Indonesia
NovelToon NovelToon

Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli

Bab 1

"Katanya Juragan Darmawan sedang mencari calon istri untuk cucunya," bisik seorang wanita tua kepada orang-orang yang sedang memetik pucuk daun teh.

Bisikan itu pelan, tetapi cukup membuat tangan-tangan yang sejak tadi sibuk memetik pucuk daun teh berhenti sesaat. Para pemetik teh itu saling bertukar pandang.

"Cucunya yang tuli itu, ya?" tanya seorang wanita bertubuh gempal sambil menyelipkan daun-daun teh ke dalam keranjang rotan di punggungnya.

"Hush!" Beberapa orang spontan melotot.

Salah seorang wanita tua bahkan buru-buru menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tak ada mandor yang mendengar. "Kalau sampai keluarga Juragan Darmawan dengar ucapanmu, bisa-bisa besok kamu nggak kerja lagi."

Wanita gempal itu langsung menutup mulutnya. "Maaf, aku cuma nanya."

Wanita tua itu menghela napas panjang sebelum kembali berbisik. "Den Gavin memang tuli sejak kecil. Tapi siapa yang nggak kenal dia? Pewaris seluruh perkebunan teh ini. Juragan Darmawan sudah berkali-kali menyuruhnya menikah, tapi selalu ditolak. Sekarang katanya Juragan sudah marah dan memilih mencarikan istri sendiri."

"Maharnya pasti besar. Perkebunan teh ini saja luasnya luar biasa. Belum lagi pabrik pengolahan teh di kota. Siapa pun yang menikah dengan Den Gavin, hidupnya pasti berubah," celetuk seorang wanita muda.

Wanita tua itu menyipitkan mata. "Kamu tertarik?"

"Ih, ogah!" Gadis itu langsung menggeleng keras hingga ikatan rambutnya bergoyang. "Den Gavin dingin, jarang senyum, terus tuli lagi. Belum Juragan Darmawan terkenal galak. Menantunya yang dari kota itu juga katanya sombong. Bisa-bisa aku mati muda karena stres menghadapi mereka setiap hari."

Tawa kecil pun pecah di antara mereka.

Tina pura-pura sibuk memetik daun teh, padahal sejak tadi seluruh perhatiannya tertuju pada obrolan itu. Tatapannya perlahan berubah. Mula-mula biasa saja, lalu menyipit. Kemudian sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sulit diartikan.

Senyum itu bukan karena geli. Melainkan karena sebuah rencana yang tiba-tiba muncul di dalam kepalanya.

"Kalau memang Juragan Darmawan sedang mencari istri untuk cucunya, kenapa tidak memanfaatkan kesempatan ini?" batin Tina. Matanya menerawang ke arah lereng sebelah.

Di sana, sekelompok pemetik teh lain bekerja tanpa banyak bicara. Mereka hanya fokus mengisi keranjang masing-masing agar upah hari itu tidak berkurang. Di antara mereka ada seorang gadis yang paling mudah dikenali, Dara, keponakan.

Dara memilih tubuh yang ramping. Wajahnya sederhana, tetapi bersih dan menenangkan. Keringat membasahi pelipisnya, namun senyum kecil tak pernah benar-benar hilang dari bibirnya.

Setiap kali berpindah ke pohon berikutnya, langkah Dara sedikit tertatih. Itu dikarenakan kaki kirinya tidak sempurna. Sejak kecelakaan saat masih kecil, ia berjalan pincang. Meski begitu, Dara tidak pernah mengeluh.

Tangan Dara tetap lincah memetik pucuk-pucuk daun teh terbaik. Bahkan hasil kerjanya sering kali lebih banyak dibanding para pemetik yang bertubuh sehat.

Melihat gadis itu, senyum Tina semakin lebar.

"Sepertinya dia akan setuju dan tidak akan banyak menuntut," batin Tina lagi.

Malam pun datang, rumah kayu sederhana di lereng pegunungan mulai diterangi lampu kuning redup. Dara masih berada di dapur. Asap tipis mengepul dari tungku yang baru saja dipadamkan. Aroma sayur bening dan tempe goreng masih memenuhi ruangan.

Dara mengangkat panci terakhir, lalu mencucinya dengan telaten. Tangannya mulai memerah karena air pegunungan yang begitu dingin. Sesekali ia meringis saat kaki kirinya terasa nyeri akibat seharian berdiri di kebun. Namun, pekerjaan itu tetap diselesaikannya tanpa mengeluh. Baginya, pekerjaan rumah jauh lebih ringan dibanding mendengar bibinya marah.

"Belum selesai juga?" Suara Tina tiba-tiba terdengar dari ambang pintu.

Dara buru-buru menoleh. Wajah bibinya tampak masam.

"Sedikit lagi, Bi," jawab Dara pelan sambil mempercepat gerakan tangannya.

"Cepat! Pamanmu mau bicara. Jangan bikin orang nunggu." Nada suara Tina terdengar tajam.

"Iya, Bi."

Dara segera membilas panci terakhir, mengeringkan tangannya, lalu melepas celemek lusuh yang dikenakannya. Ia menarik napas panjang. Entah mengapa dadanya terasa tidak tenang.

Sepanjang jalan menuju ruang tengah, pikiran Dara dipenuhi berbagai kemungkinan. Apa Kiara membutuhkan biaya kuliah lagi? Atau Paman Rama kembali kesulitan membayar utang? Kalau memang begitu, ia akan bekerja lebih keras lagi. Besok ia bisa mengambil tambahan pekerjaan membersihkan gudang teh. Asal keluarganya tidak kesusahan.

Dengan langkah sedikit pincang, Dara duduk bersimpuh di depan Rama dan Tina. Dia membetulkan posisi kakinya agar terasa nyaman.

Ruang itu mendadak terasa sunyi. Hanya suara jangkrik dari luar yang terdengar bersahutan.

Rama membersihkan tenggorokannya sebelum berbicara. "Dara."

"Iya, Paman."

"Kamu ingat, sejak kedua orang tuamu meninggal, kamu tinggal di rumah ini?"

Dara mengangguk pelan. Ingatan lama kembali menyeruak. Ia memang masih terlalu kecil untuk mengingat wajah kedua orang tuanya dengan jelas. Yang ia ingat hanya pelukan hangat sang nenek. Kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat ketika sedang melakukan perjalanan dinas.

Sejak saat itu, kakek dan neneknya membesarkan Dara dengan penuh kasih sayang. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Kakeknya meninggal karena usia. Lalu, setahun tahun kemudian, neneknya terkena serangan jantung setelah mendengar kabar Dara mengalami kecelakaan yang membuat kaki kirinya cacat.

Sejak itulah hidup Dara berubah. Ia tinggal bersama Rama, adik mendiang ibunya, dan Tina. Tak ada lagi pelukan hangat atau belaian penuh kasih. Yang ada hanyalah pekerjaan. Bangun sebelum subuh, lalu mengerjakan pekerjaan rumah.

Setelah besar dan bekerja di kebun teh, pun Dara masih melakukan rutinitas itu. Semua itu dijalaninya tanpa pernah membalas. Sebab ia selalu percaya, paman dan bibinya telah berbaik hati merawatnya.

"Dara, sekarang kamu sudah dua puluh tahun." Suara Rama membuyarkan lamunannya.

"Iya, Paman." Dara mengangguk pelan.

"Sudah waktunya kamu menikah."

"Apa?!"

Jantung Dara seakan berhenti berdetak. Matanya membesar. Ia benar-benar tidak menyangka pembicaraan malam ini mengarah ke sana.

"Paman, aku belum kepikiran menikah," kata Dara dengan suara lirih dan sedikit bergetar.

"Kami sudah memikirkan semuanya." Tina langsung tersenyum manis.

Senyum yang justru membuat Dara semakin gelisah.

"Benar," sambung Rama. "Kami juga sudah menemukan calon suami yang sangat baik."

Dara menggenggam ujung bajunya. Entah mengapa, ucapan para pemetik teh siang tadi kembali terngiang di telinganya. Juragan Darmawan sedang mencari calon istri untuk cucunya yang tuli. Perasaan tidak enak tiba-tiba memenuhi dadanya.

"Kalau boleh tahu ...." Dara menelan ludah sebelum melanjutkan. "Siapa pria itu, Paman?"

Rama dan Tina saling bertukar pandang. Tatapan mereka dipenuhi kepuasan. Seolah-olah semuanya telah berjalan sesuai rencana.

Rama akhirnya tersenyum lebar. "Den Gavin. Cucu Juragan Darmawan."

Dunia Dara seperti berhenti berputar. Napasnya tercekat. Wajahnya memucat dalam sekejap.

Sedangkan di sudut ruangan, Tina diam-diam tersenyum puas. Karena tanpa diketahui Dara, besok pagi mereka sudah berjanji akan menemui Juragan Darmawan.

***

Assalamualaikum, semua. Aku kembali dengan karya baru. Semoga kalian suka. Jangan lupa selalu tinggalkan jejak like dan komentar sebagai dukungan kalian pada karya ini. Untuk perhatiannya aku ucapkan terima kasih.

Bab 2

Pagi itu udara pegunungan masih terasa dingin ketika Rama dan Tina berjalan melewati hamparan kebun teh menuju rumah besar milik Juragan Darmawan. Keduanya mengenakan pakaian terbaik yang mereka miliki. Wajah Tina berkali-kali menoleh ke arah bangunan megah di atas bukit dengan sorot mata penuh harap.

"Kalau sampai berhasil, hidup kita benar-benar berubah," bisik Tina sambil menahan senyum.

Rama mengangguk pelan. Jantungnya sendiri berdegup lebih cepat. Seumur hidup, ia belum pernah menginjakkan kaki ke rumah sebesar itu.

Beberapa menit kemudian, mereka dipersilakan masuk ke ruang tamu yang luas. Lantai marmer mengilap, perabotan kayu jati berukir, dan aroma teh hangat memenuhi ruangan.

Tak lama kemudian, Juragan Darmawan datang ditemani seorang pria paruh baya yang merupakan sekretaris kepercayaannya, Asep. Pria tua itu berjalan dengan tongkat kayu di tangannya. Meski rambutnya telah memutih seluruhnya, sorot matanya masih tajam dan berwibawa.

"Kalian keluarga Dara?" tanya Juragan Darmawan tanpa basa-basi.

Rama segera berdiri. "Benar, Juragan."

"Kudengar gadis itu rajin bekerja." Juragan Darmawan menatap penuh selidik kepada Rama dan Tina.

"Dara anak yang baik, penurut, dan tidak pernah membantah," balas Rama dengan sopan dan Tina mengangguk penuh semangat membenarkan ucapan suaminya.

Juragan Darmawan terdiam beberapa saat. "Aku tidak mencari perempuan yang cantik. Aku hanya ingin perempuan yang bisa menjaga cucuku dengan tulus."

Rama menundukkan kepala jenak. Lalu, mengangkat kepala dan tersenyum manis. "Itu yang akan Dara lakukan, Juragan."

Suasana kembali sunyi. Juragan Darmawan lalu meletakkan cangkir tehnya.

"Sekarang katakan apa syarat dari pihak kalian."

Kalimat itu membuat napas Rama tercekat. Ia sempat melirik Tina. Wanita itu mengangguk pelan seolah memberi keberanian.

Rama menggenggam kedua tangannya erat-erat.

"Kalau benar Juragan memang serius ingin meminang keponakan saya," Ia berhenti sesaat. "Saya meminta mahar satu miliar rupiah."

Ruangan mendadak hening. Sekretaris Juragan Darmawan sampai mengangkat kepalanya, menatap Rama dengan wajah terkejut. Nominal itu tidak kecil. Bahkan sangat besar untuk ukuran keluarga sederhana seperti mereka.

Tina menelan ludah. Ia sempat khawatir permintaan itu akan membuat Juragan Darmawan marah, lalu mengusir mereka.

Namun, yang terjadi justru di luar dugaan. Juragan Darmawan tetap tenang. Tanpa perubahan ekspresi sedikit pun, ia hanya mengangguk pelan.

"Baik."

Satu kata itu membuat Rama dan Tina saling memandang. Mereka bahkan sempat mengira salah dengar.

"Ju-Juragan ... setuju?" tanya Rama memastikan.

"Satu miliar bukan masalah bagiku," jawab pria tua itu.

Juragan Darmawan menatap mereka bergantian. "Asalkan Dara benar-benar menikah dengan Gavin dan menjaga cucuku dengan baik."

Rama buru-buru mengangguk. "Tentu saja, Juragan."

Juragan Darmawan berdiri. "Kalau begitu, kita anggap pembicaraan ini selesai."

Rama dan Tina keluar dari rumah megah itu dengan langkah nyaris melayang. Begitu cukup jauh dari halaman, Tina tak lagi mampu menyembunyikan kegembiraannya.

"Satu miliar!" pekik wanita paruh baya itu pelan sambil mencengkeram lengan suaminya. "Benar-benar satu miliar!"

Rama tertawa kecil. "Akhirnya kita tidak perlu pusing lagi memikirkan uang."

"Kita enggak lagi pusing memikirkan biaya kuliah Kiara. Kita juga bisa memperbaiki rumah. Bahkan beli mobil," lanjut Tina dengan bahagia.

Mereka terus membicarakan berbagai impian tanpa sekali pun menyebut nama Dara. Seolah gadis itu hanyalah jalan menuju kekayaan yang selama ini mereka impikan.

Sore harinya. Dara baru saja selesai menjemur pakaian ketika Tina memanggilnya.

"Dara! Masuk!"

"Iya, Bi."

Dara menyeka keringat di dahinya sebelum berjalan menghampiri. Melihat wajah bibinya yang begitu cerah, ia justru merasa semakin cemas.

"Ada apa, Bi?"

Tina duduk dengan santai sambil menyilangkan kaki. "Juragan Darmawan sudah setuju."

Dara terdiam. "Setuju apa?"

"Pernikahanmu," balas Tina dengan enteng.

Jantung Dara kembali berdegup keras. Ia bahkan belum sempat menerima atau menolak. Semuanya terasa berjalan begitu cepat.

"Lalu, bagaimana soal biaya pernikahan dan maharnya?" tanya Dara.

Senyum Tina semakin lebar. "Kamu tidak perlu khawatir. Mereka semua yang akan urus. Dan maharnya sebesar satu miliar."

Dara membelalakkan mata. "Sa-satu ... miliar?"

"Iya." Tina tertawa puas. "Dan uang itu nanti menjadi milik kami."

Dara mengernyit. "Maksud Bibi?"

"Itu bayaran karena kami sudah merawatmu sejak kecil," jelas Tina dengan tatapan sinis.

Kalimat itu membuat wajah Dara perlahan berubah. Ia memandang Rama yang duduk tak jauh dari sana. Namun, pamannya hanya diam. Seolah membenarkan semua ucapan istrinya.

"Tapi, Bi, bukankah mahar itu hak pengantin perempuan?" Suara Dara terdengar pelan.

Tina langsung mendengus dan ekspresi wajahnya berubah marah. "Maksudnya hakmu?"

"Iya."

"Apa yang sudah kamu lakukan sampai merasa berhak?" Tina semakin marah.

Dara menarik napas panjang. Ia berusaha tetap berbicara dengan tenang. "Bibi, aku bersyukur dibesarkan di rumah ini."

"Itu kamu tahu," ucap Tina sinis.

"Tapi, jangan jadikan aku sebagai cara untuk mendapatkan uang."

Kalimat itu membuat wajah Tina langsung berubah masam.

Dara menatap bibinya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Sejak kecil aku memang tinggal di sini. Tapi biaya sekolahku gratis karena aku mendapat beasiswa dari pemerintah. Seragam sekolahku juga bekas pemberian orang lain."

Rama mulai mengalihkan pandangan. Memang dia tak pernah mengeluarkan uang untuk biaya pendidikan keponakannya.

"Setiap pulang sekolah aku membantu Pak RT, membantu tetangga mencuci, menyapu, atau mengupas sayuran. Semua upahnya selalu kuberikan kepada Bibi. Itu karena Bibi bilang kebutuhan rumah mahal. Aku tidak pernah menolak." Suara Dara semakin bergetar.

Tina mengepalkan tangan. Harga dirinya merasa tertampar.

"Aku juga bekerja di kebun teh. Pulang masih memasak, mencuci, membersihkan rumah. Aku tidak pernah menghitung semuanya. Aku melakukannya karena menganggap Paman dan Bibi keluargaku." Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Dara.

Ruangan menjadi sunyi. Dara menatap keduanya bergantian. Ia mengusap air mata yang jatuh.

"Aku hanya berharap Paman dan Bibi jangan memanfaatkan orang lain demi mendapatkan uang."

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Dara. Tubuh gadis itu sampai terdorong ke samping dan hampir rebah di lantai kayu. Pipinya langsung memerah.

Tina berdiri dengan napas memburu. "Kurang ajar sekali kamu, Dara! Berani sekali kamu mengajari kami!"

Rama ikut bangkit. "Dara! Apa begini balasanmu setelah kami merawatmu bertahun-tahun?"

Dara memegang pipinya yang terasa panas. Air matanya jatuh semakin deras. "Aku tidak bermaksud durhaka, Paman."

"Lalu apa maksudmu?"

"Aku hanya–"

"Cukup!" Bentakan Rama menggema memenuhi rumah. "Kamu memang tidak tahu terima kasih."

"Kalau bukan karena kami, kamu sudah menjadi gelandangan! Tidak punya siapa-siapa!" lanjut Tina dengan nada tidak kalah tinggi.

Dara menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia ingin menjelaskan. Ingin mengatakan bahwa ia sama sekali tidak pernah melupakan kebaikan mereka. Namun, ia juga tidak sanggup membenarkan keserakahan itu. Baginya, uang satu miliar bukan alasan untuk menjual harga diri seseorang.

Tina menunjuk wajah Dara dengan mata penuh amarah. "Pokoknya pernikahan ini tetap dilaksanakan! Kamu tidak punya hak menolak!"

Tangis Dara pecah. Ia hanya mampu menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa dirinya benar-benar tidak dianggap sebagai manusia, melainkan barang yang bisa ditukar dengan uang.

Keesokan paginya, ketika suasana rumah masih dipenuhi keheningan, terdengar suara kendaraan berhenti di depan halaman. Seorang pria berpakaian rapi turun dari mobil. Ia mengetuk pintu rumah.

"Permisi."

Rama segera keluar. "Ya. Siapa?"

Pria itu membungkukkan badan dengan sopan. "Saya Rafli utusan Juragan Darmawan."

Rama langsung tersenyum. "Ada pesan apa?"

"Juragan meminta Bapak Rama dan Nona Dara datang ke rumah beliau siang ini. Beliau ingin membicarakan langsung rencana pernikahan dengan Den Gavin."

Dara yang sejak tadi berdiri di balik pintu mendengar setiap kata itu. Jantungnya kembali berdegup tidak karuan. Ia menggenggam ujung bajunya erat. Entah mengapa perasaannya mengatakan bahwa pertemuan hari ini akan mengubah seluruh jalan hidupnya.

Bab 3

Siang itu, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan rumah sederhana milik Rama. Seorang pria berpakaian rapi turun dari kursi pengemudi. Ia membungkukkan badan dengan sopan.

"Permisi. Saya diutus Juragan Darmawan untuk menjemput Pak Rama, Bu Tina, dan Nona Dara."

Mendengar itu, wajah Rama dan Tina langsung berbinar. Keduanya buru-buru saling bertukar pandang, berusaha menyembunyikan kebahagiaan yang nyaris meluap.

"Silakan masuk, Pak. Juragan sudah menunggu," ujar sopir itu sembari membukakan pintu belakang.

Rama dan Tina tersenyum puas. Di dalam benak mereka, bayangan tentang mahar satu miliar rupiah kembali berputar. Keduanya merasa kehidupan mereka tinggal selangkah lagi berubah.

Berbeda dengan paman dan bibinya, Dara naik ke dalam mobil dengan langkah pelan. Ia menggenggam ujung bajunya erat sambil menundukkan kepala.

Mobil pun melaju meninggalkan rumah gubuk itu, membawa tiga orang dengan perasaan yang sangat berbeda. Rama dan Tina dipenuhi harapan akan kekayaan, sementara Dara hanya mampu berdoa dalam hati agar apa pun yang menantinya nanti tidak menjadi awal dari penyesalan seumur hidup.

Mobil yang ditumpangi Rama, Tina, dan Dara perlahan memasuki halaman rumah besar milik Juragan Darmawan.

Jantung Dara terus berdebar sejak mereka berangkat dari rumah. Tangannya saling menggenggam di atas pangkuan, berusaha meredam kegelisahan yang tak kunjung hilang. Hamparan bunga yang tertata rapi, bangunan bergaya kolonial yang berdiri megah, serta para pekerja yang lalu-lalang membuatnya merasa begitu kecil.

"Ayo turun," ujar Rama pelan, meski nada suaranya tak mampu menyembunyikan rasa antusias.

Berbeda dengan Dara yang diliputi kecemasan, wajah Rama dan Tina justru tampak berseri-seri. Sejak menginjakkan kaki di halaman rumah itu, keduanya tak henti-hentinya saling melempar senyum.

Dara menarik napas panjang sebelum membuka pintu mobil. Begitu kakinya yang pincang menginjak halaman, beberapa pelayan langsung mempersilakan mereka masuk dengan ramah.

"Silakan, Juragan sudah menunggu."

Ruang tamu rumah itu jauh lebih megah daripada yang dibayangkan Dara. Langit-langitnya tinggi dengan lampu kristal yang berkilauan. Aroma teh melati yang baru diseduh memenuhi ruangan, memberikan kehangatan yang menenangkan.

Di sofa utama telah duduk seorang pria lanjut usia dengan postur tubuh yang masih tegap, Juragan Darmawan. Tatapannya tajam, tetapi tidak menyeramkan. Wibawanya begitu kuat hingga siapa pun yang berada di hadapannya otomatis menundukkan kepala sebagai bentuk hormat.

Di sampingnya duduk seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun dengan penampilan anggun. Dialah Sherly, ibunya Gavin.

Dara segera menangkupkan kedua tangannya di depan dada. "Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam," jawab Juragan Darmawan.

Dara sedikit membungkukkan badan. "Permisi, Juragan."

"Sini, duduk!" titah Juragan Darmawan.

"Terima kasih." Dara duduk dengan sopan. Kedua lututnya rapat, pandangannya lebih banyak tertuju ke lantai.

Sejak tadi, Juragan Darmawan tidak banyak bicara. Namun, kedua matanya terus mengamati gadis yang berada di depannya. Cara duduknya, cara menjawab pertanyaan, dan cara menundukkan kepala ketika berbicara dengan orang yang lebih tua. Semua diperhatikan tanpa ada yang terlewat.

Sherly pun melakukan hal yang sama. Wanita anggun itu sesekali melirik Dara sambil tersenyum tipis. "Dara."

"Iya, Bu," balas Dara dengan nada lembut.

"Kamu sejak kecil tinggal bersama Paman dan Bibimu?"

"Iya."

"Masih bekerja di kebun teh?"

"Iya, Bu."

"Capek?"

Dara tersenyum kecil. "Kalau untuk mencari rezeki, capek itu sudah biasa."

Jawaban sederhana itu membuat Sherly sedikit terkejut. Ia sempat mengira Dara akan mengeluhkan pekerjaannya. Namun, gadis itu justru menjawab dengan penuh rasa syukur.

"Kamu juga mengurus pekerjaan rumah?"

Dara mengangguk pelan. "Selama masih sanggup, saya kerjakan."

Sherly diam. Dalam hati ia mulai menyukai gadis itu. Tidak dibuat-buat, tidak banyak bicara, dan tatapan matanya juga bersih.

Juragan Darmawan yang sejak tadi mendengarkan percakapan itu akhirnya ikut bersuara. "Kudengar kakimu terluka sejak kecil."

Dara menundukkan kepala. "Iya, Juragan."

"Masih sakit?"

"Kadang-kadang kalau terlalu lama berdiri."

"Kenapa tetap bekerja di kebun?"

Dara tersenyum tipis. "Karena saya masih mampu. Saya tidak ingin menjadi beban siapa pun."

Kalimat itu membuat Juragan Darmawan menganggukkan kepala pelan. Ada rasa lega yang perlahan memenuhi dadanya. Seumur hidup, ia sudah bertemu banyak orang. Ia cukup pandai membaca karakter seseorang hanya dari cara berbicara dan bersikap. Dan sejauh ini Dara meninggalkan kesan yang baik.

Juragan Darmawan melirik Sherly. Sherly membalas tatapan itu dengan anggukan kecil. Mereka seolah sedang berbicara tanpa suara.

Sherly bahkan tersenyum tipis. Usia Gavin sudah tiga puluh tahun. Selama ini putranya selalu ditolak oleh setiap perempuan yang dikenalkan kepadanya. Hal itu membuat Gavin selalu enggan untuk menikah karena kekurangan pada dirinya. Kalau kali ini Gavin bersedia, Sherly merasa itu sudah lebih dari cukup.

"Aku panggil Gavin dulu," ucap Sherly sambil berdiri.

Juragan Darmawan mengangguk. "Tolong suruh dia turun untuk menemui calon istrinya."

Sherly berjalan menuju kamar yang menghadap halaman depan di lantai dua. Lalu, ia mengetuk pintu perlahan.

"Gavin."

Tak lama kemudian pintu terbuka. Seorang pria bertubuh tinggi muncul dengan kaus sederhana berwarna hitam. Rambutnya masih sedikit berantakan, seolah baru saja bangun tidur.

"Iya, Ma?"

Sherly tersenyum lembut. "Kamu masih capek?"

Gavin mengangguk pelan. Sejak pagi ia baru tiba dari kota setelah menghadiri rapat panjang di pabrik pengolahan teh milik keluarganya. Perjalanan berjam-jam melewati jalan pegunungan cukup menguras tenaganya.

"Aku sempat tidur sebentar barusan."

Sherly mengusap lengan putranya. "Calon pengantinmu sudah datang."

Gavin terdiam beberapa detik. Tatapannya berubah datar.

"Harus sekarang?"

"Iya. Kakek sudah menunggu."

Gavin mengembuskan napas panjang. Sebenarnya ia masih enggan. Namun, demi menghormati sang kakek, ia akhirnya mengangguk.

"Baik."

Beberapa menit kemudian, langkah Gavin terdengar menuruni tangga. Suasana ruang tamu mendadak menjadi hening.

Dara yang sejak tadi menundukkan kepala perlahan mengangkat wajah ketika mendengar langkah itu. Jantungnya kembali berdegup lebih cepat.

Di sisi lain, Gavin juga langsung mengarahkan pandangannya ke arah gadis yang duduk di sofa.

Untuk beberapa saat tak ada satu pun yang berbicara. Inilah pertama kalinya keluarga mereka saling bertemu.

Gavin memperhatikan Dara dengan saksama. Wajah gadis itu sederhana, tetapi teduh. Sorot matanya lembut. Sikap duduknya sopan.

Tatapan Gavin tiba-tiba berhenti pada satu titik. Pipi kiri Dara. Ada semburat kemerahan yang belum sepenuhnya hilang dan sedikit bengkak. Hampir tertutup oleh rambut yang sengaja diselipkan ke samping. Kalau orang lain melihat sekilas, mungkin tidak akan menyadarinya. Namun, Gavin terbiasa memperhatikan sesuatu dengan detail. Alisnya langsung mengerut tipis.

"Itu ... bekas benturan atau bekas tamparan?" batin Gavin dipenuhi tanda tanya.

Gavin mengalihkan pandangan kepada Rama dan Tina yang duduk tak jauh dari Dara. Keduanya justru tampak tersenyum lebar, seolah tak terjadi apa pun. Perasaan aneh mulai menyusup ke dalam hati Gavin. Dia merasa ada sesuatu yang terasa tidak beres.

Dara yang menyadari pria itu terus memandang wajahnya langsung menundukkan kepala karena gugup. Ia sama sekali tidak tahu bahwa bekas tamparan yang berusaha disembunyikannya justru telah menumbuhkan kecurigaan pertama di hati calon suaminya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!