Langkah kaki Rahma terasa ringan saat memasuki halaman rumah. Di dalam tasnya, tertumpuk catatan kuliah kedokteran semester empat yang cukup menyita energinya seharian ini. Namun, rasa lelah itu mendadak menguap, digantikan oleh rasa sedih yang menghantam dada ketika ia membuka pintu rumah.
Di ruang tamu, sang ayah yakni Pak Salim sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai. Di sampingnya, Bu Rima menangis histeris sambil mengguncang-guncang tubuh suaminya.
"Bapak! Bapak bangun, Pak! Jangan tinggalin Ibu!" jerit Bu Rima memecah keheningan sore itu.
"Ibu! Ayah kenapa?!" Rahma menjatuhkan tasnya begitu saja. Kepanikan langsung merayapi seluruh tubuhnya. Sebagai mahasiswi kedokteran, teori-teori medis mendadak buyar di kepalanya saat melihat sang ayah yang terbujur kaku.
"Ibu, tenang dulu! Rahma panggil warga!"
Dengan suara bergetar, Rahma berlari keluar rumah, berteriak meminta bantuan tetangga setempat. Beruntung, beberapa warga dengan sigap membantu menggotong Pak Salim ke dalam mobil untuk segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Di koridor rumah sakit yang dingin, waktu terasa berjalan begitu lambat. Rahma dan Bu Rima duduk berdampingan, tak putus-putus memanjatkan doa di depan ruang tindakan. Setelah tangis Bu Rima agak mereda, Rahma memberanikan diri untuk bertanya.
"Bu, sebenarnya kenapa dengan Ayah?" tanya Rahma, menatap ibunya dengan mata yang berkaca-kaca. "Bukankah sakit jantungnya Ayah sudah lama tidak kumat seperti ini? Pasti ada sesuatu yang disembunyikan dari Rahma, kan?"
Bu Rima menghela napas berat, air matanya kembali menetes. Bahunya bergetar hebat, tak sanggup lagi menyembunyikan badai yang sedang menimpa keluarga mereka.
"Neng... maafkan Ibu sama Bapak... hiks..." Bu Rima menggenggam erat tangan putrinya. "Sepertinya... kamu tidak bisa melanjutkan kuliahmu lagi, Neng."
"Apa?!" Rahma terhenyak, menatap sang ibu dengan tatapan tak percaya. Jantungnya mencelos. "Kenapa, Bu? Kenapa Rahma harus berhenti kuliah? Ibu tahu kan ini mimpi Rahma sejak dulu?"
"Ibu tahu, Neng, ibu tahu..."
Rahma mencoba mencerna situasi, mencoba menghubungkan titik-titik masalah yang belakangan ini terasa janggal. "Bu... apa ini ada hubungannya dengan usaha Ayah yang gulung tikar?"
Bu Rima akhirnya mengangguk pasrah.
"Iya, Neng. Bapakmu sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan pabrik tempe kita. Tapi harga kedelai semakin meroket, pabrik terus merugi. Bapak akhirnya terlilit banyak hutang dan tidak bisa menutup kerugian itu lagi. Bapak sampai stres berat dan terpaksa meminta bantuan sahabat lamanya di Jakarta."
Rahma mengernyitkan dahi. "Siapa, Bu? Apakah Pak Wirahadi?"
"Betul, Neng Rahma. Katanya besok Pak Wirahadi sekeluarga mau datang ke sini sekalian menjenguk kita. Sudah lama sekali juga keluarga mereka tidak berkunjung ke Bandung," jelas Bu Rima sambil mengusap sisa air matanya.
Rahma tampak bingung. "Tapi... Salma tidak mengatakan apa-apa padaku, Bu. Salma, anaknya Pak Wirahadi, kan satu kampus denganku. Ibu lupa, ya?"
Bu Rima tersenyum tipis, mencoba menghibur diri di tengah kemalangan mereka. "Siapa bilang ibumu ini lupa? Salma kan ngekos di dekat kampus. Tadinya Ibu sudah suruh dia tinggal di rumah kita saja, tapi dianya gak mau, katanya sungkan. Eh, tapi kamu juga sering menginap di kosannya, kan?"
"Iya, Bu. Kalau Rahma ada tugas kelompok atau pulang kemalaman dari kampus, pasti Rahma menginap di kosannya Salma," jawab Rahma lirih, pikirannya masih berkecamuk memikirkan nasib kuliahnya.
Ceklek.
Pintu ruang tindakan terbuka. Seorang dokter melangkah keluar, membuat Rahma dan Bu Rima langsung bangkit berdiri dengan cemas.
"Dokter, bagaimana keadaan ayah saya?" tanya Rahma cepat.
Dokter itu tersenyum menenangkan. "Ibu, Dek, alhamdulillah Pak Salim mengalami serangan jantung ringan dan kondisinya saat ini sudah berhasil kami selamatkan. Keadaannya berangsur stabil."
Mendengar hal itu, helaan napas lega serentak lolos dari dada Rahma dan Bu Rima. Namun, kalimat dokter selanjutnya kembali membuat mereka harus waspada.
"Hanya saja, tolong diingat ya. Pasien tidak boleh mendengar kabar buruk atau mengalami tekanan psikologis yang bisa membuat jantungnya kumat lagi. Usahakan pasien tetap tenang, buat pikirannya rileks, syukur-syukur kalau selalu dibuat bahagia," pesan Dokter sebelum berpamitan.
Rahma dan Bu Rima saling berpandangan. Di satu sisi mereka sangat lega karena Pak Salim selamat, namun di sisi lain, kenyataan pahit tentang kebangkrutan keluarga kini menjadi rahasia besar yang harus mereka simpan rapat-rapat demi nyawa sang ayah.
*
*
Keesokan harinya, aroma obat-obatan yang khas langsung menyambut keluarga Pak Wirahadi saat mereka melangkah menyusuri koridor rumah sakit. Bersama istrinya dan juga Salma, mereka bergegas menuju ruang rawat inap Pak Salim.
Begitu pintu kamar diketuk dan dibuka, senyum hangat langsung terbit dari wajah Rahma dan Bu Rima, bahkan Pak Salim yang masih terbaring lemah di ranjang tempat tidur pasien tampak sangat sumringah. Kedatangan kerabat baik dari Jakarta itu benar-benar menjadi penyejuk di tengah badai yang sedang mereka hadapi. Bagi mereka, keluarga Pak Wirahadi sudah seperti saudara kandung sendiri.
"Astaga, Salim... Kenapa bisa sampai seperti ini, Sahabatku?" Pak Wirahadi langsung melangkah lebar dan memeluk erat tubuh Pak Salim dengan hati-hati.
"Biasalah, Wir... Namanya juga mesin tua, sesekali minta diservis," gurau Pak Salim lemah, mencoba mencairkan suasana haru di antara mereka.
Setelah bersalaman dan mengobrol ringan sejenak dengan kedua orang tua Salma yang sudah Rahma anggap seperti orang tuanya sendiri, Rahma memberi kode kepada Salma. Ia merasa para orang tua butuh ruang yang lebih leluasa untuk membicarakan hal-hal yang penting, termasuk masalah pabrik yang sedang pelik.
"Ibu, Om, Tante... Rahma sama Salma izin ngobrol di luar sebentar ya, biar Ayah bisa istirahat juga," pamit Rahma sopan, yang langsung diangguki oleh Bu Rima.
Kedua gadis itu kini duduk beriringan di kursi tunggu yang berjejer di koridor depan kamar pasien. Suasana rumah sakit yang agak lengang membuat obrolan mereka terdengar santai.
Salma langsung menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil melipat kedua tangan di atas dada. "Aku paling malas kalau mendengar obrolan Papah sama Mamah di dalam, pasti ujung-ujungnya wejangan lagi!" keluhnya sambil mengerucutkan bibir.
Rahma menoleh lalu menyenggol lengan sahabatnya itu sambil terkekeh.
"Kau itu memang selalu seperti itu, Salma. Paling tidak mau dinasihati, dasar keras kepala!" ejek Rahma.
Salma tidak membantah, ia malah menghembuskan napas panjang, lalu tiba-tiba teringat sesuatu. "Oh iya, Ma. kak Sakti juga nanti mau kesini. Setelah tugas empat tahun di Lebanon, akhirnya Kakak kesayanganku itu pulang juga!"
Mata Rahma berbinar mendengarnya.
"Wah, benar? Pasti seru ya ada kak Sakti!"
"Seru sih, cuma ya gitu..." Salma memasang wajah pasrah.
"Aku tahu," potong Rahma sambil tersenyum penuh arti. "Pasti kalau ada kak Sakti, kau tidak bisa bebas, kan? Kau tahu sendiri Kak Sakti dari dulu orangnya sangat protektif sama kita!"
Mendengar ucapan Rahma, memori masa kecil mereka mendadak berputar di kepala Salma. Sebuah senyuman jahil langsung terukir di wajahnya.
"Eh, kau masih ingat gak, Ma? Waktu aku sekeluarga masih tinggal di Bandung dan kita merupakan salah satu tetangga paling akur dan populer? Waktu itu kau jatuh ke got dekat kandang kambing Pak Haji Soleh, gara-gara kau menaiki sepedaku yang remnya sudah blong!"
Pipi Rahma langsung merona merah karena malu. "Ih, Salma! Kau masih ingat saja sama kejadian memalukan itu!"
"Masih ingatlah! Waktu itu kebetulan Mas Sakti baru pulang sekolah SMU. Kita yang masih bocah ingusan ini cuma bisa menangis di pinggir jalan. Kau menangis karena kakimu terluka, sedangkan aku menangis karena sepeda kesayanganku masuk got!" Salma terkekeh geli.
Seketika, tawa Rahma dan Salma pecah. Mereka tertawa terbahak-bahak di koridor, melupakan sejenak ketegangan yang terjadi sejak kemarin.
"Dan aku masih ingat banget sama perkataan kamu, Ma, pas kamu ditolong dan digendong sama kak Sakti. Kamu bilang gini sambil sesenggukan... 'Kak, hiks... hiks... nanti kalau Rahma sudah gede, Rahma mau jadi pengantinnya Kakak!' Salma menirukan suara tangisan Rahma kecil dengan nada mengejek yang kental.
Mendengar ejekan telak itu, wajah Rahma mendadak panas seperti terbakar.
"Salma! Cukup!"
Sebelum Rahma sempat mencubitnya, Salma sudah lebih dulu bangkit dan berlari menjauh ke arah pintu keluar koridor sambil tertawa puas.
"Salma, awas ya! Kau masih saja mengingat kata-kata konyol itu. Kau sangat menyebalkan!" teriak Rahma tertahan sambil ikut berlari mengejar sahabatnya.
"Kejar aku, Ma! Weeee!" ejek Salma sambil berbalik dan menjulurkan lidahnya jenaka.
Namun, tawa Salma mendadak terhenti saat tubuhnya hampir menabrak seseorang yang baru saja berbelok di ujung koridor. Di saat yang sama, langkah kaki Rahma langsung mengerem mendadak.
Waktu rasanya telah berhenti berputar bagi Rahma. Matanya terpaku, tak berkedip menatap sosok pria yang kini berdiri tegap di hadapan mereka. Pria itu bertubuh atletis dengan dada bidang yang dibalut seragam loreng hijau khas TNI AD. Parasnya begitu tampan, rahangnya tegas, sekilas mirip dengan jajaran aktor laga Korea, namun sorot mata dan garis wajahnya memancarkan ketegasan militer yang nyata.
"ka... kak Sakti?" ucap Rahma lirih, nyaris berbisik, terkesima oleh perubahan drastis sosok kakak asuh masa kecilnya yang kini telah menjelma menjadi seorang perwira yang gagah.
Bersambung...
Sakti menghentikan langkahnya tepat di depan kedua gadis itu. Tatapannya yang semula sedingin es perlahan mencair, digantikan oleh kilatan geli saat menatap Rahma. Bayangan masa kecil sekilas melintas di benak sang perwira, bayangan seorang anak perempuan bertubuh mungil dengan rambut di kuncir dua, yang menangis tersedu-sedu sambil bersembunyi di balik punggungnya.
Salma yang menyadari perubahan atmosfir itu langsung menyenggol lengan kakaknya. "
Sakti mendengus pelan, seulas senyum tipis terukir di sudut bibirnya. "Masihlah. Kalian itu duo bocil paling rese. Sudah cengeng... keras kepala lagi," jawab Sakti dengan suaranya yang mantap.
Seketika Rahma langsung menundukkan kepalanya, menyembunyikan pipinya yang kembali merona merah karena malu. Ucapan Sakti barusan seolah menampar balik ingatan konyol yang baru saja ia tertawakan bersama Salma.
"Itu kan dulu, kak Sakti. Sekarang aku sudah jadi anak baik-baik. Iya kan, Salma?" bela Rahma pada dirinya sendiri, sambil menahan tawa agar tidak terlihat makin salah tingkah.
"Betul sekali, Rahma! Dia sekarang calon dokter, Kak," sahut Salma membela sahabatnya, lalu beralih menatap sang kakak dengan heran. "Eh, tapi aku pikir Kak Sakti masih di tempat transit luar negeri, kok sudah sampai Indo aja? Kapan sampainya, Kak?"
"Tadi malam kakak sudah sampai di bandara dan langsung meluncur ke Bandung karena ada urusan penugasan di Kodam III/Siliwangi. Kebetulan kakak juga mendapatkan kabar kalau Pak Salim masuk rumah sakit," jelas Sakti, lalu tatapannya beralih sepenuhnya pada Rahma dengan raut tulus. "Memangnya ayahmu sakit apa, Rahma?"
"Serangan jantung ringan, Kak. Tapi alhamdulillah masih bisa diselamatkan dan sekarang kondisinya sudah stabil," jawab Rahma, perlahan mulai bisa mengontrol rasa gugupnya.
Sementara itu, di dalam kamar rawat inap, suasana berubah menjadi lebih emosional. Di atas brankar, Pak Salim dengan suara parau mulai menceritakan badai yang menimpa keluarganya, termasuk tentang pabrik tempenya yang gulung tikar akibat meroketnya harga kedelai.
Mendengar penuturan jujur sang sahabat, Pak Wirahadi merasa sangat iba. Hatinya tergerak untuk mengulurkan bantuan finansial, namun Pak Salim dengan halus menolaknya karena tidak ingin merepotkan sahabat baiknya itu.
Pak Wirahadi menghela napas panjang, memikirkan dampak dari masalah ini. "Lantas... bagaimana dengan kuliahnya Rahma, Salim? Dia baru semester empat, kan? Sama seperti Salma, putriku."
Pak Salim menatap langit-langit kamar dengan pandangan sendu. "Untuk sementara waktu, mungkin Rahma akan cuti kuliah dulu, Wir. Dia harus mencari pekerjaan untuk membantu ekonomi kami."
"Jangan, Salim! Kasihan Rahma," potong Pak Wirahadi cepat, tidak setuju dengan keputusan itu. "Dia itu anak yang pintar, calon dokter yang hebat. Dan... sebenarnya, saya ingin sekali memiliki seorang menantu dokter," ucap Pak Wirahadi tanpa berbasa-basi lagi.
Pak Salim mengernyitkan dahinya, bingung dengan arah pembicaraan sahabatnya. "Maksudnya bagaimana, Wira?"
Pak Wirahadi memajukan posisi duduknya, menatap Pak Salim dengan kesungguhan yang mendalam. "Jadi begini, Salim. Kita kan sudah lama berteman, bahkan sudah seperti saudara sendiri. Saya memiliki niatan untuk berbesanan denganmu. Kebetulan putraku, si Sakti, baru saja pulang tugas dari Lebanon setelah empat tahun di sana."
Pak Wirahadi menjeda kalimatnya sejenak, melirik istrinya yang mengangguk setuju. "Kau tahu sendiri, Syila putri keduaku baru menikah setahun yang lalu. Dia sudah melangkahi kakaknya. Saya tidak mau sampai nanti Salma juga melangkahi kakaknya lagi. Yang ada nanti Sakti, putra tunggal saya itu, malah tidak mau menikah sama sekali karena terlalu sibuk dengan dunianya."
"Jadi, bagaimana kalau kita jodohkan saja Rahma dengan Sakti? Soal biaya kuliah Rahma, kau tidak usah khawatir, Salim. Dia akan terus melanjutkan pendidikannya sampai menjadi dokter spesialis. Biar itu menjadi tanggung jawab keluarga kami," lanjut Pak Wirahadi tegas namun penuh ketulusan.
Mendengar tawaran yang begitu besar dan tak terduga, Pak Salim terdiam seribu bahasa. Ia melirik ke arah istrinya yang duduk di sisi ranjang tempat tidur. "Bagaimana, Bu? Apakah Ibu setuju?"
Bu Rima mengusap air mata di sudut matanya, lalu mengangguk pelan. "Kalau Ibu sih gimana baiknya saja, Pak. Bukankah Nak Sakti itu orang yang baik, tegas, dan bertanggung jawab? Daripada nanti Rahma mendapatkan laki-laki yang kurang baik di luar sana, alangkah baiknya kalau Rahma menikah dengan Nak Sakti yang sudah kita kenal sejak kecil."
Pak Wirahadi dan istrinya pun tersenyum lega. Harapan mereka kini bertumpu pada restu kedua orang tua ini. "Baiklah kalau begitu, Wira... saya setuju Rahma dijodohkan dengan Sakti," ucap Pak Salim akhirnya, memantapkan hati demi masa depan putrinya dan juga ketenangan kesehatannya.
Ceklek.
Tepat setelah kalimat persetujuan itu terucap, pintu kamar rawat inap terbuka. Rahma, Sakti, dan Salma melangkah masuk secara bersamaan ke dalam ruangan. Namun, langkah ketiganya langsung terhenti kaku di dekat pintu.
Kalimat terakhir yang diucapkan Pak Salim barusan menggema dengan sangat jelas di telinga mereka. Ketiganya terkejut setengah mati dengan mata membelalak tak percaya. Terutama Rahma dan Sakti, yang seketika saling pandang dengan tatapan yang sulit diartikan. Perjodohan? Antara sang Komandan kaku dan gadis bau kencur?
Sakti dan Rahma buru-buru melangkah masuk ke dalam kamar rawat inap, memotong jarak di antara mereka dan para orang tua yang masih berkumpul di sana. Kebetulan jam besuk masih berlangsung, sehingga suasana di dalam ruangan terasa begitu intens. Sakti, dengan aura militernya yang kuat, menatap kedua orang tuanya dengan kening berkerut dalam.
"Pah, Mah... apa maksud dari perkataan kalian ini?" tanya Sakti dengan suaranya yang terdengar tegas, menuntut penjelasan.
Pak Wirahadi sama sekali tidak gentar dengan nada bicara putranya. Dengan santai, pria paruh baya itu memperbaiki posisi duduknya lalu menjawab, "Kami berencana untuk menjodohkan kamu dengan Rahma."
Mendengar informasi yang begitu gamblang, Rahma spontan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Rasa tidak percaya dan panik bercampur aduk menjadi satu. Ia langsung beralih menatap ranjang pasien.
"Ayah... ini semua tidak benar, kan?" tanya Rahma dengan suaranya yang bergetar, berharap sang ayah akan menggelengkan kepalanya.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Pak Salim menyunggingkan senyum hangat yang sudah lama tidak Rahma lihat. Wajah sang ayah mendadak terlihat ceria dan penuh harapan. "Ini benar, Nak. Mau ya, dijodohkan dengan Nak Sakti?"
Melihat binar bahagia di mata ayahnya yang sedang sakit, Rahma seketika terkunci. Ia tak berani menggeleng ataupun menjawab tidak, karena takut penolakannya akan membuat kondisi jantung sang ayah kembali memburuk. Keadaan yang sama juga menimpa Sakti. Sang Komandan yang biasanya punya seribu satu argumen tegas, kini hanya bisa terdiam kaku, tak mampu membantah demi menghormati kesehatan sahabat karib ayahnya itu.
Di tengah keheningan yang canggung dan menegangkan itu, Salma justru tersenyum jahil. Alih-alih ikut tegang, gadis itu malah sengaja memanfaatkan situasi untuk menggoda Rahma dan Sakti.
"Wah, kenapa baru kepikiran sekarang, ya? Kak Sakti dijodohkan dengan Rahma... Wah, kalau begitu, nanti Rahma bakal jadi kakak iparku, dong!" seru Salma dengan nada heboh yang dibuat-buat.
Rahma yang berdiri tepat di samping Salma langsung melotot. Tanpa aba-aba, jemarinya bergerak cepat mencubit lengan sahabatnya itu dengan gemas.
"Aw! Rahma, sakit tahu!" ringis Salma sambil mengusap lengannya, namun senyum usilnya sama sekali tidak pudar. Ia justru semakin gencar menggoda. "Oh iya, bukankah waktu kecil kau pernah bilang ingin menjadi pengantinnya Kak Sakti? Bukan begitu, Rahma?"
Perkataan Salma yang semakin menjadi-jadi itu seketika membuat suasana ruangan terasa makin panas. Wajah Rahma memerah sempurna, matanya bergerak panik ke segala arah demi menghindari tatapan mata Sakti.
"Salma, kau ini ngomong apa sih?" tegur Sakti, mencoba melerai meski ia sendiri mulai merasa kikuk dan salah tingkah saat menatap Rahma yang sudah matang di depannya.
"Beneran, Kak! Andai saja kejadian waktu masuk got itu bisa aku rekam. Tapi syukurlah, Tuhan sepertinya langsung mengabulkan permintaanmu yang dulu itu, Rahma!" lanjut Salma tanpa dosa, tertawa puas.
Rahma yang sudah berada di puncak rasa malunya langsung menutup kedua telinganya dengan rapat. Rasanya saat ini ia ingin sekali menenggelamkan wajahnya ke dalam ember agar terbebas dari tatapan semua orang di dalam ruangan. Sementara itu, Sakti hanya bisa menghembuskan napas panjang dan berat. Sang perwira hanya bisa pasrah, menyadari bahwa pelarian dari perjodohan mendadak ini sepertinya tidak akan berjalan mudah.
Bersambung...
Setelah jam besuk selesai dan suasana kamar rawat inap sedikit lebih tenang, Sakti tidak bisa lagi menahan rasa penasaran yang bergejolak di dadanya. Pria itu melangkah mendekati Pak Wirahadi dengan tatapan yang menuntut jawaban serius.
"Pah, Sakti minta penjelasan. Soal perjodohan tadi, Papah serius atau cuma bercanda di depan Pak Salim?" tanya Sakti dengan suara rendah namun penuh penekanan.
Pak Wirahadi menatap putranya dengan helaan napas mantap. "Papah serius, Sakti. Papah tidak pernah main-main kalau menyangkut masa depanmu dan juga niat baik untuk menolong keluarga Salim."
Sakti mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya. Logika militernya menolak keras ide ini. Ia ingin protes, ingin menolak mentah-mentah perjodohan sepihak ini detik itu juga. Namun, saat tatapannya beralih pada Pak Salim yang terbaring lemah dengan selang oksigen, lidah Sakti mendadak kelu. Kalimat penolakan yang sudah di ujung lidah mendadak di telan kembali. Ia tahu, egois sekarang bisa berakibat fatal bagi kesehatan sahabat ayahnya. Akhirnya, Sakti memilih diam, diam yang bukan berarti ia setuju, melainkan diam karena menghormati situasi.
Di sudut lain, Rahma yang sejak tadi meremas jemarinya panik, perlahan mendekat ke arah sang ibu. Ia berbisik lirih, menyuarakan isi hatinya yang berkecamuk.
"Ibu... keputusan ini mendadak sekali," bisik Rahma dengan mata berkaca-kaca. "Rahma belum ada keinginan untuk menikah, Bu. Rahma masih ingin fokus kuliah."
Mendengar bisikan sang anak, Pak Wirahadi yang rupanya memiliki pendengaran tajam langsung menyahut dengan lembut. "Rahma, banyak kok perempuan yang sudah menikah tapi tetap bisa melanjutkan kuliah. Pernikahan ini justru dirancang agar kamu bisa tetap menggapai mimpimu tanpa perlu mencemaskan biaya lagi. Mau ya, Neng, menikah dengan anaknya Om?" ucap Pak Wirahadi dengan nada yang hampir menyerupai permohonan seorang ayah.
Rahma semakin tersudut. Ditopang rasa bakti pada orang tua dan impian besarnya yang hampir kandas, ia tidak tahu harus menjawab apa.
Melihat situasi yang semakin canggung dan menekan bagi mereka berdua, Sakti akhirnya mengambil tindakan. Ia melangkah tegap ke arah Rahma. "Pah, Om, Tante... Sakti minta izin membawa Rahma keluar sebentar. Ada hal yang perlu kami bahas berdua."
Belum sempat para orang tua menjawab, Salma yang duduk di sofa langsung menyahut dengan senyum menyebalkan. "Cie... cie, Kak Sakti ngapain sih bawa Rahma keluar? Ngomong di sini memangnya tidak bisa?" goda Salma, sengaja memanaskan suasana.
Sakti menoleh lambat, memberikan tatapan tajam khas seorang komandan yang sedang memberi peringatan. "Sssttt... Diam kau, Salma!" balas Sakti geram.
Tanpa menunggu balasan adiknya, Sakti langsung berbalik dan menggenggam erat pergelangan tangan Rahma. Sentuhan yang tegas namun tidak menyakiti itu membuat Rahma sentak terkejut dan terpaksa mengikuti langkah lebar Sakti yang membawanya keluar dari kamar pasien.
Melihat punggung kedua muda-mudi itu menghilang di balik pintu, Pak Wirahadi langsung menoleh ke arah ranjang pasien dengan senyum lebar yang penuh kemenangan.
"Tuh, lihat Salim. Putraku sepertinya setuju dengan perjodohan ini!" seloroh Pak Wirahadi bangga.
Pak Salim terkekeh lemah, gurat pucat di wajahnya mendadak sirna digantikan rona bahagia. "Sepertinya begitu, Wira. Kenapa tidak dari dulu saja mereka berdua kita jodohkan, ya?" balasnya ikut lega.
*
*
Sakti membawa Rahma terus melangkah hingga mereka tiba di taman belakang rumah sakit yang suasananya jauh lebih sepi. Pria itu akhirnya menghentikan langkahnya yang tegap, menyisakan napas yang sedikit terengah akibat emosi yang berkecamuk di dadanya. Begitu juga dengan Rahma, gadis itu terengah-engah, merasa kelelahan karena harus setengah berlari demi mengikuti langkah kaki Sakti yang begitu cepat dan lebar.
Setelah detak jantungnya sedikit normal, Rahma menunduk, menatap pergelangan tangannya yang sedari tadi masih digenggam kuat oleh perwira di hadapannya itu.
"Kak... bisa lepaskan tanganku?" pinta Rahma dengan nada memohon yang halus.
Sakti tersentak. Ia baru sadar jika sejak keluar dari kamar rawat inap, jemarinya terus mengunci pergelangan tangan Rahma. Dengan cepat, ia menarik tangannya kembali.
"Oh... sorry, Rahma. Tadi aku sedikit panik," ucap Sakti, mengusap tengkuknya dengan canggung. Rasa tegasnya mendadak luntur sesaat.
"Iya, Kak, tidak apa-apa," sahut Rahma sambil mengusap bekas genggaman di pergelangan tangannya. "Lantas... kenapa Kak Sakti membawaku ke sini?"
Sakti tidak langsung menjawab. Ia menghembuskan napas panjang, lalu melangkah ke arah bangku taman dan duduk di sana untuk menenangkan diri. Wajahnya tampak frustrasi.
"Rahma, jujur saja padaku. Apakah kau sudah tahu soal rencana perjodohan ini sebelumnya?" tanya Sakti, menatap Rahma lurus-lurus.
Rahma menggelengkan kepalanya dengan cepat, meyakinkan pria itu. "Aku sama sekali tidak tahu, Kak. Sumpah, aku juga baru tahunya pas di dalam kamar barusan."
Lagi-lagi Sakti menghela napas kasar, kali ini ada nada kesal yang kentara dari caranya membuang napas. "Kenapa mereka seenaknya menjodohkan kita tanpa memberikan kesempatan kepada kita untuk menerima atau menolaknya?" gumamnya tak habis pikir.
Melihat gundah di wajah sang tentara, Rahma perlahan melangkah mendekat lalu ikut duduk di sampingnya Sakti. Jarak mereka kini mengikis.
"Kak, kalau memang Kak Sakti tidak setuju, sebaiknya hari ini juga kita tolak perjodohan ini bersama-sama. Bagaimana, Kak?" ucap Rahma mencoba memberikan solusi yang menurutnya paling adil.
Sakti menggeleng lemah, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Tidak bisa, Rahma. Ayahku itu orangnya begitu keras kepala. Keputusannya susah sekali dibantah kalau sudah menyangkut prinsip."
"Lantas bagaimana ini, Kak?" tanya Rahma mulai bingung.
Sakti terdiam sejenak, menimbang-nimbang sesuatu di dalam kepalanya sebelum akhirnya menoleh ke arah Rahma dengan tatapan penuh harap. "Bagaimana kalau kau yang menolaknya, Rahma? Aku yakin, jika kamu sebagai pihak perempuan yang menolak perjodohan ini, pasti Papah akan memikirkan ulang dan membatalkannya."
Mendengar permintaan itu, Rahma sedikit tersentak. Ada guratan kekecewaan yang mendadak melintas di wajahnya, meski ia sendiri tidak tahu mengapa hatinya harus merasa kecewa. Ego gadisnya sedikit terusik mendengar penolakan yang begitu nyata dari Sakti. Namun, mengingat kondisi ekonomi keluarganya dan masa depan kuliahnya yang rumit, Rahma mencoba menahan perasaannya.
"Nanti... Rahma coba ya, Kak," jawab Rahma lirih, memaksakan sebuah senyuman tipis. "Semoga Ayah dan Om Wira mau membatalkan perjodohan kita."
Mendengar kesediaan Rahma, seulas senyum lega terbit di wajah kaku Sakti. Tanpa sadar, pria itu memutar badannya dan menggenggam kedua bahu Rahma dengan erat, menyalurkan rasa terima kasihnya.
"Terima kasih, Rahma. Aku... aku memang belum siap untuk menikah. Hatiku... hatiku masih milik seseorang, dan sampai sekarang aku belum bisa melupakannya," ucap Sakti dengan jujur, tatapannya menerawang jauh menembus masa lalu.
Deg!
Seketika Rahma diam terpaku. Genggaman hangat di bahunya mendadak terasa begitu dingin. Kalimat Sakti barusan berputar-putar di kepalanya seperti sebuah kaset yang rusak, menghujam langsung ke ulu hatinya.
'Itukah... itukah alasan utama Kak Sakti menolak perjodohan ini? Karena masih ada wanita lain di hatinya?' batin Rahma kelu.
Ada rasa sesak yang tiba-tiba merayap di dada mahasiswi kedokteran itu, menyisakan keheningan yang mendalam di antara mereka di bawah rindangnya pohon taman rumah sakit.
Bersambung...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!