Angin musim gugur bertiup dingin, membawa debu dan daun kering melintasi halaman depan Balai Desa Akar Kering. Di tengah kerumunan anak-anak berusia sepuluh tahun yang bersorak gembira, berdiri seorang anak laki-laki bertubuh kurus dengan baju yang sudah bertambal di beberapa bagian. Namanya Lin Mo. Tangannya yang kasar mencengkeram ujung bajunya erat, matanya menatap lekat-lekat batu ujian besar yang diletakkan di atas meja kayu.
Hari ini adalah hari penentuan nasib. Setiap anak yang berusia sepuluh tahun wajib diuji bakat inti energinya. Hasilnya akan menentukan apakah mereka bisa masuk ke kelompok latihan desa, atau selamanya hanya menjadi petani dan pengangkut barang di kaki gunung ini.
"Berikutnya: Lin Mo!" seru kepala desa dengan suara berat.
Langkah kaki Lin Mo terasa berat seolah ada batu yang mengikat kakinya. Ia berjalan mendekat, lalu meletakkan telapak tangannya di atas permukaan batu yang dingin. Sesuai instruksi, ia memejamkan mata dan mencoba menarik sedikit energi alam ke dalam tubuhnya.
Rasa sakit yang tajam langsung menyergap. Seolah ada ribuan jarum yang menusuk dari dalam tulang. Ia menahan napas, menahan rasa sakit itu agar tidak terlihat, namun batu di depannya hanya menampilkan cahaya samar yang berkedip-kedip tak beraturan—terkadang putih, terkadang kelabu, lalu padam sejenak.
Wajah kepala desa berubah datar. "Inti Energi Kacau. Tingkat terendah. Tidak bisa menyerap energi dengan stabil. Tidak memenuhi syarat masuk kelompok latihan."
Kerumunan anak-anak di belakang langsung tertawa.
"Haha! Sudah kuduga! Anak yatim mana mungkin punya bakat bagus!"
"Batu itu hampir tidak menyala sama sekali! Lebih baik dia pulang dan belajar menanam ubi saja!"
"Benar! Dia bahkan tidak sekuat anak berusia delapan tahun!"
Lin Mo menurunkan tangannya perlahan, kuku jari menancap hingga memutih di telapak tangan. Ia tidak membalas ejekan itu. Ia sudah terbiasa. Sejak kecil tubuhnya memang terasa berbeda—setiap kali mencoba teknik pernapasan dasar yang diajarkan orang desa, perutnya terasa mual dan dadanya sesak. Ia pikir ia hanya kurang rajin, ternyata memang dasarnya sudah rusak.
Ia berjalan pergi dari halaman itu sendirian, meninggalkan suara tawa yang masih terdengar di telinganya. Rumahnya ada di ujung paling pinggir desa—sebuah gubuk kecil dari kayu dan jerami yang sudah mulai rapuh. Di dalamnya tidak ada barang berharga, hanya kasur tipis, meja kayu yang goyah, dan sebuah kotak kayu tua di bawah tempat tidur.
Lin Mo mengambil kotak itu, membukanya perlahan. Di dalamnya tergeletak sepotong batu hitam yang bentuknya tidak beraturan, permukaannya kusam seolah tertutup debu abadi. Ini satu-satunya peninggalan orang tuanya sebelum mereka menghilang saat pergi ke pegunungan bertahun lalu. Tidak ada yang tahu apa batu ini, bahkan kepala desa pun pernah bilang itu hanya batu biasa yang tidak berguna.
"Apakah aku benar-benar tidak berguna?" bisiknya pelan pada batu itu. Matanya mulai berkaca-kaca, namun ia segera mengusapnya dengan kasar. Ia tidak mau menangis. Orang tuanya dulu pernah berpesan: "Tumbuhlah seperti akar pohon. Meskipun tidak terlihat, ia tetap menembus tanah yang paling keras untuk mencari air."
Malam itu, Lin Mo tidak tidur. Ia bangun lebih awal dari biasanya, membawa keranjang dan kapak menuju hutan di kaki gunung. Jika ia tidak bisa berlatih energi, setidaknya ia harus menguatkan tubuhnya sendiri. Ia memotong kayu, mengangkut air dari sungai yang jauh, dan berlari naik turun bukit sampai kakinya lemas dan napasnya habis.
Hari-hari berlalu seperti itu selama setahun. Anak-anak yang lulus ujian kini sudah bisa memecah batu dengan kepalan tangan atau berlari sejauh puluh li tanpa lelah. Sementara Lin Mo hanya menjadi pengangkut barang desa, dibayar dengan segenggam beras atau koin tembaga sedikit. Seringkali ia dipaksa bekerja lebih lama, bahkan dipukuli jika tidak selesai tepat waktu.
Siang itu, tiga anak dari keluarga terpandang desa—pemimpinnya adalah Zhang Hao yang memiliki Inti Energi Api tingkat menengah—menghadangnya di jalan setapak.
"Hei, pengangkut sampah! Kami butuh kayu bakar di rumah. Bawakan sekarang!" bentak Zhang Hao sambil menendang keranjang di punggung Lin Mo hingga terbalik.
"Aku sudah ada pesanan dari Kepala Desa," jawab Lin Mo pelan, mencoba mengambil kembali keranjangnya.
"Berani menolak kami?!" Zhang Hao meninju wajah Lin Mo. Pukulan itu keras, membuat Lin Mo jatuh ke tanah, darah menetes dari sudut bibirnya. Dua temannya ikut menendang punggung dan perutnya tanpa ampun, sambil tertawa dan menghina.
"Inti kacau itu memang cuma pantas diinjak-injak!"
"Lihat saja, selamanya kau akan tetap seperti ini!"
Mereka pergi setelah puas memukulinya. Lin Mo terbaring diam di tanah yang berdebu, seluruh tubuhnya terasa nyeri dan luka. Ia mencoba bangkit, namun tangannya tergelincir ke tanah dan menekan batu hitam yang ia bawa di saku—darah dari lukanya menetes tepat di atas permukaan batu kusam itu.
Seketika itu juga, batu hitam itu bergetar hebat. Cahaya gelap namun hangat menyelimuti tubuhnya, rasa sakit di seluruh tubuh perlahan menghilang. Di dalam kepalanya, terdengar suara samar yang seolah datang dari ribuan tahun silam:
"Akar Dunia... akhirnya menemukan wadah yang tepat. Jalan inti energi bukanlah jalanmu... jalanmu ada di bawah kakimu, menyatu dengan bumi..."
Lin Mo terbelalak. Ia menatap batu hitam itu yang kini berdenyut pelan di tangannya. Untuk pertama kalinya sejak ia ingat, hatinya yang selama ini penuh keraguan perlahan terisi oleh harapan baru.
Ia tidak lemah. Ia hanya berjalan di jalan yang salah.
Dan jalan yang sesungguhnya baru saja terbuka di hadapannya.
Lin Mo bergegas pulang dengan langkah tertatih, memeluk batu hitam itu erat di dadanya seolah takut ia akan menghilang. Begitu masuk ke dalam gubuk yang sepi, ia menutup pintu kayu rapat-rapat, lalu duduk bersandar di dinding, napasnya masih terengah karena campuran rasa sakit dan keheranan.
Batu hitam di tangannya kini tidak lagi kusam. Permukaannya memancarkan cahaya gelap samar, berdenyut perlahan seolah memiliki detak jantung sendiri. Setiap kali ia berdenyut, aliran hangat menyebar dari telapak tangan ke seluruh tubuhnya, menyembuhkan luka memar dan rasa nyeri di tulang yang ia rasakan sejak tadi.
"Apa kau... benar-benar berbicara padaku?" bisik Lin Mo pelan.
Batu itu tidak menjawab dengan suara lantang, namun gambaran samar mulai muncul di benaknya—sebuah pola pernapasan yang sama sekali berbeda dari teknik dasar yang diajarkan di desa. Teknik desa menyuruh menarik energi dari langit ke bawah, memusatkannya di dada; sedangkan pola ini menyuruh menurunkan kesadaran hingga ke telapak kaki, merasakan tanah di bawah, lalu menarik kekuatan perlahan dari dalam bumi itu sendiri.
"Jalan Inti adalah jalan meniru cahaya," suara samar itu kembali terdengar. "Tapi cahaya bisa padam, bisa tertutup awan. Jalan Akar adalah jalan menyatu dengan sumber kehidupan. Ia tidak terburu-buru, tidak bersinar terang, tapi tidak akan pernah putus selama bumi masih ada."
Lin Mo menelan ludah. Selama ini ia selalu gagal berlatih karena memaksakan cara orang lain. Mungkin... inilah caranya sendiri.
Ia menutup mata, meniru pola yang muncul di benaknya. Alih-alih memusatkan perhatian ke dada, ia merentangkan kesadarannya turun ke bawah kakinya. Perlahan, ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: getaran halus dari tanah, rasa dingin yang lembap dari akar rumput, dan aliran kekuatan yang tenang namun padat di bawah lapisan tanah keras.
Ia tidak "menarik" paksa seperti yang diajarkan guru. Ia hanya membuka dirinya, membiarkan kekuatan itu masuk dengan sendirinya, menyusup perlahan ke dalam pori-pori, ke dalam pembuluh darah, hingga akhirnya berkumpul di perut bagian bawah—bukan membentuk inti bulat, melainkan menyebar seperti jaring halus yang terus memanjang.
Satu jam berlalu. Dua jam.
Biasanya setelah berlatih seperempat jam saja, tubuhnya akan terasa sakit dan mual. Namun kali ini, semakin lama ia berlatih, tubuhnya justru terasa semakin ringan dan segar. Kulitnya yang kasar mulai tampak lebih halus, dan luka di sudut bibirnya sudah kering sempurna.
Saat ia membuka mata, hari sudah mulai gelap. Ia mengepalkan tangannya—ia merasakan kekuatan yang jauh lebih berat dan kokoh dari sebelumnya, seolah setiap gerakannya kini ditopang oleh tanah itu sendiri.
"Ini berhasil!" serunya pelan, matanya berbinar penuh harap.
Namun ia sadar betul hal ini tidak boleh diketahui orang lain. Jika desa tahu ia memegang benda aneh dan berlatih teknik terlarang, mereka pasti akan menganggapnya pembawa sial dan membakarnya bersama gubuk ini. Ia menyembunyikan batu hitam itu di lantai bawah tanah yang ia gali sendiri di sudut ruangan, lalu menutupnya kembali dengan papan kayu.
Keesokan harinya, Lin Mo tetap bekerja seperti biasa. Ia mengangkut air dari sungai sejauh dua li ke rumah-rumah warga, memotong kayu untuk dapur desa, dan membantu memindahkan batu untuk pembangunan tembok baru. Bedanya kini: setiap kali ia bekerja, ia diam-diam menjalankan teknik pernapasan Akar.
Saat mengangkat ember air yang berat, ia tidak lagi merasa tulangnya terasa remuk. Saat berjalan jauh, napasnya tidak lagi tersengal. Bahkan saat ia tanpa sengaja menabrak batang pohon keras, bahunya hanya terasa sedikit kesemutan, tidak lagi memar berhari-hari.
Siang itu, saat ia sedang beristirahat di bawah pohon besar, Zhang Hao dan dua temannya lewat. Melihat Lin Mo yang duduk tenang tanpa keringat bercucuran padahal keranjang kayunya masih penuh, Zhang Hao langsung cemberut.
"Hei sampah! Kau malah bersantai di sini? Pekerjaanmu belum selesai!" bentaknya sambil menendang keranjang kayu itu lagi.
Kali ini Lin Mo tidak langsung menunduk. Ia menatap Zhang Hao tenang. "Jangan menendang barang orang lain. Itu tidak sopan."
Zhang Hao tertegun sejenak, lalu tertawa marah. "Berani kau menantangku? Sekarang kau cari mati!" Ia mengepalkan tangan, aliran energi api merah samar melilit kepalan tangannya—hasil latihan setahun yang membuatnya bangga. Ia langsung menerjang ke arah Lin Mo.
Biasanya Lin Mo hanya bisa memejamkan mata dan menahan pukulan. Namun kali ini, saat tinju itu hampir menyentuh wajahnya, ia secara naluriah sedikit menggeser tubuh, lalu mengangkat tangan kanannya perlahan.
Duk!
Suara tumpul terdengar. Kepalan tangan Zhang Hao menghantam telapak tangan Lin Mo.
Yang mengejutkan: bukannya Lin Mo terlempar, Zhang Hao justru mundur dua langkah sambil meringis kesakitan. Kepalan tangannya terasa seolah menghantam batu karang yang tertanam di tanah.
"Kau... apa yang kau lakukan?!" seru Zhang Hao kaget. Ia tidak percaya anak berinti kacau bisa menahan pukulannya tanpa bergerak sedikit pun.
"Hanya berdiri tegak," jawab Lin Mo singkat. Ia tidak ingin berkelahi, tapi ia juga tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak lagi tanpa alasan.
Dua teman Zhang Hao hendak ikut menyerang, tapi tiba-tiba terdengar suara panggilan dari kejauhan. Guru latihan desa sedang mencari mereka. Mereka terpaksa melotot dulu pada Lin Mo sebelum akhirnya berlari pergi.
Saat mereka menghilang, Lin Mo baru menghela napas panjang. Ia menatap telapak tangannya sendiri. Kekuatan ini masih sangat kecil—baru sekadar tahap Menanam Akar tingkat awal, seperti yang dijelaskan suara dalam batu itu. Tapi ia sudah bisa merasakan perbedaannya yang sangat jauh.
Ia tidak akan mengejar kecepatan atau kilau seperti orang lain. Ia akan tumbuh perlahan, menembus lapisan demi lapisan tanah yang keras, menyimpan setiap tetes kekuatan dengan kokoh. Suatu hari nanti, saat akarnya sudah cukup dalam, ia akan menjulang tinggi hingga tidak ada yang berani menatapnya dari bawah.
Sore itu, Lin Mo kembali ke gubuk dengan semangat baru. Ia tahu jalan di depannya masih sangat panjang dan penuh rintangan—sekte besar, aturan dunia, bahkan mungkin rahasia gelap yang menyembunyikan jalan kuno ini. Tapi ia tidak lagi takut.
Karena ia kini memegang kunci yang selama ribuan tahun terlupakan. Dan akar yang baru saja ia tanam, tidak akan pernah mudah dicabut.
Setelah kejadian kemarin, Lin Mo tidak lagi membuang waktu. Ia menyadari bahwa berada di tingkat Menanam Akar tingkat awal saja belum cukup untuk melindungi dirinya sendiri, apalagi mencari tahu kebenaran tentang orang tuanya. Malam itu, ia kembali merenung di dalam gubuk, membiarkan kesadarannya menyusup lebih dalam ke tanah di bawah lantai kayu.
Teknik Jalan Akar tidak mengajarkan untuk "menyerap energi dan menyimpannya", melainkan "menyatu dan menumbuhkan". Seperti akar pohon yang harus menembus tanah lunak, lalu tanah keras, hingga lapisan batu yang padat—begitu pula dengan tubuhnya. Setiap lapisan yang ditembus akan membuat tubuhnya menjadi lebih kokoh, lebih berat, dan lebih sulit diguncang.
"Untuk memperkuat akar, aku harus melatih tulang dan kulitku agar sekeras batu bumi," bisik Lin Mo sambil menatap telapak tangannya.
Keesokan paginya, ia tidak langsung bekerja seperti biasa. Ia membawa sekop kecil menuju tebing batu di pinggir desa. Di sana, ada dinding batu cadas yang keras dan tajam—tempat yang dihindari orang desa karena terlalu berbahaya.
Lin Mo meletakkan tangannya perlahan di permukaan batu yang dingin. Ia menyalurkan aliran kekuatan akar yang baru ia miliki, lalu membayangkan dirinya sebagai sebatang akar yang harus menembus dinding batu ini. Ia mulai menekan telapak tangannya ke batu, perlahan menambah tenaga.
Rasa sakit langsung menyergap. Kulitnya terasa seperti digosok kertas pasir, dan tulang di pergelangan tangannya berdenyut nyeri. Darah mulai menetes dari goresan halus, namun Lin Mo tidak berhenti. Ia terus menjalankan pernapasan akar, membiarkan kekuatan hangat menyembuhkan luka sekaligus mengeraskan kulitnya.
Satu jam berlalu. Tangan kanannya sudah bengkak dan berwarna merah gelap. Namun jika dilihat saksama, ada lapisan tipis seperti cahaya keabu-abuan yang menyelimuti kulitnya—tanda bahwa kulitnya mulai berubah menyerupai sifat batu.
"Masih kurang," gumamnya. "Akar tidak hanya menekan, tapi juga memeluk dan menyatu."
Ia mengubah cara latihannya. Alih-alih menekan dengan kasar, ia memeluk batu itu dengan kedua tangan, membiarkan kesadarannya menyebar ke setiap celah kecil di permukaan batu, merasakan serat-serat keras di dalamnya. Ia membiarkan tubuhnya meniru kestabilan batu itu—tidak goyah meski angin kencang menerpa, tidak rapuh meski ditimpa beban berat.
Siang berganti sore. Beberapa orang desa yang lewat hanya menggelengkan kepala melihat Lin Mo yang berdiri diam memeluk batu dengan wajah berkeringat dan tangan berdarah.
"Lihat anak itu, sudah gila karena frustasi!"
"Mengira bisa berlatih dengan batu? Buang-buang waktu saja!"
Lin Mo mendengarnya, tapi hatinya tenang. Ia tidak perlu mereka pahami. Yang penting jalannya sendiri benar.
Saat matahari hampir terbenam, akhirnya ia menarik tangannya. Tangan yang tadi bengkak kini sudah pulih, namun terasa berbeda—lebih padat, lebih berat, dan kulitnya mengeluarkan bunyi sedikit keras saat diketuk pelan.
"Sudah sampai Menanam Akar tingkat pertengahan," ucapnya lega.
Namun tantangan sesungguhnya datang keesokan harinya. Berita bahwa Lin Mo berani menahan pukulan Zhang Hao menyebar cepat, membuat Zhang Hao merasa sangat dipermalukan. Ia tidak membiarkan hal itu berlalu begitu saja.
Sore itu, saat Lin Mo sedang mengangkut batu untuk tembok desa, Zhang Hao datang bersama empat orang teman latihannya—semuanya sudah berada di tingkat Pelunasan Tubuh tingkat akhir.
"Hei Lin Mo! Kau pikir kau hebat hanya karena bisa menahan satu pukulan?" Zhang Hao menunjuk tumpukan batu besar di pinggir lapangan. "Kepala desa menyuruh kita mengangkut batu ini ke atas bukit. Tapi hari ini, kita main sedikit saja. Kalau kau bisa mengangkat batu itu dan membawanya sampai ke puncak bukit sebelum matahari terbenam, aku mengaku kau tidak lemah. Kalau tidak... kau harus berlutut dan meminta maaf padaku di depan semua orang!"
Batu yang ditunjuk itu tingginya setinggi orang dewasa, kasar dan berat—setidaknya ada lima ratus jin. Bahkan dua orang dewasa berotot pun akan kesulitan mengangkatnya.
Warga desa berkumpul menonton, berbisik-bisik.
"Itu mustahil! Bahkan ketua kelompok latihan pun sulit mengangkatnya!"
"Zhang Hao memang sengaja ingin mempermalukannya sampai habis!"
Lin Mo menatap batu itu, lalu menatap Zhang Hao. "Jika aku berhasil, jangan pernah lagi mengganggu pekerjaanku dan menghina orang lain hanya karena bakat mereka."
"Baik! Asal kau bisa mengangkatnya!" Zhang Hao tertawa sinis, yakin Lin Mo pasti gagal.
Lin Mo berjalan mendekati batu besar itu. Ia tidak langsung memaksakan tenaga. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di permukaan batu, memejamkan mata sejenak. Ia menyebarkan kesadarannya ke bawah tanah, merasakan cengkeraman akar yang tak terlihat mengait kuat ke dalam bumi. Lalu perlahan, ia menyalurkan kekuatan dari telapak kaki naik ke seluruh tubuh, mengalirkan tenaga yang berat dan kokoh ke lengannya.
Grrr... duk!
Batu besar itu bergeser sedikit, lalu perlahan terangkat setinggi lutut. Lin Mo mengerutkan kening, keringat menetes deras, tapi kakinya tidak bergeser satu inci pun ke belakang. Ia berdiri tegak seolah tanah di bawah kakinya dan batu di tangannya kini menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Keheningan menyelimuti lapangan. Mulut Zhang Hao ternganga lebar, tak percaya apa yang dilihatnya. Warga desa yang tadi meremehkan kini membelalakkan mata takjub.
Lin Mo tidak berhenti di situ. Ia melangkah perlahan menanjak ke bukit. Setiap langkah membuat tanah di bawah kakinya sedikit amblas, namun ia tetap berjalan mantap, seolah ia bukan sedang membawa batu, melainkan batu itu sendiri yang berjalan bersamanya.
Ia tidak berjalan cepat. Ia berjalan seperti pohon tua yang tumbuh perlahan namun pasti—tak tergoyahkan.
Saat matahari menyentuh garis cakrawala, Lin Mo akhirnya menurunkan batu itu di puncak bukit dengan lembut. Ia berdiri tegak, menarik napas panjang, lalu menoleh ke arah bawah.
Zhang Hao dan teman-temannya sudah hilang entah ke mana. Mereka tidak berani menunggu lagi.
Lin Mo tersenyum tipis. Ia tahu ini baru permulaan. Batu lima ratus jin hanyalah batu kecil di jalannya yang panjang. Di depan sana masih ada gunung batu yang jauh lebih berat, jauh lebih keras. Tapi selama akarnya terus menembus ke dalam, tidak ada yang terlalu berat untuk ia pikul.
Malam itu, saat ia kembali ke gubuk, batu hitam di bawah lantai berdenyut lebih terang dari sebelumnya, seolah memuji kemajuannya.
"Akar yang kokoh mulai terbentuk," suara samar itu terdengar lembut. "Selanjutnya... menembus lapisan tanah keras."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!