Indonesia
NovelToon NovelToon

Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Bab 1 #NEKAT

​Denting bas yang berdentum rendah dari tata suara kelas atas klab malam Heaven seolah bergetar selaras dengan detak jantung Zevanya Anneliza Sanjaya. Di bawah siraman lampu neon ultra-violet yang berganti warna dari ungu pekat ke biru safir, dunia terasa melambat. Tidak ada tumpukan buku tebal, tidak ada revisi bab tiga yang dicoret-coret tinta merah oleh dosen pembimbing, dan yang paling penting, tidak ada aturan kaku dari kediaman Sanjaya. Malam ini, gadis yang kerap di sapa dengan sebuatan Anya itu, bukan mahasiswi tingkat akhir yang tercekik tenggat waktu. Malam ini, dia adalah dirinya sendiri.

​Anya memejamkan mata sesaat, membiarkan rambut panjang kecokelatannya yang bergelombang indah terayun bebas mengikuti ritme musik house yang menghipnotis. Helai-helai rambutnya yang berkilau tampak kontras dengan kulit putih mulusnya yang tanpa noda, seolah memantulkan cahaya temaram di dalam ruangan eksklusif tersebut. Setiap gerakan tubuhnya adalah definisi dari keanggunan yang berpadu dengan keberanian. Malam ini, dia sengaja memilih mini dress ketat berwarna hitam berbahan sutra satin yang membungkus sempurna lekuk tubuh indahnya yang proporsional. Gaun itu mengekspos bahu tegasnya dan mempertegas pinggangnya yang ramping, menciptakan siluet yang membuat beberapa mata di sekitar lantai dansa tak mampu berpaling.

​Bagi Anya, gaun ini adalah simbol kemerdekaan kecil. Di rumah, papanya tidak akan pernah mengizinkannya memakai pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuh seberani ini. Namun di sini, di bawah perlindungan malam, dia merasa memegang kendali penuh atas dirinya sendiri. Bahkan sepasang heels hitam setinggi 9 sentimeter yang mengikat pergelangan kaki rampingnya sama sekali tidak mengurangi kelincahan gerakan tubuhnya. Anya bergerak dengan penuh percaya diri, seolah lantai dansa ini adalah wilayah kekuasaannya.

​"Anya! Gila, kamu seksi banget malam ini! Mikirin materi skripsi benar-benar bikin otakmu meledak ya?" teriak Alena di telinganya, berusaha mengalahkan dentuman musik yang menggelagar. Alena, gadis cantik dengan rambut pendek potongan bob dan gaun peraknya, bergerak heboh di samping Anya, memegang segelas minuman dengan tawa lepas.

​Di sisi lain, Bella yang juga tidak kalah cantik dari Anya dan Alena ikut mendekat, mengibaskan rambut hitamnya yang dikuncir kuda. "Biarkan saja! Dia sudah satu bulan mengurung diri di kamar bagai perawan tua demi skripsi sialan itu! Malam ini kita harus merayakannya!" Bella berteriak sambil mengangkat kedua tangannya ke udara, ikut tenggelam dalam euforia malam.

​Anya tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar jernih bahkan di tengah kebisingan. Dia mencondongkan tubuhnya ke arah kedua sahabat karibnya itu. "Lupakan tugas kampus membosankan itu! Malam ini jangan ada yang berani menyebut kata revisi atau sidang, atau aku akan mencekik kalian dengan tali tas ku!" seru Anya dengan nada bercanda, matanya berbinar jenaka.

​Untuk bisa berdiri di sini, Anya harus memutar otak dua kali lipat. Tadi sore, dengan wajah paling polos dan meyakinkan yang bisa dia pasang, dia berpamitan kepada papanya, Tito Sanjaya. Dia beralasan akan menginap di apartemen Alena untuk diskusi kelompok dan menyelesaikan bab skripsi yang tertunda. Tito Sanjaya, yang sangat menyayangi putri tunggalnya itu, langsung mengizinkan tanpa curiga, bahkan sempat mengecup kening Anya sambil berpesan agar tidak tidur terlalu larut.

​Maafkan Anya, Pa. Tapi Anya butuh napas, batinnya malam itu saat melangkah keluar rumah. Nyatanya, begitu sampai di apartemen Alena, mereka bertiga langsung berganti pakaian, memulas riasan wajah yang lebih berani, dan melesat ke Heaven, klab malam paling eksklusif yang hanya bisa dimasuki oleh kalangan tertentu.

​Anya meneguk sisa minuman manis di gelasnya, membiarkan cairan dingin itu membakar tenggorokannya dengan lembut. Dia kembali berputar, menikmati kebebasan yang sudah lama dirindukannya. Lekuk tubuhnya yang indah bergerak sensual namun tetap berkelas, memancarkan pesona magnetis yang alami.

​Namun, kesenangan Anya tidak berlangsung lama.

​Saat Anya memutar tubuhnya ke arah pintu masuk utama lantai dansa, matanya yang tajam menangkap pergerakan dua pria bertubuh tegap di dekat barisan sofa VIP bawah. Mereka mengenakan setelan jas hitam rapi yang terlalu kaku untuk suasana klab malam. Wajah mereka dingin, mata mereka bergerak waspada memindai kerumunan orang.

​Jantung Anya seketika mencelos seolah jatuh ke lantai. Musik yang berdentum keras tiba-tiba terasa senyap di telinganya.

​"Sial," umpat Anya lirih.

​Itu adalah mereka. Dua orang kepercayaan papanya, gorila-gorila kekar yang biasanya berjaga di gerbang rumah Sanjaya. Tito Sanjaya ternyata tidak sepenuhnya melepaskan pengawasannya. Papanya yang terlalu protektif itu diam-diam mengirim mata-mata untuk memastikan apakah putrinya benar-benar belajar atau justru keluyuran.

​"Anya, ada apa?" Bella menyadari perubahan drastis pada ekspresi wajah sahabatnya.

​Anya tidak menoleh, matanya tetap terpaku pada dua pengawal yang mulai berjalan membelah kerumunan, bergerak tepat ke arah lantai dansa di mana dia berada.

​"Gorila Papa," bisik Anya dengan nada panik yang tertahan. "Dua orang itu mencariku. Mereka ke sini."

​Alena dan Bella langsung menegang, ikut melirik ke arah yang ditunjuk oleh tatapan mata Anya. "Hah? Serius? Waduh, kalau kamu tertangkap, kita berdua juga bisa habis diamuk Om Tito!" bisik Alena panik.

​"Aku harus sembunyi, kalian selamatkan diri! Tunggu aku di parkiran, jangan sampai mereka melihat kalian bersamaku!" perintah Anya cepat. Tanpa menunggu jawaban dari kedua sahabatnya, Anya langsung berbalik, memanfaatkan tubuh rampingnya untuk menyelip di antara kerumunan orang yang sedang berdansa.

​Anya berjalan cepat, setengah berlari, mengabaikan rasa sakit yang mulai menggigit ujung jarinya akibat heels 9 sentimeter yang dikenakannya. Dia menoleh ke belakang sekilas dan melihat kedua pengawal itu mempercepat langkah mereka, menyadari bahwa target mereka sedang berusaha melarikan diri.

​"Aduh, lewat mana ini..." gumam Anya panik. Koridor lantai bawah terlalu terbuka. Satu-satunya jalan adalah menaiki tangga menuju area VIP lantai dua yang lebih sepi dan memiliki banyak belokan koridor privat.

​Dengan napas yang mulai memburu, Anya menaiki anak tangga satu per satu, tangannya mencengkeram pembatas besi. Gaun hitam ketatnya sedikit membatasi langkah besarnya, namun ketakutan akan tertangkap oleh pasukan papanya memberi Anya adrenalin tambahan. Begitu sampai di lantai dua, suasananya berubah drastis. Musik di sini terdengar lebih teredam, menyisakan koridor panjang berkarpet beludru merah dengan pintu-pintu kayu berukir emas, ruangan VIP eksklusif untuk para konglomerat.

​Anya menoleh ke belakang dan melihat bayangan salah satu pengawal papanya baru saja mencapai puncak tangga. Pria itu menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari keberadaannya.

​Panik dan terpojok, Anya tidak punya waktu untuk memilih. Dia meraih knop pintu terdekat yang berada di ujung koridor gelap. Beruntung, pintu itu tidak dikunci. Dengan gerakan secepat kilat, Anya menyelinap masuk dan langsung menutup kembali pintu kayu tebal itu.

Klap...

​Anya menyandarkan punggungnya pada daun pintu, mengembuskan napas panjang yang gemetar. Dadanya naik turun tidak beraturan. Dia memejamkan mata, mendengarkan dengan saksama suara dari luar. Terdengar langkah kaki berat yang melintas di depan pintu tempatnya bersembunyi, lalu perlahan menjauh. Anya mendesah lega. Untuk sementara, dia aman.

​Namun, kelegaannya hanya bertahan beberapa detik. Sebuah deham berat dan dingin memecah keheningan ruangan tersebut, membuat bulu kuduk Anya meremang.

​"Siapa yang mengizinkanmu masuk?"

​Anya tersentak dan langsung membuka matanya. Dia baru menyadari bahwa ruangan VIP ini tidak kosong. Ruangan itu cukup luas, didominasi oleh interior mewah berwarna gelap dengan pencahayaan yang sangat minim, hanya menyisakan sorot lampu temaram dari sudut ruangan.

​Di tengah ruangan, di atas sofa kulit hitam yang besar, duduk seorang pria.

​Anya terpaku sesaat. Pria itu memiliki visual yang luar biasa tampan dengan rahang tegas yang bersih tanpa jambang sedikit pun, memberikan kesan rapi, berkelas, sekaligus angkuh. Rambut hitamnya tertata rapi, dan dia mengenakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang dibiarkan terbuka, menampakkan tulang selangkanya yang kokoh. Jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya berkilau samar terkena cahaya minimalis. Aura kemapanan, kekuasaan, dan dominasi yang nyata terpancar dari setiap jengkal tubuh pria itu. Dia sedang memegang sebuah gelas kristal, menatap Anya dengan sepasang mata elang yang dingin dan menusuk.

​Bara Fernandez. Pria itu sedang menikmati ketenangannya yang terusik. Dia menatap wanita asing di depannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapan Bara berhenti sejenak pada gaun hitam ketat yang mengekspos kulit putih dan lekuk tubuh indah wanita itu, lalu beralih ke wajah cantik Anya yang tampak terengah-engah.

​Bara mendengus sinis. Dia sudah terlalu sering menghadapi situasi seperti ini. Wanita-wanita cantik yang sengaja menyelinap ke ruang pribadinya, berpura-pura tersesat atau butuh pertolongan, hanya untuk menggoda dan mendekatinya demi uang dan statusnya sebagai seorang Fernandez.

​"Pergi," ucap Bara dengan suara baritonnya yang berat, terdengar mutlak dan tidak menerima bantahan. "Aku menyewa ruangan ini bukan untuk berbagi denganmu."

​Anya mengerjapkan mata, sedikit terkejut dengan sambutan dingin yang diterimanya. Biasanya, pria akan dengan senang hati menyambut kehadirannya. Namun pria di depannya ini menatapnya seolah dia adalah seonggok sampah yang mengotori ruangan indahnya.

​"Maaf, Tuan," kata Anya, berusaha mengatur suaranya agar terdengar sehalus dan sesopan mungkin, berharap pria tampan ini punya sedikit rasa iba. "Saya tidak bermaksud tidak sopan. Saya hanya butuh bersembunyi di sini sebentar saja. Ada orang yang mengejar saya di luar. Tolong, biarkan saya tinggal di sini beberapa menit saja sampai mereka pergi."

​Bara sama sekali tidak tergerak oleh wajah memelas Anya. Dia justru meletakkan gelas kristalnya ke atas meja dengan ketukan yang cukup keras, menimbulkan bunyi yang mengintimidasi di dalam keheningan.

​"Aku tidak peduli apa masalahmu di luar sana," sahut Bara dingin, matanya menatap Anya dengan tatapan merendahkan. "Trik seperti ini sudah basi. Keluar dari sini sekarang sebelum aku memanggil pihak keamanan untuk menyeretmu keluar."

​Anya menggigit bibir bawahnya. Sialan, pria ini benar-benar keras kepala dan tidak punya hati. Anya melirik ke arah pintu di belakangnya melaui celah kaca kecil yang samar. Di luar koridor, dia bisa melihat bayangan salah satu pengawal papanya kembali berjalan memutar, tampaknya curiga bahwa Anya bersembunyi di salah satu ruangan VIP.

​Jika dia keluar sekarang, dia akan langsung tertangkap. Kebebasannya akan berakhir, dia akan diseret pulang, skripsinya akan diawasi 24 jam, dan yang paling parah, dia tidak akan pernah diizinkan keluar rumah lagi oleh Tito Sanjaya.

​Anya kembali menatap Bara. Pria itu sudah meraih ponselnya, bersiap untuk menghubungi resepsionis klab untuk mengusirnya.

​Tidak. Aku tidak boleh tertangkap, batin Anya nekat. Adrenalinnya melonjak drastis, memicu sisi pemberontak di dalam dirinya yang selama ini ditekan.

​Melihat Bara yang mengabaikannya dan mulai menempelkan ponsel ke telinganya, Anya mengambil langkah besar yang berani. Dengan gerakan yang sangat cepat dan tak terduga, Anya menerjang maju. Langkah kakinya yang jenjang di atas heels 9 sentimeter itu membawanya langsung ke hadapan Bara dalam hitungan detik.

​Sebelum Bara sempat bereaksi atau mengucapkan satu kata pun di ponselnya, Anya sudah menjatuhkan dirinya, naik ke atas pangkuan pria itu.

​Bara tertegun, matanya melebar sesaat karena terkejut ketika tubuh ramping dan hangat Anya tiba-tiba duduk di atas paha kokohnya. Aroma parfum yang manis dan memabukkan dari tubuh Anya langsung menyeruak, memenuhi indra penciuman Bara. Sebelum Bara sempat mendorong tubuh wanita lancang itu menjauh, Anya sudah melingkarkan kedua lengan rampingnya di sekeliling leher Bara, mengunci pergerakannya.

​Anya menatap lurus ke dalam manik mata hitam milik Bara yang sedalam lautan. "Sorry," bisik Anya lirih, tepat di depan bibir pria itu.

​Dan tanpa permisi, Anya mencondongkan wajahnya, membungkam bibir dingin pria asing itu dengan sebuah ciuman panas.

Cup...

Bab 2 #Ciuman Gratis

​Sentuhan mendadak itu mengirimkan sengatan listrik yang asing sekaligus panas ke seluruh saraf Bara Fernandez. Bibir Anya yang lembut, hangat, dan beraroma manis buah ceri menempel sempurna di atas bibirnya yang kaku. Bara menegang di tempatnya, matanya sempat melebar sekejap karena terkejut. Sepanjang hidupnya memegang kendali penting di perusahaan raksasa Fernandez Corp, tidak pernah ada satu pun wanita seberani atau senekat apa pun mereka yang berani menyentuhnya tanpa izin. Apalagi menerjang masuk ke ruang pribadinya, melompati batas kewajaran, lalu naik ke pangkuannya dan membungkamnya seperti ini.

​Awalnya, ego dan harga diri Bara memberontak. Tangan kokohnya bergerak naik, berniat mencengkeram bahu wanita ini dan mendorong tubuh rampingnya hingga terjatuh ke lantai tanpa ampun. Namun, cengkeraman tangan Anya di belakang lehernya terasa begitu erat dan bergetar, seolah gadis itu sedang mempertaruhkan seluruh hidupnya pada ciuman ini. Bersamaan dengan itu, mata elang Bara menangkap sebuah pergerakan di balik kaca buram pintu VIP-nya melalui sudut matanya. Dua siluet pria berjas tegap tampak berhenti tepat di depan pintu, mencoba mengintip ke dalam ruangan yang remang-remang.

​Bara yang cerdas langsung paham dalam satu detik. Wanita di pangkuannya ini tidak sedang menjalankan trik murahan untuk menggodanya, dia memang sedang melarikan diri dan menjadikannya sebagai tameng hidup.

​Anya, yang jantungnya berpacu gila-gilaan antara ketakutan setengah mati tertangkap oleh pengawal papanya dan keberanian nekat yang meluap-luap, mulai memperdalam kecupannya. Dia menggerakkan bibirnya dengan sedikit canggung namun intens, berusaha menciptakan ilusi visual yang sempurna bagi siapa pun yang melihat mereka dari luar, sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara di dalam klab malam. Kulit putih mulusnya yang tanpa noda tampak begitu kontras saat bergesekan dengan kemeja putih Bara, menciptakan pemandangan yang luar biasa sensual di bawah temaram lampu ruangan.

​Bara yang awalnya pasif, perlahan merasakan ada sesuatu yang tersulut di dalam dirinya. Aroma parfum yang manis dan memabukkan dari tubuh Anya yang bergerak di pangkuannya mulai mengacaukan fokusnya. Sifat alpha dan dominannya yang biasanya selalu terkontrol mendadak terusik oleh kelancangan gadis ini. Alih-alih mendorongnya menjauh, tangan kokoh Bara yang bebas justru bergerak lambat, hinggap di pinggang ramping Anya yang terbalut gaun satin hitam, menahan tubuh gadis itu agar tidak terjatuh sekaligus mengunci posisinya agar semakin merapat pada dekapannya. Sentuhan tangan Bara yang panas di pinggangnya membuat Anya terkesiap kecil di tengah ciuman mereka, memberikan celah bagi Bara untuk membalas kecupan itu dengan tekanan yang menuntut, mengambil alih kendali permainan yang dimulai oleh Anya.

​Di luar pintu, kedua pengawal Tito Sanjaya akhirnya mengalihkan pandangan mereka. Merasa tidak sopan jika harus mengganggu privasi salah satu petinggi atau tamu kelas atas yang sedang asyik dengan wanitanya, kedua pria tegap itu akhirnya melangkah pergi memutar, menjauh dari koridor VIP tersebut.

​Begitu menyadari bayangan di balik pintu sudah benar-benar menghilang, Anya langsung memutus pautan bibir mereka secara sepihak. Dia terengah-engah, dadanya yang terbalut gaun hitam ketat naik turun dengan cepat demi meraup pasokan oksigen yang sempat menipis. Wajahnya yang putih mulus kini merona merah padam, campuran antara efek ciuman panas tadi dan kesadaran murni atas kenekatannya yang di luar nalar.

​Anya segera bergerak, hendak turun dari pangkuan kokoh Bara dengan gerakan tangkas. Namun, sebelum kedua kakinya yang ditopang heels 9 sentimeter itu menyentuh lantai sepenuhnya, pergelangan tangannya dicekal dengan sangat kuat oleh jemari Bara. Cengkeraman itu tidak menyakitkan, namun begitu mengikat dan mustahil untuk dilepaskan.

​Bara Fernandez tetap duduk tenang di sofanya, bersandar dengan angkuh sembari mengusap sudut bibirnya yang basah menggunakan ibu jari tangan yang lain. Mata tajamnya menatap Anya dengan kilat intens yang mengintimidasi. Aura kemapanan dan kekuasaannya kembali menyelimuti ruangan, membuat atmosfer di sekitar mereka terasa begitu berat dan pekat.

​"Lepaskan," desis Anya, berusaha menarik tangannya, namun Bara justru menariknya sedikit lebih dekat hingga jarak wajah mereka kembali mengikis.

​Bara mendengus sinis. Suaranya kini terdengar lebih rendah, serak, dan berbahaya di dalam keheningan ruang VIP. "Setelah apa yang kamu lakukan, kamu pikir bisa pergi begitu saja dari sini?"

​Bara menatap wanita di hadapannya dengan tatapan menilai yang dingin. Di matanya, Anya adalah perpaduan antara kecantikan yang mematikan dan kelancangan yang tak termaafkan. Gaun hitam ketat yang membungkus lekuk tubuh indahnya menunjukkan bahwa wanita ini tahu betul bagaimana cara menarik perhatian pria. Bara sudah terlalu sering menghadapi wanita yang rela melakukan apa saja demi mendekatinya, demi uang, atau demi posisi di lingkaran keluarga Fernandez.

​"Katakan padaku," lanjut Bara, nadanya meremehkan namun penuh penekanan yang menusuk. "Apa maumu? Uang? Atau apa? Berapa nominal yang kamu butuhkan sampai kamu harus menjual drama murahan seperti ini dan menggunakan caramu yang... tidak sopan ini untuk menjebakku?"

​Mendengar tuduhan itu, ego Anya seketika tersengat. Rasa takutnya pada pengawal sang papa mendadak menguap, digantikan oleh rasa tersinggung yang luar biasa. Dia adalah Zevanya Anneliza Sanjaya, putri kesayangan dari seorang Tito Sanjaya. Dia tidak kekurangan uang sepeser pun dalam hidupnya. Satu-satunya hal yang dia cari malam ini adalah kebebasan dari penatnya revisi skripsi manajemen bisnis, bukan pria kaya arogan yang menuduhnya sebagai wanita murahan.

​Anya menyentakkan tangannya dengan kuat, dan kali ini Bara melepaskannya, membiarkan gadis itu melangkah mundur sejauh satu meter untuk merapikan gaun sutra satinnya yang sedikit berkerut. Anya juga membenahi rambut cokelat bergelombangnya yang agak berantakan dengan gerakan anggun yang terkesan menantang.

​"Uang?" Anya tertawa renyah, sebuah tawa sinis yang terdengar meremehkan tuduhan Bara. Dia menatap lurus ke dalam sepasang mata elang milik pria itu tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Simpan saja uangmu untuk menyewa ruangan ini setahun penuh, Tuan Arogan. Aku tidak butuh apa-apa darimu. Tidak uangmu, tidak juga opinimu."

​Bara menaikkan satu alisnya, sedikit terkejut dengan reaksi defensif dan penuh harga diri dari gadis di depannya. Biasanya, wanita yang dituduh seperti itu akan menangis, berpura-pura terhina, atau justru semakin agresif mengeluarkan rayuan. Tapi gadis ini justru menatapnya seolah Bara adalah pihak yang tidak punya harga diri.

​Melihat keadaan di luar pintu sudah aman, Anya memutar tubuhnya, bersiap melangkah menuju pintu keluar. Dia ingin segera pergi dari tempat terkutuk ini, kembali mencari Alena dan Bella di parkiran, dan melupakan fakta bahwa dia baru saja menyerahkan ciuman pertamanya kepada pria asing yang menyebalkan.

​Namun, sebelum jemari lentik Anya sempat menyentuh knop pintu berukir emas tersebut, suara bariton Bara kembali menginterupsi langkahnya. Suara itu begitu dominan, menggema di dalam ruangan, membuat gerak tubuh Anya otomatis membeku di tempat.

​"Aku belum mengizinkanmu pergi," kata Bara dingin. Dia bangkit berdiri dari sofa kulit hitamnya.

​Gerakan Bara yang perlahan namun pasti membuat Anya menoleh. Pria itu berdiri dengan tegap, menampilkan postur tubuhnya yang tinggi dan proporsional di balik kemeja putihnya yang setengah terbuka. Tanpa jambang di wajahnya, penampilan Bara terlihat sangat bersih, tajam, dan penuh wibawa seorang pria matang berumur 35 tahun yang memegang kendali atas hidup banyak orang.

​Bara melangkah mendekati Anya, memangkas jarak di antara mereka hingga Anya bisa merasakan kembali aura intimidasi yang kuat dari pria itu. "Kamu masuk ke sini tanpa izin, menggunakanku sebagai tameng dari kejaran seseorang, dan merusak ketenanganku malam ini. Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."

​Anya mengerjapkan matanya yang indah, merasa bahwa apa yang didengarnya baru saja adalah sebuah lelucon terbesar abad ini. Bertanggung jawab? Kepada seorang pria dewasa yang bertubuh kekar seperti dia? Hanya karena sebuah ciuman darurat?

​Anya membalikkan tubuhnya sepenuhnya menghadap Bara. Di atas heels 9 sentimeter-nya, dia mendongak untuk menantang tatapan mata pria itu. Alih-alih merasa terintimidasi oleh kata 'tanggung jawab' yang diucapkan Bara, seulas senyum penuh kemenangan dan kepedean yang mutlak justru terukir di bibir ranumnya yang masih sedikit basah. Sisi pemberontak Anya keluar sepenuhnya malam ini.

​Anya melipat kedua tangannya di depan dada, mempertegas lekuk tubuh indahnya yang menawan di bawah sorot lampu temaram. Dia menatap Bara dengan tatapan meremehkan yang justru terlihat sangat seksi.

​"Tanggung jawab?" tanya Anya dengan nada mengejek, suaranya terdengar jernih dan penuh percaya diri. "Tanggung jawab apa yang kamu maksud, Tuan? Seharusnya kamu senang dan bersyukur bisa mendapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini."

​Bara tertegun sesaat, tidak menyangka akan mendengar jawaban seberani itu dari seorang gadis yang baru saja menerobos ruangannya.

​Anya memundurkan langkahnya satu kali, tangannya kini beralih memegang knop pintu di belakang punggungnya. Dia memberikan kerlingan mata yang penuh kemenangan kepada Bara, seolah menegaskan bahwa dialah yang memegang kendali atas pelariannya malam ini.

​"Urusan kita sudah selesai di sini. Bye!" ucap Anya tegas.

​Dengan gerakan cepat yang tidak memberikan kesempatan bagi Bara untuk mengejarnya, Anya membuka pintu VIP tersebut, menyelinap keluar ke koridor yang kini sudah aman, dan langsung menutup pintu itu kembali hingga terdengar bunyi klik yang solid. Langkah kaki jenjangnya membawa Anya berlari kecil menuruni tangga, menghilang di antara kerumunan klab malam Heaven, meninggalkan Bara Fernandez yang masih terpaku sendirian di dalam ruangan yang sunyi.

​Bara menatap pintu yang baru saja tertutup itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Keheningan kembali merayap di dalam ruang VIP, namun atmosfernya telah berubah total. Sisa aroma parfum yang manis dari tubuh gadis itu masih tertinggal samar di udara, meracuni pikirannya.

​Bara mendengus pelan, lalu sebuah tawa rendah yang terdengar dingin namun sarat akan ketertarikan lolos dari bibirnya. Untuk pertama kalinya dalam 35 tahun hidupnya, ada seorang wanita yang berhasil membuatnya kehilangan kata-kata, menggunakannya, lalu mencampakkannya begitu saja setelah mengatakan bahwa dia harus bersyukur.

​Mata tajam Bara beralih ke atas sofa tempat mereka berinteraksi tadi. Di sana, di bawah remang lampu, berkilau sebuah benda kecil yang tampaknya terjatuh dari tas tangan gadis itu saat dia melompat turun dari pangkuan Bara.

​Bara melangkah mendekat dan memungut benda tersebut. Itu adalah sebuah pulpen logam elegan berdesain eksklusif. Bara memutar pulpen itu di antara jemarinya yang kokoh, mengamati grafir nama universitas ternama yang terukir di permukaannya, lengkap dengan tulisan jurusan Business Management. Di bagian bawahnya, terdapat inisial nama pemiliknya yang tercetak rapi Z.A.S.

​"Z.A.S... Business Management." gumam Bara, suaranya terdengar seperti bisikan predator yang baru saja menemukan jejak mangsa yang paling menarik.

​Bara memasukkan pulpen tersebut ke dalam saku celana bahan jasnya, lalu merapikan kemeja putihnya. Senyum tipis yang penuh arti terukir di wajah tampannya yang bersih. Gadis itu mengira urusan mereka sudah selesai malam ini, tanpa tahu bahwa bagi seorang Bara Fernandez, permainan baru saja dimulai. Dia tidak akan melepaskan gadis yang sudah berani mengusik harga dirinya begitu saja.

Bab 3 #Kabar Perjodohan

​Anya melangkah tergesa-gesa membelah pelataran parkir klab malam Heaven. Napasnya masih satu-dua setelah aksi nekatnya di ruang VIP tadi. Dari kejauhan, lampu sorot sedan sport merah metalik miliknya berkelip dua kali, tanda bahwa Alena dan Bella sudah bersiap di dalam. Begitu Anya membuka pintu, dia langsung menjatuhkan tubuhnya ke kursi penumpang depan, membiarkan kap atas mobil yang terbuka otomatis perlahan bergerak menutup, mengunci mereka dari kebisingan luar.

​Bella yang sudah duduk di balik kemudi segera menginjak pedal gas, membawa mobil itu melesat membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang. Sementara itu, Alena langsung mencondongkan tubuhnya kedepan dari bangku belakang dengan wajah super cemas.

​"Kamu nggak ketahuan kan, Nya? Aman?" tanya Alena setengah berbisik, seolah-olah pengawal Tito Sanjaya masih mengintai di bagasi mobil.

​Anya menyandarkan kepalanya ke bantal kursi, memejamkan mata sembari memegangi dadanya yang masih bergemuruh. "Nggak, Al, Bell. Aman. Aku berhasil lolos."

​"Tapi kenapa kamu lemes banget gitu, Nya? Muka kamu kayak habis lihat hantu, sumpah," sahut Bella sambil melirik sekilas dari kaca spion tengah. "Minum dulu. Biar otakmu agak lurus, Ambilin Al,"

​Alena langsung mengulurkan sebotol air mineral dari kursi belakang. Anya menerimanya dengan tangan yang sedikit gemetar, membuka tutupnya, lalu meneguknya hingga tersisa setengah. Dia menyeka bibirnya dengan punggung tangan, ingatan tentang sentuhan bibir pria asing tadi mendadak membuat wajahnya kembali memanas.

​"Guys... kalian nggak akan percaya apa yang baru saja aku lakuin di atas sana," gumam Anya, suaranya pelan namun sarat akan keterkejutan.

​"Apaan? Jangan bikin penasaran deh!" tuntut Alena dari belakang.

​Anya menarik napas dalam-dalam, lalu menoleh ke arah Bella dan Alena bergantian. "Aku... aku mencium orang asing di dalam ruang VIP."

​"WHAT?!"

​Teriakan kompak Alena dan Bella menggema di dalam kabin mobil. Bella bahkan sampai menginjak rem sedikit terlalu dalam, membuat ban mobil berdecit pelan.

​"Gila ya kamu, Anya?! Demi apa?!" Bella melotot, memastikan sahabatnya tidak sedang berhalusinasi akibat stres skripsi.

​"Habisnya aku terpojok!" bela Anya cepat, wajahnya memerah. "Pengawal Papa sudah di depan pintu. Pria di dalam ruangan itu malah mau mengusirku dan memanggil security. Ya sudah, karena panik, aku lompat ke pangkuannya lalu kubungkam saja mulutnya pakai ciuman! Biar pengawal Papa mengira kami pasangan yang lagi asyik."

​Alena melongo, lalu perlahan tertawa tidak percaya. "Terus, gimana kelanjutannya? Dia marah? Atau... malah keenakan?"

​"Dia menuduhku menjebaknya demi uang! Sialan banget kan?" Anya mendengus kesal, mengingat wajah angkuh pria yang jujur saja tidak bisa dikatakan jelek. "Tapi langsung aku skakmat. Aku bilang saja, harusnya dia bersyukur dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku, lalu aku kabur. Urusan selesai."

​"Gila, Zevanya. Kamu benar-benar nekat," komentar Bella sambil menggeleng-gelengkan kepala, kembali memacu mobil menuju apartemen Alena.

....

​Begitu tiba di apartemen Alena, atmosfer santai langsung berubah menjadi mode siaga satu. Mereka bertiga segera berlari ke kamar, menanggalkan gaun-gaun malam mereka, dan menggantinya dengan piyama yang longgar. Riasan wajah tebal Anya dihapus kilat, menyisakan wajah polosnya yang tampak lelah.

​Anya langsung membuka laptopnya di atas ranjang, menyebar beberapa buku literatur Manajemen Bisnis, sementara Alena dan Bella duduk di karpet dengan laptop masing-masing, berpura-pura sibuk.

​"Ingat ya, kalau Papaku telfon, kita lagi pusing bedah jurnal dari jam delapan malam tadi," instruksi Anya, yang langsung diangguki mantap oleh kedua sahabatnya.

​Benar saja. Panjang umur Tito Sanjaya. Baru saja Anya memosisikan kacamata bacanya, ponsel di atas kasur bergetar hebat menampilkan panggilan video dari sang papa. Anya menarik napas, memasang wajah selelah mungkin, lalu menggeser layar.

​"Halo, Papa Sayang? Ada apa telfon malam-malam begini?" tanya Anya dengan nada suara yang dibuat sedikit serak, seolah-olah dia sudah membaca ratusan halaman buku.

​Di layar ponsel, wajah tegas Tito Sanjaya muncul dengan kening berkerut dalam. 📞 "Anya, Papa baru saja dapat laporan dari pengawal. Mereka bilang mereka melihat mobil sedan merahmu terparkir di klab Heaven malam ini. Kamu bohongi Papa ya?"

​Anya memasang ekspresi bingung yang sangat natural, lalu tertawa kecil. "Lho, Papa ada-ada aja deh. Yang punya mobil sedan merah di Jakarta ini kan banyak, Pa, bukan cuma Anya. Lagian, Anya itu di sini aja kok sejak tadi nggak kemana-mana nih... di apartemen Alena, lagi pusing tujuh keliling mikirin revisi skripsi." Anya memutar kamera ponselnya, memperlihatkan tumpukan buku tebal, laptop yang menyala, serta Alena dan Bella yang sedang mengetik dengan wajah serius.

​"Lagian, kita bertiga ini kan anak-anak rumahan, Pa. Masa ke klab malam-malam? Kurang kerjaan banget. Ya kan, Al, Bell?" lanjut Anya mencari dukungan.

​Alena langsung mendekatkan wajahnya ke kamera sambil tersenyum manis. "Iya, Om Tito, itu tidak mungkin. Ini Anya dari tadi melototin laptop terus sampai matanya merah. Kami lagi semua lagi pusing mikirin bab revisi om,"

​"Betul, Om," timpal Bella dari arah belakang. "Apalagi Anya kan anak kesayangan Om yang patuh, mana berani dia bohong soal tugas kuliah."

​Melihat kekompakan dan kesaksian dengan tingkat kepercayaan seratus persen dari sahabat-sahabat putrinya, gumpalan kecurigaan di wajah Tito perlahan mencair. Dia menghela napas lega. 📞 "Ya sudah kalau begitu. Papa cuma khawatir kamu keluyuran di tengah tugas akhirmu. Jangan tidur terlalu larut, ya."

​"Iya, Papa Sayang. Kalau gitu Anya tutup ya telofonnya, mau lanjut..."

📞 ​"Tunggu sebentar, Anya. Ada hal penting lagi yang harus Papa sampaikan," potong Tito cepat, membuat gerakan tangan Anya yang hendak mematikan sambungan langsung terhenti.

​"Apa lagi, Pa?"

​Di seberang sana, wajah Tito berubah menjadi sangat serius dan formal. 📞 "Minggu depan, kamu harus bertunangan."

​Bagai disambar petir di malam hari, Anya spontan menegakkan punggungnya. "Apa?! Nggak salah dengar, Pa? Anya ini masih kuliah, belum lulus, kok tiba-tiba main tunangan aja sih?!"

​Tito menghela napas, suaranya terdengar mutlak dan tidak menerima bantahan. 📞 "Papa sudah mengatakan rencana ini sejak dua bulan lalu, Anya, tapi kamu selalu menghindar dan tidak mau dengar setiap kali Papa bahas. Pokoknya, Papa tidak mau tahu. Kosongkan jadwal apa pun untuk minggu depan. Keluarga mereka sudah setuju."

​"Tapi, Pa..."

📞 ​"Tidak ada tapi-tapi, Zevanya Anneliza. Calon suamimu ini adalah putra tunggal Tomi Fernandez. Namanya Calvin Fernandez. Dia pria yang cerdas, mapan, dan sangat cocok untuk membimbingmu dalam mengelola bisnis keluarga kita nanti. Keputusan Papa sudah bulat."

​"Papa, Anya nggak mau dijodohin..."

📞 ​"Selamat malam, Anya. Cepat tidur jangan begadang."

​PIP..

​Sambungan telepon diputus sepihak dari seberang sana. Anya menatap layar ponselnya yang menggelap dengan perasaan campur aduk antara syok, marah, dan tidak percaya.

​"Gila! Ini sudah abad ke-21 tapi masih aja ada orang tua yang main jodoh-jodohan kayak zaman Siti Nurbaya!" teriak Anya frustrasi, melempar ponselnya ke atas tumpukan bantal.

​Alena dan Bella hanya bisa terdiam, saling berpandangan, lalu menatap Anya yang kini mulai turun dari ranjang dan mondar-mandir di dalam kamar seperti cacing kepanasan. Piyamanya bergoyang mengikuti langkah kakinya yang menghentak kesal.

​"Minggu depan? Yang benar saja!" rutuk Anya, menjambak rambut cokelatnya sendiri dengan gemas. "Kalau aku sampai bertunangan, itu artinya kebebasanku bakal direnggut total! Aku harus mengontrol diri lagi, menjaga image di depan keluarga besar, dan nggak akan bisa bersenang-senang lagi!"

​"Tapi, Nya... kamu tahu nggak sosok Calvin Fernandez itu kayak gimana?" tanya Bella hati-hati, mencoba meredakan kepanikan sahabatnya.

​Anya berhenti melangkah, lalu mendengus frustrasi. "Mana aku tahu! Setiap kali Papa mulai menyebut nama keluarga Fernandez atau memperlihatkan fotonya, aku selalu mencari alasan untuk kabur atau menyumbat telingaku pakai earphone. Aku sama sekali belum pernah lihat mukanya!"

​Anya menjatuhkan dirinya kembali ke kasur, menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Bagaimana kalau dia pria tua yang botak? Atau om-om menyebalkan yang kaku seperti kanebo kering? Oh Tuhan... skripsiku belum selesai, sekarang hidupku malah mau dihancurkan lewat perjodohan ini!"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!