Indonesia
NovelToon NovelToon

Ditinggal Tunangan, Dinikahi Petugas Damkar

Episode 1

Bab 1

Kiana Lim membuka mata di tengah panas yang seperti menempel langsung ke kulit.

Asap hitam menggulung di langit-langit bar. Lampu gantung yang tadi pasti mewah kini bergoyang patah, memercikkan api kecil ke lantai kayu. Alarm kebakaran menjerit tanpa henti, bercampur teriakan orang-orang yang berlari saling dorong menuju pintu keluar.

Kiana mencoba bangkit.

Rasa sakit langsung menyambar dari pergelangan kakinya.

Ia jatuh lagi ke atas pecahan kaca. Telapak tangannya tergores, darah hangat merembes di sela jari. Gaun putih yang ia pakai sudah kotor oleh abu dan air sprinkler yang terlambat menyala. Setiap tarikan napas terasa seperti menelan pasir panas.

Di depannya, hanya beberapa langkah dari tubuhnya, Jovian Loe muncul dari balik asap.

Untuk satu detik, jantung Kiana seperti menemukan jalan pulang. Tujuh tahun kebiasaan hampir membuat namanya keluar dari bibir.

"Jovian..."

Pria itu menoleh.

Matanya bertemu mata Kiana.

Kiana melihatnya jelas. Bukan panik. Bukan terkejut. Bukan tatapan pria yang baru menemukan tunangannya tergeletak dengan kaki terluka.

Itu tatapan seseorang yang sudah tahu.

Tatapan yang dingin, berat, dan penuh keputusan.

"Tolong aku," suara Kiana pecah, tertahan asap. "Kakiku..."

Jovian hanya berhenti setengah detik.

Lalu, dari balik meja yang roboh, terdengar suara lemah seorang perempuan.

"Jovian..."

Vanya Pai.

Nama itu seperti pisau kecil yang sudah lama tertanam di dada Kiana, lalu malam ini diputar sekali lagi.

Jovian langsung bergerak.

Ia melewati Kiana.

Sepatu kulit hitamnya hampir menyentuh ujung gaun Kiana. Bahkan ketika Kiana secara refleks meraih celananya, Jovian menarik kaki tanpa melihat ke bawah. Ia berlari ke arah Vanya yang pingsan di dekat sofa, mengangkat tubuh perempuan itu ke dalam pelukannya, lalu berbalik menuju pintu keluar.

Kiana menatap punggungnya.

Punggung yang pernah ia tunggu pulang selama tujuh tahun. Punggung yang pernah ia peluk dari belakang ketika Jovian pulang larut dan berkata ia lelah. Punggung yang sama, malam ini, memilih menjauh saat api merambat ke arahnya.

Asap menutup pandangannya. Tenggorokan Kiana perih. Namun anehnya, yang paling sakit bukan luka di kaki atau kaca di telapak tangan.

Yang paling sakit adalah ingatan.

Bau asap berubah menjadi bau disinfektan rumah sakit.

Dalam ingatan itu, Kiana duduk di kursi panjang koridor klinik fertilitas. Tubuhnya lemas setelah prosedur inseminasi yang ketiga. Perut bawahnya nyeri, punggungnya dingin, dan tangannya memegang hasil pemeriksaan yang lagi-lagi berakhir dengan satu kalimat singkat.

Gagal.

Di balik pintu yang tidak tertutup rapat, suara dokter terdengar lirih, tetapi cukup jelas untuk menghancurkan seluruh hidupnya.

"Tubuh Bu Kiana sudah terlalu kacau. Kalau konsumsi obat pencegah kehamilan itu terus berlangsung, program apa pun akan sulit berhasil."

Suara perawat terdengar ragu. "Tapi suaminya bilang jangan beri tahu beliau, Dok."

"Saya tahu. Tapi ini sudah keterlaluan. Tujuh tahun dia datang ke sini, menahan sakit, sementara prianya sendiri tidak ingin dia hamil."

Kiana ingat bagaimana ia berdiri di koridor itu dengan tangan gemetar. Dunia tidak runtuh dengan suara keras. Dunia runtuh pelan, seperti kaca retak dari satu titik kecil, lalu menyebar ke seluruh permukaan.

Tujuh tahun ia meminum ramuan yang dikatakan Jovian baik untuk rahimnya. Tujuh tahun ia menahan suntikan, pemeriksaan kesuburan, komentar keluarga, dan tatapan kasihan orang-orang.

Padahal, pria itu sejak awal tidak pernah menginginkan anak darinya dan dengan licik memberinya ramuan agar rahimnya kering, dan berdusta bahwa itu ramuan penyubur kandungan.

Api di bar meledak di sisi kiri. Kiana tersentak kembali ke kenyataan. Sebuah botol minuman pecah oleh panas. Cairan alkohol menyambar lidah api, membuat kobaran merayap lebih cepat.

Ia menyeret tubuh mundur, tetapi pergelangan kakinya seperti dihantam palu. Lututnya gemetar. Napasnya makin pendek.

Dalam kilatan panas berikutnya, ingatan lain menerobos.

Rumah Keluarga Loe. Malam hujan. Kiana berdiri di ruang kerja Jovian setelah pembantu mengatakan tas kerja Jovian tertinggal. Ia hanya ingin mengambil dokumen yang diminta Jovian lewat telepon.

Namun resleting kompartemen samping tas itu terbuka.

Sebuah blister pil kecil jatuh ke karpet.

Kiana memungutnya. Nama obat itu tidak ia kenal, tetapi ia sudah terlalu sering membaca forum kesuburan dan artikel medis selama bertahun-tahun. Ia tahu bentuk pil pencegah kehamilan. Ia tahu, meski hatinya menolak sebelum pikirannya sempat menyusun bukti.

Di bawah kotak obat itu, ada selembar foto lama.

Jovian muda berdiri di halaman sekolah, masih dengan seragam putih abu-abu. Di sampingnya, Vanya tersenyum dengan rambut panjang tergerai, tangan mereka saling bertautan. Di belakang foto, tertulis dengan tinta biru yang sudah sedikit pudar.

Terima kasih karena selalu memilihku.

V.

Kiana ingat lututnya melemas malam itu.

Ia juga ingat Jovian masuk, mengambil foto itu dari tangannya, lalu berkata dengan suara yang sangat tenang, "Jangan berpikir macam-macam. Itu masa lalu."

Masa lalu.

Namun yang lebih menyakitkan dari foto itu adalah kenangan tentang bagaimana ia bisa sampai di titik itu. Kiana mengingat awal semuanya.

Ibunya, Lily Lim, sejak awal tidak pernah menyetujui hubungannya dengan Jovian. Bukan karena Jovian miskin atau tidak berpendidikan. Lily Lim melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.

"Anak itu tidak mencintaimu," kata ibunya suatu malam.

Tetapi Kiana sudah terlanjur buta. Tujuh tahun ia mengejar, menunggu, berharap. Ketika akhirnya mereka berpacaran lalu bertunangan diam-diam, Lily Lim masih setengah hati. Frustasi dengan ibunya, Kiana nekat ingin membuat dirinya hamil.

Cinta butalah yang membawanya ke klinik fertilitas. Jika ia hamil, maka ibunya akan merestui hubungan mereka.

Ketika akhirnya ia memberi tahu Jovian bahwa ia ingin ikut program hamil, Jovian tampak terkejut, tetapi kemudian tersenyum lembut dan berkata, "Kalau itu yang kau mau, aku dukung."

Waktu itu ia tidak tahu bahwa dukungan itu adalah kebohongan.

Di bar yang terbakar, Kiana tertawa pelan. Suaranya pecah menjadi batuk. Air mata keluar bukan karena ia ingin menangis, melainkan karena asap membuat matanya perih.

Kiana menoleh ke arah pintu keluar. Di sana, bayangan Jovian sudah hampir hilang bersama Vanya di pelukannya. Beberapa orang menjerit meminta tolong. Petugas keamanan berusaha membuka jalur, tetapi sebagian plafon jatuh dan menutup separuh pintu.

Jovian tidak menoleh lagi.

Sama seperti tujuh tahun pernikahan mereka.

Setiap kali Kiana sakit, Jovian malah menoleh ke Vanya. Setiap kali Kiana memohon jawaban, Jovian menutup pintu. Setiap kali Kiana hampir menyerah, ia datang dengan senyum lembut, menyuapi sup herbal, lalu berkata, "Bertahan sedikit lagi. Kita pasti punya anak."

Kita.

Betapa mudahnya kata itu dipakai untuk menipu seorang perempuan yang ingin percaya.

Api semakin dekat. Ujung rambut Kiana terasa kering. Suara sirene dari luar mulai terdengar, tetapi jaraknya seperti berasal dari dunia lain.

Kiana mencoba berdiri sekali lagi. Kali ini ia menggigit bibir sampai terasa asin oleh darah. Tangannya mencengkeram kaki meja yang patah. Ia berhasil mengangkat tubuh setengah, lalu jatuh lagi ketika nyeri menyambar.

"Jovian!" teriak seseorang dari luar.

"Di sini! Vanya masih bernapas!" suara Jovian membalas.

Kiana menutup mata.

Ia tidak lagi berteriak.

Ada titik ketika hati yang terlalu sering dipatahkan akhirnya berhenti meminta.

Kiana menekan telapak tangannya ke lantai. Pecahan kaca masuk lebih dalam ke kulit. Rasa sakit itu membuat kepalanya sedikit jernih. Ia tidak mau mati di sini. Tidak di malam ketika ia akhirnya melihat kebenaran kedua kalinya.

Kedua kalinya.

Pikiran itu muncul seperti kilat.

Mengapa ia tahu semua ini?

Bukankah ia sudah mati?

Ia ingat malam terakhir di kehidupan sebelumnya. Ingat ranjang rumah sakit. Ingat suara monitor yang menipis. Ingat Jovian berdiri di samping tempat tidurnya dengan wajah pucat, bibirnya bergerak seperti hendak menjelaskan sesuatu yang sudah terlambat.

Ia ingat rasa dingin menjalar dari ujung kaki sampai dada.

Lalu, ia membuka mata di bar ini.

Tanggal 18 Mei 2026.

Malam kebakaran yang seharusnya menjadi malam sebelum pernikahannya dengan Jovian.

Takdir melemparkannya kembali ke titik awal. Namun takdir juga cukup kejam untuk memperlihatkan jawaban lebih dulu.

Jovian kembali juga.

Kiana tahu dari tatapan tadi. Dari cara pria itu berhenti sejenak, bukan karena bingung, melainkan karena memilih. Dari cara ia tidak bertanya mengapa Kiana memanggilnya dengan nada seorang istri yang sudah hancur, bukan nada seorang calon pengantin.

Dia ingat kehidupan mereka sebelumnya.

Dan setelah mengingat semuanya, pilihan pertamanya tetap Vanya.

Tawa Kiana berubah menjadi batuk panjang. Dadanya seperti robek. Ia menunduk, menekan perut, berusaha mengambil udara yang sudah tercampur asap.

Saat itulah suara berat menembus kekacauan.

"Ada korban di sini!"

Kiana memaksa matanya terbuka.

Sosok tinggi berseragam pemadam masuk dari sisi yang dipenuhi asap. Helm dan masker menutupi sebagian besar wajahnya. Lampu kecil di bahunya menyapu lantai, berhenti tepat pada tubuh Kiana.

Ia bergerak cepat, tetapi tidak panik. Satu tangan menyingkirkan serpihan kayu panas, tangan lain memeriksa nadi di leher Kiana.

"Masih sadar?" tanyanya.

Kiana ingin menjawab, tetapi tenggorokannya hanya mengeluarkan suara serak.

"Jangan tidur." Suaranya rendah, tegas. "Lihat saya."

Kiana menatapnya.

Di balik masker buram itu, ia hanya bisa melihat sepasang mata. Gelap, tajam, dan tidak goyah. Tidak ada janji manis di sana. Tidak ada kata-kata yang membuat hati melunak.

Hanya keputusan yang sangat sederhana.

Dia akan mengeluarkannya dari sini.

Pemadam itu melepas sarung tangan luarnya sebentar untuk menekan kain basah ke mulut Kiana. "Tarik napas pelan. Kaki kiri cedera?"

Kiana mengangguk lemah.

"Saya angkat."

Sebelum Kiana sempat bereaksi, tubuhnya sudah terangkat dari lantai. Lengannya secara refleks melingkar di bahu pria itu. Bau asap, keringat, logam panas, dan sedikit aroma deterjen menempel pada seragamnya. Di balik semua kekacauan itu, pelukannya kokoh.

Kiana menoleh sekali lagi ke arah pintu keluar.

Asap menelan ruangan. Ia tidak lagi bisa melihat Jovian.

Aneh sekali. Tujuh tahun ia mengejar pria itu, tetapi pada malam ia hampir mati, yang tersisa justru lengan orang asing yang membawanya menjauh dari api.

Sebuah balok kayu jatuh dari langit-langit. Pemadam itu memutar tubuh, menjadikan punggungnya sebagai tameng. Kiana mendengar bunyi keras menghantam perlengkapan di belakangnya. Pria itu hanya mengerang pendek, lalu terus berjalan.

"Kamu terluka?" bisik Kiana tanpa sadar.

"Bukan urusanmu sekarang," jawabnya singkat. "Tetap sadar."

Jovian punya tujuh tahun untuk menyelamatkannya dan memilih menghancurkannya pelan-pelan.

Orang asing ini baru mengenalnya beberapa menit, tetapi memakai tubuhnya sendiri untuk menahan api.

Udara malam menghantam wajah Kiana ketika mereka akhirnya keluar. Suara sirene, teriakan petugas, dan kamera ponsel para pengunjung yang selamat langsung menyerbu. Kiana diletakkan di tandu. Petugas medis mendekat, memasang masker oksigen.

Sebelum pandangannya kabur, ia melihat pemadam itu berdiri di sisi tandu. Maskernya dilepas sebentar. Cahaya lampu ambulans jatuh di garis rahangnya yang tegas, hidungnya yang lurus, dan bibirnya yang terkatup rapat.

Wajah yang asing, tetapi entah kenapa menancap di ingatan Kiana.

"Nama..." Kiana berusaha bicara.

Pria itu menunduk sedikit.

"Jangan bicara dulu."

"Nama kamu..."

Ia diam satu detik, seolah pertanyaan itu tidak penting.

Lalu seseorang dari belakang berteriak, "Bos! Masih ada dua orang di dalam!"

Pria itu langsung mengenakan maskernya lagi. "Bawa dia ke ambulans."

Kiana hanya sempat melihat punggungnya berbalik masuk lagi ke lautan asap.

Punggung yang berbeda.

Punggung yang pergi bukan untuk meninggalkannya, melainkan untuk menyelamatkan orang lain.

Di dalam ambulans, suara dunia terdengar jauh. Petugas medis membersihkan telapak tangannya, memeriksa pergelangan kaki, dan bertanya apakah ia bisa mendengar. Kiana mengangguk pelan.

"Tanggal berapa?" suara perempuan berjas medis bertanya untuk memastikan kesadarannya.

Kiana menelan sakit di tenggorokan. "Delapan belas Mei."

"Tahun?"

Bibir Kiana bergetar.

"Dua ribu dua puluh enam."

Petugas itu menghela napas lega. "Bagus. Tetap sadar, Bu. Kita bawa ke rumah sakit terdekat."

Kiana menatap langit-langit ambulans. Lampu putih di atas kepalanya bergetar mengikuti gerak kendaraan. Dunia memang kembali. Bukan mimpi. Bukan halusinasi sebelum mati.

Ia benar-benar kembali.

Lalu dari celah pintu ambulans yang belum tertutup rapat, suara Jovian terdengar dari luar.

"Vanya, bertahan. Kali ini aku nggak akan membiarkan kamu terluka lagi."

Kali ini.

Dua kata itu masuk ke telinga Kiana seperti air es.

Matanya terbuka perlahan.

Jadi benar.

Jovian juga kembali.

Ia membawa ingatan yang sama. Ia tahu masa depan yang sama. Ia tahu bagaimana tujuh tahun itu berakhir. Ia tahu apa yang sudah ia lakukan pada Kiana.

Namun ketika diberi kesempatan kedua, pria itu tetap berlari melewati tubuhnya untuk memeluk Vanya.

Kiana menatap tangannya yang dibalut kasa. Darah masih merembes sedikit di sela putih perban. Di jari manisnya, cincin pertunangan dari Jovian masih melingkar, basah oleh air dan abu.

Ia mengangkat tangan itu pelan.

Cincin berlian kecil tersebut berkilau lemah di bawah lampu ambulans. Dulu, Kiana pernah mengira kilau itu adalah janji. Malam ini, benda itu terlihat seperti borgol yang terlalu lama ia sebut cinta.

Dengan jari yang gemetar, ia menarik cincin itu.

Luka di telapak tangan membuat setiap gerakan terasa perih. Cincin itu tersangkut sebentar di sendi, lalu akhirnya lepas. Kiana menggenggamnya dalam kepalan tangan, merasakan tepi logam dingin menekan kulit.

Petugas medis menoleh. "Bu, jangan banyak bergerak."

Kiana menutup mata sebentar.

Ketika ia membukanya lagi, air mata masih ada, tetapi pandangannya sudah tidak sama.

Tujuh tahun yang lalu, ia mencintai Jovian sampai kehilangan dirinya sendiri.

Di kehidupan sebelumnya, ia mati sebagai istri yang menunggu penjelasan.

Di kehidupan ini, ia tidak akan menunggu lagi.

Kiana menoleh ke arah pintu ambulans. Di luar sana, Jovian masih membungkuk di sisi tandu Vanya, wajahnya penuh ketakutan yang dulu tidak pernah ia berikan untuk Kiana.

Baiklah.

Kalau itu pilihannya, Kiana akan mengingatnya dengan sangat jelas.

Api. Pecahan kaca. Punggung yang melangkah pergi. Sepasang lengan asing yang mengangkatnya keluar dari kematian.

Semua itu akan menjadi batas.

Kiana menggenggam cincin pertunangan sampai telapak tangannya terasa nyeri lagi. Nyeri itu membuatnya sadar. Membuatnya hidup.

Dengan suara serak, nyaris tenggelam di bawah sirene ambulans, ia berbisik kepada dirinya sendiri.

"Kali ini, aku tidak menginginkan dia lagi."

Episode 2

Bab 2

Kalau itu pilihannya, Kiana akan mengingatnya.

Kalimat terakhir yang ia bisikkan di ambulans masih menempel di lidah ketika kesadarannya kembali pelan-pelan. Bukan lagi bau asap yang menyambutnya, melainkan aroma minyak kayu putih, teh hangat, dan sprei bersih yang sudah terlalu lama tidak ia cium.

Kiana membuka mata.

Di meja samping tempat tidur ada gelas air hangat, obat pereda nyeri, dan kotak tisu.

Vila Lim.

Kamarnya sendiri.

Kiana menggerakkan jari. Telapak tangannya sudah dibalut kasa. Pergelangan kaki kirinya dipasang penyangga ringan. Dadanya masih berat akibat asap, tetapi ia masih hidup.

Lalu sebuah tangan menyentuh dahinya.

"Kia?"

Suara itu membuat napas Kiana berhenti.

Ia menoleh pelan.

Lily Lim duduk di sisi tempat tidur, rambutnya digelung asal, matanya sembap karena kurang tidur. Wajah itu masih sama seperti dalam ingatan Kiana.

Hanya saja, di kehidupan sebelumnya, wajah itu sudah lama tertutup kain putih di ruang jenazah setelah kecelakaan pesawat.

"Mama..." Suara Kiana pecah.

Lily langsung menunduk. "Kia, pelan-pelan. Dokter bilang kamu masih harus istirahat. Jangan banyak gerak dulu."

Kiana tidak mendengar sisanya.

Ia memeluk pinggang Lily sekuat yang bisa dilakukan tubuhnya yang masih sakit. Begitu wajahnya menempel di perut Mama, semua pertahanan yang ia bangun di ambulans runtuh.

Hangat.

Mama masih hangat.

Masih hidup.

"Kia?" Lily terkejut, lalu buru-buru memeluk balik. "Sayang, sakit? Mana yang sakit? Mama panggil dokter lagi?"

Kiana menggeleng kuat. Air matanya membasahi kain blus Lily.

Di kehidupan sebelumnya, telepon itu datang saat ia sedang menunggu Jovian pulang. Pesawat jatuh, nama Lily Lim ada di daftar korban, dan dunia Kiana sejak hari itu kehilangan warna.

Sekarang Mama ada di sini. Tangannya mengusap rambut Kiana. Suaranya bergetar, tetapi nyata.

"Mama di sini, Kia. Mama di sini."

Kiana menggigit bibir. Ia tidak boleh terlalu lama menangis. Kesempatan kedua bukan hadiah untuk ia pakai meratapi masa lalu.

Ia menarik napas, memaksa tubuhnya tenang. Setelah beberapa menit, ia melepaskan pelukan dan menyeka wajah.

"Sekarang tanggal berapa?" tanyanya.

Lily mengerutkan kening. "Sembilan belas Mei. Kamu baru tidur beberapa jam setelah dibawa pulang dari rumah sakit subuh tadi."

Benar.

Satu hari sebelum pernikahannya dengan Jovian, pernikahan yang sejak awal sudah busuk.

Kiana menunduk melihat jari manisnya. Kosong. Cincin pertunangan itu sudah tidak ada di sana. Ia ingat telah melepasnya di ambulans.

Bagus.

Benda seperti itu memang tidak pantas kembali ke jarinya.

"Jovian bagaimana?" tanya Lily hati-hati. Pertanyaan itu terdengar seperti paku yang dibungkus kain.

Kiana mengangkat wajah. "Dia menyelamatkan Vanya."

Lily terdiam.

"Dia melewati aku, Ma." Kiana berkata pelan, tanpa air mata baru. "Aku ada di lantai. Kakiku tidak bisa bergerak. Dia melihat aku, lalu tetap pergi ke Vanya."

Wajah Lily berubah pucat. Lalu marah datang perlahan, dari mata sampai rahangnya.

"Kurang ajar," bisiknya. "Anak itu makan garam di rumah siapa selama ini?"

Dulu, Kiana pasti akan membela Jovian. Mengatakan ia panik, ia tidak sengaja, ia pasti punya alasan.

Sekarang, Kiana hanya menatap Mamanya dan berkata, "Ma, Mama benar, aku tidak percaya Jovian lagi."

Lily menggenggam tangan putrinya. "Mama percaya kamu."

Sebelum Kiana sempat mengatakan apa pun lagi, suara ribut terdengar dari lantai bawah.

Pintu utama dibuka. Ada suara langkah cepat, suara Bi Lan yang kebingungan, lalu suara laki-laki yang ia kenal.

"Saya ingin bertemu Kiana."

Jovian.

Tubuh Kiana menegang.

Lily langsung berdiri. "Dia berani datang?"

Bi Lan muncul di pintu kamar dengan wajah cemas. "Nyonya, Pak Jovian datang. Sama Mbak Vanya."

Kiana menahan tawa dingin.

Baru semalam ia melangkahi tubuh Kiana di tengah api. Pagi ini ia membawa perempuan itu ke rumah Lim.

"Ambil kursi roda," kata Kiana.

Lily berbalik cepat. "Kia, kamu belum boleh turun."

"Aku harus turun, Ma." Kiana menatap Mama. "Kalau aku tidak turun, mereka akan bercerita sesuka hati."

Lily menatap luka putrinya. Beberapa detik kemudian, kemarahannya berubah menjadi ketenangan yang lebih berbahaya.

"Bi Lan, kursi roda."

Ruang tamu Vila Lim seperti panggung kecil ketika Kiana dibawa turun.

Jovian berdiri di dekat sofa, kemejanya kusut, wajahnya pucat. Di sampingnya, Vanya Pai mengenakan cardigan putih. Lengan kanannya diperban ringan.

Rapuh, tetapi matanya sempat menyapu ruang tamu dengan cepat.

Kiana menangkapnya.

Di sofa utama, Hendro Lim duduk memegang cangkir teh. Tidak ada kemarahan karena putrinya hampir mati. Tidak ada pertanyaan mengapa Jovian meninggalkannya.

Kiana merasa sesuatu yang dingin menetes di hatinya.

Kaku dan tidak peduli ternyata bisa terlihat hampir sama.

Begitu kursi roda berhenti, Jovian menatap Kiana. Ia seperti hendak mendekat, tetapi menahan diri karena Lily berdiri di belakang putrinya.

"Kiana," katanya. "Kamu sudah sadar."

Kiana menatapnya tanpa menjawab.

Lily maju satu langkah. "Kamu datang untuk minta maaf?"

Jovian menarik napas. "Tante Lily, saya datang untuk menjelaskan."

"Menjelaskan kenapa kamu melewati anak saya saat dia tergeletak di lantai?" suara Lily meninggi. "Atau menjelaskan kenapa pagi-pagi kamu membawa perempuan ini ke rumah kami?"

Vanya langsung menunduk. "Tante, maaf. Aku nggak bermaksud membuat masalah. Semalam aku juga tidak sadar. Jovian cuma..."

"Saya tidak tanya kamu." Lily memotong tanpa berteriak, tetapi ruang tamu langsung membeku.

Mata Vanya memerah seketika.

Hendro meletakkan cangkir. "Lily, jangan terlalu keras. Vanya juga korban kebakaran."

Lily menoleh kepada suaminya. "Anakmu juga korban kebakaran."

"Aku tahu." Hendro menghela napas. "Tapi anak muda panik dalam situasi seperti itu. Jangan semua dibuat besar."

Kiana menatap Papa-nya. Hendro selalu begitu. Saat Kiana terluka, ia meminta Kiana memahami orang lain. Saat Vanya menangis, ia meminta dunia berhenti.

Jovian mengepalkan tangan. "Saya tidak akan mencari alasan. Semalam saya memang menyelamatkan Vanya lebih dulu."

Lily tertawa pendek. "Akhirnya ada satu kalimat jujur."

"Karena saya mencintai dia," lanjut Jovian.

Ruang tamu sunyi.

Bi Lan yang berdiri di dekat tangga menutup mulut. Bahkan Hendro tampak berhenti bernapas setengah detik.

Jovian menatap Kiana. "Kiana, selama ini aku selalu menganggap kamu seperti adik. Pernikahan besok tidak bisa dilanjutkan. Orang yang ingin aku jaga seumur hidup adalah Vanya."

Kalimat itu seharusnya menghancurkan.

Namun Kiana sudah hancur semalam.

Yang tersisa pagi ini hanya serpihan yang mulai ia susun menjadi pisau.

Lily melangkah maju, wajahnya memucat. "Seperti adik? Tujuh tahun kamu dekat dengan anak saya, keluarga kami membantu Loe Group waktu kalian hampir jatuh, dan sekarang kamu bilang anak saya cuma adik?"

"Tante..."

"Jangan panggil saya Tante dengan mulut semudah itu." Lily menunjuk pintu. "Kalau kamu punya sedikit saja rasa malu, kamu datang sendiri. Bukan membawa perempuan yang setengah tahun ini tinggal di rumah kami, makan di meja kami, diperlakukan seperti keluarga."

Vanya menangis pelan. "Tante, aku benar-benar minta maaf. Aku juga tidak tahu perasaan Jovian sebesar ini. Aku sudah mencoba menjauh, tapi..."

"Tapi tetap ikut datang untuk membatalkan pernikahan orang di ruang tamu keluarga orang itu?" Kiana akhirnya bersuara.

Semua mata beralih kepadanya.

Suara Kiana tidak keras. Justru karena terlalu tenang, Vanya tampak kehilangan ritme.

Kiana mengangkat wajah. "Vanya, kalau kamu memang merasa bersalah, kamu tidak akan berdiri di sini pagi ini."

Air mata Vanya tersendat.

Jovian langsung maju setengah langkah. "Kiana, jangan serang dia. Ini keputusan aku."

Kiana menatapnya. "Aku belum selesai bicara."

Jovian terdiam.

Kiana menoleh ke Vanya lagi. "Tapi tidak apa-apa. Dia bertemu cinta sejatinya. Aku tentu merestui."

Lily menatap Kiana dengan kaget. Hendro mengendurkan bahu, seolah lega. Jovian justru mengerutkan kening, seperti jawaban Kiana tidak sesuai dengan bayangannya.

Vanya juga terpaku.

Kiana tersenyum tipis. "Jovian, mulai hari ini, tidak ada pernikahan. Tidak ada pertunangan. Tidak ada hubungan apa pun antara kita. Kamu bebas melindungi siapa pun yang kamu cintai. Aku juga bebas hidup tanpa kamu."

Wajah Jovian berubah.

Untuk pertama kalinya sejak masuk, ada kepanikan kecil di matanya.

"Kiana, kamu tidak perlu bicara seperti itu karena marah."

"Aku tidak marah." Kiana meletakkan tangan di atas lutut. "Aku hanya sadar."

Lily menoleh ke Bi Lan. "Panggil Bi Wang. Semua barang Vanya di kamar tamu, keluarkan sekarang."

Vanya mengangkat wajah. "Tante..."

"Mulai hari ini kamu tidak tinggal di rumah Lim." Lily berkata dingin. "Kami tidak menyediakan tempat untuk orang yang menusuk anak saya dari dalam rumah."

Hendro berdiri. "Lily, jangan emosional. Vanya gadis muda, dia baru pulang ke Indonesia, Kiara menitipkan dia pada kita."

"Kalau kamu kasihan, sewakan hotel untuk dia. Pakai uangmu sendiri."

Wajah Hendro menggelap.

Bi Wang datang dengan tergesa-gesa. Setelah mendengar perintah Lily, ia naik bersama Bi Lan. Tidak sampai sepuluh menit kemudian, dua koper besar dan beberapa tas diturunkan ke ruang tamu.

Vanya menangis tanpa suara. Jovian berdiri di depannya seperti perisai.

Orang yang selalu butuh dilindungi ternyata paling pandai memilih medan perang.

Jovian akhirnya menarik koper Vanya. "Baik. Kami pergi dulu."

Sebelum keluar, ia menatap Kiana sekali lagi. "Aku akan bicara denganmu setelah kamu tenang."

"Tidak perlu." Kiana memandangnya datar. "Aku sudah sangat tenang."

Jovian tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi Vanya menyentuh lengannya. "Jovian, ayo. Jangan memperburuk keadaan."

Mereka keluar.

Hendro ikut berjalan cepat ke halaman, seolah hendak memastikan tamu tidak merasa dipermalukan. Dari tempat kursi rodanya, Kiana melihat lewat jendela tinggi ruang tamu.

Di sisi mobil, Hendro berdiri dekat Vanya. Suaranya tidak terdengar jelas, tetapi Kiana bisa membaca gerak bibirnya pada kalimat terakhir.

Senin. Bintang Grup. Posisi wakil direktur teknologi.

Tangan Kiana di atas lutut mengencang.

Jadi secepat ini.

Belum genap setengah hari setelah pembatalan pernikahan, Papa-nya sudah menyiapkan kursi untuk Vanya.

Lily mengikuti arah pandang Kiana. Wajahnya berubah pelan.

"Kia," bisiknya. "Apa yang Papa kamu katakan?"

Kiana tidak langsung menjawab. Ia menunggu Hendro kembali ke rumah, wajahnya sudah kembali menjadi ayah yang pura-pura tenang.

Baru setelah Hendro masuk ke ruang kerja dengan alasan menelepon, Kiana menggenggam tangan Mama.

"Ma," katanya pelan, "mulai hari ini, jangan tanda tangan dokumen apa pun dari Papa."

Lily menatapnya.

Kiana menahan nyeri di kaki, tetapi suaranya tetap stabil.

"Dan satu lagi. Cek mutasi rekening Papa beberapa bulan terakhir."

Di mata Lily, kemarahan tadi berubah menjadi sesuatu tajam.

"Kia, kamu tahu sesuatu?"

Kiana menatap pintu ruang kerja yang tertutup.

Ia tahu banyak.

Tapi saat ini, satu kalimat sudah cukup.

"Aku cuma tidak mau kehilangan Mama untuk kedua kalinya."

Episode 3

Bab 3

"Aku cuma tidak mau kehilangan Mama untuk kedua kalinya."

Kalimat itu membuat Lily lama tidak bersuara. Kiana tahu Mama ingin bertanya lebih jauh, tetapi ia juga tahu Lily bukan orang yang memaksa anaknya bicara saat luka masih basah.

Malam itu, setelah Hendro masuk ke ruang kerja dan rumah kembali pura-pura tenang, Kiana meminta Bi Lan membantunya naik ke kamar. Begitu pintu tertutup, wajah rapuh yang ia tunjukkan pada Mama menghilang sedikit demi sedikit.

Ia membuka laci meja, mengambil map kulit cokelat yang sejak dulu disimpan Engkong untuknya.

Di kehidupan sebelumnya, Kiana baru benar-benar memahami isi map itu setelah semuanya terlambat. Saat itu, ia sudah menikah dengan Jovian, tapi seluruh keputusan Bintang Grup tetap dikendalikan Hendro dengan alasan Kiana "tidak paham bisnis". Ia terlalu sibuk menjadi istri sempurna sampai lupa membaca haknya sendiri.

Kali ini, ia membaca setiap baris dengan mata dingin.

Wasiat Mendiang Engkong Lim.

Jika cucu perempuan satu-satunya, Kiana Lim, telah menikah secara sah sebelum usia dua puluh lima tahun, maka hak kelola empat puluh persen saham Bintang Grup berpindah ke tangannya, disahkan melalui notaris keluarga.

Jari Kiana berhenti di angka itu.

Empat puluh persen.

Itu bukan sekadar saham. Itu kunci untuk menarik Mama keluar dari cengkeraman Hendro, kunci untuk menghalangi Vanya masuk lewat pintu belakang, dan kunci untuk mengambil kembali semua yang di kehidupan sebelumnya ia lepaskan demi seorang pria.

Masalahnya, pernikahannya dengan Jovian sudah batal.

Besok adalah tanggal yang seharusnya menjadi hari pernikahan mereka.

Jika ia melewatkan kesempatan ini, Hendro pasti akan memakai celah waktu untuk menggugat isi wasiat, menunda proses notaris, atau lebih buruk, membuat Kiana terlihat tidak stabil setelah kebakaran.

Kiana mengambil ponsel.

Kontak bernama Vani berada di urutan atas.

Pesan pertama yang ia ketik sangat singkat.

Kia: Vani, sepupumu masih single?

Balasan datang kurang dari sepuluh detik.

Vani: Yang mana? Sepupu gue banyak, Kia. Kalau yang kaya, yang ganteng, atau yang bikin keluarga sakit kepala?

Kiana menatap layar beberapa detik, lalu mengetik.

Kia: Yang pemadam kebakaran. Yang pernah kamu bilang sering disuruh nikah.

Kali ini, Vani langsung menelepon.

Kiana mengangkat sebelum dering kedua.

"Lo kenapa tiba-tiba nanya Hans?" suara Vani datang cepat, tajam, penuh curiga. "Jangan bilang Jovian bikin ulah lagi."

"Dia membatalkan pernikahan."

Di seberang sana, hening satu detik.

Lalu ledakan.

"Apa?!" Vani hampir berteriak. "Di mana dia? Gue kirim somasi malam ini juga. Nggak, tunggu, gue datang ke rumah lo sekarang."

"Vani," potong Kiana. "Aku butuh satu hal."

"Apa?"

"Aku butuh pernikahan."

Kali ini Vani benar-benar diam.

Kiana bisa membayangkan sahabatnya berdiri dengan ponsel menempel di telinga, mata membelalak, mungkin lupa menutup laptop berisi dokumen klien.

"Kia," kata Vani pelan, "lo sadar baru ngomong apa?"

"Sadar. Engkong punya syarat di wasiat. Menikah sebelum dua puluh lima. Kalau tidak, hak kelola empat puluh persen bisa ditahan."

Vani mengumpat pendek. "Hendro tahu?"

"Pasti tahu."

"Dan dia baru saja masukin Vanya ke Bintang Grup?"

"Senin."

"Brengsek." Vani menarik napas kasar. "Oke. Hans single. Umur dua puluh delapan. Tinggi sekitar seratus delapan puluh delapan, mungkin lebih. Pemadam di Pos Damkar Tanjung Priok. Orangnya dingin, susah diajak ngobrol, tapi kalau dia janji, dia pegang. Keluarga udah capek nyuruh dia nikah."

Kiana memejamkan mata.

"Bisa kamu tanya malam ini?"

"Kia, ini bukan beli tiket konser."

"Aku tahu."

"Lo yakin bukan karena sakit hati?"

Kiana melihat map wasiat di pangkuannya, lalu telapak tangannya yang masih dibalut.

"Justru karena aku sudah tidak mau sakit hati."

Vani terdiam lagi. Ketika bicara, suaranya lebih lembut. "Oke. Gue tanya. Tapi kalau dia setuju, lo harus tetap bikin perjanjian pranikah. Aset lo aman. Tubuh lo aman. Hidup lo aman. Ngerti?"

Sudut bibir Kiana bergerak samar.

"Makanya aku menelepon pengacara."

"Bagus. Masih ada otak." Vani menghela napas. "Tunggu kabar gue."

Telepon terputus.

Malam itu Kiana tidak tidur nyenyak. Kakinya berdenyut, telapak tangannya perih, tetapi pikirannya jauh lebih jernih daripada tahun-tahun yang ia habiskan menunggu Jovian pulang.

Pukul enam pagi, Vani mengirim lokasi Catatan Sipil Jakarta Selatan.

Vani: Jam sembilan. Bawa KTP, KK, akta lahir, foto. Gue sudah kirim format perjanjian. Sepupu gue setuju.

Kia: Secepat itu?

Vani: Dia cuma jawab, "Boleh." Itu orang memang irit kata. Jangan kaget.

Kiana menatap satu kata itu lama.

Boleh.

Jawaban yang terlalu sederhana untuk keputusan sebesar pernikahan.

Pukul sembilan kurang lima, mobil yang dipesan Kiana berhenti di depan kantor Catatan Sipil. Ia turun perlahan, dibantu sopir, dengan penyangga di pergelangan kaki dan map dokumen di tangan.

Hari ini seharusnya ia memakai gaun pengantin.

Sebagai gantinya, ia memakai kemeja putih longgar, celana hitam, dan sepatu datar. Wajahnya pucat, tetapi matanya bersih.

Di bawah kanopi pintu masuk, seorang pria berdiri membelakanginya.

Kaos hitam. Celana kargo gelap. Bahu lebar yang membuat orang-orang di sekitar tampak lebih kecil. Rambutnya dipotong pendek, rapi tanpa usaha. Ia tidak memainkan ponsel seperti orang menunggu. Ia hanya berdiri, diam, seolah seluruh kebisingan pagi tidak ada hubungannya dengan dia.

Lalu pria itu berbalik.

Napas Kiana tertahan.

Wajah itu.

Garis rahang tegas yang semalam sempat diterangi lampu ambulans. Mata gelap yang menatapnya di balik masker pemadam. Punggung yang menahan balok panas agar tidak mengenai tubuhnya.

"Kamu..." Kiana hampir berbisik.

Pria itu menatap penyangga di kakinya, lalu telapak tangannya yang dibalut.

"Masih sakit?"

Nada suaranya sama. Rendah, pendek, tanpa basa-basi.

Kiana menelan keterkejutan. "Kamu pemadam semalam."

"Hans Kei." Ia memperkenalkan diri seolah sedang mengisi formulir. "Sepupu Vani."

Kebetulan seperti ini, kalau terjadi di kehidupan sebelumnya, mungkin akan Kiana anggap takdir romantis.

Sekarang ia hanya tahu satu hal.

Orang yang semalam menyelamatkannya dari api, pagi ini berdiri di depan Catatan Sipil untuk menjadi suaminya.

"Kiana Lim," katanya, meski jelas Hans sudah tahu.

Hans mengangguk. "Kita bicarakan syarat dulu."

Mereka duduk di bangku luar kantor. Kiana mengeluarkan draf perjanjian dari Vani.

"Pernikahan ini untuk memenuhi kebutuhan legal," kata Kiana. "Kita tidak saling mengganggu hidup pribadi. Harta masing-masing terpisah. Kalau suatu hari perlu bercerai, kita selesaikan baik-baik melalui prosedur hukum. Aku paling tidak suka kebohongan."

Hans membaca cepat. "Setuju."

"Kamu tidak mau menambah syarat?"

Ia mengangkat mata. "Ada."

Kiana menunggu.

"Aku tidak tertarik pada perempuan." Wajah Hans tetap datar. "Aku menikah hanya untuk menghentikan desakan keluarga. Jangan menaruh perasaan yang tidak perlu padaku."

Kiana berkedip.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu ia mengangguk dengan sangat sopan. "Aku mengerti. Aku menghormati batasanmu."

Tatapan Hans berhenti di wajahnya, seolah merasa jawaban itu sedikit aneh. Namun ia tidak bertanya.

"Kalau begitu masuk," katanya.

Kiana berdiri. Baru dua langkah, rasa nyeri menyambar pergelangan kakinya. Ia menggigit bibir, berusaha menjaga keseimbangan.

Bayangan tinggi jatuh di depannya.

"Terlalu lambat."

"Aku bisa jalan."

"Bisa, tapi lama."

Sebelum Kiana sempat membalas, Hans sudah membungkuk dan mengangkatnya ke dalam pelukan.

Map dokumen hampir jatuh dari tangan Kiana. Ia refleks mencengkeram bahu pria itu. Aroma sabun, matahari pagi, dan sedikit asap yang masih tertinggal di jaketnya langsung memenuhi napasnya.

"Hans..."

"Pegang dokumenmu."

Orang-orang di ruang tunggu menoleh. Petugas di loket bahkan berhenti mengetik. Kiana merasa telinganya panas, tetapi wajah Hans tetap tanpa ekspresi, seolah menggendong calon istri masuk kantor negara adalah bagian normal dari prosedur administrasi.

Prosesnya berjalan lebih cepat daripada yang Kiana bayangkan.

Formulir. Tanda tangan. Pemeriksaan dokumen. Foto dengan latar putih. Petugas perempuan paruh baya menatap mereka bergantian, lalu tersenyum tipis ketika melihat Hans masih berdiri terlalu dekat dengan kursi Kiana.

"Suaminya perhatian sekali," katanya.

Kiana hampir tersedak.

Hans hanya menjawab singkat, "Dia cedera."

Setelah cap terakhir turun di atas dokumen, petugas menyerahkan dua buku nikah sipil dan satu lembar bukti pencatatan.

"Selamat. Pernikahan kalian sudah tercatat sah di Catatan Sipil."

Kiana menatap namanya berdampingan dengan nama Hans Kei.

Tidak ada bunga. Tidak ada gaun. Tidak ada janji cinta palsu.

Anehnya, dadanya terasa lebih lapang daripada kemarin.

Di luar kantor, Hans menyerahkan sebuah kartu ATM hitam polos.

Kiana menatap kartu itu. "Apa ini?"

"Kartu gaji."

"Untuk apa diberikan padaku?"

"Di pos, kalau laki-laki menikah, kartu gaji diserahkan ke istri." Hans berkata seolah itu hukum alam. "Password enam angka sembilan. Saldo terakhir Rp 500.000."

Kiana terdiam.

Rp 500.000.

Jumlah itu bahkan tidak cukup untuk membeli satu buket bunga dari vendor pernikahan Jovian, tetapi pria di depannya menyerahkannya dengan wajah serius, seperti itu seluruh dunia yang ia punya.

"Kamu yakin?" tanya Kiana pelan. "Aku tidak membutuhkan uangmu."

"Aku tahu."

"Kalau begitu simpan saja."

Hans tidak menarik tangannya. "Itu kewajiban."

Ada sesuatu yang aneh menusuk hati Kiana. Bukan sakit seperti saat Jovian memilih Vanya. Ini lebih pelan, lebih hangat, lebih membuatnya tidak tahu harus meletakkan tangan di mana.

Akhirnya ia menerima kartu itu.

"Terima kasih."

Hans mengangguk, lalu membuka aplikasi transportasi di ponselnya. "Aku panggil Grab. Kamu pulang ke Vila Lim?"

"Iya."

"Kirim pesan kalau sudah sampai."

Kiana menatapnya. "Bukankah kita tidak saling mengganggu hidup pribadi?"

"Memastikan orang cedera sampai rumah bukan gangguan."

Kalimat itu terlalu datar untuk disebut perhatian, tetapi terlalu konkret untuk diabaikan.

Di dalam mobil, Kiana menatap kartu ATM di telapak tangan. Setelah beberapa menit, ia membuka WhatsApp dan mengirim pesan pada Vani.

Kia: Vani.

Vani: Udah sah?

Kia: Udah.

Vani: Gila. Gue masih nggak percaya.

Kiana menatap pesan berikutnya beberapa detik, lalu mengetik pelan.

Kia: Sepupu kamu itu... beneran nggak tertarik sama perempuan?

Balasan Vani datang dalam bentuk deretan panjang tawa.

Vani: WKWKWKWK. Kia, lo baru nikah sepuluh menit udah nanya itu?

Kiana menyandarkan kepala ke kursi mobil. Di luar jendela, Jakarta pagi bergerak cepat, seolah hidup barunya tidak menunggu siapa pun.

Di telapak tangannya, kartu ATM itu terasa ringan.

Namun entah kenapa, untuk pertama kalinya setelah terbakar, Kiana merasa ada seseorang yang tidak hanya bicara soal melindungi.

Ia benar-benar menyerahkan sesuatu.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!