Ponsel yang sejak tadi tergeletak di atas meja bergetar beberapa kali membuat pemiliknya melirik.
Cintaku❤️
Mas, cepat pulang ya. Aku masak makanan kesukaan kamu.
Ponsel itu kembali terkunci tanpa dibalas oleh Adrian.
"Istri kamu ya?" bisik seorang wanita. Tangan wanita itu sejak tadi melingkar di pinggangnya dan tidak berniat di lepaskan. "Kamu memikirkan istrimu?"
"Dia nggak tau apa-apa tentang hubungan kita," ucap Adrian pelan. Menyingkirkan tangan Safira dan menyambar jasnya di sandaran kursi.
"Justru lebih bagus Sayang." Dan wanita itu tersenyum. Mendaratkan kecupan singkat di bibir dan mengantar kekasihnya hingga di depan pintu apartemen.
Adrian tiba di rumahnya tepat waktu dan disambut oleh senyuman hangat istrinya. Senyuman yang selalu dia dapatkan setiap hari, anehnya hatinya masih bisa berpaling untuk wanita lain.
Meski setiap kali berduaan, dia merasa bersalah tetapi enggang mengakhiri.
"Mas mau langsung makan dulu atau mandi?" Alya merangkul lengan suaminya.
"Mandi dulu Sayang." Adrian mendaratkan kecupan di kening Alya. "Oh iya tadi kamu pulang sama siapa? Kok nggak telpon mas?" Berjalan beriringan ke kamar. Tangan Adrian melingkar mesra di pinggang ramping Alya yang mengenakan baju tidur berbahan satin.
"Dijemput sama Adrina."
"Syukur deh."
Saat Adrian ke kamar mandi, Alya dengan sigap menyiapkan baju rumahan untuk suaminya. Meletakkan di bibir ranjang kemudian ke meja makan menunggu Adrian menyusul.
"Beruntung sekali diriku memiliki suami, ipar dan mertua yang baik," gumam Alya mengingat selama ini apa yang dia takutkan tidak terjadi meski kehidupan mereka cukup berbeda.
Dan gumaman itu jelas di dengar oleh Adrian yang berdiri di belakang Alya. Beruntung? Apakah Alya akan memaafkan dirinya setelah tahu dia selingkuh?
"Mas yang beruntung memilikimu Alya Zahira."
"Kalau begitu kita sama-sama beruntung." Alya tersenyum saat Adrian menyentuh rambutnya dan mengelus pelan.
"Tapi ... kapan kiranya mas mengajariku menyetir atau setidaknya membiarkan aku belajar menyetir? Masa apa-apa telpon mas dulu sih." Bibir Alya melengkung ke bawah. Suaminya terlalu posesif sampai tidak membiarkan dia berkendara sendiri. Jika Adrian tidak bisa menjemput, maka Adrina-adik iparnya yang akan datang bahkan bisa sampai mama mertua yang turun tangan. Benar-benar menyusahkan bukan?
"Nggak akan pernah."
"Posesif."
"Sama istri sendiri nggak masalah sayangku." Dan wajah cemberut Alya berubah sumbringan karena Adrian menguyel-uyel pipinya.
Makan malam berlalu dengan hangat meski hanya berdua saja. Terasa sepi tanpa kehadiran sosok anak kecil. Tapi mau bagaimana lagi mereka belum diberikan kepercayaan itu.
***
"Aku bisa naik taksi Mas. Takutnya mas malah telat lagi," ujar Alya yang baru selesai siap-siap untuk berangkat kerja seperti suaminya.
Dia pekerja lepas, tidak terikat oleh apapun dan bebas menentukan siapa yang boleh memakai jasanya. Alya adalah perias pengantin panggilan dan tidak pernah sepi job. Bahkan sering kali dia menolak klien secara halus jika dirasa lelah.
"Nggak apa-apa Sayang. Lagian siapa yang mau berani pecat mas coba?"
"Iya deh iya." Dan akhirnya Alya masuk ke mobil suaminya. Duduk dengan tenang, dan sebelah tangan digenggam oleh Adrian. Bahkan suaminya itu mengecup telapak tangan Alya berulang kali.
"Makin manis saja mas, aku lihat-lihat." Alya mengulum senyum.
"Untukmu apapun Alyaku."
Pipi Alya bersemu merah. Pernikahan mereka hampir 2 tahun, tetapi sikap Adrian masih seperti saat mereka pacaran. Manis dan hangat.
Alya melambaikan tangannya setelah berhasil turun dari mobil demi mengantar kepergian sang suami. Ia berjalan tergesa memasuki gedung tempat resepsi pengantin diadakan.
Senyumnya melebar melihat seorang wanita. Dia melambaikan tangan. "Safira ...." panggilnya antusias dan berlari kecil. "Kita ketemu lagi," lanjutnya dan berjalan beriringan.
"Sudah aku duga pasti kamu perias utamanya." Safira tertawa kecil. "Sedangkan aku? Lihatkan aku hanya pelengkapmu saja."
"Jangan bilang begitu. Semua perias sama saja. Dan aku senang bertemu kamu lagi. Kapan-kapan kita bisa berbagi tehnik make up."
"Terimakasih senior." Safira menunduk dan dibalas tawa oleh Alya.
Keduanya berpisah setelah memasuki gedung sebab memiliki klien berbeda meski diacara yang sama.
"Mbak sudah sarapan belum?" tanya asisten Alya bernama Sena. Asisten yang ditunjuk langsung oleh Adrian untuk menemani Alya dan mengatur jadwalnya.
"Sudah sama mas Adrian. Kamu kalau belum sarapan, cari aja dulu di depan. Biar aku yang handel sementara," sahut Alya yang sudah bersama pengantin dan menata alat make upnya.
"Baik Mbak."
Sebelum benar-benar memulai, Alya banyak bicara dengan kliennya dan semuanya hal random agar tidak canggung saat sesi merias. Inilah salah satu kenapa Alya sering menjadi incaran para pengantin. Selain tangannya seolah memiliki sihir, dia juga pandai membaurkan diri pada siapapun.
Berjam-jam lamanya sesi rias selesai, dan seperti biasanya Alya akan duduk di tidak jauh dari pengantin untuk memastikan make upnya baik-baik saja sampai pesta selesai.
Di sampingnya ada Sena juga Safira dan mereka terlibat banyak pembicaraan.
"Kamu nggak bisa nyetir ya? Aku lihat-lihat selalu diantar jemput atau naik taksi," celetuk Safira.
"Benar, aku nggak bisa."
"Kenapa nggak belajar? Biar bisa bebas pergi kemana-mana."
"Karena suaminya mbak Alya nggak mau," celetuk Sena.
"Oh ya? Keliatan sayang banget."
"Iya benar Mbak Fira. Mbak Alya tuh disayang banget sama suaminya. Bukan cuma suami sih, tapi kesayangan keluarga suami."
"Sena," tegur Alya karena merasa malu.
"Maaf Mbak, terlalu semangat." Sena menyengir. Andai tidak dicegah mungkin dia sudah bablas menceritakan betapa beruntung Alya menikah dengan Adrian.
Acara telah selesai, mereka memutuskan untuk pamit.
Alya sibuk dengan ponselnya karena menghubungi sang suami. Dia tidak tahu suaminya masih di kantor atau di rumah, mengingat jam pulang kantor sudah tiba beberapa jam lalu.
"Aku naik taksi saja ya mas, ada Sena kok sama aku."
"Nggak sayang, ini mas sudah dijalan. Tunggu sebentar lagi ya. Senanya jangan di suruh pulang dulu."
"Ngerepotin Senanya, nggak enak."
"Nggak kok Pak. Aman mah kalau saya," celetuk Sena dengan cengiran. Lagi pula menemani Alya tidak rugi, dia akan mendapatkan konpensasi waktu dari Adrian.
"Ikut aku saja kalau gitu Al. Aku antar pulang dengan selamat." Safira menimpali setelah Alya selesai bicara dengan suaminya.
"Makasih Fir, tapi nggak usah. Itu mobil suami aku." Alya dengan antusias menunjuk mobil putih yang perlahan-lahan menepi.
Pemilik mobil turun terburu-buru dan mengitarinya demi membukakan pintu untuk istri tercinta.
"Ayo Sayang," ucapnya hanya fokus pada Alya saja.
"Tunggu dulu Mas, aku mau ngenalin seseorang sama kamu."
Kening Adrian mengerut, memutar tubuhnya dan yap dia berhadapan langsung dengan Safira yang tidak disadari keberadaanya sejak tadi.
"Teman aku, namanya Safira." Alya tersenyum, tetapi tidak dengan dua orang yang sama-sama terkejut sebab ada di tempat yang sama.
.
.
.
Hadir lagi meski kehadiranku kayaknya udah nggak ditunggu sama pembaca soalnya suka hilang-hilangan🤕.
"Lelah banget keliatannya, mas pijat mau?" tawar Adrian yang melihat Alya setengah berbaring di ranjang. Dia mendekat, duduk di samping kaki putih istrinya, memijat pelan.
"Yang pegal tangannya Mas, bukan kaki." Protes Alya dan merentangkan tangan. "Tapi nggak mau dipijat, maunya di peluk, cium saja sama mas," ucapnya dengan nada manja.
Adrian terkekeh, segera memeluk istrinya dan mengelus rambut panjang Alya yang tergerai. Biasanya wanita itu mencepol rambutnya jika sedang bekerja dan hanya Adrian yang bisa menikmati rambut tergerai indahnya.
"Maafin mas Alya. Mas janji nggak akan menyakitimu," bisiknya.
"Kok minta maaf sih? Kan masnya nggak ada salah."
"Banyak."
"Dimaafin kalau gitu." Alya masih tersenyum dibalik punggung suaminya.
Berbeda dengan Adrian yang dipenuhi rasa bersalah mengingat perselingkuhannya dengan Safira. Hubungan terlarang yang sudah dia tutupi hampir satu tahun dari istrinya.
"Mas cinta banget sama kamu," bisik Adrian.
"Iya tau Mas. Kalau nggak cinta mana mungkin menikahi aku meski diancam dikeluarkan dari kartu keluarga papa." Alya terkekeh.
Memang perjuangan mereka saat menikah penuh liku. Bukan karena restu, tetapi papa Adrian mengetes seberapa berani Adrian mengambil keputusan demi menikahi Alya. Dan pada akhirnya keberanian itu tidak berguna karena Adrian berpaling begitu cepat.
***
"Sayang hari ini kayaknya mas lembur. Nanti dijemput sama Adrina ya." Adrian mengecup kening Alya.
"Iya, hati-hati mas. Jangan lupa makan siang dan istirahat kalau merasa lelah banget." Alya melambaikan tangan, sebagai pengantar untuk suaminya.
Padahal yang diharapkan untuk bekerja, tidak sampai ke tempat tujuan. Alih-alih bekerja, Adrian mengujungi apartemen Safira.
Dia langsung masuk ke apartemen dan mencari pemiliknya.
"Terlalu cepat sayang datangnya. Aku belum mandi," sambut Safira manja. Wanita itu hanya memakai kaos oblong kebesaran dan kain tipis dibaliknya. "Kamu sangat merindukanku hm?"
"Kamu tahu semuanya kan? Kamu tahu bahwa aku suami Alya?" tuduh Adrian mencengkeram lengan kecil Safira hingga menimbulkan ringisan.
"Kamu bicara apa sih mas. Aku nggak tau apa-apa. Kemarin aku juga terkejut tahu bahwa kamu adalah suami Alya."
"Kamu nggak bohong?" Tatapan Adrian menyelidik.
"Ngapain aku bohong. Lagian hubungan kita sama perkenalan aku sama dia jauh lebih dulu kita."
"Aku mau kita mengakhiri semua ini Safira," ucap Adrian lirih.
Jelas keputusan itu membuat Safira terkejut. Kelopak mata Safira terbuka lebar, begitu pun mulutnya.
"Mas, are you oke? Segampang itu kamu mengakhiri semuanya?"
"Aku nggak bisa Safira, aku hampir gila memikirkan semua ini. Aku nggak mau Alya tahu. Bagaimana jika senyum cerianya hilang?"
"Lalu bagaimana denganku? Aku mencintaimu Adrian." Mata Safira memerah dan mulai berembun. "Aku juga seorang perempuan."
"Justru karena kamu seorang perempuan, harusnya kamu mengerti bagaimana perasaan Alya jika tahu hubungan kita."
Adrian berlutut dan memeluk Safira yang sudah terduduk di lantai dan menangis sesegukan.
"Kita akhiri semuanya baik-baik ya."
"Nggak bisa Mas, bagaimana dengan bayiku jika kita berpisah?"
"Apa maksudmu?"
"Aku hamil."
Dentuman keras seolah menerjang indera pendengar Adrian. Pengakuan Safira seolah terucap dari kejauhan dan berulang kali diputar.
"Kamu bercanda kan?"
"Untuk apa aku bercanda Adrian." Dan sorot mata Safira menjelaskan segalanya.
Adrian kembali bimbang. Hatinya berteriak pilu mendapati kenyataan seperti ini. Dia bahagia akan memiliki seorang anak, tapi dia sedih dan merasa bersalah anak itu bukan dari Alya.
Niatnya untuk datang mengakhiri segalanya dan memperbaiki hubungannya dengan Alya hancur seketika.
Dia meninggalkan apartemen, menuju kantor dengan perasaan campur aduk dan tidak bisa berpikir jernih. Semuanya terlalu tiba-tiba disaat ia ingin berubah lebih baik lagi.
"Pak Adrian kalau tidak enak badan pulang saja," ujar rekan kerjanya.
"Aman." Adrian menaikkan jempolnya.
Dia bekerja diperusahaan properti ayahnya bukan sebagai CEO, melainkan Arsitek tanpa ada keistimewaan. Ini adalah konsekuensi saat dirinya ditantang ketika menikahi Alya.
Adrian sengaja menyibukkan dirinya dengan desain-desain yang tidak kunjung selesai seperti isi pikiran. Waktu terus berjalan, matahari mulai tenggelam dan ponsel di atas meja di penuhi pesan oleh istrinya.
Sudah jam sepuluh malam mas, memangnya pekerjaanya nggak bisa ditunda dulu?
Mas masih di kantor?
Jangan terlalu keras, aku nggak mau mas sakit.
Mas udah makan malam?
Aku ngantuk, tapi nggak bisa tidur.
Dan pada akhirnya Adrian kalah dengan pendiriannya. Dia meninggalkan pekerjaan dan pulang kerumah untuk menemui Alya.
Setibanya di rumah, dia mendapati Alya tidur di sofa ruang tamu menunggunya. Dadanya bergemuruh, terasa perih dan sakit melihat wajah damai istrinya yang terlelap.
"Maaf, maafkan mas Alya," lirihnya berlutut disamping kursi tepat di depan wajah Alya. "Mas mengkhianatimu, mas mengingkari janji kita. Mas harus bagaimana menghadapimu?"
Buliran bening berhasil membasahi pipi Adrian yang bahkan tidak pernah menangisi apapun sebelumnya.
"Mas udah pulang?" gumam Alya sembari membuka kelopak matanya.
"Udah mas bilang nunggunya dikamar saja." Adrian buru-buru menghapus air matanya dan mengendong Alya yang setengah sadar.
Membawanya ke kamar dan membaringkan di ranjang sangat pelan.
"Mas habis nangis?"
"Nggak sayang."
"Tapi mata mas merah."
"Mengantuk dan kelamaan di depan laptop. Udah lanjut tidurnya, mas mau bersih-bersih badan dulu."
Alya mengangguk, dan kembali memejamkan mata meski mendengar bunyi notifikasi berulang kali di ponsel suaminya. Dia terlalu mengantuk hanya untuk kepo benda pipih Adrian.
Berbeda dengan pemilik ponsel yang buru-buru mengambil benda pipih itu dan menjauh dari kamar tanpa sempat membersihkan diri.
"Biarkan aku berpikir Fira, beri aku waktu," ujar Adrian dengan suara tertahan.
"Jangan terlalu lama mengambil keputusan Adrian, atau aku akan menemui Alya dan mengatakan segalanya."
"Safira!" Tubuh Adrian bergetar karena marah. Dia takut jika Safira benar-benar nekat menemui istrinya dan membeberkan segalanya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, jadi sabarlah. Aku pasti bertanggung jawab selama kamu diam dan menungguku," ucap Adrian lagi dan sambungan telepon terputus.
Dia kembali ke kamar dan menemukan Alya duduk di ranjang dengan lampu menyala, padahal saat Adrian meninggalkan, dia sudah memastikan lampu mati.
"Kenapa Sayang?"
"Udah nggak bisa tidur. Tiba-tiba pengen makan martabak manis."
"Jam segini?" Adrian melirik jarum jam yang telah menunjukkan pukul 23.05.
"Mas capek ya?"
"Nggak sayang. Kita keluar buat cari martabaknya."
Adrian bergegas mengambil jaket tebal dan memasangkan di tubuh Alya. Memastikan istrinya tidak akan kedinginan padahal mereka akan naik mobil.
Dia selalu seperti ini, memberikan segalanya pada Alya. Entah kenapa dia menjalin hubungan bersama Safira dalam keadaan sadar dan waktu cukup lama.
"Makasih ya mas karena selalu menuruti keinginan aku." Alya tersenyum dan memainkan jarinya di sela-sela jari besar milik Adrian. "Mas suami terbaik pokoknya.
.
.
.
Hay-hay jangan lupa tinggalkan jejak sebelum ke bab selanjutnya ya🥰
"Kak Alya ...."
Alya tersenyum melihat betapa antusiasnya Adrina-adik iparnya saat melihat iya memasuki rumah mertuanya. Apalagi Adrina langsung memeluknya seolah lama tidak bertemu, padahal sering kali menjemputnya jika pulang kerja.
"Kok nggak mengabari kalau mau ke rumah sih? Kan bisa aku jemput." Adrina mengerucutkan bibirnya.
"Diantar sama mas Adri, jadi aman lah," jawab Alya. "Mama papa ada?"
"Mama ada, lagi eksperimen resep baru di dapur, kalau papa di kantor jadi atasan suami kakak."
"Wah ada resep baru?" Mata Alya berbinar tahu mama mertuanya sibuk di dapur. "Ayo kita ikut eksperimen."
"Ih nggak bisa, aku ada kelas dua jam lagi. Maaf ya kakak cantikku." Sudut bibir Adrina melengkung ke bawah.
"Nggak apa-apa, sana siap-siap ada mama kok."
Alya meletakkan tas tangannya di sofa dan menghampiri mama mertuanya di dapur.
"Mama kali ini bikin apa?" tanya Alya mengulum senyum.
"Loh anak mama kapan tibanya?" Mama mertua Alya terkejut, meninggalkan segala kerepotan hanya untuk cipika-cipiki dengan menantu kesayangan. "Mama lagi iseng coba resep baru dari sosial media."
"Kamu nggak kerja? Ke rumah diantar sama Adri kan?"
"Iya Ma. Hari ini mau bantu mama masak sepusnya."
Alya langsung mencuci tangan dan mengeksekusi yang perlu di lakukan. Kadang bertanya pada mama mertua apa lagi yang dibutuhkan.
"Apa kabar kalian? Adrian baik kan?"
"Baik dan sayang banget sama aku Ma. Semalam kan ya, aku pengen banget makan martabak manis dan posisinya mas Adrian baru pulang kerja, tapi mas Adrian tetap bawa aku keluar buat cari."
"Makasih mama sudah melahirkan mas Adrian untuk aku." Alya langsung beranjak dan memeluk mama mertuanya.
"Sama-sama sayang. Mama senang dengar rumah tangga kalian baik-baik saja. Oh iya kamu ngidam?"
"Nggak Ma. Maaf karena belum bisa ngasih cucu buat mama."
"Sama sekali nggak apa-apa putri cantik mama." Mama mertua Alya membelai pipi yang terlihat lebih berisi dari sebelumnya. "Mama cuma nanya soalnya kamu kan paling anti makan manis-manis pas malam, tapi tiba-tiba pengen. Coba deh periksa ke dokter sayang. Atau mau mama temani?"
"Benarkah aku hamil?" batin Alya bertanya dan refleks menyentuh perutnya yang rata. Tanpa sadar sudut bibirnya tertarik membentuk setengah lingkaran.
Dia jadi membayangkan bagaimana ekspresi bahagia Adrian ketika dia benar-benar hamil. Mungkin dia akan dimanjakan lebih dari sekarang.
"Kenapa sayang?"
"Nggak apa-apa Ma. Tiba-tiba Alya teringat sesuatu. Aku pulang lebih dulu ya Ma."
"Mama antar."
"Nggak usah, ikut Adrina saja Ma. Belum pergi kayaknya."
Alya belari kecil menuju sofa di mana tasnya berada setelah mengecup pipi mama mertuanya. Beruntung masakan mama sudah selesai dan dia sudah mencicipinya bersama.
"Adrina, aku nebeng ya," ucap Alya, kebetulan rumah dan kampus Adrina searah.
"Loh cepat banget pulangnya, kan belum sama aku."
"Nanti ya, kalau hasilnya baik aku sama mas Adrian pasti datang lagi," ucapku sumbringan.
Akhirnya Adrina melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Berbincang banyak hal dengan kakak ipar sampai ke hal-hal random. Bahkan menjurus pada hubungannya yang mulai kandas di tengah jalan akibat kurang komunikasi dengan sang kekasih.
"Benci banget aku tuh kak sama dia. Apa-apa harus aku yang ngabarin. Harus aku yang nyari topik. Lama-lama juga capek," gerutu Adrina dan dibalas tawa pelan oleh Alya.
Meski begitu tangan Alya fokus mengelus pundak Adrina. "Mungkin karena kekasih kamu lagi sibuk Drin."
"Tapi sesibuk-sibuknya dia nggak sampai segitunya juga."
"Luangkan waktu bersama dan dibicarakan baik-baik maunya bagaimana. Hubungan kalian kedepannya seperti apa. Kalau memang nggak ada jalan tengahnya, baru ambil keputusan yang menurut kalian sama-sama baik dan tidak menyakiti."
"Pantas saja mas Adrian kecintaan, orang istrinya sepengertian kak Alya."
"Aku juga kecintaan tuh sama mas Adrian." Dan Alya kembali tertawa.
Pembicaraan yang begitu lancar membuat mereka berdua tidak sadar sudah berada di pintu gerbang.
"Mas Adrian nggak kerja?" tanya Adrina yang melihat mobil kakaknya terparkir di dalam pagar.
"Kayaknya iya, ada tamu juga." Alya mengiyakan dan menyuruh adiknya segera pergi agar tidak terlambat.
Alya berjalan santai memasuki rumah. Mendorong pintu yang tidak terkunci sama sekali.
Dia tidak mendapati suaminya, begitu pun dengan tamunya padahal ada mobil orang lain di depan rumah.
"Tas perempuan?" gumam Alya dengan kening mengerut melihat tas warna cream tergeletak di soda depan Tv. Sofa yang selalu menjadi tempatnya bermanja dengan sang suami. Sofa yang tidak seharusnya di duduki oleh tamu jika bukan dia yang mempersilahkan.
Apa mungkin mama?
Alya mengelengkan kepalanya, mama tidak mungkin datang tanpa pemberitahuan apalagi sampai menghilang seperti ini.
Langkah Alya menuju kamar dan mendapati pintunya sedikit terbuka. Dia mendorong pelan ... sangat pelan sehingga dua menusia yang sedang bertengkar tidak menyadari keberadaanya.
Pertengkaran yang begitu lama sampai diakhiri dengan sebuah ciuman panas. Tulang-tulang Alya melemah, melihat Adrian yang memulai semua itu.
Seberusaha apapun Alya menahan air matanya, bulir-bulir bening itu tetap berjatuhan melihat suaminya mendorong seorang wanita ke ranjang dan menindihnya.
"Mas Adrian ...." panggilnya, sekarang ia masih berdiri di ambang pintu.
Yang dipanggil menoleh, langsung menjauhkan diri dari Safira yang berada di bawahnya. Pakaian mereka masih lengkap, baru akan memulai di kamar istrinya.
"Al-Alya ... Mas bisa jelaskan semuanya." Wajah Adrian berubah pias, gugup dan jantungnya berdetak tidak terkendali. Terlebih melihat sorot mata Alya yang mengandung kekecewaan.
Dia menunggu istrinya berteriak, memaki atau setidaknya memukulnya. Tapi Alya tidak melakukannya, wanita itu berdiri di sambang pintu menatapnya bergantian dengan Safira yang juga sama-sama terkejut.
"Temui aku di ruang tamu jika kalian sudah selesai," ucap Alya dan pergi. Menutup pintu, membiarkan dua manusia tanpa ikatan sah di dalam sana.
Alya duduk dan berusaha tenang, meski kukunya yang terawat mulai melukai permukaan kulit tangannya. Tampak sekali dirinya tidak baik-baik saja tetapi berusaha untuk tidak lepas kendali.
"Kamu bisa Alya, kamu bisa menyelesaikan semuanya tanpa harus emosi dan memaki. Kamu tidak boleh terlihat menyedihkan," ucapnya lirih pada diri sendiri.
"Dengarkan penjelasan mas Adrian, kadang yang terlihat bisa saja menipu." Dia terus mensugesti dirinya dan denial. Dan selama itu pula, permukaan kulit di bawah kukunya sudah terkelupas dan memerah bahkan ada bercak darah di sana.
Tatapannya nanar pada pintu kamar, menunggu dua manusia yang tidak kunjung terlihat padahal sudah beberapa menit berlalu.
"Kalian sudah selesai?" tanya Alya dengan suara bergetar padahal sudah berusaha sebaik mungkin.
Dia menatap dua manusia yang dia kenal sebagai suami dan temannya.
"Siapa yang akan mewakili?" tanyanya lagi.
.
.
.
Huh sampai nahan napas author nulisnya, malu nangis di tempat kerja hahaha
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!