Indonesia
NovelToon NovelToon

Nafas Yang Mencekik

Luka di balik lengan.

Kampus Universitas Mandala, 18:47

Kuliah terakhir baru saja selesai. Hujan gerimis membuat halaman kampus menjadi licin dan sepi.

Serena menarik resleting jaketnya hingga menutup leher. Hari ini ia tidak membawa payung.

"Rena, gue anter pulang ya? Mobil gue parkir deket sana,"

Suara itu Jake, teman kampus Serena, muncul sambil menunjuk ke arah parkiran.

Serena ragu sejenak. Ia mengecek ponselnya. Tiga panggilan tak terjawab dari orang yang sudah menunggu di apartemen. Revan. pesan masuk beberapa kali, semuanya mendesak.

Di mana?

Jangan telat pulang.

Gue nunggu lo.

Cepat pulang.

Jari serena bergetar saat mengetik balasan nya pesan itu. Iya ini aku mau pulang kak, jangan marah ya.

Ia menghela napas pelan, lalu mengangguk pada jake.

"Yaudah deh, kak. Boleh. Makasih ya."

Jake mengernyit, merasakan sesuatu yang aneh pada gadis itu. tetapi Jake tidak bertanya apa pun. "Yaudah, ayok. Cepetan sebelum ujan makin deras."

Serena dan jake berjalan ke arah parkiran mobil. Jake membukakan pintu untuk nya.

Mobil melaju meninggalkan kampus. Sepanjang perjalanan, Serena diam. Nafas nya tertahan. Matanya tertuju pada layar ponsel, menunggu pesan susulan dari Revan. Tidak ada. Hanya balasan centang dua berwarna biru pada pesannya tadi.

Sampai di depan apartemen, Serena turun dengan terburu-buru.

"Makasih ya, Kak. Hati-hati pulangnya."

"Ren," Jake memanggil sebelum pintu mobil tertutup. "Kalau dia nyakitin lo lagi, lo telpon gue ya. Janji."

Serena hanya tersenyum tipis. Itu janji yang sudah empat kali ia ingkari.

Pintu apartemen terbuka sebelum ia sempat menempelkan kartu akses. Revan sudah berdiri di sana, wajahnya datar, tetapi rahangnya mengeras.

"Kak..." panggil Serena pelan.

Revan tidak menjawab. Tatapannya menyapu Serena dari atas ke bawah.

"lo pulang sama dia lagi?" Suaranya rendah, dingin.

Serena menunduk. "Dia nawarin tumpangan. Ujan, kak. Aku takut telat."

"Takut telat?" Revan mendekat satu langkah. "Apa takut gue marah?"

Serena tidak menjawab. Ia memang takut pada Revan. Tapi di saat yang sama, dadanya terasa hangat. Karena meski Revan kasar, temperamental, dan sering membuat lengannya memar, hanya Revan yang membuat Serena merasa hidup.

Dan itu yang paling berbahaya.

Pintu apartemen tertutup dengan bunyi pelan. Tapi hawa dingin langsung menyergap Serena.

Revan tidak menyalakan lampu. Hanya cahaya lampu lorong dari luar celah pintu yang membuat wajahnya tampak lebih tajam.

"Kak Re, aku-"

"Lo jawab gue pelan-pelan," potongnya. Suaranya pelan, tapi ada tekanan di dalamnya.

Serena menelan ludah. Ia menaruh tasnya di lantai, tangannya masih gemetar.

"Jake cuma nganterin aku pulang kak. Ujan deras. Udah cuma sekedar itu aja." Ucap Serena menjelaskan.

Revan mendekat. Satu langkah. Dua langkah.

"Jadi gue harus makasih sama dia karena udah nganterin cewe gue pulang?"

"Bukan gitu, kak -"

"Terus gimana!"

Tiba-tiba tangannya mencengkeram dagu Serena, tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat Serena mendongak paksa.

Mata coklat Revan gelap. Tidak ada emosi di sana, kecuali kemarahan yang ditahan.

"Lo pikir gue nggak cemburu? Lo pikir gue seneng liat lo deket-deket sama cowok lain?"

Serena menggeleng cepat. "Nggak ada apa-apa, kak. Sumpah, aku cuma takut kakak marah kalau aku pulang telat."

Revan menatapnya lama. Lalu mendengus pelan, dan lepasan cengkeramannya.

"Takut gue marah? Tapi lo pulang sama dia."

Ia berbalik, berjalan ke ruang tengah, dan menendang meja kaca.

"Sama aja lo mancing gue marah" Suara nya terdengar pelan dari ruang tengah.

"Maaf kak Re, aku..."

Tiba-tiba PRAKK!!

Suara dentingan pecahan kaca menggema di apartemen yang sepi.

Serena tersentak. Kakinya mundur satu langkah, tapi ia tidak lari. Ia tidak pernah lari. Dia hanya diam di tempat, menyaksikan amarah dari pria itu.

Vas bunga pecah karena di lempar dengan keras. Ini bukan pertama kali Revan bersikap seperti itu pada Serena. Bahkan sudah tidak terhitung berapa kali Revan harus mengganti benda yang berbahan kaca di apartemen itu.

Revan mengumpat pelan "Bangsat!" Suara nya serak dari tenggorokan.

Tanpa menoleh, tangannya menyapu pecahan kaca terbesar di lantai. Dan menggenggam nya. Kuat.

Darah merah gelap langsung menetes di antara sela-sela jarinya, jatuh ke lantai marmer dengan bunyi tes.. tes..

Revan menoleh, napasnya masih kasar. "Deket sini."

Serena ragu, tapi akhirnya melangkah pelan. Berhenti tepat di depan Revan. Mengamati darah yang masih mengalir di tangan kirinya.

Revan menatap bibirnya yang pucat, lalu mengusap pipinya dengan punggung tangan. Kasar, tapi tidak menyakiti. Tepat di tempat yang sama. Seminggu lalu saat luka memar ungu yang baru hilang.

"Gue benci kalau lo bikin gue kayak gini, Na." Tatapannya sayu. Darah masih menetes dari tangannya yang satu lagi. Tapi ia tidak peduli.

"Kak.. tanganmu berdarah," Bisik serena akhirnya.

"Gue nggak perduli na." Ucap Revan pelan. "Ini nggak seberapa. Dibandingkan rasa sakit ngeliat lo sama dia"

"Kak..."

"Gue cuma takut kehilangan lo." Suaranya turun, jadi hampir berbisik. "Kalau lo ninggalin gue, gue nggak tau gue bakal jadi apa."

Serena tidak menjawab. Ia harus nya marah, ia harus nya lari. Tapi yang ia lakukan hanya mengangguk pelan.

Karena ia tahu, di balik amarah dan kekerasan itu, ada ketakutan.

Dan ketakutan itulah yang membuat Revan semakin menggenggamnya erat. Terlalu erat. Sampai sesak.

____

Maaf

Malam itu tidak ada lagi suara. Setelah serena memperban luka di tangan Revan. Kekacauan sudah di beres kan oleh jasa pembersihan.

Hanya desir hujan di luar jendela.

Revan berjalan ke kamar tanpa menoleh. "Mandi." ucap nya pelan.

Serena mengangguk, lalu mengambil pakaian ganti dari lemari. Ia tidak berani bertanya lagi. Setiap kali ia bertanya, situasinya selalu menjadi lebih buruk.

Di kamar mandi, ia berdiri di depan cermin. Lampu kuning yang redup membuat memar di lengan kirinya terlihat lebih jelas. Ungu kehitaman, berbentuk seperti jari.

Ia hampir terbiasa menatap luka seperti itu. Kebiasaan buruk Revan jika tidak menyakiti Serena maka menyakiti dirinya sendiri.

Ia mengusapnya pelan. Tidak sakit lagi. Namun ingatannya masih ada.

"Gue cuma takut kehilangan lo."

Kalimat itu terus berputar di kepalanya.

Serena tidak mengetahui mana yang lebih menakutkan: takut kehilangan Revan, atau takut tidak dapat melepaskan diri darinya.

Pukul 23.00, Serena keluar dari kamar mandi. Revan sudah berbaring di ranjang dengan punggung menghadapnya.

Ia ragu sejenak, lalu naik ke tempat tidur. Tubuhnya menempel pada punggung Revan, sebagaimana yang selalu ia lakukan setiap kali pertengkaran selesai.

Revan tidak mendorongnya.

Tangan Revan yang terbalut perban bergerak, meraih tangannya dan menggenggamnya erat. Terlalu erat.

"Maaf," gumam Revan pelan. Suaranya serak, setengah tertidur.

"Gue nggak mau lo takut sama gue, Na."

Serena memejamkan mata. "Aku nggak takut, kak."

Itu kebohongan.

Namun Revan suka mendengarnya.

Revan berbalik, memeluknya dari belakang. Bibirnya menyentuh bahu Serena, tepat di atas garis memar yang tertutup kaus.

"Besok jangan pulang terlambat lagi. Gue gak suka menunggu."

"Iya kak, maaf."

Hanya itu yang dapat ia ucapkan.

Malam itu Revan tidak tidur sampai Serena tertidur terlebih dahulu.

Ketika napas Serena sudah teratur, ia bangun perlahan, duduk di tepi ranjang, menatap wajah Serena yang tampak damai.

Ia menyentuh rambut Serena, menyingkirkan helai yang menutupi dahi.

"Besok gua bakal jemput lo pulang kuliah," ujarnya pelan, seolah berbicara kepada dirinya sendiri.

"Mulai sekarang, gua ga mau ada nama cowok lain yang nganter lo pulang."

Serena tidak menjawab. Ia tidak mendengarnya.

Namun Revan mengangguk kecil, seolah percakapan itu telah selesai.

Sudah empat tahun mereka seperti ini. Sejak Revan memberinya kunci apartemen ini. "Biar nggak repot cari kos lagi," katanya dulu. Rumah Serena memang jauh. Di luar kota. Waktu itu Serena mengira itu bentuk kasih sayang. Bahwa setelah bersama Revan, semua milik Revan juga miliknya. Ia tidak pernah menyangka, yang ikut menjadi miliknya adalah rantai ini. Terjebak oleh cinta, dan juga oleh borgolnya sendiri.

.

.

Pagi berikutnya. 07.03

Serena bangun lebih dahulu. Revan masih tidur, wajahnya tenang. ia menatap tangan Revan yang terbalut perban berada si atas perut nya.

Serena mengusap pelan tangan Revan. Kemudian ia duduk di tepi ranjang, menatap tangannya sendiri. Terdapat goresan kecil di pergelangan tangan. Mungkin terkena pecahan kaca kemarin.

Telepon genggamnya menyala. Pesan dari Jake:

Lo aman?

Serena menatap layar tersebut lama. Jari-jarinya ingin mengetik Iya, aku baik-baik aja.

Namun ia menghapusnya.

Ia membalas:

Udah aman. Makasih ya, kak Jake.

Kemudian ia mematikan data seluler. Dan meletakkan ponsel nya di meja samping tempat tidur.

Karena apabila Revan melihatnya membalas pesan Jake, hari ini peristiwa yang sama pasti akan terulang lagi.

Kampus Universitas Mandala, 13.20

Matahari siang membuat halaman kampus terasa panas dan berisik.

Serena duduk di bangku taman, lengan panjangnya ia tarik sedikit untuk menutupi pergelangan tangan. Meski telah menggunakan foundation, memar berwarna ungu di sana belum hilang sepenuhnya.

"Rena."

Jake duduk di sebelahnya tanpa permisi, membawa dua botol air mineral.

"Nih. Katanya lo jarang minum ya."

Serena tersenyum kecil. "Makasih, Kak."

Jake menatapnya lama. Bukan tatapan biasa.

"Lo yakin aman? Gue liat ekspresi lo dari pagi aneh, pacar lo marah ya?"

Serena menggeleng cepat. "Aman kok, Kak. Dia cuma... cemburuan saja. Biasa."

Jake mengernyit. Matanya menangkap sesuatu pada pergelangan tangan Serena yang sedikit tersingkap ketika ia meraih botol air.

Bekas biru keunguan yang jelas bukan luka biasa.

"Ren," suaranya menjadi lebih pelan. "Itu memar, bukan?"

Serena segera menarik tangannya, menyembunyikannya di balik lengan.

"Aduh, aku lupa kak, ini ketabrak meja kemarin. Ga sengaja, Kak. Biasa kadang aku suka ceroboh."

Jake diam. Ia mengenal Serena cukup lama untuk mengetahui bahwa Serena adalah orang yang sangat berhati-hati.

Orang yang pelupa tidak akan mengenakan lengan panjang pada cuaca 32 derajat.

"Kalau dia nyakitin lo lagi, lo ngomong ya," ujar Jake pelan.

"Gua ga peduli dia siapa. Gua ga bakal diem."

Serena menunduk. Dadanya terasa sesak.

"Iya, Ka. Makasih."

Namun di dalam pikirannya, ia telah membayangkan wajah Revan apabila mengetahui Jake berbicara seperti itu.

17.45

Kuliah terakhir selesai lebih cepat dari biasanya. Serena berdiri di depan Gedung F. Ia sengaja tidak langsung pulang. Tangannya menggenggam tali tas erat-erat, matanya sesekali melirik ke arah parkiran.

Mobil hitam Revan belum tampak. Seperti janjinya dia akan menjemput Serena hari ini.

Di dalam pikirannya terdapat dua kemungkinan.

Pertama, Revan lupa.

Kedua, Revan sengaja terlambat agar ia merasa cemas.

Dan biasanya, yang kedua yang benar.

"Serena!"

Suara Jake memanggil dari belakang. Ia berjalan bersama dua temannya menuju parkiran sepeda motor.

"Lo menunggu siapa? Udah sore begini."

Serena terkejut. "Oh, Kak Jake... menunggu ojek online. Telat nih kayaknya, mungkin macet."

Jake mengangguk, tetapi matanya masih tertuju pada pergelangan tangan Serena yang tertutup lengan panjang.

"Yakin gapapa? Kalo mau gue anterin."

Serena segera menggeleng. "Ga usah kak, makasih. Aku beneran udah pesen."

Jake hanya tersenyum tipis. "Yaudah hati-hati ya, kabarin kalo ada apa-apa."

Serena mengangguk. Jake dan temannya kemudian berjalan menuju parkiran sepeda motor.

Baru satu menit setelah Jake pergi, suara mesin mobil yang familiar terdengar dari ujung parkiran.

Mobil hitam. Plat nomor yang telah ia hafal di luar kepala.

Revan turun dari dalam mobil. Jasnya masih rapi, dasinya agak kendur. Wajahnya datar, namun matanya tidak.

Revan sempat melihat Jake dan Serena berbicara. Ia tidak mendengar isi pembicaraan tersebut, namun cukup untuk melihat cara laki-laki itu berdiri terlalu dekat, cara matanya terlalu lama tertuju pada Serena.

Ia menatap Serena dari jarak lima meter, lalu berjalan mendekat. Langkahnya pelan, tetapi membawa tekanan.

"Beres?" suaranya datar.

Serena mengangguk kecil. "Udah, kak."

Revan menyapu pandangannya dari kepala hingga kaki. Berhenti sejenak pada lengan panjang Serena yang sengaja ditarik untuk menutupi pergelangan tangan.

Matanya menyipit setengah detik.

"Pulang," ujarnya singkat. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berbalik menuju mobil.

Serena mengikuti dari belakang. Langkahnya kecil dan berhati-hati.

Di dalam mobil, aroma parfum Revan langsung menyergap. Udara dingin dari penyejuk ruangan terasa sepi. Revan tidak menyalakan musik.

Sebelum memutar kunci kontak, ia bertanya pelan tanpa menoleh:

"Itu tadi Jake kan?"

Serena menahan napas.

Tangannya yang berada di pangkuan mengepal pelan. Jantung nya mulai terpacu lebih kuat. Rasa cemas itu datang lagi.

Kontrol

Di dalam mobil hening, gerimis di luar kaca semakin deras.

Revan belum menyalakan mesin. Ia menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras.

Serena duduk kaku di kursi sebelahnya. Tangannya masih mengepal di atas pangkuan. Ia lebih memilih diam. Setiap kali ia bersuara sedikit saja, keadaan selalu menjadi lebih buruk.

Keheningan itu tidak bertahan lama.

"Lo ngapain ngobrol lama-lama sama dia, hah?" suara Revan pelan, tapi ada nada menahan marah di dalamnya.

"Gue dari tadi liat. Dia berdiri deket banget sama lo, Rena."

Serena menelan ludah.

"Aku... aku nggak ngapa-ngapain, kak. Dia cuma nanya aku pulang sama siapa."

Revan akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, menyisir wajah Serena dari atas sampai bawah.

"Selain itu?"

Serena mengangguk kecil. Jantungnya mulai tidak beraturan.

"Enggak ada kak. Kita cuma temen."

"Cuma temen?" Revan mengulang pelan, bibirnya menyungging senyum tipis yang tidak sampai ke mata.

"Temen kok liatin lo kayak gitu? Gue nggak buta, Serena."

"Aku nggak tahu dia ngeliat aku gimana," suara Serena semakin pelan. "Tapi aku nggak ngasih dia harapan apa-apa kak, aku janji."

Revan mendengus pelan. Tangannya mencengkeram setir sampai buku-buku jarinya memutih.

"Janji lo nggak ada artinya kalau lo masih mau ngobrol sama dia. Gue udah bilang kan? Mulai sekarang, nggak ada cowok lain yang boleh deket sama lo. Ngerti?"

Serena tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menahan napas.

Belum berani melawan. Belum berani bersuara.

Revan menyalakan mesin dengan kasar, lalu menginjak gas lebih dalam dari biasanya.

Mobil melesat keluar kampus. Jarum spidometer naik cepat, menembus batas aman.

Kecepatan tinggi itu seperti cara Revan melampiaskan emosi yang tidak bisa ia ucapkan.

Setiap tikungan tajam ia ambil dengan kasar, membuat tubuh Serena tersentak ke samping.

"Kak Re, pelan-pelan-"

Serena baru bisa berbisik pelan, suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin.

Revan tidak menjawab. Matanya tetap menatap lurus ke jalan, tapi rahangnya semakin mengeras.

Di luar, gerimis berubah jadi hujan deras. Lampu jalan berpendar buram di kaca mobil.

Di sebelahnya, ponsel Serena bergetar sekali. Pesan dari Jake:

Lo udah pulang belum Ren?

Serena menatap layar itu. Jemarinya gemetar.

Dia tidak berani membuka chat itu.

Dia juga tidak berani mematikan notifikasinya.

 

Mobil akhirnya berhenti di basement apartemen dengan rem mendadak.

Suara ban berdecit masih menggema di telinga Serena.

Revan membuka pintu dan keluar duluan tanpa menoleh. Langkahnya cepat, marah yang belum tuntas masih terbaca dari bahunya yang kaku.

Serena buru-buru mengikutinya dari belakang, jantungnya masih berdetak kencang karena tadi di jalan.

Pintu apartemen ditutup dengan suara keras.

Bruk.

Revan melempar kunci mobil ke meja, lalu berbalik menatap Serena. Matanya gelap.

"HP lo."

Serena menahan napas. "Kak?"

"Gue bilang, HP lo," suaranya rendah, tapi ada tekanan yang membuat Serena tidak bisa menolak.

"Gua nggak suka ada notifikasi dari dia masuk ke HP lo."

Serena meremas ujung bajunya. "Kak, itu privasi aku-"

"Privasi?" Revan memotong, langkahnya mendekat dalam dua langkah besar.

"Lo ngomong privasi sama gue setelah gue liat lo ketawa-ketiwi sama dia?"

Serena mundur selangkah. Tangannya otomatis menyembunyikan ponsel di belakang punggung.

"Aku nggak ketawa-ketiwi, kak. Sumpah. Aku cuma jawab seperlunya."

"Sini HP lo sekarang, Serena."

Nada Revan datar, tapi ada ancaman di dalamnya yang Serena kenal baik.

Serena menatap wajah itu lama. Wajah yang tadi malam masih berbisik maaf di telinganya, sekarang dingin seperti orang asing.

Perlahan, dengan tangan gemetar, ia menyerahkan ponselnya.

Revan merebutnya kasar. Matanya langsung tertuju ke layar. Nama Jake terpampang di notifikasi paling atas.

Jari Revan berhenti di atas layar itu.

"Lo belum bales kan?" Tanya Revan pelan.

"Belum, kak. Aku nggak buka."

Revan menatapnya dalam-dalam, seolah mencari kebohongan di setiap sudut matanya.

Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, dia mengangguk pelan.

"Bagus. Mulai sekarang, gue yang pegang HP lo."

Dia mematikan data seluler, lalu memasukkan ponsel itu ke saku jasnya.

"Gue nggak mau denger lagi nama dia keluar dari mulut lo, ngerti?"

Serena menunduk. Suaranya hampir tidak terdengar.

"Iya, kak maaf.."

Maaf, lagi-lagi kata itu yang selalu Serena ucapkan. Dan akan selalu dia ucapkan, walau dia tidak melakukan kesalahan apapun.

Revan menatap serena beberapa detik. Lalu menghela nafas sambil mendongak ke atas, seolah lelah. Dia mengusap wajahnya kasar, lalu tiba-tiba menarik Serena ke dalam pelukannya.

Pelukannya terlalu erat, seperti takut Serena akan hilang kalau dilepas sedetik saja.

"Gue nggak mau marah sama lo, Na," gumamnya di atas kepala Serena. Suaranya serak.

"Tapi lo bikin gue gila kalau lo masih deket sama dia."

Serena memejamkan mata. Dia tidak membalas pelukan itu.

Dia juga tidak mendorongnya pergi.

 

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!