Indonesia
NovelToon NovelToon

Aku Tak Terima Dicurangi

Vonis Mandul : 01

“Iya sayang, nanti aku jemput —”

“Kamu ngobrol sama siapa, Mas?” tanya wanita mengenakan kaos oblong, rambut dicepol, celana longgar selutut. Ia membawa secangkir kopi. Minuman rutin pagi hari suaminya.

Pria yang masih menggenggam ponsel dan tertempel pada telinga, tersenyum tipis lalu memasukan alat komunikasi itu ke saku celana jeans panjang.

“Kartika, cintaku,” ucapnya lembut dengan sorot mata penuh damba hanya ditujukan teruntuk istrinya seorang.

Helyara Utomo mengangguk paham. Tak mempermasalahkan. Ditaruhnya minuman masih mengepulkan uap di atas meja rotan bundar bagian atas ditimpa kaca transparan. “Minum dulu selagi hangat, Mas.”

Alandi mempersempit jarak, melingkarkan kedua tangan memeluk istrinya dari belakang. “Enam tahun sudah kita menikah, rasa cinta Mas ke kamu semakin bertambah setiap detiknya.”

Hatinya menghangat penuh rasa bahagia. Pria yang memeluknya ini tak berubah sedari awal menikah hingga detik ini selalu menghujaninya dengan kata-kata cinta serta tindakan nyata.

“Helya juga sayang banget sama kamu, Mas,” bisiknya mengutarakan perasaan tulus.

Pelukan perlahan mengerat, lalu disertai kecupan bertubi-tubi pada pipi mulus tanpa makeup. “Mas beruntung banget bisa menikah dengan wanita sebaik kamu. Penuh pengertian, keibuan.”

Ia memejamkan mata, meresapi dekapan penuh perlindungan bagi hidupnya sudah sebatang kara selama enam tahun lamanya.

“Sudah, sudah.” Ditepuknya lengan membelit perut. “Nanti minumannya dingin. Aku mau lanjutin menyelesaikan desain akhir sebelum diserahkan ke pandai emas.”

Cup.

Sebuah kecupan mendarat di sudut bibir, lalu pelan-pelan diputarnya tubuh terbilang gemuk dengan bobot tubuh 75 kilogram memiliki tinggi badan 156 centimeter.

“Jangan memaksakan diri, bila lelah istirahatlah. Mas gak mau ngeliat kamu sampai sakit dikarenakan terlalu memforsir tenaga serta pikiran, cintaku.” Ia jawil pucuk hidung terdapat tahi lalat kecil.

“Gak capek, kok. Aku cuma duduk berjam-jam di kursi meja kerja yang kamu belikan khusus demi membuatku nyaman dalam menuangkan ide di atas kertas sketsa desain emas,” jawabnya menenangkan.

“Kamu kalau dibilangin gitu terus pembelaannya.” Terlanjur gemas, digigitnya dagu memiliki lipatan lemak.

Akhhh!

Sang wanita memekik, pura-pura merajuk dengan melototi pria terkekeh tanpa rasa bersalah. “Kebiasaan banget mas Alan.”

“Habisnya kamu gemesin banget, Sayang.” Alan memeluk dari depan, meredam kekesalan istri yang memiliki tinggi hanya sepundaknya.

“Buruan minum gih, jangan lupa nanti siang jemput Kartika. Kalau telat bakalan marah-marah seharian penuh sampai sakit telingaku mendengar pekikannya.” Helya mundur, otomatis pelukan terlepas.

“Siap tuan putri.” Alan mengacak-acak rambut Helyara, kemudian dia duduk dan meraih tangkai cangkir, menyeruput kopi memiliki citarasa pas di lidahnya.

“Apa gak sebaiknya mbak Zanaya dan mas Wandi mulai mendisiplinkan Kartika, Mas?” tanyanya belum pergi dari teras halaman belakang hunian peninggalan orang tuanya.

Alan teguk dulu kopi yang tepi cangkirnya sudah menempel di bibir, sesudahnya meletakkan di atas piring pipih.

“Kartika itu putri semata wayang mereka, cucu pertama dikeluarga Mas. Kebanggaan sekaligus pelengkap kebahagian Mama sama Papa dan semua orang. Wajar saja kalau sangat dimanja,” jelasnya memberi pengertian.

Helya mengunci mulut, tahu betul kalau sudah ada kalimat cucu pertama, ia harus tahu diri jika belum bisa memberikan keturunan.

“Lagian kalau bukan untuk keluarga, buat siapa hasil kerja keras kita? Kamu tak kunjung hamil,” ucapannya pelan namun dalam.

“Maaf, Mas. Aku mau lanjutin kerjaan sempat tertunda.” Bibirnya mengulas senyum, tetapi sepasang bola mata kecoklatan berkaca-kaca.

Sakit, teramat menusuk kalimat pria yang mengungkit tentang keturunan. Helya berjalan cepat, secepat hatinya menyingkirkan perasaan terluka.

Alan menghembuskan napas lelah. Hubungannya dengan sang istri selalu harmonis, tak pernah memiliki masalah berarti, hanya satu masalah mereka yang hingga kini tak kunjung terselesaikan — belum memiliki keturunan.

Di dalam ruang kerja luas yang memiliki jendela besar terhubung dengan taman bunga Mawar, Helya melamun. Air mata ketidakberdayaannya meluncur bebas.

“Kenapa kamu belum juga hadir nak?” Diremasnya perut terasa lembek, berlipat lemak.

“Apa usahaku masih kurang? Atau memang tidak ditakdirkan memiliki anak?” gumamnya seorang diri.

Hamparan pohon Mawar yang sedang berkembang bewarna merah, pink, dan kuning tidak lagi ampuh memberi ketenangan bagi jiwa merindukan hadirnya buah hati.

Helya meninggalkan meja kerja, lalu melangkah ke lemari pajangan penuh barisan buku, piagam, lalu membuka laci bagian tengah dan menarik map diantara tumpukan berkas.

Diambilnya sebuah kertas yang pertama kali melihat membuatnya memucat ditampar oleh kenyataan. Dirinya divonis sulit hamil, dikarenakan hanya memiliki satu saluran indung telur yang berfungsi. Itupun tidak subur.

“Apa yang harus aku lakukan? Ini diluar kuasaku. Bukan gak mau berusaha, tetapi setiap usaha selalu menemui titik akhir — kegagalan.” Kertas dalam genggaman dimasukkan lagi ke dalam laci.

Dia benci keadaan yang membuatnya lemah, merasa kerdil.

“Sayang ….”

Saking asyiknya melamun, meratapi kekurangan, Helya sampai tidak menyadari suaminya masuk.

Alan bergeser ke depan, menjepit dagu istrinya agar wajah Helya mendongak. Ditatapnya langsung manik basah sedikit memerah. “Maaf. Mas gak bermaksud menyudutkanmu.”

Helyara memejamkan mata, bersamaan dengan itu air matanya tumpah.

Ia remat kemeja disetrika licin, menyalurkan perasaan berkecamuk dalam dada.

“Bukan mauku menunda kehamilan, tapi memang belum dikasih, lantas bisa apa?” katanya dengan suara lelah.

“Maaf, Helyara. Maafkan mulut tajam Mas yang tak berhati nurani.” Ia kencangkan dekapan sambil mengelus punggung istrinya yang mulai menangis kencang.

Kemesraan itu terganggu oleh dering ponsel Alan.

Dengan tangan kiri ia ambil handphone di saku celana, sedangkan tangan kanan masih memeluk pinggang Helya yang mulai tenang.

“Alan, jemput Mama sama Papa di stasiun. Sekarang!”

Titah suara di ujung sana dengan nada enggan dibantah mengejutkan Helya.

“Mama datang kenapa gak kasih kabar dulu?” setengah terkejut dia bertanya, selebihnya sedikit kesal karena orang tuanya terkadang sesuka hati.

“Jangan banyak tanya! Buruan jemput kami. Panas di sini!”

Alan mendengus, ingin protes tetapi yang dihadapi orang tua kandungnya sendiri.

“Jemput lah, Mas. Kasihan Mama sama Papa, pasti kecapean habis menempuh perjalanan dua jam lamanya.” Ia memaksakan senyum manis, dalam hati menahan kesedihan.

“Kamu gapapa kalau Mama sama Papa menginap disini?”

“Gapapa. Mereka juga orang tuaku,” mulutnya berkata tidak keberatan, tetapi hatinya bilang sebaliknya.

“Ya sudah, Mas jemput mereka dulu. Pinta pembantu siapkan kamar sama hidangan lezat.” Alan mengecup kening Helya, lalu terburu-buru keluar dari ruang kerja.

Helyara tergopoh-gopoh keluar mencari asisten rumah tangga, lalu bersamanya bekerja gesit, merapikan kamar tamu.

Tak terasa jam berputar seperti melompat, waktu pun berkejaran membuat wanita berdiri di teras depan rumah merasa was-was menunggu kedatangan kedua mertuanya.

Mobil Fortuner warna hitam mengkilap memasuki halaman luas ditanami pohon buah-buahan.

Helyara menuruni anak tangga, berlari pelan sampai lengan bergelambirnya berayun-ayun.

Pintu mobil dibuka, seorang wanita tengah menggendong bayi menghentikan langkah kaki Helyara.

.

.

Bersambung.

Kedatangan mertua : 02

Helyara berdiri bergeming di bawah naungan ranting berdaun lebat pohon Mangga. Perasaan asing merasuki hati, mengusik pikiran.

Sepasang tangan mungil menggapai angin, netra hitam bulat berbinar cerah dengan mulut kecil memainkan air ludah. Wajah bayi entah umur berapa itu bertumpu di pundak wanita yang berdiri membelakangi Helyara.

Brak!

Tubuh kaku Helya tersentak. Jiwanya seperti ditarik kembali ke dunia nyata.

“Kamu itu ada tamu bukannya disapa malah dipelototi, dimana adab sopan santunmu, Helya!” teguran dengan nada tegas, tatapan mencemooh tertuju teruntuk sang menantu yang ia labeli mandul.

“Maaf, Ma.” Ia menunduk dalam, jemari saling menggenggam dilenturkan. Sedikit terburu-buru mendekat sampai pinggul sebelah kanan menabrak bagian depan mobil.

Hssttt.

Ringisan sakit sama sekali tidak menggugah hati nurani sosok paruh baya memakai blouse merah hati.

Lagi-lagi hinaan terlontar. Sebagai ibu mertua, Ganira menyuarakan ketidakpuasan memiliki menantu berbadan mirip Kerbau, tidak pintar berbaur dengan keluarganya.

“Makanya kurusin tu badan! Harusnya perut diisi bayi bukannya timbunan lemak! Percuma kamu ikut program hamil dari yang alami sampai mengikuti saran dokter kandungan kalau ujung-ujungnya tetap gabuk alias mandul!” hinanya tanpa peduli wajah memerah menahan tangis.

“Mama!” Alan menegur, suaranya sarat ketidaksukaan.

Ganira jelas tidak terima. Merasa terhina ditegur didepan suami dan menantunya.

“Apa yang Mama bilang kan memang fakta, bukan mengada-ada!” kelakarnya dengan suara menggelegar, sorot mata menelanjangi Helyara.

‘Kamu pasti kuat Helya. Kan sudah biasa dikatai mirip seekor Babi, Kerbau, dan dicap mandul. Rahim gabuk,’ batinnya menguatkan, pikiran mensugesti agar segera bertindak sebelum terjadi pertengkaran antara anak dan ibu.

“Maaf, Ma, Pa … dan ….” Ia menyamping memandang sopan wanita berambut keriting sama seperti bayi yang digendongnya.

Alan memutar bagian kap mobil, berdiri di sebelah istrinya, merangkul pundak Helya.

“Dia Rianti, istri sepupu Mas. Suaminya sedang berlayar, dan dirinya dititipkan di rumah Mama,” jelas Alan dengan suara biasa saja.

Rianti menyapa, suaranya terdengar kikuk dan menatap sungkan. “Mbak ….”

“Jangan panggil Mbak, dia lebih muda beberapa tahun dari kamu. Memang sih secara fisik kalau dipandang seperti berumur 40-an padahal masih 27 tahun,” sahut Ganira kembali menyemburkan racun lewat ucapan pedas.

Senyum Helya seperti seseorang menahan lara, ia berusaha tegar kendati hatinya berdarah.

“Panggil nama saja, Mbak. Helya,” katanya dengan suara sedikit bergelombang.

“Baik, Helya.” Ia mengangguk lalu sibuk membuka kepalan tangan bayi yang menarik rambut panjang sebahu.

Alan melepaskan rangkulan, membuat Helya merasa kehilangan.

Jarak diantara mereka hanya tiga langkah kaki tetapi terasa seperti terpisah jurang membentang.

“Alamsyah, gak boleh jambak, Nak. Kasihan ibumu kesakitan.”

‘Sejak kapan mas Alan bisa berbicara selembut itu sama bayi yang katanya cuma anak sepupunya? Terus namanya Alamsyah, kok mirip sama nama mas Alandi?’ perasaan tak nyaman mulai muncul seiring interaksi manis sang suami meraih tubuh gembul lalu menggendongnya.

Helya merasakan seakan dunia di sekelilingnya berhenti berputar, para orang mematung. Hanya ia dan Alan serta bayi tertawa renyah yang bergerak.

‘Mengapa hatiku sakit? Perasaan ini lain dari biasanya ketika menyaksikan mas Alan bercanda dengan Kartika?’ batinnya berisik, sementara mata nyaris tak berkedip.

“Kamu itu pernah diajarin sopan santun gak sama orang tuamu, Helya?” teguran lebih dingin datang dari pria berambut hampir seluruhnya memutih, berperawakan tinggi kurus.

“Maaf, Pa. Maaf.” Ia tersadar kalau belum menyalami kedua tangan mertuanya. Efek terkejut membuatnya gugup sekaligus linglung.

Helya menyalami punggung tangan yang urat-uratnya menyembul dibawah kulit mulai keriput, lalu berbalik badan berjalan empat langkah mendekati ibu mertuanya.

Plak!

Tangan berjari pendek, gemuk, ditepis kuat sampai lengannya tersentak dan tubuh empunya terhenyak.

“Telat! Umurmu sudah tua, tapi adab minus. Harusnya sedari tadi salim, lalu membimbing kami masuk rumah. Bukankah malah kayak orang bodoh yang baru pertama kali melihat bayi digendong pria dewasa!” sarkas Ganira, ia melengos sambil menghentakkan kaki, berjalan menaiki teras luas.

Heuuheuuuu ….

Pipinya mengembung lalu membuang napas terasa sesak terlalu lama tertahan dalam dada. Helyara berjalan paling belakang sambil menyaksikan suaminya yang seolah lupa memiliki istri baru saja direndahkan.

Alan terlalu asik mengajak bercanda bayi yang dipanggil Alam.

Para tamu memasuki ruang santai yang mana kudapan, teh hangat telah disuguhkan oleh bi Mirma. Pembantu rumah tangga sudah bekerja lima tahun lamanya.

Si pemilik rumah berdiri bersebelahan dengan bibi, sementara tamu menikmati secangkir teh, mengunyah kue pukis.

“Nyonya kenapa gak ikutan duduk?” bisik bi Mirma, merasa kasihan kepada sang majikan yang sangat penurut, tertutup, tidak enakan.

“Kursinya sudah penuh, Bi. Lagian capek duduk terus,” alibinya jelas saja dusta.

Masih ada bagian kosong, tetapi di sebelah ibu mertua, Helya tidak seberani itu duduk di sana.

Ganira sengaja duduk di sofa panjang seorang diri, agar sang menantu berdiri bagaikan pembantu.

“Si Siska kemana?” tanya Ganira setelah mengelap mulut lengket minyak menggunakan tisu. Dia baru saja makan satu potong kue bika ambon.

“Sudah tiga hari pulang kampung, Ma. Katanya nanti sore balik kesini,” Helya menjelaskan tentang asisten rumah tangga satu lagi. Seumuran dengannya.

“Kamu itu jadi majikan jangan terlalu baik. Babu kok dimanjakan banget. Bentar-bentar cuti, kayak gak niat kerja,” ada saja yang dikritik.

“Iya, Ma,” sahutnya cepat, percuma mau membela diri yang ada tambah dicaci.

Tiba-tiba Alam merengek dalam gendongan Alan. Bayi sehat, aktif itu mengusap-usap muka.

“Kemarikan, Mas. Alam udah ngantuk, biar saya tidurkan.” Rianti mengulurkan tangan meminta putranya.

‘Mas? Apa wajar panggilan terdengar akrab itu?’ sudut matanya melirik sang suami yang memberikan Alam ke ibunya.

“Helya, tunjukkan mana kamar tidur untuk Rianti. Biar dia bisa menyusui bayinya!” seru Ganira.

“Maaf, Ma. Tadi aku cuma beresin satu kamar saja, gak tahu kalau ada —”

“Astaga!” suara Ganira melengking, dia sampai berdiri dan sangat lancang menuding wajah sang menantu. “Kamu itu selain gila makan, apa gak ada hal berguna lainnya yang bisa dibanggakan, hah?!”

“Masak gak pinter, bersih-bersih gak bisa, memperlakukan tamu pun bodoh! Apa salahnya kamu berlari ke kamar lain, langsung membersihkan agar layak ditiduri, malah mencari alasan biar gak disalahkan!” Dadanya membusung menyimpan udara terasa panas bercampur rasa kesal luar biasa.

“Cukup, Ma! Mungkin aku memang mandul, tapi gak seharusnya Mama hina terus-terusan! Ini rumahku, kenapa selalu aku yang kalian perlakuan layaknya pembantu ketika datang berkunjung! Mengapa?!” ia menjerit, meluapkan sesak dalam dada tak lagi bisa menahan rasa sakit hati.

“Helyara! Jangan membentak Mama! Dia itu pengganti ibumu, kalau gak ada ibuku kamu sudah seperti anak sebatang kara karena sudah tak memiliki orang tua!” suara Alan tidak kalah tinggi.

Seketika tangis bayi memenuhi udara, membuat suasana kian gaduh.

Helyara berlari dengan langkah pendek sambil menangis. Dia pergi ke kamarnya sendiri.

“Ini ni yang Mama gak sukai, kamu terlalu manjain istri jadinya dia kurang ajar!”

.

.

Bersambung.

Sepasang mata yang mirip : 03

“Ma, sudah berapa kali aku ingetin, jangan terlalu ikut campur rumah tangga kami! Helya gak mandul, tapi memang belum dikasih kesempatan hamil saja,” suara Alan merendah, menekan amarah mulai menggumpal dalam dada.

“Halla sama saja! Enam tahun bukan 6 bulan, Alan. Siapa yang bisa sabar menunggu segitu lama. Kita pun tau, kamu juga dengar sendiri kalau rahim istrimu bermasalah! Cukup membelanya yang bikin dia besar kepala!” Ganira engan mengerti, menolak memposisikan diri berempati.

Helya tidak tahan lagi, ditutupnya rapat daun pintu kamar. Tubuhnya luruh dengan punggung menekan papan keras. Ia tergugu seraya meninju lantai dingin.

“Ibu, Ayah, Adek ….” satu persatu para orang kesayangan yang sudah kembali ke pangkuan Tuhan, ia panggil dengan suara serak sarat kerinduan menggebu-gebu.

“Aku kangen kalian. Kenapa begitu cepat pergi meninggalkan diriku sendirian menghadapi dunia ini?” ratapnya sembari menatap pigura tergantung di dinding.

Potret keluarga lengkap yang kini barisannya tak lagi lengkap. Tinggal dirinya seorang.

Ayah dan ibu serta adik laki-lakinya meninggal. Mereka terinfeksi wabah virus akhir tahun 2020 lalu melanda negeri ini. Yang selamat hanya dirinya.

Helyara berusaha berdiri dengan punggung menekan daun pintu. Tertatih ia mendekati lemari pakaian enam pintu, membuka salah satunya, dan menarik kotak persegi dari bahan kardus.

Isi dalam kotak dituang ke atas kasur. Ratusan spuit kosong lengkap dengan jarum suntik berserakan.

“Ini perjuanganku demi bisa hamil, tapi tak pernah dianggap malah tetap dikatain mandul,” ia mengadu.

“Dua tahun lamanya setiap awal menstruasi aku menusuk paha, kadang perut demi suntik stimulasi merangsang ovarium agar memproduksi sel telur. Bahkan bekas memar masih belum hilang. Bu, Ayah, Adek … aku gak diem aja menerima takdir. Berjuang melawan, mengupayakan biar bisa hamil dan memberikan keturunan ….” Kedua tangannya memeluk tumpukan jarum suntik tertutup.

“Kurang berusaha bagaimana lagi coba? Mereka selalu mencari keburukanku, tak sekalipun melihat usaha dibalik tangis menahan rasa sakit hati maupun fisik yang lebam-lebam. Hah!” sesak sekali rasanya, dadanya terasa sempit seperti terhimpit batu.

Helyara membuka pelukan tangan, membiarkan saksi bisu perjuangan seorang wanita merindukan kehadiran buah hati berhamburan di lantai.

Dia menjatuhkan badan di pembaringan, memiringkan tubuh dan menarik kedua kaki, meringkuk layaknya bayi dalam kandungan.

Tangisnya tak lagi bersuara, menandakan rasa sakit lebih mendalam menggerogoti hati.

Kala kepala mulai berdenyut-denyut, ia memilih memejamkan mata hingga ketiduran.

Entah berapa lama wanita penuh luka batin itu tertidur, ketika mulai terbangun suasana dalam kamar meredup. Sinar matahari tak lagi menelusup masuk.

Helya menarik napas. Malas-malasan duduk lalu memperhatikan sekitar.

Benda-benda berserakan sudah tak lagi tampak, sepertinya Alan masuk ke dalam kamar selagi istrinya tertidur. Membereskan kekacauan.

“Jam empat sore, lama banget aku ketiduran.” Disingkapnya selimut yang turun sebatas paha, lalu ia beranjak.

Kamar mandi adalah tujuan utama demi membasuh wajah, menghilangkan bekas tangis yang membuat mukanya sembab.

***

Diluar, pada bagian teras samping hunian besar memiliki tujuh kamar dan hanya berlantai satu, terdengar celoteh bayi.

“Siska, kamu kapan sampai sini?” Helya mendekati asisten rumah tangga seumuran dengannya.

Wanita bertubuh mungil, langsing memandang sopan majikannya, ia sedang bermain dengan Alamsyah. “Satu jam yang lalu, Nyonya.”

“Ibunya dia kemana?” Helya duduk di kursi santai, matanya terus menatap lekat bayi dalam pangkuan Siska.

“Pergi sama tuan Alan, Nyonya. Katanya tadi mau beli pampers,” jawab Siska.

“Kalau lainnya?” yang dia maksud kedua mertuanya.

“Barusan dijemput bu Zanaya dan pak Wandi, Mama sama Papa mertua Nyonya pengen makan kepiting di restoran langganan.”

'Ini kan masih jam empat lebih, kenapa mbak Zanaya dan mas Wandi sudah pulang dari toko Emas Utomo?' kedua kakak iparnya bekerja di toko emas milik keluarganya.

“Aduh, jangan dijambak, Dek.” Siska meringis, kepalanya ikut menunduk demi mengurangi rasa sakit.

Helya tidak tega, ia turun dari kursi dan membantu melepaskan jambakan tangan Alam.

Bayi laki-laki itu menggeliat, mengeraskan badan seolah marah kesenangannya diganggu.

Sampai Helya menariknya lalu memeluk dan memangku.

“Ya ampun, jambakannya pedes banget,” Siska mengadu, beberapa helai rambutnya tertarik sama akarnya.

Telinga Helya berdengung tidak mendengarkan gerutuan Siska. Matanya membulat sempurna dan seperti ada sesuatu menahan kepala agar enggan memalingkan muka.

Bayi dalam dekapan mengendur menatap lekat manik coklat gelap. Bibir kecilnya tertarik lebar yang dilihat oleh Helya seperti seringai mengejek.

'Matanya, matanya persis mas Alan,’ dadanya bergemuruh, dia lupa bagaimana caranya bernapas dengan benar. Pandangan seolah dipaku, dipaksa menatap sampai netra terasa perih.

“Nyonya, Nyonya!” suara Siska sedikit meninggi.

“Berapa umur bayi ini, Siska?” Helya menjauhkan Alam, meminta pembantunya untuk meraih.

Siska kembali menggendong bayi menggigit mainan lunak merangsang tumbuhnya gigi. “Katanya lima bulan, Nyonya.”

“Kenapa, apa ada yang salah, Nyonya?” wanita seumuran Helyara menumpahkan seluruh perhatiannya ke majikan.

“Gak ada. Kamu jagalah yang bener. Aku masih ada kerjaan lain.” Helya berdiri dengan memegangi kaki kursi, lalu dia berjalan cepat masuk ke ruang kerja.

“Ada apa sama nyonya Helya, kok kelihatan kebingungan gitu?” Siska menimang Alam yang mulai merengek.

Di dalam ruangan khusus tempat Helya menuangkan inspirasi sebagai perancang emas teruntuk toko Emas Utomo, warisan keluarganya yang sekarang dijalankan oleh sang suami, wanita itu tidak bisa berkonsentrasi.

“Matanya persis mas Alan, hidung juga sama. Seberapa dekat hubungan persaudaraan itu sehingga kemiripan melekat pada keturunan mereka?” pensilnya mencoret bagian gambar sudah sempurna.

“Astaga.” Helya segera mengambil penghapus, ia membuat sketsa masih menggunakan cara manual.

Tok!

Tok!

“Masuk!” sahutnya masih sibuk membenahi gambar sebuah kalung berliontin daun semanggi.

“Nyonya, boleh Bibi minta waktunya sebentar?”

Helya memperhatikan gesture tubuh gelisah bi Mirma. “Kenapa, Bi? Duduklah!”

Bi Mirma memilin ujung kaos dikenakannya. Terasa berat mau mengatakan sesuatu. “Apa kepulangan saya bisa dipercepat, Nyonya. Tadi anak saya menghubungi, katanya kondisi bapaknya bertambah memprihatinkan.”

Konsentrasi Helya berhamburan. Fokusnya tak lagi pada rancangan kalung emas.

“Kenapa baru ngomong sekarang, Bi? Jam segini apa masih ada kereta pulang ke desa, Bibi?”

“Ada, Nyonya. Keberangkatan terakhir pukul delapan malam,” jawabnya cepat.

“Ya sudah, bersiaplah! Biar saya antarkan ke stasiun kereta.” Helya menyimpan hasil rancangannya ke dalam laci.

“Jangan, Nyonya. Saya takut trauma Nyonya kambuh kalau nekat menyetir sendirian.”

Diingatkan akan trauma jika mendengar raungan sirine ambulans, sejenak Helya gamang.

Namun cepat-cepat mengesampingkan demi rasa kemanusiaan. “Aku gapapa, Bi. Lagian sudah lama banget sejak terakhir kali ketakutan itu menyerang. Bergegaslah, biar ku antarkan. Anggap saja sebagai rasa terima kasih atas dedikasi Bibi selama lima tahun mengabdi di rumah ini.”

‘Ya Tuhan, maafkan hamba telah menumpuk dosa ikut menyembunyikan rahasia gelap ini. Aku harus berani jujur. Nyonya Helya tak layak dicurangi dengan cara kotor sekaligus menyakitkan!’

.

.

Bersambung.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!