"Maaf, Nyonya Zulfa... kemungkinan untuk hamil secara alami sangat kecil."
Kalimat itu jatuh seperti palu besi yang menghancurkan segalanya.
Ruangan terasa sesak. Suara dokter berikutnya terdengar jauh, seolah berasal dari tempat lain.
"Satu-satunya jalan... bayi tabung."
Zulfa menunduk. Jemarinya gemetar di atas pangkuan. Air matanya jatuh tanpa suara. Di sampingnya, Arslan menggenggam tangannya erat.
"Nggak apa-apa," bisiknya pelan, namun penuh keyakinan.
"Kita jalani sama-sama."
Zulfa ingin percaya. Sangat ingin percaya. Namun mereka berdua belum tahu... bahwa ujian terbesar bukanlah pada rahim Zulfa.
Melainkan pada orang terdekat...
yang diam-diam ingin menghancurkan mereka.
***
Delapan tahun kemudian ...
"Arslan masih belum bisa menuruti keinginan Mama!"
"Iya... Arslan tahu. Tolong beri kami waktu. Arslan tidak ingin melukai Zulfa."
"Ma... Arslan sangat mencintai Zulfa. Tolong jangan paksa Arslan melakukan hal itu. Arslan tidak mau selingkuh, apalagi sampai menikah lagi!"
Nampan kecil berisi secangkir kopi panas yang hendak Zulfa bawa ke ruang kerja suaminya nyaris terlepas dari genggamannya. Langkahnya terhenti seketika saat tanpa sengaja ia menangkap percakapan Arslan dengan ibunya melalui telepon.
Beruntung, ia masih sempat menahan nampan itu sebelum kopi tumpah membasahi lantai. Dengan napas tertahan, wanita berambut hitam panjang itu buru-buru menyingkir, menyembunyikan tubuh rampingnya di balik pintu. Dadanya terasa sesak, seolah ada beban berat yang menekan dari dalam. Air matanya luruh tanpa mampu ia bendung.
Zulfa menutup mulutnya rapat-rapat, menahan isak tangis agar tak terdengar. Hatinya seperti disayat berulang kali, setiap kata yang ia dengar terasa begitu menyakitkan.
Ia tak pernah menyangka ... sosok ibu mertua yang selama ini ia hormati dan sayangi, justru tega menyuruh anaknya berselingkuh. Apalagi sampai menikah lagi.
Dengan langkah tergesa, ia menuju dapur. Ia tak ingin Arslan tahu bahwa dirinya telah mendengar semuanya. Tangannya masih bergetar saat meracik kopi baru sebab kopi sebelumnya telah berceceran akibat kegugupannya.
"Sayang ..."
Suara lembut Arslan membuatnya tersentak. Zulfa buru-buru menyeka sisa air matanya, lalu berpura-pura sibuk mengaduk kopi.
"Iya, sebentar ... kopinya baru aja selesai," ucapnya, berusaha terdengar biasa.
Arslan tersenyum tipis. Ia melangkah mendekat, lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping istrinya.
"Nggak apa-apa, kok. Kenapa buru-buru begitu?" Ia memutar tubuh Zulfa hingga mereka saling berhadapan.
"Tiba-tiba aku nggak ingin kopi. Kita tidur aja, ya."
"Bukannya tadi kamu bilang masih banyak kerjaan?" tanya Zulfa lirih, pandangannya tertunduk.
Arslan mengangkat dagu istrinya perlahan, menatapnya penuh kelembutan.
"Masih bisa dilanjut besok. Malam ini ... aku cuma ingin istirahat."
Tanpa menunggu jawaban, Arslan menggenggam tangan Zulfa dan membawanya ke kamar utama di lantai atas. Kopi hangat yang baru tersaji diabaikan begitu saja.
Di atas ranjang, Zulfa yang telah berganti pakaian tidur berbaring di samping suaminya. Arslan segera merengkuhnya dalam pelukan erat, seolah takut kehilangan.
"Kenapa tiba-tiba meluk aku kayak gini? takut aku hilang, ya?" goda Zulfa pelan.
"Iya... takut banget," jawab Arslan jujur, sembari mengusap rambut istrinya dengan lembut.
Zulfa terdiam. Ada sesuatu yang berbeda dari sikap suaminya malam ini, lebih hangat, namun terasa ganjil.
"Kamu kenapa, sih? Kok beda dari biasanya?" tanyanya hati-hati.
"Nggak apa-apa. Cuma kangen. Beberapa hari ini aku sibuk lembur, kita jadi jarang punya waktu berdua."
"Maaf ya... aku sering ketiduran sebelum kamu pulang," ucap Zulfa, merasa bersalah.
"Nggak apa-apa. Aku juga nggak mau kamu memaksakan diri hanya untuk menungguku." Sejenak, keheningan menyelimuti.
"Zulfa... kamu percaya, kan, kalau aku sangat mencintaimu?"
Pertanyaan itu membuat hati Zulfa kembali bergetar.
"Sejak kapan aku nggak pernah percaya sama ucapanmu?" jawabnya dengan senyum tipis meski hatinya sedang rapuh.
"Janji ya... apa pun yang terjadi nanti, kamu nggak akan ninggalin aku."
Arslan mengulurkan jari kelingkingnya. Ada nada memohon... sekaligus tersirat kecemasan. Zulfa menatapnya sejenak, lalu mengaitkan jari kelingkingnya, seperti anak kecil.
"Iya... aku janji."
Dengan polos, ia mengikat janji itu tanpa tahu apa yang sedang menantinya.
"Ya sudah, sekarang kita tidur," ucap Zulfa, mencoba mengalihkan suasana.
"Yah... kok langsung tidur?" rengek Arslan manja.
"Loh, tadi kamu sendiri yang ngajak tidur."
"Iya... tapi maksudku bukan begitu," balasnya dengan senyum penuh arti.
"Aku lagi dapet ..." Zulfa menghela napas pelan. Namun Arslan hanya tersenyum nakal, tetap berusaha membujuk dengan cara khasnya.
"Kan masih bisa pake cara lain, sayang..." bisiknya lembut, suaranya terdengar merayu. Lalu Arslan kembali melanjutkan ucapannya, "obat pereda nyerinya masih rutin kamu minum, kan?" Zulfa mengangguk pelan membuat Arslan tersenyum senang.
"Berarti nggak ada alasan kamu nolak aku," tutur Arslan sambil menarik lembut jemari Zulfa dan mengarahkan ke predator tumpulnya yang sudah berontak ingin di ajak bermain.
"Kamu itu... kalau sudah ada maunya, susah banget ditolak." Zulfa menggeleng kecil, menyerah.
"Ya habis mau gimana lagi? Satu-satunya obat stress ku cuma ini." Arslan tertawa dan Zulfa mulai mengikuti permintaan suaminya itu.
Malam itu pun berlalu dalam kehangatan yang tampak utuh di permukaan, meski diam-diam, hati Zulfa dipenuhi kegelisahan yang tak terucap.
***
Pagi hari menyapa.
Zulfa bangun lebih awal, seperti kebiasaannya sejak memutuskan menjadi ibu rumah tangga. Ia langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Dulu, hal seperti ini jarang ia lakukan saat masih sibuk mengejar karier. Padahal, rumah mereka memiliki beberapa pelayan. Namun Arslan lebih menyukai masakan buatan istrinya sendiri.
Bakat terpendam Zulfa mulai muncul sejak mengikuti kursus memasak, hidangannya jadi terasa istimewa bahkan, menurut Arslan, tak kalah dari restoran mewah. Tak heran jika hampir setiap hari ia menyiapkan bekal makan siang untuk suaminya, yang selalu enggan makan di luar. Banyak yang bilang bakat memasak Zulfa menurun dari sang ayah, seorang pembisnis kuliner.
Zulfa tersenyum kecil mengingat itu. Namun perlahan, senyum itu memudar.
Pikirannya kembali pada satu hal yang belum mampu ia berikan, yaitu seorang anak. Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir perasaan itu.
Tidak.
Pagi ini ia ingin fokus pada hal-hal baik.
Pada suaminya.
Pada cinta yang masih mereka miliki.
Bagi Zulfa, Arslan adalah pria yang nyaris sempurna. Arslan memiliki pribadi yang sabar, perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Bahkan, ia sering merasa... dirinya tidak cukup pantas untuk pria seperti itu.
Ia bahkan sering membandingkan Arslan dengan aktor favoritnya. Wajah tampannya, postur tinggi tegap, bulu-bulu halus di area rahang yang terawat dan senyum yang memikat.
Ah ... wanita mana yang tak tergoda dengan pria berwajah timur tengah seperti itu?
Arslan memang memiliki darah Turki dari Sang Ibu. Hal ini juga yang membuat Zulfa semakin menyukai drama Turki hingga membuatnya fasih berbahasa Turki. Bahasa yang juga digunakan Arslan untuk mengobrol bersama ibunya atau saudaranya yang masih tinggal di negara tersebut. Lamunannya buyar tatkala aroma masakan yang hampir gosong menyentaknya.
"Astaga..."
Ia buru-buru mengaduk. Tak lama, suara langkah sepatu Arslan terdengar mendekat. Pria itu sudah rapi, kemeja membalut tubuh tegapnya dengan sempurna. Zulfa menoleh dan tersenyum manis.
"Sarapan sudah siap, Tuan."
Arslan duduk sambil tersenyum puas melihat sang istri selalu memperlakukannya bak Raja.
"Nggak rugi ya, aku dapat istri seperti kamu. Serba bisa."
"Serba bisa? memangnya bisa apa aja?" Goda Zulfa, mencoba memancing sesuatu.
Arslan mendekat, menghirup aroma masakan yang masih melekat di tubuh istrinya. Satu matanya berkedip nakal, tangannya meremas pinggang Zulfa dan membuat Zulfa meringis.
"Bisa memuaskan suami."
"Dasar mesum!" Arslan hanya tersenyum, menikmati reaksi istrinya itu.
"Mesum sama istri sendiri kan nggak apa-apa, yang nggak boleh tuh sama istri orang." Kata Arslan menyelingi ucapan dengan candaan.
"Awas aja berani mesum sama istri orang, ku potong angry bird-mu!!" ancam Zulfa sambil memperlihatkan pisau tajam di hadapan suaminya. Sontak kedua tangan Arslan langsung menutup benda tumpulnya di bawah sana.
"Jangan suka main-main sama benda tajam, nanti kalau ada setan lewat, gimana?" keluh Arslan masih terlihat takut kalau istrinya benar-benar memotong angry bird-nya.
"Ya habis kamu duluan yang ngomongnya sembarangan!!" Zulfa menimpali kemudian meletakkan pisau itu di tempat semula.
"Ya udah aku minta maaf, ayo kita sarapan!" ajak Arslan kemudian, berdebat dengan istrinya hanya akan menguras energinya.
"Aku nggak mungkin macem-macem sama istri orang, kalau istri sendiri aja selalu menggoda." Rayu Arslan sambil menggandeng lembut tangan istrinya, hingga menciptakan rona merah di pipi Zulfa. Mereka pun duduk bersama. Zulfa mulai menyajikan makanan, percakapan ringan mengalir hangat. Namun suasana itu perlahan berubah saat Arslan tiba-tiba berkata,
"Sebenarnya... ada hal penting yang ingin aku bicarakan."
Jantung Zulfa berdegup lebih cepat.
"Soal apa?" tanyanya, berusaha tenang namun pikirannya kalut.
"Mama."
Perasaan Zulfa langsung tidak enak. Ia teringat kembali percakapan yang ia tangkap semalam.
"Kenapa dengan mama?" tanya Zulfa pura-pura tidak tau.
Arslan menelan ludah berusaha mengumpulkan keberaniannya. Tangannya terulur menggenggam kedua tangan istrinya.
"Seperti biasa mama selalu desak kita untuk cepat punya anak. Gimana kalau kita progam hamil lagi?"
Zulfa membalas genggaman tangan suaminya, bibirnya tersenyum lebar
"Selama kamu masih support aku, tentu aku masih mau." Di luar dugaan ternyata Zulfa menyambut hangat ajakan suaminya itu, padahal mulanya Arslan takut kalau istrinya belum siap melakukan progam itu lagi setelah beberapa kali mengalami kegagalan.
"Lalu kapan kamu siap untuk progam bayi tabung lagi?" tanya Arslan dengan wajah bahagianya melihat kegigihan sang istri.
"Besok aku akan coba konsultasi lagi dengan dokter."
"Aku tahu ini bukan hal yang mudah buat kamu tapi aku bangga karena kamu nggak pernah takut untuk mencoba lagi, meski hasil akhirnya belum tentu seperti yang kita harapkan." Ucap Arslan lembut
Tatapan sendu pria itu seketika menciptakan genangan haru di mata bulat Zulfa. Ada ketulusan yang begitu jelas terpancar dari sorot matanya, membuat hati Zulfa kembali menghangat di tengah segala luka yang mereka lalui.
Arslan memang selalu seperti itu. Tak pernah lelah menemani istrinya berjuang demi mempertahankan rumah tangga mereka. Baginya, kebahagiaan Zulfa adalah hal yang paling berharga. Terlebih lagi, kehadiran seorang anak merupakan impian terbesar yang sejak lama ingin mereka wujudkan.
***
"Kalau saya lihat dari hasil AMH (anti-mullerian hormone) cadangan sel telur anda masih memungkinkan untuk menjalani program IVF lagi. Hanya saja..." dokter paruh baya itu membetulkan posisi kacamatanya yang sedikit melorot, seolah menimbang kata-kata yang akan ia sampaikan berikutnya.
"Kondisi rahim anda saat ini sudah sangat mengkhawatirkan," lanjutnya hati-hati.
Zulfa mengernyit, sedikit terkejut.
"Mengkhawatirkan bagaimana, dok?" Zulfa mulai terlihat cemas, apalagi tamu bulanannya selalu membuat perutnya sakit hingga keluar darah dengan jumlah yang tak semestinya.
Endometriosis kronis yang dialami Zulfa membuatnya sulit hamil alami, jalan satu-satunya bayi tabung. Meski demikian Zulfa tak pernah menyerah untuk bisa hamil dengan cara itu, walau rasa sakit di perutnya seringkali menyiksanya.
"Sebaiknya anda fokus ke pengobatan dulu. Saya masih perlu melakukan terapi hormon agar rahim anda benar-benar siap untuk mejalani progam hamil lagi."
"Kenapa penyakit ini harus tumbuh lagi, dok? tolong kasih saya solusi lain agar saya bisa segera melanjutkan progam hamil lagi. Dan apa ada kemungkinan saya bisa hamil dengan kondisi seperti ini?" tanya Zulfa parau dengan kecemasan yang melingkupi dada.
"Sejak awal saya sudah menjelaskan, bahwa pengangkatan Endometriosis tidak menjamin dia tidak akan tumbuh kembali. Pada pasien dengan riwayat tersebut kemungkinan tumbuh kembali tetap ada, bahkan dalam waktu yang relatif singkat. Biasanya pertumbuhan ini akan berhenti saat memasuki masa menopause. Meski demikian, kami masih bisa menekan pertumbuhannya dengan terapi hormon. Dalam beberapa kasus pasien penderita endometriosis tetap bisa hamil, tapi tetap perlu penanganan khusus agar pasien tersebut bisa melahirkan dengan sehat dan selamat."
Zulfa menarik napas panjang. "Lalu... bagaimana solusinya, dok? kalau memang harus operasi lagi, saya siap. Yang penting saya bisa punya anak." Dalam diri Zulfa, ia sama sekali tidak takut akan dinginnya ruang operasi dengan berbagai macam alat medis yang siap mengobrak-abrik rahimnya lagi. Baginya di sindir atau di cela karna tak hamil-hamil jauh lebih menyakitkan daripada terkena sayatan pisau operasi.
Dokter Syarif menatapnya dengan raut serius. "Mohon maaf, Nyonya Zulfa. Saya tidak menyarankan operasi ulang. Risiko terhadap cadangan sel telur anda cukup besar. Dari hasil USG terlihat adanya perlengketan pada ovarium Anda, dan itu sangat berisiko. Dalam kondisi normal, di usia anda yang sekarang, cadangan sel telur seharusnya masih cukup baik. Namun, keberadaan endometriosis ini membuat jumlah dan kwalitasnya terus menurun."
Dokter Syarif menjeda ucapannya sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih lembut. "Namun perlu anda ketahui, seperti yang saya jelaskan tadi, tidak semua endometriosis menghambat kehamilan. Dalam banyak kasus banyak juga yang terjadi kehamilan. Ini hanya soal kehendak Yang Maha Kuasa saja."
Zulfa hanya tertunduk. Penjelasan itu logis dan tak ada yang keliru. Namun tetap saja, dadanya terasa sesak, seolah ada beban besar yang menindihnya. Seberapa keras pun ia berusaha, jika Tuhan belum berkehendak, Dia bisa apa? selain hanya berusaha dan berserah, meski rasa sedih itu tetap tak mudah ditahan.
"Lalu bagaimana dok? apa itu artinya saya masih belum bisa melanjutkan progam ini lagi?" suaranya nyaris berbisik, sarat keputusasaan.
"Sebagai solusi terbaiknya, terapi hormon tetap harus dilanjutkan terlebih dahulu untuk menekan pertumbuhan endometriosis agar tidak mengganggu proses progam hamil nanti." jawab dokter Syarif tegas namun tetap hangat.
"Baik kalau begitu, dok. Saya siap menjalani terapi apapun." Ucap Zulfa mantap. Kali ini ia begitu menunjukkan semangatnya untuk siap berjuang lagi.
"Jarang saya menemui pasien segigih anda nyonya, yang tidak mengenal kata menyerah." Puji dokter tersebut. "Semoga kali ini usaha anda berhasil." Lanjutnya memberi semangat.
"Terimakasih dok untuk pujiannya. Semoga dokter juga tidak bosan untuk terus mendampingi saya selama menjalani progam hamil ini." Kata Zulfa.
"Sebagai seorang dokter saya hanya bisa berusaha semaksimal mungkin untuk memberi yang terbaik untuk setiap pasien."
"Baik dok, kalau begitu saya pamit dulu, saya akan coba berbicara dengan suami saya sebelum melanjutkan progam hamil lagi." Zulfa berdiri, menjabat tangan sang dokter, lalu membawa beberapa lembar rekam medisnya—termasuk hasil USG terbaru yang masih terasa berat untuk ia lihat, apalagi di ceritakan.
Sebenarnya, Zulfa belum benar-benar siap untuk kembali menjalani program kehamilan. Lima kali kegagalan bayi tabung meninggalkan luka yang belum sepenuhnya sembuh. Namun, setiap sindiran dari keluarga dan orang sekitar perlahan menumbuhkan tekad dalam dirinya—tekad yang bercampur antara harapan dan tekanan.
Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Arslan belum juga datang.
Padahal mereka sudah berjanji bertemu di rumah sakit. Arslan memintanya datang lebih dulu, lalu menyusul setelah urusannya selesai. Namun hingga kini, sosok itu belum juga terlihat.
Saat pandangannya sibuk menyapu area sekitar, ponselnya berdering.
Nama Arslan tertera di layar. Zulfa segera mengangkatnya.
Dari seberang sana, Arslan meminta maaf. Urusan dengan kliennya belum selesai, dan ia tak bisa menemani Zulfa kontrol hari ini. Zulfa menghela napas pelan, namun tetap berusaha memahami. Ia sudah terbiasa menghadapi semuanya sendiri—ruang tunggu, ruang periksa, hingga mendengar vonis dokter.
Arslan menanyakan hasil pemeriksaan, tetapi Zulfa memilih untuk menceritakannya nanti di rumah. Baginya, ini terlalu pribadi untuk dibicarakan di tempat umum.
Sesampainya di rumah, Zulfa duduk termenung di taman belakang. Di hadapannya, kolam renang membentang tenang, memantulkan cahaya sore yang redup.
Di tangannya, lembar demi lembar rekam medis kembali ia buka.
Hingga akhirnya, pandangannya berhenti pada satu gambar.
Berwarna hitam putih, kecil, rapuh. Namun pernah hidup. Dia adalah embrio miliknya yang telah lama gugur dalam rahimnya. Air mata Zulfa jatuh tanpa permisi. Kejadian beberapa bulan silam kembali berputar di otaknya.
"Kenapa dulu kamu nggak bertahan di rahim mama, nak?" bisiknya lirih.
"Apa rahim mama nggak cukup nyaman buat kamu hidup? atau memang kamu belum mau hadir di perut mama?" tangisnya pun pecah.
"Maaf ya... kalau tubuh mama ini penuh kekurangan ... "
Kesedihan lama kembali menyeruak, menghantamnya tanpa ampun. Pertanyaan demi pertanyaan berputar di kepalanya—tentang kesiapan, tentang harapan, tentang tekanan dari semua orang.
Tentang Arslan.
Tentang keluarganya.
Tentang dirinya sendiri.
Ia merasa lelah.
Sangat lelah.
Zulfa sudah mengorbankan banyak hal, bahkan meninggalkan kariernya demi satu harapan—memiliki anak. Namun hingga kini, harapan itu masih terasa jauh. Pernah ada yang mengatakan semua ini akibat dosa-dosanya terlalu banyak. Dosa apa? selama ini Zulfa selalu menjadi anak yang baik, anak yang berbakti dan taat pada orang tua, dan menjadi istri yang selalu di sayang suami.
Zulfa menutup mata rapat. Tidak.
Ia menolak mempercayai itu. Ujian bukan tentang hukuman, tapi tentang seberapa kuat seseorang bertahan dan seberapa ikhlas mereka menjalani takdirnya.
Itulah yang selalu Arslan katakan untuk menenangkannya. Dan untuk itu, Zulfa selalu bersyukur memiliki suami seperti Arslan—yang selalu berdiri di sisinya, melindunginya dari luka, dan merangkulnya saat ia hampir runtuh.
***
Suara mobil Arslan terdengar, dari caranya memarkirkan mobil, Arslan terlihat terburu-buru. Ia memanggil salah satu pelayan di rumahnya dan menanyakan keberadaan istrinya. Lalu langkah Arslan bergerak menuju taman belakang tempat sang istri berada.
Langkahnya terhenti saat menatap wanitanya yang sedang menangis sambil memegang kertas kecil yang ia kenal. Dia sedang meratapi embrio-nya yang telah lama gugur. Arslan tak akan pernah bisa melupakan reaksi istrinya saat progam IVF-nya selalu gagal. Dan itu turut membuat hatinya juga terluka.
"Maaf ya, Sayang ... aku terlambat." Suara Arslan membuyarkan lamunannya.
Zulfa buru-buru menghapus air matanya dan merapikan berkas di pangkuannya.
Arslan mendekat, lalu berjongkok di hadapannya, menatap wajah istrinya dengan penuh perhatian.
"Pasti hasilnya nggak sesuai harapan, ya?" ucapnya lembut.
"Sampai kamu kelihatan sesedih ini..."
Seberapa pun Zulfa berusaha menyembunyikan luka di hatinya, Arslan selalu bisa melihatnya.
"Dokter menyarankan agar aku lebih fokus melakukan pengobatan terlebih dahulu. Baru bisa memulai progam lagi." Arslan menyapu air mata yang tiba-tiba menetes di pipi sang istri.
"Kalau memang itu yang harus dilakukan ya lakukan saja. Aku juga nggak tega liat kamu sering kesakitan tiap kali datang bulan, lebih baik kita fokus dengan sesuatu yang lebih penting, yaitu kesehatan kamu."
Suara Arslan terdengar parau. Ia menjadi merasa bersalah karna ucapannya kemarin membuat istrinya jadi bersedih. Ini semua karna sang ibu. Arslan sudah berikrar dalam hatinya bahwa ia tidak akan pernah menuruti permintaan ibunya itu. Arslan akan terus berjuang memiliki anak bersama istrinya, tetapi tidak dengan mengorbankan kesehatan istrinya.
"Bagaimana kalau kita pindah dokter saja?"
Ditengah kegalauan Arslan, tiba-tiba Zulfa mencetuskan ide tak terduga.
***
"Pindah dokter?" Arslan mengulang pertanyaan itu, menatap istrinya lekat.
"Iya, pindah dokter. Aku rasa ini keputusan terbaik untuk kita." Zulfa mengangguk, berusaha terdengar yakin.
"Bukannya selama ini kamu selalu merasa cocok dengan dokter Syarif. Lagi pula, mau cari ke mana lagi? beliau dokter fertilitas terbaik di kota ini. Rumah sakit yang sering kita datangi juga yang terbaik."
"Yang terbaik menurut orang lain belum tentu yang terbaik untuk kita." Nada suara Zulfa melembut, tapi tegas.
"Aku butuh second opinion. Siapa tahu ada dokter lain yang lebih berani mengambil tindakan lain, supaya aku bisa segera memulai program hamil."
Zulfa menahan napas sejenak, menumpahkan isi hatinya yang selama ini tertahan. Sebenarnya, ia hanya ingin ditangani oleh seorang dokter yang lebih tepat dalam memahami kondisinya. Tidak semua pasien berhasil di tangan dokter yang sama, bukan? Bisa saja takdirnya menjadi ibu justru datang lewat perantara dokter lain.
Arslan meraih jemari Zulfa yang dingin, menggenggamnya erat. Senyum tipis terukir di bibirnya.
"Aku nggak ngoyo punya anaknya kok," ucapnya lembut. "Lebih baik kita turuti saja saran dokter Syarif yang menyuruhmu untuk fokus menjalani pengobatan. Ini semua juga demi kebaikan dan kesehatan kamu."
"Tapi aku tetap butuh second opinion. Aku nggak mau kita terpaku pada satu dokter saja." Zulfa menatapnya lurus, tak memberi celah untuk dibantah. Arslan menghela napas pelan.
"Ya sudah, terserah kamu. Yang penting kamu nyaman ngejalaninya. Aku nggak mau memaksakan apa pun. Buatku, yang paling penting kesehataanmu."
Senyum Zulfa mengembang, hangat.
"Oh iya, aku bawa sesuatu buat kamu." Arslan menyodorkan sebuah goodie bag berisi kotak makanan.
Mata Zulfa langsung berbinar ketika Arslan membawa makanan favoritnya.
"Wah... roll cake cokelat!"
"Kamu tahu aja kalau aku lagi butuh yang manis-manis," katanya sambil menyuap roll cake yang sudah di potong-potong oleh Arslan.
"Ya jelas tahulah, Kamu pasti lagi sedih hari ini. Jadi ku bawakan aja roll cake coklat ini. Karna katanya coklat itu bisa menaikkan mood seseorang, loh." goda Arslan.
Zulfa tertawa kecil, lalu balas menyuapi suaminya. Mereka larut dalam momen sederhana yang hangat. Namun senyum itu perlahan memudar.
"Kadang aku mikir rumah sebesar ini kerasa capek kalau cuma dihuni berdua."
Arslan mengernyitkan dahinya. "Aku kan nggak pernah nyuruh kamu beres-beres rumah. Kenapa capek?"
"Harusnya sekarang kamu lebih tenang karena udah nggak capek kerja lagi. Nggak perlu pulang kemalaman terus sampai lupa kalau di rumah masih ada suami yang butuh perhatian..." Arslan berhenti sejenak, lalu menyunggingkan senyum nakal, "... yang kadang juga butuh dijatah."
Seketika Zulfa menyikut perutnya.
"Aduh!" Arslan mendesis dramatis.
"Kamu ini nggak bisa diajak serius, ya. Pake bahas begituan!" Zulfa mendengus lalu melanjutkan ucapannya, "lagian kapan aku pernah nolak permintaanmu yang suka ngajak perang di ranjang?" Zulfa menyentak sambil mengedikan dagu.
"Ya habis kamu ngomongnya aneh. Kita ini nggak tinggal berdua aja. Ada banyak pelayan disini. Kamu pikir mereka semua Ghoib?"
"Ih, kamu ko' nggak paham maksudku!" Zulfa menatapnya kesal.
"Maksudku... rumah besar tanpa suara anak kecil itu terasa kosong. Sepi."
Arslan terdiam sejenak, lalu tersenyum. "Kalau mau ramai, kita undang aja anak-anak yatim kita ke sini. Biar mereka berenang dan main di taman, pasti langsung rame rumahnya."
Zulfa hanya menghela napas panjang frustasi, merasa percuma menjelaskan panjang lebar.
"Iya, aku paham kok maksud kamu." Arslan akhirnya merengkuh pundaknya. "Aku cuma nggak mau kamu larut dalam kesedihan."
"Kamu jangan terlalu banyak overthinking. Akan ada waktunya kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Kita jalani saja dengan sabar dan ikhlas... sampai Tuhan mengabulkan doa kita." Arslan mendekap tubuh istrinya lebih erat.
"Aku nggak bisa bayangin kalau suatu hari kamu diambil orang. Siapa yang nenangin aku kalo aku lagi galau gini?" suara Zulfa melemah.
Arslan langsung melepaskan pelukannya, menangkup dagu sang istri. "Kamu ini ngomong apa, sih? Siapa emang yang berani merebut aku dari seorang Zulfa Azra?"
Arslan terkekeh kecil, teringat satu kejadian.
"Istriku ini kan paling pinter ngejaga suaminya."
Lalu Zulfa ikut tertawa. "Ya jelaslah, suami kayak kamu itu limited edition, harus dijaga!" Zulfa menjepit hidung bangir Arslan dengan dua jarinya.
"Iya, tapi jangan galak-galak juga seperti waktu itu."
Mereka saling pandang, lalu tawa mereka pecah saat kenangan itu kembali muncul.
Seketika Arslan tertawa kecil mengingat-ingat kejadian dulu yang begitu galak-nya Zulfa menghina salah satu klien wanitanya yang secara terang-terangan berani menggoda dirinya di depan banyak orang.
Saat itu, Zulfa datang ke kantor Arslan untuk mengantarkan makan siang. Namun langkahnya terhenti ketika melihat seorang wanita berpakaian terlalu seksi untuk di lingkungan kerja. Rasa curiga langsung menyelinap. Setelah bertanya ke resepsionis, ia tahu wanita itu adalah klien suaminya. Entah kenapa firasatnya langsung tak enak. Zulfa mencium aura-aura pelakor dan pergundikan pada wanita itu. Zulfa pun tak bisa tinggal diam.
Zulfa langsung mengikuti wanita itu hingga ke ruang kerja Arslan. Dari celah pintu, Zulfa melihat ada beberapa rekan kerja Arslan disana yang tak berkedip menatap wanita berdada besar itu lewat. Zulfa tau wanita seperti itu bukanlah tipe suaminya, namun Zulfa merasa gemas saat dirinya mengetahui kalau wanita itu mulai menggoda suaminya. Zulfa melihat dengan jelas bagaimana wanita itu berusaha mendekat bahkan terlalu dekat dengan suaminya hingga membuat Zulfa merasa geram.
Tanpa pikir panjang, Zulfa masuk ke ruangan yang sedang melakukan rapat dadakan. Mereka yang berada di dalam sana sama sekali tidak terkejut dengan kehadiran Zulfa, sebab mereka sudah paham kalau istri bos-nya itu selalu datang di jam-jam makan siang. Hanya satu orang saja yang terlihat tidak nyaman dengan kehadiran Zulfa, yaitu wanita seksi tadi.
Zulfa yang berpakaian tertutup dengan paras cantiknya melirik sinis ke arah wanita yang sedang duduk berdampingan dengan suaminya. Arslan mungkin tak menyadari kalau dirinya sedang di goda akan tetapi mata elang Zulfa mampu menangkap moment laknat itu ketika wanita berambut pirang itu sibuk menggeser-geser kursi berodanya agar bisa lebih dekat dengan suaminya.
"Maaf mengganggu. Saya cuma mau mengantarkan makan siang untuk suami saya tercinta." begitu kata Zulfa.
Zulfa berjalan mendekati Arslan, dengan beraninya Zulfa menggeret kursi Arslan agar menjauh dari si wanita seksi itu. Melihat tingkah Zulfa yang lucu membuat beberapa orang di ruangan itu menahan senyum. Sudah bukan rahasia umum kalau istri bosnya ini memang sedikit cemburuan.
"Tolong jangan duduk terlalu dekat dengan suami saya," ujar Zulfa tanpa basa-basi membuat wanita yang diketahui bernama Laura itu nampak kikuk.
"Maaf, saya tidak tahu kalau Pak Arslan sudah menikah." Zulfa tersenyum tipis, lalu menunjuk foto di sudut ruangan.
"Foto sebesar itu nggak kelihatan?"
Zulfa berdiri di samping foto yang di tunjuk tadi. "Di foto itu Arslan nggak cuma sendiri loh!! Ada saya juga. Masa nggak mirip?" Lagi-lagi tingkah Zulfa membuat orang-orang yang ada disana ingin meledakan tawanya namun terpaksa di tahan, pun Arslan yang juga berusaha keras untuk tidak tertawa.
Dan wanita itu membalas ucapan Zulfa dengan nada sengit, "saya ke sini untuk urusan bisnis, bukan untuk melihat-lihat design interior ruang kerja Pak Arslan, apalagi harus memperhatikan foto itu, karna menurut saya itu sangat tidak penting."
Zulfa menatap tajam. "Jadi kamu anggap mendekati pria beristri itu sesuatu yang nggak penting!!" Dan tiba-tiba pertanyaan tak terduga keluar dari bibir Zulfa, " Udah berapa kali jadi Gundik?"
Seketika ucapan sarkas Zulfa membuat bola mata Arslan melebar sempurna, Arslan terkejut. Kobaran api yang menyala-nyala seolah terlihat ditubuh sang istri. Arslan tau kalau istrinya sedang cemburu. Arslan mencoba mencairkan suasana yang sudah menegang, tetapi emosi Zulfa sudah terlanjur tersulut membuat Arslan tak bisa lagi menghadang istrinya.
"Sayang, lebih baik kamu pulang dulu, ya. Aku sedang rapat nanti aku usahain pulang cepat." Ucap Arslan kepada sang istri, namun Laura yang sedang meradang menyela percakapan mereka.
"Apa anda tidak punya etika dalam berbicara?" Laura marah sambil menjulurkan jarinya di wajah Zulfa.
"Apa anda juga tidak punya etika dalam berpakaian di lingkungan kerja?" Zulfa balik bertanya dengan wajah tak kalah sengit.
"Apa yang saya pakai bukan urusan anda!!"
"Tentu saja ini menjadi urusan saya kalau tujuan Anda untuk menggoda suami saya. Memang saya nggak tau kalau dari tadi Anda mencoba mendekati suami saya terus." Kata Zulfa santai. Arslan yang mendengar percekcokan itu merasa tidak enak dengan orang-orang yang ada di ruangannya. Ia sampai menggaruk-garuk tengkuknya yang tak terasa gatal.
"Pak Arslan tolong didik istri Anda untuk bersikap sopan!! saya jadi nggak mood mau bahas masalah kerjaan sekarang. Mungkin saya akan cancel rencana saya untuk kerjasama dengan perusahaan Anda. Karna saya sangat tidak nyaman dengan orang ini." Jemari Laura mengarah pada Zulfa dengan tatapan mendelik tajam hingga bola matanya nyaris keluar.
"Kalau mau pergi, pergi aja!! nggak usah pake ngancem-ngancem segala. Kehilangan satu klien nggak akan buat suami saya miskin!!" Ucap Zulfa seraya bersidekap acuh.
"Sombong sekali anda, mentang-mentang punya suami Millionaire!!"
"Oiya dong!! saya harus sombong di depan perempuan seperti kamu!! Supaya lebih tau diri!!"
Laura semakin tak tahan dengan sikap kasar Zulfa yang sudah menginjak-injak harga dirinya di depan banyak orang. Bahkan tangan wanita itu begitu gatal ingin sekali menampar pipi mulus Zulfa dan menjambak rambut Zulfa yang tertutup jilbab. Tapi perbuatan itu tentu tak bisa Laura lakukan, sebab ia takut kalau sampai Ayahnya yang mempercayakan urusannya kepadanya akan marah jika mengetahui perbuatannya. Lagipula ia juga tidak punya hak untuk menggagalkan bisnis ini, sebab Ayahnya sangat membutuhkan Arslan. Itu sebabnya Arslan nampak biasa-biasa saja saat Laura mengancamnya.
Kembali ke masa kini. Arslan menggeleng sambil tersenyum.
"Kejadian itu... nggak akan pernah aku lupa."
Zulfa ikut tersenyum kecil. Di balik sikap galaknya, ada satu hal yang Arslan pahami—istrinya mencintainya sepenuh hati. Dan inilah alasan terbesar Arslan tak pernah ingin kehilangan Zulfa.
Sebisa mungkin Zulfa akan berusaha agar tidak ada wanita manapun yang berani merebut suaminya. Apalagi sampai menyuruh suaminya berselingkuh atau menikah lagi. Sekalipun ibu mertuanya sendiri yang harus ia hadapi.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!