Indonesia
NovelToon NovelToon

Istri Cadangan Sang Mayor

Bab 1. Operasi Penyelamatan Got

Bismillah

🤗🤗🤗

"Pegangan yang kencang, Rafka! Kita akan menembus kecepatan cahaya!"

"Tante Kei, Rafka takut! Sepedanya oleng!"

"Tenang! Kapten Keisha tidak pernah gagal—eh, eh, Rafka! Remnya blong! Remnya bloooong!"

Gubraaaak!

Plung!

Satu sepeda jengki berwarna merah muda sukses mendarat dengan posisi roda berputar di udara. Di bawahnya, dua manusia telentang pasrah di dalam saluran air sedalam setengah meter yang untungnya sedang kering, hanya menyisakan sedikit lumpur hitam di dasarnya.

"Rafka? Kamu masih hidup, Nak?" Keisha meringis, memegangi pinggangnya yang terasa encok. Rambutnya yang semula dikuncir kuda sekarang sudah ketempelan daun kering.

Dari balik tumpukan stang sepeda, bocah berusia lima tahun itu bangkit dengan pipi yang coreng-moreng hitam. Bukannya menangis, Rafka malah menunjuk wajah Keisha lalu tertawa cekikikan. "Tante Kei kayak monster rawa! Hahaha!"

"Heh, bocil! Kamu juga mirip lele got, ya!" Keisha ikut tertawa, melupakan rasa perih di lututnya yang mulai berdarah. "Ayo bangun, sebelum negara api menyerang."

Baru saja Keisha hendak menarik lengan keponakannya, sebuah bayangan besar tiba-tiba merayap di atas mereka, menghalangi cahaya matahari sore. Aroma parfum maskulin yang sangat akrab—campuran wangi sabun dan minyak rambut khas militer—menyengat indra penciuman Keisha.

Keisha mendongak. Jantungnya mendadak copot.

Di atas bibir got, berdiri seorang pria tegap dengan seragam dinas lapangan (PDL) TNI AD lengkap dengan baret hijaunya. Wajahnya yang tegas tampak mengeras, rahangnya mengetat, dan matanya yang tajam menatap lurus ke arah mereka berdua.

"Kak Satria?" cicit Keisha.

"Papa!" Rafka bersorak, langsung merentangkan kedua tangan yang penuh lumpur.

Mayor Satria Pramudya tidak membuang waktu. Pria berusia 33 tahun itu langsung melompat turun ke dalam got tanpa memedulikan sepatu larasnya yang mengilap akan kotor. Dengan satu gerakan tangkas, dia menyambar Rafka ke dalam pitingan lengannya, lalu sebelah tangan lainnya mencengkeram lengan Keisha, menarik gadis itu berdiri dalam sekali sentak.

"Naik," perintah Satria pendek. Suaranya berat, dingin, dan tidak menerima bantahan.

Begitu mereka bertiga sudah berada di atas trotoar, Satria langsung memeriksa tubuh anaknya dengan saksama. "Ada yang sakit, Rafka?"

"Lutut Rafka perih, Pa. Tadi Tante Kei bawanya ngebut banget kayak pembalap!" adu Rafka sambil menunjuk Keisha.

"Heh! Enak aja!" Keisha langsung protes sambil membersihkan sisa tanah di bajunya. "Kan kamu yang tadi minta nambah kecepatan! Katanya mau terbang kayak Iron Man! Tante cuma menuruti permintaan konsumen, ya!"

"Tapi kan Rafka enggak menyuruh Tante Kei menabrak tiang listrik sampai kita nyusruk!" balas bocah itu tak kalah sengit, berkacak pinggang meniru gaya neneknya kalau lagi marah.

"Itu karena rem sepedanya mendadak mogok kerja! Salahin sepedanya, jangan pilotnya!" Keisha membela diri, wajahnya yang coreng-moreng mendongak menantang keponakannya sendiri.

"Cukup."

Satu kata dari Satria langsung membungkam perdebatan antar-generasi itu. Satria menatap Keisha dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tatapannya sedingin es, membuat Keisha yang biasanya barbar mendadak salah tingkah.

"Kamu terluka," ucap Satria datar, matanya tertuju pada darah segar yang mengalir di sela lumpur di lutut Keisha.

"Ah, ini? Cuma lecet dikit, Kak. Biasa, ujian fisik mahasiswa tingkat akhir," gurau Keisha absurd, mencoba mencairkan suasana.

Satria tidak merespons candaan itu. Dia berbalik, menggendong Rafka dengan satu tangan, sementara tangan satunya tiba-tiba menggenggam pergelangan tangan Keisha. Genggamannya kuat, namun anehnya, terasa hangat di kulit Keisha yang dingin karena angin sore.

"Kak, lepasin, ih! Tangan aku kotor penuh daki got!"

"Diam, Keisha. Kita pulang," ujar Satria tanpa menoleh, menarik Keisha berjalan menyusuri kompleks perumahan menuju rumah orang tua Keisha.

***

"Astaga, Keishaaa! Kamu apakan cucu Ibu?!"

Pekikan melengking Ibu Dania langsung menyambut mereka begitu pintu pagar rumah terbuka. Ayah Farrel yang sedang membaca koran di teras sampai meletakkan kacamata bacanya, lalu menepuk jidatnya sendiri begitu melihat pemandangan di depannya.

"Lagian, Bu ... anak bungsu kamu ini memang enggak bisa dipasrahkan urusan ngurus keponakannya," keluh Ayah Farrel sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Ayah, Ibu, jangan potong nama Keisha dong. Tadi itu murni kecelakaan kerja!" Keisha langsung protes begitu Satria melepaskan genggaman tangannya.

"Kecelakaan kerja apa kalau sampai nyemplung got, Kei? Kamu ini sudah umur dua puluh satu tahun, kuliah sudah tingkat empat, tapi kelakuan masih kayak bocah SMP!" omel Ibu Dania sambil merebut Rafka dari gendongan Satria. "Aduh, Rafka sayang, cup cup ... kita mandi ya, Nak. Kakinya nanti diobatin."

"Tante Kei yang salah, Eyang!" Rafka menjulurkan lidahnya ke arah Keisha dari balik pundak Ibu Dania.

"Awas kamu ya, bocil! Nanti malam enggak ada jatah main PS!" ancam Keisha sambil mengepalkan tinjunya di udara.

Ibu Dania membawa Rafka masuk ke dalam rumah, meninggalkan Ayah Farrel, Satria, dan Keisha di teras.

"Satria, kamu kok bisa bareng mereka? Bukannya kamu masih ada dinas di Bogor?" tanya Ayah Farrel, mempersilakan menantunya itu untuk duduk.

"Kebetulan tugas lapangan saya selesai lebih cepat, Ayah. Tadi sedang jalan arah ke sini, lalu melihat sepeda merah muda terbang ke got," jawab Satria. Nadanya tetap formal, kaku seperti biasa.

Keisha yang sedang membersihkan sikunya menggunakan tisu di sudut teras langsung mendengus. Sepeda terbang katanya? Sialan.

"Ya sudah, Satria, kamu duduk dulu. Ayah ambilkan minum. Kamu, Keisha! Cepat bersihkan badan kamu, bau gotnya sampai ke sini!" perintah Ayah Farrel sebelum melangkah masuk ke dalam.

Kini tinggal Keisha dan Satria di teras. Suasana mendadak menjadi canggung. Keisha sibuk menggosok lututnya yang berdarah dengan tisu, sementara Satria hanya berdiri tegak, memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kak Satria enggak pulang ke rumah Kakak?" tanya Keisha, memecah keheningan. "Udah lima tahun menduda harusnya Kakak belajar mandiri, jangan mandiin Rafka di sini terus."

Satria melangkah mendekat. Bukannya menjawab, dia malah berjongkok di depan kursi tempat Keisha duduk. Keisha tersentak mundur, punggungnya menempel erat pada sandaran kursi.

"Kak, mau ngapain?"

Satria mengeluarkan sebotol kecil antiseptik dan sekotak plester dari kantong celana PDL-nya—entah sejak kapan pria itu menyiapkannya. Tanpa permisi, tangan besar Satria memegang pergelangan kaki Keisha, menahannya agar tidak bergerak.

"Sakit, Kak! Pelan-pelan!" pekik Keisha saat cairan antiseptik itu menyentuh lukanya.

"Tahan. Kalau berani bawa sepeda seperti kesetanan, harus berani tanggung risiko," ucap Satria dingin. Tangan pria itu bergerak sangat telaten, membersihkan luka Keisha dengan sapuan lembut yang kontras dengan wajah kakunya.

Keisha menatap puncak kepala Satria. Rambut hitamnya yang dipotong cepak khas tentara terlihat rapi. Sudah lima tahun sejak Kak Vania meninggal karena eklamsia saat melahirkan Rafka. Selama lima tahun itu pula, Satria berubah menjadi sosok yang sangat dingin dan menutup diri, hanya fokus pada kerjaan dan anak. Keisha sudah mengenal pria ini sejak dirinya masih berusia 12 tahun, dan Satria selalu memperlakukannya seperti adik kecil yang merepotkan.

"Udah, Kak, perih banget!" keluh Keisha sambil menarik kakinya setelah plester terpasang.

Satria bangkit berdiri, menyimpan kembali botol antiseptik ke saku celananya. "Lain kali kalau jalan, matanya dipakai. Bukan mulutnya yang dipakai teriak-teriak."

"Iya, iya, siap Pak Mayor! Bawel banget," gerutu Keisha pelan sambil memutar bola matanya. "Lagian tumben banget siang-siang gini udah nongol di rumah Ibu? Enggak ada latihan nembak atau upacara apa gitu?"

"Tugas saya di Bogor hari ini sudah selesai," jawab Satria pendek, matanya beralih menatap lurus ke arah pintu rumah yang terbuka. "Saya mau melihat Rafka."

"Alasan. Bilang aja kangen masakan Ibu," celetuk Keisha asal.

Satria kembali menoleh, menatap Keisha dengan sorot mata yang sulit dibaca. Datar, kaku, tapi ada sesuatu yang membuat Keisha menahan napas sejenak. "Kamu sendiri? Tidak ada jadwal kuliah?"

"Enggak ada, ini kan jam bebasnya mahasiswa tingkat empat buat merenungi nasib skripsi," jawab Keisha santai, menepuk-nepuk celananya yang masih sedikit basah. "Ya udah, aku masuk dulu. Mau mandi, gerah."

Satria tidak menjawab, hanya memberikan anggukan kecil yang sangat formal. Keisha berbalik dan melangkah pincang memasuki rumah, meninggalkan kakak iparnya yang masih berdiri tegak di teras, menatap punggungnya dengan saksama tanpa suara.

Bersambung...

Assalamu'alaikum Kakak semuanya. Hari ini saya mau uji nyali dengan karya terbaru setelah karya sebelumnya zonk. Saya sangat berharap kakak semuanya bisa kerja sama dan mendukung dengan karya terbaru ini. Kalau masih zonk juga, ya wassalam gagal lagi 😂😂. Buat yang sukanya tabung bab, sebaiknya bacanya setelah karya sudah tamat ya. Makasih banyak sebelumnya.

Bab 2. Makan Siang dan Desakan Ibu

Aroma gulai ayam dan sambal goreng ati langsung menyengat indra penciuman begitu Keisha melangkah keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih terbungkus handuk kecil. Di ruang makan, Ibu Dania tampak sibuk mengelap pinggiran piring saji, dibantu oleh Bik Minah yang baru saja meletakkan semangkuk besar sayur asem di tengah meja.

"Bik, sendok garpunya jangan lupa ditambah dua set lagi, ya. Satria sama Rafka makan di sini sekalian," puji Ibu Dania, tangannya dengan cekatan menata ulang posisi mangkuk agar terlihat rapi.

"Sampun, Bu. Ini sudah siap semua di meja," jawab Bik Minah ramah, lalu berbalik kembali ke dapur untuk mengambil teko berisi es teh manis.

Keisha berjalan mendekati meja makan dengan langkah yang masih sedikit pincang. "Aduh, baunya enak banget, Bu. Ini dalam rangka merayakan keberhasilan Keisha lolos dari maut di got tadi, ya?"

Ibu Dania menoleh, langsung berkacak pinggang menatap anak bungsunya. "Keberhasilan apa? Yang ada Ibu jantungan! Kamu itu cepat keringkan rambut, ganti baju yang benar. Masih untung Kakak iparmu yang nemuin kamu tadi. Kalau orang lain, mau ditaruh di mana muka Ibu punya anak perawan hobi nyemplung got?"

"Kan gotnya kering, Ibu sayang ...." Keisha menyengir kuda, memperlihatkan deretan giginya yang rapi sebelum melesat kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian.

Sementara itu, di bagian lain rumah yang lebih tenang, pintu kamar bernuansa krem terbuka perlahan. Kamar itu adalah kamar almarhumah Vania, kakak kandung Keisha. Di kamar itulah Satria selalu tidur jika memutuskan untuk menginap demi menemani Rafka menghabiskan akhir pekan bersama kakek dan neneknya.

Satria keluar dengan penampilan yang jauh lebih santai. Seragam PDL-nya yang kaku dan baret hijaunya sudah ditanggalkan, digantikan oleh kaos polo berwarna biru tua yang pas di tubuh tegapnya, serta celana chinos berwarna krem. Meski pakaiannya kasual, potongan rambut cepak dan postur tubuhnya yang selalu tegap membuat aura militernya tidak berkurang sedikit pun.

"Papaaa!"

Sebuah hantaman kecil mendarat di paha Satria. Rafka, yang sudah bersih dan harum setelah dimandikan Ibu Dania, langsung *nyelendot* manja, memeluk erat kaki sang ayah dengan kedua tangan mungilnya. Wajahnya yang tadi coreng-moreng kini sudah berseri kembali, lengkap dengan wangi bedak bayi yang tebal di pipi.

Satria berjongkok, menyamakan tingginya dengan sang anak. Tangan besarnya mengusap kepala Rafka dengan lembut. "Sudah mandi? Lututnya masih sakit?"

"Sudah, Pa! Tadi digosok pakai sabun sama Eyang Putri, perih dikit tapi Rafka kan tentara, jadi enggak nangis!" ujar bocah lima tahun itu dengan bangga, menepuk dadanya sendiri.

Satria memberikan anggukan apresiasi yang tipis. "Bagus. Anak Papa harus kuat."

"Nah, Satria, Rafka, ayo langsung ke meja makan. Makanan sudah siap semua, keburu dingin nanti," ajak Ayah Farrel yang tiba-tiba muncul dari arah ruang tengah sambil melipat koran sorenya. Pria paruh baya itu menepuk pundak menantunya dengan hangat. "Ayo, kita makan siang bersama."

"Baik, Ayah," jawab Satria formal. Dia berdiri kembali, menggandeng tangan kecil Rafka dan berjalan beriringan bersama Ayah Farrel menuju ruang makan.

***

Suasana di meja makan terbilang hangat. Denting sendok dan garpu beradu dengan suara riuh Rafka yang menceritakan teman TK-nya yang bisa meniru suara dinosaurus. Ayah Farrel sesekali menanggapi dengan tawa kecil, sementara Ibu Dania sibuk mengambilkan nasi dan lauk untuk cucu serta menantunya.

"Ini gulai ayamnya dimakan yang banyak, Satria. Kamu kelihatan agak kurusan setelah dinas lapangan minggu ini," kata Ibu Dania sambil meletakkan sepotong paha ayam besar ke piring Satria.

"Terima kasih, Ibu. Ini sudah lebih dari cukup," balas Satria santun. Cara makannya sangat rapi dan tenang, khas didikan militer yang disiplin.

Keisha baru saja bergabung di meja makan, kini sudah mengenakan kaos oblong longgar dan celana kulot santai. Rambutnya yang setengah basah dibiarkan terurai. Tanpa canggung, dia langsung menyendok nasi dalam porsi besar, lalu mengambil sepotong dada ayam dan menyiramnya dengan kuah gulai yang melimpah.

"Pelan-pelan makan gulai ayamnya, Kei. Enggak akan ada yang merebut," tegur Ayah Farrel melihat cara makan anak bungsunya yang terkesan buru-buru.

"Lapar tingkat dewa, Yah. Tadi kan habis latihan fisik angkat sepeda dari dalam parit," sahut Keisha asal, membuat Ibu Dania hanya bisa menghela napas panjang melihat kelakuan absurd anaknya.

Di tengah keheningan yang sempat tercipta saat semua orang mulai fokus menikmati hidangan, Ibu Dania meletakkan sendoknya perlahan. Matanya menatap Satria yang duduk tepat di hadapannya. Raut wajah wanita paruh baya itu berubah menjadi agak serius, namun tetap memancarkan kehangatan seorang ibu.

"Satria," panggil Ibu Dania lembut.

Satria menghentikan gerakan sendoknya, mendongak menatap ibu mertuanya dengan takzim. "Iya, Ibu?"

"Ibu mau nanya sesuatu, tapi kamu jangan tersinggung, ya," Ibu Dania melirik suaminya sejenak, seolah meminta dukungan lewat tatapan mata. Ayah Farrel hanya mengangguk kecil, memberikan kode bahwa pembicaraan ini memang sudah seharusnya dibuka.

Satria meletakkan sendok dan garpunya di atas piring, memberikan perhatian penuh. "Silakan, Ibu. Tidak apa-apa."

"Sudah lima tahun semenjak Vania pergi ...." Ibu Dania menjeda kalimatnya, ada gurat kesedihan yang sempat melintas, namun segera digantikan oleh senyuman tulus. "Kami sebagai orang tua almarhumah Vania, sudah sangat ikhlas kalau kamu mau mencari pendamping lagi, Satria. Kamu tidak perlu merasa beban atau tidak enak pada kami."

Mendengar topik yang tiba-tiba bergeser ke arah yang cukup sensitif, Keisha yang sedang mengunyah kerupuk langsung menghentikan kunyahannya. Matanya mengerjap, melirik bergantian antara ibunya dan sang kakak ipar.

"Kamu itu masih muda, Satria. Perjalanan kariermu masih panjang, tugasmu sebagai Mayor juga pasti sangat menyita waktu dan pikiran," lanjut Ibu Dania, suaranya terdengar penuh perhatian. "Pastinya kamu butuh pendamping yang bisa mengurus keperluan kamu sendiri, dan yang paling penting ... ada yang mengurus Rafka secara penuh di rumah. Ibu dan Ayah kan sudah semakin tua, tidak bisa terus-menerus mengawasi Rafka kalau kamu sedang ditinggal tugas."

Satria tetap diam. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan gejolak emosi apa pun. Pria itu mendengarkan dengan tatapan lurus, sedatar permukaan air di dalam gelas.

Keisha yang dasarnya ceplas-ceplos dan tidak suka suasana tegang, langsung ikut menimpali sambil mengacungkan sendoknya ke udara. "Nah! Betul banget kata Ibu, Kak! Aku setuju seratus persen! "

Bersambung...

Bab 3. Menjemput Keisha

Ibu Dania melotot kecil pada Keisha. "Keisha, kalau bicara sendoknya diturunkan."

"Eh, iya, maaf, Bu," Keisha menurunkan sendoknya tapi tetap melanjutkan bicaranya dengan semangat berapi-api. "Maksud aku, Kak Satria itu udah kayak Kanebo kering kelamaan dijemur, kaku banget. Kak Vania pasti sedih di atas sana kalau lihat Kak Satria menyendiri terus kayak pertapa di gua. Lagian, setidaknya Kakak mulailah buka hati buat wanita lain. Di luar sana pasti banyak kok Ibu-ibu Persit atau cewek-cewek yang antre mau sama Mayor ganteng tapi kaku kayak Kakak."

Selesai mengucapkan kalimat panjang lebar itu, Keisha kembali menyuapkan nasi ke dalam mulutnya dengan santai, merasa bahwa opininya barusan adalah sebuah kontribusi besar bagi masa depan keluarga mereka.

Namun, suasana di meja makan mendadak mendingin dalam sekejap.

Satria tidak langsung menjawab. Pria itu mengalihkan pandangannya dari Ibu Dania, kini matanya yang hitam pekat dan tajam tertuju lurus pada Keisha. Tatapannya begitu dingin, menghunjam langsung ke arah adik iparnya yang baru saja bicara tanpa beban. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak, namun intensitas tatapan itu sanggup membuat bulu kuduk Keisha meremang seketika.

Keisha yang sedang mengunyah mendadak merasa nasi di dalam mulutnya jadi susah ditelan. "Aduh, kenapa matanya seram banget begitu sih?" batin Keisha, mendadak salah tingkah sendiri di bawah intimidasi tatapan sang Mayor. Dia buru-buru meraih gelas es teh manisnya dan meminumnya hingga tandas untuk menghilangkan rasa canggung.

Sementara ketegangan tak kasatmata terjadi di antara kedua orang dewasa itu, Rafka sama sekali tidak terpengaruh. Bocah itu tetap sibuk menikmati ayam gorengnya, menggerogoti daging paha ayam hingga bumbunya belepotan di sekitar mulut, benar-benar kontras dengan atmosfer sunyi yang mendadak melingkupi meja makan.

Ayah Farrel berdeham kecil, mencoba mencairkan keheningan yang sempat membeku. "Satria, apa yang dikatakan Ibu dan Keisha itu tidak ada maksud mendesak. Kami hanya memikirkan kebaikanmu dan Rafka untuk jangka panjang. Tapi semua keputusan tentu ada di tanganmu."

Satria menarik napas pendek melalui hidung, lalu kembali menatap Ayah Farrel dan Ibu Dania. Ekspresi dinginnya perlahan melunak kembali menjadi rapi dan formal seperti biasa.

"Saya mengerti, Ayah, Ibu," jawab Satria dengan suara beratnya yang tenang. "Terima kasih atas perhatian dan keikhlasan yang diberikan. Untuk saat ini, fokus saya masih pada tugas negara dan memastikan Rafka tumbuh dengan baik."

"Iya, Satria, Ibu paham. Tapi jangan ditutup rapat-rapat perasaannya. Kalau ada wanita yang sekiranya cocok dan bisa menyayangi Rafka seperti anaknya sendiri, kabari Ibu dan ayah, ya," pungkas Ibu Dania dengan senyum lembut, tidak ingin menekan menantunya lebih jauh lagi pada momen makan siang ini.

Satria hanya memberikan anggukan samar sebagai jawaban. Matanya sempat bergulir sekali lagi ke arah Keisha yang kini pura-pura sibuk menambah kuah gulai ayam ke piringnya, sengaja menghindari kontak mata langsung dengan sang kakak ipar.

Di balik sikap kaku dan tenangnya, tidak ada satu orang pun di meja makan itu yang tahu apa yang sebenarnya sedang berkecamuk di dalam kepala Mayor Satria Pramudya.

***

Jarum jam dinding di ruang tengah tepat menunjukkan pukul dua siang ketika Keisha berlari turun tangga setengah terburu-buru. Setelah menyelesaikan makan siang yang penuh dengan atmosfer canggung—terutama karena tatapan sedingin es dari kakak iparnya—Keisha langsung mengurung diri di kamar lantai atas. Bukan hanya untuk bersiap-siap, melainkan juga untuk menata kembali fungsi otaknya yang sempat loading lama akibat obrolan pernikahan tadi.

Hari ini Keisha sudah punya janji penting. Tugas kelompok mata kuliah Metode Penelitian sudah menumpuk dan tenggat waktunya tinggal menghitung hari. Sebagai mahasiswa tingkat tiga yang tidak ingin menambah semester, Keisha tentu harus bergerak cepat.

Di ruang tengah yang sejuk oleh embusan angin dari jendela samping, Satria tampak duduk tegap di sofa kulit. Di hadapannya, sebuah laptop berlogo brand premium menyala, menampilkan grafik angka-angka yang cukup rumit. Selain menjadi seorang Mayor aktif di TNI AD, Satria memang mengelola beberapa bisnis sampingan di bidang logistik dan keamanan yang diwariskan dari keluarga besarnya. Jemari tangannya yang kokoh bergerak lincah di atas papan tik, sesekali matanya membaca dokumen digital dengan dahi yang sedikit berkerut.

Brummm ....

Suara deru mesin sepeda motor matic berkapasitas 150cc terdengar berhenti tepat di depan pagar rumah. Suara mesin yang cukup halus, namun sangat jelas terdengar di keheningan siang itu.

Satria langsung menghentikan ketukannya di atas keyboard. Matanya melirik ke arah pintu depan yang tertutup. Tanpa ekspresi, pria itu menutup layar laptopnya perlahan, lalu bangkit berdiri. Postur tubuhnya yang tinggi besar melangkah dengan tegap menuju pintu utama.

Begitu pintu kayu jati itu dibuka, seorang pemuda dengan jaket denim dan celana jin hitam sedang melepaskan helmnya. Namanya Rendra. Teman satu jurusan Keisha, sekaligus cowok yang akhir-akhir ini sedang gencar mendekati Keisha—atau dalam bahasa gaul Keisha, si 'gebetan'.

Rendra yang berniat langsung memanggil Keisha mendadak membeku di tempat. Senyum yang sempat mengembang di wajahnya langsung surut begitu melihat siapa yang membukakan pintu. Alih-alih pembantu atau orang tua Keisha, yang berdiri di hadapannya adalah seorang pria berbadan tegap dengan potongan rambut cepak militer, berkaos polo ketat yang menonjolkan otot lengannya, dan menatapnya dengan pandangan sedatar papan tulis.

Rendra reflek menelan ludah. Ia sudah beberapa kali melihat Satria jika kebetulan berkunjung ke rumah Keisha, dan aura sang Mayor selalu sukses membuatnya menciut.

"Siang, Kak Satria," sapa Rendra buru-buru, mencoba bersikap sesopan mungkin sambil menganggukkan kepala agak dalam.

Satria tidak tersenyum. Dia hanya mengangguk sekali, sangat formal. "Siang. Ada keperluan apa?"

"Eh, ini, Kak ... saya mau menjemput Keisha. Kami ada janji mau kerja kelompok tugas kuliah di kafe dekat kampus," jawab Rendra sedikit terbata-bata. Tangannya meremas tali helm dengan gugup.

Bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!