Senin Pagi yang Laknat
Senin pagi yang laknat. Lapangan SMA Gelanggang Alam sudah berubah menjadi wajan raksasa yang siap memanggang ratusan murid menjadi matang secara merata.
Di barisan paling depan kelas dua belas, Lintang Gentariana sudah tidak tahan lagi. Gadis mungil bertinggi 150 cm itu menyeka keringat di lehernya yang mulai lengket.
"Pak! Panas banget ini, Pak! Kita udah kayak ikan asin di wajan!" teriak Lintang tiba-tiba. Suaranya yang melengking tajam seketika membelah kekhidmatan pengumuman yang akan diberitakan selesai upacara.
Tawa pecah di seluruh lapangan. Pak Wisma, guru piket, langsung melotot tajam dari pinggir lapangan seolah ingin menelan Lintang hidup-hidup.
"Lintang! Diam atau kamu saya jemur sampai siang!" bentak Pak Wisma.
"Siap, Pak! Lintang kembali ke mode khidmat bin saleha!" balas Lintang cepat sambil memberi hormat sekaku militer, membuat Zahiya, sahabat di sebelahnya, hanya bisa menunduk menahan malu.
Namun, penderitaan fisik itu menguap begitu saja saat pengeras suara podium berbunyi kresek-kresek. Kepala Sekolah maju ke depan mikrofon dengan senyum lebar.
"Hari ini, kita patut bangga. Mari kita beri tepuk tangan untuk Ananda Gifarka Xilessanto dari kelas 12 IPS 2 yang baru saja meraih juara satu lomba silat antarprovinsi!"
Mendengar nama itu, mata Lintang langsung berbinar. Efek kepanasan mendadak hilang, digantikan oleh hormon kebahagiaan yang melonjak drastis.
"Anjay! Crush gue itu!" teriak Lintang heboh sambil melompat kegirangan. "Gas terus, Arka! Nanti traktir es teh jumbo, ya!"
Anak-anak cowok kelas IPS 2 langsung bersorak memanasi suasana, sementara Zahiya buru-buru menarik rok Lintang dengan panik. "Diem, Lintang! Urat malu lu beneran udah putus, ya?!"
Di tengah kegilaan itu, sosok Gifarka Xilessanto berjalan maju membelah barisan. Cowok itu bertubuh tinggi menjulang, tegap, dengan ekspresi sedingin es batu di dalam kulkas yang tidak pernah pindah dari tempatnya.
Tatapannya lurus ke depan, sama sekali tidak peduli pada teriakan memalukan Lintang yang menggema seantero sekolah.
Karena terlalu asyik berteriak sambil melompat-lompat menatap ketampanan Arka, kaki Lintang tidak sengaja tersangkut sepatu Zahiya. Tubuh mungilnya kehilangan keseimbangan. Lintang terjerembap ke depan, tepat ke arah jalur berjalan Arka yang baru saja lewat di samping barisannya.
Bruk!
Lintang memejamkan mata, bersiap merasakan kerasnya tanah lapangan. Namun, rasa sakit itu tidak pernah datang.
Sebuah tangan kekar berseragam putih-abu menahan lingkar pinggangnya dengan sigap, mencegah wajah Lintang mencium bumi secara tragis.
Bau parfum maskulin segar langsung menusuk indra penciuman Lintang.
Deg!
Saat ia membuka mata, wajah datar Arka hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Seisi lapangan mendadak hening seketika.
Lintang mengerjapkan mata, terpesona. "Aura jodoh gue..." gumam Lintang super pelan, masih sempat-sempatnya kesurupan cinta.
Arka tidak tersenyum. Tatapan matanya yang tajam menatap lurus ke dalam manik mata Lintang. Alih-alih membantu Lintang berdiri dengan romantis seperti di adegan drama Korea, Arka justru mendekatkan wajahnya ke telinga Lintang.
"Gak usah akting," bisik Arka, suaranya terdengar sangat rendah, dingin, dan mengintimidasi. "Berdiri sendiri, atau gue lepas."
Lintang tersentak. Belum sempat Lintang membalas ucapan ketus itu, tangan Arka tiba-tiba melepas pegangannya begitu saja. Tanpa aba-aba. Tanpa rasa kemanusiaan.
Bruk!
"Aduh! Pantat seksi gue!" pekik Lintang spontan saat bokongnya sukses menghantam rumput lapangan yang keras.
Arka langsung berdiri tegap, merapikan lipatan seragamnya yang sedikit kusut tanpa dosa. Ia menatap Lintang dari ketinggian dengan tatapan sedatar garis lurus.
"Gue udah bilang. Berdiri sendiri," ucap Arka dingin, lalu melangkah pergi begitu saja membelah barisan murid, menuju podium untuk menerima pialanya.
Lintang menganga di tanah. "Sialan," umpatnya sambil mengusap pantatnya yang berdenyut. "Ganteng sih ganteng, tapi kelakuannya minus spek dajjal!"
"Lintang Gentariana! Keluar dari barisan sekarang!"
Suara menggelegar Pak Wisma dari jarak dua meter langsung membuat bulu kuduk Lintang meremang. Saat ia menoleh, Pak Wisma sudah berdiri dengan wajah merah padam dan berkacak pinggang. Di belakangnya, Zahiya sudah pasrah sambil menutup wajahnya dengan topi upacara.
"Mampus gue," gumam Lintang pasrah.
"Ikut saya ke depan tiang bendera! Hormat di sana sampai pengumuman selesai!" titah Pak Wisma kejam, menunjuk area panas di tengah lapangan yang jaraknya hanya beberapa meter dari tempat Arka berdiri menerima piala.
Bukannya lemas karena dihukum, mata Lintang justru kembali berbinar. "Siap dilaksanakan dengan penuh cinta, Pak!" seru Lintang bersemangat.
Ia langsung bangkit berdiri, menepuk-nepuk debu di roknya, lalu melangkah centil menuju area tiang bendera. Langkah kaki Lintang sengaja dibuat melewati jalur Arka yang baru saja berbalik setelah menerima piala dari Kepala Sekolah.
Saat posisi mereka sejajar, Lintang sengaja memperlambat langkahnya. Ia mendongak, menatap Arka yang sedang mendekap piala emas besar di dadanya.
"Selamat ya, Kakang Arka sayang," bisik Lintang dengan nada manja yang sengaja dibuat-buat. Ia mengedipkan sebelah matanya genit. "Pialanya berat, ya? Mau tukeran bawa hati aku aja gak? Dijamin enteng dan bikin bahagia lahir batin."
Arka menghentikan langkahnya sejenak. Rahangnya mengeras. Ia menatap Lintang dengan tatapan sedingin kutub utara. "Minggir. Gak usah ganggu."
"Ih, galak banget sih jodoh gue," cerocos Lintang tanpa urat malu. Ia malah sengaja bergeser selangkah, menghalangi jalur jalan Arka. "Lu tega banget tadi ngelepasin gue sampe jatuh betulan. Sebagai gantinya, nanti pas istirahat lu harus temenin gue minum es teh di kantin. Anggap aja itu denda karena udah menelantarkan aset berharga sekolah kayak gue."
Beberapa anak OSIS yang berjaga di sekitar podium langsung menahan tawa mendengar godaan maut Lintang. Mereka tidak habis pikir dengan keberanian gadis mungil ini.
"Lintang! Malah pacaran! Cepat ambil posisi hormat!" teriak Pak Wisma lagi dari kejauhan, membuat suasana makin riuh oleh siulan murid-murid lain.
Lintang refleks memanyunkan bibirnya. Ia menatap Arka lagi dengan tatapan memelas yang dibuat-buat. "Tuh, liat. Gue dijemur demi mendukung prestasi lu, Arka. Lu gak ada niatan buat payungin gue pake piala lu itu?"
Arka tidak membalas. Ia hanya menghela napas pendek yang terdengar sangat jengah, lalu melangkah menyamping menghindari Lintang tanpa memedulikan racauan gadis itu lagi. Ekspresi wajahnya tetap sedatar papan tulis, seolah Lintang hanyalah seonggok angin lalu yang berisik.
"Dih, sombong banget si es batu," gumam Lintang sambil terkekeh pelan.
Dengan santai, Lintang berjalan menuju tiang bendera yang terik. Ia mengambil posisi tegap, lalu mengangkat tangan kanannya untuk menghormat ke arah bendera Merah Putih yang berkibar malas. Meskipun matahari membakar kulitnya, mata Lintang tetap melirik ke arah barisan kelas IPS 2, memperhatikan punggung tegap Arka yang mulai kembali ke barisannya.
Di samping tiang bendera, Lintang mulai bersenandung pelan, mengarang melodi acak dengan lirik yang membuat guru piket di dekatnya geleng-geleng kepala.
"Panas-panas berjemur diri... demi abang Arka yang pujaan hati... walau dilepas sampai jatuh membumi... cintaku padamu takkan pernah mati..." nyanyi Lintang dengan suara merdu yang mendayu-dayu.
"Lintang! Hormat yang benar, jangan malah nyanyi dangdut!" tegur Pak Wisma yang mendengarnya dari jarak beberapa meter.
"Ini bukan dangdut, Pak! Ini lagu cinta beraliran pop-alternatif khusus buat masa depan saya!" sahut Lintang lantang, sama sekali tidak merasa bersalah.
Dari kejauhan di barisan IPS 2, Arka yang baru saja kembali ke tempatnya tanpa sengaja mendengar sahutan melengking Lintang. Ia melirik sekilas ke arah tiang bendera, melihat siluet mungil yang berdiri tegap di bawah terik matahari namun tetap terlihat sangat aktif dan tidak bisa diam.
Leon yang berdiri di belakang Arka menyenggol bahu sang atlet silat jahil. "Gila, fans fanatik nomor satu lu emang gak ada duanya, Ka. Dihukum jemur begitu aja masih sempet-sempetnya konser mini buat lu."
Arka tidak menyahut. Ia hanya menatap lurus ke depan, fokus pada pengumuman yang tersisa.
Setelah melewati satu jam penuh siksaan dijemur di dekat tiang bendera, bel tanda upacara selesai akhirnya berdering. Namun, bagi murid-murid kelas 12 IPS 2, penderitaan hari Senin baru saja dimulai.
Hari ini adalah jadwal ulangan harian matematika materi matriks. Hukumnya sudah pasti mutlak: tidak boleh ada yang mencontek.
Jangankan saat ulangan, di hari biasa pun ketahuan melirik lembar jawaban teman bisa berujung fatal. Kertas ujian disita dan diberi nilai nol besar tanpa ampun.
Di pojok belakang dekat jendela, Arka menghela napas panjang untuk kesekian kalinya. Ia memijat pelipisnya yang mendadak terasa berdenyut nyeri.
Kepalanya benar-benar mubeng alias pusing tujuh keliling. Matanya dipaksa menatap barisan angka dan rumus rumit di lembar soal kertas ujiannya.
Sebagai atlet yang terbiasa menggunakan kekuatan fisik dan strategi lapangan, logika matematika di atas kertas seperti ini adalah musuh terbesarnya.
Lembar jawabannya masih bersih. Hanya terisi nama, kelas, dan nomor absen yang ditulis dengan tingkat kerapian maksimal.
Tuk.
Sebuah bunyi ketukan pelan yang sangat halus mendadak terdengar dari arah lantai di samping kakinya. Arka refleks menurunkan pandangannya.
Sebuah gumpalan kertas kecil berukuran sebesar ibu jari mendarat dengan mulus tepat di bawah kolong mejanya. Arka tidak langsung bergerak.
Ia melirik sekilas ke arah depan. Pak Samsudin saat ini sedang memunggungi barisannya karena sibuk menegur seorang murid di barisan depan.
Setelah dirasa aman, Arka mengalihkan pandangannya ke samping untuk mencari sumber pelempar kertas tersebut. Benar saja.
Di barisan seberang yang hanya berjarak satu lorong sempit darinya, Lintang sedang duduk dengan posisi menopang dagu.
Gadis mungil itu sedang mesam-mesem sendiri dengan wajah jenaka yang sengaja dibuat tampak bodoh. Seolah-olah ia tidak baru saja melakukan tindakan ilegal di tengah ujian.
Melihat Arka menoleh, Lintang langsung memberikan kode. Ia menggerakkan telunjuknya dengan cepat, menunjuk ke arah gumpalan kertas di lantai.
Lalu ia menunjuk ke arah meja Arka. Isyarat jelas agar cowok itu segera mengambil dan membukanya.
Arka mendengus pelan dalam hati. Dengan gerakan cepat dan terlatih berkat refleks atletnya, Arka menjatuhkan pulpennya ke lantai.
Saat membungkuk untuk mengambil pulpen, tangan kirinya dengan sigap menyambar gumpalan kertas kecil tersebut. Ia langsung menyembunyikannya di dalam kepalan tangan.
Ia kembali menegakkan punggung. Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa saat Pak Samsudin kembali membalikkan badan dan berjalan ke arah belakang.
Begitu posisi Pak Samsudin menjauh ke pojok kelas yang lain, Arka perlahan membuka gumpalan kertas tersebut di bawah kolong meja secara sembunyi-sembunyi.
Matanya menyipit saat membaca deretan tulisan tangan yang rapi namun padat di dalam sana. Ternyata, itu adalah lembar jawaban matematika milik Lintang.
Lengkap dari nomor satu sampai sepuluh. Tidak hanya berisi pilihan jawabannya saja, tetapi juga dituliskan jalan penyelesaian rumusnya secara runtut dan jelas.
Lintang sengaja melakukannya agar Arka tidak dicurigai oleh Pak Samsudin karena langsung menuliskan hasil akhir. Gadis ekstrover minus malu itu baru saja memberinya contekan secara cuma-cuma.
Arka terdiam beberapa detik. Ia menatap kertas di tangannya dengan perasaan campur aduk.
Ia tahu Lintang itu pintar dan selalu selesai paling cepat di kelas. Tapi ia tidak menyangka kalau cewek yang baru saja ia hempaskan sampai jatuh di lapangan upacara tadi pagi, justru menjadi orang pertama yang menyelamatkan masa depan akademiknya pagi ini.
Arka kembali melirik ke arah samping. Lintang masih memperhatikannya.
Kini gadis itu sambil menaik-turunkan kedua alisnya dengan senyuman penuh arti. Seolah-olah berkata: Gimana? Lu butuh gue, kan?
Arka menimbang sebentar dalam diam. Pikirannya bergejolak hebat menatap deretan angka di kertas kecil itu.
Apakah dia harus menyontek atau mendiamkannya saja demi harga diri sebagai juara silat? Tapi... masa iya dia menolak cuma-cuma di saat otaknya sudah mau pecah seperti ini?
Kesempatan emas tidak datang dua kali.
"Lu dapet contekan, Ka?" bisik Leon tiba-tiba dari meja sebelah.
Matanya yang sedari tadi buram menatap soal ujian langsung berbinar tajam layaknya elang yang melihat mangsa.
Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Mengabaikan gengsinya sejenak, ia menyodorkan kertas dari Lintang itu ke arah Leon dari bawah meja dengan gerakan super mulus.
Leon membelalak kecil saat menerimanya. Ekspresi wajahnya seketika berubah drastis.
Ia tampak sangat bersyukur seperti baru saja mendapat syafaat untuk masuk surga secara instan.
"Tulis, cok! Tulis, cepetan!" bisik Leon setengah mendesak. Tangannya sudah gemetaran memegang pulpen, siap menyalin.
"Gak ah, lu aja," ujar Arka pelan dengan nada ketus yang tertahan.
Di seberang lorong bangku, Lintang yang masih memperhatikan gerak-gerik mereka langsung membelalak kaget. Bibirnya refleks terbuka, hampir saja berteriak saking tidak terimanya.
Kenapa malah dikasih Leon!? batin Lintang histeris.
Capek-capek dia bikin jawaban untuk Arka, malah dinikmati oleh orang lain.
Gerakan Lintang yang terlalu heboh rupanya memancing perhatian di depan kelas.
"Lintang, hadap depan. Kerjakan soal sendiri," ujar Pak Samsudin dengan suara beratnya yang dingin. Matanya menatap tajam dari balik kacamata tebal.
Lintang kelabakan sedikit. Ia langsung buru-buru membetulkan posisi duduknya agar terlihat alim.
"Baik, Pak. Ini saya lagi meresapi indahnya angka matematika kok, Pak," sahutnya ngeles dengan senyum sok polos.
Begitu Pak Samsudin kembali membalikkan badan, Arka diam-diam mulai beraksi. Sifat gengsi tingkat dewanya menolak menyontek langsung dari kertas Lintang.
Tapi, matanya tidak bisa berbohong. Si atlet es batu itu mulai melirik-lirik ke arah kertas Leon.
Dengan posisi tubuh tegak formal, matanya memicing tajam ke samping. Diam-diam, dia malah menyontek jawaban Lintang lewat kertas Leon yang sedang sibuk menyalin.
Menurut logika Arka, ini namanya menyontek dari Leon, bukan dari Lintang. Harga diri aman, nilai terselamatkan.
Lintang yang penasaran kembali melirik sedikit ke arah belakang. Begitu melihat pulpen Arka bergerak aktif menyalin sambil matanya merem-melek mengintip lembar jawaban Leon, Lintang refleks nyengir lebar.
Gengsi banget mas crush. Jadi gemes! batin Lintang bersorak kegirangan. Hatinya langsung melonjak senang karena tahu umpannya tidak sepenuhnya meleset.
Brak!
Suasana sunyi itu mendadak pecah saat Pak Samsudin tiba-tiba menggebrak meja barisan tengah menggunakan penggaris kayu panjang.
Semua murid otomatis terlompat kaget di kursinya masing-masing. Termasuk Leon yang refleks menduduki kertas contekan Lintang agar tidak kelihatan.
"Bagus! Sapto! Kamu pikir mata saya ini pajangan?!" bentak Pak Samsudin. Hebatnya, ia berhasil menangkap basah Sapto yang lehernya sudah memanjang lima belas senti ke meja sebelahnya.
Sapto yang tertangkap basah langsung memasang wajah panik. Tapi dasar murid IPS, otaknya langsung berputar mencari alasan ngeles paling ajaib.
"Eh, anu, Pak! Demi Allah saya nggak nyontek!" kilah Sapto sambil memegangi lehernya dramatis.
"Ini leher saya tiba-kira salah urat, Pak! Tadi kecengklak pas nengok, jadi gak bisa balik lurus lagi. Sumpah, Pak, saya lagi menahan sakit ini!"
"Salah urat tapi mata kamu melotot ke lembar jawaban Zaenal?!" semprot Pak Samsudin, tidak mempan dengan akting murahan Sapto.
"Sini kertas ujian kamu! Nilai kamu nol!"
"Yah, Pak! Jangan dong, Pak! Kalau nilai saya nol, nanti ibu saya di rumah berubah jadi ras terkuat di bumi!" ratap Sapto pasrah saat lembar jawabannya ditarik paksa.
Seisi kelas langsung menahan tawa sampai pundak mereka bergetar hebat. Di pojok belakang, Leon mengembuskan napas lega yang sangat panjang.
"Aman... aman... untung bukan gue," bisiknya.
Tangan kirinya perlahan merapikan kembali kertas contekan Lintang ke bawah bokongnya.
Arka hanya melirik Sapto sekilas. Ia lalu kembali fokus menyalin sisa jawaban terakhir dari kertas Leon sebelum radar intel Pak Samsudin bergeser ke bangku pojok mereka.
Selesai dengan ulangan harian yang menegangkan itu, Arka bersandar di kursinya. Diam-diam, ia merogoh saku dan membuka ponsel.
Manik matanya langsung tertuju pada sebuah pesan chat dari kontak bernama Dr. Fandy yang masuk sejak setengah jam yang lalu. Rahang Arka mengeras samar.
Dengan gerakan pelan, ia mengklik kontak tersebut.
Dr. Fandy: Arka, bundamu masuk ICU lagi. Tadi dibawa ke rumah sakit sama tetangga. Sekarang kondisinya sudah lebih baik, tapi tetap, obat-obatan saja tidak akan cukup untuk bertahan hidup.
Arka menarik napas panjang. Sesak.
Masalah ini selalu datang berulang seperti lingkaran setan yang tidak ada habisnya.
Dengan jemari yang sedikit kaku, ia mengetik balasan: Terima kasih, Dok. Nanti pulang sekolah saya coba bujuk Bunda lagi agar mau ditangani lebih serius.
Arka memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dengan pikiran yang mendadak melayang jauh.
Di tengah riuh kelas yang mulai bersiap menyambut jam pelajaran Prakarya, cowok itu hanya menatap kosong ke depan. Ia menyembunyikan badai yang sedang mengamuk di dalam kepalanya rapat-rapat.
Dari seberang lorong meja, Lintang yang sedang bersiap memanggilnya mendadak terdiam sejenak.
Ia sempat menangkap perubahan drastis pada sorot mata Arka yang mendadak redup.
Arka kenapa, ya? Kok mukanya tiba-tiba kelihatan capek banget? batin Lintang ikut cemas.
Ulangan harian Matematika di jam pertama sukses membuat otak setengah penghuni kelas serasa berasap.
Disusul pelajaran kedua yang tidak kalah membosankan.
Hingga akhirnya, bel pergantian jam berbunyi dan mata pelajaran Prakarya dimulai.
Bagi sebagian besar murid kelas 12 IPS 2, Prakarya adalah oase di tengah gurun.
Kerja kelompok di mata pelajaran ini punya arti lain: sesi curhat dan ghibah massal dengan kedok belajar kelompok.
Bu Rihka berdiri di depan kelas sambil membawa map tebal.
Wanita itu memeriksa catatan absensi sejenak sebelum mengangkat wajah dengan senyum tipis.
"Untuk materi yang sudah Ibu jelaskan minggu lalu, sudah dicatat semua?" tanya Bu Rihka.
"Sudah, Buuu!" Jawaban serempak yang kelewat bersemangat langsung memenuhi ruangan.
"Baik," Bu Rihka mengangguk puas. "Untuk tugas praktiknya, silakan buat kelompok. Masing-masing beranggotakan empat orang."
Kalimat itu langsung memicu kekacauan terkontrol.
Murid-murid mulai saling toleh dan bersiap meluncur dari kursi masing-masing demi mengamankan sirkel terdekat.
"Kelompoknya bebas memilih sendiri, Bu?" tanya Wila antusias.
"Mau bikin sendiri atau Ibu yang bagi?" tanya Bu Rihka balik.
"SENDIRIII!" Jawaban satu kelas menggema kompak, seolah sedang menyuarakan hak asasi manusia.
Bu Rihka tertawa kecil. "Ya sudah, silakan cari kelompok dulu. Nanti Ibu jelaskan detail tugasnya."
Belum sampai lima detik, kelas langsung berubah jadi sarang lebah yang bubar.
Suara teriakan panggilan dan decitan geseran kursi bersahutan di mana-mana.
"Eh, cewek-cewek, sini!"
"Kurang satu cowok nih, siapa mau?!"
"Gue ikut kelompok lu, ya!"
Lintang yang awalnya santai mulai memindai situasi.
Ia melirik sekeliling, bersiap mencari dua orang lagi sebagai pelengkap kelompoknya bersama Zahiya.
"Zah, kita mau ngajak siapa lag-HEH!"
Ucapannya terputus di udara saat melihat tubuh Zahiya sudah diseret begitu saja oleh Viona ke pojok kelas.
"Yah... terus gue sama siapa kalau lu bareng Viona, Lini, sama Santi?" keluh Lintang, merasa dikhianati oleh belahan jiwanya sendiri.
Zahiya tidak berdosa.
Cewek itu malah melemparkan senyum lincah-tipe senyuman yang langsung membuat bulu kuduk Lintang berdiri karena tahu ada konspirasi besar yang sedang berjalan.
"Gitu aja nggak paham," ucap Zahiya penuh teka-teki dari kejauhan.
Lintang melongo. "Hah? Maksud lu gimana?"
Zahiya tidak menjawab.
Sebagai gantinya, ia mengangkat tangan dengan tingkat percaya diri setinggi langit ke arah guru di depan kelas. "Bu Rihka!"
Bu Rihka menoleh dari mejanya. "Iya, Zahiya? Ada apa?"
"Murid kelas kita kan totalnya ada 30 orang, Bu. Kalau dibagi empat-empat, otomatis ada satu kelompok sisa yang isinya cuma dua orang karena nggak kebagian anggota," lapor Zahiya dengan nada bicara yang sangat meyakinkan, persis jubir pemerintah.
Bu Rihka tampak berpikir sejenak lalu mengangguk. "Oh iya, benar. Siapa yang belum dapat kelompok lengkap?"
Zahiya tersenyum semakin lebar.
Senyum setan yang biasanya muncul sebelum ia melakukan sabotase besar-besaran.
"Lintang sama Gifarka, Bu. Mereka belum dapet tim."
Seketika kelas mendadak hening dua detik, sebelum akhirnya suara sorakan gemuruh pecah dari segala penjuru mata angin.
"WOOOOOOO! MAIN BERSIH YA!"
"ANJIRRR! MAU JADI PASUTRI!"
"BAU-BAU SETTINGAN DRAMA KOREA NIH!"
"ZAHIYA ANJAY! SAHABAT PALING PENGERTIAN TAHUN INI!"
Satu kelas langsung heboh. Lintang membelalak seketika.
Wajahnya yang tadi kusut karena ditinggal, sekarang mendadak memerah padam karena syok sekaligus salah tingkah.
"WOI?! ZAHIYA! APA-APAAN LU?!"
Zahiya tertawa sampai menepuk-nepuk meja. "Kan emang belum dapat kelompok, Lin. Jangan galak-galak dong, nanti cantiknya hilang."
"ITU BUKAN GITU MAKSUDNYAA, MAESAROH!"
Lintang buru-buru menoleh ke belakang, tepat ke arah meja Arka.
Cowok itu masih duduk tenang, diam, seolah-olah huru-hara yang menyebut namanya barusan hanyalah angin lalu yang menumpang lewat.
Kedua tangannya bertumpu di atas meja dengan tatapan lurus ke depan.
Bahkan saat satu kelas sibuk menjodoh-jodohkannya, ekspresi wajah Arka tetap datar tanpa cela, mirip patung manekin di mal.
Melihat ketenangan Arka, Lintang yang tadinya sempat panik justru perlahan menyeringai.
Bukannya malu, sepasang matanya kini justru berbinar terang seperti orang yang baru saja memenangkan undian miliaran rupiah.
Ia menoleh kembali ke arah Zahiya dengan pandangan penuh rasa hormat, seolah sahabatnya itu baru saja melakukan tindakan heroik yang layak mendapatkan penghargaan internasional.
Lintang mengangkat kedua jempolnya tinggi-tinggi. "PINTER BANGET LU, ZAH! Mau jajan apa lu istirahat nanti? Gue bayarin!"
Zahiya tampak sangat puas dengan hasil kerjanya.
Ia menyandarkan tubuh ke kursi lalu mengangguk pelan, persis bos mafia yang baru saja menyelesaikan misi rahasia.
"Tenang aja, Neng... Perut gue masih kosong melompong buat nampung traktiran lu."
"Deal!" seru Lintang bersemangat.
"Sekarang mending lu samperin tuh si ganteng, sebelum berubah pikiran," perintah Zahiya sambil mengedikkan dagu ke belakang.
Lintang menoleh ke arah Arka lagi. Senyumnya makin lebar sampai giginya kelihatan semua.
Teman-teman sekelasnya masih berisik bersiul-siul, tapi Lintang sudah mengaktifkan mode tuli.
Ia kembali mengangkat tangan ke arah guru. "Bu Rihka!"
"Iya, Lintang?"
"Berarti ini saya berdua doang sekelompok sama Arka nggak papa ya, Bu?"
"Nggak papa. Porsi nilainya tetap sama kok," jawab Bu Rihka santai dari balik laptopnya.
"Okey, mantap!"
Jawaban itu diterima Lintang seperti surat keputusan resmi dari negara.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia langsung bangkit dari kursinya dengan penuh percaya diri yang meluap-luap.
Zahiya yang melihat itu menahan tawa sampai pundaknya sakit. "Gila... Kalau ada lomba manusia paling bahagia sedunia, lu fix juara satu tanpa seleksi, Lin."
"Makasih atas pujiannya," jawab Lintang enteng sambil mengibaskan rambut.
"Itu bukan pujian, bloon," balas Zahiya sinis.
Lintang sudah tidak peduli. Ia berjalan mantap menuju meja Arka di barisan belakang.
Cowok itu menyadari kehadiran Lintang yang berjalan mendekat, namun tidak menunjukkan perubahan ekspresi sama sekali.
Begitu sampai di samping meja, Lintang langsung menarik satu kursi kosong lalu duduk di sana tanpa permisi. "Mas crush~, sekelompok nih kita. Jodoh emang nggak kemana ya?"
Arka hanya mengangguk sangat kecil. "Hm."
Lintang langsung menopang dagu di atas meja, menatap wajah Arka dari jarak dekat dengan lekat-lekat.
"Kita mau bikin prakarya apa nih, Ka? Cinta? Asmara? Atau langsung konsep rumah tangga?"
"Heh!" Suara Leon terdengar dari meja sebelah, memotong percakapan. "Bikin prakarya yang bernilai jual, Coy! Bukan bikin kartu keluarga!"
Beberapa murid yang mendengar itu langsung tertawa. Namun, Lintang malah memasang wajah super serius.
"Jadi pasutri juga bernilai kok, Leon. Ada nilainya di mata hukum dan negara."
Arka yang sejak tadi sedang membolak-balik buku catatan akhirnya membuka suara. Singkat, padat, dan jelas. "Terserah."
"Oh, terserah berarti setuju, kan?" goda Lintang, memajukan wajahnya satu senti.
"Terserah bukan berarti setuju," koreksi Arka, kini menatap Lintang sebentar-tatapan tajam yang biasanya sukses membuat murid lain ciut.
Namun, Lintang justru membalasnya dengan senyuman yang makin lebar. Akhirnya, Arka yang mengalah dan memalingkan wajah kembali ke bukunya.
Leon geleng-geleng kepala melihat pemandangan ajaib itu.
"Gue heran sama lu, Lin. Lu adalah satu-satunya spesies manusia di sekolah ini yang bisa ngobrol sendiri lima menit sama batu es sejenis Arka tanpa mati gaya."
"Berarti spek takdir kita udah cocok dan sinkron," jawab Lintang enteng tanpa beban.
"Astagfirullah," Leon mengelus dada sambil menahan kesal akibat tingkat kepedean Lintang yang sudah stadium akhir.
...----------------...
"Jadi... dua minggu lagi sekolah kita akan mengadakan pameran plus bazar tahunan," ujar Bu Rihka setelah situasi kelas mulai kondusif dan semua kelompok terbentuk.
"Anak kelas sepuluh bagian jualan makanan, kelas sebelas pameran lukisan, dan khusus kelas dua belas... kalian wajib membuat produk kerajinan tangan yang bernilai fungsional."
"Bahannya bebas, bisa pakai kain flanel, kain perca, kawat bulu (pipecleaner), atau benang rajut. Bikin sekreatif mungkin."
Mendengar jenis bahan kerajinan itu disebut, sepasang mata Lintang langsung menyala penuh kelicikan. Otaknya yang encer kalau urusan modus langsung menemukan ide cemerlang.
Ia kembali menatap Arka dengan senyum penuh arti.
"Ka, lu bisa ngerajut atau ngelipet kawat bulu yang estetik gitu nggak?" tanya Lintang setengah berbisik.
Arka tidak menoleh, tangannya masih sibuk menggoreskan pena di buku. "Nggak."
"Sip! Pas banget!" Lintang menepuk tangannya sekali dengan riang.
"Gue kan jago tuh bikin bunga estetik dari kawat bulu sama benang rajut. Tapi tangan gue sering gemeteran kalau bikin detailnya sendirian."
Arka menghentikan gerakan penanya. Cowok itu mengangkat wajah, menatap Lintang dengan sebelah alis terangkat tebal. Menanti kelanjutan kalimat gadis itu yang biasanya aneh-aneh.
Lintang memajukan tubuhnya, menopang dagu sambil mengerlingkan mata manja.
"Jadi nanti pas kerja kelompok, tugas lu gampang kok, Ka. Lu cukup pegangin jari-jari gue aja dari belakang biar tangan gue nggak gemeteran pas ngerajut. Gimana? Solusi yang sangat membantu nilai kita, kan?"
Leon yang kebetulan sedang meneguk air mineral di meja sebelah langsung tersedak hebat di tempat.
"UHUK! KHEKK! ANJIR, MODUS LU KETINGGIAN, LINTANG!"
"Bisa diam nggak, Leon? Ini urusan internal kelompok gue," semprot Lintang dengan wajah galak, sebelum kembali memasang senyum semanis gulali ke arah Arka.
Arka menatap Lintang selama beberapa detik tanpa ekspresi, lalu menghela napas pendek yang terdengar sangat pasrah. Ia menutup bukunya dengan gerakan perlahan namun tegas.
"Gak usah aneh-aneh. Kerjain yang bener."
"Iya, kerjain berdua di rumah gue, kan?" sambung Lintang cepat, mencari celah baru.
"Bahan-bahan rajut sama kawat bulu gue di rumah lengkap banget, Ka. Daripada di kelas ini berisik banyak gangguan gaib kayak Leon."
Arka terdim sejenak. Matanya menatap langit-langit kelas, tampaknya sedang menimbang jadwalnya yang padat. "Gue ada jadwal latihan silat."
"Kan bisa pulang latihan langsung ke rumah gue? Sebentar aja demi masa depan nilai Prakarya kita," bujuk Lintang lagi, menatap Arka dengan pandangan memohon yang dibuat seimut mungkin.
Zahiya yang memantau dari kejauhan hanya bisa menepuk jidatnya pasrah, menanti jawaban apa yang akan keluar dari mulut sang juara silat tersebut.
Arka mengembuskan napas kecil, lalu akhirnya menyerah. "Sabtu. Jam tiga sore."
Lintang hampir saja memekik kegirangan di tempat, namun ia berhasil menahannya demi menjaga image di depan mas crush.
"Oke, siap! Titik koordinat alias sharelok rumah gue nanti gue kirim lewat chat ya, Pak Ketua!"
"Jangan panggil itu," sahut Arka datar.
Lintang terkekeh geli melihat punggung Arka yang tampak kaku. Ia sangat yakin, sedingin-dinginnya Arka, cowok itu sebenarnya tidak se-batu yang orang-orang pikirkan.
Hanya butuh usaha ekstra saja untuk mencairkan es batu di hati cowok stoik tersebut.
"Zah, liat tuh! Dia nerima ajakan gue ke rumah!" seru Lintang setengah berbisik kepada Zahiya begitu kembali ke bangkunya.
Zahiya hanya memberikan dua jempol sambil menggelengkan kepala heran. "Satu langkah lebih dekat ke jadian, nih! Siapin PJ!" ledek Zahiya.
Lintang tertawa lepas. Dunianya tiba-tiba terasa jauh lebih cerah benderang, hanya karena hari Sabtu sore nanti, dia akan memiliki waktu berdua dengan Arka tanpa gangguan makhluk lain.
...----------------...
Ketika bel istirahat berbunyi nyaring, Arka langsung menyampirkan tasnya di sebelah bahu, lalu berjalan keluar kelas dengan langkah lebar tanpa menoleh sedikit pun.
Namun, tepat saat langkah kakinya melewati meja Lintang, Arka menghentikan langkahnya selama dua detik.
"Nanti sharelok," ucap Arka singkat dengan suara beratnya, sebelum benar-benar menghilang di balik pintu kelas.
Lintang ternganga di tempat selama beberapa detik, seperti patung yang kehilangan sistem operasinya.
Lalu pada detik berikutnya, ia langsung melompat kegirangan hingga membuat kursi kayu yang didudukinya bergeser dramatis.
"DIA NGOMONG DULUAN SAMA GUE! DIA MINTA CHAT GUE, ZAH! DIA NGOMONG!" Lintang mengguncang-guncang bahu Zahiya dengan brutal sampai kepala sahabatnya itu maju-mundur.
"Aduh! Sakit, Lin! Lepas!" Zahiya mengaduh kesakitan, namun sudut bibirnya ikut tersenyum geli.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!