Udara di dalam Aula Seleksi Nasional terasa begitu tipis, seolah-olah oksigen telah habis disedot oleh kecemasan seratus dua puluh ribu remaja yang berjejal di dalamnya. Suara dengung kecemasan terdengar seperti kawanan lebah di bawah langit-langit beton yang menjulang tinggi. Di tempat ini, mimpi bukan lagi sekadar bunga tidur, melainkan komoditas mahal yang siap diadu sampai hancur. Nexus Academy hanya menyediakan enam ratus kursi. Bagi sisanya, tempat ini hanyalah akhir dari sebuah angan-angan.
Di sudut baris belakang, Atharva Mahendra Prasetya berdiri dalam diam. Posturnya tegap, namun pembawaannya sengaja dibuat tenggelam di antara lautan manusia. Ketika remaja lain sibuk memeriksa catatan menit-menit terakhir atau menggenggam jimat keberuntungan dari orang tua mereka, Atharva hanya menyandang sebuah tas ransel usang yang ritsletingnya sedikit macet. Tidak ada kecupan di kening dari seorang ibu, tidak ada tepukan bangga di bahu dari seorang ayah. Dia datang sendiri.
Di jemarinya, terselip sebuah kartu peserta bernomor 000-001. Nomor yang didapatnya karena menjadi pendaftar pertama, tepat di detik pertama sistem daring Nexus dibuka beberapa bulan lalu. Namun, matanya tidak fokus pada nomor itu. Pandangannya menyapu lambang sekolah sebuah lingkaran geometris dengan garis fraktal rumit yang terukir di podium utama aula.
“Jika kamu berhasil masuk, jangan pernah cari Kakak,” kalimat terakhir Alvaro bergaung kembali di kepalanya. Itu adalah pesan tiga tahun lalu, tepat sebelum kakaknya menghilang tanpa jejak dari asrama Nexus, meninggalkan kamar yang rapi dan sebuah nama yang perlahan dihapus dari arsip keluarga.
Atharva mengembuskan napas perlahan. "Aku tidak mencarimu, Kak," bisiknya pada diri sendiri, suaranya tenggelam dalam riuh aula. "Aku hanya ingin tahu apa yang membuatmu muak."
Beberapa belas meter dari tempat Atharva berdiri, atmosfernya terasa berbeda. Di dekat barisan depan, seorang wanita paruh baya dengan pakaian formal yang elegan sedang merapikan kerah kemeja seorang gadis berambut panjang yang diikat kuda.
"Fokus pada logikanya, Kei. Jangan biarkan emosimu mengambil alih seperti saat latihan di rumah," suara Monica Wibisono terdengar tegas, namun ada getaran halus yang menyiratkan kecemasan mendalam.
Keisya Aurellia Wibisono mengangguk pelan. Matanya yang tajam memancarkan kilatan determinasi yang tidak bisa dibantah. "Kei tahu, Mah. Peringkat kedua nasional di try-out kemarin bukan batasan Kei. Hari ini, Kei ambil peringkat pertama."
Monica tersenyum tipis, lalu sedetik kemudian tatapannya meredup saat memandang sekeliling aula. "Tempat ini... masih sama seperti saat ayahmu dulu berjalan di koridornya."
Mendengar kata Ayah, jemari Keisya refleks meremas ujung rok seragamnya. Kematian Jonathan Wibisono dinyatakan sebagai serangan jantung mendadak di laboratorium kampus. Namun, dokumen-dokumen riset yang terkunci di ruang kerja ayahnya, yang sempat Keisya baca sekilas sebelum disita, menunjukkan hal lain. Ada coretan tangan ayahnya yang berulang-ulang menulis satu frasa: Veritas Lux Fortuna. Sesuatu di Nexus Academy telah merenggut nyawa ayahnya, dan Keisya bersumpah akan membedah sekolah ini sampai ke akar-akarnya demi menemukan kebenaran itu.
"Kei masuk dulu, Mah," pamit Keisya begitu lampu aula tiba-tiba meredup.
Tepat pukul delapan pagi, seluruh layar digital raksasa di sekeliling aula menyala serentak, memancarkan cahaya putih keperakan yang benderang. Suara riuh ratusan ribu peserta mendadak senyap, digantikan oleh keheningan yang mencekam.
Di atas podium, seorang pria paruh baya dengan setelan jas hitam tanpa celah melangkah maju. Langkah kakinya bergaung melalui pengeras suara. Wajahnya dingin, tanpa senyum, dengan kacamata berbingkai perak yang memantulkan cahaya lampu. Profesor Adrian Surya Pradana, sang Direktur.
"Selamat pagi, para calon komoditas masa depan," suara Prof. Adrian terdengar flat, namun berwibawa. Tidak ada kata selamat datang yang hangat. "Kalian berada di sini karena kalian merasa pintar. Di sekolah asal kalian, mungkin kalian adalah piala berjalan. Namun di hadapan Nexus, kalian hanyalah angka statistik."
Layar di belakangnya berubah menampilkan angka 120.000, yang kemudian menyusut drastis dalam animasi grafis menjadi angka 600.
"Hanya satu persen dari sepertiga persen yang akan bertahan di sini. Di meja kalian masing-masing, perangkat ujian telah diaktifkan. Seratus dua puluh soal logika ekstrem. Waktu kalian sembilan puluh menit. Jika otak kalian lambat, silakan berdiri dan keluar dari pintu belakang sekarang juga, sebelum sistem mempermalukan kalian."
Detik itu juga, permukaan meja lipat di hadapan setiap peserta berkedidip, memunculkan layar sentuh transparan yang menampilkan hitung mundur: 03... 02... 01...
Pertempuran dimulai tanpa aba-aba lisan.
Keisya langsung bergerak. Jarinya menari di atas layar dengan kecepatan yang konstan. Soal pertama adalah analisis pola spasial empat dimensi yang dikombinasikan dengan deret Fibonacci non-linear. Rumit bagi orang awam, namun bagi Keisya, ini hanya masalah memisahkan variabel pengganggu.
Di baris lain, seorang pemuda berambut agak acak-acakan dengan jaket denim longgar, Nareswara, tampak menyeringai kecil melihat enkripsi soalnya. Di sebelahnya, Gavin Arsenio Mahardika, sang juara olimpiade fisika, bahkan tidak berkedip, wajahnya sedingin es saat jemarinya mengetuk jawaban demi jawaban tanpa ragu. Di sudut yang berbeda, seorang gadis dengan pembawaan anggun bernama Celine, tampak menarik napas dalam-dalam, menjaga ritme jantungnya agar tetap tenang menghadapi tekanan visual dari layar.
Sementara itu, Atharva tidak langsung menyentuh layarnya. Ia memejamkan mata selama lima detik pertama, membiarkan otaknya memetakan struktur algoritma dari tipe soal yang disajikan. Ketika matanya terbuka, matanya bergerak secepat kilat. Ia tidak melihat soal itu sebagai untaian kata atau angka, melainkan sebagai sebuah jaring laba-laba. Dia tahu persis di titik mana benang itu harus dipotong agar polanya runtuh.
Matematika adalah bahasa alam semesta, dan bagi Atharva, Nexus baru saja mengajaknya mengobrol.
Menit demi menit berlalu seperti siksaan bagi sebagian besar peserta. Terdengar isak tangis tertahan dari beberapa sudut aula. Beberapa remaja mulai memegangi kepala mereka, frustrasi oleh batas waktu yang menyusut kejam di sudut layar. Setiap kali ada peserta yang menyerah dan berdiri, kursi mereka secara otomatis terkunci, dan lampu indikator di atas kepala mereka berubah menjadi merah sebuah tanda eliminasi yang langsung disaksikan oleh ratusan ribu pasang mata lainnya.
Di menit ke-tujuh puluh, Keisya menyelesaikan soal terakhirnya. Napasnya agak memburu. Ia melirik layar monitoring besar di depan untuk melihat live leaderboard yang mulai memunculkan nama-nama peserta dengan akurasi dan kecepatan tertinggi.
Namanya berada di urutan atas: Keisya Aurellia Wibisono – 98.4% Accuracy.
Keisya tersenyum tipis. Puas. Namun, senyum itu tidak bertahan lama. Detik berikutnya, sebuah nama melesat naik dari baris bawah dengan kecepatan tidak masuk akal, menggeser posisinya dalam sekejap tepat di menit ke-tujuh puluh lima.
Atharva Mahendra Prasetya – 100% Accuracy.
Keisya tertegun. Sempurna? Di ujian logika Nexus yang terkenal memiliki tiga belas soal jebakan tanpa jawaban benar? Siapa orang ini?
Keisya langsung mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru aula yang masif, mencari pemilik nama itu. Di saat yang sama, entah karena insting atau kebetulan, Atharva yang baru saja meletakkan kedua tangannya di dalam saku jaket, menoleh ke arah barisan depan.
Mata mereka bertemu di antara ribuan kepala yang masih tertunduk stres. Keisya menatapnya dengan tatapan menyelidik penuh intimidasi, sementara Atharva hanya membalasnya dengan tatapan datar, kosong, seolah pencapaian barusan bukanlah hal yang perlu dirayakan.
Di panggung utama, Profesor Adrian memperhatikan pergeseran angka di layarnya. Sebuah senyuman misterius, yang hampir menyerupai seringai tipis, muncul di wajahnya yang kaku.
"Menarik," gumam Prof. Adrian lirih, menatap dua nama yang kini berada di puncak piramida. "Tahun ini akan menjadi tahun yang sangat melelahkan bagi mereka."
Gerbang satu persen telah terbuka, namun di balik pintu itu, yang menunggu mereka bukan sekadar ruang kelas, melainkan sebuah labirin berdarah yang siap menuntut harga dari setiap ambisi.
Bunyi detak jam digital di dinding aula tidak sekadar menandakan berjalannya waktu, melainkan terdengar seperti ketukan palu hakim yang siap mengeksekusi mimpi. Di layar transparan setiap peserta, angka 01:15:00 terus menyusut. Suasana makin mencekam ketika satu per satu kursi di barisan tengah dan belakang mulai mengeluarkan bunyi mekanis tanda bahwa sistem telah mengunci akses peserta yang salah menjawab tiga soal berturut-turut pada blok jebakan.
Bagi sebagian besar orang, sembilan puluh menit untuk seratus dua puluh soal logika fraktal dan analisis sandi adalah sebuah kemustahilan. Namun bagi beberapa orang di ruangan itu, tekanan ini justru memeras keluar insting bertahan hidup mereka yang paling murni.
Di barisan tengah, Gavin Arsenio Mahardika menggerakkan jemarinya dengan ritme yang konstan, hampir seperti robot. Juara olimpiade fisika itu sama sekali tidak melihat ke papan skor digital. Fokusnya mutlak. Ketika menghadapi soal nomor 65 sebuah teka-teki mekanika fluida teoritis yang disamarkan dalam bentuk teka-teki logika Gavin hanya butuh tiga detik untuk mengenali variabel distorsi yang sengaja dimasukkan pembuat soal untuk mengecoh peserta. Tanpa ekspresi, ia mengetuk opsi C dan langsung beralih ke soal berikutnya. Dingin, efisien, dan tanpa keraguan.
Dua baris di sebelah kanan Gavin, situasinya jauh lebih berisik secara visual. Nareswara Adrian Kusumah, si ahli komputer, sedang bertopang dagu dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya mengetuk-ngetuk layar dengan kecepatan tinggi. Bukannya tegang, Nareswara justru menahan senyum. Matanya yang jeli tidak membaca soal sebagai narasi, melainkan sebagai baris kode.
"Tipuan logika yang payah," gumam Nareswara lirih, mengenali pola pengulangan algoritma pada soal nomor 72. Bagi peretas berbakat seperti dirinya, membaca struktur pemikiran di balik pembuat program ujian ini justru menjadi hiburan tersendiri di tengah kepanikan massal.
Sementara itu, di zona beasiswa yang terletak di sisi barat aula, Nabila Cendana Adiwijaya merasakan punggungnya basah oleh keringat dingin. Berbeda dari Gavin atau Nareswara yang membawa reputasi mentereng, Nabila hanya membawa harapan besar keluarganya yang sederhana. Jemarinya agak gemetar saat membaca soal analisis peluang ekonomi. Ia tahu, satu kesalahan kecil bisa melemparnya kembali ke realitas miskin yang ingin ia ubah. Nabila memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah kedua orang tuanya, lalu menggigit bibir bawahnya. Ia memaksakan otaknya berpikir lebih keras, mengabaikan rasa pening yang mulai menyerang pelipisnya.
Ketegangan yang sama, namun dengan respons berbeda, terlihat pada Dimas Arvant Nugraha. Pemuda humoris itu kini kehilangan senyum jenakanya. Ia menatap layar dengan tatapan frustrasi, sesekali meremas rambutnya yang acak-acakan. Setiap kali melihat namanya berada di batas bawah zona aman, bayangan tentang kakaknya yang selalu dipuji-puji oleh sang ayah langsung melintas di benaknya. “Jangan bikin malu keluarga lagi, Dim,” gema suara itu membuat jemarinya justru salah menekan opsi jawaban pada soal nomor 40. Dimas mengumpat pelan dalam hati, mencoba menguasai diri sebelum terlambat.
Di sudut lain yang lebih tenang, Celine Valencia Danendra menghadapi ujian ini layaknya sebuah pertandingan anggar. Sebagai atlet nasional, Celine dilatih untuk menjaga ritme jantungnya tetap stabil di bawah tekanan ekstrem. Ketika peserta di sekitarnya mulai terisak atau bernapas memburu, Celine justru menarik napas dalam-dalam melalui hidung dan mengembuskannya perlahan. Ketenangan emosional ini membuatnya mampu melihat celah-celah logika pada soal penalaran analitis dengan sangat jernih.
Kontras dengan Celine, Raka Elang Pranegara menggunakan pendekatan manipulatif bahkan terhadap teks soal. Sebagai kapten debat, Raka terbiasa mencari kelemahan dalam argumen lawan. Saat membaca soal-soal penalaran deduktif yang panjang dan berbelit-belit, Raka tidak mencari jawaban yang benar, melainkan mengeliminasi jawaban yang memiliki bias bahasa paling tinggi. "Kalian mencoba memanipulasi logika dengan retorika, ya?" bisik Raka dengan senyum sinis sebelum memilih jawaban yang paling objektif.
Di barisan depan, Kirana Safira Maheswari, sang ketua klub penelitian, menunjukkan ambisi yang menakutkan di balik wajahnya yang tampak lembut dan polos. Matanya bergerak cepat, membaca setiap premis sains dengan ketelitian tinggi. Tidak ada keraguan di wajahnya; yang ada hanya obsesi untuk menjadi yang terbaik. Di dekatnya, Farel Dwijaya Wicaksana, murid pindahan yang memiliki dasar bela diri kuat, menggunakan ketahanan fisiknya untuk melawan kelelahan mental. Postur tubuhnya tetap tegak sempurna, matanya tidak berkedip menatap layar, mempertahankan fokus penuh seperti seorang prajurit di medan laga.
Namun, perhatian para pengawas yang berada di ruang kontrol lantai atas tiba-tiba tersedot pada dua monitor utama.
"Profesor, Anda harus melihat ini," ujar salah satu operator sistem sambil memperbesar visual dari kamera pengawas nomor 104.
Profesor Adrian melangkah mendekat, menatap layar monitor. Di sana, Atharva Mahendra Prasetya tampak sudah menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket. Layar ujian di mejanya telah berubah warna menjadi hijau pekat dengan tulisan: SUBMITTED.
Waktu di jam digital masih menunjukkan pukul 09:10. Artinya, baru empat puluh menit berlalu dari total sembilan puluh menit yang disediakan.
"Dia menyelesaikan seratus dua puluh soal logika ekstrem dalam waktu empat puluh menit?" tanya sang pengawas dengan nada tidak percaya. "Dan akurasinya... seratus persen? Ini mustahil. Apakah ada kebocoran sistem?"
"Sistem Nexus tidak bisa dibocorkan dari luar," jawab Profesor Adrian dengan suara berat yang dingin. Matanya menyipit, menatap tajam ke arah Atharva melalui layar monitor. "Dia tidak meretas sistem. Dia meretas pola pikir pembuat soal."
Di bawah, di lantai aula, Keisya Aurellia Wibisono baru saja menyelesaikan soal nomor 110 ketika ia menyadari keheningan yang aneh dari arah belakang. Ia melirik di sudut layarnya. Nama Atharva sudah terkunci di posisi pertama dengan status selesai.
Keisya mengepalkan tangannya. Ego dan harga dirinya bergejolak. Sifatnya yang perfeksionis menolak untuk terburu-buru, namun melihat seseorang melesat begitu jauh di depannya memicu letupan kompetitif dalam dirinya. Keisya menarik napas, memaksa dirinya untuk tetap setia pada strateginya sendiri. Ia tidak mau sekadar cepat. Ia memeriksa kembali setiap jawabannya dari nomor satu, memastikan tidak ada satu pun jebakan halus dari Nexus yang lolos dari analisisnya.
"Aku tidak akan membiarkanmu menang semudah itu," gumam Keisya, matanya menatap tajam ke arah soal terakhir.
Detik-detik terakhir ujian terasa seperti penyiksaan masal. Ketika waktu menunjukkan 00:01:00, kepanikan memuncak. Suara ketukan layar yang terburu-buru terdengar seperti hujan badai di dalam aula.
Tepat saat angka hitung mundur menyentuh 00:00:00, seluruh layar di meja peserta mati secara serentak. Jeritan frustrasi dan helaan napas lega yang berat terdengar bersahutan. Lebih dari setengah peserta di dalam aula langsung tertunduk lesu, menyadari bahwa perjalanan mereka telah berakhir bahkan sebelum sempat melihat gerbang dalam Nexus Academy.
Waktu yang tak pernah cukup telah menyaring mereka. Di puncak daftar yang menyala merah di layar utama aula, dua nama berdiri dengan kokoh, siap memulai perang yang sesungguhnya.
Keheningan yang terjadi setelah layar ujian mati tidak bertahan lama. Detik berikutnya, suara dengung mekanis yang berat terdengar dari bawah lantai aula. Di layar raksasa yang menggantung di langit-langit, angka 120.000 mulai bergerak turun dengan kecepatan yang mengerikan, seperti papan penghitung kematian digital.
Angka itu menyusut. Seratus ribu. Delapan puluh ribu. Lima puluh ribu.
Bersamaan dengan itu, nama-nama yang tereliminasi mulai bergulir dalam warna abu-abu pudar, sebelum akhirnya lenyap dari sistem. Di lantai aula, lampu indikator di atas meja peserta mulai menyala. Merah berarti pulang. Hijau berarti bertahan.
Satu petikan suara digital, dan hampir delapan puluh persen lampu di dalam aula berubah menjadi merah menyala. Suasana langsung pecah. Tangisan frustrasi, hantaman tinju ke meja, hingga isak tangis yang tertahan dari mereka yang telah mengorbankan segalanya demi hari ini, melebur menjadi satu. Para petugas keamanan berseragam hitam tanpa atribut mulai bergerak masuk dengan efisiensi yang dingin, menepuk bahu peserta yang berlampu merah dan mengarahkan mereka menuju pintu keluar belakang. Pintu yang menuju ke arah kepulangan lebih awal.
Di zona beasiswa, Nabila Cendana Adiwijaya memejamkan matanya rapat-rapat. Seluruh tubuhnya gemetar. Ia tidak berani melihat ke atas kepalanya sendiri, takut jika warna merah yang akan menyambutnya. Di benaknya, wajah sang ayah yang melepasnya di stasiun dengan sepatu yang solnya sudah menipis kembali terbayang.
"Tolong..." bisik Nabila, jemarinya bertaut erat hingga memutih.
Ketika ia memberanikan diri membuka mata, setitik cahaya menyiram permukaan mejanya. Lampu indikatornya berwarna hijau. Nabila mengembuskan napas yang sedari tadi tertahan di tenggorokan, namun rasa lega itu segera digantikan oleh debaran jantung yang mencekam saat melihat papan skor.
Peringkat 598: Nabila Cendana Adiwijaya – Akurasi: 80.2%
Hanya selisih dua peringkat dari batas eliminasi. Ia lolos, namun posisinya berada di ujung tanduk. Satu langkah salah di tahap berikutnya, dan ia akan terseret jatuh.
Tidak jauh dari Nabila, Dimas Arvant Nugraha melonggarkan kerah kemejanya yang terasa mencekik. Lampu mejanya hijau, berada di peringkat 412. Ia lolos, namun ekspresinya tidak menunjukkan kebahagiaan. Ketika matanya bergulir ke papan atas, nama Gavin, Nareswara, Celine, dan Raka berjejer kokoh di zona tiga puluh besar. Rasa rendah diri yang biasa ia rasakan di rumah kini kembali merayap, membisikkan bahwa ia tetaplah ranting terlemah di antara pepohonan yang menjulang tinggi.
Sementara itu, di barisan depan, Keisya Aurellia Wibisono menatap tajam ke arah layar. Peringkatnya resmi: Peringkat 2. Tepat di bawah nama Atharva Mahendra Prasetya yang bertengger di nomor urut satu dengan angka 100% yang terlihat begitu mutlak dan angkuh.
Namun, di saat semua orang sibuk merayakan kelolosan atau meratapi kekalahan, Atharva justru sedang terpaku pada mejanya.
Layar transparan miliknya yang telah terkunci kini menampilkan lembar rangkuman hasil kerja. Saat Atharva menggulir halaman digital tersebut ke bagian paling bawah di area kebijakan privasi yayasan yang biasanya diabaikan oleh semua orang matanya menangkap sesuatu yang tidak biasa.
Ada sebuah malfungsi visual kecil, semacam piksel yang berkedip tipis. Jika tidak diperhatikan dengan jernih, itu hanya akan terlihat seperti cacat grafis pada layar purwarupa Nexus. Namun, bagi Atharva yang terbiasa membedah pola visual, itu adalah sebuah kode.
Ia memiringkan kepalanya sedikit, memanfaatkan bias cahaya lampu aula untuk melihat lapisan matriks di balik layar transparan tersebut. Di sana, tersembunyi di balik baris teks hukum yayasan, terdapat sebuah simbol geometris yang dicetak dengan opasitas sangat rendah.
Sebuah simbol segitiga dengan garis fraktal di dalamnya. Namun, garis itu tidak membentuk lambang Nexus Academy yang resmi. Arah fraktalnya terbalik, memotong sudut tajam di bagian bawah, membentuk pola yang menyerupai huruf V yang terdistorsi.
Jantung Atharva berdegup satu kali lebih cepat.
Ia mengingatnya. Sangat jelas. Tiga tahun lalu, di dalam kamar kakaknya yang sudah kosong, Atharva menemukan sebuah buku catatan matematika milik Alvaro yang tertinggal di bawah lemari baju. Di halaman paling belakang buku itu, terdapat coretan tangan Alvaro yang digambar dengan tekanan pena yang sangat kuat, hingga merobek kertasnya.
Simbol segitiga yang sama persis dengan yang ada di layarnya saat ini.
Atharva refleks menyentuh permukaan layar di atas simbol tersebut. Tidak terjadi apa-apa pada sistem ujian, namun detik berikutnya, layar di hadapannya mendadak mati total, berganti dengan logo Nexus standar dalam warna hitam putih.
"Kamu melihat sesuatu yang menarik, Anak Muda?"
Sebuah suara berat yang berwibawa menginterupsi dari arah depan. Profesor Adrian Surya Pradana telah berdiri tidak jauh dari baris meja Atharva, ditemani oleh dua orang pengawas senior. Mata sang Direktur yang tersembunyi di balik kacamata perak menatap Atharva dengan ketajaman yang menguliti.
Atharva langsung menarik tangannya kembali ke dalam saku jaket, wajahnya kembali datar tanpa emosi. "Tidak ada, Profesor. Saya hanya memastikan apakah sistem Anda benar-benar tidak memiliki celah."
Profesor Adrian terdiam sejenak, menatap lekat-lekat pada mata Atharva, sebelum akhirnya senyum tipis yang dingin kembali terukir di wajahnya. "Sistem kami tidak memiliki celah untuk mereka yang hanya mengandalkan keberuntungan. Bersiaplah untuk tahap kedua. Tekanan sesungguhnya baru saja dimulai."
Ketika Profesor Adrian berlalu, Atharva melirik ke arah samping dan menyadari bahwa sejak tadi, Keisya sedang memperhatikannya dengan tatapan penuh selidik. Gadis itu tampaknya menyadari gerak-gerik aneh Atharva pada layar barusan.
Aula Seleksi kini terasa jauh lebih luas karena puluhan ribu kursi telah kosong. Mereka yang pulang lebih awal meninggalkan kekalahan yang pekat, sementara bagi enam ratus remaja yang tersisa, ruangan ini mendadak terasa seperti sebuah arena gladiator. Mereka berhasil melewati gerbang pertama, tanpa tahu bahwa labirin di depan mereka telah dirancang untuk menghancurkan mereka dari dalam.
...****************...
Keisya melangkah mendekat, sengaja memotong jalur berjalan Atharva saat para pengawas mulai mengarahkan peserta yang tersisa untuk berdiri. Jarak mereka kini hanya terpaut dua langkah. Di bawah pencahayaan aula yang mulai disetel ulang, Keisya bisa melihat dengan jelas bahwa pemuda di hadapannya ini sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan sesuatu yang tidak wajar setelah dihantam seratus dua puluh soal logika ekstrem.
"Atharva Mahendra," Keisya menyebut nama itu dengan penekanan yang jelas, seolah sedang menguji reaksi pemiliknya. "Kecepatan empat puluh menit dengan akurasi sempurna. Kamu tahu? Di data simulasi nasional tiga tahun terakhir, tidak ada satu pun jenius olimpiade yang bisa menembus waktu di bawah satu jam untuk modul buatan Profesor Adrian."
Atharva menghentikan langkahnya. Ia tidak menoleh sepenuhnya, hanya memiringkan wajahnya sedikit untuk menatap Keisya dari sudut mata. "Lalu?"
"Lalu, itu artinya kamu punya dua kemungkinan," Keisya melipat kedua tangannya di dada, matanya menyipit penuh selidik. "Kamu adalah anomali yang menakutkan, atau kamu punya akses ke dalam sistem yang tidak dimiliki orang lain. Aku sempat melihat layar visualmu berkedip sebelum mati total tadi. Apa yang kamu temukan di bawah sana?"
Mendengar pertanyaan itu, Atharva menyadari satu hal: Gadis peringkat kedua ini tidak hanya cerdas, tapi juga memiliki tingkat observasi yang berbahaya. Keisya memperhatikan detail kecil yang bahkan luput dari pengawasan ketat dua pengawas di dekat mereka tadi.
"Jika aku punya akses ke dalam sistem," Atharva menjawab dengan suara yang sangat rendah, hampir berupa bisikan yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua, "aku akan memilih untuk berada di peringkat kedua atau ketiga agar tidak menarik perhatianmu. Berada di posisi pertama hanya membuat orang-orang sepertimu terus bertanya, dan itu... membuang waktuku."
Keisya sedikit tersentak. Jawaban itu terdengar sangat tenang, namun memiliki pukulan telak yang menyerang logikanya. Sebelum Keisya sempat membalas, suara interkom aula kembali membahana, memotong konfrontasi dingin di antara mereka.
“Perhatian kepada seluruh calon Elite One yang tersisa. Waktu istirahat kalian adalah sepuluh menit. Silakan ambil jatah logistik air dan nutrisi di kompartemen bawah meja masing-masing. Tahap kedua. Simulasi Kepemimpinan dalam Situasi Krisis akan dimulai tepat setelah hitung mundur selesai. Harap tidak meninggalkan posisi duduk kalian.”
Di barisan lain, Nareswara tampak bersiul pelan sambil membuka kompartemen mejanya. Ia mengambil sebotol air mineral dan sebatang cokelat berenergi tinggi yang disediakan sekolah. "Sepuluh menit? Mereka benar-benar memperlakukan otak kita seperti prosesor komputer yang tidak boleh lama-lama," gerutunya, lalu menggigit cokelatnya dengan lahap.
Di sebelahnya, Gavin bahkan tidak menyentuh botol airnya. Ia hanya duduk bersandar, meluruskan kedua kakinya, dan memejamkan mata. Setiap detik adalah pemulihan energi bagi Gavin. Sebagai seorang yang terbiasa dengan kompetisi tingkat internasional, ia tahu bahwa menghemat gerakan fisik adalah kunci mempertahankan fokus mental.
Sementara itu, di sudut yang agak jauh, Farel tampak memperhatikan sekeliling dengan waspada. Instingnya sebagai praktisi bela diri mendeteksi perubahan atmosfer yang signifikan. "Ini bukan lagi sekadar ujian sekolah," bisik Farel pada dirinya sendiri. Ia melihat bagaimana beberapa anak dari keluarga kaya mulai saling memandang dengan tatapan penuh permusuhan, sementara anak-anak seperti Nabila tampak memegangi kepala mereka, mencoba menahan stres yang semakin menumpuk.
Nabila sendiri sedang menatap botol air di tangannya dengan pandangan kosong. Lembar skor di layarnya tadi terus membayangi. Peringkat 598. Ia berada di garis paling belakang dari pasukan elite ini. Jika simulasi berikutnya adalah tentang kepemimpinan, bagaimana mungkin seseorang yang biasa menyembunyikan diri di pojok kelas seperti dirinya bisa memimpin orang-orang jenius yang egois ini?
"Hei," sebuah suara yang renyah mengejutkan Nabila.
Dimas sudah berdiri di dekat pembatas barisannya, mencoba tersenyum meskipun wajahnya sendiri agak pucat. "Jangan tegang begitu. Kalau kita semua kena serangan jantung di sini, Profesor Adrian pasti bakal bingung nyari pengganti komoditas masa depannya."
Nabila mencoba tersenyum tipis, menghargai usaha Dimas untuk mencairkan suasana. "Aku hanya... takut langsung pulang di tahap kedua."
"Tenang saja, setidaknya kalau kamu pulang, kamu ada di peringkat lima ratusan. Lah aku? Kalau jatuh sedikit langsung masuk zona merah," ujar Dimas sambil tertawa miris, mencoba menutupi rasa rendah diri yang masih menggerogoti dadanya.
Di barisan depan, Celine dan Raka tampak mengamati interaksi di sekitar mereka dengan cara yang berbeda. Celine memperhatikan raut wajah peserta yang mulai kelelahan, mencatat dalam hatinya siapa saja yang kemungkinan besar akan tumbang karena panik di tahap berikutnya. Di sisi lain, Raka mulai memetakan kepribadian orang-orang yang berpotensi menjadi alat atau ancaman baginya dalam diskusi kelompok nanti.
Di atas podium, Profesor Adrian tidak bergeming dari posisinya. Dari ketinggian itu, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana enam ratus remaja pilihan ini mulai terpecah menjadi beberapa faksi psikologis: mereka yang terlalu percaya diri, mereka yang mulai tertekan, dan mereka yang seperti Atharva dan Keisya justru mulai menganalisis lingkungan sekitarnya.
Atharva kembali duduk di kursinya, mengabaikan Keisya yang akhirnya kembali ke mejanya sendiri dengan sisa kekesalan yang tertahan. Atharva meraba permukaan meja lipatnya yang kini bersih dari gambar apa pun. Pikirannya tidak lagi tertuju pada simulasi krisis yang akan datang, melainkan pada simbol segitiga terbalik tadi.
Veritas Lux Fortuna. Nama yayasan itu tercantum di sana. Mengapa kakaknya menggambarkan simbol yang sama sebelum menghilang? Dan apa hubungannya dengan kematian ayah Keisya, seperti yang sempat ia dengar samar-samar dari percakapan gadis itu dengan ibunya di luar aula tadi?
Waktu sepuluh menit berlalu seperti kedipan mata. Lampu aula kembali berubah warna, kali ini bukan putih atau merah, melainkan biru safir yang redup dan dingin. Di layar utama, angka hitung mundur berubah menjadi warna kuning pekat.
00:00:03... 00:00:02... 00:00:01...
Suara penguncian mekanis kembali terdengar, namun kali ini bukan hanya kursi yang terkunci, melainkan sebuah dinding partisi kedap suara yang tipis namun kokoh tiba-tiba naik dari bawah lantai, menyekat setiap meja peserta menjadi bilik-bilik isolasi yang mandiri. Dalam sekejap, enam ratus peserta tidak lagi bisa saling melihat atau mendengar satu sama lain. Mereka benar-benar sendirian di dalam kegelapan bilik masing-masing, siap dihadapkan pada krisis buatan yang akan menguji batas moral dan kepemimpinan mereka.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!