Indonesia
NovelToon NovelToon

Penyesalan Sang CEO

Dicampakkan Setelah Sukses

Alunan musik biola yang romantis mengalun lembut di dalam restoran bintang lima malam itu. Keyra meremas pelan gaun marun sederhana yang dikenakannya, jantungnya berdebar penuh antisipasi. Di hadapannya, duduk Arkan—pria yang telah menemaninya selama tiga tahun terakhir.

Malam ini adalah perayaan hari jadi mereka yang ketiga, sekaligus perayaan atas keberhasilan Arkan yang baru saja resmi diangkat menjadi CEO di perusahaan otomotif terkemuka.

Selama tiga tahun ini, Keyra-lah yang menemani Arkan dari titik nol. Dia yang rela bekerja paruh waktu demi membantu biaya hidup Arkan saat pria itu masih merintis karier, bahkan rela menunda impiannya sendiri.

"Arkan, selamat ya atas jabatan barumu," ucap Keyra tulus, senyum manis terukir di wajahnya yang cantik alami tanpa riasan tebal. "Aku benar-benar bangga sama kamu."

Namun, respons Arkan tidak sesuai bayangan Keyra. Pria tampan berstelan jas mahal itu tidak tersenyum. Tatapannya dingin, bahkan terkesan enggan menatap mata Keyra.

"Keyra, ada hal penting yang harus aku bicarakan," potong Arkan, suaranya terdengar datar dan asing di telinga Keyra.

"Ada apa? Kamu kelihatan serius sekali," tanya Keyra, mulai merasa tidak tenang.

Arkan menarik napas panjang, lalu mengeluarkan sebuah amplop tebal dari dalam jasnya dan menggesernya ke atas meja, tepat di hadapan Keyra. "Di dalam itu ada uang seratus juta rupiah. Ambil lah."

Keyra mengernyitkan dahi, menatap amplop itu lalu beralih ke wajah Arkan. "Uang? Untuk apa, Arkan? Aku tidak sedang butuh uang."

"Itu uang kompensasi, Keyra. Untuk semua hal yang sudah kamu lakukan buat aku selama tiga tahun ini," ujar Arkan tanpa beban. Dia memajukan tubuhnya, menatap Keyra dengan tatapan menilai. "Mari kita akhiri hubungan ini. Kita putus."

Jantung Keyra seolah berhenti berdetak. Suara musik biola di sekitar mereka mendadak senyap, tergantikan oleh dengungan pengang di kepalanya. "Putus? Tapi kenapa? Kita baru saja merayakan kesuksesanmu, Arkan. Kenapa tiba-tiba—"

"Tidak ada yang tiba-tiba, Keyra. Aku sudah memikirkan ini matang-matang," sela Arkan dengan nada sombong yang belum pernah Keyra dengar sebelumnya. "Posisiku sekarang sudah berubah. Aku adalah seorang CEO. Lingkungan sosialku sekarang adalah para pebisnis kelas atas dan ekspatriat."

Arkan menatap gaun murah yang dikenakan Keyra dengan pandangan meremehkan. "Sedangkan kamu? Kamu hanya gadis biasa, karyawan toko kue. Kamu tidak akan bisa mengimbangi duniaku yang sekarang, Keyra. Kamu hanya akan membuatku malu di depan rekan bisnisku."

Air mata yang sejak tadi ditahan Keyra akhirnya luruh juga. Dadanya sesak seperti dihantam batu besar. Rasa sakitnya begitu menghujam, bukan hanya karena dicampakkan, tapi karena alasan dangkal pria yang dulu berjanji akan membahagiakannya jika sudah sukses.

"Jadi... karena aku tidak kaya? Karena aku tidak modis seperti wanita-wanita di duniamu?" suara Keyra bergetar menahan tangis. "Kamu lupa siapa yang menemani kamu saat kamu tidak punya ongkos buat naik bus? Siapa yang memasakkanmu setiap hari saat kamu kelaparan, Arkan?!"

"Cukup, Keyra! Jangan mengungkit masa lalu!" bentak Arkan pelan, wajahnya mengeras karena gengsi didengar pengunjung lain. "Makanya aku berikan uang seratus juta itu! Itu sudah lebih dari cukup untuk membayar semua makanan dan bantuanmu dulu. Jangan serakah."

Sebelum Keyra sempat membalas, terdengar suara ketukan sepatu hak tinggi yang mendekat. Seorang wanita dengan gaun desainer mewah yang sangat seksi tiba-tiba berdiri di samping Arkan, lalu dengan manja menggelayutkan tangannya di lengan Arkan.

"Sayang, sudah selesai bicaranya? Aku sudah bosan menunggu di mobil," ucap wanita itu dengan nada manja yang dibuat-buat. Dia adalah Mentari, anak dari salah satu investor terbesar di perusahaan Arkan.

Arkan langsung melembutkan ekspresinya pada Mentari. "Sudah selesai, Sayang. Ayo kita pergi."

Arkan berdiri dari kursinya, sama sekali tidak menoleh lagi pada Keyra yang dunianya baru saja hancur berkeping-keping. "Ambil uang itu, Keyra. Cari pria yang selevel denganmu. Mulai hari ini, jangan pernah temui aku lagi."

Keyra hanya bisa terpaku di kursinya, menatap punggung Arkan dan wanita itu yang berjalan menjauh. Air matanya mengalir deras membasahi pipi. Di tengah rasa sakit yang luar biasa itu, tangan Keyra mengepal erat di bawah meja hingga kukunya memutih.

‘Tiga tahun pengorbananku hanya dihargai dengan selembar cek dan hinaan?’ batin Keyra perih.

Rasa sedih di hatinya perlahan menguap, digantikan oleh kobaran rasa kecewa dan amarah yang membakar. Keyra menghapus air matanya dengan kasar. Dia bersumpah di dalam hati, suatu hari nanti, dia akan membuat Arkan merangkak memohon ampunan di kakinya.

Pertemuan di Bawah Guyuran Hujan

Keyra berjalan terhuyung-huyung keluar dari restoran mewah itu. Langkah kakinya terasa begitu berat, seolah-olah bumi yang dipijaknya baru saja runtuh. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mengalir deras, membasahi pipi dan merusak riasan tipis di wajahnya. Hatinya hancur berkeping-keping. Tiga tahun pengorbanan, tiga tahun air mata dan peluh yang ia curahkan demi mendukung karier Arkan dari bawah, malam ini berakhir tragis hanya dengan selembar amplop tebal berisi uang seratus juta rupiah.

"Seratus juta..." bisik Keyra dengan suara parau yang bergetar. Senyum mengejek Arkan dan tatapan meremehkan dari Mentari terus berputar-putar di dalam kepalanya bagai kaset rusak. "Apakah harga diriku dan ketulusanku selama tiga tahun ini hanya senilai seratus juta di matamu, Arkan?"

Tepat saat Keyra melangkah keluar ke area parkir terbuka, langit yang sejak sore mendung seolah ikut merasakan kepedihannya. Gemuruh petir menggelegar, disusul dengan tetesan air hujan yang langsung turun dengan sangat deras. Dalam sekejap, tubuh Keyra basah kuyup. Gaun marun sederhana yang ia kenakan kini melekat erat di tubuhnya yang mulai menggigil kedinginan. Namun, Keyra tidak peduli. Rasa dingin yang menusuk kulitnya sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit dan panas yang membakar dadanya saat ini.

Ia terus berjalan tanpa arah, mengabaikan tatapan beberapa orang yang berteduh di lobi restoran. Pandangannya buram, bukan hanya karena air hujan yang menerpa wajahnya, tetapi juga karena air mata yang terus mendesak keluar. Keyra berjalan menyusuri trotoar, lalu tanpa sadar melangkah ke area penyeberangan jalan tepat saat lampu lalu lintas masih berwarna hijau untuk kendaraan.

Tiiiiiiiiiitttt!!!

Suara klakson mobil yang sangat nyaring dan memekakkan telinga tiba-tiba memecah keheningan malam yang pekat. Sorot lampu putih yang sangat terang mendadak menyinari tubuh Keyra, membutakan pandangannya seketika. Sebuah mobil sedan hitam mewah berlogo Rolls-Royce melaju dengan kecepatan tinggi dari arah kanan, mencoba melakukan pengereman mendadak di atas aspal yang licin karena air hujan.

Ckiiiiiiiiiiiieeeettt!!

Bunyi derit ban yang bergesekan keras dengan aspal terdengar memilukan. Keyra yang terkejut hanya bisa terpaku di tempatnya. Kakinya terasa lemas seperti jeli, tidak mampu lagi digerakkan untuk menghindar. Ia memejamkan mata erat-erat, bersiap untuk merasakan hantaman keras yang mungkin akan mengakhiri hidupnya yang malang ini.

Namun, hantaman itu tidak pernah datang.

Mobil mewah itu berhasil berhenti tepat beberapa sentimeter saja dari lutut Keyra. Hembusan angin kencang dari rem mendadak itu sempat membuat gaun basah Keyra berkibar. Keyra perlahan membuka matanya, napasnya terengah-engah karena terkejut. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya mau melompat keluar dari rongga dada. Karena syok yang luar biasa, kedua kaki Keyra akhirnya benar-benar kehilangan kekuatan. Ia jatuh terduduk di atas aspal yang dingin dan basah, membiarkan air hujan terus mengguyur tubuhnya.

Tak lama kemudian, pintu belakang mobil mewah itu terbuka. Seorang pria bertubuh tinggi tegap keluar dari dalam mobil. Ia tidak menggunakan payung, membiarkan jas hitam mahalnya yang berpotongan sempurna ikut terkena rintik hujan. Pria itu berjalan dengan langkah yang tenang namun penuh wibawa mendekati Keyra.

Pria itu adalah Devan Alister. Pemimpin tertinggi dari Alister Group, konglomerat nomor satu di negara ini yang terkenal dingin, kejam, dan tidak pernah memaafkan kesalahan sekecil apa pun di dunia bisnis. Wajahnya yang tegas dan tampan bak pahatan dewa Yunani tampak datar tanpa ekspresi, namun sepasang mata elangnya yang tajam menatap lurus ke arah gadis yang kini terduduk lemas di hadapan mobilnya.

Sopir Devan, yang baru saja keluar dari pintu depan sambil membawa payung, langsung berlari panik mendekat. "Tuan Muda Devan! Maafkan saya, hujan sangat deras dan wanita ini tiba-tiba menyeberang tanpa melihat jalan. Anda tidak apa-apa?"

Devan tidak menjawab pertanyaan sopirnya. Tatapannya masih terkunci pada Keyra. Di bawah temaram lampu jalanan dan guyuran hujan, Devan bisa melihat dengan jelas bahwa gadis di hadapannya ini tidak sedang terluka secara fisik akibat mobilnya. Namun, ada luka yang jauh lebih besar dan dalam yang terpancar dari kedua matanya yang bengkak dan memerah. Gadis itu tidak menangis ketakutan karena hampir tertabrak, melainkan menatap kosong ke arah aspal dengan tatapan hancur yang amat kentara.

Sesuatu di dalam dada Devan yang biasanya sedingin es, mendadak bergetar samar melihat pemandangan itu. Biasanya, Devan sangat membenci orang-orang yang tidak tertib di jalanan. Namun, melihat kerapuhan sekaligus ketegaran yang aneh dari gadis ini, kemarahannya menguap begitu saja.

Devan melangkah satu kali lagi, kini berdiri tepat di depan Keyra, menghalangi rintik hujan yang menerpa wajah gadis itu dengan tubuh tingginya. "Apa kamu sudah bosan hidup?" suara Devan terdengar berat, dalam, dan dingin, memecah suara gemercik air hujan.

Keyra perlahan mendongak. Melalui sela-sela rambutnya yang basah dan menempel di wajah, ia menatap pria asing yang berdiri di hadapannya. Pria itu memancarkan aura intimidasi yang sangat kuat, tipe pria berkuasa yang berada di puncak dunia—sangat jauh berbeda level dengan Arkan.

Alih-alih takut atau meminta maaf, Keyra justru tersenyum getir dengan sisa-sisa kekuatannya. "Ya... mungkin saja," bisik Keyra lirih, suaranya hampir tenggelam oleh suara hujan. "Jika mati bisa menghapus semua rasa sakit ini, mungkin itu pilihan yang lebih baik."

Mendengar jawaban itu, alis tebal Devan bertaut. Sopir Devan yang memegang payung di belakangnya langsung terbelalak kaget. Berani-beraninya gadis biasa ini berbicara ketus dan tak acuh di depan seorang Devan Alister!

Namun, Devan justru berjongkok di hadapan Keyra. Jarak mereka kini begitu dekat hingga Keyra bisa mencium aroma parfum maskulin yang mahal bercampur dengan aroma segar air hujan dari tubuh pria itu. Devan mengulurkan tangannya yang besar dan hangat, lalu dengan lembut namun tegas mencengkeram dagu Keyra, memaksa gadis itu untuk menatap langsung ke dalam manik mata hitamnya yang pekat.

"Mati karena seorang pria yang mencampakkanmu di restoran itu? Bodoh," ucap Devan dengan nada dingin yang menusuk.

Keyra tertegun. Jantungnya berdesir aneh. Bagaimana pria asing ini bisa tahu apa yang terjadi padanya? Keyra tidak tahu bahwa sebelum hampir menabraknya, mobil Devan sempat terparkir tidak jauh dari lobi restoran dan Devan sempat melihat sekilas dari balik kaca mobilnya saat Arkan menggandeng wanita lain sambil meninggalkan Keyra yang menangis.

Keyra mencoba melepaskan cengkeraman tangan Devan dari dagunya, namun kekuatan pria itu terlalu besar. "Lepaskan... Kamu tidak tahu apa-apa tentang hidupku! Jangan sok tahu!" ujar Keyra dengan napas memburu, ego dan harga dirinya yang terluka membuatnya menolak dikasihani.

Devan tidak melepaskan cengkeramannya, justru tatapannya semakin menajam, mengunci seluruh kesadaran Keyra. "Aku memang tidak tahu, dan aku tidak peduli. Tapi yang aku tahu, menangis di tengah jalan dan menyerahkan nyawamu secara cuma-cuma tidak akan membuat orang yang menyakitimu menyesal. Itu hanya akan membuat mereka tertawa di atas penderitaanmu."

Kata-kata Devan bagaikan petir yang menyambar tepat di dada Keyra. Rasa sakit yang sejak tadi menyelimutinya mendadak digantikan oleh rasa sadar yang menyengat. Pria asing ini benar. Jika ia mati malam ini, Arkan dan Mentari justru akan hidup bahagia tanpa rasa bersalah sama sekali. Mereka akan menertawakan kematiannya yang menyedihkan.

‘Tidak... aku tidak boleh mati seperti ini,’ batin Keyra. Amarah dan keinginan untuk membalas dendam kembali berkobar di dalam hatinya, memberikan secercah kekuatan baru di tubuhnya yang lemas.

Melihat perubahan binar di mata Keyra yang kini kembali hidup dan penuh dengan kilatan amarah, sebuah lengkungan tipis yang hampir tak terlihat terukir di sudut bibir Devan. Pria itu akhirnya melepaskan cengkeramannya pada dagu Keyra, lalu berdiri tegak kembali.

"Jika kamu ingin membalas mereka, hiduplah dengan baik. Jadilah begitu tinggi hingga orang yang membuangmu bahkan tidak akan pernah bisa meraih ujung sepatumu lagi," ucap Devan datar, seolah sedang memberikan sebuah nasihat bisnis yang mutlak.

Sebelum Keyra sempat mencerna kata-kata itu, pandangannya mendadak mengabur. Rasa dingin yang ekstrem, syok emosional, dan kelelahan fisik setelah bekerja paruh waktu seharian akhirnya mencapai batasnya. Tubuh Keyra limbung ke depan.

Grep.

Dengan cekatan, Devan menangkap tubuh Keyra sebelum gadis itu kembali menghantam aspal. Keyra jatuh pingsan sepenuhnya di dalam pelukan hangat Devan. Devan menatap wajah pucat gadis itu yang bersandar di dadanya, lalu tanpa ragu sedikit pun, ia mengangkat tubuh Keyra yang ringan seperti kapas ke dalam gendongannya (bridal style).

"T-Tuan Muda?" sopir Devan bertanya dengan nada sangat tidak percaya. Seorang Devan Alister yang terkenal sangat benci bersentuhan dengan orang asing, kini menggendong seorang gadis jalanan yang basah kuyup ke dalam mobil mewahnya?

"Buka pintunya. Kita bawa dia ke rumah sakit pribadi," perintah Devan mutlak, tanpa menoleh sedikit pun.

Malam itu, di bawah derasnya hujan kota, takdir Keyra resmi berputar arah. Pertemuannya dengan Devan Alister akan menjadi awal dari badai besar yang siap menghancurkan dunia Arkan di masa depan.

Penawaran dari Pria Penguasa

Aroma tajam cairan antiseptik dan tenangnya kepungan dinding bernuansa putih menjadi hal pertama yang menyapa kesadaran Keyra. Perlahan, ia menggerakkan kelopak matanya yang terasa sangat berat. Saat matanya benar-benar terbuka, Keyra mengernyitkan dahi. Ia tidak mendapati langit-langit kamarnya yang sempit dan beratap tripleks, melainkan sebuah langit-langit tinggi dengan lampu kristal gantung yang mewah.

Keyra mencoba menggeser tubuhnya, namun rasa pening langsung menghantam kepalanya dengan hebat. Ia melirik ke samping kanan. Sebuah tiang infus berdiri kokoh dengan selang yang mengalirkan cairan menuju punggung tangannya yang pucat. Kamar ini sangat luas, bahkan dilengkapi dengan sofa kulit premium, televisi layar datar berukuran besar, dan jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan lampu-lampu kota dari ketinggian.

‘Aku di mana? Ini bukan puskesmas...’ batin Keyra bingung.

Ingatannya perlahan berputar mundur. Malam yang pias, hujan deras, amplop seratus juta dari Arkan, wanita manja bernama Mentari, lalu... sebuah mobil mewah yang hampir merenggut nyawanya, serta seorang pria berjas hitam dengan sepasang mata elang yang sedingin es.

Cklek.

Suara pintu yang terbuka membuyarkan lamunan Keyra. Ia menoleh dengan cepat, mengabaikan rasa pusing yang kembali mendera. Dari balik pintu, melangkah masuk pria yang ada di dalam ingatannya. Pria itu sudah tidak mengenakan jas hitamnya. Kini ia hanya memakai kemeja putih mahal dengan dua kancing teratas yang terbuka dan lengan yang digulung hingga sebatas siku, menampilkan jam tangan mewah yang berkilau.

Aura penguasa yang mengintimidasi langsung memenuhi ruangan itu. Devan Alister berjalan mendekati ranjang Keyra dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana bahan hitamnya.

"Sudah bangun?" tanya Devan datar, suaranya yang berat menggema rendah.

KeyraRefleks menarik selimutnya hingga sebatas dada, menatap Devan dengan pandangan waspada. "Siapa kamu? Dan... kenapa aku bisa ada di rumah sakit ini?"

Devan berhenti tepat di samping ranjang, menatap Keyra dari ketinggian dengan tatapan menilai. "Pertama, ini bukan rumah sakit umum. Ini VVIP Room Alister Hospital, rumah sakit pribadiku. Kedua, namaku Devan Alister. Dan ketiga, kamu ada di sini karena kamu pingsan di dadaku setelah hampir membuat mobilku menabrakmu semalam."

Keyra tertegun. Nama Alister bukanlah nama yang asing. Di berita bisnis televisi maupun koran, nama Alister Group selalu berada di urutan teratas sebagai konglomerasi raksasa yang menguasai berbagai sektor di negara ini. Jadi, pria di hadapannya ini adalah sang pemilik tunggal? Pria yang kekuasaannya bahkan bisa meruntuhkan perusahaan tempat Arkan bekerja hanya dengan satu jentikan jari?

Menyadari siapa lawan bicaranya, Keyra sempat merasa menciut. Namun, ingatan tentang bagaimana kasarnya Arkan mencampakkannya membuat harga diri Keyra kembali bangkit. Ia melepaskan remasan pada selimutnya dan menatap Devan dengan berani.

"Kalau begitu, terima kasih sudah menolongku dan membawaku ke sini," ucap Keyra, mencoba terdengar formal meskipun suaranya masih agak serak. "Mengenai biaya pengobatan ini, aku akan mencicilnya kepadamu setelah aku keluar dari sini. Aku tidak suka berutang budi."

Mendengar itu, Devan justru mendengus pelan. Sebuah senyum sinis yang tipis muncul di wajah tampannya. "Mencicil? Kamar ini bertarif lima puluh juta per malam. Belum termasuk dokter spesialis terbaik yang kupanggil khusus untuk memeriksa paru-parumu yang sempat mendingin karena hujan. Kamu mau mencicilnya sampai kapan dengan gaji seorang karyawan toko kue?"

Wajah Keyra seketika memerah karena malu sekaligus tersinggung. Kata-kata Devan sangat menusuk dan langsung mengingatkannya pada ucapan Arkan semalam. Mengapa semua pria kaya selalu memandang rendah pekerjaannya?

"Aku tahu aku miskin! Tapi aku punya harga diri!" seru Keyra, matanya mulai berkaca-kaca menahan amarah. "Aku tidak meminta ditumpangi mobil mewahmu, dan aku juga tidak meminta dibawa ke kamar semahal ini! Aku akan keluar sekarang juga!"

Keyra nekat menarik paksa jarum infus di punggung tangannya hingga darah segar menetes keluar. Ia meringis kesakitan, namun keras kepala mencoba menurunkan kakinya dari ranjang.

Namun, sebelum kaki Keyra sempat menyentuh lantai, tangan kekar Devan sudah bergerak cepat mencengkeram kedua bahu Keyra, menekannya kembali ke atas ranjang dengan kekuatan yang tak bisa dibantah.

"Lepaskan aku!" berontak Keyra.

"Diam!" bentak Devan pelan namun sarat akan penekanan yang mutlak. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata Keyra yang bergetar. "Aku tidak suka membuang-buang uang, dan aku lebih tidak suka lagi melihat orang yang sudah kutolong bertindak bodoh untuk kedua kalinya."

Devan menarik selembar tisu dari meja nakas dan dengan gerakan yang tidak terduga, ia menyeka tetesan darah di punggung tangan Keyra dengan perlahan. Tindakan kasarnya yang tiba-tiba berubah menjadi lembut itu membuat jantung Keyra berdegup tak karuan.

"Kamu bilang kamu punya harga diri, bukan?" Devan kembali bersuara, kali ini nadanya merendah, namun terdengar sangat berbahaya. "Lalu, apakah harga dirimu puas hanya dengan menangis dan membiarkan mantan kekasihmu—Arkan—menikahi anak investor itu dan hidup bahagia di atas penderitaanmu?"

Keyra membeku. "Bagaimana... bagaimana kamu tahu nama Arkan?"

Devan menegakkan tubuhnya, kembali memasukkan tangan ke dalam saku. "Tidak ada hal di kota ini yang tidak bisa kuketahui dalam waktu lima menit, Keyra. Aku tahu segalanya. Tentang tiga tahun pengorbananmu, tentang uang seratus juta yang dia lemparkan kepadamu, dan tentang bagaimana dia menghinamu sebagai gadis biasa yang memalukan."

Rasa sakit di hati Keyra kembali berdenyut mendengar kenyataan pahit itu disebut dengan begitu gamblang oleh orang lain. Ia mengepalkan tangannya di atas selimut, menundukkan kepala saat air mata sialan itu kembali menetes.

"Lalu apa yang bisa kulakukan?" bisik Keyra dengan nada putus asa. "Dia sekarang seorang CEO. Dia punya uang, punya kekuasaan, dan didukung oleh investor kaya. Sedangkan aku? Aku benar-benar tidak punya apa-apa untuk melawannya."

Sunyi sempat menjeda ruangan itu selama beberapa detik, hanya menyisakan suara detak jantung Keyra yang bertalu-talu.

"Kamu salah," ujar Devan tiba-tiba.

Keyra mendongak, menatap Devan dengan bingung.

Devan perlahan membungkukkan badannya, mendekatkan wajahnya hingga Keyra bisa merasakan embusan napas pria itu di permukaan kulitnya. "Kamu punya aku, jika kamu mau."

"M-maksudmu?" jantung Keyra berdebar semakin kencang.

"Aku menawarkan sebuah kerja sama," ucap Devan dengan tatapan mata yang berkilat penuh rencana. "Perusahaan tempat Arkan bekerja saat ini sedang mengemis investasi tambahan dari Alister Group. Aku bisa dengan mudah menaikkan posisinya hingga ke langit, atau mengempasnya ke dasar jurang kemiskinan sampai dia tidak punya apa-apa lagi."

Devan menjauhkan wajahnya, menatap Keyra dengan senyum misterius. "Aku akan memberikanmu panggung, harta, status, dan kekuasaan yang tidak akan pernah bisa dijangkau oleh Arkan maupun wanita barunya itu. Aku akan mengubahmu menjadi ratu yang berdiri di tempat yang sangat tinggi."

Keyra menahan napasnya. Tawaran itu terdengar seperti mimpi di siang bolong, namun ia tahu pria di hadapannya memiliki kekuatan nyata untuk mewujudkannya. "Apa syaratnya? Di dunia ini tidak ada makan siang gratis. Apa yang kamu inginkan dariku sebagai gantinya?"

Senyum di bibir Devan semakin melebar, menyukai fakta bahwa gadis di hadapannya ini cukup cerdas untuk tidak langsung terbuai.

"Syaratnya mudah," jawab Devan tenang. "Jadilah wanitaku. Dampingi aku di setiap pertemuan bisnis, bersandarlah di lenganku di depan media, dan biarkan seluruh dunia—termasuk mantan kekasihmu—tahu bahwa wanita yang pernah dicampakkannya, kini adalah milik seorang Devan Alister."

Keyra tertegun, otaknya berputar cepat memikirkan tawaran gila namun menggiurkan ini. Ini adalah tiket emasnya untuk membalas dendam.

"Bagaimana, Keyra? Apakah kamu memilih pergi dari sini sebagai pecundang yang malang... atau tetap di sini dan menandatangani kontrak untuk menghancurkan hidup Arkan bersamaku?"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!