggil Mahira dengan nada lembut, melangkah mendekat. "Kamu ... mau berubah pikiran, Nak? Kamu mau pergi menjemput Ellea ke terminalkan saat nanti?”
Albiru menghentikan langkahnya di ambang pintu. Tanpa menoleh ke belakang, ia menjawab dengan suara datar yang teramat dingin. "Al mau pergi main ke apartemen Dylan. Al bakal menginap di sana beberapa hari. Jadi, jangan harap Al ada di rumah ini saat wanita itu datang."
Brak!
Pintu depan tertutup dengan dentuman cukup keras, disusul suara raungan mesin motor ninja yang menjauh membelah jalanan. Mahira terpaku di tempatnya berdiri. Harapan kecil yang sempat melambung kini jatuh berkeping-keping.
"Astaghfirullah ... bagaimana bisa anak itu sekeras batu?" gumam Mahira frustrasi. Air matanya mulai menggenang.
Alisa adik perempuan Albiru yang sejak tadi menyimak dari arah dapur hanya bisa mendekat dan mengusap bahu ibunya pelan.
“Bunda, biar saja Kak Biru menolak Kak Ellea, kan masih ada Alisa,” ujarnya polos.
Mahira hanya tersenyum, puterinya yang masih duduk di kelas 1 SMA itu tak mengerti dengan apa yang terjadi.
***
Seminggu berlalu jauh lebih cepat dari yang Albiru harapkan, dan jauh lebih mendebarkan dari yang Ellea bayangkan.
Di sebuah sudut terminal kota yang bising, debu dan asap kendaraan berjelaga di udara. Di tengah hiruk-pikuk manusia yang berlarian mengejar waktu, seorang gadis dengan gamis longgar berwarna hitam dan khimar panjang senada tampak berdiri anggun. Penampilannya begitu kontras dengan lingkungan sekitar. Wajahnya tertutup selembar kain cadar berwarna hitam, hanya menyisakan sepasang mata bulat nan bening dengan bulu mata lentik, memancarkan perpaduan antara ketegaran dan kecemasan yang mendalam.
Ellea meremas kuat tali tas ranselnya yang terasa berat bergelayut di pundak. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya menginjakkan kaki di kota metropolitan yang begitu luas dan asing ini. Di jemari manisnya, sebuah cincin perak sederhana melingkar dengan pas. Cincin yang sama dengan yang ia lihat secara sekilas lewat layar ponsel setahun lalu saat prosesi ijab kabul yang sunyi.
"Nenek ... Ellea sudah sampai di kota tempat suami Ellea tinggal," bisiknya lirih dalam hati, menahan sesak yang tiba-tiba menyerang dadanya akibat rindu pada almarhumah neneknya.
Sesuai petunjuk dan alamat yang dikirimkan oleh ibu mertuanya, Ellea menaiki taksi menuju sebuah kawasan perumahan elite di pusat kota. Sepanjang perjalanan, pandangannya terpaku pada gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Jantungnya berdebar bertalu-talu. Bagaimanakah rupa suaminya sekarang? Apakah pria itu bersedia menerimanya? Ataukah kedatangannya justru akan menjadi benalu yang tidak diinginkan?
Ketika taksi akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang rumah megah berarsitektur modern minimalis, Ellea menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh di dadanya. Begitu ia turun, pintu utama rumah langsung terbuka.
Mahira berlari kecil keluar rumah, menyambutnya dengan sangat hangat.
"Ellea ... Sayang," panggil Mahira dengan suara bergetar.
Wanita paruh baya itu tanpa ragu langsung mendekap tubuh Ellea dengan erat. Air mata Mahira menetes seketika, menyalurkan rasa duka yang mendalam atas kehilangan nenek Ellea, sekaligus rasa bersalah yang teramat sangat atas perlakuan putranya. Ellea membalas pelukan itu, merasa sedikit hangat di tengah keasingan kota ini.
Namun, setelah pelukan terurai, pandangan Ellea secara alami menyapu sekeliling halaman dan rumah yang sunyi. Sepi. Tidak ada tanda-tanda keberadaan seorang pria muda yang seharusnya menyambutnya sebagai seorang suami.
Menyadari arah pandang menantunya, senyum di wajah Mahira mendadak kaku. Ada rasa perih di dadanya karena harus berbohong demi menutupi kelakuan egois putranya yang saat ini sedang asyik melarikan diri di apartemen sepupunya.
"Albiru ... dia sedang ada urusan sekolah yang sangat padat, Nak. Tugas-tugasnya menumpuk karena sudah mau ujian, jadi hari ini belum bisa menyambutmu di rumah," ucap Mahira dengan senyum yang dipaksakan, berusaha meyakinkan.
Ellea terdiam sejenak. Namun, matanya yang bening tidak bisa berbohong bahwa ada setitik kekecewaan dan rasa maklum yang getir di sana. Ia tahu, pernikahan mereka bukanlah pernikahan normal yang didasari cinta. Dari balik cadarnya, Ellea memaksakan sebuah senyuman yang tulus.
"Tidak apa-apa, Tante. Ellea sangat mengerti. Tugas sekolah memang harus diutamakan," jawab Ellea dengan suara lembut dan santun.
Mendengar panggilan itu, Mahira langsung mengerucutkan bibirnya, berpura-pura kesal untuk mencairkan suasana. "Kok panggilnya Tante sih? Kan sudah jadi anak bunda."
Wajah Ellea seketika bersemu merah di balik cadarnya. Ia merasa tersipu sekaligus haru. "B-bunda," ucapnya malu-malu.
"Nah, begitu dong. Panggil Bunda," ujar Mahira, kembali membawa Ellea ke dalam pelukannya dan mengusap punggung gadis itu dengan penuh kasih sayang. "Mulai sekarang, kamu bukan hanya sekadar menantu di keluarga ini, Ellea. Tapi kamu sudah jadi anak kandung bunda sendiri. Rumah ini adalah rumahmu juga."
"Terima kasih, Bunda. Terima kasih banyak sudah mau menerima Ellea yang sebatang kara ini," ucap Ellea terharu, matanya mulai berkaca-kaca.
Sembari menuntun Ellea masuk ke dalam rumah untuk mengantarnya ke kamar, Mahira melirik ke arah luar dengan helaan napas berat. Di dalam hatinya, kejengkelan pada Albiru kembali membubung tinggi.
“Albiru ini ... mau cari wanita seperti apa lagi coba? Ellea ini gadis yang sholehah, santun, cantik matanya, hatinya juga tulus. Kurang apa lagi coba? Awas kamu ya, Al, kalau pulang nanti!” gerutu Mahira dalam hati, bertekad untuk memberi pelajaran pada putranya yang masih kekanak-kanakan itu.
"Ayo, Sayang. Bunda antar ke kamarmu," ujar Mahira hangat sembari menuntun Ellea menaiki anak tangga. "Untuk sementara, kamarmu bersebelahan dulu dengan kamar Albiru, ya? Nanti kalau kalian berdua sudah lulus sekolah, baru deh boleh pindah ke kamar yang sama," goda Mahira dengan kerlingan jenaka.
"Bunda!" cicit Ellea. Sepasang matanya yang bulat tampak bergerak gelisah, menyiratkan rona merah yang kini pasti sudah memenuhi pipinya di balik cadar.
Mahira terkekeh geli melihat respons malu-malu menantunya. Meski sebelumnya ia hanya pernah melihat wajah Ellea sekilas melalui layar ponsel saat video call ijab kabul setahun lalu, Mahira tahu persis bahwa gadis di hadapannya ini memiliki kecantikan alami yang memikat, memancar lurus dari sepasang matanya yang teduh.
Ellea hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Namun, baru saja kaki mereka memijak undakan tangga teratas, seorang gadis remaja tiba-tiba berlari setengah melompat dari arah koridor hingga hampir menabrak Mahira.
"Aaaaaa ... Bunda, tunggu!" seru gadis itu bersemangat. Ia berhenti tepat di hadapan mereka, mencoba mengatur napasnya yang memburu sejenak sebelum beralih menatap Ellea dengan mata berbinar-binar. "Hai, Kakak Ipar!" sapanya riang.
Ellea agak tersentak, lalu menoleh ke arah Mahira dengan tatapan bertanya, seolah meminta konfirmasi mengenai sosok remaja perempuan yang begitu enerjik di depannya ini.
"Dia Alisa, adik kandung suamimu. Masih kelas satu SMA," jelas Mahira lembut, memperkenalkan putrinya.
"Hai, Alisa," sapa Ellea santun, menganggukkan kepalanya sedikit.
"Wah, hai juga, Kakak Ipar! Ih, Bunda kok keterlaluan banget sih, gak kasih tahu Alisa kalau Kak Ellea sudah datang?" protes Alisa sembari mengerucutkan bibirnya ke arah sang ibu.
"Habisnya dari pagi kamu mengurung diri di studio, sibuk melukis terus. Bunda kan jadi gak enak mau mengganggu," balas Mahira menyindir halus kelakuan putrinya yang kalau sudah memegang kuas sering lupa waktu.
Alisa menyengir tanpa dosa. Ia segera melangkah maju, lalu dengan supel menggandeng lengan Ellea, mengambil alih tas jinjing kecil yang dipegang wanita itu. "Bunda, mulai detik ini, biar Kakak Ipar jadi urusan Alisa. Bunda mending ke bawah saja, istirahat atau ngapain gitu," ucap Alisa seraya mengedipkan sebelah matanya secara rahasia.
Mahira yang menangkap gelagat jahil putrinya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Ya sudah, Bunda ke dapur dulu kalau begitu, mau menyiapkan makan malam untuk kita. Tolong bantu Kak Ellea beres-beres ya, Alisa."
"Siap, Kanjeng Ratu!" sahut Alisa penuh semangat.
Setelah sosok Mahira menghilang di balik kelokan tangga menuju lantai bawah, Alisa langsung mengubah arah langkah mereka. Bukannya menuju kamar tamu yang berada di sebelah kanan, ia justru menarik pergelangan tangan Ellea dengan mantap menuju sebuah pintu kayu jati berwarna gelap di ujung kiri koridor.
Ellea yang menyadari arah langkah mereka berbeda dari instruksi mertuanya tadi mulai merasa sangsi. "Eh, Alisa ... kok kita ke kamar yang ini? Bukannya kata Bunda tadi kamarku yang di sebelah sana?"
"Sssttt!" Alisa menempelkan jari telunjuknya di depan bibir, memberi isyarat agar Ellea memelankan suaranya. "Mulai hari ini, Kakak harus tidur di kamar Kak Al!"
Ellea menahan langkahnya, membuat Alisa yang sedang menariknya terpaksa ikut berhenti. "Tapi, Alisa ... Kak Albiru kan sedang tidak ada di rumah. Lagipula, Bunda tadi bilang—"
"Aduh, Kak Ellea sayang, dengerin Alisa dulu," potong remaja itu gemas. Ia memutar tubuh menghadap Ellea, lalu memegang kedua pundak kakak iparnya dengan tatapan serius yang dibuat-buat. "Kak Al itu sengaja kabur ke apartemen Kak Dylan karena gak mau jemput Kakak. Dia itu sok jual mahal! Kalau Kakak malah nurut tidur di kamar sebelah, makin di atas angin lah anak singa itu."
Ellea tertegun. Penjelasan jujur yang keluar dari mulut polos Alisa bagai hantaman telak yang menegaskan spekulasinya sejak di terminal tadi. Jadi benar, suaminya sengaja menghindar? Ada rasa nyeri yang merayap perlahan di sudut hatinya, namun Ellea buru-buru menepis perasaan itu. Ia sadar diri siapa ia di rumah megah ini.
"Alisa, kalau Kak Al memang tidak berkenan, sebaiknya aku tidak usah lancang memasuki ruang pribadinya. Aku tidak ingin membuatnya semakin tidak nyaman," tutur Ellea dengan nada suara yang teramat lembut, tipikal gadis bentukan pesantren yang selalu menjaga adab.
Alisa menghela napas panjang, menatap Ellea dengan pandangan kagum sekaligus gemas. "Kak, justru karena Kak Al egois, kita harus kasih dia kejutan. Biar kamar ini Alisa yang tanggung jawab kalau Kak Al ngamuk nanti. Kamar ini luas banget, punya kamar mandi dalam, dan kasurnya jauh lebih empuk. Anggap saja ini hak Kakak sebagai istri sahnya!" tanpa menunggu persetujuan lagi, Alisa menekan kenop pintu dan mendorongnya terbuka.
Kamarnya sangat maskulin. Didominasi warna abu-abu gelap, putih, dan hitam. Aroma maskulin khas parfum mahal bercampur mint langsung menyergap indra penciuman Ellea begitu melangkah masuk. Kamar itu sangat rapi untuk ukuran seorang remaja laki-laki, dengan sebuah tempat tidur king-size di tengah ruangan, meja belajar dengan komputer berspesifikasi tinggi, serta beberapa poster otomotif yang tertempel rapi di dinding, dan foto-foto saat Al dan sahabat bermain basket.
"Nah, mulai sekarang Kak Ellea istirahat di sini. Kamar mandinya ada di sebelah sana, semua keperluannya sudah lengkap. Alisa taruh tasnya di sini, ya," ujar Alisa riang, meletakkan ransel Ellea di atas sofa kecil di sudut kamar. "Alisa ke bawah dulu membantu Bunda. Kakak santai-santai dulu dengan udara kamar ini, biar bau Kak Al menempel di baju Kakak," godanya meniru ucapan drama yang sering ditontonnya, lalu berlari keluar sebelum Ellea sempat memprotes.
Pintu tertutup rapat, meninggalkan Ellea dalam kesunyian kamar asing tersebut. Gadis itu perlahan melangkah mendekati tempat tidur berseprai abu-abu gelap. Ia duduk di tepian kasur, merasakan keempukannya yang begitu kontras dengan dipan kayu tipis miliknya di kampung dulu.
Tangan Ellea bergerak perlahan membuka simpul khimar dan melepas cadar hitamnya. Begitu kain itu terlepas, tampaklah seraut wajah dengan guratan kecantikan yang sangat alami. Kulitnya putih bersih dengan rona kemerahan alami di pipi, hidungnya bangir kecil, dan bibirnya berwarna merah muda ranum layaknya kelopak mawar yang baru mekar. Keindahan yang selama ini tersembunyi rapat di balik selembar kain.
Ellea merebahkan tubuhnya yang letih setelah menempuh perjalanan belasan jam menggunakan bus antarkota. Sembari menatap langit-langit kamar, bayangan setahun lalu kembali berputar di benaknya. Suara Albiru yang terdengar kaku dan penuh paksaan saat mengucapkan ijab kabul via telepon masih terekam jelas.
“Jadi, kamu selama ini tidak pernah mengabari atau membalas pesanku karena kamu benci pada pernikahan ini, Albiru,” bisik Ellea dalam hati sembari memejamkan mata, membiarkan rasa lelah membawanya masuk ke alam mimpi.
Ellea yang semula berniat memejamkan mata justru didera gelisah. Rasa lelah akibat perjalanan belasan jam seolah menguap begitu saja, digantikan oleh debar asing yang menuntut jawaban. Kamar ini terlalu sunyi, namun di saat yang sama, terlalu bising oleh jejak-jejak keberadaan seorang laki-laki yang berstatus sebagai suaminya.
Alih-alih berbaring, Ellea memilih bangkit. Langkah kakinya yang tanpa alas terasa tenggelam di atas karpet bulu yang tebal. Ia berjalan mendekati meja belajar, tempat beberapa bingkai foto tertata rapi di samping komputer.
"Kak Al yang mana?" tanyanya lirih pada kesunyian.
Ada secuil rasa sesak yang menyelip di dada saat menyadari kenyataan itu. Satu-satunya foto Albiru yang pernah diberikan oleh almarhumah neneknya, satu-satunya modal bagi Ellea untuk mengenali sang suami telah hilang entah ke mana saat ia masih berada di pesantren. Setahun mengarungi pernikahan jarak jauh yang absurd ini, Ellea sama sekali buta akan rupa lelaki yang namanya tertulis di buku nikahnya.
Jari-jemari Ellea bergerak ragu, lalu berhenti pada sebuah bingkai perak. Di dalamnya, terekam potret seorang remaja laki-laki yang sedang tertawa dari samping, memegang bola basket dengan peluh yang membasahi kening. Sinar matahari sore menerpa garis rahangnya yang tegas, menciptakan siluet yang begitu memesona.
"Ini pasti Kak Al ..." Ellea berbisik, mengusap permukaan kaca bingkai tersebut dengan ibu jarinya. "Masya Allah, tampannya suamiku."
Senyum tipis terukir di bibir Ellea, namun senyum itu tak bertahan lama. Setahun menikah, tak ada satu pun pesan atau panggilan telepon yang dikirimkan suaminya. Bahkan, Ellea sendiri tidak yakin apakah Albiru tahu bagaimana rupa wajah di balik cadar yang selalu dipakainya. Pernikahan ini bagi Albiru mungkin tak lebih dari sebuah belenggu yang dipaksakan.
"Apa aku pantas mendampingi Kak Al?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, sarat akan keraguan. Rasa tidak percaya diri perlahan merayap. Ellea sadar betul siapa dirinya, seorang gadis pinggiran bentukan pesantren dengan penampilan serba tertutup dan kuno, sangat kontras dengan lingkungan megah tempat Albiru tumbuh.
Keraguan itu kian menebal saat tatapan Ellea terpaku pada sebuah foto berukuran sedang di sudut meja. Foto seorang gadis remaja berambut panjang bergelombang dengan senyum ceria yang bebas, bergelayut manja di lengan Albiru. Mereka tampak begitu serasi, begitu serasi hingga membuat dada Ellea berdenyut nyeri. Ia yakin, gadis di foto itu memiliki hubungan yang sangat spesial di hati suaminya.
“Apakah kehadiranku hanya akan menjadi perusak kebahagiaanmu, Kak?” batinnya pilu.
**
Tak terasa, sang waktu merangkak cepat membawa malam. Di ruang makan yang megah berlampu kristal, makan malam berlangsung dengan hangat, namun terasa pincang. Kursi di sebelah Ellea kosong melompong. Meja makan itu hanya diisi oleh kedua orang tua Albiru, Mahira dan sang ayah, Rendra, serta Alisa yang tak henti-hentinya mengoceh riang mencoba mencairkan suasana.
Ketidakhadiran Albiru malam ini menjadi penegas yang nyata bagi Ellea. Apa yang dikatakan Alisa sore tadi bukanlah isapan jempol belaka. Suaminya memang sengaja melarikan diri ke apartemen sahabatnya hanya untuk menghindari pertemuan mereka.
"Ellea," panggil suara berat namun berwibawa milik Rendra, ayah Albiru, memecah lamunan Ellea. "Besok papa akan mengurus kepindahan sekolahmu. Semua berkas dari pesantren sudah papa terima."
Ellea sedikit tersentak, lalu mengangguk takzim dengan kepala sedikit tertunduk. "Baik, Papa. Terima kasih banyak atas bantuan Papa dan Bunda."
"Ih, Papa! Kak El nanti satu sekolah kan sama Alisa?" tanya Alisa antusias, menghentikan gerakan sendoknya demi menatap sang ayah dengan mata berbinar.
Rendra tersenyum, lalu melirik istrinya sekilas sebelum kembali menatap menantunya. "Iya, tentu. Tapi bukan cuma satu sekolah. Papa sudah bicara dengan kepala sekolah agar Ellea dimasukkan ke kelas yang sama dengan Albiru. Kebetulan mereka satu angkatan, kan?"
“Apa? Satu kelas?!”
Jantung Ellea serasa mencelat mendengar keputusan sang mertua. Pegangannya pada sendok di tangan mendadak melemas. Menjadi murid baru di sekolah umum Jakarta saja sudah cukup membuat jantungnya berdegup kencang karena membayangkan adaptasi lingkungan yang pasti tidak mudah. Sekarang, ia harus berada di satu ruangan yang sama, setiap hari, dengan suami yang bahkan enggan melihat bayangannya?
"Kenapa, Sayang? Kamu keberatan?" Mahira yang menyadari perubahan ekspresi di sepasang mata teduh menantunya langsung bertanya lembut, menyentuh punggung tangan Ellea dengan penuh kasih.
Ellea buru-buru mengerjapkan mata, mencoba menguasai kegugupan yang mendera. "Eh, m-bukan begitu, Bunda. Ellea hanya sedikit terkejut. Apakah tidak apa-apa jika Ellea satu kelas dengan Kak Al? Ellea takut kehadiran Ellea justru akan mengganggu fokus belajar Kak Al."
Rendra terkekeh pelan, menyeka bibirnya dengan serbet makan sebelum menjawab. "Justru itu tujuan papa, Ellea. Biar anak singa itu ada yang mengawasi. Albiru itu kalau di sekolah sering semaunya sendiri. Kalau ada kamu, papa yakin dia akan jauh lebih sungkan untuk macam-macam."
"Betul banget, Kak!" Alisa menimpali dengan semangat berapi-api. "Biar Kak Al gak bisa tebar pesona lagi ke cewek-cewek centil di sekolah. Pokoknya Kak Ellea tenang saja, Alisa bakal jadi mata-mata pribadi Kakak di sekolah nanti!"
Ellea hanya bisa memaksakan sebuah senyuman di balik cadarnya, walau hatinya kian bergemuruh hebat. Di satu sisi, ia merasa sangat bersyukur karena keluarga ini begitu menerimanya dengan tangan terbuka dan penuh kasih sayang. Namun di sisi lain, bayangan reaksi Albiru besok saat mengetahui bahwa istri rahasianya tiba-tiba muncul di kelas yang sama membuat bulu kuduk Ellea meremang.
“Ya Tuhan, semoga saja Kak Al tidak seperti yang aku pikirkan,” batin Ellea ngeri.
Malam kian larut ketika Ellea kembali ke kamar Albiru. Setelah membersihkan diri dan menunaikan salat Isya, ia duduk di tepi ranjang besar yang terasa terlalu luas untuknya sendiri. Wangi maskulin bercampur mint yang menguar dari seprai abu-abu itu kembali menyapa indra penciumannya, entah mengapa memberikan sedikit rasa tenang di tengah badai kecemasan yang berkecamuk.
Ia mengambil ponsel jadulnya dari dalam tas, menatap layarnya yang sepi. Tidak ada notifikasi apa pun dari suaminya.
“Kak Al, padahal aku sudah berharap bisa mengobrol dengan kamu, kita bisa jadi teman, dan memikirkan masa depan pernikahan kita kedepannya, tapi kenapa aku jadi takut ya? Apa Kak Al, kelak akan menceraikan aku karena Nenek dan Kakek sudah tiada, dan perjodohan itu pun batal? Astaghfirullah, Ellea, kenapa kau berpikir buruk seperti itu.”
Dengan helaan napas panjang, Ellea mematikan lampu kamar, menyisakan lampu tidur temaram di sudut ruangan. Ia merebahkan tubuhnya, menarik selimut tebal hingga sebatas dada. Matanya menatap langit-langit kamar yang gelap, mencoba merangkai doa-doa terbaik demi mengetuk pintu hati sang suami yang masih terkunci rapat.
"Besok, semuanya akan dimulai, Bismillah ...," bisik Ellea pada kegelapan, perlahan membiarkan rasa kantuk menariknya ke dalam ketidaksadaran, bersiap menghadapi badai yang mungkin saja menantinya di esok hari.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!