Indonesia
NovelToon NovelToon

Nikah Paksa, Cinta Tak Terduga

Bab 1: Harga Diri Demi Keluarga

Suasana rumah sederhana itu terasa sesak dan hening, hanya terdengar suara detak jam dinding yang berirama lambat seolah memperpanjang rasa cemas yang menyelimuti seluruh penghuninya. Langit di luar sudah mulai gelap, diselimuti awan kelabu yang menggantung rendah, seolah turut merasakan kesedihan yang tengah melanda keluarga itu. Di ruang tengah yang berukuran tak terlalu luas, Laras duduk membeku di ujung sofa usang, tangannya menggenggam kuat ujung kain roknya hingga buku-buku jarinya memutih. Dadanya terasa tertekan, seolah ada batu besar yang menghimpit ruang napasnya, membuat setiap tarikan napas terasa berat dan menyakitkan.

Di hadapannya, Ayahandanya, Pak Harun, duduk tertunduk lemas. Pundaknya yang dulu terlihat kokoh dan menjadi tempat berteduh kini terlihat bungkuk, dipenuhi beban yang tak sanggup ia pikul sendirian. Wajahnya dipenuhi kerutan yang terlihat semakin dalam, mata tuanya berkaca-kaca menahan rasa malu dan putus asa yang mendalam. Di sampingnya, Ibu Laras terisak pelan, menutupi mulutnya dengan telapak tangan agar tangisannya tidak terdengar terlalu keras, namun air matanya terus mengalir tak terbendung membasahi pipi keriputnya.

“Laras… putriku maafkan Ayah,” suara Pak Harun terdengar parau dan bergetar, hampir tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Ia mengangkat wajah, menatap putrinya dengan pandangan yang penuh penyesalan mendalam. “Ayah sudah gagal. Usaha Ayah bangkrut, dan utang-utang itu menumpuk sampai tak terhitung lagi jumlahnya. Jika sampai akhir minggu ini uangnya tidak terkumpul, mereka akan menyita rumah ini, bahkan bisa menyeret Ayah ke penjara. Semua harta yang tersisa sudah dijual, namun tetap saja belum cukup sepersepuluh dari jumlah yang diminta.”

Mendengar itu, jantung Laras terasa seperti dicengkeram kuat. Ia tahu keadaan ekonomi keluarga mereka sedang sulit, namun tak pernah menyangka situasinya sudah jatuh sedemikian parah hingga di ambang kehancuran total. Sejak kecil, ia sudah terbiasa hidup sederhana, bekerja keras membantu orang tua sambil tetap menyelesaikan pendidikannya. Ia memiliki mimpi untuk membahagiakan mereka suatu hari nanti, namun kenyataan pahit ini datang begitu tiba-tiba menghantam harapannya.

“Lalu apa yang bisa kita lakukan, Yah?” tanya Laras dengan suara bergetar, berusaha tetap tegar meski matanya sudah berkaca-kaca. “Kita bisa cari pinjaman lagi, bekerja siang malam… pasti ada jalan lain, bukan?”

Pak Harun menggeleng pelan, air matanya akhirnya jatuh juga membasahi pipinya. “Sudah dicoba, Nak. Semua pintu sudah tertutup rapat. Tidak ada satu pun kerabat atau kenalan yang berani meminjamkan uang sebanyak itu. Hingga hari ini… satu-satunya jalan yang tersisa hanyalah satu tawaran yang datang dari keluarga Pratama.”

Nama itu membuat Laras tertegun. Keluarga Pratama. Siapa pun di kota ini tahu nama itu—keluarga terkaya dan paling berpengaruh, pemilik jaringan bisnis yang menjangkau berbagai sektor, kekuasaannya terasa hingga ke penjuru kota. Namun hubungan mereka dengan keluarga sederhana seperti dirinya bagaikan langit dan bumi, takkan pernah bersinggungan.

“Tawaran apa, Yah?” tanya Laras hati-hati, merasa firasat buruk mulai merayapi hatinya.

Pak Harun menarik napas panjang, seolah mengumpulkan seluruh keberanian terakhirnya sebelum mengucapkan kalimat yang mungkin akan mengubah seluruh masa depan putrinya. “Arga Pratama, pewaris tunggal keluarga itu… bersedia melunasi seluruh utang Ayah, mengembalikan nama baik keluarga kita, bahkan menjamin kehidupan kita layak selamanya. Tapi syaratnya… Laras harus bersedia menikah dengannya.”

Seolah disambar petir di siang bolong, tubuh Laras terasa kaku seketika. Darahnya terasa berhenti mengalir, telinganya berdenging hebat hingga ia nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Menikah?” ulangnya lirih, suaranya nyaris tak terdengar. “Dengan Arga Pratama? Tapi… kami tidak saling kenal sama sekali, Yah! Bahkan kabarnya dia orang yang sangat dingin, keras kepala, dan tidak pernah percaya pada cinta. Kenapa dia memilihku? Pasti ada ribuan wanita cantik dan terhormat yang ingin mendekatinya.”

“Itulah pertanyaan yang juga terlintas di benak Ayah,” jawab Pak Harun dengan kepala tertunduk. “Mereka bilang, ini urusan kesepakatan bisnis semata. Arga Pratama butuh seorang istri untuk menenangkan situasi di dalam keluarganya yang sedang kacau, dan dia menganggapmu gadis yang jujur, sederhana, serta tidak akan menuntut banyak hal darinya. Baginya, pernikahan ini hanya kontrak tertulis untuk kepentingan nama baik dan stabilitas perusahaan. Tidak ada janji kebahagiaan, tidak ada cinta… hanya perjanjian tertulis.”

Ibu Laras segera meraih tangan putrinya, menggenggamnya erat sambil terisak. “Laras… Ibu tidak rela. Ibu tahu ini tidak adil bagimu. Kamu berhak menikah dengan orang yang kamu cintai, membangun rumah tangga atas dasar kasih sayang. Tapi melihat Ayahmu tertekan, melihat masa depan keluarga kita terancam hancur… Ibu merasa bingung tak tahu harus memilih apa. Jika menolak, mungkin kita akan kehilangan segalanya, dan Ayahmu bisa masuk penjara. Jika menerima… kita menjual kebahagiaanmu sendiri.”

Tangisan ibu itu semakin menjadi-jadi, dan itu seperti pisau tajam yang menyayat hati Laras. Ia menatap wajah lelah kedua orang tuanya. Seluruh hidupnya, mereka telah berkorban tanpa pamrih demi membesarkannya, memberinya pendidikan dan kasih sayang meski dalam keterbatasan. Bagaimana mungkin ia tega membiarkan mereka jatuh miskin, terhina, dan terpisah hanya karena ia mementingkan keinginan hatinya sendiri?

Namun di sisi lain, pernikahan adalah hal yang paling sakral baginya. Bagaimana rasanya hidup berdampingan dengan pria yang tidak mencintainya, yang memandangnya hanya sebagai kewajiban atau alat perjanjian? Mampukah ia bertahan dalam rumah tangga yang hampa tanpa rasa sayang?

Laras berdiri perlahan, melangkah mendekati jendela dan menatap kegelapan malam. Angin dingin menerpa wajahnya, membawa serta keputusan berat yang harus ia buat dalam hitungan jam. Ia mengingat kembali pengorbanan kedua orang tuanya, air mata mereka, dan ancaman yang mengintai jika ia menolak. Harga dirinya berharga, namun nyawa dan kehormatan keluarganya jauh lebih berharga baginya.

Setelah hening cukup lama, Laras menoleh kembali ke arah orang tuanya. Air matanya jatuh, namun ia mencoba tersenyum tipis meski terasa pahit. Suaranya terdengar mantap meski menyembunyikan kepedihan yang mendalam.

“Baiklah, Ayah… Ibu. Laras bersedia menerima tawaran itu.”

Ucapan itu membuat Pak Harun dan istrinya terkejut sekaligus terenyuh. “Tapi Laras, apakah kamu yakin? Nanti kamu akan menyesalinya,” tanya Pak Harun cemas.

“Jika ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan kita semua, maka tidak ada pilihan lain,” jawab Laras dengan suara bergetar namun tegas. “Biarlah aku yang menanggung risikonya. Semoga Tuhan memberi kekuatan padaku. Aku harap… Ayah dan Ibu tidak perlu merasa bersalah. Keluarga adalah tanggung jawab kita bersama.”

Malam itu terasa paling panjang dalam hidup Laras. Ia menghabiskan sisa malamnya memandangi langit bintang yang samar, membayangkan kehidupan baru yang menantinya. Ia tidak tahu seperti apa sosok Arga Pratama sebenarnya, hanya mendengar kabar bahwa ia adalah pria yang sangat cerdas, tegas, namun hatinya tertutup rapat bagai benteng kokoh. Banyak orang memujinya atas kekayaannya, namun tak ada satu pun yang pernah bercerita tentang kelembutan hatinya.

 

Dua hari kemudian, di sebuah ruangan kantor mewah di lantai paling atas gedung pencakar langit milik Grup Pratama, suasana terasa sangat dingin dan kaku. Interior ruangan itu didominasi warna gelap dan material berkualitas tinggi, memancarkan wibawa serta kekuasaan yang tak terbantahkan. Di balik meja kerja raksasa yang terbuat dari kayu ek terbaik, duduk seorang pria dengan postur tubuh tinggi tegap.

Arga Pratama.

Pria itu mengenakan jas hitam yang dipotong rapi, menonjolkan bahu bidang dan tubuhnya yang atletis. Wajahnya sangat tampan, hampir sempurna dengan rahang tegas, hidung mancung, dan bibir yang terkatup rapat membentuk garis lurus yang tak tersenyum. Namun yang paling mencolok adalah sepasang matanya—gelap dan tajam, bagaikan mata elang yang bisa menembus kebohongan apa pun, namun terasa sangat dingin tanpa sedikit pun kehangatan.

Di hadapannya berdiri seorang pengacara tua, serta Pak Harun dan Laras. Jantung Laras berdegup kencang seolah ingin melompat keluar dari dadanya sejak pertama kali melangkahkan kaki masuk ke ruangan itu. Rasanya seperti masuk ke dunia yang asing, penuh kemewahan yang membuatnya merasa sangat kecil dan tidak berarti.

Arga menatap Laras sekilas, pandangannya datar, mengamatinya dari ujung kepala hingga ujung kaki tanpa menunjukkan rasa tertarik atau rasa benci—hanya ketidakpedulian mutlak. Tatapan itu membuat Laras merasa telanjang, serasa dirinya hanya sebuah objek yang sedang dinilai nilainya.

“Jadi ini gadisnya?” suara Arga terdengar rendah, berat, dan berwibawa, bergema di seluruh ruangan tanpa nada ramah sedikit pun.

“Benar, Tuan Arga,” jawab Pak Harun dengan sopan sekaligus gugup. “Ini putriku, Laras.”

Arga tidak menoleh ke arah Pak Harun, matanya tetap terkunci pada Laras. “Kamu tahu syarat dari pernikahan ini, bukan?” tanyanya langsung tanpa basa-basi. “Ini bukan pernikahan biasa. Tidak ada percintaan, tidak ada harapan untuk hidup sebagai pasangan suami istri pada umumnya. Kita punya kesepakatan tertulis: kamu akan menjadi istriku secara hukum dan di hadapan publik, menjaga nama baik keluarga, dan tidak akan mencampuri urusan pribadiku maupun urusan bisnis. Sebagai gantinya, semua utang ayahmu lunas, dan kebutuhan hidupmu terjamin. Setuju?”

Kata-katanya tajam dan lugas, bagaikan membacakan pasal-pasal kontrak dagang. Tidak ada nada lembut, tidak ada rasa hormat terhadap calon istrinya. Ia berbicara seolah sedang bernegosiasi dengan mitra bisnis, bukan dengan orang yang akan mendampingi namanya selamanya.

Laras menelan ludah keras, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Ia menatap balik mata dingin itu, berusaha mempertahankan ketenangan dan harga dirinya. “Aku mengerti semuanya. Aku menerima syaratnya. Tapi aku juga punya satu permintaan—jangan pernah merendahkan martabatku dan keluargaku selama ikatan ini berlangsung. Aku akan menjalankan kewajibanku sebagai istri sesuai kesepakatan, tapi aku juga meminta ruang untuk tetap menjadi diriku sendiri.”

Seketika itu, sedikit pun tidak terlihat perubahan ekspresi Arga, namun sorot matanya sedikit berubah—terkejut sekilas mendengar ketegasan yang keluar dari mulut gadis sederhana ini. Ia telah bertemu banyak wanita yang mengemis perhatian dan kekayaannya, namun jarang ada yang berani bicara setegas itu padanya. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang terasa dingin dan sinis.

“Bagus. Aku suka orang yang tahu posisinya. Selama kamu tidak melampaui batas yang ditetapkan, aku tidak akan mengganggumu lebih dari yang dibutuhkan,” jawabnya singkat.

Pengacara itu segera menyerahkan dua lembar dokumen kontrak setebal beberapa halaman. “Silakan dibaca dan ditandatangani. Semua hak dan kewajiban kedua pihak tertulis jelas di sini. Tidak ada penipuan, semuanya terbuka.”

Laras membaca setiap kalimat dengan teliti, meski hatinya terasa perih melihat klausul-klausul yang tertulis hitam di atas putih. Kontrak ini mengikat hidupnya tanpa menyertakan janji cinta atau kebahagiaan. Namun saat ia melirik sekilas ke arah ayahnya yang terlihat lega namun penuh kekhawatiran, ia tahu jalan ini sudah tertutup rapat. Dengan tangan sedikit gemetar namun tegas, ia mengambil pena dan membubuhkan tanda tangannya di atas kertas itu.

Tak lama kemudian, Arga juga menandatanganinya dengan gerakan santai dan percaya diri seolah itu hal yang paling biasa baginya. Sejak detik itu, kehidupan Laras resmi berubah. Ia bukan lagi gadis sederhana dari keluarga biasa—ia adalah Nyonya Arga Pratama, meski gelar itu terasa lebih seperti rantai yang mengikat kebebasannya.

Upacara pernikahan dilangsungkan secara sederhana dan tertutup. Tidak ada pesta besar, tidak ada undangan untuk kerabat luas, hanya saksi resmi dan keluarga inti. Hari itu, Laras mengenakan gaun pengantin yang indah namun terasa berat bagai beban. Saat ijab kabul dilafalkan dengan lancar dan sah, ia merasakan air mata jatuh bukan karena kebahagiaan pengantin baru, melainkan karena menyadari bahwa ia baru saja melangkah masuk ke dalam sebuah rumah tangga yang tak memiliki dasar kasih sayang.

Malam pertamanya bukanlah malam romantis yang diimpikan setiap gadis. Ia tiba di kediaman megah keluarga Pratama—sebuah rumah besar bak istana yang berdiri di atas bukit dengan pemandangan indah kota di bawahnya. Namun kemewahan itu tidak menghangatkan hatinya. Arga mengantarnya masuk sebentar, lalu berdiri di ambang pintu kamar tidur utama dengan pandangan tetap dingin.

“Ini kamarmu. Kamu bisa mengaturnya sesuka hati. Ingat batasannya: ruang kerjaku dilarang dimasuki tanpa izin, urusan pribadiku bukan urusanmu, dan jangan pernah berharap aku memperlakukanmu seperti istri yang dicintai. Kita hidup berdampingan, tapi tetap terpisah,” ucapnya tegas.

“Dan satu hal lagi,” lanjutnya sebelum pergi. “Jangan pernah berusaha mencuri hatiku atau memeras perasaanku. Hati ini sudah mati sejak lama. Cinta tidak memiliki tempat di hidupku.”

Pintu tertutup rapat meninggalkan Laras sendirian di tengah luasnya kamar yang mewah namun terasa sangat sepi dan hampa. Ia duduk di tepi tempat tidur besar itu, menatap pantulan dirinya di cermin. Di balik keindahan luarnya, ia tahu ia hanya memiliki hati yang terluka dan masa depan yang penuh ketidakpastian.

Namun di tengah kesedihannya, Laras menarik napas panjang, mengusap air matanya dan menegakkan punggungnya kembali. Ia tidak akan menyerah begitu saja. Meskipun ini awal dari pernikahan terpaksa, ia berjanji pada dirinya sendiri akan tetap menjaga harga dirinya, hidup dengan jujur, dan melakukan segala hal dengan sebaik-baiknya. Siapa tahu… meski jalan di depan terjal dan dingin, mungkin saja takdir menyimpan kejutan lain di ujungnya.

Di luar kamar, Arga berdiri mematung sebentar di lorong gelap. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding, mengerutkan dahi. Ia tidak tahu kenapa ketegasan dan ketulusan terpancar dari gadis itu tadi sempat membuatnya sedikit terganggu. Ia menggeleng cepat, menepis pikiran aneh itu.

Ini hanya kontrak bisnis. Tidak ada perasaan. Tidak akan pernah ada, ucapnya dalam hati, mencoba memperkuat benteng pertahanan hatinya yang sudah dibangun bertahun-tahun lamanya.

Namun keduanya belum sadar—benih-benih takdir sudah tertanam sejak hari itu. Apa yang dimulai sebagai paksaan dan kesepakatan dingin, perlahan tapi pasti akan menguji hati mereka. Mampukah ketulusan mencairkan es yang membeku selama bertahun-tahun? Atau justru rumah tangga ini akan menjadi penjara abadi bagi keduanya?

Bab 2: Dua Dunia yang Berbeda

Hari-hari pertama di kediaman keluarga Pratama terasa seperti menjalani kehidupan di dunia lain bagi Laras. Rumah seluas lebih dari seribu meter persegi itu megah, rapi, dan dilengkapi segala kemewahan yang hanya bisa ia bayangkan selama ini. Namun bagi Laras, tempat itu terasa sangat luas, kosong, dan paling utama—dingin. Tidak ada tawa hangat, tidak ada obrolan santai, hanya keheningan yang sesekali terpecah oleh langkah kaki pelayan atau suara detak jam dinding antik.

Aturan di rumah itu sangat ketat, sebagaimana tertulis jelas dalam buku panduan rumah tangga yang diserahkan kepadanya pada hari kedua. Segala hal memiliki jadwalnya sendiri: jam makan, jam berkunjung, cara berpakaian, hingga cara menyapa tamu. Semuanya diatur sedemikian rupa agar terlihat sempurna di mata luar, seolah rumah ini adalah pameran kemewahan, bukan tempat tinggal yang bernyawa.

Selama tiga hari pertama, Laras nyaris tidak melihat Arga. Ia hanya diberitahu oleh Bu Rina, kepala pelayan yang sudah mengabdi puluhan tahun, bahwa Tuan Arga memiliki jadwal kerja yang sangat padat dan jarang berada di rumah sebelum larut malam. Bahkan saat ia pulang, ia akan langsung masuk ke ruang kerjanya atau kamar tidur sebelah, tanpa menyapa atau sekadar melirik keberadaan istrinya sendiri.

Situasi itu sebenarnya membuat Laras merasa lega sekaligus sedih. Lega karena ia tidak perlu menghadapi tatapan dingin dan perkataan tajam Arga setiap saat, tapi sedih karena menyadari posisinya yang sebenarnya—ia hanyalah seorang penghuni yang keberadaannya sekadar memenuhi syarat administratif semata.

Pagi keempat, Laras baru saja turun ke ruang makan. Ia sudah bangun lebih awal, terbiasa dengan kebiasaan lamanya di rumah sederhana. Saat melangkah masuk, ia tertegun melihat Arga sudah duduk di ujung meja makan panjang yang bisa menampung dua puluh orang itu. Pagi ini ia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru tua yang melengkapi penampilannya yang berwibawa. Wajahnya masih sama, datar tanpa ekspresi, sedang membaca koran bisnis sambil sesekali menyeruput kopi hitamnya.

Mendengar langkah kaki, Arga mengangkat wajah sekilas. Pandangannya menyapu Laras dari atas ke bawah, lalu kembali menatap koran seolah tidak melihat sesuatu yang menarik.

“Selamat pagi,” ucap Laras mencoba bersikap sopan dan menjaga kesopanan sebagai istri. Meski hatinya terasa canggung, ia tidak ingin terlihat lemah atau tidak tahu adat.

Arga hanya mendengus pelan sebagai jawaban, tidak menoleh, tidak tersenyum. “Duduklah. Jangan sampai kebiasaan santaimu di rumah lama membuat suasana di sini kacau. Semua hal punya tempatnya,” ucapnya datar, nadanya terdengar seperti mengingatkan sekaligus memperingatkan.

Laras menggigit bibir dalam-dalam untuk menahan rasa sakit di hatinya. Ia melangkah tenang, duduk di kursi yang paling ujung dari tempat duduk Arga—seolah ada jarak jurang yang memisahkan mereka. “Terima kasih atas peringatannya. Aku akan berusaha membiasakan diri,” jawabnya tenang, berusaha tidak terpancing emosi.

Gerakan tangannya mengambil sendok dan garpu dilakukan dengan hati-hati. Ia tidak terbiasa dengan peralatan makan yang beragam seperti ini, tapi ia tidak mau terlihat kikuk. Ia belajar mengamati dengan tenang, berusaha menguasai lingkungan baru ini selangkah demi selangkah. Namun ketenangan hatinya terusik ketika Arga kembali bersuara.

“Besok akan ada makan malam keluarga besar. Kakek, Bibi, dan sepupu-sepupuku akan datang. Kamu harus hadir. Berpakaian rapi, duduk di sampingku, dan cukup angguk atau senyum saja jika ditanya. Jangan banyak bicara. Mereka orangnya tajam melihat celah. Aku tidak ingin ada gosip bahwa istriku tidak pantas menyandang nama Pratama,” perintahnya tanpa membaca korannya lagi.

Kalimat itu menusuk telinga Laras. “Jangan banyak bicara… jangan sampai terlihat tidak pantas.” Rasanya harga dirinya sedikit demi sedikit digosok kasar. Ia mengangkat wajah, matanya menatap lurus ke arah Arga.

“Apakah bagimu aku hanya aksesoris yang harus dipajang agar terlihat pas?” tanyanya perlahan namun tegas. Suaranya tidak meninggi, tapi mengandung kekuatan yang membuat Arga akhirnya meletakkan korannya dan menatap balik tajam.

“Panggil saja itu kenyataan dari kesepakatan kita,” jawab Arga dingin. “Ingat, Laras. Aku sudah menepati janjiku—utang ayahmu lunas, hidupmu terjamin. Sebagai gantinya, tugasmu adalah menjaga citra ini. Jika kamu bisa melakukannya dengan baik, kita akan hidup damai tanpa masalah. Jika kamu mulai banyak menuntut atau mencari masalah, aku tidak akan ragu untuk mengingatkan posisimu.”

Jantung Laras berdegup kencang. Ia merasa marah, terluka, namun sadar ia tidak bisa meledak. Ia menelan rasa pahit itu. “Aku tahu posisiku, Arga. Aku tidak akan menuntut cinta atau perlakuan istimewa darimu. Tapi satu hal yang ingin kau ingat juga: meski aku datang dari keluarga sederhana, aku punya harga diri. Aku bisa diam dan berpakaian sesuai aturan, tapi jangan pernah berharap aku menjadi boneka yang bisa kau atur sesuka hati tanpa pikiran sendiri.”

Untuk sesaat, ruangan itu hening. Udara terasa semakin berat. Arga memandang wajah gadis di hadapannya, mencari-cari kebohongan atau rasa takut di matanya. Namun ia hanya menemukan ketulusan dan ketegasan yang membuatnya sedikit terkejut. Selama ini, semua orang di sekitarnya hanya patuh, takut, atau berusaha menyenangkannya demi keuntungan. Tidak ada yang berani bicara setegas ini padanya.

“Baiklah,” jawab Arga akhirnya, nada bicaranya sedikit melunak meski tetap dingin. “Selama batas itu tidak melanggar kesepakatan kita, aku tidak keberatan. Jangan sampai menyesal nanti.”

Ia bangkit berdiri, meluruskan jasnya. “Pertemuan keluarga besok malam pukul tujuh. Jangan terlambat. Sopir akan mengantarkanmu ke butik sore ini untuk memilih pakaian. Gunakan saja, jangan ragu. Tapi ingat—ini bukan hadiah, ini kebutuhan tugas.”

Setelah berkata demikian, Arga melangkah pergi meninggalkan ruang makan, meninggalkan Laras dengan perasaan campur aduk. Ia memandang makanan di piringnya yang masih utuh, namun seleranya hilang sama sekali. Tangan kanannya mengepal kuat.

Aku bisa melewati ini, ucapnya dalam hati memberi semangat diri sendiri. Asalkan aku tetap menjadi diriku sendiri, tidak menjual hatiku meski tubuhku terikat kontrak ini.

 

Benar saja, sore harinya seorang sopir membawanya ke pusat perbelanjaan paling elit di pusat kota. Di sana, seorang penata gaya profesional sudah menunggu dan mempersilakannya mencoba berbagai gaun malam berdesainer ternama. Harga satu gaun itu saja mungkin cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya selama setahun penuh. Laras merasa asing, merasa seperti orang asing yang terlempar ke dunia yang bukan haknya.

Saat sedang memeriksa gaun-gaun itu, ponselnya berdering. Ternyata telepon dari ibunya. Mendengar suara ibunya yang lembut dan khawatir, pertahanan emosi Laras sedikit goyah.

“Laras, bagaimana keadaanmu di sana? Apakah dia memperlakukanmu dengan baik?” tanya Bu Harun dengan nada cemas.

Laras menarik napas panjang, berusaha menyembunyikan kepahitannya agar orang tuanya tidak merasa bersalah. “Semua baik, Bu. Tempatnya bagus, semua kebutuhanku terpenuhi. Laras baik-baik saja.”

“Kamu yakin, Nak? Jika dia menyakitimu atau membuatmu menderita, katakan saja pada Ibu. Kita akan cari jalan lain sekalipun itu sulit,” suara ibunya terasa terharu.

“Ibu jangan khawatir. Ini pilihanku, dan Laras sanggup menjalaninya. Sampaikan salam sayang Laras untuk Ayah ya. Jagalah kesehatan kalian,” jawab Laras menutup telepon itu dengan mata berkaca-kaca. Ia mengusap air matanya cepat sebelum penata gaya kembali masuk.

Ia akhirnya memilih sebuah gaun berwarna biru langit yang sederhana namun elegan, tidak terlalu mencolok namun tetap terlihat anggun. Itu paling cocok dengan seleranya, dan ia tidak ingin terlihat mencoba terlalu keras untuk menjadi orang lain.

 

Malam berikutnya tepat pukul tujuh kurang sepuluh menit, Laras sudah turun ke ruang tamu utama. Suasana malam itu terasa berbeda, lebih meriah namun juga lebih tegang. Begitu ia melangkah turun tangga, ia melihat Arga sudah berdiri menunggunya. Sekilas pandang, mata Arga terhenti sejenak pada sosok istrinya itu.

Di balik gaun biru itu, rambutnya disanggul rapi memperlihatkan leher jenjangnya. Tanpa riasan berlebih, wajah Laras bersinar alami, memancarkan kelembutan dan ketenangan yang membuat Arga tertegun sepersekian detik—rasa yang asing baginya, yang ia segera tepis cepat-cepat.

“Cukup pantas,” komentar Arga singkat, nada suaranya tidak memuji namun juga tidak mengejek. Ia mengulurkan lengannya dengan sopan santun paksaan. “Ingat apa yang kukatakan tadi. Jangan biarkan mereka menjerat bicaramu.”

Laras mengaitkan tangannya pada lengan Arga dengan hati-hati. Sentuhan itu membuat jantungnya berdegup lebih kencang, bukan karena rasa haru, melainkan karena sadar betapa besar jarak batin yang ada di antara mereka.

Begitu masuk ke ruang makan besar, semua mata tertuju pada mereka. Di sana duduk seorang lelaki tua berwibawa—Kakek Pratama, pemilik sebenarnya fondasi kekayaan keluarga ini. Di sampingnya ada Bibi Ratna, wanita paruh baya yang tajam pandangannya, beserta dua pasang muda yang pasti sepupu Arga.

“Jadi ini istri pilihanmu, Arga?” tanya Bibi Ratna lebih dulu dengan senyum yang terasa menyelidik. Matanya menyapu Laras dari ujung kepala hingga kaki seolah sedang menilai barang dagangan. “Cantik juga, tapi sepertinya terlihat sangat sederhana. Dari keluarga mana lagi katanya?”

Sebelum Laras sempat menjawab, suara Arga terdengar tenang namun tegas, mengandung kekuasaan yang membuat semua orang diam seketika. “Dia Laras, istriku. Keluarganya terhormat dan jujur. Itu saja hal yang paling penting bagiku. Tidak perlu mempertanyakan latar belakangnya lebih jauh lagi.”

Perkataan itu membuat Laras terkejut sekaligus terharu. Meski ia tahu Arga melakukannya demi menjaga nama baiknya sendiri, bukan karena rasa sayang, tapi perlindungan itu terasa seperti perisai yang melindunginya dari tatapan dan sindiran tajam keluarga besar itu.

Kakek Pratama hanya mengangguk puas. “Bagus. Yang penting dia bisa menjaga ketenangan Arga dan melanjutkan keturunan keluarga ini. Semoga kalian langgeng.”

Namun sepanjang makan malam itu, sindiran dan pertanyaan menyelidik terus datang. Dari cara memegang sendok, kebiasaan bicara, hingga latar belakang pendidikannya. Laras menjawab semuanya dengan tenang, jujur, dan rendah hati tanpa terlihat minder. Ia tidak memamerkan apa pun, tapi ketulusan jawabannya perlahan membuat tatapan meremehkan itu perlahan berubah menjadi rasa hormat diam-diam.

Saat malam semakin larut dan tamu mulai pulang, Arga dan Laras kembali sendirian dalam perjalanan pulang. Di dalam mobil mewah yang melaju tenang di jalan raya, keheningan menyelimuti mereka.

“Terima kasih,” ucap Laras tiba-tiba memecah keheningan. “Terima kasih sudah membela tadi.”

Arga melirik sekilas, lalu memandang ke depan. “Jangan salah paham. Aku tidak melakukannya untukmu. Jika mereka meremehkanmu, itu sama saja meremehkan pilihanku. Dan Arga Pratama tidak pernah salah memilih. Itu satu-satunya alasannya.”

Jawaban itu terasa menusuk namun jujur. Laras hanya tersenyum pahit dalam hati. “Baiklah. Terima kasih atas alasannya itu juga.”

Mobil terus melaju menembus kegelapan malam. Di luar jendela, lampu kota berkelap-kelip bagai bintang jatuh. Di dalam hati keduanya, benih-benih rasa yang belum mereka kenali mulai tumbuh perlahan, meski tertutup tebal oleh dinding pertahanan masing-masing.

Arga tidak tahu, ketulusan gadis sederhana ini perlahan mulai mengusik ketenangan hatinya yang sudah mati rasa selama bertahun-tahun. Dan Laras pun belum sadar, di balik sifat dingin itu, ada luka yang mendalam yang butuh waktu lama untuk sembuh.

Malam itu, mereka kembali pulang ke rumah megah itu sebagai suami istri di atas kertas, namun masih dua jiwa asing yang perlahan mulai memahami bahwa takdir mungkin memiliki rencana lain di luar kesepakatan yang mereka buat sendiri.

Bab 3: Perlindungan yang Tak Disadari

Seminggu berlalu sejak makan malam keluarga itu. Perlahan, Laras mulai menemukan ritme kehidupannya sendiri di kediaman Pratama. Ia tidak hanya duduk diam menunggu waktu berlalu. Setiap pagi, setelah Arga berangkat ke kantor, ia menghabiskan waktunya membantu Bu Rina memeriksa kebutuhan rumah, membaca buku-buku di perpustakaan besar yang jarang disentuh orang, atau sekadar berjalan-jalan di taman belakang yang luas dan rindang.

Bu Rina sendiri lambat laun mulai melunak hatinya. Awalnya ia khawatir Nyonya muda ini akan manja, rewel, atau merasa paling berkuasa. Namun sikap Laras yang sopan, rendah hati, dan tidak pernah memandang rendah pekerjaan orang lain membuat wanita tua itu mulai menyayanginya seperti anak sendiri.

“Nyonya, sebaiknya jangan terlalu sering bekerja sendiri. Tugas kami sudah cukup untuk mengurus semuanya,” ucap Bu Rina suatu sore saat melihat Laras sedang menyiram bunga di taman.

Laras tersenyum lembut, tangan tetap memegang selang air. “Tidak apa-apa, Bu Rina. Melakukan hal seperti ini justru membuatku merasa tidak terasing di rumah yang begitu besar ini. Rasanya lebih hidup. Terima kasih sudah mengingatkanku.”

Bu Rina mengangguk haru, matanya menatap penuh arti. “Anda wanita yang luar biasa, Nyonya. Semoga Tuhan melunakkan hati Tuan Arga. Sebenarnya dia bukan orang jahat… hanya saja luka masa lalunya membuat dia membentengi hatinya setebal ini.”

Laras berhenti sejenak, menoleh penasaran. “Luka masa lalu? Maksud Ibu?”

Bu Rina terdiam seketika, seolah menyadari telah bicara terlalu jauh. Ia menggeleng pelan. “Maafkan saya, Nyonya. Itu bukan rahasia yang pantas saya sebarkan. Suatu hari nanti, jika Tuan Arga mengizinkan, dia sendiri yang akan menceritakannya. Yang penting Nyonya tahu, dibalik sikap dinginnya, dia tetap memiliki rasa tanggung jawab yang sangat besar.”

Laras hanya mengangguk paham, tidak memaksa. Ia menghargai kepercayaan itu meski rasa penasarannya sedikit tergugah. Hari ini pun berjalan seperti biasa, hingga sore menjelang malam membawa kejadian yang tidak terduga.

Laras menerima telepon dari kampus tempat ia sempat mengenyam pendidikan sebelum menikah. Mereka memberitahu bahwa ijazah sementara dan berkas administrasi lainnya sudah bisa diambil. Mendengar kabar itu, hatinya berbunga senang. Mendapatkan ijazah adalah salah satu mimpinya, bukti bahwa usahanya selama ini tidak sia-sia.

Ia memberanikan diri menghubungi Arga lewat pesan singkat—karena menelpon terasa terlalu mengganggu. Bahasanya dipilih sehati-hati mungkin: “Permisi, Arga. Maaf mengganggu. Saya ingin bertanya, bolehkah saya keluar sebentar sore ini untuk mengambil berkas penting di kampus? Saya akan kembali sebelum malam tiba.”

Laras menunggu balasan dengan jantung berdebar. Butuh waktu hampir satu jam hingga pesan masuk: “Boleh. Tapi jangan pergi sendirian. Sopir akan mengantarkan dan menunggu. Jangan mampir ke tempat lain tanpa izin.”

Membaca jawaban itu, Laras tersenyum lega sekaligus sedikit kesal dengan nada perintahnya. Namun setidaknya Arga mengizinkannya. Ia segera bersiap, mengenakan pakaian sederhana namun rapi, lalu berangkat ditemani Pak Darto, sopir keluarga yang sudah dipercaya bertahun-tahun.

Sesampainya di kampus, suasananya terasa sangat akrab. Melihat gedung dan teman-teman lama membuat Laras merasa kembali ke masa lalu yang sederhana namun bebas. Ia menyelesaikan urusannya dengan cepat, lalu berdiri mengobrol sejenak dengan dua orang teman dekatnya.

Namun kebahagiaannya terganggu ketika tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan mereka. Seorang pria muda turun dengan sikap sombong dan senyum meremehkan. Itu adalah Raka, putra dari mitra bisnis keluarga Pratama yang sering mendengar namanya.

“Wah, benar saja dengarannya. Ternyata benar kamu yang menjadi istri Arga Pratama?” sapa Raka mendekat, pandangannya menelanjangi tubuh Laras dengan tatapan tidak sopan. “Saya penasaran sekali apa kelebihanmu sampai bisa memikat pria sedingin itu. Mungkin dia hanya bosan dan menjadikanmu mainan sementara saja, bukan?”

Perkataan itu membuat kedua teman Laras marah dan hendak membalas, tapi Laras menahan mereka dengan tenang. Ia menatap lurus ke mata Raka, tidak gentar sedikit pun.

“Silakan berpikir apa pun yang kau mau. Tapi ingat, sekarang aku adalah Nyonya Pratama. Menghinaku sama saja meremehkan posisimu sendiri sebagai mitra bisnis suamiku. Aku harap kau tahu batasan sopan santun,” jawab Laras tegas namun tenang.

Raka tertawa sinis, semakin mendekat mencoba menyentuh dagu Laras. “Wah, berani juga bicara. Tapi di mataku, kau tetap gadis biasa yang dijual demi melunasi utang. Cobalah saja bersikap baik padaku, mungkin aku bisa memberimu kebahagiaan yang tidak bisa diberikan Arga Pratama yang tak punya hati itu.”

Belum jarinya sempat menyentuh kulit Laras, sebuah genggaman kuat seperti besi mencengkeram pergelangan tangan Raka dari belakang.

“Beraninya kau menyentuh istriku dan bicara kotor di depannya?”

Suara itu dingin, berat, dan mengandung amarah yang tertahan namun cukup membuat udara di sekitarnya terasa membeku. Semua orang menoleh terkejut. Di sana berdiri Arga Pratama sendiri. Wajahnya pucat dingin, matanya menyala tajam menatap Raka seolah sedang melihat serangga menjijikkan.

Raka terkejut luar biasa, wajahnya memucat ketakutan. “T-Tuan Arga… saya tidak bermaksud apa-apa, saya hanya bercanda saja…”

“Bercanda?” Arga memutar pergelangan tangan itu sedikit saja hingga Raka meringis kesakitan. “Ingat baik-baik. Di dunia ini, satu-satunya orang yang berhak berbicara soal posisinya, memperlakukannya, atau bahkan mencampuri hidupnya hanyalah aku sendiri. Jika aku mendengar satu kata buruk lagi keluar dari mulutmu tentang dia, percayalah… tidak hanya karirmu yang hancur, tapi seluruh nama baik keluargamu akan kubawa jatuh bersamamu. Mengerti?”

“Iya… iya! Saya mengerti, maafkan saya!” Raka segera melepaskan diri saat Arga mendorongnya kasar, lalu berlari masuk ke mobilnya dan pergi dengan tergesa-gesa.

Suasana kembali hening. Kedua teman Laras hanya bisa terpaku melihat sosok Arga yang mengeluarkan aura kekuasaan luar biasa itu. Laras sendiri berdiri kaku, jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, melainkan karena rasa terkejut yang luar biasa. Ia tidak menyangka Arga akan datang, apalagi membela dirinya dengan amarah sedemikian rupa.

Arga segera memutar tubuhnya menghadap Laras. Tatapannya langsung menyapu seluruh tubuhnya dari atas ke bawah, memeriksa apakah ada luka atau rasa takut di matanya. Saat melihatnya aman, ketegangan di bahunya perlahan mengendur, meski wajahnya tetap datar.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya, nadanya sedikit lebih lembut dari biasanya meski terdengar kaku.

“Aku… aku baik-baik saja. Terima kasih, Arga. Tapi kenapa kau ada di sini?” tanya Laras perlahan, matanya menatapnya penuh rasa ingin tahu.

“Kebetulan lewat jalan ini untuk urusan rapat,” jawab Arga singkat, menghindari tatapan matanya seolah mencari alasan paling masuk akal. Padahal jujur saja dalam hatinya, begitu ia menerima laporan dari Pak Darto bahwa Laras sudah sampai kampus, perasaannya tiba-tiba gelisah tidak menentu. Ia memutuskan membatalkan rapat dan menyusul hanya untuk memastikan semuanya aman—sesuatu yang belum pernah ia lakukan untuk siapa pun sebelumnya.

Arga melirik sekilas ke arah teman-teman Laras, lalu kembali menatapnya. “Sudah selesai urusannya? Kalau sudah, kita pulang.”

Laras mengangguk, berpamitan pada teman-temannya dengan senyum lega. Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, suasana terasa hangat namun juga canggung. Keheningan pecah saat Laras memberanikan diri bicara.

“Arga… tadi… terima kasih banyak. Kalau kau tidak datang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan perkataanmu tadi…” Laras terdiam sebentar, menatap wajah profilnya yang tampan. “Kau bilang aku istriku… dan melindungiku seolah itu hal yang paling penting.”

Arga menatap lurus ke depan, tangannya menggenggam kuat di atas pahanya. Ia tidak mau mengakui bahwa hatinya berdebar saat melihat tangan Raka hendak menyentuhnya. Rasanya amarah meledak melebihi logika bisnis apa pun.

“Sudah kubilang, bukan?” jawabnya dengan nada berusaha tetap dingin. “Meremehkanmu sama saja meremehkan nama Pratama. Aku tidak membiarkan orang lain menghina milikku—apa pun itu, termasuk kesepakatan yang sudah kutandatangani. Kamu adalah tanggung jawabku sekarang. Itu saja alasannya.”

Namun kali ini, jawaban dingin itu tidak lagi terasa menusuk hati Laras seperti biasanya. Ia bisa merasakan di balik alasan itu, ada rasa perhatian yang tersembunyi meski diselimuti logika.

“Baiklah,” jawabnya pelan sambil tersenyum tipis. “Kalau begitu… terima kasih sudah melindungi ‘milikmu’ itu.”

Senyuman lembut itu melintas di wajah Laras, menerpa pandangan Arga. Seketika napas Arga tercekat sejenak. Cahaya matahari sore yang masuk lewat kaca jendela menerpa wajah Laras, membuatnya terlihat bersinar alami. Jantung Arga berdegup lebih cepat dari biasanya—rasa asing yang membuatnya gelisah namun juga tidak ingin menghilang.

Ia segera memalingkan wajah, berpura-pura sibuk melihat jalan, berusaha keras mengabaikan getaran aneh yang mulai muncul di dadanya. Ini hanya efek sesaat saja, bisik hatinya. Ini tetap hanya kesepakatan. Jangan biarkan perasaan bodoh ini tumbuh.

Namun takdir tidak pernah peduli pada kesepakatan kertas. Sejak hari itu, sesuatu perlahan berubah di antara mereka. Arga mulai sadar, melihat Laras terluka atau dihina membuat hatinya terasa lebih sakit daripada kerugian bisnis terbesar sekalipun. Dan Laras mulai menyadari, di balik benteng es itu, ada kehangatan yang perlahan mulai menyelinap masuk ke dalam kehidupannya yang hampa.

Malam itu, di kediaman megah itu, tidur keduanya terasa lebih nyenyak dari malam-malam sebelumnya. Sebuah benih kepercayaan dan rasa aman telah tertanam, meski belum berani disebut cinta.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!