"Tidak semua pertemuan diawali dengan rasa suka. Ada yang dimulai dari sebuah keputusan, lalu perlahan berubah menjadi cinta."
Pukul enam pagi.
Halaman Kantor Kecamatan sudah mulai dipenuhi kendaraan pegawai. Di antara deretan motor dan mobil, seorang pria berseragam dinas khaki berjalan dengan langkah tenang. Tangannya mendekap sebuah map tebal berisi tumpukan berkas.
"Saya titip berkas ini, Pak," kata Satria sambil menyerahkan map tersebut kepada petugas piket.
"Baik, Pak Satria," jawab petugas itu dengan sikap hormat.
Satria Baskara hanya mengangguk singkat sebagai respons.
Di usianya yang menginjak dua puluh delapan tahun, ia dikenal sebagai pegawai yang disiplin, tegas, dan irit bicara. Hampir setiap hari ia menjadi orang pertama yang datang dan orang terakhir yang mengunci ruangan.
"Bukannya kamu harusnya ambil cuti minggu ini, Sat?" goda Doni, rekan kerjanya, yang tiba-tiba muncul dari balik kubikel sambil membawa cangkir kopi.
Satria menoleh sekilas lalu menghidupkan komputer kerjanya. "Cuti untuk apa?"
"Ya buat cari jodohlah!" Doni tertawa renyah, sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar pegawai lain. "Ingat umur, Bro. Dua puluh delapan itu ibarat kuota internet, sudah masuk masa tenggang. Kalau tidak cepat-cepat diisi *unlimited* pakai buku nikah, bisa-bisa hangus sendirian!"
Beberapa rekan kerja yang baru datang langsung ikut tertawa mendengar celetukan Doni.
"Kalau jodoh bisa dicari lewat cuti, mungkin kantor ini sudah sepi dari dulu," sahut Satria datar, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor. Senyum tipis hampir tak terlihat di sudut bibirnya.
Doni hanya menggeleng-geleng melihat respons dingin itu, sementara Satria sudah kembali tenggelam dalam tumpukan laporan. Bagi Satria, fokus pada karier dan berbakti kepada orang tua jauh lebih masuk akal daripada membuang waktu memikirkan drama percintaan yang tidak pasti.
Di sudut kota yang berbeda...
Aroma manis dari mentega dan vanila yang baru matang menguar dari sebuah toko kue mungil bertuliskan Naira Cake House.
"Selamat pagi, Kak Naira," sapa seorang karyawan yang baru datang.
"Pagi. Kuenya sudah siap semua di etalase, ya," sahut Naira Azzahra sambil tersenyum hangat.
Tangannya begitu terampil memutar lazy susan saat mengoleskan krim di atas kue tart. Gerakannya luwes, mencampur adonan, lalu membungkus pesanan pelanggan satu per satu tanpa terlihat lelah. Usaha rumahan yang dulu ia rintis dari dapur kecil ibunya kini mulai berkembang pesat.
"Kalau ramai terus begini, sebentar lagi Kak Naira bisa buka cabang di pusat kota," puji karyawannya penuh semangat.
"Aamiin. Pelan-pelan saja dulu yang penting kualitasnya terjaga," jawab Naira diiringi tawa pelan.
Bagi Naira, kebahagiaan terbesar adalah melihat pelanggan pulang dengan senyum puas setelah mencicipi kuenya. Ia sama sekali tidak pernah menduga bahwa dalam waktu dekat, ritme hidupnya yang tenang ini akan diguncang oleh satu kata yang paling ia hindari, Pernikahan.
Malam harinya...
Suasana di dalam rumah keluarga Baskara terasa lebih sunyi dari biasanya. Pak Hasan memandangi putra tunggalnya yang baru saja melangkah masuk ke dalam rumah.
"Satria," panggil Pak Hasan, memecah keheningan.
"Iya, Pak?" Satria menghentikan langkahnya di dekat ruang tamu.
"Duduk sebentar, Ayah dan Ibu ingin bicara," sahut ibunya yang datang dari arah dapur membawa secangkir teh hangat.
Satria meletakkan tas kerjanya di kursi kosong, lalu duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya. Perasaannya mulai tidak enak melihat keseriusan di wajah sang ayah.
"Kami berniat menjodohkanmu," ucap Pak Hasan langsung tanpa basa-basi.
Satria terdiam. Matanya mengerjap beberapa kali, mencoba mencerna ucapan ayahnya. "Maaf, Pak, Bu... tapi sepertinya Satria belum terpikir untuk ke sana. Pekerjaan di kantor sedang padat-padatnya, dan Satria merasa belum siap."
"Mau sampai kapan kamu tidak siap, Satria?" tanya Pak Hasan, nadanya mulai memberat. "Umurmu sudah dua-puluh delapan tahun. Teman-teman seangkatanmu sudah menimang anak."
"Benar, Nak," timpal ibunya sambil mengusap lengan Satria lembut. "Kamu itu anak kami satu-satunya. Anak tunggal. Ibu dan Ayah ini sudah semakin tua. Kami sangat ingin melihatmu bersanding di pelaminan dan menimang cucu sebelum usia kami habis. Apa kamu tidak kasihan melihat rumah ini selalu sepi?"
Satria menunduk dalam-dalam. Kata-kata ibunya telak menghantam sudut hatinya yang paling sensitif. Sebagai anak tunggal, ia tahu betul bahwa harapan kedua orang tuanya sepenuhnya tertumpu pada pundaknya. Selama ini ia terlalu sibuk bekerja hingga lupa bahwa orang tuanya menua dalam sepi.
"Apa aku boleh bertemu dengannya dulu?" tanya Satria akhirnya, memecah keheningan setelah bermenit-menit menimbang keputusan.
"Tentu saja boleh, Nak. Pasti!" jawab ibunya bersemangat, wajah senjanya langsung berubah cerah seketika.
Satria mengangguk pelan, menyembunyikan helaan napas beratnya. "Kalau itu memang bisa membuat Ayah dan Ibu tenang... aku bersedia."
Di saat yang bersamaan...
Di ruang tengah rumah Naira, suasana tak kalah menegangkan. Ayah Naira meletakkan cangkir kopinya lalu menatap sang putri yang baru saja duduk di karpet.
"Naira..." panggil ayahnya lembut.
"Iya, Yah? Ada apa?" sahut Naira yang baru saja berniat melanjutkan kegiatannya menggambar sketsa dekorasi kue di buku catatannya.
"Ayah ingin mengenalkanmu dengan seseorang," kata sang ayah tenang.
Naira menghentikan goresan pensilnya. Jantungnya tiba-tiba berdegup sedikit lebih kencang. "Seseorang? Maksud Ayah, rekan bisnis?"
"Keluarga teman lama Ayah ingin menjodohkanmu dengan putra mereka," jelas ayahnya langsung.
Senyum yang sempat tersisa di wajah Naira perlahan memudar. Pensil di tangannya nyaris terlepas. "Menjodohkanku? Tapi Naira sedang fokus membesarkan toko kue, Yah."
"Ayah tahu, tapi tidak ada salahnya mencoba mengobrol dulu, kan?" sahut ayahnya dengan tatapan penuh harap.
Ruangan itu mendadak sunyi senyap.
Tak ada yang menyangka, dua orang yang menjalani kehidupan di dunia yang sepenuhnya berbeda dan bahkan belum pernah saling tatap... kini sedang diarahkan oleh takdir menuju satu titik yang sama.
Dan beberapa hari lagi...
Mereka akan dipaksa duduk di satu meja, berhadapan sebagai calon pasangan hidup.
Bersambung...
Suasana pagi di Kantor Kecamatan mulai ramai. Beberapa pegawai berlalu-lalang membawa map berisi berkas, sementara suara ketukan jari di kibor dan deru printer yang saling bersahutan memenuhi ruangan.
"Sat, berkas pelayanan yang kemarin sudah selesai belum?" tanya Siska, staf administrasi, sambil melongok dari balik sekat mejanya.
"Sudah. Ada di meja saya, tinggal ditandatangani Pak Camat," jawab Satria Baskara tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di tangannya.
"Siap, terima kasih ya!" sahut Siska cekatan.
Satria kembali menundukkan kepala, memeriksa ketelitian satu per satu dokumen sebelum diserahkan ke ruang pimpinan. Seperti biasa, ia selalu datang paling pagi dan menyelesaikan sebagian besar tugasnya sebelum jam pelayanan benar-benar dibuka.
Tak lama kemudian, pintu area depan terbuka.
"Mas Satria, Pak Camat sudah datang dan ada di ruangannya," beri tahu Kinan, staf magang yang baru masuk membawa baki berisi cangkir kopi.
"Baik. Terima kasih, Kinan," balas Satria tenang.
Satria merapikan map berwarna biru di tangannya, berdiri, lalu berjalan mantap menuju ruang kepala kecamatan.
Tok... tok...
"Silakan masuk," terdengar suara dari dalam setelah Satria mengetuk pintu kayu itu dua kali.
"Selamat pagi, Pak," sapa Satria seraya melangkah masuk dan berdiri tegak di depan meja kerja atasannya.
"Pagi, Satria. Ada yang bisa dibantu?" Pak Camat mengangkat kepala, mengalihkan perhatian dari tumpukan berkas di mejanya.
"Pak, saya ingin mengajukan izin cuti satu hari untuk besok," ucap Satria langsung pada intinya.
"Cuti? Tumben sekali," respons Pak Camat dengan alis bertaut. Ia memajukan duduknya, menatap pegawai andalannya itu dengan heran. Selama bertahun-tahun bekerja, Satria hampir tidak pernah mengambil hak cutinya jika tidak benar-benar mendesak.
"Iya, Pak. Ada urusan keluarga yang sangat penting dan tidak bisa saya tinggalkan," jelas Satria, berusaha menjaga suaranya tetap datar.
"Semua pekerjaanmu untuk besok sudah beres?" tanya Pak Cama memastikan.
"Sudah, Pak. Semua berkas penting untuk besok juga sudah saya siapkan dan saya delegasikan," jawab Satria mantap.
"Kalau begitu saya izinkan. Jangan lupa lusa langsung masuk lagi, ya," kata Pak Camat sambil tersenyum tipis dan menandatangani formulir izin tersebut.
"Siap, Pak. Terima kasih banyak," pamit Satria seraya membungkukkan badan singkat sebelum melangkah keluar dari ruangan.
Namun, baru beberapa langkah meninggalkan pintu ruang kepala kecamatan...
"Apa?!" seru Doni dengan suara lantang yang menggema di seluruh ruangan kerja. Pria jangkung itu rupanya tidak sengaja mengintip kertas di meja piket. "Cuy! Satria besok cuti!"
Sontak seluruh kepala di ruangan itu menoleh serempak.
"Apa? Yang benar?" tanya Gea, menghentikan ketikannya dengan wajah tidak percaya.
"Serius, Don? Orang paling rajin dan anti-bolos di kantor ini mau cuti?" timpal Siska, ikut melotot kaget.
Satria memejamkan mata sesaat, menahan napas. Ia bahkan belum sempat menduduki kursi kerjanya ketika Doni, Gea, dan Siska sudah bergerak cepat mengerubungi mejanya seperti sekawanan detektif.
"Sat, kamu sakit ya? Muka kamu agak pucat, lho," tanya Gea dengan nada khawatir, condong ke depan memeriksa wajah Satria.
"Bukan, Gea. Saya sehat," jawab Satria pendek.
"Mau pulang kampung ke rumah nenek?" tebak Siska bersemangat.
"Bukan juga," potong Satria sabar.
"Jangan-jangan mau ikut tes CPNS lagi di kementerian ya, Mas?" celetuk Kinan polos dari meja seberang, yang langsung disambut gelak tawa oleh yang lain.
Satria menggeleng pelan melihat tingkah rekan-rekannya. "Hanya ada urusan keluarga."
Belum sempat suasana mereda, Doni yang berwajah usil langsung menyandarkan lengannya di bahu Satria dengan sok akrab.
"Wah kalau urusan keluarga sampai bikin seorang Satria Baskara minta cuti mendadak, jangan-jangan" Doni menyipitkan mata, menatap Satria dengan senyum penuh arti. "mau ketemu calon istri, ya?"
Ruangan mendadak hening selama dua detik. Lalu...
"Hahaha! Benar juga!" Gelak tawa langsung pecah memenuhi ruangan.
"Eh, Doni mulai lagi deh kumat usilnya," lerai Gea sambil tertawa geli.
"Tapi masuk akal sih, kasihan Satria kalau komputer terus yang ditemani," timpal Siska berbisik jahil.
Doni tertawa puas melihat wajah Satria yang masih saja sedatar papan tulis. "Bagaimana, Sat? Jangan bilang tebakan gue seratus persen akurat."
Satria menarik kursinya perlahan, lalu duduk dengan tenang. "Tidak."
"Oh ya?" pancing Doni, belum puas.
"Hanya acara makan malam keluarga," jawab Satria, mencoba memotong obrolan.
"Acara makan malam apa sampai harus cuti seharian? Pasti ada udang di balik batu, nih," desak Siska ikut memojokkan.
"Rahasia," ucap Satria singkat.
"Wah, kalau sudah pakai kata 'rahasia' begini, makin mencurigakan!" seru Gea sambil tertawa bersama Siska.
Doni masih belum mau menyerah. Ia membungkuk, menatap langsung ke mata rekan kerjanya itu. "Coba jawab jujur, Sat. Kalau memang mau dijodohkan juga tidak apa-apa, kok. Zaman sekarang apa sih yang tidak mungkin?"
"Hahaha! Hari gini masih zaman dijodohkan, Don?" sahut Kinan ikut terkekeh geli dari jauh.
"Kalau buat Satria yang seleranya kaku begini, mungkin saja!" balas Doni yang langsung dihadiahi lemparan tisu dari Gea.
Satria mengembuskan napas pelan. Ia mengenal Doni, Siska, dan Gea sudah hampir lima tahun. Mereka memang terkenal sebagai tim paling berisik sekaligus paling usil di kantor kecamatan ini. Kalau sampai mereka tahu alasan sebenarnya bahwa ia besok memang akan menghadiri makan malam perjodohan bisa dipastikan seluruh kantor akan membahasnya hingga berbulan-bulan ke depan.
"Aku cuma mau menemani orang tua," kata Satria akhirnya, menjawab dengan nada sedatar mungkin tanpa mengubah raut wajahnya.
Doni menyipitkan mata, seolah-olah sedang mencari celah kebohongan dari ekspresi Satria. "Hmm, serius cuma itu?"
"Iya," jawab Satria mantap.
"Kenapa firasat gue bilang lo sedang menyembunyikan sesuatu yang besar, ya?" gumam Doni curiga.
Satria hanya tersenyum tipis, sangat tipis hingga hampir tak kelihatan. "Terserah kamu saja, Don."
Doni mendecak pelan karena gagal memancing reaksi heboh dari temannya itu. "Ya sudah. Tapi hati-hati saja, Sat. Kalau minggu depan kamu tiba-tiba menyebar undangan nikah di grup WhatsApp kantor, gue orang pertama yang akan menertawakan kamu paling keras!"
Ucapan Doni itu kembali menutup pagi dengan tawa riuh satu ruangan. Satria ikut tersenyum kecil menanggapi candaan para sahabatnya, meski di dalam hati, dadanya bergemuruh cemas.
"Semoga besok berjalan lebih baik dari apa yang aku bayangkan" bisik Satria dalam hati.
Sebab, untuk pertama kali dalam hidupnya, pria yang selalu kaku pada urusan cinta ini akan dipertemukan dengan seorang perempuan pilihan orang tuanya. Seseorang yang memegang kunci masa depannya nanti.
Seorang perempuan bernama Naira Azzahra.
Bersambung...
Jarum jam baru saja menunjukkan pukul dua belas siang.
Suasana di Naira Cake House mendadak jauh lebih ramai dari biasanya. Aroma manis dari panggangan roti yang baru matang berpadu sempurna dengan wangi mentega dan vanila, memenuhi seluruh ruangan toko yang sejuk. Beberapa pelanggan tampak mengantre rapi di depan etalase kaca yang memajang aneka roti, brownies, dan kue tart berhias cantik.
"Siang, Kak Naira!" sapa Doni dengan senyum lebarnya begitu tiba di depan kasir.
"Siang, Mas Doni. Mau pesan seperti biasa?" balas Naira Azzahra sambil memberikan senyum ramah andalannya.
"Iya, betul. Dua boks brownies kukus, satu cheese cake, sama enam roti abon, ya," sebut Doni tangkas.
"Baik, tunggu sebentar ya, Mas," ucap Naira lembut.
Tangan Naira bergerak dengan sangat cekatan. Ia memasukkan satu per satu kue ke dalam kotak putih bersih, lalu mengikatnya dengan pita kain berwarna cokelat muda yang manis.
Di sudut lain dekat rak display, Siska dan Gea sibuk memilih nampan.
"Kak, cinnamon roll nya masih ada tidak?" tanya Siska sambil melongok ke arah dapur bersih di belakang Naira.
"Masih ada, Mbak Siska. Itu baru saja keluar dari oven sekitar lima belas menit yang lalu," jawab Naira sambil menunjuk nampan yang masih agak berasap.
"Wah, pantas saja aromanya dari luar sudah bikin perut keroncongan!" seru Gea sambil tertawa kecil, lalu menjepit dua buah roti kayu manis itu ke nampannya.
Naira hanya tersenyum mendengar gurauan mereka sambil terus melayani pembeli lain dengan sabar. Ia memang belum menghafal semua nama pelanggannya. Namun, ia tahu betul kalau rombongan berseragam khaki ini adalah para pegawai dari kantor kecamatan seberang yang hampir setiap jam istirahat selalu mampir untuk membeli camilan.
Doni yang sedang menunggu pesanannya dibungkus, menoleh ke arah rekan-rekannya. "Gue bilang juga apa, kan? Toko ini tidak pernah sepi."
"Iya, bener kata kamu, Don. Makanya kita bela-belain jalan kaki ke sini," sahut Siska sambil membawa nampannya ke kasir.
"Brownies cokelatnya itu lho, bikin nagih terus," timpal Gea ikut memuji.
Naira yang sedang sibuk menghias pinggiran sepotong kue pesanan lain, mendengarkan obrolan itu dengan hati hangat.
"Eh, yang bikin kue-kue cantik ini... ternyata pemiliknya sendiri ya?" bisik seorang pegawai baru yang ikut dalam rombongan Doni, menatap kagum ke arah Naira.
"Iya, betul," jawab Doni dengan volume suara yang agak diredam. "Namanya Mbak Naira. Hebat, kan? Masih muda, pintar bikin kue, ramah lagi."
"Makanya pelanggan pada betah balik ke sini," tambah Siska menyetujui.
Pujian yang beruntun itu tak sengaja terdengar oleh Naira, membuat kedua pipinya sedikit merona kemerahan. Namun, ia buru-buru menyembunyikannya dengan kembali fokus mengemas pesanan.
"Mas Doni, ini semua pesanannya sudah siap," kata Naira sambil menyerahkan kantong belanjaan besar yang sudah rapi.
"Jadi berapa semuanya, Kak?" tanya Doni sambil merogoh dompetnya.
Naira menyebutkan total harga belanjaan mereka dengan ramah.
"Uangnya pas ya, Kak. Benar-benar tidak heran kalau toko ini selalu ramai," puji Doni tulus saat menyerahkan beberapa lembar uang kertas.
"Alhamdulillah. Terima kasih banyak ya sudah sering mampir ke sini," ucap Naira tulus.
"Sama-sama, mba. Tapi sepertinya besok saya tidak sempat mampir siang-siang begini," ujar Doni setengah curhat.
"Oh ya? Memangnya ada acara luar, Mas?" tanya Naira menanggapi sopan.
"Bukan, pekerjaan saya bakal bertambah dua kali lipat besok. Soalnya teman satu ruangan saya mendadak ambil cuti," keluh Doni dengan wajah pura-pura merengut.
Naira mengangguk-angguk kecil, ikut bersimpati. "Wah, berarti besok bakal repot sekali ya, Mas."
"Iya, padahal orangnya itu paling rajin dan anti-bolos di kantor," sahut Doni lagi.
Siska yang berdiri di samping Doni tiba-tiba menyenggol lengan pria itu sambil tertawa renyah. "Rajin sih rajin, Don tapi kalau besok dia cuti buat urusan keluarga, jangan-jangan tebakan kamu tadi pagi itu benar."
"Halah, paling juga dia mau pergi bertemu calon istrinya," timpal Gea ikut meledek dari belakang.
Doni langsung tertawa terbahak-bahak mendengar dukungan dari kedua temannya. "Nah, bener kan! Gue juga curiga begitu dari awal!"
"Memangnya nama temannya Mas Doni siapa?" tanya pegawai baru yang ikut mengantre, penasaran.
"Satria," jawab Doni mantap.
"Nama lengkapnya Satria Baskara. Itu lho, mas-mas idola di kantor kita yang wajahnya ganteng tapi sayangnya kaku mirip kanebo kering," tambah Siska memperjelas sambil terkekeh geli.
"Wah, jangan salah. Walaupun kaku begitu, dia itu pegawai emas kesayangan Pak Camat. Orangnya paling cekatan kalau soal pekerjaan. Laporan setebal apa pun bisa dia selesaikan dalam kedipan mata," puji Doni, tidak bisa menutupi rasa kagumnya pada etos kerja sahabatnya itu. "Makanya, kalau orang seandal Satria sampai minta cuti, seisi kantor langsung gempar."
Deg.
Nama itu terdengar sangat nyaring dan jelas di telinga Naira.
Tangan Naira yang hendak memasukkan sisa kembalian ke dalam laci kasir seketika membeku. Jantungnya tiba-tiba berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.
"Satria Baskara?" batin Naira dengan mata sedikit melebar.
Bukankah nama itu adalah nama pria yang diceritakan oleh ayahnya semalam? Pria tampan berprofesi sebagai PNS yang akan dijodohkan dengannya besok?
Naira buru-buru menggelengkan kepalanya pelan, mencoba mengusir pikiran yang aneh-aneh.
"Ah, mana mungkin tidak boleh langsung menyimpulkan begitu, Naira. Nama Satria di kota ini pasti ada banyak" gumam Naira.
Namun, deskripsi tentang sosok yang tampan, cekatan, sekaligus kaku itu entah mengapa terasa begitu pas dengan cerita sang ayah tentang putra tunggal sahabat lamanya yang berbakti namun belum pernah pacaran.
"Mas Doni, ini uang kembalian dan struknya," ujar Naira, berusaha memotong lamunannya sendiri agar tidak terlihat aneh di depan pelanggan.
"Oh, iya. Terima kasih banyak ya, mba Naira," balas Doni menerima kembalian itu tanpa curiga.
Berikut adalah pengembangan pada bagian akhir bab untuk menambah kedalaman emosi Naira sebelum bab ditutup:
"Sama-sama. Hati-hati di jalan semuanya," lambai Naira ramah mengiringi kepergian mereka.
Naira bersandar sejenak pada tepian meja kasir setelah pintu toko tertutup rapat. Matanya menatap kosong ke arah jalan raya, sementara jemarinya tanpa sadar meremas ujung celemek kain yang ia kenakan. Dadanya tiba-tiba dilingkupi rasa penasaran yang aneh sekaligus debaran gugup yang semakin merayap naik ke tangkai hatinya.
"Apakah takdir memang sedang bermain-main denganku?" bisik Naira dalam hati, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya.
Setelah rombongan pegawai kecamatan itu melangkah keluar, toko kue kembali dipenuhi oleh pelanggan yang lain. Naira mencoba mengalihkan seluruh fokusnya pada adonan dan dekorasi kue, berusaha keras melupakan percakapan singkat tadi.
Namun, entah mengapa nama Satria Baskara seolah melekat dan terus terngiang-ngiang di dalam kepalanya.
Di luar sana, Doni dan teman-temannya masih asyik bercanda di sepanjang jalan kembali menuju kantor, menjadikan nama Satria sebagai bahan gurauan siang hari.
Sementara di dalam toko, Naira sama sekali tidak menyadari bahwa pria kaku yang sedang dijadikan bahan lelucon oleh para pelanggannya itu, adalah pria yang besok akan duduk tepat di hadapannya untuk menentukan masa depan mereka bersama.
Bersambung...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!