Indonesia
NovelToon NovelToon

Only You

#1

#1

Suasana mall cukup ramai siang itu, karena sedang ada festival tahun baru China, maka banyak pula even yang diselenggarakan untuk meramaikan festival yang rutin diadakan pemilik mall setiap  tahun.

Sementara itu, dua orang pria berjalan lurus menerobos keramaian mall, tujuan mereka bukan ikut meramaikan festival, melainkan untuk menyambangi salah satu cabang butik perhiasan mewah yang memiliki stand di mall tersebut. Siapa mereka? Tentu saja si pemilik mall yang sedang meninjau pemilik baru stand perhiasan mewah yang ada di mall tersebut. 

“Jam berapa acara pembukaannya?” tanya Bagaspati Samudera. 

“Menurut jadwal yang tertera di kartu undangan, sih, lima menit dari sekarang, Tuan,” jawab Sandy sang asisten. 

Langkah mereka terus berlanjut, namun, sesaat kemudian, perhatian bagas menangkap selintas bayangan yang sudah sangat akrab dalam memori ingatannya. “Adinda Ayuningtyas,” gumamnya tanpa sadar menyebut nama lengkap mantan istrinya. 

“Heh? Maaf, Tuan. Saya tak dengar?” sahut Sandy memastikan pendengaran. 

Pria bernama Bagaspati itu tak lagi mendengarkan ucapan asistennya, pandangannya menyapu ke sekitar keramaian, namun, nihil, ia kehilangan jejak. 

“Tuan, apa yang Anda cari?” Sandy bertanya sekali lagi. 

“Dinda, aku melihatnya barusan,” jawab Bagas, pandangan matanya belum juga menghentikan pencarian. 

Sandy ikut celingukan, barangkali ia pun bisa menemukan sosok yang dicari atasannya. “Mungkin Anda salah lihat, Tuan,” kata Sandy ketika ia gagal menemukan orang yang mereka cari. 

“Tak mungkin, San. Aku adalah orang yang paling hafal seperti apa Dinda!” Nada Suara Bagas mendadak naik, ia marah ketika Sandy mengatakan ia salah mengenali orang. 

“Baiklah, maaf. Bagaimana kalau kita ke lokasi Nona Sharen dulu, Tuan. Karena acara pembukaan akan segera dimulai.” 

Bagas pun pasrah setelah beberapa saat ia berkeliling di sekitar lokasi tempat ia melihat Adinda sekilas. 

Langkah Bagas terlihat lesu, tak seperti langkahnya beberapa menit yang lalu. Jelas saja, karena kini isi kepalanya mulai kacau setelah melihat keberadaan mantan istrinya. 

Pernah mengarungi bahtera bahagia bersama, bucin luar biasa satu sama lain, hingga tragedi itu datang tak terelakkan. Kehilangan. 

Bagas hancur, Adinda frustasi, keduanya sama-sama putus asa. Sialnya ditengah semua prahara itu, ada pihak yang justru sengaja menambah suhu panas diantara mereka hingga perpisahan pun tak terelakkan lagi. 

“Mas Bagas.” 

Seorang wanita melambaikan tangan dengan riang, dialah Sharen, wanita yang kini sedang gencar mendekati Bagaspati Samudera. 

Bagas tersenyum, namun suasana hatinya dingin dan sepi, seperti hari-hari awal selepas resmi bercerai dari Adinda. 

Sandy menyerahkan buket bunga mawar yang dibeli Bagas saat mereka berkendara ke tempat ini. “Selamat untuk pembukaan butik ini.” 

“Aaahh, manis sekali, terima kasih, Mas Bagas.” Tanpa malu, Sharen memeluk bahkan mengecup pipi kanan Bagas. Tapi pria itu menepis Sharen dengan lembut, apakah Sharen menyadarinya? Iya. Tapi rasa sukanya pada Bagas begitu besar, hingga wanita itu tak peduli meski sikap Bagas dingin padanya. 

Tak jauh dari sana, seorang wanita melihat pemandangan itu dengan berbagai macam rasa berkecamuk di hatinya. 

Masih cinta? Hmm, mungkin saja. 

Apakah ia marah? Tentu sudah tak lagi berhak. 

Karena secara hukum dan agama, mereka sudah resmi berpisah dua tahun silam. 

Adinda memalingkan wajah dan tubuhnya, karena ponselnya berdering. Keberadaannya di tempat ini karena butiknya sedang berpartisipasi dalam event yang diselenggarakan di mall milik mantan suaminya. 

Jika ditanyakan kenapa ia tetap mendaftarkan butiknya di lokasi yang memungkinkan ia bertemu dengan sang mantan? Jawabannya sederhana, kemungkinan bertemu Bagaspati sangatlah kecil, karena Mall ini sangat besar. Dan lagi, masa lalu mereka benar-benar telah berakhir, satu-satunya harapan yang tersisa adalah bisa kembali menemukan putri mereka yang hilang beberapa tahun silam. 

#2

#2

Flashback. 

Abel baru saja tidur pulas setelah puas menikmati ASI sang bunda. Adinda tersenyum lembut, telapak tangannya membelai pipi mungil bayi perempuannya yang baru berusia tiga bulan itu. Abel adalah bayi yang cantik, kulitnya putih kemerahan, serupa dengan kulit bundanya. Selain itu wajah Abel pun cantik, perpaduan darah sunda asli dan juga paras rupawan Bagaspati. Hingga membuat siapapun terpesona ketika pertama kali melihat wajah Isabel Kirana Putri Samudera. 

“Sayangnya Bunda, bobo dulu, ya? Bunda mau selesaikan desain yang semalam terbengkalai,” bisik Dinda pada bayi mungilnya, lalu membaringkan bayi mungil yang tengah mengenakan rok mungil serba ungu termasuk selimut yang menghangatkan tubuhnya usai mandi. 

Kelambu yang menutupi box bayi Abel, kini telah tertutup rapat, Adinda pun keluar karena sang putri sudah istirahat dengan nyaman. 

“Makan yang banyak, Bi— Kakak mandi dulu, ya,” pamit Adinda pada adik iparnya yang sedang menginap di rumahnya. 

Adik bungsu Bagas itu, baru saja pulih dari depresi yang dideritanya selama beberapa bulan terakhir. Bahkan dokter jiwa yang menanganinya sempat memvonis wanita itu hampir gila, tapi Mama Yanti tak terima jika putri bungsunya divonis gila, begitupun Bagas dan papanya. 

Syukurlah semua membaik seiring waktu. Kini Biandra sudah bisa diajak berkomunikasi, meski masih terbatas. 

Setelah melihat Biandra mengangguk, Adinda pun kembali ke kamarnya, sekilas ia melirik Abel yang ada di ruangan sebelah, yang terhubung connecting door dengan kamarnya bersama Bagas. 

Beberapa menit Adinda di kamar mandi, wanita itu kembali keluar dengan tubuh yang segar usai membersihkan diri. Segera ia mengambil buku sketsa dan duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya. Ia tak curiga dengan pintu kamar yang terbuka, karena di jam-jam begini, Adinda mengizinkan ART membuka pintu kamar tanpa seizinnya, sebab Bagas tak ada di rumah. 

Setelah menghabiskan waktu sejenak dengan buku sketsanya, Adinda kembali berdiri guna menengok Abel, sebab biasanya dia akan menangis karena lapar. 

Tapi, jantungnya seperti melompat keluar dari tempatnya, serta darahnya berhenti mengalir seketika, karena Dinda tak melihat Abel di tempat tidurnya. “Abel!” teriaknya reflek. 

Setelah itu ia berlari keluar kamar, meja makan sudah kosong, Biandra tak ada di sana, Bi Sani pun tak terlihat di teras rumah, padahal Adinda melihat wanita itu ada di sana tepat sebelum ia masuk ke kamar untuk mandi.

“Bi Sani!” pekik Adinda, ia berharap Abel bersama sang ART yang biasa membantunya menjaga Abel. Tapi, Bi Sani kembali dari luar pagar dengan sekantong sayuran. 

“Ada apa, Bu? Kok wajah Ibu pucat begitu?” tanya Bi Sani heran. 

Makin lemas tubuh Adinda, sebab ia tak melihat  Abel bersama Bi Sani. “Dimana Abel?!” tanya Adinda, kedua tangannya mencengkeram bahu Bi Sani. 

“Lho, bukannya tadi sama Ibu? Saya tadi ke sebelah, belanja sayuran sebab Mang Didin yang baru saja datang.” Jawaban Jujur Bi Sani membuat Adinda seperti kehilangan akal sehatnya. 

“Jadi, kamu gak lihat Abel?!” 

“Nggak, Bu. Saya berani sumpah.” Wajah Bi Sani ikut pucat ketakutan. “Apa jangan-jangan…” 

Membayangkannya saja mereka sudah ketakutan, bagaimana bila itu benar terjadi. Abel dibawa pergi Biandra yang kondisinya masih di antara sadar dan tidak. 

“Abel!” 

“Abel!” 

Adinda dan Bi Sani pun berpencar, pertama mereka mencari di sekitaran rumah besar milik Bagas dan Dinda. Setelah pencarian tak membuahkan hasil, maka lokasi. Pencarian diperluas, yakni ke sekitaran komplek perumahan. 

Sepanjang pencarian, Adinda panik dan bingung seperti orang hilang kewarasan. Belahan jiwanya, putri kecil yang ia lahirkan susah payah tiga bulan lalu, kini lenyap dari. Pelukannya, siapa yang tak merasa nyaris gila? 

Seputaran komplek sudah di obrak abrik, para tetangga ikut berpencar mencari-cari keberadaan Biandra yang kemungkinan besar membawa Abel pergi dari rumah. 

CCTV di sekitar pintu keluar komplek pun diperiksa, sebab Bagaspati cukup punya kuasa untuk menggerakkan para polisi. Karena yang mereka cari adalah bayi beserta orang yang membawanya. Mengingat hal itu saja, rasanya batin dinda terasa sesak, sakit melebihi sayatan sembilu tajam. 

“Dimana kamu, Nak?” rintih Adinda setelah 24 jam pencarian yang tak membuahkan hasil apa-apa. Bahkan keberadaan Biandra pun masih menjadi misteri. 

Bagas pun rasanya seperti mayat hidup, tubuhnya bergerak, tapi jiwanya entah melayang kemana. Seolah terus mengembara mengaduk-aduk setiap sisi dan lipatan ibukota demi bisa menemukan secuil kabar tentang Abel. 

Tapi kenyataan pahit harus mereka terima, sebab seminggu pencarian sudah berlalu, dan keberadaan Abel masih menjadi misteri. Bahkan Biandra ditemukan terlantar di jalanan cukup jauh dari lokasi perumahan Adinda dan Bagas berada. 

Ingin rasanya Adinda meraung marah, memaki, bahkan mencabik wajah adik iparnya itu. Tapi akalnya yang tak waras membuat Adinda hanya bisa memeluk kesedihan dan kepiluannya seorang diri. 

Flashback End. 

•••

“Mbak— Mbak Dinda—” Suara lembut Lestari membangunkan Adinda, wajah dan tubuh wanita itu bersimbah keringat setiap kali memimpikan peristiwa hilangnya Abel. 

Tak terhitung rasanya sesal dan amarah yang menumpuk di dalam rongga dadanya, sayangnya semua itu tak lantas membuat Abel kembali ke pelukannya. 

Andai ada kejelasan, meski dalam kondisi meninggal sekalipun, mungkin Adinda kan berusaha berbesar hati menerimanya. Tapi ini— benar-benar tak ada kabar sama sekali, sebab pelaku yang diharapkan memberi pernyataan, sudah meregang nyawa. 

Di puncak depresinya, serta rongrongan pertanyaan yang mengarah padanya, membuat Biandra kian tertekan, hingga akhirnya ia pilih mengakhiri hidup di tengah kesepian, dan kehilangan yang juga pernah dialaminya. 

Beberapa bulan sebelumnya, Biandra pun mengalami keguguran, dan hingga ajal menjemput, ia tak mau mengatakan siapa pria yang menghamilinya. 

“Eh, maaf, Mbak ketiduran lagi, ya?” sahut Adinda, lalu melepas kain sholat yang masih menutupi kepala dan tubuhnya. 

“Nggak papa, Mbak. Aku dan tim yang lain masih bisa menghandle pameran, kok. Tapi sekarang, pameran hari ini sudah hampir berakhir, saatnya kita pulang.” 

“Oh,” sahut Adinda. “Baiklah, aku siap-siap juga,” kata Adinda sedikit malu pada para pegawainya. 

Hari terakhir pameran, ia ikut terjun ke lapangan, tapi malah tertidur, dan memimpikan masa paling kelam yang selalu menghantui hidupnya selama beberapa tahun terakhir. 

Entah bagaimana dengan Bagas, sebab pria itu sepertinya sudah bisa melupakan masa lalu dan siap memulai lembaran baru. 

Setelah boot dibereskan, Adinda tersenyum lega, namun hal tak terduga terjadi. 

“Ketemu! Akhirnya aku menemukanmu!” kata Bagas, dengan nafas ngos-ngosan sebab ia berlari dari ruangannya yang ada di lantai sepuluh gedung bertingkat ini. 

Karena penasaran dengan apa yang ia lihat pagi tadi, Bagas pun kembali mencari-cari. Namun, kali ini pencarian ia lakukan melalui CCTV di lokasi terselenggaranya acara. Setelah beberapa jam mengamati CCTV, pencarian pria itu pun membuahkan hasil. 

Tanpa menunggu lama, Bagas berlari kencang meninggalkan ruangan, menghampiri Adinda, sekaligus menghilangkan rasa rindu pada mantan istrinya. Rasa yang senantiasa menghantui malam-malamnya tanpa kehadiran wanita itu di pelukannya. 

“Mas Bagas?” 

Adinda pun tercengang melihat keberadaan sang mantan suami. 

#3

#3

“Mas Bagas?” monolog Adinda kala Bagas menggenggam lengan kanannya dengan erat. 

Butuh waktu beberapa saat bagi Bagas untuk menjawab, sebab pria itu harus menetralkan laju nafasnya. “Hmm, ini aku, senang bertemu lagi denganmu,” ungkapnya jujur. 

Wajah Adinda melengos, nampak tak sepakat dengan ungkapan bahagia mantan suaminya. Pelan-pelan Adinda menepis genggaman tangan Bagas. 

Sedikitpun Dinda tak berniat menanggapi pria yang terakhir kali ia jumpai di ruang sidang itu, apalagi untuk tersenyum ramah padanya, mungkin stok senyumnya untuk pria itu sudah terkikis habis tanpa sisa. 

“Maaf, itu bukan urusanku lagi, aku harus pulang.” 

“Aku antar!” sahut Bagas cepat, tanpa diminta sudah menawarkan jasa secara sukarela. 

“Tak perlu repot-repot, aku mengendarai mobil sendiri.” 

“Oohh— kenapa begitu?” 

Sungguh pertanyaan yang aneh, pikir Dinda heran. 

“Sebab aku tak bisa mengandalkan siapa-siapa selain diriku sendiri.” 

Dinda seolah menghentikan semua celah bagi Bagas untuk membantah. 

“Kalau begitu makan malam saja, mau, ya? Please,” mohon Bagas, berharap Dinda mengabulkan keinginannya untuk bersama meski sejenak. 

“Maaf, Mas. Itu pun tak bisa, sebab Mama dan Adara menungguku di rumah.” 

Meski paham jika Adinda sedang menutup semua akses mereka untuk kembali dekat dan berbicara akrab seperti dulu, tapi Bagas tak mau menyerah. “Kalau begitu aku ikut ke rumahmu, sudah lama aku tak silaturahmi dengan Mama Juwita, dan Adara.” 

Adinda terperangah, “Kamu—”

“Iya, kamu tahu seperti apa aku, kan? Jadi pilih saja makan malam bersamaku di mall ini, atau aku ikut ke rumahmu dan kita makan malam di sana?” kata Bagas tak memberi Adinda kesempatan selain memilih opsi yang diberikannya. 

“Kamu benar-benar pria menyebalkan, pemaksa, dan juga paling egois di dunia.” Sepanjang jalan menuju resto pilihan Bagas, Adinda terus menggerutu. Wanita itu memilih pasrah sebab sudah bisa memastikan jika Bagas tak akan menyerah begitu saja. 

Namun, Bagas. Ia hanya mendengarkan gerutuan tersebut tanpa menanggapinya satu kata pun. Biarlah, toh suara Adinda terdengar merdu, meski sebenarnya wanita itu sedang menggerutu. 

Resto dengan kemasan modern food adalah tempat yang mereka datangi, cukup ramai, meski tidak membludak pengunjungnya. Dan Bagas yang sudah mengenal pemilik tempat tersebut, meminta tempat yang paling nyaman tanpa ada gangguan suara berlebihan serta asap rokok. Sebab Adinda benci keduanya. 

Buku menu Bagas sodorkan ke hadapan Dinda, dan wanita itu mulai menyebutkan makanan apa saja yang diinginkannya. Bagas tak perlu melihat buku menu, karena hari ini ia hanya ingin fokus melihat wajah Adinda. 

“Semuanya dua porsi, ya? Oh, iya. Tambahkan juga bingsu kacang merah.” 

Bagas menambahkan satu menu favorit mantan istrinya. “Aku sedang diet! Jangan memesan minuman yang terlalu manis!” seru Adinda kesal. 

“Diet apa? Tubuhmu sudah seperti lidi berjalan! Kenapa masih ingin diet juga,” sahut Bagas tak suka, sebab Adinda jadi semakin kurus sejak terakhir kali mereka bertemu. 

Berbanding terbalik dengan dirinya yang memiliki tubuh makin atletis, sebab ia mengalihkan kesedihan dan rasa rindunya yang menggebu dengan memperbanyak olahraga. 

Adinda memandang tubuhnya sendiri, memang berat badannya susah naik meski dirinya sudah makan banyak. Mungkin karena hati dan pikirannya belum tenang, sebab tak kunjung menemukan petunjuk dan kabar berita perihal Abel. Apalagi ia sempat mengalami kecelakaan pasca bercerai, dan perlu waktu beberapa bulan untuk memulihkan kondisi tubuhnya. 

“Minggu depan Eyang Tuti ke Jakarta,” kata Bagas mengawali pembicaraan dengan topik berbeda. 

Adinda hanya menyimak, diam dan menundukkan wajah, menatap jemarinya yang sibuk memainkan kuku pendeknya. “Beliau ingin makan malam dengan keluarga besar Samudera di rumah Mbak Tari dan Mas Igun, kamu bisa datang? Maksudku kita.” 

Setelah mendengar ucapan terakhir Bagas, Adinda mengangkat wajahnya dengan ekspresi kaget. Mereka sudah bercerai, jadi kenapa ia pun harus ikut hadir di acara makan malam keluarga besar Bagas? Apa pria ini sedang mencari-cari alasan? 

“Dua tahun ini, Eyang sakit, Dind. Beliau bermaksud healing sejenak di Jakarta, tapi pengennya menginap di rumah kita. Gitu loh, tapi karena Mbak Tari merajuk, maka beliau setuju untuk makan malam di sana sebelum berpindah ke rumah kita,” sambung Bagas panjang kali lebar menjelaskan. 

“Lalu, apa masalahmu? Bukanlah Eyang sudah tahu kita berpisah?” Sahut Adinda sengit. 

“Disitulah letak masalahnya. Ingatan beliau mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind. Anggap ini permintaan terakhir Eyang Tari pada kita,” mohon Bagas.

“Mas mendoakan Eyang segera berpulang?” tuding Adinda. 

Bagas gelagapan, “Bukan begitu, tapi kami sekeluarga realistis, selain demensia, kondisi jantung beliau juga tak baik-baik saja. Lagi pula kamu tahu sendiri, bahwa kamu adalah cucu mantu kesayangan Eyang, makanya di sela ingatannya yang kadang timbul tenggelam, beliau tak pernah melupakan kehadiranmu.” 

“Jadi, Mas mengajakku bersekongkol melakukan kebohongan di depan Eyang? Ingat dosa, Mas!” 

“Ya, berbohong demi kebaikan, kan tidak apa-apa, Dind.” 

“Jika hanya makan malam saja, aku tak masalah, Mas. Tapi ini, kita harus bersandiwara seperti suami istri sungguhan! Kamu sudah—”

“Gila? Iya, anggap saja aku gila, tak masalah. Tapi hanya ini yang bisa kulakukan untuk membahagiakan Eyang, Dind.” 

Sepertinya semalam Dinda mimpi aneh, sebab hari ini ia kembali berpapasan dengan mantan suaminya, setelah lebih dari tiga tahun saling menghindar, berharap tidak pernah bertemu atau berpapasan. Dan ternyata setelah mereka tak sengaja bertemu, justru pria itu mengajaknya melakukan sandiwara aneh. 

“Nggak, Mas. Aku gak bisa,” tolak Dinda. 

“Ayolah, Dind.” Bagas tak juga menyerah. “Ini demi kebaikan— sebab Eyang sering sakit-sakitan sejak anak kita—” Bagas meraup wajahnya, tak sanggup melanjutkan ucapannya. 

“Intinya itu,” sambung Bagas. 

Adinda mencengkeram tepi meja, luka hatinya yang masih samar, seolah kembali menganga lebar, sebab Bagas tiba-tiba membahas putri kecil mereka yang hilang. Dadanya mulai sesak ditambah lagi Dinda menahan air mata yang hendak meleleh keluar dari kelopak matanya. 

Tak ada jawaban dari Dinda, sekedar menimbang pun tidak ia lakukan. Namun, kalimat penolakan justru tertahan di ujung lidahnya saat sekelebat bayangan Eyang Tuti berkelebat di benaknya. Wanita itu sungguh-sungguh sayang padanya, kini tegakah ia menolak permintaan itu? 

Bagas kembali menatap wajah Adinda yang sedang geram. Ia tahu bahwa tak boleh ada paksaan, biarlah Dinda sendiri yang memutuskan. 

Tak lama setelah itu, makan malam pesanan mereka pun datang, keduanya makan dalam keheningan. Adinda sibuk dengan piringnya, sedangkan Bagas memanfaatkan Kesempatan itu untuk mengobati kerinduannya pada sang mantan istri yang masih sepenuhnya masih bertahta di dalam hatinya. 

Perpisahan mereka dulu memang pahit, salah paham, lelah, putus asa, saling menyalahkan hingga berujung pertengkaran yang tak kunjung menemukan solusi. Hubungan mereka terasa panas seperti di neraka, hingga pada akhirnya persidangan yang menjadi tujuan akhir hubungan mereka. 

Bagas hancur, Dinda putus asa, Saling menghindari satu sama lain, namun, permintaan Eyang Tuti tak mudah untuk di tolak begitu saja. 

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!