"Sha. Papa tunggu di taman belakang. Ada yang ingin papa bicarakan."
Si gadis yang baru saja pulang dari kuliahnya itupun langsung mengerutkan dahi karena ucapan papanya barusan. Hatinya bertanya ada apa. Tapi ucapan itu tidak lolos dari bibirnya karena sang papa yang baru saja selesai bicara, tanpa menunggu jawaban darinya lagi malah sudah beranjak meninggalkan dirinya di depan pintu utama rumah tersebut.
"Tumben. Ada urusan apa papa mau bicara sama aku?"
Asha masuk ke kamar hanya untuk meletakkan tas punggung miliknya. Setelah itu, gadis tersebut segera menuju taman belakang seperti permintaan dari papanya barusan.
Saat ingin ke taman, Asha berpas-pasan dengan mamanya yang juga ingin pergi ke tempat yang sama.
"Mah, ada apa sih? Apa yang ingin papa bicarakan sama aku sampai kelihatannya gak bisa nunggu lagi."
"Temui saja papamu, Sha. Kamu juga akan tahu apa yang papa mu ingin bicarakan."
Asha hanya bisa melepas napas berat.
"Heh ... baiklah."
Di taman belakang rumah, papa Asha sedang duduk bersandarkan punggung di kursi taman. Jarang sekali pria paruh baya itu meminta anaknya untuk bicara. Biasanya, mereka hanya akan bicara dengan santai di ruang keluarga. Kali ini, seolah ada hal yang sangat serius untuk dibicarakan. Makanya papanya minta ia datang ke taman belakang agar lebih segar.
"Pah."
"Duduk dulu, Sha."
"Hm." Gadis itu menurut.
Setelah duduk, rasa penasaran tidak bisa menahan bibir agar tidak melontarkan pertanyaan. "Pa. Mau bicara apa sih sebenarnya. Kelihatannya sangat serius."
Rahman, papa Asha langsung melepas napas berat sebelum berucap. "Heh .... Iya, Sha. Ada hal yang sangat-sangat penting yang ingin papa bicarakan sama kamu. Dengarkan baik-baik apa yang papa katakan. Dan, papa mohon dengan sangat, tolong jangan tolak permintaan papa."
Deg. Jantung Asha mendadak terasa tidak nyaman. Dari raut wajah dan nada bicara yang papanya lontar kan barusan, ada hawa yang langsung membuat hati Asha terasa tak nyaman.
Hatinya seolah merasakan sebuah firasat yang tidak baik. Hal buruk akan menimpa dirinya sekarang juga. Dengan enggan, Asha bertanya.
"Ada apa sih, pa?"
"Ingat keluarga Rahardi, Sha?"
Sontak, pertanyaan itu semakin membuat hati Asha tidak nyaman. "Keluarga ... Rahardi?
Si-- siapa?"
"Jangan pura-pura lupa, Ashanti. Papa yakin kamu ingat dengan keluarga ini. Karena papa sering bicara soal keluarga ini sama kamu sebelumnya."
"Iy-- iya ... iya aku lupa aja, Pah. Banyak hal yang harus aku ingat soalnya. Jadi, nama sebuah keluarga ini wajar dong kalo aku lupa."
"Baiklah. Papa anggap kamu beneran lupa, Sha. Sekarang, dengarkan papa baik-baik. Keluarga Rahardi mengutus pengurus rumahnya untuk bertemu papa tadi siang. Mereka ingin melamar kamu untuk menjadi istri dari anak mereka."
Duarrrr .... Wajah Asha langsung pucat seketika. Lidahnya terasa kelu, dan bibirnya terasa berat. Napasnya seolah terhenti akibat terkejut akan kata-kata yang baru saja papanya ucap.
"Apa ... barusan, papa bilang apa? Mereka ... ingin melamar aku? Kok bisa? Aku kenal saja tidak dengan anak mereka. Bagaimana bisa tiba-tiba mereka mau melamar aku? Jangan bercanda, pah. Ini gak lucu. Sama sekali enggak."
"Sha. Lihat wajah papa! Apakah ada tanda-tanda bahwa sekarang, papa sedang bercanda?"
'Ayolah, Asha. Jangan mikir yang enggak-enggak. Percayalah, keluarga Rahardi tidak hanya ada satu di kota ini, bukan?' Asha bicara dalam hati untuk menguatkan dirinya sendiri.
"Pah ... bagaimana ini bisa terjadi? Mana mungkin bisa menikah saat seseorang tidak saling kenal."
"Kamu mungkin kenal dia, Sha. Lagian, kita ini hidup mewah juga dari investasi yang keluarga Rahardi berikan. Karena selama ini, merekalah sumber dana terbesar perusahaan kita, Asha."
Asha terdiam. Hatinya semakin tak karuan saja sekarang. Perlahan tapi pasti, bibirnya melontarkan satu pertanyaan yang sejujurnya sangat takut untuk ia dengar jawabannya.
"Kalo aku kenal, siapa nama anak mereka, Pa?"
"Irza."
Duarrrr! Lagi, guncangan besar langsung menghantam telat benak Asha. Bagai di sambar petir di siang bolong saja gadis itu sekarang. Kaget dan panik menyerang dengan sangat besar luar biasa.
"Apa! Irza!"
Menggelegar suara Asha saat menyebut nama pria yang sedang ingin dijodohkan dengannya. Bagaimana tidak? Irza Rahardi ini adalah bintang di kampus Asha. Eitc, bukan bintang yang di puja layaknya pangeran kampus seperti yang orang-irang bayangkan ya. Melainkan, bintang karena menjadi bahan olok-olokan penghuni kampus tersebut.
Bukan karena ia buruk rupa. Tidak. Sebaliknya, pria yang bernama Irza Rahardi ini tampan. Sangat tampan malahan. Rambutnya lurus jatuh di dahi. Kulitnya putih bersih. Matanya indah dengan bulu mata yang cantik. Tak lupa dengan tambahan dua lesung pipi di wajah. Ia adalah ciptaan Tuhan yang sangat indah.
Jika dia hanya berdiri tanpa bergerak, mungkin dia adalah anime hidup yang paling sempurna. Gak akan ada yang tahu apa kekurangan yang ia miliki. Keindahan dari ciptaan Tuhan yang sesungguhnya ada pada dirinya. Singkatnya, dia bisa dibandingkan dengan artis negara nun jauh di sana. Artis-artis populer yang bisa menggetarkan jiwa kaum hawa sebagai pecinta drama.
Namun sayangnya, dibalik kesempurnaan itu, ada kekurangan yang sangat nyata. Irza adalah pria kemayu, jika bicara akan sangat lembut. Jika bergerak, gerakannya mungkin akan mengganggu pemandangan. Pria yang kelaki-lakiannya di ragukan oleh hampir semua orang.
Singkatnya, dia adalah pria yang kerap di sebut sebagai pria bertulang lunak. Pria kemayu yang gayanya lemah lembut. Atau ... ah, ada banyak lagi sebutan untuk menggambarkan pria seperti dia. Pria yang sering diremehkan karena tampilannya yang berbeda.
Begitulah adanya Irza ini. Walau tampan, tapi penampilannya sangat jauh berbeda dari laki-laki pada umumnya. Laki-laki dengan tubuh kekar dengan otot perut yang menggoda. Laki-laki dengan dada bidang yang sangat macho. Setidaknya, itulah yang ada dalam pikiran Asha saat nama Irza menyentuh daun telinganya.
Asha tertawa sambil menatap papanya.
"Papa bercandanya keterlaluan. Sangat-sangat keterlaluan. Irza ... bagaimana mungkin."
"Sha. Jaga adab mu. Jaga hormat mu itu. Mana mungkin papa mu bercanda." Sang mama terlihat agak kesal karena ulah anaknya saat ini. "Keluarga Rahardi bersungguh-sungguh ingin melamar kamu. Minggu depan, mereka akan datang ke rumah kita."
"Ap-- apa? Kenapa begitu. Aku gak mau bertunangan dengan Irza. Jangankan menikah, ketemu saja aku gak mau."
"Asha. Jangan gitu."
"Pah. Apa kalian gak tahu seperti apa Irza? Dia itu-- "
"Kami sudah tahu." Potong papanya dengan cepat agar anaknya tidak terlalu banyak bicara meremehkan pria tersebut. "Kami tahu siapa dia, Sha. Kamu tidak perlu menjelaskan lagi. Karena di kota ini, tidak ada nama Irza Rahardi yang lainnya selain keluarga Rahardi yang paling terpandang di kota ini. Hanya ada satu, tentu saja kami tahu siapa dia."
Manik mata Asha mulai berkaca-kaca. "Kalian sudah tahu, tapi kenapa tetap ingin menjodohkan aku dengannya? Aku ini anak kalian satu-satunya, Pa, Ma. Apa kalian tidak sayang padaku?"
"Kami sayang, Asha. Kami sayang sama kamu. Tapi keluarga Rahardi, kita punya utang budi yang sangat besar. Tanpa keluarga mereka, mana mungkin kita bisa hidup enak seperti saat ini. Kamu juga gak akan bisa kuliah seperti sekarang, Sha. Semua itu berkat dana dari mereka."
"Tapi aku gak mau dijodohkan dengan pria gemulai itu, Pa. Aku gak mau. Aku masih punya mimpi. Aku punya cita-cita. Aku punya harapan yang besar. Gak mau menikah sekarang. Terlebih lagi, menikah dengan pria yang sama sekali tak layak di sebut sebagai pria. Aku gak. mau."
"Asha!"
Suara papanya terdengar melengking. Asha pun sontak langsung terdiam. Sejak ia remaja hingga saat ini, papanya tidak pernah membentak dia. Tapi sekarang, bentakan itu ia terima hanya gara-gara seorang pria gemulai. Pria yang awalnya tidak ia sukai, sekarang malah menimbulkan rasa benci dalam hati untuk pria tersebut.
"Papa .... " Air mata Asha jatuh perlahan melintasi pipi.
"Tolonglah mengerti, Sha. Papa tidak punya pilihan lain. Perjodohan ini, mereka yang minta. Kita tidak bisa menolaknya, Ashanti. Tidak bisa."
"Aku tidak ingin menikah dengan pria itu. Tidak ingin," ucap Asha sambil menahan isak tangis yang sudah sangat-sangat tidak bisa ia tahan.
Setelah berucap, Asha langsung berlari meninggalkan papa dan mamanya. Si papa terlihat sedikit cemas, ia berusaha memanggil anaknya lagi.
"Asha."
"Mas, biarkan saja. Biarkan dia melepaskan bebannya untuk beberapa saat. Nanti, kita bicara lagi." Indah berucap dengan suara rendah namun tenang.
"Ma ... apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Sepertinya, tidak ada. Biarkan saja suasana sedikit tenang terlebih dahulu. Setelahnya, biar aku yang bicara dengan Asha. Aku yakin, Asha akan mengerti dengan keadaan kita ini. Dia akan memahami kondisi kita."
Rahman tidak menjawab lagi apa yang istrinya katakan. Dia hanya bisa melepas napas berat secara perlahan. Napas yang terasa sangat sesat, seperti ada yang sedang menghimpit dadanya sekarang.
Sementara itu, di sisi lain, tepatnya di kediaman mewah keluarga Rahardi, satu keluarga juga sedang membicarakan hal yang sama. Soal perjodohan anak mereka.
"Ada yang ingin kami bicarakan sama kamu, Za. Ini soal masa depan kamu."
"Masa depan? Soal apa? Pendidikan? Atau hal yang lain, Pa?"
"Pernikahan."
"Pernikahan?" Wajah pria itu terlihat agak terkejut. "Kenapa tiba-tiba membahas soal pernikahan?"
Sang mama tersenyum manis. "Bukan tiba-tiba, sayang. Sudah lama kok direncanakan. Hanya saja, baru bisa dilaksakan sekarang."
"Maksudnya gimana sih? Aku gak ngerti sama sekali, Ma, Pa."
Kedua orang tua Irza saling bertukar pandang beberapa saat. Setelahnya, senyum manis terkembang di bibir mereka.
"Mama tahu ada yang kamu sukai selama ini, Irza. Jadi, kami sudah lama nunggu kamu bergerak. Hanya saja, anak mama ini ternyata terlalu banyak pertimbangan. Sampai detik ini juga gak ada kemajuan."
"Iya. Karena mama mu gak sabar lagi, maka dari itu, kami berniat untuk melamar gadis itu minggu depan."
"Apa? Tunggu. Kalian ngomong apa sih sebenarnya? Aku suka gadis, aduh ... aku gak ngerti sama sekali."
"Irza. Jangan pura-pura lagi, Nak. Kami tahu kamu suka Ashanti anaknya pak Rahman dan bu Indah. Karena itu, kami berniat untuk melamarnya agar jadi istri kamu. Bagaimana menurut kamu, Za?"
Seketika, wajah Irza berubah. "Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian tidak bertanya sama aku dulu sih, Ma, Pa? Aku-- "
"Kami tahu kamu suka dia, Irza."
"Mama tahu dari mana?"
"Kamu anak kami. Tentu saja kami tahu segalanya tentang kamu, Irza Rahardi."
"T-- tapi .... "
"Sepuluh tahun yang lalu, kamu bertemu gadis yang membuatmu tidak mampu untuk berkedip saat melihatnya. Kamu suka dia, tapi tidak berani mendekatinya. Delapan tahun yang lalu, perusahaan keluarganya hampir bangkrut gara-gara kehabisan dana. Kamu bujuk papamu dengan segala cara agar mau berinvestasi ke perusahan tersebut supaya perusahaan itu bangkit lagi. Enam tahun yang lalu, kamu kejar dia sampai rela melepaskan kesempatan untuk belajar di luar negeri hanya demi bisa melihatnya. Lalu, dua setengah tahun yang lalu, Irza, kamu rela lagi melepaskan pendidikan mu yang ditawarkan oleh dosen untuk berkuliah ke luar negeri dan lebih rela melanjutkan pendidikan di dalam negeri hanya untuk dia."
Ucapan panjang lebar dari sang mama membuat Irza kehabisan kata-kata. Karena sesungguhnya, apa yang mamanya katakan itu semuanya benar. Iya, dia benar-benar menyukai seorang wanita. Dia siap menjadi pengagum rahasia yang terus bersembunyi dan hanya siap mengamati dari kejauhan tanpa berani mendekat.
Benar. Meskipun dia pria gemulai yang katanya tidak mirip laki-laki, tapi dia adalah pria normal. Sama halnya seperti pria umumnya diluar sana. Dia juga punya perasaan. Punya cinta yang tumbuh dalam hatinya dengan sangat baik. Dan cinta itu berlabuh pada gadis cantik yang langsung mencuri hatinya saat pandangan pertama. Di usia yang tergolong masih sangat muda. Cinta itu jatuh pada Asha. Dan kekal di satu gadis selama sepuluh tahun lamanya. Tidak berubah sedikitpun.
"Mama .... "
"Kenapa anak mama terlalu penakut sih? Kenapa bisa mencintai selama sepuluh tahun tapi tidak berani menyatakannya?"
"Karena aku berbeda, Ma. Asha tidak akan suka padaku. Aku bukan pria impiannya."
"Kenapa tidak berani mencoba?"
"Karena .... "
"Cobalah, Nak. Jangan tunggu sampai dia diambil orang. Mama yakin, jika kamu berani menempuh badai, kamu bisa melihat sinar mentari yang cerah."
"Tapi .... "
"Mama kamu benar, Za. Jika kamu berani, kamu mungkin bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan. Di benci diawal akan lebih baik dari pada kehilangan dia selamanya, bukan?"
Irza menggenggam erat tangannya sendiri.
"Apakah ... kalian yakin aku mampu?"
"Tentu saja. Kami sangat yakin akan hal itu. Kamu mampu melakukannya. Meskipun, itu tidak akan mudah, Za. Itu akan sangat sulit dan terlalu berat."
"Iya. Di sana juga akan ada banyak luka yang mungkin bisa kamu dapatkan. Karena mencintai, memang harus siap terluka jika kamu ingin memilikinya."
Irza terdiam sesaat. Kemudian, perlahan, manik matanya berubah. "Baik. Aku akan coba. Jika ini adalah cara agar aku bisa memilikinya, aku akan menempuh jalan ini walau penuh dengan duri. Aku akan melewatinya, Ma, Pa."
Senyum kedua orang tua Irza terlihat agak lebar. Kembali, mereka berdua saling bertukar pandangan lagi.
"Kamu yakin sekarang?"
"Tentu saja aku yakin, Ma."
"Bagus. Jika kamu sudah yakin, maka jangan pernah mundur setelah maju. Mengerti dengan apa yang papa maksudkan, Za?"
"Iya, Pa. Aku mengerti."
Di kamar yang sangat luas dengan penataan yang sangat rapi, Irza duduk diam di meja belajar yang ada di samping jendela. Tubuhnya ada di sana. Namun pikirannya melayang jauh berkelana melintasi tembok, memikirkan wanita yang ia suka.
Ashanti. Gadis cantik, versi terbaik dari ciptaan Tuhan bagi Irza. Gadis dengan mata indah, rambut hitam lurus, kulit putih, tubuh langsing yang cantik. Namun, pria itu menyukai Asha semata-mata bukan karena fisik. Melainkan, karena hati yang langsung jatuh cinta saat pertama kali melihat.
Entahlah. Cinta kan tidak butuh alasan apapun untuk berlabuh. Bisa tiba-tiba jatuh begitu saja tanpa tahu apa sebabnya. Hanya butuh melihat, lalu tanpa sadar, hati langsung dicuri. Begitulah yang Irza rasakan selama ini. Jatuh cinta hanya dengan satu kali tatapan mata. Lalu cintanya bertahan hingga sepuluh tahun berlalu.
"Sha .... " Irza memanggil dengan nada lirih. "Jangan benci aku. Aku sungguh sangat ingin memiliki mu. Walau aku tahu, kekuranganku akan buat semuanya tidak mudah. Tapi aku sungguh tidak bisa menahan diri lagi. Aku suka kamu Ashanti."
Irza menyentuh pelan nan lembut bingkai foto kecil yang ada di depannya. Foto Asha yang dia ambil secara diam-diam saat gadis itu sedang tersenyum. Entah foto berapa tahun yang lalu agaknya. Tapi, itu bukan satu-satunya foto Asha yang Irza miliki. Ia punya banyak. Sangat banyak. Puluhan, atau bahkan ratusan foto dengan segala versi, namun diambil secara diam-diam.
Wajah jika orang tuanya tahu tentang perasaannya. Selama sepuluh tahun, dia memang berusaha menyembunyikan perasaannya dengan sangat kuat. Tapi caranya mengagumi Asha terlalu jelas. Jika seseorang memperhatikannya sedikit saja, maka orang itu akan sadar akan perasaan yang Irza miliki.
Sayangnya, Asha tidak pernah memperhatikan Irza sedikitpun. Jadinya, kekaguman dan rasa suka Irza untuknya tidak pernah ia sadari sedikitpun. Padahal, pria itu sudah menyukainya sangat lama.
"Aku mencintaimu, Sha. Maaf jika cinta ini membuat aku terlalu egois. Tapi aku benar-benar tidak ingin menahan diri lagi. Aku ingin memiliki mu, Ashanti. Sangat ingin."
"Tolong jangan benci aku ya, Sha. Ku mohon."
Walau begitu, Irza tahu akan apa yang bisa terjadi selanjutnya. Dia adalah bentuk yang berbeda dari apa yang orang lain inginkan. Hadirnya akan merusak impian orang lain. Dia pasti akan dibenci oleh orang yang ia sayangi. Karena dianggap memaksa. Tapi tetap saja, dia akan menempuhnya. Demi memperjuangkan cinta yang ia miliki. Cinta yang mungkin sangat egois bagi sebagian orang.
"Aku suka kamu. Jika memang hanya ini satu-satunya cara, maka aku akan hadapi walau jalannya akan penuh dengan luka dan derita."
Sementara itu, di sisi lain, Asha sedang mengurung diri di kamar. Dia melepaskan tangisannya di dalam kamar tersebut. Dengan kesadaran penuh, dengan sepenuh hatinya, ia menolak. Dia tidak ingin menikah dengan pria tersebut. Ia yakin, hidupnya akan kacau berantakan jika pernikahan itu benar-benar terjadi.
Entah seberapa lama sudah Asha menangis di dalam kamar. Hari yang awalnya terang malah sudah berubah menjadi gelap karena siang yang sudah digantikan oleh malam. Asha masih tidak kunjung beranjak dari atas ranjang. Dia masih setia dengan guling yang sedari tadi ia peluk dengan erat.
Jam makan malam tiba, sang mama memilih untuk memanggil anaknya dengan lembut. Ketukan pelan di pintu pun terdengar.
"Asha. Ayo makan, Nak."
Gadis itu langsung menyeka air mata yang jatuh perlahan melintasi pipi.
"Mama saja duluan. Aku gak mau makan sekarang."
"Ayolah, Sha. Ini sudah waktunya makan malam. Jangan siksa diri kamu. Jika tidak makan, kamu bisa sakit."
"Biarkan saja, Ma. Itu lebih baik dari pada menikah dengan orang yang tidak aku sukai. Jika sakit bisa membuat perjodohan ini dibatalkan, maka aku-- "
"Sayangnya tidak bisa, Asha. Jika kamu sakit, maka yang susah bukan hanya kamu saja, papa dan mama juga. Tolonglah pengertian mu, Nak. Papa dan mama hanya butuh di mengerti. Itu saja."
"Lalu siapa yang mengerti diriku, Mah? Siapa?"
"Izinkan mama masuk ke dalam. Ayo kita bicara," ucap sang mama pada akhirnya.
Asha menahan napas sesaat. Lalu akhirnya berucap. "Masuk saja. Pintunya tidak aku kunci."
Tidak membutuhkan waktu yang lama, pintu itu langsung terbuka. Sang mama muncul dengan wajah yang terlihat agak lelah. Berjalan pelan mendekati ranjang anaknya sambil terus memperhatikan si anak dengan seksama.
"Ashanti. Dengarkan mama baik-baik yah. Mama dan papa tahu kamu tidak suka, tapi kita tidak punya pilihan lain. Kita punya hutang budi pada mereka, Sha. Hutang yang tidak mungkin bisa kita bayar dengan uang. Karena mereka tidak menginginkan uang dari kita."
"Sha ... mama rasa perjodohan ini juga tidak terlalu buruk, Nak. Tuan muda Rahardi ini anaknya baik kok. Mama yakin, kamu tahu akan hal itu, kan?"
"Tapi dia bukan lelaki, Mah. Dia-- "
"Sha. Jangan menilai barang dari sampulnya. Begitu pula manusia. Jangan nilai dari luarnya saja. Karena sekilas pandang, bisa menipu mata. Jangan mencari yang sempurna, Nak. Karena yang sempurna itu tidak akan pernah ada. Manusia ini memang sudah ditakdirkan dengan semua kekurangan. Jadi, setiap manusia punya kekurangannya masing-masing."
"Aku tahu itu, Ma. Sangat tau. Tapi setidaknya, jangan yang seperti dia. Aku ingin manusia yang normal. Yang-- "
"Sha. Jodoh dari Tuhan, kamu tidak bisa memilih, bukan? Mungkin dengan jodoh ini, kamu bisa hidup bahagia ke depannya. Kita gak tahu, kan?"
"Ini bukan jodoh dari Tuhan, Ma. Ini jodoh dari orang tua. Dan kita juga gak tahu kalau kedepannya, aku mungkin hidup semakin menderita. Karena orang yang akan kalian jodohkan dengan ku bukan manusia normal. Melainkan, manusia jadi-jadian."
"Astagfirullah, Sha. Ngomong apa kamu, ha? Manusia jadi-jadian apa? Jangan bicara sembarangan." Suara Indah terdengar cukup tinggi sekarang. Ucapan anaknya membuat wajahnya langsung berubah.
"Jaga bicaramu, Ashanti. Jangan karena mulut, badan binasa. Kamu gak akan tahu apa yang terjadi dengannya. Duka apa yang ia punya, kenapa dia bisa seperti itu. Kamu gak tahu. Jangan ngomongin orang sesuka hati. Belajarlah menghargai orang apapun bentuk dan kekurangan yang orang itu miliki. Karena yang terlihat baik dipermukaan, belum tentu baik juga di dalamnya. Ingat itu kamu!"
Air mata Asha jatuh dengan sangat deras. Ucapan sang mama memang tidak salah. Semuanya benar. Sangat benar malahan. Tapi hatinya terasa sangat perih karena ucapan tersebut.
Guling yang ia peluk sebelumnya, kini semakin dia peluk dengan erat. "Tapi aku gak suka dia, Ma. Aku gak suka."
"Kenapa kamu gak suka dia? Karena dia gemulai? Karena dia kemayu? Dia bertulang lunak atau apapun lah itu sebutan untuk menggambarkannya. Karena itu kamu gak suka dia?"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!