Indonesia
NovelToon NovelToon

Pembalasan Istri Yang Dianggap Miskin

1

Grizla duduk di kursi sambil menyisir rambut hitamnya yang bergelombang dengan pelan.

Hidupnya kini sangat berbeda jauh dengan kemewahan rahasia yang ia miliki.

Kamar tidur yang ditempatinya saat ini sangat sederhana, sebuah rumah yang dibeli suaminya dengan cicilan.

​Ia sengaja merahasiakan kemewahannya demi sebuah kata, ketulusan.

​"Siska, dua hari lagi adalah anniversary-ku dan Mas Antonio yang ke-3 tahun. Aku ingin menyiapkan kado spesial untuknya dan mengangkatnya menjadi CFO. Selama ini dia menjadi manajer, aku ingin memberinya yang terbaik. Bagaimana menurutmu?" tanya Grizla melalui telepon yang di sampingnya, sembari meletakkan sisirnya.

​"Tapi Nyonya... Anda tahu sendiri bagaimana sikap keluarga suami Anda selama ini. Mereka tidak menyukai Anda. Ibu mertua Anda bahkan menganggap Anda hanya menumpang hidup," jawab Siska di seberang telepon terdengar ragu.

​Siska adalah orang kepercayaan Grizla di perusahaannya. Di mata publik dan media bisnis, Siska lah sang CEO berdarah dingin yang memimpin perusahaan bertangan besi.

Padahal, Siska hanya menjalankan perintah dari balik layar yang di gerakkan langsung oleh Grizla.

Sementara Suaminya, Antonio adalah staf biasa di perusahaannya lalu ia angkat menjadi manager dalam diam. Pertemuan mereka yang tidak sengaja saat liburan membuat mereka saling jatuh cinta.

Ia menyembunyikan identitasnya demi bisa bersama Antonio yang ia hanya ingin dicintai sebagai Grizla, bukan sebagai pemilik tunggal perusahaan. Ia ingin merasakan hidup menjadi wanita biasa, yang jauh dari kemewahan.

​Grizla menghela napas lembut, senyumnya tidak pudar. "Tidak apa-apa, Siska. Asalkan suamiku mencintaiku sepenuh hati, itu sudah lebih dari cukup untukku."

"Nyonya, maaf jika saya lancang, tapi apakah Tuan Antonio benar-benar tidak tahu siapa Anda sebenarnya? Mengangkat seseorang langsung menjadi CFO dari posisi manajer menengah tanpa latar belakang yang kuat di perusahaan kita... itu akan memicu desas-desus, Tuan Antonio juga baru 2 tahun ini naik jabatan menjadi Manager. Ditambah, tabiat ibunya..." Siska tidak melanjutkan ucapan karena khawatir takut menyinggung Grizla.

​"Mas Antonio pria yang baik, Siska. Dia bekerja keras. Gajinya sebagai manajer selama ini habis untuk membayar cicilan rumah ini, biaya makan kami sehari-hari, dan sebagian besar di beri untuk membantu ibunya dan adiknya. Jika aku naikkan dia menjadi CFO di salah satu anak perusahaan kita, gajinya kan jadi jauh lebih besar. Dia tidak perlu sefrustrasi ini setiap akhir bulan," jawab Grizla dengan tulus.

"Nyonya, Anda sangat tulus mencintai Tuan Antonio. Anda bahkan rela membuang kemewahan yang Anda miliki dan menahan sikap ibunya demi bisa bersama dengannya," puji Siska datar.

Grizla tersenyum. "Aku hanya ingin melihat perjuangan pria sejati, yang memperjuangkan orang yang benar-benar ia cintai, aku ingin merasakan menjadi wanita di luar sana, wanita biasa tanpa kemewahan, wanita yang di perjuangkan secara mati-matian."

​Siska menghela napas di ujung telepon. "Baiklah jika begitu, Nyonya. Saya akan segera menyiapkan berkas pengangkatannya dan mengatur agar surat keputusan itu keluar tepat di hari anniversary Anda."

​"Terima kasih, Siska. Aku tahu aku selalu bisa mengandalkanmu."

​"Sama-sama, Nyonya. Sudah tugas saya."

Sambungan telepon terputus. Grizla baru saja hendak berdiri dari kursinya. Tiba-tiba saja pintu kamarnya digebrak dari luar tanpa sopan santun.

​BRAK!

​"Grizla! Sudah jam begini rumah kok belum rapi? Kamu ini istri atau patung pajangan?!"

​Suara kasar itu milik Widya, ibu mertuanya yang datang menginap sejak tiga hari lalu dengan alasan rindu anak lelaki tunggalnya.

Tanpa menunggu izin, Widya langsung melangkah masuk, diikuti oleh Tari, adik kandung Antonio yang sibuk mengunyah camilan.

​Grizla langsung mengubah ekspresi wajahnya, kembali menjadi sosok istri yang penurut dan menyembunyikan tatapan tajamnya. "Maaf, Ibu. Grizla baru selesai bersiap. Ini mau langsung ke dapur."

​Widya berkacak pinggang, matanya melihat kamar tidur yang bersih itu dengan pandangan mencari kesalahan.

 "Bersiap untuk apa? Bersolek? Mau tebar pesona ke siapa kamu? Suamimu itu dari subuh sudah berangkat kerja, cari uang demi sesuap nasi untuk memberi makan mulutmu itu!" katanya dengan ketus.

​"Ibu, Mas Antonio tadi subuh ada rapat darurat di kantornya," jawab Grizla menjelaskan

​Tari, sang adik ipar, ikut campur sambil melihat-lihat meja rias Grizla. "Halah, Mbak Grizla. Bilang aja malas. Lihat nih, kosmetiknya aja murah-murah begini. Malu-maluin kalau jejeran sama temen-temen sosialita Mama. Mas Antonio itu ganteng, kariernya bagus. Harusnya dapet istri minimal setara, atau sesama teman kantor, bukan perempuan nggak jelas yang kerjanya cuma nunggu jatah bulanan."

​Grizla melirik botol-botol kosmetik di mejanya. Itu adalah botol kosmetik murah yang sengaja ia isi dengan krim perawatan khusus senilai ribuan dolar yang diracik dokter pribadinya dari Swiss.

​"Tari, kecantikan tidak selalu diukur dari harga kosmetik, tapi dari hati dan dan perkataan yang sopan," kata Grizla pelan.

​"Heh! Berani kamu menceramahi anak ku?!" bentak Nyonya Widya, jarinya menunjuk tepat di depan wajah Grizla. "Aku di beri tahu sama Antonio kalau dua hari lagi itu ulang tahun pernikahan kalian. Dan aku sudah memutuskan, tidak ada perayaan bodoh. Uang bonus Antonio bulan ini harus dipakai untuk membelikan Tari mobil baru untuk kuliahnya!"

​Grizla menarik napas dalam-dalam. "Tapi Ibu, Mas Antonio sudah berjanji kita akan makan malam berdua untuk anniversary."

​Nyonya Widya tertawa sinis, terdengar sangat meremehkan. "Makan malam berdua? Membuang-buang uang Antonio saja! Lebih baik uangnya untuk masa depan Tari. Kamu itu kalau tidak bisa menghasilkan uang, minimal jangan jadi beban yang merongrong dompet anak ku! Sadar diri, Grizla. Kamu itu cuma beruntung dinikahi Antonio! Bahkan di rumah anakku ini saja kau numpang!"

"Anda salah besar Buk, setelah menikah, walau pun rumah ini di bayar oleh Antonio sendiri, tapi ini adalah termasuk harta gono gini, rumah ini bukan di miliki anak ibu sendiri," kata Grizla dengan tegas.

"Enak aja, anakku sendiri yang capek-capek kerja, malah kau bilang harta bersama? Kau itu cuma numpang aja di rumah ini, makan gratis, kerjaannya cuma ngabisin duit anakku!"

​Setelah meluapkan amarahnya, Nyonya Widya berlalu pergi sambil menghentakkan kaki, diikuti Tari yang sempat menjulurkan lidahnya mengejek Grizla.

"Udah nggak punya penghasilan! Mandul lagi, dasar wanita cacat! Mantan Antonio 10 kali lipat lebih baik dari mu!" makinya dengan ketus sambil melangkah menjauh.

Grizla sudah cek kesuburan, dan ia sangat sehat, sementara kesehatan Antonio mengalami infertilitas (ketidaksuburan). Tapi Grizla tidak mengatakan masalah itu pada, Antonio dan menyembunyikan tes tersebut.

Grizla menatap kepergian mertuanya itu dengan tatapan menyipit. "Hm... Dasar orang tua. Asal Anda tahu, Mas Antonio menjadi manager karena aku, aku bisa saja mengembalikan anak ibu ke stelan pabrik," dengus Grizla pelan.

2

Tepat pukul 17:02, suara deru mobil Antonio terdengar memasuki pekarangan rumah.

Grizla, yang sejak siang menahan gemuruh di dadanya, menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba menyunggingkan senyum terbaiknya, membuang semua rasa dongkol sebelum membuka pintu utama.

Antonio melangkah masuk dengan raut wajah yang tampak keruh dan lelah. Rambutnya sedikit berantakan, dan dasinya sudah dilonggarkan.

"Mas, sudah pulang," sapa Grizla lembut, langsung mendekat untuk menyambut suaminya.

 Ia mengulurkan tangan, berniat mengambil alih beban di tangan sang suami. "Sini aku bawakan tasnya ke kamar. Kamu mau langsung mandi air hangat atau mau makan malam dulu? Aku sudah siapkan lauk kesukaanmu."

Bukannya sambutan hangat atau kecupan di kening yang biasa ia dapatkan, Grizla justru menerima tatapan dingin dari sang suami.

Antonio menahan tas kerjanya, menolak memberikan benda itu kepada Grizla.

"Nggak usah basa-basi, Grizla," ucap Antonio, suaranya terdengar berat dan menekan.

Ia melangkah melewati Grizla begitu saja, membuat istrinya tertegun di ambang pintu.

Grizla membalikkan badan, menatap punggung suaminya dengan dahi berkerut. "Mas? Kamu kenapa? Ada masalah di kantor?"

Antonio menghentikan langkahnya di tengah ruang tamu. Ia berbalik, menatap Grizla dengan mata yang menyipit penuh kekecewaan. "Aku tadi dapat telepon dari Ibu. Ibu menangis, Grizla. Kamu habis memarahi Ibu, ya?!"

Jantung Grizla serasa mencelos. Rasa lelahnya setelah seharian mengurus rumah seketika berubah menjadi rasa sesak di dada. "Mas, tunggu dulu. Aku tidak memarahi Ibu. Tadi itu..."

"Jangan mengelak lagi! Ibu nggak mungkin menangis kalau nggak kamu pojokkan. Kok bisa-bisanya kamu bersikap kurang ajar begitu? Dia itu orang tua, Grizla! Orang tua yang melahirkanku! Kok malah kamu marahin sih? Aku benar-benar nggak suka, ya, kamu bersikap egois dan tidak punya sopan santun begini!"

"Mas, dengarkan aku dulu! Ibu yang tiba-tiba membuka pintu kamar dan marah-marah karena belum beres-beres. Mengatakan aku cuma numpang di sini dan menghabiskan uang mu, lalu membanding-bandingkan aku dengan mantanmu. Aku hanya membela diri, Mas. Aku bicara baik-baik!" kata Grizla mencoba menahan volume suaranya agar tidak memancing keributan.

"Membela diri kamu bilang? Tapi cara kamu menyampaikan itu pasti kasar sampai Ibu merasa sakit hati!" kata Antonio berusaha tidak marah, tapi ia harus memberi pengertian pada istrinya.

"Dengar ya, mau bagaimanapun salahnya Ibuku, harusnya kamu jangan memarahinya! Beri nasihat yang lembut, atau kalau kamu tidak bisa, lebih baik kamu diam saja! Namanya juga orang tua, mereka sudah berumur, pemikirannya berbeda. Kamu yang muda harusnya mengerti dan mengalah!" katanya lagi.

Grizla tersenyum sinis. "Mengalah sampai sejauh mana, Mas? Sampai semua privasi rumah tangga kita diatur oleh Ibumu? Sampai adikmu bebas mengambil barang-barangku tanpa izin?"

"Cukup, Grizla! Jangan melebar ke mana-mana!" sentak Antonio dengan nada yang semakin tinggi, membuat ruangan itu mendadak senyap dan mencekam.

"Patokan ku cuma satu. Kamu boleh marah sama aku, kamu boleh maki-maki aku kalau aku salah. Tapi jangan pernah menyentuh Ibuku dan adikku. Mereka adalah prioritasku. Kalau kamu nggak bisa menghormati keluargaku, artinya kamu juga nggak menghormati aku sebagai suamimu!"

Grizla menatap mata suaminya nanar. "Begitu ya, jadi mereka boleh memaki ku, tapi aku tidak boleh? Terus bagaimana tentang rumah ini, apa ibu mu juga menumpang di sini atau mereka lah sebenarnya tuan rumah dan aku cuma menumpang sehingga aku harus jaga perasaan mereka di banding jaga perasaan istri mu ini?" balas Grizla meminta penjelasan.

Antonio tidak bisa menjawabnya, ia harus memutar kepala agar hal ini tidak berlarut-larut. "Grizla! Aku ini capek baru pulang kerja, dan kamu marah-marah sekarang! Sebagai istri kau harus ngerti aku dong! Nggak ada pengertian sama sekali! Aku capek-capek kerja cari uang buat kebutuhan mu, tapi kau membuatku kesal," kata Antonio membalikkan badan dengan kasar.

Tiba-tiba langkah terhenti. "Oh ya, mulai sekarang ibu dan Tina akan tinggal di sini, perlakuan mereka dengan baik, dan jangan bikin ibu menangis lagi!" kata Anton sambil melangkah menuju kamar.

Grizla berjalan di belakang Antonio. "Mas, harusnya kau minta pendapat ku dulu jika ingin membawa mu tinggal di sini, kenapa mendadak begini."

"Pendapat apa lagi? Ini kan rumah ku, mereka adalah keluargaku, memang sepantasnya mereka tinggal disini, untuk apa aku meminta pendapat mu lagi," kata Antonio tidak terlalu peduli dengan perasaan Grizla.

Grizla menatap punggung suaminya yang masuk ke dalam kamar.

"Begitu ya? Jadi Kau melakukan apa pun tanpa meminta pendapat ku, jika begitu, apa yang aku lakukan tidak perlu lagi meminta pendapat mu. Aku bebas melakukan apa pun yang aku mau tanpa perlu persetujuan mu kan," kata Grizla dengan tatapan tajam di ambang pintu menatap suaminya acuh tak acuh itu.

"Terserah, lakukan sesuka mu!" kata Antonio tanpa peduli.

"Dan satu lagi. Mulai sekarang, uang gaji pokok ku, akan ku berikan pada ibu, dia bilang dia yang akan atur semua keuangannya dan buat tabungku, kau akan ku jatah 300 ribu sebulan untuk membeli keperluan mu," kata Antonio membuka dasinya dan melemparkan di atas meja.

"Apa? 300? Yang benar saja Mas, 300 ribu sebulan dapat apa?" tanya Grizla dengan mata membulat.

"Kitakan belum punya anak, harusnya 300 ribu itu kau bersyukur lah dari pada tidak ku beri sama sekali, istri di luar sana bahkan rela banting tulang untuk bantu suaminya kerja. Lah kamu hanya duduk di rumah, beres-beres rumah doang. Nggak capek-capek amat. Lagian kamu telalu boros," kata Antonio yah langsung masuk masuk ke dalam kamar mandi.

Grizla ternganga tak percaya itu, dari gaji 20 juta beserta bonus 10-15 juta perbulan, dan ia hanya mendapat 300 ribu? Ajaib sekali?

Ia memberikan gaji dan bonus yang begitu besar agar suaminya royal padanya, tapi jika di lihat lama-lama, ini semakin mencekiknya.

Grizla mematung tersenyum getir. "Ck! Perlahan-lahan kau mulai membuang ku Mas. Kalau begitu jangan salahkan aku menjadi istri yang tidak penurut lagi," gumamnya pelan.

Di kamar depan, Tina dan Widya tersenyum mendengar pertengkaran mereka. "Heh! Dasar wanita rendahan, dia ingin melawan ku? Dia itu hanya wanita asing, toh kalau bukan menikah dengan Antonio, dia juga bukan siapa-siapa."

"Betul Bu, sok menguasai, kalau dia di cerai sama kak Antonio, dia paling balik lagi jadi gelandang," cibir Tina.

3

Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, Grizla sengaja bangun lambat yang tidak seperti biasanya.

Ia menoleh ke samping. Di sana, Antonio, suaminya, sedang bersandar pada kepala ranjang.

Ia sedang fokus mengetik sesuatu di atas layar ponsel, dan suaminya terlihat senyum.

Sebuah senyuman geli, tulus, dan penuh binar yang sudah sangat lama tidak pernah Antonio tunjukkan padanya.

"Siapa?" Pertanyaan itu sempat terlintas di kepala Grizla.

Tapi kemudian ia mengembuskan napas pelan, mengusir rasa ingin tahunya. Lagipula, untuk apa peduli? Toh suaminya juga tidak peduli dengan perasaanya.

Grizla menyibak selimut, bersiap untuk turun dari ranjang dan memulai rutinitas paginya.

"Hm... Sayang?" panggil Antonio tiba-tiba. Suaranya terdengar begitu lembut.

Grizla tidak berbalik, ia hanya menatap ujung kakinya. "Ya?"

"Nanti malam adalah anniversary kita yang ketiga tahun. Aku mau bawa kamu makan malam di restoran baru yang ada di pusat kota. Aku sudah reservasi tempat terbaik," kata Antonio mencoba meraih ujung jemari Grizla.

Grizla menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menoleh, menatap wajah suaminya yang tampak begitu meyakinkan.

"Oh, kupikir kau lupa dengan anniversary kita," kata Grizla datar, hampir tanpa ekspresi.

Antonio terkekeh pelan, seolah ucapan Grizla hanyalah candaan pagi hari. Ia berdiri, mendekati Grizla lalu mengusap bahu istrinya dengan lembut. "Mana mungkin aku melupakan hari spesial kita, Sayang. Tiga tahun itu bukan waktu yang sebentar."

"Benarkah?" Grizla menaikkan sebelah alisnya, melirik sekilas ke arah bantal tempat ponsel Antonio disembunyikan. "Kulihat belakangan ini kamu sangat sibuk. Bahkan pagi-pagi sekali sudah ada urusan penting di ponselmu."

Antonio sedikit terkejut, namun dengan cepat ia tersenyum manis. "Hanya urusan pekerjaan kantor, Sayang. Klien dari luar negeri mengirim pesan karena perbedaan zona waktu. Sudahlah, jangan bahas kerjaan dulu."

Antonio menangkup kedua pipi Grizla, menatap langsung ke dalam mata istrinya. "Jadi, berdandanlah dengan cantik nanti malam. Aku ingin melihat istriku menjadi wanita paling memukau di restoran itu."

 "Aku akan memakai gaun apa saja yang ada di lemari," kata Grizla tetap datar

"Pakai gaun hitam yang kubelikan 6 bulan lalu. Kamu akan sangat serasi denganku," kata Antonio sebelum mengecup dahi Grizla sekilas, lalu melangkah menuju kamar mandi.

"6 bulan yang lalu? Ku pikir bakal di beli baju baru, padahal bonus bulan ini sengaja aku naikkan banyak," gumam Grizla menatap punggung suaminya yang menjauh itu.

Grizla pun menyambar ponselnya dan mengirim pesan kepada Siska. "Siska, apa benar klien ada klien dari luar negeri?"

"Saat ini tidak ada Nyonya. Saya dapat konfirmasi dari asisten sekretaris 1, jika pertemuan dengan perusahaan kita satu bulan lagi membahas masalah proyek baru kita. Saat ini tidak ada pertemuan dari luar negeri," balas Siska.

"Ck! Dia mulai bermain rupanya sekarang, baiklah, mari kita bermain mulai sekarang," kata Grizla dingin.

Grizla berdiri mematung di samping ranjang. Matanya tertuju pada ponsel yang mengintip sedikit dari balik bantal Antonio. Layar itu tiba-tiba menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan baru tanpa nama, hanya sebuah emoji senyum.

Grizla tersenyum getir, lalu melangkah pergi tanpa berniat menyentuh ponsel itu sama sekali.

*****

Perayaan Anniversary yang di maksud...

Grizla yang sedang duduk di samping suaminya itu dan menatap kesal ke arah Widya dan Tina yang ternyata juga ikut juga.

Mana baju mereka baru lagi dan warnanya senada dengan Antonio. Sementara hanya di sendiri yang pake baju warna hitam.

Dan lebih membingungkan lagi, ada ada wanita asing di sana. Harusnya anniversary mereka hanya mereka berdua agar bisa berbicara dari hati ke hati, memperbaiki hubungan agar leih erat lagi, tapi kenapa malah jadi makan malam keluarga.

Mana makanan yang di pesan oleh Widya dan Tari banyak lagi. Kira-kira menghabiskan 3 juta, belum lagi jika di tambah minuman, pelayanan dan lain-lain, mungkin habis sekitar 5 juta karena ini adalah restoran mahal.

"Mas, kamu bilang hari ini adalah hari anniversary kita, lantas kenapa ada ibu dan Tari?" tanya Grizla merasa tidak senang.

"Ya, aku nggk bisa meninggal mereka berdua di rumah sementara kita makan enak di sini," kata Antonio.

"Lalu siapa wanita itu?" tanya Grizla menatap wanita yang duduk di samping Tina.

"Ya ampun, nggak sopan banget sih nanya kayak gitu? Tiara ini anak teman Mama, satu kantor sama Kak Antonio. Kak Antonio mengundang kak Tiara mau ngucapin Terima kasih pada Kak Tiara, berkat bantuan Kak Tiara, Kak Antonio naik pangkat jadi manager," kata Tadi menjelaskan. Terihat Tiara malu-malu sambil menundukkan kepalanya.

Grizla terperangah dengan menekuk alisnya. Bukannya dia yang meminta Siska untuk menaikkan Antonio menjadi manager, kenapa bisa berkat Tiara?

"Emang apa jabatan di perusahaan?" tanya Grizla penasaran

"Supervisor dong. Dari pada kamu, juga duduk goyang kaki aja di rumah, ngabisin gaji kakak ku!" kata Tari sambil memutar Bola matanya tidak peduli dengan orang sekitar

Grizla hanya bisa tersenyum getir. "Hanya Supervisor, bisa mengangkat jabatan seseorang naik menjadi manager, ini tidak masuk akal!"

"Masuk akal atau tidaknya kamu apa tahu? Kamu itu kan cuma duduk di rumah aja, mana kamu tahu kerjaan di kantor," sahut Widya Menjulingkan matanya terlihat kesal dan tidak terima jika Tiara di rendahkan.

"Iya, berkat Tiara aku naik mejadi manager, dia yang membuat pekerjaan ku menjadi mudah, membuat aku menjadi salah satu pekerjaan teladan dan di angkat menjadi manager," kata Antonio angkat bicara yang sedari tadi diam. "Jadi hari spesial kita ini aku ingin berterima kasih padanya. Ku harap kamu tidak keberatan ya."

Grizla jadi syok mendengar ucapan Antonio,

Sejak kapan ada orag asing berperan penting dalam pengangkatan suaminya menjadi manager?

Ia tak menduga ada orang yang mengambil keuntungan atas pengangkatan suaminya membuat suaminya merasa berhutang budi. Padahal itu sama sekali tidak ada kaitannya atas pengangkat suaminya menjadi Manager, karena Antonio adalah suaminya bukan karena suaminya seorang karyawan teladan.

"Dan... karena aku merasa berhutang Budi padanya aku selalu memberi tips pekerjaannya setiap bulan," sambung Antonio lagi.

Seketika mata Grizla melebar, jantungnya berdetak kencang mendengar pengakuan dari mulut suaminya. "Kok aku nggak dikasih tahu Mas?" tanya Grizla mengepalkan tangannya di bawah meja berusaha menahan amarah.

"Kalau aku kasih tahu sama kamu, Kamu pasti marah, sementara Tiara berjasa banget dalam pengangkatan aku menjadi manajer," kata, Antonio tanpa merasa bersalah.

Lucu, ini benar-benar lucu. Yang sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan Tiara.

"Tapi... Tiara sangat baik lho, bahkan meminta aku untuk menyembunyikan kebaikannya dari orang lain. Hanya boleh di ketahui aku dan keluargaku saja. Kau harus berterima kasih padanya," timpal Antonio menatap Tiara sambil tersenyum tulus.

Tiba-tiba saja pesan dari Siska masuk. "Nyonya, saya sekarang bersiap-siap untuk menelpon Tuan Antonio, sebagai kejutan naik jabatan sebagai CFO."

Grizla langsung membalasnya. "Tidak! Batalkan pengangkatan jabatan itu! Tapi sekarang aku ada tugas penting untuk mu. Cari tahu karyawan bernama Tiara supervisor di perusahaan kita, cari tahu hingga ke akar-akarnya."

"Oh, apa karyawan ini telah melakukan kesalahan Nyonya?" balas Siska.

"Sangat fatal. Antonio mengatakan jika berkat Tiara, ia naik jabatan menjadi manager, aku tidak ingin orang seperti ini ada di perusahaan. Dan cari orang yang suka memanfaatkan celah lainnya, orang yang suka cari muka dari pada skill harus di musnahkan agar tidak merugikan perusahaan," balas Grizla penuh tekad.

"Baik Nyonya." balas Siska.

"Kamu chat sama siapa?" tanya Antonio menatap Grizla yang mendadak sibuk dengan ponselnya.

"Aku chat teman aku, aku mengundang mereka untuk makan bersama dengan kita," jawab Grizla tersenyum manis.

"Untuk apa kau mengajak mereka, ini kan momen kebersamaan kita," kata Antonio mulai tidak senang

"Kenapa begitu, kau saja mengajak mereka di momen spesial ini, kenapa aku tidak boleh?" kata Grizla sambil mengangkat bahunya.

Ia menatap suaminya dengan senyum sinis. "Baiklah Antonio, pembalasan akan di mulai sekarang, aku sudah terlalu capek menjadi istri yang penurut, saatnya aku bangkit dan menunjukkan siapa au sebenarnya!" katanya dalam hati.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!