Bab 1
Hujan menghantam wajah Keira seperti jarum kecil.
Ia tersadar dengan pipi menempel pada aspal yang dingin. Air mengalir melewati pelipis, masuk ke sudut bibir, membawa rasa debu, bensin, dan darah tipis dari luka di bibirnya. Piyama kelinci yang melekat di tubuhnya sudah berubah berat seperti kain pel. Telinga panjang di tudungnya menempel basah di bahu, tidak lagi lucu, hanya menyedihkan.
Kota S tidak mengenal salju. Malam itu, gantinya adalah hujan deras dan angin yang menggigit tulang.
Jari-jari Keira mati rasa. Saat ia mencoba mengepalkan tangan, yang bergerak hanya sedikit ujung kuku. Napasnya pendek. Setiap tarikan udara terasa seperti menelan air hujan. Lampu kendaraan sesekali lewat jauh, pecah menjadi garis kuning buram di pandangannya, lalu menghilang begitu saja.
Tidak ada yang berhenti.
Tentu saja tidak ada yang berhenti. Siapa yang mau turun di jalan pinggiran kota pada Jumat malam, di bawah hujan segila ini, hanya karena melihat seorang gadis berpiyama kelinci tergeletak di dekat trotoar?
Keira ingin tertawa, tetapi tenggorokannya hanya serak.
Beberapa jam lalu, Gunawan Santoso berdiri di ambang pintu rumah dengan wajah dingin yang tidak berubah sedikit pun.
"Keluar."
Alvin bahkan tidak repot-repot mengambil payung. Ia menyeret Keira melewati ruang tamu, melewati lantai marmer yang biasanya dipoles sampai licin, lalu mendorongnya keluar pagar seolah membuang barang rusak.
Di belakang mereka, Seline memeluk lengan Tante Lina, mata merah, suara kecilnya gemetar manis. "Kak Keira, jangan marah sama Papa. Kalau Kakak minta maaf sekarang, mungkin Papa..."
Pintu pagar menutup sebelum kalimat itu selesai.
Keira sempat berdiri lama di depan rumah Santoso. Lama sekali, sampai penjaga keamanan pura-pura tidak melihat, sampai air hujan menghapus sisa hangat dari kulitnya, sampai ia sadar satu hal yang sangat sederhana.
Mereka benar-benar ingin ia mati.
"Woy, neng!"
Keira membuka mata.
Tidak ada siapa pun di dekatnya. Hanya jalan basah, selokan yang meluap, dan tiang lampu tua di atas kepala yang cahayanya berkedip-kedip.
"Neng piyama kelinci! Iya, lu! Jangan tidur di situ, astaga. Lu mau jadi berita kriminal subuh-subuh?"
Keira menatap tiang lampu itu.
Cahayanya kembali berkedip. Sekali. Dua kali. Seperti orang yang sedang melambaikan tangan dengan panik.
Untuk beberapa detik, dingin di tubuh Keira kalah oleh rasa takut yang lebih aneh. Ia pernah mendengar benda berbicara sebelumnya, di dunia asalnya, sejak kecil. Saat itu semua orang menyebutnya terlalu imajinatif, lalu terlalu stres, lalu mungkin sakit. Ia belajar menutup telinga, mengabaikan suara-suara yang tidak boleh ada.
Tapi ia sudah mati di dunia asalnya. Ia membuka mata di tubuh Keira Santoso, gadis malang dalam novel yang berakhir mengenaskan.
Dan sekarang sebuah lampu jalan sedang memarahinya dalam bahasa gaul.
"Halusinasi," bisik Keira. Bibirnya bergetar. "Aku pasti demam."
"Demam apaan? Gue lampu, bukan jin penunggu tiang!" suara itu menggerutu. "Dengerin gue. Dari arah selatan ada mobil gede. Mahal banget. Harganya mungkin bisa buat beli satu kompleks ruko kecil. Jalannya pelan karena sopirnya takut ban selip."
Keira memaksa lehernya bergerak.
Jauh di ujung jalan, dua sorot lampu putih muncul di balik tirai hujan. Lambat, tapi mendekat.
"Nah itu! Itu dia!" Lampu Jalan terdengar makin heboh. "Gue udah nyala seterang-terangnya dari tadi, tapi mobil-mobil receh pada kabur semua. Yang ini auranya sombong. Mobil mahal biasanya takut lecet, jadi remnya bagus. Lu masih bisa diselamatkan."
Keira tidak punya tenaga untuk menjawab. Ia hanya menghitung.
Jarak kira-kira enam puluh meter. Kecepatan mungkin dua puluh kilometer per jam karena hujan. Jalan basah, waktu reaksi pengemudi satu sampai dua detik. Kalau ia berguling sekarang, tubuhnya masuk ke jalur terlalu cepat. Sopir bisa menghindar tanpa berhenti.
Kalau terlambat sedikit, ia mati sungguhan.
Lucu. Keluarga Santoso membuangnya untuk mati, dan ia masih harus memakai fisika dasar demi mendapat kesempatan hidup.
Keira menggigit bagian dalam pipinya sampai rasa besi pecah di lidah. Sakit itu membangunkan sedikit sisa kesadaran. Ia menekan siku ke aspal. Kulitnya tergores. Lututnya gemetar. Tubuhnya tidak mau menurut, tetapi ia tidak meminta izin pada tubuhnya.
"Sekarang?" tanyanya nyaris tanpa suara.
"Belum, belum! Sabar, neng. Tiga... dua... eh tunggu, mobilnya cakep juga dari dekat. Rolls-Royce, coy. Sombong banget hidungnya."
"Sekarang?"
"Sekarang! Guling!"
Keira mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa.
Tubuhnya jatuh ke tengah jalan dengan gerakan buruk, lebih mirip karung basah daripada manusia. Bahunya membentur aspal. Rasa sakit menyambar putih di matanya. Pada saat yang sama, Lampu Jalan di atasnya berkedip-kedip gila, terang, redup, terang lagi, seperti sirene darurat yang keras kepala.
Suara ban menjerit tertahan di atas aspal basah.
Rolls-Royce hitam berhenti kurang dari dua meter dari tubuh Keira.
Untuk sesaat, hanya ada suara hujan.
Lalu pintu depan terbuka. Seorang pria paruh baya turun membawa payung hitam besar. Wajahnya tegang, jasnya langsung basah diterpa angin. Ia membungkuk dan terkejut saat melihat Keira.
"Ya Tuhan... Nona? Nona masih sadar?"
Keira mencoba menjawab, tetapi bibirnya tidak bekerja.
Pintu belakang mobil terbuka. Suara lelaki tua terdengar dari dalam, berat namun masih jernih. "Chen, bawa dia masuk."
"Pak, dia tiba-tiba berguling ke tengah jalan. Ini bisa saja jebakan."
"Kalau jebakan, jebakannya sedang membiru kedinginan," kata lelaki tua itu. "Bawa masuk. Sekarang."
Pak Chen ragu hanya setengah detik. Setelah itu ia menyelipkan satu tangan di bawah bahu Keira dan mengangkatnya dengan hati-hati. Tubuh Keira terlalu lemah untuk merasa malu. Saat ia dipindahkan ke jok belakang, kehangatan kabin langsung membungkusnya seperti selimut tebal.
Aroma kulit mahal, obat gosok samar, dan teh hangat memenuhi hidungnya.
Di sampingnya duduk seorang lelaki tua berambut putih rapi. Wajahnya pucat, tetapi matanya tajam dan tenang. Ia melepas syal dari lehernya sendiri, lalu menaruhnya di bahu Keira.
"Namamu siapa?" tanyanya.
Keira menelan ludah. "Keira."
"Keira," ulang lelaki tua itu pelan. "Saya Sutedjo Tanuwijaya. Orang-orang biasanya memanggil saya Engkong Tedjo."
Nama itu masuk ke kepala Keira seperti kilat.
Tanuwijaya.
Dalam novel yang pernah ia baca, keluarga Tanuwijaya berdiri jauh di atas keluarga Santoso. Enam cucu laki-laki mereka tersebar di bisnis, hukum, medis, hiburan, investigasi, dan esports. Dan Engkong Tedjo...
Keira menoleh perlahan.
Di balik suara hujan yang menghantam kaca mobil, ada suara lain. Bukan dari Lampu Jalan. Bukan dari jok mobil. Bukan dari payung Pak Chen yang masih menetes di luar.
Suara itu datang dari dada Engkong Tedjo.
"Capek banget..."
Keira membeku.
"Kerja terus dari tujuh puluh tahun lebih. Kapan liburnya? Mau mogok... mau istirahat... mau pensiun dini..."
Itu bukan suara manusia. Itu suara lemah yang berdetak tidak teratur, basah, tua, dan putus asa.
Jantung Engkong Tedjo sedang berbicara.
Keira menatap wajah lelaki tua yang baru saja menyelamatkannya. Hangat dari syal di bahunya tiba-tiba terasa terlalu berat. Ia bisa diam. Ia bisa pura-pura tidak mendengar. Orang normal mana yang akan percaya gadis asing berpiyama kelinci yang baru dipungut dari jalan?
Tapi beberapa menit lalu, Lampu Jalan menyelamatkan hidupnya.
Keira menarik napas. Dadanya sakit, tetapi suaranya keluar lebih jelas dari yang ia kira.
"Engkong sebentar lagi mau meninggal."
Bab 2
"Engkong sebentar lagi mau meninggal."
Kabin Rolls-Royce mendadak sunyi.
Hanya wiper di kaca depan yang masih bergerak, menggesek hujan ke kiri dan kanan dengan ritme dingin. Pak Chen, yang baru saja duduk kembali di kursi sopir, menoleh begitu cepat hingga bahunya menghantam sandaran kursi.
"Apa kamu bilang?"
Keira menekan syal di bahunya. Jari-jarinya masih kaku, tetapi suara dari dada Engkong Tedjo terdengar makin jelas, seperti seseorang yang mengomel dari balik pintu kayu tua.
"Capek... capek banget. Kontrak kerja seumur hidup itu siapa yang tanda tangan? Aku mau cuti. Mau mogok kerja. Mau pensiun dini..."
Keira memejamkan mata sesaat.
Kalau ia menyampaikan ini apa adanya, ia akan terdengar gila. Sayangnya, tidak ada cara yang terdengar waras untuk menjelaskan bahwa jantung seorang konglomerat sedang mengajukan pensiun.
"Jantung Engkong," kata Keira pelan. "Dia bilang capek. Mau mogok kerja. Mau pensiun dini."
Pak Chen langsung membuka pintu mobil dari dalam. Udara hujan menyusup masuk, menggigit kulit Keira yang belum sempat menghangat.
"Pak, saya turunkan dia sekarang."
"Chen."
"Ini kelewatan, Pak!" Suara Pak Chen pecah oleh marah yang ditahan. "Kita baru menolong dia dari jalan. Sekarang dia mengutuk Bapak? Ini modus. Bisa saja dia sengaja pura-pura sekarat supaya masuk mobil Bapak."
Keira tidak membantah. Ia memang tampak seperti masalah yang baru dipungut dari aspal, basah, pucat, berpiyama kelinci, tanpa tas, tanpa HP, tanpa identitas. Kalau ia berada di posisi Pak Chen, mungkin ia juga akan curiga.
Engkong Tedjo menatapnya lama.
Mata lelaki tua itu tidak lembut, tetapi juga tidak menghukum. Ada sesuatu yang tajam dan sabar di sana, seperti orang yang sudah terlalu sering melihat kebohongan hingga tahu kapan harus mendengar kemungkinan yang mustahil.
"Keira," katanya. "Kenapa kamu mengatakan itu?"
Keira mengangkat wajah. Kepalanya pusing, pandangan di tepi matanya masih berbintik putih.
"Karena kalau saya diam dan Engkong benar-benar meninggal, saya akan menyesal."
Pak Chen tertawa pendek, pahit. "Jawaban bagus. Penipu juga biasanya pintar bicara."
Keira menoleh ke arahnya. "Pak Chen, kalau saya penipu, saya akan minta uang. Saya tidak minta apa pun. Saya minta Engkong pergi ke rumah sakit."
"Kamu tahu nama saya dari mana?"
"Engkong memanggil Anda begitu tadi."
Pak Chen tertahan. Ia menatap Engkong Tedjo, lalu kembali menatap Keira dengan curiga yang belum berkurang.
Jantung di dada Engkong kembali bergumam, makin pelan.
"Mogok... mogok... aku mau tidur panjang..."
Keira meremas ujung syal.
"Hidup cuma satu, Engkong. Kalau saya bohong, Engkong rugi waktu dua puluh menit. Mungkin sedikit biaya pemeriksaan. Tapi kalau saya benar dan Engkong tidak pergi ke RS, ruginya seumur hidup."
Kalimat itu membuat tangan Pak Chen yang memegang gagang pintu berhenti.
Engkong Tedjo tiba-tiba tertawa kecil.
Suaranya pendek, serak, tetapi bukan tawa orang yang merasa dihina. Ia malah tampak agak terhibur.
"Logikamu bagus juga."
"Pak," Pak Chen hampir memohon. "Jangan percaya gadis asing begini."
"Aku tidak bilang percaya." Engkong Tedjo menyandarkan tubuhnya, wajahnya masih pucat di bawah lampu kabin. "Aku bilang logikanya bagus. Chen, ke RS Ananda."
"Pak..."
"Sekarang."
Pak Chen menutup pintu dengan gerakan keras. Mesin Rolls-Royce meraung halus, lalu mobil melesat menembus hujan.
Di luar, Lampu Jalan yang semakin jauh terdengar berteriak penuh kebanggaan.
"Nah gitu dong! Hidup dulu, dramanya belakangan! Jangan lupa kalau sukses, bilang sama semua orang Lampu Jalan berjasa, ya!"
Keira tidak sanggup menahan sudut bibirnya yang bergerak sedikit.
Engkong Tedjo menangkap perubahan kecil itu. "Ada yang lucu?"
"Lampu jalan tadi minta disebut berjasa."
Pak Chen dari depan mengerem sedikit lebih kasar daripada perlu. "Pak, dengar sendiri, kan?"
"Dengar apa?"
"Dia bicara dengan lampu jalan."
"Aku juga kadang bicara dengan tanaman bonsai kalau pasar saham turun," jawab Engkong Tedjo tenang. "Bedanya, bonsaiku tidak pernah menjawab."
Keira nyaris tersedak napasnya sendiri.
Pak Chen tampak ingin membantah, tetapi memilih memacu mobil lebih cepat. Jalanan malam itu hampir kosong. Hujan membuat lampu toko kabur menjadi garis panjang. Sesekali ban melewati genangan, air memukul bagian bawah mobil dengan suara berat.
Keira bersandar pada jok. Kehangatan kabin tidak cukup cepat mengusir dingin dari tulangnya. Syal Engkong berbau samar minyak angin dan teh tua. Bau itu anehnya membuatnya ingin tidur.
Tapi jantung Engkong tidak berhenti mengomel.
"Kenapa dibawa ngebut begini? Aku kan mau pensiun, bukan ikut balapan. Pelan-pelan dong. Aduh, ritme kacau. Siapa yang nyuruh minum kopi dua gelas tadi sore?"
Keira membuka mata.
"Engkong minum kopi dua gelas sore ini?"
Engkong Tedjo, yang sejak tadi masih cukup santai, akhirnya mengangkat alis.
Pak Chen membeku di kursi sopir.
"Bapak memang minum kopi," kata Pak Chen pelan. "Tapi hanya saya yang tahu. Dokter sudah melarang, jadi Bapak minta saya jangan bilang siapa-siapa."
Keira tidak merasa menang. Yang ia rasakan justru rasa dingin lain merambat ke punggungnya.
"Tolong lebih cepat, Pak Chen."
Kali ini Pak Chen tidak menjawab. Rolls-Royce melesat semakin cepat.
Lima belas menit kemudian, gerbang RS Ananda muncul di balik hujan. Bangunan kaca dan beton itu menyala terang seperti kapal besar di tengah malam. Petugas keamanan langsung bergerak saat melihat mobil Engkong Tedjo. Payung dibuka, pintu IGD VIP disiapkan, kursi roda didorong keluar.
Keira turun dengan bantuan seorang perawat. Begitu kakinya menyentuh lantai lobi, lututnya hampir menyerah. Perawat itu menahan lengannya.
"Nona juga pasien?"
"Dia ditemukan di jalan," kata Engkong dari kursi roda, lebih cepat daripada Pak Chen. "Periksa dia juga. Hipotermia, luka ringan, mungkin dehidrasi."
Pak Chen menahan napas kesal. "Pak, kondisi Bapak dulu."
"Aku masih bisa memerintah, berarti belum mati."
"Engkong," Keira memanggil pelan.
Lelaki tua itu menoleh. "Apa?"
Jantungnya berbisik, hampir malas.
"Aku mau tidur..."
"Jangan tunggu lama."
Sebelum Pak Chen bisa memarahi Keira lagi, langkah cepat terdengar dari lorong putih. Seorang pria berjas dokter berjalan mendekat, jas putihnya berkibar sedikit, rambut hitamnya rapi, wajahnya dingin seperti alat bedah yang baru disterilkan.
"Engkong."
Nada suaranya tenang, tetapi matanya bergerak cepat dari wajah Engkong ke kulit pucat, napas, posisi tangan, lalu monitor portabel yang mulai dipasang perawat.
Pak Chen seperti mendapat sandaran. "Dokter Jason, akhirnya."
Dokter Jason menoleh sekilas. "Kronologi."
"Kami menemukan gadis ini di jalan," Pak Chen langsung menunjuk Keira. "Setelah masuk mobil, dia bilang Engkong akan meninggal. Dia juga mengaku mendengar jantung Bapak bicara."
Tatapan Dokter Jason berhenti pada Keira.
Tidak ada amarah di sana. Justru lebih buruk, ada penilaian klinis yang dingin, seolah Keira adalah gejala aneh yang harus diklasifikasi.
"Nama?"
"Keira."
"Usia?"
"Dua puluh."
"Riwayat penyakit jiwa?"
Pak Chen tampak puas. Keira menahan napas. Pertanyaan itu seharusnya menyakitkan, tetapi tubuhnya terlalu lelah untuk bereaksi besar.
"Tidak ada diagnosis resmi," jawab Keira. "Tapi malam ini bukan tentang saya."
Alis Dokter Jason bergerak sangat tipis.
Engkong Tedjo tiba-tiba tertawa kecil lagi. "Jas, periksa aku dulu. Setelah itu kamu boleh menginterogasi cucu orang ini."
"Dia bukan cucu siapa-siapa di sini," gumam Pak Chen.
"Kalau begitu jangan kasar pada cucu orang lain."
Dokter Jason tidak ikut bercanda. Ia mendorong kursi roda Engkong sendiri menuju ruang pemeriksaan. Keira dibawa ke ruang sebelah untuk diperiksa suhu tubuh, tetapi pintu dibiarkan terbuka. Mungkin karena Engkong yang meminta. Mungkin karena semua orang masih menganggapnya bagian dari masalah.
Termometer digital berbunyi. Perawat mengerutkan kening.
"Suhu rendah. Nona harus ganti baju dan pakai selimut hangat."
"Nanti," kata Keira. Matanya tetap pada ruang pemeriksaan Engkong.
Di sana, EKG sudah terpasang. Monitor menunjukkan garis yang tampak terlalu rapi. Tekanan darah disebutkan normal. Saturasi normal. Enzim jantung belum keluar, tetapi pemeriksaan awal tidak mengkhawatirkan.
Dokter Jason melepas stetoskop dari telinganya.
"Secara pemeriksaan awal, Engkong stabil."
Pak Chen menatap Keira seolah kalimat itu adalah vonis. "Dengar? Stabil."
Keira tidak menjawab.
Karena jantung Engkong tidak terdengar stabil.
"Hore, alatnya ketipu. Aku istirahat dulu, ya. Capek akting sehat..."
Bulu kuduk Keira berdiri.
"Dokter Jason," panggilnya.
Jason menatapnya dari ambang pintu. "Apa lagi?"
"Jangan lepas monitor."
Pak Chen meledak. "Cukup! Pemeriksaan sudah jelas. Kamu pikir kamu lebih pintar dari Dokter Jason?"
"Tidak."
"Lalu kenapa masih bicara?"
Keira menatap monitor. Angka-angka hijau itu bergerak tenang, terlalu tenang untuk rasa takut yang mengeras di perutnya.
"Karena kalau saya diam, Engkong mati."
Ruangan menjadi sunyi. Beberapa perawat saling pandang. Pak Chen wajahnya merah oleh marah dan malu. Dokter Jason memandang Keira lebih lama, kali ini bukan hanya seperti melihat gejala, tetapi seperti melihat risiko.
Engkong Tedjo menghela napas. "Jas, biarkan monitornya tetap terpasang."
"Engkong, secara prosedur memang bisa observasi tiga puluh menit."
"Bagus. Observasi."
Pak Chen menutup mulutnya rapat-rapat.
Keira duduk di kursi lorong dengan selimut darurat di bahu. Tubuhnya menggigil lebih keras setelah masuk ruangan ber-AC. Perawat memaksa menaruh kompres hangat di tangannya. Di seberang kaca, Engkong Tedjo berbincang pelan dengan Dokter Jason. Lelaki tua itu masih sempat menertawakan sesuatu, sementara cucunya mencatat dengan wajah datar.
Empat menit setelah Dokter Jason menyatakan pemeriksaan awal stabil, suara dari dada Engkong berubah.
Tidak lagi mengomel.
Tidak lagi lucu.
Hanya bisikan yang tipis, jauh, dan menyerah.
"Bye-bye semuanya... aku pamit..."
Keira berdiri begitu cepat hingga selimut jatuh dari bahunya.
Pada detik yang sama, monitor jantung memekik panjang.
Garis hijau yang tadi bergerak rapi berubah kacau, lalu jatuh mengerikan. Tubuh Engkong Tedjo tersentak di ranjang pemeriksaan. Matanya terpejam. Tangannya jatuh lemas dari sisi ranjang.
Pak Chen menjerit, "Pak!"
Wajah Dokter Jason berubah untuk pertama kalinya.
"Code Blue!" suaranya membelah lorong. "Siapkan defibrilator! Panggil tim resusitasi, sekarang!"
Bab 3
"Code Blue!" suara Dokter Jason membelah lorong. "Siapkan defibrilator! Panggil tim resusitasi, sekarang!"
Pintu ruang pemeriksaan tertutup tepat di depan Keira.
Ia berdiri di lorong dengan selimut darurat jatuh di sekitar kakinya. Di balik kaca buram, bayangan orang-orang bergerak cepat. Satu perawat mendorong troli alat. Yang lain menekan kantong ambu. Suara perintah Dokter Jason datang berlapis-lapis, pendek, tajam, tidak memberi ruang untuk panik.
"Kompresi. Hitung."
"Defib siap."
"Clear."
Tubuh Keira menggigil lebih keras. Bukan hanya karena dingin. Di dalam ruangan itu, suara jantung Engkong Tedjo menghilang sejenak, seperti radio yang mendadak kehilangan sinyal.
Pak Chen berdiri tidak jauh darinya. Wajah pria itu sudah tidak merah karena marah. Warnanya pucat, hampir kelabu. Kedua tangannya menggenggam ujung lengan jas basah sendiri sampai kusut.
"Kalau tadi..." suaranya pecah. "Kalau tadi saya menurunkan Nona di jalan..."
Keira tidak menjawab. Ia tidak punya tenaga untuk menghibur orang yang beberapa menit lalu menuduhnya penipu. Ia juga tidak membencinya. Pak Chen hanya melakukan apa yang wajar dilakukan orang loyal saat majikannya terancam.
Yang tidak wajar adalah dunia yang membuat seorang gadis berpiyama kelinci harus menjelaskan isi hati sebuah jantung.
Suara monitor berubah. Dari pekikan panjang menjadi deretan bunyi pendek yang tidak stabil, lalu perlahan menemukan ritmenya.
Di dalam dada Keira, sesuatu ikut kembali bergerak.
Dua jam kemudian, Engkong Tedjo dipindahkan ke ICU dalam keadaan stabil.
Dokter Jason keluar dengan masker menggantung di leher. Rambutnya yang tadi rapi kini sedikit berantakan, tetapi wajahnya kembali dingin. Hanya matanya yang tampak lebih gelap oleh lelah.
"Cardiac arrest berhasil ditangani. Untuk sementara stabil, tapi harus observasi ketat."
Pak Chen menutup wajah dengan kedua tangan. Bahunya turun seperti orang yang baru saja melepas batu besar dari punggung.
Keira duduk di kursi lorong, dibungkus dua selimut, tangan dipasangi infus. Seorang perawat sudah memaksanya mengganti piyama basah dengan baju pasien. Rambutnya masih lembap, tetapi setidaknya tubuhnya tidak lagi terasa seperti terbuat dari es.
Dokter Jason berjalan ke hadapannya.
Ia diam beberapa detik.
Keira mendongak. "Kalau mau tanya riwayat penyakit jiwa lagi, mungkin besok saja. Saya agak mengantuk."
Ada jeda tipis.
Lalu Dokter Jason menundukkan kepala.
"Saya minta maaf."
Keira tidak menyangka pria sedingin itu akan meminta maaf secepat ini. Ia menatapnya, memastikan ia tidak salah dengar.
"Saya menilai Nona dari kondisi luar dan pernyataan yang tidak masuk akal secara medis," lanjut Jason. "Secara profesional, saya tetap tidak bisa menjelaskan bagaimana Nona tahu. Tapi faktanya, peringatan Nona membuat Engkong datang ke rumah sakit sebelum henti jantung terjadi."
Pak Chen juga maju satu langkah. Suaranya lebih rendah.
"Nona Keira, saya juga minta maaf. Saya kasar. Saya hampir... saya hampir membuat Bapak kehilangan kesempatan hidup."
Keira memandang dua orang itu. Rasa puas yang seharusnya muncul ternyata tidak datang. Mungkin karena tubuhnya terlalu lelah. Mungkin karena sejak awal ia tidak ingin menang debat. Ia hanya tidak ingin seseorang mati di depan matanya.
"Engkong selamat. Itu sudah cukup."
Jason menatapnya lebih lama. Kali ini tatapannya tidak seperti memeriksa gejala, tetapi seperti sedang mengukur batas sesuatu yang belum ia pahami.
"Nona tetap harus dirawat malam ini. Suhu tubuh rendah, ada dehidrasi ringan, beberapa luka gesek. Saya sudah siapkan kamar VIP."
"Tidak perlu VIP."
"Itu bukan tawaran." Jason mengambil pulpen dari saku jas putihnya. "Itu instruksi medis."
Pak Chen, mungkin karena masih ingin menebus kesalahan, kembali beberapa menit kemudian membawa bubur hangat dalam mangkuk porselen.
"Dapur rumah sakit membuat ini cepat. Bubur ayam tanpa banyak bumbu. Perawat bilang perut Nona belum boleh langsung makan berat."
Keira menerima mangkuk itu. Uap hangat menyentuh wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak ia membuka mata di jalan, sesuatu yang sederhana terasa hampir membuatnya menangis.
"Terima kasih, Pak Chen."
Pria itu menunduk lebih dalam daripada perlu. "Seharusnya saya yang berterima kasih."
Keira makan pelan-pelan. Setiap suapan terasa hambar, tetapi hangatnya turun ke perut seperti bukti kecil bahwa ia belum mati.
Sabtu pagi, hujan sudah berhenti.
Cahaya pucat masuk dari jendela kamar inap Keira. Kota S terlihat basah dan kusam, tetapi tidak lagi mengancam. Setelah tidur tidak sampai empat jam, Keira terbangun oleh suara langkah tertata di koridor.
Pintu kamarnya diketuk pelan.
Seorang wanita masuk bersama Pak Chen.
Wanita itu mengenakan blus sutra warna gading dan celana panjang gelap. Rambutnya disanggul rendah, anting mutiara kecil menempel di telinga, wajahnya anggun dengan ketenangan yang tidak dibuat-buat. Ia bukan tipe orang yang perlu meninggikan suara agar ruangan tahu dirinya penting.
"Nona Keira?" suaranya lembut. "Saya Mei Lin."
Mangkuk air hangat di tangan Keira hampir terlepas.
Nama itu tidak hanya masuk ke telinganya. Nama itu menabrak sesuatu yang tertanam jauh di tubuh ini, lebih tua dari kesadarannya sendiri.
Mama.
Kata itu muncul tanpa izin, bukan dari pikirannya, melainkan dari sisa perasaan pemilik tubuh asli. Rindu yang terlalu lama ditekan, sakit hati yang sudah mengeras, dan satu pertanyaan kecil yang tidak pernah mendapat jawaban: kenapa Mama pergi?
Keira mencengkeram gelas sampai buku jarinya memucat.
Mei Lin tidak menyadari badai kecil itu. Ia duduk di kursi samping ranjang dan meletakkan sebuah amplop putih di meja.
"Engkong sudah sadar sebentar tadi. Dokter Jason melarang terlalu banyak bicara, tapi beliau terus menyebut Nona. Saya datang untuk mengucapkan terima kasih." Ia mendorong amplop itu perlahan. "Ini hanya sedikit tanda terima kasih. Rp 50 juta. Kalau ada kebutuhan lain, katakan pada saya."
Keira menatap amplop itu.
Lima puluh juta rupiah. Bagi keluarga seperti Tanuwijaya, itu mungkin hanya angka sopan. Bagi Keira Santoso yang tadi malam dibuang tanpa ponsel, tanpa dompet, tanpa sepatu layak, angka itu terdengar seperti jarak antara dua dunia.
"Saya tidak menyelamatkan Engkong untuk uang."
Mei Lin tersenyum tipis. "Saya tahu. Justru karena itu saya berterima kasih."
Keira mengangkat wajah. Jantungnya berdetak terlalu keras.
"Nama saya Keira Santoso."
Senyum Mei Lin berhenti.
Untuk beberapa detik, seluruh kelembutan di wajah wanita itu membeku. Bukan menghilang, tetapi tertutup lapisan es yang sangat tipis dan sangat tajam.
"Santoso?"
"Gunawan Santoso adalah ayah kandung saya."
Pak Chen yang berdiri di dekat pintu tampak terkejut. Mei Lin tidak menoleh padanya. Matanya tetap pada Keira.
"Usiamu?"
"Dua puluh."
Warna wajah Mei Lin berubah. Tidak banyak, hanya cukup untuk membuat Keira tahu bahwa ia sedang menghitung tahun, tanggal, luka lama.
Di dalam ingatan tubuh ini, ada ruang sidang yang terlalu besar untuk anak kecil. Ada Gunawan yang menggenggam bahu Keira kecil terlalu keras. Ada Tante Lina berdiri tidak jauh, menunduk seperti wanita paling sabar sedunia. Ada suara hakim bertanya, "Kamu ingin ikut Papa atau Mama?"
Dan ada suara Gunawan malam sebelumnya, rendah di telinga anaknya.
Kalau kamu ikut Mama, Papa tidak akan tanda tangan cerai. Mama kamu tidak akan pernah bebas. Kamu mau membuat Mama menderita selamanya?
Keira kecil menangis sampai napasnya putus-putus. Tetapi di ruang sidang, ia berkata dengan suara yang sudah dilatih.
Aku mau ikut Papa. Aku tidak mau ikut Mama.
Mei Lin menarik napas pelan. Saat ia bicara lagi, suaranya tidak lagi hangat.
"Kamu yang dulu bilang tidak mau ikut Mama."
Kalimat itu mengenai Keira lebih keras daripada angin malam kemarin.
Sisa emosi pemilik tubuh asli menyerbu sampai matanya panas. Keira hampir bisa merasakan tangan kecil yang dulu ingin meraih ujung baju Mei Lin, tetapi dipaksa tetap di sisi tubuh.
Namun Keira sekarang bukan anak kecil itu. Ia menarik napas, menahan air mata di tempatnya.
"Yang terjadi waktu itu ada yang belum Mama tahu."
Mei Lin menatapnya. Dalam tatapan itu ada rindu yang ditahan, marah yang belum sembuh, dan ketakutan untuk percaya lagi.
Sebelum ia menjawab, suara tua terdengar dari pintu.
"Kalau begitu, kita cari tahu pelan-pelan."
Engkong Tedjo duduk di kursi roda, didorong oleh Dokter Jason yang jelas tidak setuju pasien ICU berkeliaran, tetapi kalah oleh keras kepala Engkong.
Wajah Engkong masih pucat. Kabel monitor portabel menempel di dadanya. Namun matanya hidup.
"Keira menyelamatkan nyawaku," katanya. "Aku tidak peduli dia anak siapa, atau kenapa semalam ada di jalan. Mulai hari ini, aku mau menjadikannya cucu angkatku."
Mei Lin membeku.
Keira juga terdiam.
Karena di antara semua kemungkinan yang Keira bayangkan, ia tidak sempat memikirkan bahwa lelaki tua yang baru diselamatkannya akan menawarkan keluarga baru tepat di depan ibu kandungnya sendiri.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!