Cahaya lampu kristal yang menyilaukan menyambut Nadira saat ia membuka mata.
Langit-langit kamar yang tinggi dan perabotan mahal di sekelilingnya terasa sangat asing.
Aroma parfum mahal bercampur bau rokok sisa semalam memenuhi udara, membuat
kepalanya sedikit pusing.
"Aduh dimana ini!" Nadira menggumam. Ia mengedipkan mata beberapa kali, mencoba memproses di mana dia berada sekarang.
Nadira menatap tangannya yang lentik dan terawat, kulit yang tidak pernah ia miliki
sebelumnya. Ia menyentuh wajahnya, merasakan tulang pipi yang tajam dan alis yang terbentuk sempurna.
Di cermin besar di hadapannya, wajah Clarissa menatapnya dengan tatapan dingin yang sangat asing. Jantungnya berdebar kencang, menyadari bahwa ia bukan lagi dirinya yang lama.
"Eh, tubuh siapa ini? Kenapa aku bisa berada di tubuh ini? Mana pemilik tubuh ini sangat sempurna, pasti bukan dari kalangan biasa!"
Gumam Nadira lagi. Wanita itu menarik selimut sutra pelan-pelan, mencoba menstabilkan napasnya yang mulai memburu. Kakinya terasa berat saat mencoba turun dari ranjang king size yang terlalu
empuk.
Setiap langkah di atas karpet tebal terasa canggung, seolah-olah ia sedang
memakai kostum yang salah.
"Ahh!" kepalanya terasa sakit. Pemilik tubuh ini memberi penglihatan sebelumnya kepada Nadira. Meminta agar Nadira harus memainkan peran Clarissa dengan sempurna. jika ia ingin bertahan hidup di tempat ini.
Tiba-tiba, suara barang jatuh memecah kesunyian pagi itu. Nadira menoleh ke arah sofa di sudut ruangan. Arga, suaminya yang berantakan, sedang duduk dengan kaki di atas meja.
"Astaga pria itu membuatku kaget saja!" celoteh Nadira sembari mengusap dadanya.
Pria itu tampak kelelahan, dengan kemeja terbuka dan rahang yang mengeras.
Ketegangan memenuhi udara, membuat Nadira enggan untuk bergerak atau membuat
suara.
Sekarang Nadira tahu semuanya tentang pemilik tubuh ini. Pria tersebut adalah suaminya. Hubungan mereka tampak tidak baik. Entah bagaimana Nadira berada di situasi seperti ini. Apalagi pria itu adalah tipe idamannya. Nadira ingin berjingkrak mengetahui jika seharusnya posisinya saat ini adalah impiannya di masa depan.
Arga mendongak, menatap Nadira dengan mata merah yang penuh kemarahan.
"Kamu sudah bangun?" suaranya parau dan rendah.
"Aku pikir kamu akan tidur seharian setelah semua drama yang kau buat tadi malam."
"Memangnya apa yang kulakukan?"
"Pura-pura Amnesia!" cibir Arga dengan sinisnya.
Nadira menelan ludah, berusaha menyesuaikan suaranya agar tidak terdengar seperti dirinya sendiri. Ia mencoba mengingat bagaimana Clarissa biasa berbicara kepada pria ini.
"Aku tidak butuh komentar dari orang yang pulang pagi dan merusak suasana rumah,"
jawabnya, berharap nada itu cukup tajam untuk menutupi rasa takutnya.
Arga tertawa sinis, sebuah suara yang membuat bulu kuduk Nadira berdiri. Ia berdiri dan berjalan mendekat, menciptakan bayangan yang menakutkan di atas tubuh Nadira.
"Suasana rumah?" Ia berhenti tepat di depan Nadira, menatap tajam ke dalam mata
Clarissa.
"Kau yang menghancurkan rumah ini, Clarissa. Jangan berlagak seperti korban."
Nadira mundur selangkah, tapi punggungnya menabrak bingkai jendela yang dingin. Ia
bisa mencium bau alkohol dan kemarahan dari napas Arga. Kebencian di antara mereka
terasa nyata dan mengancam, jauh lebih berat daripada yang ia bayangkan. Ia harus
segera beradaptasi dengan kehidupan baru yang penuh dengan kebencian dan intrik
keluarga ini.
"Aku tidak punya waktu untuk bertengkar denganmu," Nadira berkata, mencoba
mengumpulkan sisa keberaniannya. Ia berpaling, memutus kontak mata yang
menyesakkan itu.
Matanya melirik ke arah pintu kamar mandi mewah, tempat ia bisa
bersembunyi sejenak untuk berpikir jernih tentang warisan dua ratus triliun itu.
Ia tahu jika ingin mendapatkan warisan tersebut, ia tidak boleh menunjukkan kelemahan sedikit pun di depan Arga atau siapapun.
"Aku sungguh tidak bisa membayangkan jika terus berada di sisi pria itu. Masalahnya banyak sekali intrik dengan pemilik tubuh ini," Nadira menarik napas panjang, merapikan kerah gaun tidurnya yang mahal, dan bersiap untuk keluar dari kamar.
Ini adalah perang pertamanya, dan ia harus memenangkannya dengan senyum yang palsu.
Napas pagi terasa dingin di ruang makan yang sepi. Arga berdiri di dekat jendela,
punggungnya membelakanginya. Suara langkah kaki Nadira di lantai marmer memicu
percakapan yang tajam.
"Kamu tidak akan pergi ke mana-mana hari ini, kan?" tanya Arga tanpa menoleh.
Nadira mengerutkan kening. Ia mencoba memproses memori Clarissa yang berkelebat di kepalanya. Tubuh ini menyimpan dendam lama, namun ia adalah Nadira yang
terperangkap.
Ia baru saja terbangun di tubuh wanita yang paling dibenci di rumah ini.
Arga akhirnya berputar. Suaminya yang urakan itu menatapnya dengan pandangan
meremehkan. Jemari Arga menggenggam erat bingkai foto hingga kuku jarinya memutih.
Ia menganggap Clarissa adalah beban yang harus diawasi terus-menerus.
Nadira menarik napas dalam. Ia mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu cepat. Ia harus bersikap tenang agar tidak dicurigai. Satu kesalahan kecil saja, maka warisan dua ratus triliun akan hilang selamanya.
"Aku ingin sarapan," jawabnya pelan.
Arga tertawa sinis. Tawa itu memenuhi ruangan dan memicu rasa sakit di dada Nadira.
Arga mendekat, menatap mata Nadira dengan curiga. Ia seolah tahu ada sesuatu yang
berubah dari cara Clarissa biasanya menyusun kata-kata.
"Sarapan? Sejak kapan kamu peduli makan pagi? Biasanya kamu lebih sibuk
merencanakan cara untuk menjatuhkan keluargaku," kata Arga datar.
Nadira menunduk. Ia menyadari bahwa setiap gerakan harus diukur. Ia tidak bisa
membalas kata-kata Arga dengan amarah Clarissa. Ia harus menemukan celah untuk
membuat Arga percaya bahwa ia bukan lagi ancaman.
"Jangan terlalu serius, Arga. Aku hanya ingin makan dengan tenang hari ini," ucap Nadira. Berusaha mencairkan suasana.
Arga mendengus pelan. Ia melepaskan genggamannya dari bingkai foto itu dan
melemparnya ke atas meja. Suara benturan kayu dan kaca terdengar cukup keras. Nadira
tahu, hari ini akan menjadi perjuangan panjang untuk mengubah persepsi pria itu terhadap dirinya.
"Rasanya aku seperti hendak ditelan bulat-bulat olehnya. Tapi aku tidak akan menyerah!" Nadira membatin.
Ia melangkah pelan menuju meja makan. Kursi kayu itu diseret sedikit, menciptakan suara gesekan yang memekakkan telinga di tengah ketegangan.
Nadira duduk, menunggu reaksi Arga selanjutnya dengan tangan yang sedikit gemetar di atas pahanya.
Sarapan Pertama yang Dingin
Langkah kaki Nadira menyentuh lantai marmer yang dingin saat ia berjalan menuju ruang makan. Pintu kayu berat itu terasa seperti penghalang antara dirinya dan dunia luar. Dibelakangnya, Arga berjalan dengan langkah malas, sepatunya menyeret sedikit di lantai seolah-olah setiap langkah membutuhkan usaha yang sangat berat.
Nadira menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantung yang mulai berpacu karena ketegangan yang tak terucap.
Ia mendorong daun pintu hingga terbuka lebar, memperlihatkan meja makan panjang yang sebagian besar kursinya kosong. Di area ini, udara terasa jauh lebih dingin daripada di
koridor. Pembantu rumah tangga yang sedang menuangkan air putih langsung membeku, tangannya sedikit gemetar hingga airnya sedikit tumpah ke meja. Nadira menatap punggung pembantu itu, menyadari betapa dalam rasa takut yang mereka miliki terhadap Clarissa, tubuh yang sekarang ia tinggali.
Arga menarik kursi di ujung meja dengan suara berisik, duduk tanpa mengucapkan
sepatah kata pun. Ia langsung meraih teko kopi dan menuangkannya ke cangkir dengan
gerakan kasar. Cairan cokelat itu nyaris meluap, tapi Arga tampak tidak peduli. Ia
menyesap kopinya sambil menatap tajam ke arah Nadira yang baru saja duduk diseberangnya.
Tatapan itu bukan sekadar marah, tapi penuh dengan kebencian yang mengendap sejak lama.
Nadira meletakkan tangannya di atas paha, jari-jarinya meremas kain gaun dengan lembut untuk mengalihkan rasa gugup. Ia harus mencairkan suasana ini jika ingin bertahan hidup di rumah ini.
"Selamat pagi," sapa Nadira dengan suara yang sengaja dibuat lebih lembut
dan ramah daripada biasanya. Suaranya bergema di ruangan sunyi itu, namun tidak ada jawaban yang datang. Hanya ada suara denting sendok yang disentuh Arga secara
sengaja.
"Astaga aku malah dianggap angin lalu. Tak ada satupun yang menjawab sapaan manisku," gumam Nadira.
Salah satu pelayan yang lebih tua, Ibu Wati, mendekat untuk menaruh piring berisi roti panggang di depan Nadira. Saat tangan mereka hampir bersentuhan, Ibu Wati menarik tangannya kembali seolah Nadira adalah penyakit menular. Nadira menatap mata wanita itu, mencoba mencari sedikit kehangatan, tapi yang ia temukan hanyalah tatapan kosong penuh ketakutan.
"Ada apa? Apa aku semengerikan itu sampai kau terlihat begitu takut padaku?" tanya Nadira pada Bu Wati.
"Ma-maaf saya telah lancang!" jawab Bu Wati dengan gugup.
"Tidak bukan begitu, hanya saja-"
"Katanya kamu ingin makan dengan tenang. Maka lakukan apa yang seharusnya kamu inginkan!" sindir Arga tanpa sedikitpun menoleh pada Nadira.
Nadira mendesah kesal. Reputasi Clarissa benar-benar hancur, dan Nadira harus membersihkan nama itu dari awal yang sangat sulit.
"Kopi ini pahit," gumam Arga. Ia meletakkan cangkirnya dengan keras hingga dasar piring berdentang. "Seperti kehidupan orang-orang di sini sekarang."
"Kamu saja yang merasa. Aku tidak!" Nadira menanggapi provokasi itu.
"kayanya kamu perlu minum obat untuk memulihkan ingatan kamu tentang ini. Semua berawal darimu!"
Ia tahu jika ia membalas dengan sarkasme khas Clarissa, ia akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kepercayaan siapa pun di rumah besar ini. Ia butuh sekutu, bukan musuh tambahan. Baiklah kali ini diam saja dulu.
Nadira mengambil selembar roti dan mulai memotongnya dengan gerakan yang sangat
terkendali.
"Aku tidak memintamu duduk di sini jika kehadiranku membuatmu tidak
nyaman," kata Nadira pelan, matanya tetap terfokus pada pisau yang digunakannya.
Arga tertawa kering, sebuah suara yang tidak menyenangkan.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Clarissa.
Kita semua tahu kamu hanya menunggu saat yang tepat untuk menusuk kami dari
belakang lagi."
Ketegangan di udara semakin menebal. Nadira merasakan otot bahunya menegang, tapi ia memaksakan diri untuk tetap tenang. Ia menatap Arga, menahan keinginan untuk
berdebat.
"Aku hanya ingin sarapan dengan tenang," jawab Nadira datar. Arga mendengus, lalu berdiri dari kursinya sambil merupakan kursi itu kembali dengan suara keras.
"Sarapan dengan tenang adalah kemewahan yang tidak akan pernah kamu miliki di
rumah ini."
Arga berbalik dan berjalan keluar dari ruang makan tanpa menoleh ke belakang.
"Uh, sulit sekali untuk mengambil hati pria itu," batin Nadira.
Langkahnya cepat dan marah, meninggalkan Nadira sendirian di meja panjang yang
dingin. Pelayan-pelayan yang berada di sudut ruangan segera pergi setelah melihat Arga
pergi, tidak ingin berada di ruangan yang sama dengan Nadira lebih lama lagi.
Nadira terdiam, merasakan beban dari tubuh yang tidak ia miliki ini semakin berat untuk dipikul. Ia meletakkan pisau dan garfunya perlahan. Nafsu makannya hilang seketika karena stres dan ketegangan emosional yang baru saja terjadi.
Nadira menyadari bahwa mendapatkan
warisan dua ratus triliun itu bukan hanya soal memiliki tubuh Clarissa, tapi juga harus bisa
bertahan hidup dari amarah orang-orang yang telah disakiti Clarissa.
Ia harus mengubah cara mereka memandangnya, perlahan tapi pasti, meski itu terasa hampir mustahil.
Nadira berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke taman belakang.
Cahaya matahari pagi yang hangat menyinari wajahnya, memberikan sedikit kehangatan di
tengah suasana ruangan yang dingin. Ia menutup matanya sejenak, mencoba mengatur napasnya agar tidak panik. Ia harus berpikir jernih tentang siapa yang bisa ia ajak bicaradan siapa yang harus ia jauhi untuk sementara waktu di rumah besar ini.
Ia teringat akan kata-katanya sendiri sebelum masuk ke ruangan ini, ia harus
mengumpulkan sekutu. Jika Arga sudah memusuhi Clarissa secara terbuka, pasti ada
orang lain di rumah ini yang memiliki perasaan yang sama.
Nadira menatap ke arah dapur
yang terlihat dari jendela, memikirkan pelayan-pelayan yang tadi terlihat sangat takut. Mungkin salah satu dari mereka adalah kunci untuk memulai segalanya, asalkan ia bisa menunjukkan bahwa ia bukan Clarissa yang mereka kenal selama ini.
Suasana ruang makan yang kosong itu mulai terasa menyesakkan. Nadira memutuskan
untuk pergi dari sana sebelum pemikirannya menjadi terlalu negatif. Ia berjalan melewati
kursi-kursi yang tertata rapi, merasakan kesepian yang luar biasa meskipun rumah ini
penuh dengan orang-orang.
Menjadi orang kaya dengan harta warisan yang sangat besar tidak akan ada artinya jika ia harus hidup dalam pengucilan dan ketakutan orang lain setiap hari.
Ia melangkah keluar ke koridor yang sepi, mendengarkan suara langkah kakinya sendiri
yang bergema. Nadira meraba dinding yang dingin dengan tangannya, mencoba mencari
koneksi dengan realitas yang sebenarnya. Ini semua hanyalah sementara, pikirnya. Ia
harus bertahan dan memainkan perannya dengan sangat hati-hati agar tidak tertangkap
dan kehilangan kesempatan untuk mengubah nasibnya.
Keheningan di rumah itu hanya terputus oleh suara napasnya sendiri yang mulai melambat. Ketika ia berjalan menuju area tengah rumah, ia melihat bayangan seseorang di ujung sana.
Nadira mempercepat langkahnya sedikit, penasaran apakah itu Arga yang kembali
untuk melanjutkan pertengkaran atau mungkin pelayan yang bersedia berbicara
dengannya. Namun, saat ia mendekat, orang itu ternyata adalah Dinda, salah satu saudara
tiri Clarissa nya yang jarang ia temui di ruang utama.
Dinda sedang menatap ponselnya dengan
ekspresi yang sangat serius.
Nadira hampir memanggil nama Dinda, tapi sesuatu dalam instingnya menyuruhnya untuk berhenti dan mengamati dari kejauhan terlebih dahulu.
Ia perlu mempelajari dinamika keluarga ini tanpa harus langsung terlibat dalam konfrontasi baru. Namun, sebelum ia bisa
memutuskan untuk pergi atau menyapa, suara dering ponsel yang sangat keras
menggema di koridor yang sepi itu. Dinda mengangkat wajahnya, menatap layar ponsel
yang tiba-tiba menyala dan bergetar di tangannya.
Ponsel itu bergetar di atas taplak meja yang kaku. Sebuah nada dering tajam membelah
udara ruang makan pagi itu, mengusik ketenangan yang terasa palsu. Nadira menatap layar perangkat tersebut, melihat nama Dinda berkedip di sana.
Foto kontak yang dipasang Dinda terlihat sangat sengaja dipilih untuk menunjukkan arogansi--rahang terangkat, mata menantang. Nadira menghela napas perlahan, jari telunjuknya hinggap di ikon hijau menerima. Ia tahu ini bukan sekadar sapaan pagi.
"Apa kamu sudah memastikan surat wasiat itu di tangan kamu?" suara Dinda mengalir dari speaker ponsel, dingin dan menusuk.
Tidak ada basa-basi, tidak ada tanya kabar.
Pertanyaan itu langsung menempatkan Nadira di sudut ruangan yang gelap. Nadira
merasakan tenggorokannya mengeras, lidahnya serasa menempel di langit-langit mulut yang kering. Ia menatap ke arah jendela, mencoba menenangkan detak jantung yang mulai berpacu liar.
Ia sadar, ini adalah jebakan yang dibuat dengan sangat teliti. Dinda ingin mendengarnya mengakui sesuatu, ingin menangkapnya dalam kesalahan bicara.
Nadira menegakkan punggung, mencoba meniru postur angkuh Clarissa, perempuan jahat yang tubuhnya sedang ia pakai sekarang.
"Aku sedang mengurusnya, Dinda," jawab Nadira, berusaha menguatkan suara agar tidak bergetar. Ia harus terdengar terkendali, atau Dinda akan mencium kebohongannya.
Di ujung sana, Dinda mengeluarkan suara tawa kecil yang kering. Tawa yang tidak
menyentuh mata, hanya sekadar alat untuk merendahkan.
"Jangan berlagak seperti orang suci, Clarissa. aku tahu siapa dirimu, jadi jangan buang waktu dengan sandiwara itu." nada suara Dinda berubah dari tajam menjadi mengancam.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!