# Bab 01: Mengaku Menikahkan\, Sebenarnya Menjual
"Bu Pratama, ini putri saya, Sari Wulandari."
Hendra Wijaya tersenyum rendah, nyaris menjilat, kepada perempuan berumur yang tetap tampak anggun dan berwibawa di hadapannya. "Menurut Ibu, dia cocok tidak?"
"Anak saya ini selama ini dibesarkan di desa. Dijamin jujur, penurut, badannya juga kuat. Dia pasti bisa merawat Tuan Arga dengan baik."
Melihat sikap Hendra yang begitu berlebihan, orang yang tidak tahu mungkin mengira dia sedang menawarkan dagangan.
Padahal, kenyataannya memang tidak jauh dari menjual anak.
Seperti yang Hendra katakan, Sari memang dibesarkan di desa. Namun alasannya bukan karena kasih sayang, melainkan karena ia adalah anak dari istri pertama Hendra yang sudah meninggal, anak yang sejak awal dibuang olehnya. Setelah istri pertamanya wafat, Hendra segera menikahi perempuan kedua yang latar keluarganya lebih kuat. Demi menyenangkan keluarga istri barunya, ia mengirim Sari kepada ibunya di desa.
Sari tumbuh bersama neneknya. Setelah sang nenek meninggal, ia tetap tinggal sendirian di desa tanpa ada seorang pun yang peduli.
Kalau bukan karena hari ini Hendra membutuhkan dirinya, pria itu tidak akan pernah mengingat bahwa ia masih punya seorang putri.
Alasan Hendra mencarinya pun sederhana. Ia ingin mendapat keuntungan dari keluarga Pratama, keluarga terpandang di Jakarta, keluarga yang sebelumnya bahkan tidak pernah ia bayangkan bisa ia dekati.
Karena itu Hendra sangat takut Bu Pratama, nyonya besar keluarga Pratama, tidak menyukai Sari. Ia hanya bisa terus menjual kelebihan putrinya. Setelah bicara panjang lebar, ia mendorong gadis yang duduk di sebelahnya dengan kasar. "Sari, cepat sapa Bu Pratama!"
Kesempatan ini muncul karena keluarga Pratama, keluarga paling berkuasa di Jakarta, sedang mencari menantu perempuan.
Terdengar menggiurkan, bukan?
Begitu banyak orang ingin menempel pada keluarga Pratama. Bagaimana mungkin kesempatan itu bisa jatuh ke tangan keluarga Wijaya, keluarga bisnis kecil seperti milik Hendra?
Masalahnya justru ada di sini. Keluarga Pratama mencari menantu perempuan untuk merawat putra mereka yang bernasib buruk. Tuan muda keluarga Pratama, yang lahir dengan sendok emas di mulutnya, tanpa sengaja menjadi pasien koma setelah sebuah kecelakaan.
Pasien koma. Putri keluarga terpandang mana yang mau menikahi pria yang nyaris seperti orang mati, hanya bisa berbaring di ranjang dan menunggu dirawat?
Terus terang, keluarga Pratama bukan sedang mencari menantu. Mereka sedang mencari seorang perawat pribadi.
Dan harus seorang perawat yang sehat, kuat, tahan lelah.
Maka Hendra langsung menghitung untung rugi, lalu membawa Sari dari desa.
Dorongan Hendra sama sekali tidak lembut, tetapi tubuh Sari hanya sedikit miring. Ia tidak menunjukkan kemarahan. Ia hanya diam-diam menjauh sedikit dari Hendra, lalu tetap dengan sikap tenang, jujur, dan mudah ditindas, menunduk sopan kepada perempuan bangsawan yang jarang ia temui di desa itu.
"Selamat siang, Bu."
Sari hanya berkata begitu. Tidak ada kalimat manis tambahan.
Hendra tentu tidak puas. Ia masih berharap Sari mengucapkan beberapa kalimat untuk menyentuh hati Bu Pratama. Bagaimanapun, ia takut asal-usul desa Sari membuatnya tidak disukai. Di mata Hendra, Sari agak gelap, terus terang agak miskin dan agak jelek. Yang paling penting, sejak tadi Bu Pratama tidak banyak bicara. Sikapnya dingin, seolah kurang puas.
Bagaimana bisa begitu!
Namun sebelum Hendra sempat memainkan sandiwara lain, suara Bu Pratama yang berwibawa dan mulia sudah terdengar. "Baik. Anda boleh pulang."
Hendra tidak menyangka kalimat pertama Bu Pratama justru mengusirnya. Ia terpana sesaat, tidak mengerti.
Mengusirnya pergi, berarti puas pada Sari atau tidak?
Hendra gelisah. "Kalau putri saya..."
"Dia tinggal."
Bu Pratama tampaknya benar-benar tidak punya kesabaran untuk Hendra. Kalimatnya pendek, dingin, dan jelas. "Cocok atau tidak, harus menunggu setelah pemeriksaan."
"Pengurus rumah, antarkan tamu."
Namun Hendra tidak keberatan. Ia malah berdiri dengan wajah senang dan tahu diri. "Ya, ya. Silakan Ibu memeriksa anak ini sepuasnya. Kalau begitu saya pergi dulu. Permisi, Bu."
Asalkan tidak langsung ditolak, semuanya masih baik.
Sebelum pergi, ia masih sempat memperingatkan Sari, "Ingat, harus jujur dan patuh kepada Bu Pratama, mengerti?"
Sari hanya mengangguk diam. Sikapnya kepada Hendra sangat hambar.
Hendra juga tidak marah. Yang ia butuhkan hanya manfaat yang bisa Sari bawa, bukan hubungan ayah-anak yang merepotkan. Takut membuat Bu Pratama tidak senang, ia tidak berlama-lama dan segera meninggalkan kediaman Pratama. Saat pergi, wajahnya penuh senyum lebar, seolah sepuluh miliar sudah pasti masuk ke genggamannya. Ia sama sekali tidak merasa tindakannya yang nyaris seperti menjual anak itu salah.
Setelah Hendra pergi, Bu Pratama juga tidak berniat banyak bicara dengan Sari. Ia berdiri dan mengangkat dagu memberi isyarat. "Ikut saya."
Sari diam-diam berdiri dan mengikutinya.
Baru kemudian Sari tahu Bu Pratama hendak membawanya menemui putranya.
Tuan muda keluarga Pratama yang kini sudah menjadi pasien koma.
Pria yang mungkin, dalam waktu dekat, akan menjadi suaminya.
# Bab 02: Arga Pratama
Di atas ranjang besar berwarna abu-abu tua selebar dua meter yang terletak di tengah kamar, berbaring seorang pria yang sangat tampan.
Selama dua puluh tahun hidupnya, Sari Wulandari jarang melihat orang setampan itu. Garis wajahnya seperti dipahat, kurus tetapi sama sekali tidak buruk rupa.
Benar, pria itu sangat kurus. Wajahnya cekung, pakaian di tubuhnya tampak longgar.
Namun ia sangat tinggi. Sari yakin akan hal itu.
Arga Pratama berbaring di ranjang. Wajahnya pucat, bibirnya pun pucat, seluruh tubuhnya memancarkan warna sakit. Namun ia terlihat damai, lebih seperti sedang tidur daripada tidak sadarkan diri. Di dalam kamar juga tidak ada alat medis apa pun. Sebagai orang desa yang mengakui dirinya kurang pengetahuan, Sari tidak terlalu paham, lalu hanya beranggapan pasien koma memang tidak membutuhkan alat seperti itu.
Sari melihat Bu Pratama diam-diam mengusap air mata ketika memandang Arga.
Baru saat itulah perempuan itu tampak memiliki perasaan.
Namun ketika berbicara kepada Sari, nadanya kembali dingin. "Ini putra saya, Arga Pratama."
Kini Sari memiliki penilaian lain. Bu Pratama bukan perempuan dingin dan sombong yang tidak menaruh siapa pun di matanya. Ia hanya telah menaruh seluruh emosi dan perhatiannya pada putra yang bernasib buruk ini. Selama putranya belum sadar, ia tidak punya emosi untuk hal lain.
Tiba-tiba Sari tidak lagi merasa perempuan itu sulit didekati.
"Kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan setelah menjadi menantu keluarga kami?"
Sari mengangguk.
Hendra memang tidak menganggap Sari sebagai putrinya. Saat datang mencarinya, ia sudah mengatakan apa yang harus Sari lakukan. Ia menekankan kondisi Arga, lalu menambahkan bahwa jika Sari tidak setuju, ia akan membiarkannya begitu saja, tidak akan memberinya apa pun lagi, termasuk rumah tempat Sari pernah tinggal bersama neneknya. Itu sama saja dengan memutus hubungan dengannya.
Sebenarnya Sari sangat ingin berkata bahwa Hendra juga tidak pernah memberinya apa-apa. Ia bisa hidup sampai hari ini karena neneknya tidak membencinya dan membesarkannya. Bahkan ibu kandung Hendra sendiri saja tidak ia pedulikan, seolah perempuan tua itu beban. Tanpa Hendra pun Sari tetap bisa hidup.
Namun ia tetap setuju.
"Sari, setelah Nenek meninggal, lakukanlah hal yang ingin kau lakukan. Jalani hidup yang kau inginkan. Kalau ada kesempatan menikmati hidup yang lebih baik, nikmatilah. Lupakan juga orang yang disebut ayah itu."
"Nenek hanya berharap kau aman dan bahagia."
Bagi orang lain, menikah dengan Arga mungkin penderitaan. Namun bagi Sari, belum tentu.
Setelah melihat Arga, tekadnya untuk tinggal di sini malah semakin kuat.
Merawat pria setampan patung seperti ini, apa yang membuatnya tidak rela?
Sari tidak tahu bahwa Bu Pratama terus memperhatikannya. Melihat Sari memandang Arga tanpa jijik, dengan ekspresi tenang dan jernih, wajah Bu Pratama jelas melunak.
"Mulai sekarang kau akan tinggal sekamar dengannya. Ada masalah?"
Sari merasakan nada Bu Pratama melembut, meski ia tidak tahu alasannya. Ia juga tidak terlalu memikirkannya. Mendengar pertanyaan itu, ia patuh mengangguk lagi.
Tiba-tiba ia bertanya, "Untuk merawatnya... ada hal khusus yang perlu diperhatikan?"
Bu Pratama tertegun sejenak, lalu tiba-tiba tertarik. "Yang khusus seperti apa, dan yang tidak khusus seperti apa?"
Sari berhenti sebentar, kemudian memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Yang tidak khusus, misalnya mandi, kebersihan pribadi, mengganti pakaian."
Bu Pratama tampak tidak menyangka Sari akan mengatakan itu. Ia terdiam cukup lama.
Sari tidak memahami reaksi perempuan itu, tetapi ia hanya diam menunggu.
Bu Pratama tidak termenung terlalu lama. Setelah itu suaranya menjadi lebih lembut. "Pernah merawat seseorang?"
Sari mengangguk. "Pernah merawat Nenek."
Bu Pratama tidak berkata lagi, tetapi tampak puas. Ia mengangguk, lalu berkata, "Turunlah. Sudah waktunya makan."
"Makan dulu. Setelah itu saya akan memberitahumu beberapa hal khusus yang perlu diperhatikan."
Selesai bicara, Bu Pratama berjalan lebih dulu meninggalkan kamar.
Sari patuh mengikutinya.
Namun sebelum itu, tanpa sadar ia menoleh dan memandang pria yang terbaring tidur itu sekali lagi.
Sari sendiri tidak tahu mengapa ia melakukan itu. Jika harus mencari alasan, mungkin karena ia ingin melihat pria tampan sedikit lebih lama.
Melihat sekali lagi, tidak ada salahnya, kan?
Namun tepat saat ia keluar dari pintu, tirai kamar yang sejak tadi selalu diturunkan rapat hingga menutup seluruh cahaya matahari tiba-tiba berkibar keras tertiup angin.
Sari tidak terlalu memedulikannya. Ia hanya spontan berkata, "Anginnya besar sekali."
"Hm?"
Bu Pratama yang berjalan di depan tidak mendengar jelas dan bertanya pelan.
Sari tidak menyangka perempuan itu akan bertanya, tetapi tetap menjawab jujur. "Tidak apa-apa. Saya hanya melihat tirai di kamar tertiup angin."
"Tapi seingat saya waktu saya datang tadi cuacanya cerah sekali. Mungkin tiba-tiba berubah..."
Sari bergumam tanpa sadar, dan ia tidak melihat wajah Bu Pratama yang mendadak kaku. Setelah itu mata perempuan itu memerah, wajahnya bahkan tampak sedikit bergetar.
Sari tidak tahu bahwa sejak Arga menjadi seperti ini, semua jendela di kamarnya selalu tertutup rapat.
Jendela yang tertutup rapat, dari mana mungkin ada angin masuk?
# Bab 03: Tiga Hal yang Harus Diperhatikan Saat Merawat Calon Suami
Setelah mereka turun, Sari menyadari sikap Bu Pratama berubah sangat besar. Kali ini bukan lagi perasaan samar seperti sebelumnya.
"Kalau ada makanan yang tidak bisa kau makan, bilang pada Tante. Nanti Tante akan bicara pada koki. Jangan sungkan, jangan malu. Anggap saja seperti di rumah sendiri."
Bu Pratama menjadi lebih perhatian, suaranya lembut. Sari benar-benar tidak mengerti dari mana perubahan ini berasal. Namun mungkin karena tumbuh di desa, cara pikirnya sederhana. Jika tidak mengerti, ia tidak akan memikirkannya lagi. Baginya, hasil suatu hal lebih penting daripada prosesnya.
Setidaknya setelah sikap Bu Pratama berubah, ketika melihat hidangan halus yang tersaji di meja, semua makanan yang belum pernah ia makan, lengkap seperti gunung dan laut, Sari merasa keputusannya kali ini sangat tepat.
"Sepertinya saya tidak punya pantangan apa pun. Terima kasih, Bu."
"Jangan pakai bahasa terlalu resmi. Panggil Tante saja."
Usia Bu Pratama memang setara generasi orang tua Sari, tetapi karena hidup bertahun-tahun dalam kemewahan, penampilannya terawat sangat baik. Ia memang pantas dipanggil tante.
"Baik, Tante."
Sari tidak berbelit dan langsung mengganti panggilan.
Bu Pratama tersenyum tipis, lalu mendesaknya, "Cepat makan."
Sambil melihat Sari makan, Bu Pratama menoleh memberi perintah kepada pelayan. "Bawa barang Sari ke kamar tuan muda. Mulai sekarang dia tinggal di kamar Arga. Semua yang dibutuhkan siapkan dengan lengkap."
"Baik, Nyonya."
Pelayan segera melaksanakannya.
Setelah memberi perintah, Bu Pratama kembali memperhatikan Sari makan. Meski tumbuh di desa, gerak-gerik Sari cukup sopan. Tidak ada sikap kasar, rakus, atau rendah yang membuat orang tidak nyaman. Semakin Bu Pratama melihatnya, semakin puas ia.
"Makan yang banyak."
Ia bahkan mengambilkan makanan untuk Sari.
"Terima kasih, Tante."
Sari merasa sedikit tersanjung sampai takut. Namun sifatnya memang sederhana. Ia hanya menjadi semakin patuh di hadapan Bu Pratama, tanpa berpura-pura atau berusaha terlalu sopan.
Bisa dikatakan, makan pertamanya di keluarga Pratama adalah makanan paling mewah yang pernah ia santap.
Dengan harapan penuh terhadap masa depan, Sari kembali ke kamar Arga setelah makan.
Jika ingin tinggal di sini kelak, hal terpenting yang harus ia lakukan sekarang adalah merawat Arga dengan baik dan tampil baik di mata keluarga Pratama. Karena itu ia tidak beristirahat, melainkan langsung mulai bekerja.
Berdiri di sisi ranjang, memandangi pria tampan yang tidur tenang, Sari mengingat apa yang Bu Pratama katakan setelah makan.
"Merawat Arga sebenarnya tidak terlalu rumit. Kau lakukan saja sesuai keadaan. Tapi ada tiga hal yang harus kau ingat. Pertama, setiap tiga hari sekali, lap seluruh tubuhnya dengan air daun mugwort. Kedua, sering-sering pijat tubuhnya. Ketiga, jangan biarkan sinar matahari masuk ke kamarnya."
Hal pertama dan ketiga terdengar agak aneh, tetapi Sari tidak terlalu banyak berpikir. Hal kedua ia pahami. Orang yang lama berbaring mudah mengalami kaku otot karena kurang bergerak. Jika tidak dipijat, lama-lama ototnya bisa menyusut dan menyebabkan kelumpuhan.
Setelah memahami itu, Sari tidak langsung bekerja. Ia lebih dulu menjelajahi kamar.
Tadi saat masuk bersama Bu Pratama, ia takut membuat perempuan itu tidak senang, jadi tidak berani melihat-lihat. Baru sekarang ia menyadari latar kamar yang bahkan lebih besar dari rumah neneknya ini terasa cukup muram.
Ia bahkan melihat beberapa lembar kertas kuning ditempel di kamar. Ia mengenali benda itu. Itu jimat yang biasanya dijual para dukun atau pendeta palsu. Meski sudah abad dua puluh satu, masih ada orang seperti itu, dan sembilan dari sepuluh hanya menipu orang yang percaya hantu dan dewa.
"Tidak kusangka keluarga Pratama juga percaya hal seperti ini..."
Sesaat kemudian ia mengerti. Mungkin mereka sudah terdesak sampai jalan buntu. Demi membuat Arga sadar, apa pun rela dicoba.
Sari menghela napas, tetapi tidak menyentuh kertas-kertas itu maupun tulisan dan gambar aneh di dinding yang tampaknya punya tujuan tertentu yang tidak ia pahami.
Setelah melihat sekeliling, ia menyadari perabot di kamar ini sangat sedikit dibanding luasnya. Itu membuat kamar tampak kosong dan semakin dingin.
Setelah memeriksa secara umum, ia mulai meneliti lebih jauh, misalnya lemari pakaian.
Ternyata pelayan sudah memasukkan barang-barangnya ke dalam lemari.
Sari melihat barang-barangnya yang sedikit berada di sudut lemari, tampak sangat sederhana, miskin, dan sama sekali tidak selaras di antara pakaian Arga yang bergaya dan mahal.
Dari ucapan Hendra, ia tahu Arga sudah menjadi pasien koma lebih dari dua tahun. Sebelumnya, pria itu adalah sosok paling unggul di generasi muda Jakarta. Tahun ini usianya tiga puluh. Membayangkan dua tahun lalu ia masih mengenakan pakaian indah ini dan tampil tegap di hadapan banyak orang, sementara sekarang hanya bisa terbaring di ranjang tanpa tahu kapan akan bangun, membiarkan pakaian itu berdebu di lemari, Sari kembali menghela napas. Rasa iba muncul di hatinya.
Tiba-tiba, karena tersentuh, Sari berjalan ke sisi ranjang, duduk, dan menggenggam tangan pria itu. "Kamu harus bangun, ya."
Saat itu ia benar-benar berharap Arga bisa sadar.
Bukan demi dirinya sendiri, melainkan karena ia tidak ingin Arga ikut tertutup debu di kamar ini seperti pakaian-pakaian di lemari itu.
Setelah melakukan semua itu, Sari baru tersadar, lalu tertawa sendiri. Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba jadi sentimental? Padahal pria ini baru ia temui belum lama.
Akhirnya Sari menyimpulkan penyebabnya adalah Arga terlalu tampan.
Ketampanan adalah akar semua alasan. Masuk akal, bukan? Sari tersenyum kecil.
Flaap, flaap.
Tiba-tiba tirai kamar seperti diterpa angin dan berkibar.
Suara itu langsung membuat Sari terkejut.
Ia menoleh ke arah tirai yang perlahan jatuh kembali, tetapi tidak memasukkannya ke hati. Pandangannya kembali ke tubuh pria itu. Saat itulah sesuatu yang tadi terlewat karena perasaan iba tiba-tiba masuk ke kesadarannya. Sari menggenggam tangan pria itu dan berseru kaget, "Eh? Kenapa tangannya sedingin ini?"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!