Reno menatap pantulan dirinya di cermin. Kantung matanya tebal, wajahnya tampak kuyu, dan sama sekali tidak ada semangat hidup.
Dia menghela napas panjang. "Tiap hari gini terus..."
Reno hanyalah seorang pekerja kantoran biasa dengan siklus hidup yang membosankan: kerja, makan, tidur. Ditambah lagi, dia punya masalah insomnia akut yang membuat malam-malamnya makin terasa panjang.
Sambil merapikan rambutnya yang berantakan, Reno bergumam, "Kapan ya dunia kiamat biar bisa istirahat total? Haha, ngaco."
Dia kemudian berangkat kerja.
Sepanjang jalan, Reno sempat melamunkan orang tuanya. Dia tidak dekat dengan mereka karena keduanya sudah meninggal sejak ia masih kecil. Ayahnya meninggal karena kelelahan bekerja, sedangkan ibunya menyusul tak lama kemudian karena sakit. Seingat Reno, orang tuanya dulu menikah karena dijodohkan dan hubungan mereka sama sekali tidak harmonis.
"Kalau dipikir-pikir... mereka kan nggak akur. Terus kenapa aku bisa lahir ya?" Reno tersenyum kecut memikirkan teka-teki hidupnya itu.
Saat dia hendak menyeberang jalan, tiba-tiba sebuah truk kontainer melaju kencang ke arahnya secara ugal-ugalan.
"Awaaaas! Remnya blong!" teriak sopir truk dari dalam kabin dengan panik.
Mendengar suara klakson yang memekakkan telinga, Reno menoleh. Matanya membelalak. Truk itu sudah terlalu dekat, mustahil baginya untuk menghindar.
"Sialan...!"
Brak!
Tubuh Reno terpental jauh ke aspal. Dia tewas di tempat secara mengenaskan. Di detik-detik terakhirnya, Reno hanya punya satu penyesalan: dia tidak pernah merasakan hangatnya kasih sayang orang tua, bahkan tidak sempat mengenal mereka dengan baik karena mereka sudah 'log out' duluan dari dunia.
Namun, beberapa saat kemudian, Reno merasakan sensasi aneh. Rasanya ada tangan mungil yang menepuk-nepuk pipinya.
"Ayah... Ayah! Aku eek..."
Suara cempreng anak kecil memecah keheningan, disusul bau pesing yang menyengat hidung. Reno langsung membuka mata, napasnya memburu. Dia menoleh ke segala arah dengan bingung.
"Aku... masih hidup? Eh, ini di mana?" Reno tidak mengenali kamar berantakan tempatnya berbaring saat ini.
"Ayah! Mau eek... Ibu nggak ada."
Reno menoleh ke samping dan langsung merinding. "Hah? Ayah? Bocah siapa nih?! Nikah aja belum!"
Anak laki-laki berusia 4 tahun itu langsung cemberut dan mulai menangis kencang. Suaranya melengking tinggi.
"Aduh, berisik banget! Ini anak siapa sih? Apa ini hukuman buat jomblo umur 30-an? Nggak lucu ah," gerutu Reno sambil menutup telinganya.
Reno langsung beranjak berdiri dan tidak sengaja melihat sebuah cermin di dinding. Saat melihat pantulan dirinya, dia langsung melotot syok.
"Muka siapa ini?! Muka gua mana? Apa gua udah gila? Badut banget!"
Reno mengamati wajah di cermin itu lebih dekat. Detik berikutnya, dia menyadari sesuatu. Wajah ini terasa sangat familier.
"Tunggu... ini kan wajah bokap waktu masih muda? Lah, apa gua dikutuk karena kurang sukses waktu hidup?" Reno mengingat-ingat foto lama orang tuanya yang pernah ia simpan.
Sebelum kepalanya makin pusing, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Seorang wanita berpakaian sederhana masuk dengan wajah cemas.
"Reno, jangan ganggu ayahmu!"
Reno langsung kaku menatap wanita itu. Dia menunjuknya dengan gemetar. "I-Ibu?"
"Ibu? Kamu ngomong apa sih?" Wanita itu bingung, tapi langsung mengalihkan perhatiannya ke anak kecil di kasur. "Astaga! Kamu berak di celana ya? Ayo ikut Ibu ke kamar mandi. Kenapa nggak bilang dari tadi?"
Wanita itu menggendong si bocah dan berbalik untuk keluar. Sebelum menutup pintu, dia menoleh ke arah anak kecil itu. "Jangan diganggu lagi ya, Reno. Ayahmu baru bisa istirahat setelah seharian capek kerja."
Reno mematung. Otaknya mendadak macet. Jadi, anak kecil yang berak di celana tadi adalah dirinya di masa lalu? Dan sekarang dia berada di dalam tubuh ayahnya sendiri?
Belum sempat dia mencerna situasi gila ini, sebuah layar semi-transparan berwarna biru mendadak muncul di depan matanya.
Ding!
[Sistem Berhasil Diaktifkan!]
Misi: Ubah nasib buruk keluarga Anda.
Hadiah Utama: Kembali ke masa depan.
Reno spontan mundur beberapa langkah karena terkejut. Sialnya, kakinya tidak sengaja menginjak bola mainan kecil di lantai. Dia kehilangan keseimbangan, terjatuh ke belakang, dan kepalanya membentur lantai hingga pingsan kembali.
Beberapa jam kemudian, Reno akhirnya terbangun. Dia perlahan duduk sambil memegangi kepalanya yang terasa pening dan benjol.
"Aduh, kepala gua... Sialan si bocah, sembarangan banget naruh mainan!" Reno menggerutu, tapi sedetik kemudian dia terdiam. "Eh, kalau anak kecil tadi itu gua... berarti gua baru aja ngehujat diri sendiri dong?"
Reno menghela napas panjang. Logikanya jelas menolak situasi gila ini, tapi rasa sakit di kepalanya adalah bukti nyata kalau ini bukan mimpi.
Baru saja dia hendak berdiri untuk melihat situasi di luar, kepalanya mendadak kembali berdenyut nyeri. Potongan ingatan milik ayahnya mulai membanjiri otaknya.
Reno bersandar di tembok, wajahnya memucat menahan pusing. "Jadi... bokap sama nyokap aslinya orang desa yang merantau ke kota? Terus mereka nikah karena dijodohkan sama orang tua..."
Reno memijat pelipisnya, kali ini bebannya terasa lebih berat. "Terus gunanya gua kesasar di tubuh bokap gua apa? Mana tadi layar biru yang sok tahu itu?"
Ding!
[Sudah saya jelaskan sebelumnya. Misi Anda adalah mengubah nasib buruk keluarga Anda.]
Reno tersentak. Dia masih belum terbiasa dengan kemunculan sistem yang tiba-tiba ini.
"Bisa nggak usah pakai ngagetin? Lu mau bikin gua mati muda dua kali, hah? Oh iya, biasanya sistem di cerita-cerita kayak gini bisa ngasih cheat kekayaan instant, kan? Mana punya gua?"
Ding!
[Tidak ada. Tugas saya hanya mengirim Anda ke masa ini. Sisanya, Anda harus menyelesaikannya sendiri.]
"Sialan! Nggak guna banget!"
Ding!
[Bukannya ini impian Anda? Merasakan kehangatan keluarga. Sekarang, Anda bahkan punya kesempatan menjadi orang tua bagi diri Anda sendiri.]
Reno mengibaskan tangannya di udara, berusaha membubarkan layar biru itu. "Terserah lu lah. Jadi sekarang umur bokap baru 25 tahun, dan nyokap 23 tahun."
Reno menghela napas lelah. Tampaknya ingatan masa lalu yang dia dapatkan dari tubuh ini belum sepenuhnya pulih, baru sepotong-sepotong.
Dengan langkah gontai, Reno berjalan keluar kamar. Suasana ruang tengah yang sederhana dan agak kuno itu mendadak memicu rasa nostalgia di benaknya.
"Gara-gara bokap sama nyokap meninggal waktu gua kecil, gua akhirnya dirawat sama kerabat bajingan yang tega ngejual rumah ini, terus gua dibuang ke panti asuhan. Awas aja lu ya, gua kutuk mandul tahu rasa!" bisik Reno penuh dendam.
Dia kemudian menoleh ke arah jendela yang menghadap ke halaman rumah.
Di luar sana, terlihat Nadia, ibunya sedang menyapu halaman, sementara Reno kecil sedang asyik duduk bermain tanah.
Reno mematung memperhatikannya. "Hmm... ini kan tahun 2015. Saham... kripto..." Sebuah senyum lebar langsung terukir di wajahnya. "Gila! Pakai modal ingatan masa depan gua, gua bisa kaya mendadak tanpa harus kerja rodi! Hahaha!"
Di luar rumah, Nadia yang mendengar suara tawa keras dari dalam seketika menoleh bingung. Reno kecil juga langsung menghentikan aktivitas main tanahnya.
"Ibu, Ayah gila ya?" tanya Reno kecil polos.
"Reno, nggak boleh ngomong gitu. Nggak sopan. Dari mana kamu belajar bahasa begitu?" tegur Nadia lembut.
Nadia merasa suaminya, Raka hari ini aneh sekali. Tadi berteriak-teriak histeris, sekarang malah tertawa sendiri di dalam rumah. Padahal, Raka aslinya adalah sosok pria yang pendiam, kaku, dan cenderung cuek.
(𝘾𝙖𝙩𝙖𝙩𝙖𝙣: 𝙈𝙪𝙡𝙖𝙞 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜, 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙢𝙥𝙚𝙧𝙢𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙘𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖, 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙨𝙚𝙗𝙪𝙩 𝙍𝙚𝙣𝙤 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙣𝙖𝙢𝙖 𝙩𝙪𝙗𝙪𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙣𝙞, 𝙮𝙖𝙞𝙩𝙪 𝙍𝙖𝙠𝙖).
Kembali ke dalam rumah, Raka langsung membekap mulutnya sendiri untuk menghentikan tawa.
Namun, saat dia hendak mengeksplorasi bagian rumah yang lain, sebuah suara lantang memanggilnya dari arah depan.
"Rak! Raka!"
Nadia yang berada di halaman langsung bergegas menuju pagar. "Mas Budi? Ada apa, ya?"
"Eh, Dek Nadia. Ini... saya mau nyari Raka. Kemarin dia bilang setuju mau ikut saya kerja lembur di proyek bangunan. Katanya buat tambahan uang belanja."
Nadia cukup terkejut mendengar hal itu. Dia sama sekali tidak tahu suaminya mencari kerja sampingan.
Yah, lagipula hubungan mereka berdua memang dingin dan jarang mengobrol intim meski sudah menikah beberapa tahun.
Tak berselang lama, Raka keluar dari pintu depan sambil mengucek matanya.
"Nah, ini dia orangnya! Kamu belum siap-siap, Rak? Jadi berangkat nggak nih?" tanya Budi.
"Jadi apaan? Siapa lu? Bentar..." Raka memicingkan mata, mencoba menggali ingatan di kepalanya. "Oh, lu temennya boka—maksud gua, lu Budi kan?"
Budi dan Nadia langsung melongo. Gaya bicara Raka terdengar sangat asing dan tidak sopan di telinga mereka.
Budi berbisik sambil menatap Nadia dengan cemas. "Dek, suamimu kenapa? Dia lagi sakit?"
Nadia menggeleng kebingungan. "Saya juga nggak tahu, Mas. Dari pagi sikapnya memang agak aneh. Mungkin kecapekan."
"Yaudah, bentar ya, Om. Gua siap-siap dulu di dalem," ujar Raka santai sebelum balik badan masuk ke rumah.
Budi makin melongo. Sejak kapan Raka manggil dia 'Om' dan pakai bahasa 'Gua-Lu'?
Di dalam kamar, Raka sibuk mengaduk-aduk lemari pakaian. "Baju apaan sih ini? Kuno banget kelihatannya. Dasar selera bapak-bapak."
Setelah berganti pakaian dengan kaos hitam polos dan celana panjang seadanya, Raka kembali berjalan ke luar rumah. "Yuk, Om. Gua lagi butuh duit banget nih biar cepet kaya, hehe."
Budi masih mematung di tempatnya. Setelah beberapa saat, dia berdehem canggung. "Aduh, Rak... kalau kamu emang lagi capek, mending istirahat aja deh di rumah. Jangan dipaksain."
"Ah, nggak usah sok perhatian gitu, Om. Gua sehat walafiat kok!" Raka dengan santai merangkul pundak Budi layaknya teman tongkrongan sebaya. Dia kemudian menoleh ke arah Nadia. "Yaudah, gua pamit kerja dulu ya, Bu... eh!"
Raka langsung menggigit bibirnya sendiri. "Aduh, refleks sialan! Kagok banget panggil nama asli ke ibu kandung sendiri, tapi kalau panggil Ibu kan aneh,' batinnya menjerit.
"Maksudnya... Nadia. Kamu jangan lupa makan ya. Nanti kalau ada rezeki lebih, aku beliin sesuatu pas pulang," ralat Raka buru-buru, mencoba meniru gaya bicara 'suami' pada umumnya.
Tanpa menunggu jawaban Nadia yang masih syok, Raka langsung menarik lengan Budi.
"Lewat mana jalan ke proyeknya, Om? Ke arah sana kan?"
Budi buru-buru menepis rangkulan Raka dengan wajah ngeri. "Bukan, Raka! Itu mah lapangan bola! Kamu ini kenapa sih hari ini? Aneh bener!"
Sambil berjalan menyusuri gang, Budi membuka obrolan. "Hubunganmu sama Nadia masih gitu-gitu aja? Makanya Rak, jangan terlalu kaku jadi orang. Keras kepala banget sih, padahal aslinya kamu sayang kan sama dia?"
Raka mengernyit bingung. "Bokap—eh, maksud gua, emang gua pernah bilang gitu, Om?"
"Aneh banget kamu hari ini. Salah makan apa sih?" Budi menggeleng heran sambil menatap Raka dari atas ke bawah. "Masa lupa? Kamu kan sering curhat sama minta saran ke aku kalau lagi pusing mikirin istri."
"Oh ya? Emang Om udah nikah?" tanya Raka polos.
"Heleh! Kamu pikun apa gimana sih? Ya udahlah. Masa belum, udah punya anak gitu! Hahaha. Tapi jujur ya, aku masih heran. Hubungan kalian berdua dingin banget kayak orang asing, tapi kok bisa-bisanya si Reno lahir?"
Raka terdiam sejenak. Berdasarkan secuil ingatan ayahnya yang dia dapat tadi, 'proses' pembuatan dirinya dulu cuma karena ketidaksengajaan di satu malam yang pas. Setelah malam itu, hubungan kedua orang tuanya malah makin canggung dan menjauh.
"Mungkin lagi hoki aja, Om," jawab Raka asal.
"Hoki apaan? Bikin anak mana ada istilah hoki!" Budi tertawa terpingkal-pingkal.
Raka cuma bisa cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Dia merasa jauh lebih nyaman memakai kepribadian aslinya yang santai daripada harus meniru sifat asli ayahnya yang kaku dan membosankan.
"Eh Om, kita nanti kerjanya ngapain sih? Terus, Om punya hape nggak?" tanya Raka kemudian.
Budi tersenyum bangga lalu merogoh kantong celananya. "Punya lah! Nih, lihat."
Raka langsung tertawa melihat benda di tangan Budi. "Hahaha! Hape jadul yang bunyinya tet-tot begini? Ganti yang layar sentuh napa, Om. Ini kan udah tahun 2015, udah zaman modern. Masa masih pakai hape senter gini?"
Budi buru-buru memasukkan hapenya kembali ke kantong dengan kesal. "Sama aja fungsinya! Lagian cuma dipake buat telepon sama SMS doang."
"Nah, pemikiran Om itu salah total. Justru Om harus mulai belajar teknologi dari sekarang biar nggak gaptek. Nanti kapan-kapan gua ajarin deh."
Budi menghela napas pasrah. "Terserah kamu, Rak. Semoga besok sifatmu udah normal lagi ya."
Raka terkekeh pelan. Sudah lama sekali dia tidak bisa mengobrol lepas seperti ini semenjak tenggelam dalam kesibukan dunia kerja di masa depannya dulu.
"Umur Om berapa sih sekarang?" tanya Raka penasaran.
"Dua puluh tujuh."
"Walah, tuaan Om ternyata daripada ayah gua ya, wkwk."
Sesampainya di lokasi proyek bangunan, Budi menepuk pundak Raka. "Ayo, aku kenalin dulu sama anak-anak yang lain."
Budi pun mengenalkan Raka sebagai pekerja harian tambahan kepada mandor dan kuli lainnya.
"Oh, jadi ini orangnya? Lumayan juga tampangnya. Udah nikah belum, Rak?" tanya seorang kuli paruh baya di sana.
"Bokap gua sih udah, Om," jawab Raka spontan.
"Terus udah punya anak?" sahut kuli yang lain.
"Gua anaknya," timpal Raka dengan wajah lempeng.
Mendengar jawaban absurd itu, orang-orang di sana malah menganggapnya sebagai candaan yang cerdas.
Mereka tertawa terpingkal-pingkal dan langsung menyukai kepribadian Raka yang dianggap humoris.
"Bisa aja lu! Lucu juga nih anak baru. Nanti sore gua traktir makan di warteg deh!" kata salah satu pekerja sambil terkekeh.
Pekerjaan pun dimulai. Raka ditugaskan untuk mengangkut adonan semen menggunakan ember.
Baru berjalan beberapa rit, napasnya sudah ngos-ngosan dan keringatnya bercucuran. Di momen inilah dia benar-benar merasakan betapa beratnya perjuangan hidup ayahnya dulu.
'Gila, capek banget ternyata. Kerjaan kantor gua dulu emang bikin stres pikiran, tapi kalau capek fisik, ginian jauh lebih gila,' batin Raka meringis.
"Kamu nggak apa-apa, Rak? Nggak biasanya kamu kelihatan gampang capek gini," tegur Budi yang berjalan di sampingnya sambil memanggul karung semen.
Raka hanya tersenyum kecut dan mempercepat langkahnya. Dia menyerahkan ember itu ke tukang bangunan di atas steger. "Ini, Bang."
"Ya, taruh situ aja, Rak."
"Siap!"
Saat sore hari tiba dan jam kerja selesai, Raka yang sudah benar-benar kehabisan energi langsung telentang begitu saja di atas tanah kering.
Dia benar-benar tidak habis pikir dengan kekuatan fisik ayahnya dulu.
"Nggak kebayang gimana bokap bisa kuat menjalani hidup kayak gini. Malam kerja shift di pabrik sepatu, tidur cuma sebentar, siangnya langsung lanjut kerja kasar di proyek kalau ada lowongan," renungnya dalam hati.
"Hahaha, asli, aku heran banget sama kamu hari ini, Rak," ujar Budi yang tiba-tiba datang sambil membawa segelas es teh manis. "Tapi jujur, aku malah lebih suka sifatmu yang sekarang. Kerasa lebih asyik dan terbuka."
Budi menyodorkan gelas itu. "Nih, minum dulu. Nanti kita makan bareng anak-anak di warteg depan. Tapi tenang, kita patungan kok, wkwk."
Raka langsung duduk dan menyambar gelas tersebut. "Makasih, Om. Gas lah, gua juga udah kelaparan nih."
Sementara itu, di rumah...
Nadia baru saja selesai memandikan Reno kecil. Dia kemudian berjalan ke arah pintu depan sambil membawa keranjang pakaian untuk mengambil jemuran yang ada di halaman.
Namun, begitu dia membuka pintu rumah, langkahnya mendadak terhenti. Seorang pria tampan dengan pakaian rapi dan kelihatan sangat mahal sudah berdiri di ambang pintu.
Pria itu menatap Nadia dengan mata berbinar-binar. "Nadia... jadi bener ini rumah kamu? Akhirnya... aku berhasil nemuin kamu."
Tubuh Nadia seketika kaku. Jantungnya berdegup kencang saat mengenali wajah pria itu.
"Mas... Riko?" gumam Nadia dengan suara bergetar.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!