Byurrr
"ahh! uhuk uhuk uhuk!"
Aluna terkejut, air sedingin es mengguyur wajahnya tanpa ampun. dia terbatuk mengusap wajahnya yang sudah basah kuyup.
begitu pandangannya jelas, matanya langsung menangkap sosok itu. perempuan paruh baya, di hadapannya ibunya usia 48 tahun tapi wajahnya masih mulus tanpa keriput. terlalu cantik untuk seorang ibu yang harusnya sudah termakan umur. perempuan itu berdiri tegak dengan tatapan matanya menyala penuh kebencian ke anaknya sendiri.
"ibu" ucap Aluna lirih
PLAK!
dunia Aluna seolah berhenti berputar tamparan itu mendarat telak, membuat pipinya terasa panas. seperti disengat api.
Aluna terpaku. tangannya gemetar memegangi pipinya yang berdenyut nyeri. sebelum dia bisa mencerna apa yang terjadi suara ibunya sudah menggelegar di depan wajahnya sarat akan kemarahan
"enak ya kamu jam segini masih tidur Hah! ayah sama kakak-kakakmu udah nunggu sarapan. dan kamu malah masih asik tidur di sini, bangun nggak kamu! dan sana masak!" teriak Rani dengan napas memburu
"ahh maaf ibu. Aluna benar-benar minta maaf"
"simpan maafmu itu nanti, dan sana cepat turun dan siapin sarapan. buat kami kalo sampai kamu telat masaknya awas aja kamu" ujar Rani menujuk wajah Aluna dan berlalu dari kamar Aluna
tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi dan membuat keluarganya marah, Aluna pun lantas bangkit dari kasur. dengan pakaian dan rambut yang masih acak-acakan, dia menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.
setibanya di ruang makan menuju dapur, Aluna langsung disambut oleh pasang mata yang menatapnya. bukan tatapan lembut yang didapatkan, melainkan tatapan tajam, dingin, dan menusuk seolah menghujam tepat di dadanya
tidak ingin berlama-lama, Aluna segera menuju dapur dan memasak dengan gerakan cepat dan cekatan.
padahal mansion sebesar ini punya banyak pelayan, lalu kenapa justru dia. nyonya muda yang harus berdiri di depan kompor layaknya seorang babu.
saat semua sudah dihidangkan, Aluna yang hendak iku duduk. langkahnya langsung dicegat oleh ibunya dengan tatapan setajam pisau.
"berhenti! siapa suruh kamu duduk di sini Hah!"
"sudah berapa kali saya bilang sama kamu, kalo kamu itu tidak boleh duduk di sini. dan satu lagi kamu nggak boleh makan-makanan ini kecuali makanan sisa kami paham enggak kamu!" tekan Rani suaranya berubah menjadi dingin
"I-iya Bu, Aluna paham. maaf sudah melanggar aturan yang ibu beri" lirih Aluna
seketika ruangan menjadi hening, hanya suara dentingan sendok beradu yang terdengar.
keheningan itu langsung buyar, saat suara dingin dan tegas mulai terdengar.
"Aluna"
Aluna yang masih menunduk itu perlahan mengangkat kepalanya dan menatap wajah tegas ayahnya.
"I-iya ayah"
"malam ini kamu harus bersiap-siap, dandan yang cantik" tegas Hendra
sebelum Aluna sempat mencerna maksud ucapan ayahnya. Hendra sudah lebih dulu pergi, diikuti kakaknya dan ibunya.
meninggalkan Aluna sendiri, berperang dengan pikirannya sendiri.
.
Malamnya
sesuai yang dikatakan ayahnya, Aluna saat ini sedang bersiap dengan gaun cantik berwarna cream polos dan riasan tipis di wajahnya yang membuatnya makin cantik dan elegan.
setibanya di bawah, saat Aluna sedang menuruni anak tangga, dia tak sengaja melihat ruang tamu yang biasanya sepi mendadak ramai oleh kedatangan tamu. yang sepertinya sangat akrab dengan keluarganya.
Aluna juga melihat sosok lelaki berjas hitam dan berbadan kekar yang membelakanginya.
Hendra yang merasa diperhatikan menoleh ke arah Aluna yang masih berdiri di atas anak tangga.
"Darman, inilah anak yang aku bicarakan kemarin denganmu" ujar Hendra menunjuk ke arah Aluna
semua pasang mata langsung tertuju ke arah Aluna, kecuali lelaki berjas hitam yang masih tetap membelakangi Aluna tanpa ada niatan untuk menoleh sedikitpun.
"Aluna mari duduk di sini. apa kau tidak merasa cepek berdiri di situ terus?" tanya Karin menatap Aluna jengkel.
"ah, iya kak" jawab Aluna lalu duduk di samping Aurel yang sedang bermain ponsel.
"baiklah, karena semuanya sudah di sini. langsung saja ayah katakan. Aluna tujuan ayah hari ini ingin menjodohkanmu dengan anak teman ayah, pak darman" ujar Hendra dingin namun menuntut.
mendengar ayahnya ingin menjodohkannya, jantung Aluna seakan berhenti berdetak. tangannya dingin, telinganya berdenging, dan napasnya tercekat di tenggorokan. matanya mencari sosok ibu, meminta pertolongan yang dia tahu tidak akan datang.
kenapa aku? kenapa aku yang ayah jodohkan? kenapa bukan kakak saja batin Aluna kebingungan dalam pikirannya
melihat Aluna yang diam tanpa menjawab ucapan ayahnya, Aurel yang memang jengkel dengan Aluna menepuk pundak Aluna keras hingga terdengar suara rintihan kecil dari mulut Aluna.
"heh, setan! Lo ditanya sama ayah. loh, bukan malah diam!" bentak Aurel menatap Aluna tajam
"ah, maaf semuanya" ucap Aluna menunduk-nundukan kepalanya
"jadi bagaimana Aluna? apa kau mau menikah dengan anak paman?" tanya Darman lembut sambil tersenyum manis ke arah Aluna.
"dia pasti mau. bagaimana mungkin dia akan menolak ucapan ayahnya" ujar Rani dengan sedikit candaan.
"iya kan Aluna? kamu pasti mau kan?" ujar Rani menekan perkataannya dan memaksakan senyum karena Aluna
saudaranya, Karin dengan teganya mencubit pinggang rampingnya kuat-kuat. satu tarikan yang lumayan menyakitkan.
dan Karin mendekatkan wajahnya ke sisi telinga Aluna, lalu berbisik dengan suara dingin yang mengancam, membuat Aluna tidak bisa berkutik di tempatnya.
"ayo terima saja, Aluna. jangan coba-coba untuk menolaknya kalo kau berani menolak awas saja. aku jamin hidupmu nggak akan baik-baik saja setelah ini" bisik Karin, semakin kuat mencubit pinggang Aluna.
lagi-lagi Aluna hanya bisa menahan sakit di pinggangnya. tangannya gemetar di atas pangkuannya perlahan Aluna menganggukkan kepalanya.
"A-aku mau, paman" ucap Aluna, berusaha tersenyum untuk menyembunyikan rasa sakitnya.
"hahaha, akhirnya kita akan menjadi besan Hendra" tawa darman kencang sambil merangkul pundak Hendra.
"jadi untuk tanggal pernikahannya kapan akan dilaksanakan?" tanya Lea, istri darman yang sedari tadi memilih diam
"bagaimana kalo langsung besok saja" Aryan yang mendengarnya langsung membantah ucapan ayahnya
"tunggu ayah bukankah terlalu cepat kalau langsung besok?" tanya Aryan dingin dengan wajah datar
"tapi son, akan lebih baik kalo acaranya dilaksanakan secara cepat bukan?"
"tapi mas-" Lea yang ingin membenarkan ucapan anaknya langsung dipotong oleh darman tanpa sempat menyelesaikan ucapannya.
"kita tanya saja langsung ke Aluna. Aluna, bagaimana denganmu? apa kamu tidak keberatan kalo acaranya diadakan besok" tanya darman penuh harap ke arah Aluna
"tidak kok, paman aku ikut saja apa kata paman" ujar Aluna tersenyum manis
walau di dalam hatinya dia ingin menolak keputusan darman, tetapi karena ancaman dari kakaknya, dia mau tidak mau harus menyetujui keputusan darman.
yang ada di ruang tamu itu tersenyum akan keputusan Aluna. bahkan darman tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya atas jawaban dari Aluna.
tapi meskipun begitu, ada dua orang manusia yang tidak menyukai keputusan Aluna. mereka mengerutuk di dalam hati merasa kesal dengan jawaban Aluna bahkan Aryan langsung menatap tajam ke arah Aluna dengan wajah sedatar mungkin.
Hari ini adalah hari yang sangat berharga bagi Aluna, yaitu hari pernikahannya dengan seseorang yang baru kemarin dia kenal.
pernikahan ini jauh dari kata megah, tidak ada gaun pengantin yang berkilau atau tamu yang bersorak bahagia. hanya ada dua pihak keluarga yang saling duduk berhadapan dalam satu ruangan.
karena pernikahan ini dilaksanakan secara privat.
meski begitu, Aluna tidak bisa menyembunyikan rasa harunya. di dalam hati dia berkata aku harap pernikahan ini akan terus berujung pada kebahagiaan dan cinta. aku berharap tidak akan ada kesedihan atau air mata kecuali air mata kebahagiaan ujar Aluna dalam hati dengan penuh syukur.
tanpa dia sadari, ada beberapa orang yang tidak menyukai pernikahan ini. di sudut ruangan, seorang wanita paruh baya menatap tajam ke arah Aluna dengan tangan yang terkepal erat.
setelah ucapan janji suci pernikahan selesai diucapkan, kini mereka berada di dalam mobil milik Wijaya.
suasananya sungguh sangat canggung karena di dalam mobil hanya ada mereka berdua dan seorang sopir.
Aluna sesekali melirik ke arah Aryan yang sejak tadi terus fokus pada ponselnya.
lalu di mana darman dan Lea? mereka berada di dalam mobil yang berbeda, awalnya darman ingin ikut mengantar putranya dan menantunya.
Namun, tiba-tiba ada panggilan masuk mendesak dari kantornya yang memintanya untuk datang. mau tidak mau, dia harus pergi ditemani istrinya.
Aluna hanya mampu menundukkan kepalanya dan menggenggam tangannya di atas pangkuannya.
"Berhenti" ujar Aryan dingin
mendengar perintah dari tuannya, sopir itu pun menghentikan mobilnya di jalanan yang amat sepi kendaraan. bahkan orang-orang sangat jarang sekali lewat di sana.
"Turun" lanjut Aryan tanpa menoleh sekalipun dari ponselnya
Aluna langsung menoleh ke arah Aryan dengan kening berkerut bingung.
melihat Aluna yang tidak bergerak sedikitpun membuat Aryan menoleh ke arahnya dengan pandangan tajam dan berucap dingin namun sarat akan penolakan.
"Turun!"
Aluna menatap Aryan tanpa berkedip, tubuhnya kaku, tangannya mendadak dingin, dan dadanya terasa sempit.
mengapa Aryan menyuruhnya turun? bahkan di tempat yang sangat sunyi dan sepi?
dia ingin bertanya, tetapi menatap mata tajam Aryan membuatnya mengurungkan pertanyaan yang muncul secara tiba-tiba ini.
"apa kau tuli? sudah kukatakan turun!!" bentak Aryan menatap Aluna segit
jantung Aluna berdetak tak karuan, napasnya tertahan di tenggorokan. dia ingin menangis tetapi entah kenapa rasanya sangat susah.
Namun, Aluna tetap tidak bergerak. dia menundukkan kepalanya sambil meremas kedua tangannya dengan gelisah.
Amarah Aryan langsung memuncak. kesal, dengan gerakan cepat dia mencengkeram lengan Aluna kuat, membuat Aluna sampai tersentak. dengan gerakan kasar Aryan menarik tangan Aluna kuat-kuat dan menyeretnya keluar dari mobil.
lalu dengan entengnya, Aryan menghempaskan tubuh Aluna ke sisi jalan raya.
"Akhhh!" pekik Aluna saat tubuhnya menghantam aspal dengan keras.
setelah itu, Aryan langsung masuk ke dalam mobil dan menutup pintu dengan keras. meninggalkan suara yang sangat menusuk di dalam hatinya.
"ayo jalan" ujarnya ke sopirnya
"tapi, tuan nyonya ba-"
"aku bilang jalan! apa kau juga tuli, hah? kau mau aku pecat?!!" teriak Aryan sambil menatap nyalang ke sopirnya.
"A-ah, baik tuan" jawab sopir itu gugup karena tak ingin tuannya semakin marah dan memecatnya sopir itu pun melajukan mobilnya dan berlalu dari sana meninggalkan Aluna yang terisak sendirian di tengah jalan yang sepi.
"hiks... hiks... hiks..." akhirnya tangisan Aluna pun tumpah seketika, setelah menahan dengan susah payah untuk tidak keluar. nyatanya Aluna tidak bisa menahannya begitu lama.
Aluna menangis sesenggukan di tengah jalan, memeluk lututnya erat dan menyelusupkan wajahnya di tumpuan lututnya.
Di sisi lain.
Aryan tidak langsung pulang ke rumah, melainkan dia pergi ke kantornya setelah sekretarisnya menelpon karena mitra bisnisnya itu memutuskan untuk dirinya yang harus cepat hadir.
karena rapat kali ini sangatlah besar dan menguntungkan, akan sangat disayangkan kalau sampai rapatnya dibatalkan.
ceklek.
melihat pak Aryan yang sudah datang, seluruh karyawan yang ada di ruangan itu langsung berdiri dan memberi hormat kepadanya.
kecuali satu orang pria yang duduk di sisi kursinya dengan angkuhnya, satu kaki dinaikkan di atas pahanya dan pandangannya menatap lurus ke arah tembok bercak putih.
sudah dia akui pasti kalau dia adalah mitra bisnisnya, lalu Aryan mendekat ke arah pria itu dengan langkah tenang, namun tegas.
"kau terlambat satu menit, tuan Aryan" ujar pria itu dingin
"maafkan saya tuan, saya tadi ada sedikit masalah kecil yang harus saya kerjakan terlebih dahulu sebelum ke sini" jawab Aryan juga tak kalah dinginnya
"dan untuk itu, mari kita langsungkan saja rapatnya" lanjut Aryan lagi
dan rapat pun dimulai dengan tenang tanpa ada kendala sedikit pun.
.
sedangkan di sisi lain, Aluna berjalan tertatih-tatih di trotoar jalanan sambil memeluk kedua lengannya.
matanya sembap, sorot matanya meredup oleh tangisan. Aluna melangkah tanpa tujuan, diiringi senja yang kelabu. langit mendung menggantung berat, seperti menahan hujan yang ingin tumpah.
Aluna terus berjalan tanpa arah, dia tidak tahu harus pergi ke mana lagi. dia ingin pulang ke rumah ayahnya, tetapi ayahnya pasti akan sangat marah dan ibunya akan mengusirnya karena keluarganya dan dirinya tidak pernah akur.
ingin pergi ke rumah suaminya pun dia tidak tahu dia mana tempat tinggal suaminya.
Dia ingin menangis, tetapi berusaha menahan isak tangisannya. dia harus kuat. dia harus bisa melewati ini semua, kalau dia menyerah. siapa yang akan membantunya kecuali dirinya sendiri.
tiba-tiba, sebutir air hujan jatuh tepat di wajahnya, Aluna. mendongakkan kepalanya menatap Langit yang sudah mulai menggelap, diiringi suara petir yang menggelegar.
melihat itu, Aluna langsung berlari mencari tempat untuk berteduh.
hujan turun dengan deras, membasahi kota yang mulai gelap dan hanya menyisakan lampu jalan yang bersinar redup.
Aluna terus berlari, tanpa sadar ada sebuah batu besar menghalangi jalannya, kakinya tersandung dan dia terjatuh keras ke jalanan penuh kerikil.
"Akhhh!" pekik Aluna kesakitan sambil memejamkan mata, menahan rasa sakitnya.
akhirnya dia melihat sebuah pohon besar di tepi jalan. dengan kedua tangan yang tergores, dia berusaha berdiri dan berjalan ke arah pohon itu sambil memegang lututnya yang berdarah.
di bawah pohon besar itu, Aluna meringkuk kedinginan sambil mengusap kedua lengannya mencari kehangatan. walau dia tahu tidak akan berhasil, setidaknya dia tidak akan mati kedinginan di bawah pohon ini.
badannya sudah basah kuyup, wajahnya pucat, bibirnya bergetar kedinginan, matanya sayu. sesekali Aluna meringis kesakitan saat luka di lututnya terkena air hujan.
Aluna memejamkan matanya, mendongak ke arah langit dengan perasaan hancur. dia memikirkan nasibnya nanti. kalau sudah tinggal bersama suaminya, apakah dia akan diperlakukan lebih buruk dari ini?.
Aluna bersandar di batang pohon. rasa kantuk mulai menyerang kesadarannya. kelelahan akan semua kejadian ini membuatnya ingin sekejap melupakan semuanya. dan akhirnya, Aluna tertidur dalam keadaan basah kuyup.
PLAK!
"mas, kamu apa-apaan sih ngelakuin hal kayak gitu sama anakmu sendiri?" ujar Lea menatap suaminya tajam
"kamu tanya kenapa? lihat anakmu itu sudah berani ninggalin Aluna sendirian di jalanan Lea!!" bentak Darman tepat di wajah Lea
Lea membulatkan matanya, menatap suaminya tidak percaya. tidak menyangka suaminya yang paling dia cintai dan hormati berani membentak dirinya hanya karena seorang wanita yang dinikahi putranya.
Lea makin menguatkan keyakinannya untuk membenci wanita itu, karena dirinya wanita itu sudah berani membuat suaminya membentaknya.
darman sebenarnya juga tidak ingin membentak istrinya, tetapi karena emosinya terhadap putranya yang berani meninggalkan Aluna sendirian di jalanan Dengan kondisi cuaca seperti ini. membuatnya hilang kendali dan tanpa sengaja membentak istrinya itu.
"Aryan, ayah tidak mau tahu. kamu harus cari Aluna dan bawa dia ke sini" tegas darman
"nggak mau" ujar Aryan dingin menatap ayahnya datar.
"kamu berani menantang perintahku, hah!"
"cepat kamu keluar dan cari Aluna sampai dapat, kalau kamu nggak nemuin dia, kamu enggak boleh pulang!" teriak darman menggema di penjuru ruangan.
karena muak mendengar ocehan ayahnya, Aryan mengambil kunci mobilnya yang ada di atas meja dengan kasar, lalu pergi dengan rahang yang mengeras.
setelah kepergian Aryan, ruangan itu langsung mendadak hening. darman menoleh ke arah istrinya dan berusaha untuk mendekatinya.
Namun, baru dua langkah darman mendekat, Lea sudah lebih dulu pergi dari sana menuju kamarnya dengan perasaan yang terluka.
Darman yang melihat itu hanya mampu menghela napas panjang dan menatap punggung istrinya yang menjauh dari pandangannya.
hari sudah semakin larut, tetapi Aluna masih belum ditemukan. Aryan sedari tadi sudah menggerutu di dalam hati, kesal dan marah karena belum juga menemukan Aluna.
"Aishh, itu anak ke mana sih. capek gue nyariin Lo bangkek." gerutu Aryan kesal sembari memukul-mukul setir mobilnya.
sampai pada suatu tikungan, cahaya lampu mobil Aryan tidak sengaja menyoroti tubuh seorang wanita dengan kondisi berantakan yang tertidur di bawah pohon besar.
Aryan terus menatap tubuh itu, memastikan siapa orang yang sedang tidur di sana.
tepat saat mobil Aryan berhenti di depan wanita itu, mata Aryan langsung membulat lebar. ternyata wanita itu adalah Aluna, istrinya sendiri.
dengan kesal, Aryan keluar dari mobilnya dengan langkah tegas. mata tajamnya tidak pernah lepas dari tubuh Aluna. Aryan mendekat ke arah Aluna dan membangunkannya dengan cara kasar.
"heh! apa kau mau tidur di sini selamanya? hey, ayo bangun!" ujar Aryan menarik tangan Aluna dengan kasar.
Namun, Aluna sama sekali tidak bangun walaupun Aryan sudah menampar kedua pipinya dengan keras agar Aluna sadar, tetapi nyatanya Aluna tetap tidak bangun.
Aryan melihat jamnya sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Aryan akhirnya tidak punya pilihan lain selain menggendong tubuh Aluna.
tubuh Aluna sangat dingin dan lemas, mungkin karena terlalu lama berada di luar. dengan cuaca dingin seperti ini.
Aryan tidak langsung membawa Aluna masuk ke mobil, melainkan menatap wajah pucat Aluna yang sudah seperti mayat hidup.
cih, nyusahin banget batin Aryan, lalu berjalan menuju mobilnya.
di mansion
CEKLEK
darman yang masih berada di ruang tamu seketika langsung menoleh ke arah pintu yang terbuka.
dia melihat putranya, Aryan. yang sedang menggendong tubuh dingin Aluna. darman pun langsung menghampiri keduanya.
"astaga, nak. kenapa bisa begini? badan kamu juga dingin sekali" ucap darman khawatir melihat kondisi tubuh Aluna yang pucat.
"Aryan, cepat! apa lagi yang kamu tunggu? bawa dia ke kamarmu sekarang!"
Aryan ingin menolak permintaan ayahnya, tetapi melihat raut wajah khawatir ayahnya membuatnya hanya bisa menganggukkan kepalanya tanda setuju.
di kamar Aryan.
setibanya di kamar, Aryan langsung membaringkan tubuh Aluna di kasurnya. Aryan berdiam diri di samping Aluna, menatap wajah polos Aluna yang sedang tertidur dengan wajah pucat.
sampai acara melihatnya terhenti ketika terdengar ada suara ketukan dari balik pintu.
tok. tok. tok.
"siapa?" tanya Aryan dingin dari dalam kamar.
"I-ini tuan, kami tadi disuruh tuan darman untuk memberikan pakaian hangat untuk nyonya, tuan" jawab gugup salah satu maid dari ara luar kamar
ceklek
saat Aryan membuka pintu, wajah datarnya dan mata tajamnya langsung terlihat jelas di hadapan para maid, membuat para maid di sana ketakutan dan menundukkan kepala memberi penghormatan kepada tuannya.
tidak ingin berlama-lama lagi di sana Aryan pun langsung berlalu dari sana menuju ruangannya dengan langkah tenang namun tegas.
"huhuhu tuan Aryan sangat menyeramkan sekali" ujar salah satu maid ketakutan
"heh! mulutmu itu. nanti didengar sama tuan Aryan gimana? Lo mau di pecat hah!"
"iya gak mau lah, tapi bener loh tuan Aryan itu sangat menyeramkan"
"iya kau benar, kau lihat tadi matanya. huhuhu matanya itu loh kayak mau nusuk banget kalo dilihat"
"ya kan"
"shut! kalian mau masuk apa mau ngegosip hah? dikasih tugas malah ngegosip kalian!" marah salah satu maid yang sedari tadi memilih diam.
"Aya, emang kamu enggak takut apa sama tuan?"
"hehe, iya takut juga sih" ujar Aya cengengesan.
"yee, tadi Lo sok-sokan ngeceramahin kita. ternyata Lo sama aja kayak kita" julid Nisa ke arah Aya yang tersenyum-senyum seperti orang gila.
"udah-udah, ayo cepat masuk. nanti kalo lama bisa dimarahin kita" ujar Aini yang sudah lebih dulu masuk, lalu diikuti oleh kedua temannya yang lain.
"wah lihat! ini benaran istri tuan Aryan? cantik banget!" ucap Nisa sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya
"ya ampun, kok bisa sih istri secantik ini diperlakukan buruk oleh tuan Aryan?" bingung Nisa terhadap sikap tuanya yang tega memperlakukan istrinya seperti ini.
"ya mau gimana lagi. kalian lupa tuan kita itu kan sangat menyukai wanita lampir itu" ujar Aya sembari menggantikan pakaian nyonyanya, dibantu oleh Aini.
"iya, kenapa sih tuan Aryan, sangat suka sama itu nenek lampir? cantik aja kagak galak iya"
"ya namanya juga cinta, Nisa. kalo bukan cinta ngapain juga tuan kita suka sama lampir lampir itu" ucap Aini tanpa menoleh ke arah nisa
"udah ah, lebih baik kita kerjain ini tugas kita. gue mau tidur, capek banget gue hari ini"
lalu Aini, Aya dan Nisa pun menyelesaikan pekerjaannya. yaitu menggantikan baju nyonyanya yang sebelumnya sudah basah oleh hujan menjadi pakaian yang hangat.
Byurrr!
"Akhh, uhuk, uhuk, uhuk" belum sempat Aluna memperjelas penglihatannya, tiba-tiba tubuhnya sudah lebih dulu ditarik oleh sebuah tangan yang menariknya dari kasur. membuatnya terjatuh di lantai dengan pandangan yang masih berkunang-kunang.
"Enghh..." Aluna memegang keningnya yang terasa berdenyut kencang.
"Akhhh!" pekik Aluna saat ada seorang wanita paruh baya dibelakangnya yang menarik rambutnya dengan sangat kuat, membuat dirinya tidak bisa melihat siapa orang itu kecuali hanya mampu menahan sakit yang luar biasa di rambutnya.
"heh, enak ya kamu! jam segini masih tidur. lihat sudah jam berapa sekarang!" ucap wanita itu dengan keras sembari menarik rambut Aluna semakin kencang.
"Akhhh, hiks... ibu sakit Bu.... hiks" tangis Aluna kesakitan saat dia tahu orang yang menarik rambutnya adalah ibu mertuanya.
"siapa yang kau panggil ibu, hah?! aku ini bukan ibu mertuamu, setan! aku ini adalah nyonyamu panggil aku dengan sebutan nyonya paham?!" teriak Lea memenuhi ruangan itu.
"P-paham, nyonya... hiks hiks" gugup Aluna menahan rasa sakit di kepalanya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!