Bab 01 - Darah di Kebun Jamu
Malam turun lebih cepat di lereng Cijeruk.
Naya Prameswari menahan napas saat mencabut akar temu hitam dari tanah basah. Tangan kirinya memegang senter kecil, tangan kanannya kotor oleh lumpur. Angin membawa bau daun pisang, tanah, dan asap kayu dari rumah-rumah jauh di bawah.
"Sedikit lagi," gumamnya.
Nenek Sari butuh akar itu untuk ramuan besok pagi. Seorang ibu muda di kampung sebelah baru melahirkan, badannya panas sejak sore, dan Nenek Sari bilang jamu tidak boleh telat.
Naya memasukkan akar itu ke keranjang bambu. Ia hendak berdiri ketika cahaya senternya mengenai sesuatu di antara rumput.
Merah gelap.
Ia membeku.
Darah.
Jejaknya tidak banyak, tapi jelas terseret ke arah kebun cengkeh tua. Di sampingnya ada bekas sepatu besar, tidak seperti sandal warga kampung. Naya menelan ludah. Jantungnya langsung berdetak lebih keras.
"Ya Allah..."
Ia ingin pulang. Seharusnya ia pulang. Nenek pasti sudah menunggu di dapur sambil memanaskan air.
Namun jejak darah itu terlalu panjang untuk diabaikan.
Naya mengangkat senternya dan mengikuti jejak itu pelan-pelan. Ranting kering patah di bawah kakinya. Di kejauhan anjing menggonggong, lalu suara itu hilang ditelan angin.
Di bawah pohon cengkeh, ia menemukannya.
Seorang pria tergeletak di tanah. Tubuhnya tinggi, bahunya lebar, pakaiannya hitam seperti seragam taktis, dan wajahnya penuh coretan tanah serta minyak gelap. Ada luka di sisi perutnya. Napasnya berat, putus-putus, seperti orang yang sedang melawan sesuatu dari dalam tubuh sendiri.
Naya berjongkok.
"Pak? Pak, dengar saya?"
Tidak ada jawaban.
Ia menyentuh leher pria itu. Panas. Terlalu panas.
"Bapak harus ke puskesmas," katanya, lebih kepada dirinya sendiri. "Saya panggil bantuan."
Naya merogoh ponsel di saku jaket. Tidak ada sinyal.
Ia mengumpat pelan. Di titik ini memang sering hilang sinyal. Kalau harus turun untuk memanggil orang, pria itu bisa kehabisan darah.
Naya menggigit bibir. Ia bukan dokter. Ia hanya perempuan kampung yang membantu nenek membuat jamu dan kadang menemani warga ke puskesmas. Tapi ia tahu luka seperti itu tidak boleh dibiarkan.
Ia melepas selendang dari lehernya, menekan luka pria itu, lalu mengikatnya sekuat mungkin.
Pria itu mengerang.
"Sakit, ya? Tahan sebentar. Saya bantu turun."
Naya menyelipkan tangan pria itu ke bahunya. Tubuhnya hampir jatuh tertarik berat badan pria itu, tetapi ia memaksa berdiri.
Baru satu langkah, pria itu tiba-tiba membuka mata.
Mata itu gelap, tajam, tapi kosong.
Naya belum sempat berkata apa-apa ketika lengannya dicengkeram. Dalam satu gerakan kasar, tubuhnya terempas ke tanah. Keranjangnya terguling. Akar jamu berhamburan.
"Pak! Sadar!" Naya panik. "Saya mau menolong!"
Pria itu menatapnya seperti tidak mengenal manusia. Napasnya makin berat. Tangannya gemetar, tapi cengkeramannya kuat sekali. Naya mencoba mendorong bahunya.
"Lepas! Pak, lepaskan saya!"
Pria itu menunduk. Suaranya serak, hampir seperti orang tersiksa.
"Maaf..."
Naya membeku.
"Saya... tidak bisa..."
"Tidak bisa apa? Pak, lihat saya! Saya bukan musuh!"
Setelah itu, malam pecah.
Naya hanya mengingat potongan-potongan: tanah dingin di punggungnya, senter yang jatuh menyorot dedaunan, bau darah, napas asing, dan suaranya sendiri yang habis karena berteriak. Ia berusaha mendorong, mencakar, memukul. Pria itu seperti sedang bertarung dengan racun di tubuhnya, tapi tubuh Naya yang menjadi korban.
Ketika semuanya berhenti, langit di atas pohon sudah tidak lagi hitam pekat.
Naya duduk dengan tubuh gemetar. Jaketnya robek. Lututnya lecet. Pria itu pingsan lagi di sampingnya, wajahnya pucat, seolah tidak tahu apa yang baru ia hancurkan.
Air mata Naya jatuh tanpa suara.
Ia menampar pria itu sekali.
"Saya menolong kamu," bisiknya. "Saya menolong kamu..."
Pria itu tidak bergerak.
Naya ingin mengambil batu dan memukul kepalanya. Ia ingin berteriak sampai seluruh kampung bangun. Ia ingin membuat pria itu merasakan takut yang sama.
Namun dari kejauhan terdengar suara mesin.
Bukan motor kampung. Banyak. Berat.
Naya tersentak. Dengan sisa tenaga, ia merapikan pakaiannya sebisanya, mengambil keranjang yang sudah hampir kosong, lalu berlari menuruni jalan setapak. Kakinya sakit setiap menginjak tanah, tapi ia tidak berhenti.
Sepuluh menit kemudian, beberapa mobil hitam berhenti di dekat kebun.
Pria-pria bersenjata turun cepat. Salah satu dari mereka berlutut di samping pria yang pingsan.
"Pak Arkan! Pak Arkan, dengar saya!"
"Suntik antidot sekarang!"
"Ada jejak orang lain."
Pria yang dipanggil Arkan itu mengerang. Matanya terbuka pelan. Pandangannya kacau, lalu perlahan fokus pada tanah kosong di sampingnya.
Ada selendang lusuh penuh darah. Di ujungnya tersangkut gelang tali kecil, mungkin milik perempuan.
Arkan Wiratama mengangkatnya dengan tangan gemetar.
"Siapa..." Suaranya nyaris hilang.
Anak buahnya saling pandang.
"Kami temukan jejak kaki perempuan, Pak. Sepertinya dia turun ke kampung."
Arkan menutup mata. Satu kilatan ingatan menusuk kepalanya: wajah seorang gadis, mata basah penuh takut, suara yang memohon agar ia sadar.
Dadanya seperti dihantam.
"Cari dia."
"Pak?"
Arkan menahan sakit, tetapi suaranya berubah dingin.
"Tutup semua jalan turun. Cari perempuan itu. Sekarang."
Sementara itu, Naya sampai di rumah Nenek Sari dengan napas hampir putus.
Lampu rumah sudah menyala.
Di teras, ada mobil putih mengilap yang tidak pernah ia lihat. Sepatu mahal berjejer rapi di dekat pintu. Dari ruang tengah terdengar suara laki-laki asing.
Naya berhenti di balik pohon mangga.
Nenek Sari tampak duduk di kursi bambu, wajahnya tegang. Di depannya seorang pria paruh baya memakai batik rapi, memegang map cokelat.
"Naya harus ikut malam ini juga," kata pria itu. "Pak Pradipta dan Bu Mira sudah menunggu di Jakarta."
Naya mencengkeram batang pohon.
Pak Pradipta?
Bu Mira?
Nama itu pernah Nenek sebut sekali, bertahun-tahun lalu, lalu tidak pernah lagi.
Orang tua kandungnya.
Nenek Sari melihat Naya di ambang pintu. Wajah tua itu langsung berubah, antara lega dan takut.
"Naya..."
Pria berbatik itu menoleh. Matanya menilai Naya dari ujung kepala sampai kaki. Rambut berantakan, pipi pucat, pakaian kusut, bibir pecah.
Alisnya naik sedikit.
"Kamu Naya?"
Naya mengangguk, suaranya belum kembali.
Nenek Sari berusaha tersenyum. "Nak, ini Pak Damar. Dia utusan keluarga Pradipta. Katanya... katanya ayah dan ibumu ingin menjemputmu pulang."
Pulang.
Kata itu seharusnya hangat.
Namun malam itu, kata pulang terdengar seperti pintu yang terbuka ke lubang gelap.
Pak Damar menutup mapnya.
"Kita berangkat sekarang. Jangan bawa terlalu banyak barang. Di Jakarta semua sudah disiapkan."
Naya menatap Nenek Sari. "Nek..."
Nenek mendekat, menggenggam tangannya. Mata Nenek berkaca-kaca.
"Pergilah dulu, Nak. Kalau benar mereka orang tuamu, kamu berhak tahu."
Naya ingin berkata ia tidak sanggup pergi malam ini. Tubuhnya sakit. Kepalanya berisik. Ada darah yang belum hilang dari kulitnya.
Namun Pak Damar sudah menatap jam.
"Lebih cepat lebih baik. Besok pagi urusannya harus selesai."
Naya menoleh tajam. "Urusan apa?"
Pak Damar tersenyum tipis. "Urusan keluarga."
Di luar, jauh di jalan utama, suara mobil-mobil hitam terdengar mendekat.
Pak Damar juga mendengarnya. Wajahnya berubah sedikit.
"Kita harus pergi sekarang."
Naya tidak tahu malam itu mana yang lebih menakutkan: pria asing yang sedang mencarinya dari kebun, atau keluarga kandung yang tiba-tiba ingin membawanya pergi setelah delapan belas tahun.
Namun saat ia naik ke mobil putih itu, ia sempat melihat Nenek Sari berdiri di teras, memegang tas kecil berisi pakaian Naya.
Nenek menangis.
Dan untuk pertama kalinya, Naya merasa ia sedang dibawa pergi bukan untuk ditemukan, melainkan untuk disembunyikan.
Mobil itu melaju sebelum Nenek sempat mendekat.
Naya menempelkan telapak tangan ke kaca. "Nek!"
Nenek Sari mengejar dua langkah, lalu berhenti karena lututnya tidak kuat. Lampu mobil menelan tubuh kecil perempuan tua itu sampai hanya bayangannya yang tersisa.
Pak Damar duduk di depan, sibuk menelepon seseorang.
"Anaknya sudah ikut," katanya pelan. "Iya, sebelum orang Wiratama datang."
Naya menatap punggungnya.
Wiratama.
Nama itu asing, tetapi malam ini sudah dua kali muncul seperti ancaman.
"Siapa yang mencari saya?" tanya Naya.
Pak Damar menutup telepon dan tersenyum tanpa menoleh.
"Tidak penting. Mulai sekarang, yang penting cuma keluarga Pradipta."
Naya menoleh ke jalan gelap.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, kata keluarga terdengar seperti pintu penjara.
Bab 02 - Anak yang Dipulangkan untuk Dikorbankan
Rumah keluarga Pradipta berdiri di Menteng, besar dan dingin.
Naya turun dari mobil saat langit Jakarta mulai pucat. Pagar hitam terbuka tanpa suara. Halaman rumah itu terlalu rapi, rumputnya seperti dipotong dengan penggaris, lampu taman masih menyala meski pagi hampir datang.
Ia memeluk tas kecil pemberian Nenek Sari.
Pak Damar tidak menunggunya kagum. Ia berjalan cepat melewati teras, lalu membuka pintu utama.
"Masuk."
Ruang tamu sudah penuh orang.
Seorang pria berusia lima puluhan duduk di sofa tengah. Wajahnya tegas, rambutnya tersisir rapi. Di sebelahnya seorang wanita anggun memegang tasbih kecil, tetapi jari-jarinya tidak bergerak seperti orang berzikir. Ia hanya meremas benda itu sampai buku jarinya memutih.
Di sofa lain duduk seorang laki-laki muda dan seorang gadis cantik bergaun krem.
Gadis itu menatap Naya sebentar, lalu cepat menunduk. Matanya merah, tapi Naya tidak yakin ia habis menangis atau sengaja dibuat begitu.
Pak Damar berdeham.
"Pak Surya, Bu Mira. Naya sudah datang."
Tidak ada yang berdiri.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada kata "anak Mama" atau "akhirnya kamu pulang".
Wanita itu, Bu Mira, menatap Naya dari kepala sampai kaki. Pandangannya berhenti pada lengan Naya yang lecet, lalu pada kerah jaket yang robek.
Wajahnya mengeras.
"Kamu Naya?"
Naya mengangguk pelan. Suaranya masih berat. "Iya."
Ia ingin memanggil mereka Ayah dan Ibu, tetapi kata-kata itu tersangkut. Orang-orang di ruangan itu melihatnya seperti melihat masalah yang baru diantar.
Pak Surya meletakkan cangkir di meja.
"Duduk."
Naya duduk di kursi paling ujung.
Laki-laki muda di sofa menyilangkan tangan. Ia menatap Naya dengan terang-terangan tidak suka.
"Namaku Bima," katanya. "Kakakmu."
Naya menatapnya.
Kakak.
Ia punya kakak.
Namun nada Bima seperti sedang memperkenalkan hakim kepada terdakwa.
Gadis bergaun krem mengangkat wajah. Senyumnya rapuh.
"Aku Rania," katanya pelan. "Adikmu."
Naya hampir membalas senyum itu, sebelum Bu Mira memotong.
"Kita tidak punya banyak waktu."
Ruangan langsung senyap.
Pak Surya mengambil map hitam dari meja. Ia mendorongnya ke arah Naya.
"Tanda tangani ini."
Naya melihat map itu. "Apa ini?"
"Surat pernyataan."
"Pernyataan apa?"
Bima mendengus. "Jangan pura-pura bodoh. Kamu sudah diberitahu di jalan, kan?"
"Tidak," jawab Naya. "Pak Damar cuma bilang saya pulang karena kalian orang tua saya."
Kalimat itu membuat Bu Mira menutup mata. Entah karena malu atau kesal.
Rania tiba-tiba menangis.
"Papa, Mama, jangan. Kak Naya baru datang. Aku tidak mau Kak Naya membenciku."
Naya menoleh padanya.
Kak?
Kata itu terdengar manis, tetapi ruangan makin dingin setelah Rania mengucapkannya.
Pak Surya membuka map. Di dalamnya ada surat yang sudah diketik rapi, lengkap dengan nama Naya.
Naya membaca baris pertama.
Saya, Naya Prameswari, mengakui bahwa pada malam tanggal...
Matanya berhenti.
Kecelakaan.
Tabrak lari.
Korban luka berat.
Mobil keluarga Pradipta.
Naya mengangkat kepala. "Ini apa?"
Pak Surya menjawab datar, "Kamu akan mengaku bahwa kamu yang mengemudi mobil itu."
Darah Naya seperti turun ke kaki.
"Saya tidak mengemudi mobil apa pun."
"Mulai hari ini, iya."
Naya berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser keras.
"Saya bahkan baru sampai Jakarta! Saya tidak tahu kecelakaannya kapan, di mana, siapa korbannya!"
Bu Mira ikut berdiri. "Jaga suaramu."
"Kenapa saya harus jaga suara kalau kalian meminta saya mengaku kejahatan yang tidak saya lakukan?"
Bima melangkah maju. "Karena kamu bagian dari keluarga ini."
Naya tertawa sekali, pendek dan hambar.
"Baru lima menit kalian mengakui saya keluarga, langsung menyuruh saya masuk penjara?"
Wajah Bu Mira memucat, tetapi bukan karena bersalah. Ia seperti takut kata itu terdengar oleh pelayan.
Rania menangis makin keras.
"Kak, aku mohon. Aku benar-benar tidak sengaja. Aku cuma panik. Aku tidak punya SIM waktu itu, dan kalau polisi tahu aku yang menyetir, hidupku selesai. Aku baru mau lamaran, Kak. Keluarga Wiratama tidak akan menerimaku kalau..."
Ia berhenti, seolah sadar terlalu banyak bicara.
Naya menatapnya. "Jadi kamu yang menabrak orang?"
Rania menggigit bibir.
Bu Mira langsung memeluk Rania. "Dia masih muda. Dia ketakutan."
"Saya juga masih muda," kata Naya pelan.
Tidak ada yang menjawab.
Kalimat itu jatuh ke lantai seperti barang murah yang tidak ingin diambil siapa pun.
Pak Surya membuka suara lagi.
"Dengar. Kami tidak akan membiarkanmu begitu saja. Pengacara kami akan mengurus semuanya. Kamu mengaku, kasus selesai cepat. Hukuman bisa ringan. Setelah keluar, kami biayai hidupmu. Nenek Sari juga akan kami rawat."
Naya menegang.
"Jangan bawa Nenek."
"Kamu sayang dia, kan?" Pak Surya menatapnya tanpa berkedip. "Rumahnya berdiri di tanah tanpa sertifikat lengkap. Biaya obatnya juga tidak kecil. Kami bisa membantu."
"Itu ancaman?"
"Itu pilihan."
Naya menatap satu per satu orang di ruangan itu.
Ayah kandungnya bicara seperti pebisnis.
Ibu kandungnya memeluk anak lain.
Kakaknya berdiri seperti penjaga.
Adiknya menangis karena takut kehilangan masa depan yang dibangun dari hidup orang lain.
Naya meremas tasnya.
"Saya tidak akan tanda tangan."
Tamparan Bu Mira datang begitu cepat sampai Naya tidak sempat menghindar.
Pipi Naya panas. Tubuhnya miring, tetapi ia tidak jatuh.
Bu Mira menatapnya dengan mata merah.
"Kamu pikir kamu siapa? Kamu dibesarkan orang kampung, tidak punya pendidikan bagus, tidak punya nama. Rania punya masa depan. Dia akan menikah dengan Arkan Wiratama. Dia bisa menyelamatkan keluarga ini."
Naya menahan pipinya.
"Lalu saya apa?"
Bu Mira membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Bima menjawab untuknya.
"Kamu darah Pradipta. Saat keluarga membutuhkanmu, kamu harus membantu."
Naya mengangguk pelan. "Membantu dengan masuk penjara."
Rania terisak. "Kak, aku janji akan membalas. Aku akan sering menjenguk. Aku akan..."
"Diam," kata Naya.
Tangis Rania berhenti sejenak.
Untuk pertama kalinya, mata Naya tidak lagi bingung. Ia lelah, sakit, dan tubuhnya masih membawa luka semalam. Tapi di bawah semua itu ada sesuatu yang mulai mengeras.
"Saya tidak akan membayar hidupmu dengan hidup saya."
Pintu rumah tiba-tiba terbuka.
Dua polisi masuk bersama seorang pria berjas. Pak Damar mengikuti di belakang mereka dengan wajah kosong.
"Naya Prameswari?" tanya salah satu polisi.
Naya menoleh.
Rania menjerit kecil dan memeluk Bu Mira.
Pria berjas itu menunjukkan map.
"Anda dilaporkan sebagai pengemudi dalam kasus tabrak lari di Kemang tadi malam. Kami perlu membawa Anda untuk pemeriksaan."
Naya menatap Pak Surya.
Pria itu tidak kaget.
Bu Mira menunduk.
Bima membuang muka.
Rania menangis lagi, kali ini lebih keras. "Kak Naya, maaf. Aku tidak tahu akan jadi begini..."
Naya tiba-tiba mengerti.
Surat tadi bukan permintaan.
Itu hanya formalitas.
Mereka sudah mengatur semuanya sebelum ia datang.
Polisi mendekat. Tangan Naya diborgol. Besi dingin menempel pada kulitnya.
Di saat yang sama, dari pintu samping muncul seorang pria tua berpakaian rapi. Ia bukan bagian dari polisi. Pak Damar langsung menunduk hormat.
"Maaf, Pak Surya. Saya dari keluarga Wiratama. Tuan muda kami meninggalkan cincin ini kepada wanita yang menolongnya semalam. Kami mendapat kabar putri Pradipta ada di rumah."
Naya menoleh tajam.
Cincin?
Rania, yang tadi menangis, melihat sesuatu di dekat kaki Naya. Sebuah cincin perak jatuh dari saku jaket robek Naya, mungkin tersangkut sejak di kebun.
Mata Rania berubah.
Sebelum Naya sempat bergerak, Rania mengambil cincin itu.
Pria dari keluarga Wiratama menatapnya.
"Anda yang bersama Pak Arkan semalam?"
Rania menggenggam cincin itu erat.
Air matanya masih basah, tetapi senyumnya mulai muncul.
"Iya," bisiknya. "Saya orangnya."
Naya ingin berteriak.
Namun polisi sudah menariknya keluar.
Di ambang pintu, ia melihat Rania berdiri di tengah ruang tamu, memegang cincin yang bukan miliknya, menerima tatapan hormat yang seharusnya tidak pernah ia dapatkan.
Saat mobil polisi menutup, Naya baru menyadari satu hal.
Malam tadi merenggut tubuhnya.
Pagi ini keluarganya merenggut hidupnya.
Di dalam mobil, seorang polisi muda sempat menatapnya lewat kaca spion.
Tatapan itu bukan iba. Lebih seperti ragu.
Naya ingin memanfaatkan keraguan itu.
"Saya tidak menyetir," katanya cepat. "Tolong cek kamera jalan. Tolong cek mobilnya."
Polisi di sampingnya menghela napas. "Nanti bicara di kantor."
"Kalau nanti semua sudah diatur?"
Tidak ada yang menjawab.
Naya menoleh ke rumah Pradipta yang semakin jauh.
Di teras, Rania masih berdiri memegang cincin itu.
Naya tahu sejak detik itu, ia bukan hanya harus membuktikan dirinya tidak bersalah.
Ia juga harus merebut kembali malam yang dicuri adiknya.
Bab 03 - Surat Pengakuan
Ruang pemeriksaan itu terlalu terang.
Naya duduk di kursi besi dengan tangan gemetar di atas meja. Di depannya ada dua penyidik, seorang pengacara keluarga Pradipta, dan kertas pengakuan yang sejak tadi didorong mendekat seperti jebakan.
"Saya sudah bilang," suara Naya serak, "saya tidak mengemudi mobil itu."
Pengacara bernama Pak Hendra tersenyum sabar. Senyum orang yang sudah dibayar mahal untuk membuat kebohongan terdengar seperti nasihat.
"Naya, kamu lelah. Kamu baru mengalami malam yang berat. Tidak apa-apa kalau ingatanmu kacau."
"Ingatan saya tidak kacau."
Penyidik di sebelah kanan mengetuk meja dengan pulpen.
"Saksi melihat mobil berhenti dekat rumah Pradipta. Data kendaraan mengarah ke keluarga itu. Keluarga mengatakan kamu menggunakan mobil tanpa izin."
"Saya baru sampai rumah itu pagi ini."
"Tapi kamu tidak punya saksi."
Naya terdiam.
Ia punya Nenek Sari. Tapi Nenek jauh di kampung, tidak tahu apa pun tentang mobil Pradipta. Ia punya Pak Damar yang menjemputnya, tapi Pak Damar bekerja untuk keluarga itu. Ia punya jejak darah dan pria di kebun, tetapi menyebut itu berarti membuka luka yang belum sanggup ia sentuh.
Pak Hendra menunduk sedikit.
"Kamu tanda tangan dulu. Nanti di persidangan kita ajukan keringanan. Pak Surya tidak akan lepas tangan."
"Dia sudah lepas tangan ketika polisi masuk."
Pak Hendra menghela napas.
"Kamu harus realistis. Kalau kamu melawan, kasus bisa jadi lebih berat. Mengaku sekarang membuat semuanya lebih sederhana."
"Untuk siapa?"
Tidak ada yang menjawab.
Pintu terbuka.
Bu Mira masuk bersama Rania. Rania memakai kerudung warna pastel, wajahnya pucat, matanya merah. Ia tampak seperti korban. Naya hampir tertawa melihatnya.
Bu Mira duduk di samping Pak Hendra.
"Naya, Mama mohon."
Mama.
Kata itu muncul terlalu terlambat dan terlalu murah.
Naya menatap wanita itu. "Jangan panggil diri Anda Mama kalau yang Anda minta adalah saya masuk penjara."
Bu Mira tersentak. Rania langsung menangis.
"Kak, aku salah. Aku tahu aku salah. Tapi aku takut sekali. Kalau keluarga Wiratama tahu, semua selesai. Papa juga bilang perusahaan sedang goyah. Kalau lamaran batal, bank akan menarik fasilitas kredit. Ratusan karyawan bisa kena dampak."
Naya memandangnya kosong.
"Jadi sekarang saya juga harus memikirkan karyawan kalian?"
"Bukan begitu..."
"Lalu bagaimana?"
Rania menggigit bibir, menatap Bu Mira seolah minta bantuan.
Bu Mira mengambil alih. Suaranya rendah, penuh tekanan.
"Kamu pikir hidup di luar sana mudah? Kamu pikir setelah menolak kami, kamu bisa kembali ke kampung dan semuanya baik-baik saja? Nenek Sari sudah tua. Biaya rumah sakitnya nanti siapa yang tanggung? Kamu?"
Dada Naya sesak.
"Jangan pakai Nenek untuk menekan saya."
"Mama tidak menekanmu. Mama hanya mengingatkan. Keluarga itu saling menolong."
"Keluarga tidak mengorbankan anak yang baru pulang."
Bu Mira menatapnya lama. Untuk sesaat, Naya berharap ada retak di wajah wanita itu. Sedikit saja. Rasa bersalah, mungkin. Penyesalan.
Yang muncul hanya lelah.
"Naya, Rania dibesarkan bersama kami sejak bayi. Dia lemah. Dia tidak sanggup hidup di tempat seperti penjara."
Naya tertawa pelan.
"Lalu saya sanggup?"
Bu Mira tidak menjawab.
Jawaban itu lebih jelas daripada kata-kata.
Naya menunduk. Matanya panas, tapi air matanya tidak jatuh. Ia sudah menangis cukup banyak semalam. Pagi ini air mata terasa seperti penghinaan.
Pak Hendra mendorong pulpen.
"Tanda tangan, Naya. Setelah ini kamu akan ditahan sementara. Kami akan urus supaya hukumannya seringan mungkin."
"Berapa lama?"
Pak Hendra melirik Bu Mira.
"Sulit dipastikan."
"Berapa lama?"
Bu Mira akhirnya menjawab. "Mungkin... beberapa tahun."
Kursi Naya berderit karena tangannya mencengkeram sisi meja.
Beberapa tahun.
Nenek Sari bisa meninggal dalam beberapa tahun.
Hidupnya bisa habis dalam beberapa tahun.
Rania bisa menikah, punya rumah, punya nama, memakai cincin yang bukan miliknya, sementara Naya membusuk karena dosa yang tidak ia lakukan.
"Saya mau menelepon Nenek."
Bu Mira langsung tegang. "Untuk apa?"
"Saya mau bicara dengan Nenek."
Pak Hendra menggeleng. "Nanti. Setelah proses administrasi."
"Tidak. Sekarang."
Penyidik yang sejak tadi diam akhirnya berkata, "Tersangka berhak menghubungi keluarga. Tapi waktunya terbatas."
Bu Mira tampak tidak senang, tetapi tidak bisa melawan di depan penyidik.
Ponsel diberikan. Naya menekan nomor rumah tetangga yang biasa dipakai untuk memanggil Nenek. Tangannya gemetar begitu mendengar suara Nenek Sari di ujung sana.
"Nek..."
"Naya? Nak, kamu sudah sampai? Kenapa suaramu begitu?"
Naya menutup mata.
Ia ingin bilang semuanya. Ia ingin bilang ia dijebak. Ia ingin bilang semalam ada pria yang menghancurkannya. Ia ingin bilang keluarga kandungnya tidak datang untuk mencintai, tetapi untuk mengubur.
Namun Bu Mira menatapnya.
Rania menatapnya.
Pak Hendra menatap kertas pengakuan.
Dan di kepala Naya, suara Bu Mira terus berputar: Nenek Sari sudah tua. Biaya rumah sakitnya nanti siapa yang tanggung?
"Nek," Naya memaksa suaranya stabil, "kalau nanti saya jarang pulang, Nenek jangan khawatir."
"Kenapa? Kamu kerja di Jakarta?"
Naya menggigit bibir sampai terasa asin.
"Iya. Saya... saya mungkin ikut kursus juga. Lama."
Nenek Sari tertawa kecil, lega. "Alhamdulillah. Bagus, Nak. Nenek selalu bilang kamu anak pintar. Jangan takut di kota, ya. Kalau orang tuamu baik, hormati mereka."
Naya hampir pecah.
"Nek."
"Iya?"
"Kalau ada orang datang membawa uang atau obat, terima saja. Jangan tanya dari siapa."
"Naya, kamu kenapa?"
Penyidik memberi tanda waktu habis.
"Saya sayang Nenek."
"Nenek juga sayang kamu, Nak. Naya, jawab dulu, kamu kenapa?"
Telepon diputus.
Naya menatap layar mati itu lama.
Lalu ia mengambil pulpen.
Rania menahan napas.
Bu Mira memejamkan mata.
Pak Hendra tampak lega.
Naya menandatangani surat itu dengan tangan yang terasa bukan miliknya.
Saat ujung pulpen selesai menulis namanya, sesuatu di dalam dirinya seperti putus. Bukan cinta kepada keluarga Pradipta, karena cinta itu belum pernah tumbuh. Yang putus adalah harapan kecil bahwa darah bisa memanggil darah.
Tidak.
Darah bisa menjual darah.
Setelah itu proses berjalan cepat. Penahanan. Berkas. Persidangan yang terasa seperti drama dengan akhir sudah ditulis. Pengacara membela secukupnya, saksi memberi keterangan rapi, rekaman CCTV entah bagaimana hilang di bagian paling penting.
Naya dijatuhi hukuman empat tahun.
Di ruang sidang, Bu Mira menangis dengan tisu mahal. Pak Surya menunduk. Bima tidak datang. Rania duduk di belakang memakai cincin Arkan di jari manisnya, wajahnya tertutup kerudung, seolah ia sedang mendoakan kakaknya.
Naya tidak menatap mereka lagi setelah vonis dibacakan.
Dua bulan setelah masuk lapas perempuan, tubuhnya mulai berubah.
Awalnya ia pikir itu karena stres. Ia sering mual, pusing, dan tidak bisa makan nasi lapas yang keras. Petugas klinik memberi obat lambung, tetapi mualnya tidak hilang.
Sampai suatu pagi, seorang dokter perempuan menatap hasil pemeriksaan dan menghela napas.
"Kamu hamil."
Naya menatap dokter itu seperti tidak mengerti bahasa manusia.
"Tidak mungkin."
Dokter melihat catatan. "Usia kandungan kira-kira sembilan minggu."
Sembilan minggu.
Kebun cengkeh.
Darah.
Tanah dingin.
Naya berlari ke toilet dan muntah sampai tidak ada lagi yang keluar.
Malam itu ia duduk di pojok sel, memegang perutnya yang masih rata.
Ia benci pria itu.
Ia benci tubuhnya.
Ia benci keluarga Pradipta.
Namun ketika telapak tangannya menempel di perut, ia tidak bisa membenci kehidupan kecil yang tidak meminta dilahirkan dari luka.
"Kamu salah apa?" bisiknya.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara pintu besi dan napas perempuan-perempuan lain yang tidur dalam gelap.
Beberapa bulan kemudian, saat hujan deras mengguyur Jakarta, Naya mengalami kontraksi lebih cepat dari jadwal. Ia dibawa ke rumah sakit rujukan dengan borgol di pergelangan tangan dan dua petugas mengawalnya.
Rasa sakit datang seperti gelombang yang tidak memberi jeda.
"Kuat, Bu Naya. Bayinya kembar," kata bidan.
Kembar.
Naya menangis.
Bukan karena bahagia saja, tapi karena takut. Bagaimana ia menjaga dua anak dari balik jeruji? Bagaimana ia memberi mereka nama, susu, pelukan, dunia yang tidak sekejam dunia yang ia kenal?
Tangis bayi pertama terdengar.
Laki-laki.
Naya mencoba mengangkat kepala. "Saya mau lihat..."
Tidak ada yang membawa bayi itu kepadanya.
Tangis kedua lebih lemah. Perempuan.
Naya meronta, tetapi tubuhnya terlalu lemah.
"Anak saya..."
Seseorang di sudut ruangan berbicara pelan dengan bidan. Ada amplop berpindah tangan. Ada nama Rania terdengar samar.
Naya berusaha membuka mata, tetapi pandangannya kabur.
"Jangan ambil..." suaranya hampir hilang. "Itu anak saya..."
Seorang perawat mendekat, wajahnya datar.
"Maaf. Kondisi bayi tidak baik."
"Saya mau lihat."
"Ibu istirahat dulu."
Jarum masuk ke lengannya.
Dunia perlahan menghitam.
Sebelum kesadarannya hilang, Naya mendengar tangis bayi laki-laki menjauh.
Dan suara perempuan yang sangat ia kenal berbisik, "Cepat. Jangan sampai dia sadar."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!