Indonesia
NovelToon NovelToon

Jangan Harap Cintaku Lagi

1. Cinta yang Membunuhku

"Jangan bergerak!"

Seorang pria bertubuh besar menarik rambut Mirna hingga wanita paruh baya itu menjerit. Sebilah pisau menempel di lehernya.

"Ahh... sakit! Lepaskan aku!" pekik Mirna.

"Diam!" bentak perampok itu.

Tubuh Vira membeku; tenggorokannya serasa tercekat. "Jangan sakiti ibu saya," katanya berusaha tetap tenang. "Apa yang kalian mau, saya akan berikan."

"Serahkan semua uang dan barang berharga kalian, atau leher wanita tua ini putus sekarang juga!"

Melihat tak ada satu orang pun bergerak, perampok itupun geram.

"Cepat!" bentaknya. "Atau kalian semua ingin mati hah?!"

Yanti, sepupu Vira yang berdiri di sudut ruangan gemetar hebat. "Vira, kasih saja! Kasih semuanya!" teriaknya panik. "Uang bisa dicari lagi. Aku gak mau mati!"

Perampok lain mulai mengobrak-abrik lemari dan laci.

"Cepat!" bentaknya. "Di mana uangnya?"

Vira baru saja hendak melangkah ketika suara mesin mobil terdengar dari luar rumah.

Brummm...

Lampu mobil menyorot melalui jendela depan.

Salah satu perampok menoleh. "Sial! Ada yang datang!"

Pintu rumah terbuka.

Daril memasuki ruang tengah, wajahnya langsung berubah tegang saat melihat ibunya ditodong dengan pisau.

"Daril!" seru Vira.

"Jangan bergerak!" ancam perampok sambil menekan pisaunya lebih kuat ke leher Mirna.

Daril mengangkat kedua tangannya. "Tenang. Saya tidak akan macam-macam."

"Serahkan semua uang kalian!"

Daril melirik Vira. Vira mengangguk kecil. Beberapa menit kemudian, uang tunai yang ada di rumah sudah berada di atas meja.

"Ini semua uang yang ada," kata Vira.

Perampok itu tampak ragu.

Saat perhatian mereka teralihkan pada tumpukan uang, Daril diam-diam bergeser mendekati Mirna.

"Daril, jangan!" bisik Vira tegang.

Namun Daril menemukan celah. Dan--

Brak!

Ia menendang lutut perampok yang menyandera ibunya hingga pria itu terjatuh.

"Bu, lari!" teriak Daril.

Mirna langsung merangkak menjauh.

"Kampret!" umpat perampok yang terjatuh. "Hajar dia!"

Perkelahian pecah. Daril dan salah satu perampok saling pukul. Yang lain mendekat hendak mengeroyok.

"Tolong! Tolong!" teriak Yanti.

"Diam!" bentak salah satu perampok berbalik menghampiri Yanti.

Vira mengambil guci keramik di samping buffett.

PRANG!

Guci menghantam punggung perampok itu, pecah berhamburan di lantai.

"Akh!" Perampok terhuyung.

"Jangan coba melawan atau kalian semua akan mati!" ancam salah satu dari mereka.

Yanti makin menjerit histeris. "Tolong! Tolong! Ada perampok!"

Bahkan Mirna dan Vira ikut berteriak.

Mendengar teriakan yang semakin keras, para perampok mulai panik.

"Sial! Kabur!"

Mereka berlari keluar rumah. Suara langkah kaki menjauh dengan cepat. Beberapa detik kemudian, rumah itu kembali sunyi.

"Kita selamat..." gumam Vira lega, meski napasnya masih memburu.

Daril berdiri beberapa langkah di belakangnya. Tatapannya jatuh pada sebilah pisau yang tergeletak di lantai. Pisau yang ditinggalkan perampok.

Perlahan, ia membungkuk dan mengambilnya dengan sapu tangan.

Vira yang melihatnya mengernyit. "Daril, kenapa kamu mengambilnya? Letakkan. Itu bisa jadi barang bukti untuk menangkap para perampok tadi."

Tapi Daril malah melangkah mendekat ke arahnya.

"Lihatlah pisau ini," kata Daril dengan suara rendah.

Ia membolak-balikkan pisau di tangannya itu dengan senyuman yang terasa ganjil.

"Daril, kamu mau apa?" tanya Vira yang tiba-tiba merasa tengkuknya terasa dingin.

Daril berhenti tepat di depan Vira, lalu menunduk dan berbisik dengan suara yang terdengar datar, nyaris dingin.

"Mengirimmu menyusul orang tuamu."

Jleb!

Tanpa peringatan, ia menusukkan pisau itu ke tubuh Vira.

Mata Vira membelalak. Ia menatap pisau yang menancap di perutnya, lalu mengangkat wajahnya ke arah Daril.

"D-Daril...?"

Pria itu menatapnya tanpa rasa bersalah.

"Kenapa?" tanya Vira dengan suara bergetar. "Kenapa kau membunuhku?"

"Kau tahu kenapa aku bertahan selama ini?" Daril tersenyum dingin. "Karena hartamu."

"Kau...?" Vira menatap suaminya tak percaya.

"Sekarang usaha ini sudah cukup besar," lanjut Daril. "Aku tak membutuhkanmu lagi. Kau terlalu banyak mengatur. Semua uang harus lewat persetujuanmu. Aku muak hidup di bawah kendali perempuan."

"Hugh..."

Vira memuntahkan darah saat Daril mendorong pisau itu lebih dalam.

"Lagipula..." Sorot mata Daril tajam menusuk. "Wanita mandul sepertimu memang tidak berguna. Kalau kau mati sekarang, semua orang akan mengira kau mati dibunuh perampok."

Tubuh Vira melemah. Darah terus mengalir dari lukanya. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, ia menoleh ke arah Yanti. "Tolong aku..."

Namun, Yanti hanya tersenyum. Ia mendekat, lalu memeluk lengan Daril. "Kau benar-benar bodoh, Vira. Selama ini kau pikir kenapa aku bertahan di rumah ini? Aku mencintai Daril."

Vira menatap Yanti dengan mata berkaca-kaca.

"Aku sudah lama menunggu hari ini," kata Yanti penuh senyuman. "Setelah kau mati, aku bisa menikah dengan Daril."

Dada Vira terasa bagai dihantam batu besar. Dengan putus asa, ia menatap Mirna, berharap wanita yang ia rawat dan sayangi seperti ibunya sendiri itu menolongnya.

Namun Mirna justru mendengus. "Lebih baik kau mati. Selama ini kau terlalu cerewet. Sedikit-sedikit melarangku makan ini dan itu. Aku lebih memilih Yanti jadi menantuku."

Air mata mengalir dari sudut mata Vira. Ia tidak pernah menyangka akan mati di tangan pria yang dicintainya. Lebih menyakitkan lagi, ia juga dikhianati oleh sepupunya sendiri dan dibenci oleh ibu mertuanya yang selama ini selalu ia jaga.

Saat kesadarannya mulai menghilang, hanya ada satu penyesalan dalam hidupnya.

"Jika diberi kesempatan kedua..."

Vira tersenyum pahit. Darah hangat masih mengalir dari luka di perutnya.

"...aku tidak akan pernah menikahi Daril."

Kelopak matanya perlahan tertutup. Dan--

Gelap.

Tok! Tok! Tok!

"Ra! Vira! Ra!"

Tok! Tok! Tok!

"Vira! Bangun!"

Vira tersentak. Aroma racun nyamuk bakar menusuk hidungnya.

"Ngh..."

Napasku...?

Refleks, kedua tangannya langsung meraba perutnya. Tidak ada pisau, tidak ada darah. Perutnya utuh.

Namun rasa nyeri itu masih terasa begitu nyata, seolah mata pisau Daril baru saja menembus tubuhnya beberapa detik yang lalu.

"Hah...!"

Ia terengah-engah. Napasnya memburu, seluruh tubuhnya dipenuhi keringat dingin.

Tok! Tok! Tok!

"Vira! Kamu sudah bangun belum?"

Suara itu... Itu suara Daril.

Tubuh Vira menegang. Wajah pria yang menusukkan pisau ke tubuhnya kembali terlintas jelas di benaknya.

 

"Karena aku sudah muak padamu."

"Wanita mandul dan pelit."

"Kalau kau mati sekarang, semua orang akan mengira kau mati dibunuh perampok."

 

"Jangan... jangan mendekat..." gumam Vira lirih sambil mundur hingga punggungnya membentur kepala ranjang. Matanya bergerak liar mengamati kamar.

Lemari kayu tua, meja belajar, rak buku. Boneka kain yang sudah bertahun-tahun tidak ia lihat.

"Ini... Bukankah ini kamar lamaku?"

Tangannya gemetar saat meraih kalender yang tergantung di dinding. Ia membeku. Tanggal itu...

Mustahil.

"Ini... lima tahun yang lalu?"

Dadanya naik turun. Dengan tergesa ia turun dari ranjang, lalu berlari menuju cermin.

Di sana, pantulan seorang perempuan berusia awal dua puluhan menatap balik ke arahnya. Belum ada gurat lelah di wajahnya. Belum ada bekas luka. Belum ada cincin pernikahan di jari manisnya.

"Apa ini mimpi?"

Air matanya tiba-tiba mengalir.

"Aku... hidup?"

Ia menatap kedua telapak tangannya berulang kali, seolah takut semua ini hanya mimpi.

Tok! Tok! Tok!

"Ra! Cepat buka pintunya!"

Suara Daril kembali terdengar. Kali ini lebih jelas, lebih dekat. Tubuh Vira langsung membeku. Bukan rindu yang memenuhi dadanya.

Melainkan ketakutan.

Ingatan tentang pisau yang menembus tubuhnya kembali berkelebat. Tanpa sadar, ia mundur beberapa langkah dari pintu.

"Vira?" panggil Daril lagi. "Aku tahu kamu di dalam. Tolong buka sebentar. Aku butuh bicara."

Vira mengepalkan tangannya. Air matanya berhenti mengalir. Sorot matanya perlahan berubah dingin.

Ia ingat. Hari ini... adalah hari ketika Daril datang meminjam uang dengan alasan Mirna sakit. Hari ketika ia mulai mengorbankan segalanya demi pria itu. Namun... Kali ini berbeda.

"Kau datang mencari pertolongan..." bisiknya pelan. "...dan aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama."

 

...✨"Pengkhianatan terbesar bukan datang dari musuh, melainkan dari orang yang paling kita percaya."✨...

.

To be continued

2. Awal Takdir yang Baru

Vira mengusap air matanya, lalu merapikan rambut dan pakaiannya. Ia ingat. Di kehidupan sebelumnya, Daril datang pagi-pagi sekali karena ingin meminjam uang.

Vira melangkah keluar dari kamar, lalu membuka pintu utama. Di ambang pintu, Daril berdiri dengan wajah lelah. Di tangannya ada sebungkus bubur hangat.

Dulu, melihat pria itu dalam keadaan seperti ini selalu membuatnya khawatir.

Tapi sekarang...

"Ada apa pagi-pagi sekali menggedor pintu rumahku?" tanya Vira datar.

Tatapannya tertuju pada pria yang sebelum waktu terulang, tanpa ragu, menghujamkan pisau ke perutnya.

Daril tampak sedikit terkejut. Ekspresi dan nada bicara Vira terasa... asing.

"Kamu belum makan, 'kan? Aku sekalian beli bubur buat kamu," ujarnya, berusaha mencairkan suasana sambil mengangkat kantong plastik di tangannya.

Pemandangan itu terasa begitu ironis. Pria yang nantinya membunuhnya kini berdiri di depan pintu sambil membawakan sarapan, seolah tidak akan pernah terjadi apa-apa.

"Ra..." Wajah Daril mendadak murung. "Ibu semalaman sesak. Dokter bilang harus dirawat. Aku gak punya uang."

Jika ia Vira yang dulu, pasti sudah mengajaknya masuk dan mengambil tabungannya tanpa berpikir dua kali.

Namun kini, ia tahu inilah langkah pertama yang membuatnya terus mengorbankan diri hingga kehilangan segalanya.

"Kemarin bukankah aku sudah memberimu uang?" tanya Vira. Nada suaranya tetap datar.

Ia masih mengingatnya dengan jelas. Sehari sebelumnya, ia memberikan satu juta rupiah setelah Daril mengatakan ingin membawa Mirna berobat.

Lalu, pagi ini?

Daril mengernyit. Biasanya Vira tidak pernah meminta penjelasan. Selama uang itu untuk Mirna, gadis itu selalu memberikannya tanpa banyak bertanya.

"Ra, kamu tahu sendiri biaya rawat inap itu mahal. Uang kemarin nggak cukup."

Vira mengembuskan napas pelan. "Ril, kamu itu laki-laki. Sejak ayahmu meninggal, kamulah tulang punggung keluarga. Apalagi kamu sudah lulus kuliah. Bukankah lebih baik mulai mencari pekerjaan untuk membiayai hidup kalian daripada terus bergantung padaku?"

Daril terdiam. Tatapannya dipenuhi kebingungan. Vira yang berdiri di hadapannya pagi ini terasa seperti orang yang berbeda.

"Kamu juga tahu sendiri," dalih Daril, "cari kerja zaman sekarang susah."

Vira menatapnya tanpa ekspresi. Bukan tidak ada pekerjaan. Daril hanya terlalu memilih.

Sejak ayahnya meninggal, aset peninggalan keluarga mereka terus menyusut sedikit demi sedikit.

"Kamu punya motor. Kenapa nggak jadi ojol saja?" tanya Vira.

Daril tersenyum masam. "Ra, aku pernah jadi ojek pangkalan. Seharian mangkal, tapi penghasilannya gak seberapa."

"Ya beda, lah," kata Vira cepat. "Ojol sama ojek pangkalan itu jelas gak sama."

Daril mengepalkan tangannya. Vira benar-benar berubah. Dulu, saat ia mengeluh karena penghasilannya sebagai ojek pangkalan tidak cukup, justru Vira yang menyuruhnya berhenti. Gadis itu bahkan mengatakan tenaganya lebih baik dipakai mencari pekerjaan lain yang penghasilannya lebih menjanjikan.

Sekarang...

"Ya sudah," ujar Daril, jemarinya mengecek saku celananya. "Nanti aku kerja jadi ojol."

Ia menggantung ucapannya sejenak. "Tapi..."

Vira mengernyit. "Tapi apa?"

"Ibuku sakit. Kalau aku kerja gak ada yang ngurus, Ra."

Vira menatap Daril beberapa saat. "Kalau begitu, rawat ibumu."

"Kalau aku merawat Ibu, kami makan apa?"

"Itu pilihanmu. Tapi jangan menjadikanku satu-satunya jalan keluar," tegas Vira.

Daril kehilangan kata.

Vira melanjutkan dengan nada tenang. "Kamu punya paman, bibi, tetangga, bahkan bisa menyewa perawat harian kalau memang perlu. Kamu juga bisa bekerja bergantian dengan ibumu saat kondisinya membaik."

"Lalu uangnya dari mana?" potong Daril.

"Dari hasil kerjamu."

"Ra--"

"Cukup, Ril," potong Vira cepat. "Kalau setiap ada masalah kamu datang mencariku, kapan kamu akan belajar berdiri di atas kakimu sendiri?"

Setelah Vira menolak, Daril tidak marah. Dia justru berkata pelan, "Aku pikir... cuma kamu yang bisa kuandalkan."

Namun Vira, yang sudah mengetahui masa depan, hanya berpikir dalam hati, "Dulu aku percaya ucapan itu. Aku mengira kau mengandalkanku karena cinta. Nyatanya, kau hanya mengandalkanku karena hartaku."

"Ya sudah," kata Daril akhirnya. "Ini bubur buat kamu. Aku pergi dulu. Siapa tahu hari ini ada rezeki buat biaya perawatan Ibu."

Ia mengulurkan kantong berisi bubur hangat kepada Vira.

Vira menerimanya. "Terima kasih," ucapnya singkat.

Daril mengangguk, lalu berbalik melangkah meninggalkan rumah itu. Namun baru beberapa langkah, ia berhenti dan menoleh ke arah Vira.

"Ra..."

Vira tetap berdiri di ambang pintu.

"Aku merasa kamu berubah."

Vira tidak menjawab.

Daril tersenyum tipis, meski sorot matanya menyiratkan kesedihan. "Dulu, waktu kamu hampir hanyut di sungai, aku mempertaruhkan nyawaku buat nyelametin kamu. Aku gak pernah menyesali keputusan itu."

Ia menarik napas sejenak. "Perasaanku ke kamu juga gak pernah berubah."

Sesaat suasana menjadi hening.

Tatapan Vira tidak lagi sehangat dulu. Tidak ada senyum, tidak ada kekhawatiran. Hanya tatapan datar yang sulit ditebak.

Daril akhirnya kembali melangkah pergi. Punggung pria itu perlahan menjauh.

Vira terus menatapnya tanpa berkedip. Awal mula ia memilih Daril dan menyerahkan seluruh hidupnya pada pria itu adalah karena merasa berutang budi.

Namun, apa balasan yang ia terima?

Pengkhianatan. Pisau yang menembus perutnya. Dan kematian di tangan pria yang paling ia cintai.

"Cuih..." Vira meludah ke tanah. "Kalau saja aku tahu sejak dulu seperti apa wajahmu yang sebenarnya..."

Rahangnya mengeras. "Kali ini, jangan harap aku mengorbankan apa pun lagi untukmu."

Ia berbalik, lalu menutup pintu dengan keras.

Vira menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Pikirannya kembali pada kejadian bertahun-tahun lalu.

 

Saat itu, ia terpeleset ketika mencari ikan-ikan kecil di tepi sungai. Arus yang deras menyeret tubuhnya. Kemampuan berenangnya pas-pasan, membuat tenaganya terkuras sedikit demi sedikit hingga akhirnya tenggelam. Ketika sadar, ia sudah berada di puskesmas.

Daril ada di sana, dengan senyum penuh kelegaan ia berkata, "Syukurlah, aku bisa menyelamatkanmu."

 

Vira memejamkan mata. "Sudah cukup."

Suara lirih itu menggema di kamar.

"Aku merelakan mimpiku kuliah agar kamu tetap bisa melanjutkan pendidikanmu setelah ayahmu meninggal. Anggap saja semua itu sebagai balasan karena kau pernah menyelamatkan nyawaku."

Ia mengembuskan napas panjang, lalu bangkit dari ranjang.

Setelah membersihkan diri, Vira berdiri di depan cermin. Jemarinya menyentuh pipinya yang masih putih dan mulus.

Saat menjadi istri Daril, ia bahkan hampir tak pernah memiliki waktu untuk merawat diri.

Setiap kali mempekerjakan pembantu, tak ada yang bertahan lama karena Mirna terlalu cerewet dan banyak menuntut. Akhirnya, semua pekerjaan rumah beralih ke pundaknya.

Pagi-pagi ia harus bangun menyiapkan pakaian Daril, memasak, membersihkan rumah, sekaligus menyusun dan mencatat pakaian dagangan yang akan dikreditkan. Usaha yang mereka bangun bersama.

Ironisnya, semua itu berakhir dengan sebuah tikaman.

Vira tersenyum tipis, tetapi sorot matanya terasa dingin.

"Jangan harap aku menikah denganmu lagi. Apalagi menjadi pembantu sekaligus mesin ATM-mu."

Ia keluar dari rumah, lalu membuka pintu toko sembako peninggalan kedua orang tuanya.

Toko kecil itulah yang selama ini menjadi sumber penghasilannya.

Belum sempat ia menyusun barang dagangan, sebuah suara memanggil namanya.

"Vira..."

Vira menoleh. Seketika rahangnya menegang. Orang yang berdiri di hadapannya membuat tatapannya berubah tajam.

 

...✨"Kesempatan kedua bukan hadiah untuk mengulang kisah lama, melainkan keberanian untuk memilih jalan yang berbeda."✨...

.

To be continued

3. Tamu yang Tak Lagi Istimewa

Seorang gadis berpakaian sederhana dengan tas kain lusuh berdiri di depan toko.

Yanti.

"Ra..." panggilnya pelan. "Aku sudah sebulan lalu dipecat dari tempat kerja. Uangku juga sudah habis, sementara sampai sekarang aku belum dapat pekerjaan baru."

Ia menundukkan kepala. "Boleh gak aku tinggal di sini untuk sementara?"

Vira hanya menatapnya dalam diam. Wajah itu... Wajah yang sama. Yang tersenyum puas saat melihat dirinya meregang nyawa.

 

"Kau benar-benar bodoh, Vira."

"Selama ini kau pikir kenapa aku bertahan di rumah ini? Karena aku mencintai Daril."

"Aku sudah lama menunggu hari ini. Setelah kau mati, aku bisa menikah dengannya."

 

Suara itu kembali menggema di kepalanya.

"Ra?" panggil Yanti membuat Vira tersadar. "Boleh, 'kan?"

Perlahan, Vira mengulas senyum tipis. "Tentu saja boleh. Kamu, 'kan, sepupuku, keluargaku."

Sorot mata Yanti langsung berbinar.

Dalam hati, Vira mencibir. "Ya... keluarga yang kupelihara di rumahku sendiri, lalu menungguku mati."

"Terima kasih, Ra!" Yanti langsung menggenggam tangan Vira. "Aku janji gak bakal ngerepotin kamu."

"Tapi..." Vira menggantung kata-katanya.

Senyum di wajah Yanti perlahan memudar. "Tapi apa?"

"Kalau ingin tinggal di rumahku," lanjut Vira. "kamu harus bekerja."

Yanti mengernyit. "Maksudmu?"

"Kamu yang mengerjakan semua pekerjaan rumah."

Yanti membelalak. "Hah?"

"Menyapu, mengepel, mencuci, memasak, mencuci pakaian, dan membersihkan rumah," jelas Vira.

Rahang Yanti menegang. "Enak saja. Aku datang untuk numpang hidup, bukan jadi pembantu."

Namun umpatan itu hanya berani ia simpan dalam hati.

"Bagaimana?" tanya Vira dengan nada suara lembut. "Kalau kamu setuju, masuklah dan setelah sarapan bantu aku."

Vira berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Kalau tidak, maaf. Aku gak bisa bantu kamu."

Yanti menggigit bibir bawahnya.

"Kamu tahu sendiri aku hidup sendirian," lanjut Vira. "Aku memang punya toko sembako, tapi itu satu-satunya sumber penghasilanku."

Tatapan Vira tetap tenang. "Makan, listrik, air, semuanya butuh biaya. Aku juga anak yatim piatu. Tidak ada yang menanggung hidupku selain diriku sendiri."

Yanti mengepalkan tangan di balik tasnya.

Dalam hati ia mengumpat habis-habisan. "Pelit sekali! Masa sepupu sendiri disuruh jadi kacung?"

Yanti melirik ke arah toko sembako yang berada di samping rumah itu.

"Ra..." katanya ragu. "Sebenarnya aku agak lemot kalau disuruh beres-beres rumah."

Ia tersenyum canggung. "Gimana kalau aku bantu jaga toko aja?"

Vira mengangkat sebelah alisnya. Di kehidupan sebelumnya, ia memang meminta Yanti menjaga toko.

Yanti makan gratis, tidur gratis, bahkan tidak pernah diminta mengeluarkan uang sepeser pun. Sebagai balasannya, Yanti membantu melayani pembeli.

Namun, Vira sering mendapati uang hasil penjualan berkurang tanpa alasan yang jelas. Awalnya ia mengira dirinya salah menghitung. Lama-kelamaan, ia sadar. Yanti diam-diam mengambil uang dari laci kasir sedikit demi sedikit.

Vira memilih menutup mata, karena merasa kasihan Yanti tidak memiliki penghasilan.

Ia hanya mengurangi jumlah uang tunai di laci dan lebih sering menyimpannya sendiri agar kerugiannya tidak semakin besar.

Sekarang, kesalahan itu tidak akan terulang lagi.

"Jangankan ribuan rupiah. Satu lembar uang pun tidak akan kubiarkan berpindah ke tanganmu," batin Vira.

"Maaf," ujar Vira dengan suara terkontrol. "Aku sedang butuh orang untuk mengurus pekerjaan rumah, bukan menjaga toko."

Wajah Yanti mulai berubah. "Tapi, Ra..."

"Tenang saja." Vira memotong ucapan Yanti. "Kalau kinerjamu bagus, aku tetap akan memberimu gaji."

Wajah Yanti langsung membeku. "Digaji? Berarti aku benar-benar dianggap art?"

Dalam hati ia mendecak kesal. "Kalau kayak gitu, mana bisa aku pegang uang toko?"

Namun ia tidak berani menunjukkannya. Saat ini ia memang sedang tidak punya tempat tinggal dan tidak memiliki pekerjaan.

Kalau sampai Vira berubah pikiran, ia benar-benar tidak tahu harus ke mana lagi.

Yanti akhirnya mengangguk pelan, menelan kekesalannya.

"Baiklah, Ra," jawabnya pelan sambil memaksakan senyum. "Aku bakal ngerjain semua pekerjaan rumah."

Vira mengangguk puas. "Bagus. Masuklah. Kamarmu di belakang, deket dapur."

Tanpa berkata apa-apa lagi, Vira kembali menata barang-barang dagangannya.

Sementara itu, Yanti melangkah masuk ke dalam rumah dengan senyum yang masih terpasang di wajahnya. Meski demikian, kedua tangannya sudah mengepal erat sejak tadi.

"Kamar deket dapur?" gerutunya. "Dia benar-benar menganggap aku babu. Dasar Vira sialan!"

Setelah masuk ke dalam rumah, Yanti meletakkan tasnya di kamar yang dikatakan Vira, lalu berjalan menuju meja makan. Saat membuka tudung saji, yang ada hanya bubur.

Yanti mendengus. "Sarapannya cuma bubur begini? Mana kenyang? Dasar pelit!"

Namun Yanti tak punya pilihan lain selain memakan bubur itu.

 

Setelah selesai menyusun barang di toko, Vira masuk ke dalam rumah. Ia melihat bubur di atas meja yang dibawakan Daril tadi sudah habis.

"Yanti."

"Iya, Ra?" sahut Yanti yang baru saja membuang sampah bekas bubur.

Vira menyerahkan sebuah celemek. "Tolong sapu dan pel seluruh rumah dulu. Setelah itu cuci piring yang ada di dapur."

Yanti tersenyum tipis. "Baik."

"Oh ya." Vira kembali menoleh. "Nanti sekalian cuci pakaian yang ada di kamar mandi. Kalau sudah selesai, masak nasi. Lauknya nanti aku yang belanja."

Senyum Yanti mulai terasa kaku. "I-iya."

Vira mengangguk puas, lalu kembali ke toko. "Jangan harap jadi tamu dan aku perlakukan kayak ratu. Sekali tertipu sudah lebih dari cukup."

Begitu sosok Vira menghilang dari pandangan, senyum di wajah Yanti langsung lenyap. Ia menatap celemek di tangannya dengan wajah masam.

"Dasar menyebalkan," gumamnya lirih. "Kukira numpang di sini bakal hidup enak."

Yanti mendecak kesal. "Ternyata malah diperlakukan kayak orang asing. Pekerja biasa."

Dengan enggan ia mulai menyapu lantai. Belum setengah rumah selesai, peluh sudah membasahi pelipisnya.

"Capek banget..."

Ia melirik ke arah toko. Dari kejauhan terlihat Vira sedang melayani pelanggan sambil sesekali mencatat barang yang keluar.

"Enak sekali dia. Kerjanya cuma berdiri, pegang uang, lalu duduk. Sementara aku..."

Yanti menatap lantai yang belum selesai disapu. Harus mengepel, mencuci piring, mencuci pakaian. Belum lagi memasak.

Rahangnya mengeras. "Mentang-mentang punya toko. Kalau bukan karena aku belum punya tempat tinggal, mana sudi aku kerja kasar begini."

Ia kembali menatap keluar pada toko milik Vira. "Lihat saja, semua ini bakal jadi milikku."

Ia menarik napas panjang, lalu kembali bekerja.

Sementara itu, dari balik etalase toko, Vira diam-diam memerhatikan setiap gerakan Yanti. Sudut bibirnya terangkat tipis.

"Dulu aku terlalu baik. Kali ini, setiap orang akan mendapatkan tempat yang pantas."

Vira kembali melanjutkan menimbang gula saat suara itu terdengar.

"Ra, aku mau beli beras setengah liter."

Vira menoleh. Jemarinya yang memegang timbangan seketika membeku.

Orang yang berdiri di hadapannya adalah seseorang yang tak pernah ia duga akan ditemuinya lagi.

"Kamu..."

 

...✨"Orang yang benar-benar menyayangimu akan menghargai bantuanmu. Yang memanfaatkanmu justru menganggapnya sebagai kewajiban."...

..."Memberi tempat tinggal adalah kebaikan. Membiarkan orang menguasai hidupmu adalah kebodohan."...

..."Kebaikan tanpa batas sering kali melahirkan orang yang lupa diri."✨...

.

To be continued

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!