Indonesia
NovelToon NovelToon

Dia Sudah Full Level, Kamu Masih Cari Masalah?

Episode 1

Bab 001: Darah dan Api

Alarm merah menyala di sepanjang lorong bawah tanah.

Blood Shadow berjalan dengan satu tangan menyeret rantai besi yang masih menempel di pergelangan kirinya. Ujung rantai itu bergesekan dengan lantai logam, meninggalkan suara nyaring yang membuat para penjaga di balik pintu baja menahan napas.

Di bawah cahaya lampu darurat, wajahnya tampak terlalu muda.

Tujuh belas tahun.

Usia yang bagi gadis lain mungkin diisi ujian sekolah atau pesan singkat dari teman. Bagi Blood Shadow, usia itu berarti catatan pembunuhan paling bersih di dunia bawah dan tubuh yang sejak bayi diperlakukan seperti aset organisasi.

Shadow membesarkannya.

Shadow pula yang malam ini memutuskan untuk menghapusnya.

"Target keluar dari ruang isolasi!"

Suara di interkom pecah oleh kepanikan. Beberapa detik kemudian, tiga penjaga berbaju hitam muncul dari tikungan lorong. Senjata mereka sudah terangkat, bidikan lurus ke dada Blood Shadow.

Gadis itu tidak berhenti.

"Jangan bergerak!"

Ia mengangkat mata. Tidak ada rasa takut di sana. Tidak ada amarah yang meledak-ledak. Hanya dingin yang terlalu tenang, seolah tiga orang di hadapannya bukan manusia bersenjata, melainkan pintu yang kebetulan berdiri di jalan.

Penjaga pertama terlambat menarik pelatuk.

Rantai di tangan Blood Shadow melesat seperti cambuk. Logam itu menghantam pergelangan penjaga, membuat senjatanya jatuh. Tubuh Blood Shadow bergerak mendekat dalam satu tarikan pendek. Siku, lutut, bahu. Tiga gerakan. Tiga tubuh roboh.

Tidak ada teriakan panjang.

Hanya bunyi senjata membentur lantai, napas yang tersangkut, lalu lorong kembali dipenuhi sirene.

Blood Shadow menunduk, mengambil kartu akses dari salah satu penjaga, lalu menempelkannya ke panel pintu berikutnya. Jarinya berlumur darah kering, tetapi gerakannya tetap stabil.

Pintu terbuka.

Bau obat dan asap kabel terbakar menyambutnya.

Di ujung lorong itu ada lift menuju ruang kontrol utama. Ia tahu letaknya bahkan dengan mata tertutup. Selama tujuh belas tahun, pulau ini adalah seluruh dunianya. Ruang latihan. Ruang operasi. Ruang isolasi. Lab genetik. Kolam uji tahan napas. Kamar putih tempat anak-anak Shadow diajari bahwa rasa sakit hanyalah informasi.

Ia pernah menjadi anak paling patuh di sana.

Saat masih kecil, ia mengira suara mesin di malam hari adalah suara rumah. Mengira dokter berjas putih yang mencatat denyut nadinya adalah orang dewasa yang peduli. Mengira perintah adalah bahasa kasih sayang.

Lalu ia tumbuh.

Terlalu cepat.

Pada usia dua belas, ia menyelesaikan misi pertamanya. Pada usia lima belas, namanya mulai dibisikkan di pasar gelap. Pada usia tujuh belas, orang-orang berhenti menyebutnya anak. Mereka menyebutnya senjata.

Senjata seharusnya tidak punya kehendak.

Itu kesalahan pertama Shadow.

Lift berhenti di lantai terdalam. Begitu pintu terbuka, puluhan moncong senjata langsung mengarah padanya. Ruang kontrol utama berbentuk setengah lingkaran dengan dinding kaca tebal yang memperlihatkan reaktor bawah tanah di sisi lain. Puluhan layar menampilkan peta pulau, jalur pipa bahan bakar, ruang tahanan, helipad, dan dermaga rahasia.

Di tengah ruangan, seorang pria berusia hampir lima puluh berdiri dengan jas hitam rapi.

Direktur laboratorium Shadow.

Orang yang pernah menepuk kepala Blood Shadow kecil dan berkata, "Kau anak terbaik kami."

Malam ini, tangannya menggenggam sebuah perangkat kecil berwarna perak.

Blood Shadow mengenali benda itu.

Pemicu chip.

Chip yang ditanam di kepalanya sejak ia belum bisa mengeja namanya sendiri. Chip yang disebut sebagai pengaman, tetapi sebenarnya hanya tali kekang. Selama chip itu ada, Shadow percaya mereka dapat memanggilnya pulang, membuatnya berlutut, atau mengakhiri hidupnya kapan pun mereka mau.

Direktur itu tersenyum, tetapi otot di rahangnya kaku.

"Berhenti di sana."

Blood Shadow berhenti tiga langkah dari garis bidik. Rantai di tangannya jatuh perlahan ke lantai.

Clang.

Suara itu membuat beberapa penjaga mengeratkan pegangan pada senjata mereka.

"Kau membuat kekacauan besar malam ini," kata pria itu. Nada suaranya dibuat tenang, seperti sedang menegur murid yang terlambat masuk kelas. "Kembali ke ruang isolasi. Kita masih bisa memperbaiki ini."

Blood Shadow menatapnya.

"Memperbaiki?"

Satu kata itu keluar rendah. Kering. Hampir seperti tawa yang lupa caranya menjadi suara.

Mata direktur bergerak sesaat ke layar di belakangnya. Di sana, angka korban keamanan bertambah satu per satu. Banyak pintu sudah berwarna merah. Banyak sistem sudah mati.

"Kau terlalu berharga untuk mati karena emosi sesaat."

"Bukankah kalian yang menandatangani perintah eksekusiku?"

Ruangan hening sekejap.

Beberapa penjaga saling melirik, tetapi tidak ada yang berani bicara.

Direktur menekan bibir. "Dewan mengambil keputusan berdasarkan risiko. Kau mulai tidak terkendali. Kau menyimpan data misi. Kau membuka arsip yang tidak seharusnya kau lihat. Kau bahkan menolak perintah terakhir."

"Perintah untuk membunuh anak-anak di ruang B-7?"

Wajah pria itu tidak berubah.

Justru karena itulah sesuatu di dada Blood Shadow terasa semakin dingin.

Mereka tidak pernah menganggap anak-anak itu manusia. Mereka juga tidak pernah menganggapnya manusia. Mereka hanya berbeda nomor, berbeda tingkat keberhasilan, berbeda harga jual.

"Eksperimen membutuhkan pengorbanan," kata direktur.

Blood Shadow menunduk dan melihat darah mengering di sela borgol besi. Borgol itu dibuat khusus untuknya. Campuran logam berat, lapisan penahan listrik, sensor gerak, dan pengunci biometrik. Mereka memasangnya setelah misi terakhir, ketika ia pulang membawa bukti bahwa Shadow sedang menjual data anak-anak eksperimen ke pembeli lain.

Mereka tersenyum saat menyambutnya.

Lalu suntikan masuk ke lehernya.

Saat ia bangun, tangannya sudah terikat, kepalanya sakit, dan suara dewan terdengar dari speaker.

Aset Blood Shadow memasuki tahap risiko tinggi.

Eliminasi disetujui.

Tujuh belas tahun ia membunuh untuk mereka. Satu kali ia menolak menjadi mesin, mereka langsung takut.

"Kau ingat Wind Shadow?" tanya Blood Shadow tiba-tiba.

Jari direktur di atas pemicu chip menegang.

Nama itu membuat udara berubah.

Wind Shadow. Anak laki-laki yang pernah membagi selimut dengannya saat mereka masih terlalu kecil untuk tahu bahwa musim dingin di pulau buatan itu bukan cuaca, melainkan bagian dari uji daya tahan. Anak yang mengajarinya menyimpan roti keras di bawah ubin. Anak yang suatu malam berdiri di depannya dan menerima hukuman yang seharusnya untuknya.

Orang pertama yang pernah berkata bahwa ia bukan alat.

Orang pertama yang Shadow renggut darinya.

"Jangan membawa nama aset gagal ke sini," kata direktur.

Mata Blood Shadow menjadi lebih gelap.

Seorang penjaga muda menelan ludah. Ia berdiri paling dekat dengannya dan baru sadar bahwa gadis itu tidak gemetar sama sekali. Bahkan dengan senjata sebanyak itu, bahkan dengan chip di kepalanya, bahkan dengan hidupnya di ujung jempol direktur.

Blood Shadow tersenyum tipis.

"Kalian selalu begini. Orang hidup kalian sebut aset. Orang mati kalian sebut gagal."

"Cukup."

Direktur mengangkat pemicu lebih tinggi.

Di layar utama, status chip Blood Shadow muncul dalam warna merah. Detak jantungnya. Aktivitas otak. Suhu tubuh. Posisi chip. Semua ditampilkan seperti data barang di gudang.

"Berlutut," perintahnya. "Atau aku tekan."

Para penjaga menunggu.

Blood Shadow tidak bergerak.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga.

Jempol direktur turun.

Rasa sakit meledak di dalam kepala Blood Shadow.

Putih. Tajam. Seperti ribuan jarum masuk dari belakang mata, menembus tulang, lalu memutar di dalam tengkorak. Tubuhnya goyah. Satu lutut hampir menyentuh lantai, tetapi tangan kanannya lebih dulu menekan meja logam di sampingnya.

Kuku-kukunya menggores permukaan meja.

Darah segar menetes dari hidung.

Direktur menghela napas lega. "Kau lihat? Kau tetap milik Shadow."

Blood Shadow menunduk. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah. Dari sudut bibirnya, tawa kecil keluar.

Pelan.

Serak.

Tidak wajar.

Direktur membeku.

Gadis itu mengangkat kepala.

Matanya merah oleh pembuluh yang pecah, tetapi tatapannya tetap sadar.

"Sakitnya cuma segini?"

Beberapa penjaga mundur setengah langkah.

Tidak ada yang memberi perintah untuk mundur. Tubuh mereka bergerak lebih dulu.

Blood Shadow meluruskan punggung. Dengan tangan kiri yang masih terborgol, ia merogoh bagian dalam jaket hitamnya. Semua senjata terangkat bersamaan.

"Jangan bergerak!"

Ia tetap bergerak.

Benda yang ia keluarkan bukan pisau.

Bukan pistol.

Sebuah pemicu kecil berwarna hitam tergeletak di telapak tangannya. Bentuknya sederhana, bahkan terlihat murahan dibanding perangkat perak di tangan direktur.

Namun wajah direktur langsung kehilangan warna.

Karena di salah satu layar, sistem bahan peledak internal yang seharusnya terkunci tiba-tiba menyala.

TNT cadangan. Jalur bahan bakar helipad. Gudang amunisi bawah tanah. Reaktor pendingin. Semua terhubung dalam satu rangkaian merah.

"Apa yang kau lakukan?" Suara direktur pecah.

"Belajar dari kalian."

Blood Shadow mengusap darah di bawah hidungnya dengan punggung tangan.

"Kalau aset tidak bisa dikendalikan, hancurkan semuanya."

"Kau gila." Direktur melangkah maju tanpa sadar. "Pulau ini pusat riset terbesar Shadow. Data genetik, arsip misi, cadangan chip, semua ada di sini. Kau juga akan mati."

"Aku tahu."

Jawaban itu terlalu ringan.

Seolah kematian bukan jurang di depan mata, melainkan pintu yang sejak lama ia hafal letaknya.

Di dalam ruangan, seseorang mulai berbisik memanggil tim teknis. Suara panik meledak di interkom. Pintu darurat terkunci sendiri. Lift berhenti beroperasi. Layar demi layar berubah merah.

Blood Shadow telah menyiapkannya sejak lama.

Bukan semalam. Bukan setelah dewan mengkhianatinya.

Sejak hari ia menemukan arsip Wind Shadow.

Sejak ia tahu anak itu tidak gagal dalam misi, melainkan dijadikan bahan uji karena pernah melindunginya.

Sejak ia membaca laporan yang menyebut kematiannya efisien.

Malam itu, sesuatu di dalam dirinya mati lebih dulu daripada tubuhnya.

"Matikan sistemnya!" teriak direktur.

"Tidak bisa, Pak! Akses utama dikunci dari dalam jaringan lama!"

"Siapa yang punya akses?"

Teknisi itu menatap layar dengan bibir pucat.

Blood Shadow mengangkat pemicu hitam sedikit lebih tinggi.

"Aku."

Direktur menoleh padanya. Untuk pertama kalinya malam itu, ketenangan palsunya runtuh.

"Blood Shadow, dengarkan aku. Kalau kau mau kebebasan, kami bisa beri. Uang, identitas baru, apa pun. Dewan tidak perlu tahu. Aku bisa membantumu keluar dari sini."

"Seperti kau membantu Wind?"

Pria itu terdiam.

Jawaban ada di diamnya.

Blood Shadow mengangguk kecil, seolah semua sudah jelas.

Di luar dinding kaca, reaktor mulai memancarkan cahaya biru tidak stabil. Sirene berubah nada. Lebih rendah, lebih panjang, lebih dekat dengan suara ratapan.

Hitungan mundur muncul di layar utama.

00:59.

00:58.

"Tembak dia!" direktur berteriak.

Beberapa peluru menyambar udara.

Blood Shadow bergerak ke samping, menarik seorang penjaga sebagai penghalang, lalu menendang meja kontrol hingga percikan listrik meletup. Ruangan kacau. Orang-orang berteriak. Kaca tebal bergetar. Lampu padam sesaat, lalu menyala kembali dalam merah yang lebih pekat.

Satu peluru menyerempet bahunya. Satu lagi menghantam dinding di belakang kepalanya. Ia tidak menghitung luka. Tidak ada gunanya.

Ia hanya menghitung detik.

00:31.

Direktur merangkak ke arah panel manual. Blood Shadow menginjak pergelangan tangannya sebelum ia sempat membuka kotak pengaman.

Pria itu mendongak. Wajahnya basah oleh keringat.

"Kau tidak akan punya apa-apa setelah ini."

Blood Shadow menatapnya lama.

Di balik suara sirene, di balik panas yang mulai naik dari lantai, ia tiba-tiba mengingat satu hal kecil.

Langit.

Selama hidupnya, ia jarang melihat langit tanpa kaca, kamera, atau bidikan senjata. Pulau ini punya pantai, tetapi bukan kebebasan. Punya helipad, tetapi bukan jalan pulang. Punya kamar tidur, tetapi tidak pernah punya rumah.

Kalau setelah mati ada kehidupan lain, ia ingin yang biasa saja.

Tidak perlu nama besar.

Tidak perlu peringkat pertama.

Tidak perlu bangun setiap pagi dengan perintah membunuh.

Cukup hidup.

Sekali saja.

00:10.

Direktur melihat pemicu di tangannya dan mulai menggeleng. "Jangan. Blood Shadow, jangan. Kau masih bisa hidup."

Blood Shadow tersenyum.

Kali ini, senyumnya hampir lembut.

"Aku memang ingin hidup."

Jempolnya menekan tombol.

Detik berikutnya, seluruh pulau seperti menahan napas.

Lalu api lahir dari bawah tanah.

Ledakan pertama menghantam reaktor. Gelombang panas menerobos lorong, memecahkan kaca, menelan ruang kontrol dalam cahaya putih. Ledakan kedua menyambar gudang amunisi. Helipad di permukaan terangkat seperti kertas dibakar. Laut di sekitar pulau berguncang, memuntahkan ombak hitam ke dinding beton.

Dari jauh, pulau itu terlihat seperti luka merah di tengah laut malam.

Beberapa kapal pengawas Shadow yang berpatroli di perairan sekitar sempat mengirim sinyal darurat. Setelah itu, komunikasi putus.

Di ruang kontrol yang runtuh, Blood Shadow jatuh di antara pecahan kaca dan kabel menyala. Rantai besi di pergelangan kirinya akhirnya patah, tetapi terlalu terlambat untuk disebut bebas.

Langit-langit terbuka di atasnya.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia melihat langit tanpa kaca.

Gelap. Luas. Jauh.

Indah juga.

Suara laut masuk bersama angin panas. Tubuhnya terasa ringan, seolah rasa sakit tertinggal di tempat lain. Di antara dengung terakhir sirene, ia mendengar suara Wind Shadow dari ingatan yang sudah lama ia kunci rapat.

Kalau suatu hari kau keluar dari sini, jangan menoleh.

Blood Shadow tidak tahu apakah ia tertawa atau hanya bernapas.

Api turun.

Laut naik.

Dan sebelum fajar menyentuh garis timur, pulau rahasia milik Shadow tenggelam bersama semua data, semua eksperimen, semua kebohongan, dan gadis yang pernah mereka sebut senjata terbaik.

Dunia bawah menerima kabar itu beberapa jam kemudian.

Blood Shadow, pembunuh nomor satu dunia, mati bersama pulau yang membesarkannya.

Setidaknya, itulah yang mereka percaya.

Episode 2

Bab 002: Terlahir Kembali

Suara televisi terdengar terlalu keras untuk orang yang baru bangun dari kematian.

"...sebuah pulau tak berpenghuni di perairan selatan dilaporkan meledak dini hari tadi. Beberapa sumber internasional menduga lokasi itu terkait jaringan kriminal Shadow. Hingga pagi ini, belum ada korban selamat yang ditemukan."

Blood Shadow membuka mata.

Langit-langit putih. Bau antiseptik. Selimut tipis rumah sakit. Infus di punggung tangan. Tubuh yang berat, lemah, dan asing.

Ia menatap jarinya sendiri cukup lama.

Pendek. Gemuk. Tidak ada bekas kapalan senjata di posisi yang tepat. Tidak ada luka lama di ruas telunjuk. Tidak ada kekuatan yang bisa langsung dipakai untuk mematahkan leher orang.

Ini bukan tubuhnya.

Di layar televisi kecil yang digantung di sudut kamar, gambar laut gelap muncul sebentar. Asap masih naik dari permukaan air. Pulau Shadow sudah tidak ada.

Blood Shadow mengangkat tangan ke kepala.

Tidak ada chip yang berdenyut.

Tidak ada rasa sakit yang menunggu perintah.

Namun sebelum ia sempat menarik napas, potongan ingatan asing menyerbu seperti air keruh. Nama. Wajah. Rumah kecil. Sekolah. Tawa mengejek. Tubuh yang sering dijadikan bahan candaan. Ibu tiri yang menghitung setiap suap nasi. Ayah yang selalu menunduk. Seorang anak laki-laki pincang yang diam-diam menyelipkan makanan ke tangannya.

Keira Wulandari.

Delapan belas tahun.

Anak yang dibesarkan di rumah keluarga Prasetyo, tetapi tidak pernah benar-benar dianggap anak.

Blood Shadow memejamkan mata.

Lucu sekali.

Ia menekan tombol yang menenggelamkan pulau, lalu membuka mata sebagai gadis gemuk dari Kota Megawan.

Pintu kamar didorong terbuka sebelum ia selesai memahami napas barunya.

Seorang perempuan berseragam batik sekolah masuk bersama perawat. Wajahnya lelah, tetapi suaranya tetap dibuat ramah.

"Keira, kamu sudah sadar? Ibu Ratna tadi dari sekolah. Kamu pingsan dua hari, semua orang khawatir."

Khawatir.

Ingatan Keira asli memberi jawaban lain. Di sekolah, mereka tidak khawatir. Mereka sibuk bertanya apakah gadis gendut itu akhirnya terlalu banyak makan sampai jatuh.

Perawat memeriksa infus. "Tekanan darahnya sudah stabil. Kalau keluarga mau mengurus administrasi, sore ini bisa pulang."

Kata keluarga membuat pintu kembali terbuka.

Bu Sri masuk dengan tas selempang kecil dan wajah yang langsung penuh perhitungan. Di belakangnya, Pak Prasetyo berdiri canggung, menggenggam helm motor tua.

"Ya ampun, akhirnya bangun juga." Bu Sri menatap Keira dari kepala sampai kaki. "Kamu tahu biaya rumah sakit itu mahal? Untung masih bisa pakai BPJS. Kalau nggak, habis uang kita."

Pak Prasetyo membuka mulut. "Sri, anaknya baru sadar."

"Memangnya aku salah? Kalau dia jaga badan, nggak mungkin sampai begini."

Keira menatap perempuan itu.

Hanya menatap.

Bu Sri yang masih ingin bicara tiba-tiba berhenti. Ada sesuatu dalam mata gadis di ranjang itu yang tidak ia kenal. Biasanya Keira akan menunduk, menggigit bibir, lalu minta maaf meski tidak tahu salahnya apa.

Sekarang, gadis itu melihatnya seperti melihat suara berisik yang bisa dimatikan kapan saja.

"Bu," panggil Bu Ratna cepat, mencoba mencairkan udara. "Keira perlu istirahat. Untuk sekolah, saya buat surat izin sampai Senin."

"Iya, iya." Bu Sri mengibaskan tangan. "Tapi jangan lama-lama. Laras juga banyak urusan, masa semua perhatian ke dia."

Nama Laras muncul bersama ingatan seorang gadis berambut panjang, cantik, pandai tersenyum di depan guru, dan suka memanggil Keira dengan nada kasihan saat ada orang lain.

Keira tidak menjawab.

Sore itu, ia pulang dengan motor tua Pak Prasetyo. Tubuhnya yang baru membuat setiap guncangan terasa berat. Jalanan Kota Megawan basah setelah hujan. Angkot berhenti sembarangan. Pedagang gorengan menutup gerobak dengan plastik bening. Perumahan subsidi di pinggiran kota berbaris rapat, cat temboknya pudar, pagar besi pendek saling berhadapan begitu dekat sampai suara televisi tetangga terdengar dari jalan.

Rumah Prasetyo berada di gang ketiga.

Rumah tipe 36. Ruang tamu kecil. Dua kamar sempit. Dapur menempel pada area cuci. Bau minyak goreng lama dan sabun colek bercampur di udara.

Begitu Keira melepas sandal, suara perempuan muda terdengar dari sofa.

"Wah, Mbak sudah pulang? Kukira masih harus rawat inap."

Laras duduk dengan ponsel baru di tangan. Casing-nya berkilau, jelas bukan barang murah. Ia tersenyum manis, tetapi matanya berhenti terlalu lama pada tubuh Keira.

"Mbak jangan sedih, ya. Aku sudah bilang ke teman-teman kalau Mbak cuma kecapekan. Bukan karena... ya, tahu sendiri."

Bu Sri langsung menyahut dari dapur. "Laras, jangan begitu. Kakakmu baru pulang."

Nada itu terdengar seperti teguran, tetapi wajah Bu Sri tersenyum kecil.

Keira meletakkan tas plastik obat di meja.

"Kamar saya di mana?"

Tiga orang di ruangan itu diam.

Pak Prasetyo menatapnya bingung. Laras mengerjap. Bu Sri mengernyit.

Keira menyadari kesalahannya. Ingatan tubuh ini belum sepenuhnya menyatu. Kamar Keira bukan kamar. Ia tidur di ruang belakang yang disekat lemari, dekat tempat Bayu belajar.

"Maksudku, aku mau istirahat."

Sebelum Bu Sri sempat menyindir, seorang anak laki-laki muncul dari balik sekat. Tubuhnya kurus. Kaki kirinya bertumpu lebih hati-hati saat berjalan. Di tangannya ada kantong kertas kecil yang sudah berminyak.

"Mbak Keira."

Suaranya pelan, seperti takut salah bernapas.

Bayu.

Ingatan tentang anak itu terasa lebih hangat daripada yang lain. Bayu yang diam-diam membagi uang jajan. Bayu yang menunggu Keira di depan puskesmas. Bayu yang selalu berkata tidak apa-apa saat diejek.

Ia menyodorkan kantong itu. "Tadi aku beli bakwan sama tempe goreng. Masih hangat. Mbak belum makan, kan?"

Bu Sri mendecak. "Bayu, uang dari mana? Kamu itu kalau punya uang sedikit jangan langsung dibelikan makanan. Kaki kamu saja belum benar, masih sok-sokan traktir orang."

Tangan Bayu langsung turun.

Keira menangkap kantong gorengan itu sebelum jatuh.

Hangatnya menempel di telapak tangan. Minyaknya meresap ke kertas murah. Tidak berharga bagi dunia, tetapi anehnya lebih nyata daripada semua medali berdarah yang pernah ia dapatkan.

"Terima kasih," kata Keira.

Bayu mendongak. Matanya membesar sedikit.

Mungkin Keira lama tidak pernah mengucapkan itu.

"Sama-sama, Mbak."

Di Jakarta, pada saat yang sama, seorang pria berdiri di depan meja kayu tua dalam rumah keluarga Tan. Di hadapannya, layar menampilkan foto Blood Shadow, arsip operasi terakhir, dan laporan kehancuran pulau.

Seorang asisten menunduk. "Semua jalur konfirmasi menyebut tidak ada yang selamat. Kalau benar dia tewas, peluang kita untuk menemukan dokter setingkat itu hampir nol."

Pria itu tidak langsung menjawab.

Cahaya sore jatuh di sisi wajahnya yang dingin. Di layar, nama Blood Shadow berkedip bersama status merah.

Deceased.

Ia menatap kata itu lama.

"Sayang sekali," katanya pelan.

Asisten itu ragu. "Untuk kondisi Engkong, apakah pencarian tetap dilanjutkan?"

"Lanjutkan." Suaranya rendah, tidak memberi ruang bantahan. "Orang seperti dia tidak mungkin hanya punya satu nama."

Kembali di rumah Prasetyo, Keira duduk di ruang belakang sambil menggigit tempe goreng yang sudah mulai dingin. Bu Sri masih mengomel di depan, Laras menonton video pendek dengan volume sengaja dikeraskan, dan Pak Prasetyo berpura-pura sibuk memeriksa helm.

Keira menatap dinding tipis di hadapannya.

Pulau Shadow sudah tenggelam. Nama Blood Shadow sudah mati. Tubuh ini lemah, miskin, diremehkan, dan dikelilingi orang yang menganggapnya beban.

Tapi paru-parunya masih bergerak.

Jantungnya masih berdetak.

Tapi setidaknya kali ini, ia hidup.

Episode 3

Bab 003: Bukan Orang Biasa

Hidup ternyata tidak otomatis menjadi lebih mudah hanya karena seseorang pernah mati dengan gagah.

Malam pertama Keira di rumah Prasetyo dimulai dengan nasi dingin, tempe sisa, dan suara Bu Sri yang lebih tajam daripada sendok aluminium yang beradu dengan piring.

"Makan pelan-pelan, Keira. Jangan seperti orang nggak pernah lihat nasi."

Keira menatap piringnya.

Ia baru mengambil dua suap.

Di meja kecil itu, Laras duduk di samping Bu Sri dengan ponsel baru di sebelah mangkuk. Layarnya menyala beberapa kali, menampilkan notifikasi Instagram. Pak Prasetyo makan sambil menunduk. Bayu duduk paling ujung, kaki kirinya diluruskan sedikit di bawah meja agar tidak terlalu sakit.

"Besok Laras ada tambahan matematika," lanjut Bu Sri. "Biayanya tiga ratus ribu. Bapak jangan lupa transfer ke gurunya."

Pak Prasetyo batuk kecil. "Uang bulan ini..."

"Jangan mulai." Bu Sri langsung memotong. "Kalau untuk masa depan anak, harus diusahakan. Laras itu harapan keluarga. Masuk UI bukan perkara gampang."

Laras menunduk manis. "Mama, aku juga nggak mau merepotkan."

Keira hampir tertawa.

Hampir.

Ingatan pemilik tubuh ini memberi tahu bahwa uang seragam Keira pernah ditunda tiga bulan, uang makan siangnya sering dipotong, sedangkan Laras punya les, ponsel baru, sepatu baru, dan alasan baru untuk dipuji.

Bayu diam-diam mendorong potongan tempe ke piring Keira.

Gerakan itu kecil, tetapi Bu Sri melihatnya.

"Bayu."

Anak itu membeku.

"Kamu sendiri makan saja susah, masih bagi-bagi? Nanti kalau sakit kaki lagi, siapa yang bayar? Jangan bikin Ibu pusing."

Jari Bayu mengencang di tepi piring. "Iya, Bu."

"Dan kamu," Bu Sri menoleh ke Keira, "jangan biasakan adikmu kasihan sama kamu. Dia itu sudah cukup jadi beban keluarga."

Udara di ruang makan tiba-tiba berubah.

Pak Prasetyo mengangkat kepala. "Sri..."

"Apa? Memang salah? Kaki begitu sudah bertahun-tahun. Dokter spesialis mahal. BPJS antre terus. Kalau kita punya uang lebih, pasti sudah Ibu bawa. Tapi uangnya dari mana?"

Bayu menunduk lebih dalam.

Keira meletakkan sendok.

Suara kecil itu membuat Laras melirik. Ia mungkin berharap Keira menangis atau membela diri dengan cara bodoh seperti dulu.

Keira hanya menatap Bu Sri.

"Kalau tidak bisa mengobati, jangan jadikan sakitnya bahan omongan."

Tidak keras.

Tidak tinggi.

Tapi semua orang di meja itu berhenti bergerak.

Bu Sri mengerjap, seperti tidak yakin telinganya benar. "Kamu bilang apa?"

Keira mengambil potongan tempe dari piringnya, mengembalikannya ke piring Bayu. "Makan."

Bayu menatapnya, bingung dan takut.

Laras tertawa kecil. "Mbak Keira sejak bangun dari rumah sakit jadi sensitif sekali, ya. Mama cuma bilang kenyataan."

Keira menoleh padanya.

Laras masih tersenyum. Lalu senyum itu pelan-pelan kaku.

Tatapan Keira tidak seperti tatapan orang tersinggung. Tidak panas. Tidak sedih. Justru terlalu kosong. Seperti seseorang sedang mengukur jarak antara tangan dan leher.

Laras tanpa sadar menarik ponselnya lebih dekat.

Pak Prasetyo cepat berdiri. "Sudah, sudah. Keira baru pulang. Jangan ribut."

Bu Sri mendengus, tetapi kali ini ia tidak melanjutkan.

Setelah makan, Keira masuk ke ruang belakang. Bayu mengikutinya dengan langkah pincang yang ia coba sembunyikan.

"Mbak."

Keira berhenti di depan kasur tipisnya.

"Kaki kamu sejak kapan begitu?"

Bayu terdiam. "Sudah lama."

"Jawab dengan jelas."

Anak itu menelan ludah. "Waktu SMP jatuh dari motor. Awalnya cuma keseleo, tapi... lama-lama kalau jalan jauh sakit. Kadang kebas."

Keira berjongkok di depannya tanpa meminta izin. Tangannya menyentuh sisi lutut Bayu, lalu pergelangan kaki, lalu titik di belakang betis. Bayu tersentak.

"Sakit?"

"Sedikit."

"Bohong."

Wajah Bayu memerah. "Nggak apa-apa, Mbak. Aku sudah biasa."

Kalimat itu membuat dada Keira terasa aneh.

Di Shadow, anak-anak juga sering berkata sudah biasa. Sudah biasa disuntik. Sudah biasa dikurung. Sudah biasa berdarah. Kalimat itu bukan tanda kuat. Itu tanda tidak ada yang datang menolong.

"Besok aku lihat lagi," kata Keira.

Bayu panik. "Jangan bilang Mama. Nanti ribut."

"Aku tidak minta izin dia."

Bayu menatapnya seolah Keira baru mengatakan sesuatu yang mustahil.

Di depan, Bu Sri mulai membagi tugas rumah dengan suara sengaja dikeraskan. Laras diminta istirahat karena besok ada les. Pak Prasetyo diminta mencuci motor. Keira, yang baru pulang dari rumah sakit, disebut harus mencuci piring karena "di rumah jangan cuma jadi tamu".

Bayu otomatis berdiri. "Biar aku saja, Bu."

"Kamu duduk. Kaki begitu nanti tambah drama," jawab Bu Sri.

Kalimat itu terdengar ringan, tetapi bahu Bayu turun pelan. Keira melihatnya dan menyimpan satu lagi daftar kecil di kepala. Di Shadow, ia belajar menghafal kelemahan musuh. Di rumah ini, ia mulai menghafal luka orang yang harus ia lindungi.

Untuk mengalihkan rasa canggung, ia meraih buku tulis di meja kecil. "Mbak, kalau mau istirahat, aku pindah belajar di depan."

Keira melihat halaman yang terbuka. Soal matematika. Bukan soal SMA biasa. Ada catatan integral, barisan, dan satu soal dari forum daring yang tampaknya disalin Bayu diam-diam.

"Itu punyamu?"

"Iya. Cuma iseng." Bayu buru-buru menutup buku. "Aku tahu aku nggak mungkin ikut bimbel seperti Laras. Tapi kalau belajar sendiri, mungkin masih bisa."

Keira menarik buku itu dari tangannya.

Bayu kaget. "Mbak, itu susah. Jawabannya saja di internet panjang banget."

Keira mengambil pulpen.

Tangannya memang belum terbiasa dengan tubuh ini. Jari-jarinya lebih kaku, genggamannya tidak presisi. Namun angka tetap angka. Struktur tetap struktur. Persamaan tidak peduli tubuh siapa yang menuliskannya.

Dalam kurang dari satu menit, ia menulis tiga baris.

Bayu menunggu.

Lalu menunggu lagi.

"Selesai," kata Keira.

Bayu menatap halaman itu. Dahinya berkerut. Ia membandingkan dengan foto jawaban di ponselnya, lalu kembali ke tulisan Keira.

"Ini... kok bisa jadi pendek begini?"

"Karena jawaban di internet memutar."

"Tapi ini soal mahasiswa."

"Soalnya tetap punya pola."

Bayu duduk lebih tegak. Matanya yang tadi redup mendadak menyala. Ia membalik beberapa halaman, mencari soal lain dengan terburu-buru.

"Kalau yang ini?"

Keira membaca soal itu sekilas.

"Dua puluh tujuh."

Bayu membeku. "Mbak belum nulis."

"Tidak perlu."

"Tunggu." Ia membuka kalkulator di ponsel tua, mengetik panjang, lalu berhenti ketika hasilnya muncul. Wajahnya berubah. "Benar."

Di depan rumah, suara video Laras masih terdengar. Bu Sri masih mengomel soal piring yang belum dicuci. Dunia kecil keluarga Prasetyo tetap sempit dan berisik.

Namun di ruang belakang itu, Bayu menatap Keira seperti baru melihat pintu rahasia terbuka di dinding yang selama ini ia kira buntu.

"Mbak..."

Keira menutup pulpen.

"Jangan bilang siapa-siapa."

Bayu mengangguk cepat, tetapi matanya tidak lepas dari halaman buku. "Selama ini... nilai Mbak jelek karena sengaja?"

Keira tidak menjawab.

Ia mengambil buku itu lagi dan menambahkan satu baris kecil di bawah jawaban. Bukan rumus panjang, hanya cara memotong soal menjadi dua bagian.

"Kalau ketemu bentuk seperti ini, jangan dikerjakan dari depan. Cari pola akhirnya dulu."

Bayu menatap catatan itu seperti benda berharga. "Mbak ngajarin aku?"

"Kalau kamu mau."

Kali ini Bayu mengangguk terlalu cepat. Matanya basah, tetapi ia menunduk sebelum airnya jatuh. Mungkin selama ini tidak ada orang di rumah yang benar-benar duduk di sampingnya dan berkata bahwa ia bisa belajar, bukan cuma bertahan.

Ia berbaring miring, membelakangi lampu redup, seolah semua itu bukan hal penting.

Bayu masih duduk dengan buku di pangkuan. Tangannya gemetar sedikit, bukan karena takut kali ini, melainkan karena sesuatu yang lebih dekat dengan harapan.

Akhirnya ia bertanya dengan suara nyaris berbisik.

"Mbak... semuanya akting?"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!