Bab 1
Pengkhianatan Sebelas Tahun
Ponsel Albert menyala tepat ketika Liana sedang menutup kotak bekal terakhir.
Dapur rumah keluarga Phua di BSD City sudah sepi. Jarum jam hampir menyentuh pukul dua belas malam, tetapi aroma ayam jahe dan bawang putih masih tertinggal di udara. Di meja makan, tiga kotak bekal tersusun rapi. Satu untuk Albert. Satu untuk Jason yang kadang pulang tanpa memberi kabar. Satu lagi ia siapkan hanya karena kebiasaan, seolah masih ada keluarga yang menunggu sentuhan tangannya.
Liana baru saja hendak mencuci tangan ketika layar ponsel di ujung meja menyala lagi.
Albert biasanya tidak pernah meninggalkan ponselnya begitu saja. Bahkan saat mandi pun benda itu dibawa masuk ke kamar mandi. Malam ini mungkin ia terlalu lelah. Sepulang dari kampus, ia langsung masuk kamar, mengeluh sakit kepala, lalu tertidur dengan napas berat.
Liana tidak berniat melihat.
Ia hanya ingin mematikan layar agar baterainya tidak habis.
Namun, satu kalimat di notifikasi itu membuat ujung jarinya berhenti di udara.
Sayang, Jayden tadi nanya kapan Papa tidur di sini lagi.
Tubuh Liana seketika dingin.
Panci kecil yang masih ia pegang hampir terlepas. Ia menaruhnya pelan di wastafel, tetapi suara logam menyentuh keramik tetap terdengar terlalu nyaring di dapur sunyi itu.
Sayang.
Papa.
Jayden.
Tiga kata itu tidak mungkin berdiri sendiri. Tidak pada ponsel suaminya. Tidak setelah tiga puluh tahun pernikahan yang selama ini ia rawat seperti kain tua yang terus ditambal agar tidak kelihatan robek.
Liana menatap pintu kamar utama. Tidak ada suara dari sana. Hanya dengung AC dan detak jam dinding.
Tangannya gemetar saat mengambil ponsel itu.
Ia tahu pola kunci Albert. Bukan karena ia suka memeriksa, melainkan karena Albert sering menyuruhnya membalas pesan dosen muda atau mencari nomor mahasiswa ketika sedang menyetir. Malam itu, layar meminta sidik jari.
Liana berdiri beberapa detik, menahan napas. Kemudian ia membawa ponsel itu ke kamar.
Albert tidur miring, satu tangan terkulai di atas selimut. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang menyimpan badai di dalam rumahnya sendiri.
Liana mengangkat ibu jari Albert pelan.
Klik.
Layar terbuka.
Jantungnya berdebar begitu keras sampai ia takut Albert akan terbangun hanya karena suara itu.
Nama kontak di WhatsApp bukan Yuni Yap. Bukan nama perempuan mana pun. Albert menyimpannya sebagai Dokumen Kampus.
Tetapi foto profilnya adalah seorang perempuan muda dengan rambut sebahu, tersenyum di depan kaca apartemen. Di belakangnya ada anak laki-laki memakai seragam sekolah dasar.
Liana membuka percakapan itu.
Ia tidak perlu menggulir jauh untuk memahami semuanya.
Ada foto makan malam. Ada pesan manja yang dibalas Albert dengan kata-kata yang tidak pernah lagi ia ucapkan kepada istrinya. Ada transfer bulanan. Ada bukti pembayaran sekolah. Ada foto kue ulang tahun anak dengan lilin angka sepuluh.
Jayden sudah sepuluh tahun hari ini. Papa harus datang, Ko Albert.
Sebelas tahun, batin Liana.
Jari-jarinya bergerak sendiri, menggulir ke atas, jauh melewati bulan dan tahun. Foto berubah, tanggal berganti, tetapi kebohongan itu tidak pernah putus. Satu demi satu pesan muncul seperti jarum yang ditancapkan perlahan ke kulitnya.
Aku kangen.
Kapan kamu bisa tinggal sama aku?
Liana tidak curiga, kan?
Albert menjawab, Dia terlalu sibuk urus rumah. Tidak akan tahu.
Ruangan terasa berputar.
Liana bersandar ke lemari, ponsel masih di tangan. Tenggorokannya kering. Selama ini ia mengira usia yang membuat Albert berubah. Ia mengira dinginnya suami adalah akibat pekerjaan, ambisi akademik, atau kelelahan mengurus kampus.
Ternyata, ia hanya perempuan yang ditinggalkan di rumah untuk menjaga nama baik.
Tiga puluh tahun ia bangun lebih pagi dari semua orang. Tiga puluh tahun ia menyiapkan makanan, mencuci pakaian, mengatur obat Kim Hwa, menunda keinginan sendiri, menelan setiap sindiran keluarga Phua karena ia percaya rumah tangga harus dijaga.
Lima tahun pertama ia belajar menjadi istri yang baik.
Sepuluh tahun berikutnya ia belajar menjadi menantu yang tidak mengeluh.
Dua puluh tahun terakhir ia belajar hidup dengan lubang di dada setelah Dede hilang, putra kandungnya yang sampai hari ini masih ia cari dalam doa.
Dan selama sebelas tahun dari semua tahun itu, Albert punya rumah lain. Perempuan lain. Anak lain.
Liana membuka galeri percakapan. Ada foto Albert memeluk Jayden di depan pohon Natal kecil. Ada foto Yuni menyandarkan kepala ke bahu Albert di sebuah apartemen. Ada video pendek seorang anak laki-laki meniup lilin sambil berteriak, "Papa, lihat sini!"
Liana menutup mulutnya.
Air mata naik, tetapi ia tidak membiarkannya jatuh. Bukan sekarang. Bukan di depan wajah Albert yang sedang tidur nyenyak setelah mengkhianatinya begitu lama.
Ia mengambil ponselnya sendiri dari nakas, memotret layar satu per satu. Percakapan. Nomor rekening. Bukti transfer. Foto. Nama apartemen yang berkali-kali muncul dalam pesan lokasi.
Apartemen Golden Crown.
Jumlah uang yang dikirim tidak kecil. Uang itu lebih besar daripada biaya bulanan rumah yang selalu Albert perhitungkan dengan suara dingin.
Liana teringat bagaimana minggu lalu Albert menegurnya karena membeli vitamin tambahan untuk Kim Hwa.
"Jangan boros. Uang tidak tumbuh di pohon."
Saat itu ia hanya diam. Ia bahkan merasa bersalah.
Sekarang, rasa bersalah itu berubah menjadi sesuatu yang panas dan tajam.
"Apa yang kamu lakukan?"
Suara Albert membuat Liana menoleh.
Pria itu sudah terbangun. Matanya menyipit, lalu melebar ketika melihat ponsel di tangan Liana.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Liana melihat ketakutan di wajah suaminya.
Hanya sebentar.
Setelah itu, wajah Albert mengeras.
"Kembalikan ponselku."
Liana tidak bergerak. "Sebelas tahun?"
Albert turun dari ranjang. "Aku bilang, kembalikan."
"Sebelas tahun, Albert?" Suara Liana pelan, tetapi setiap katanya keluar jelas. "Anak itu sepuluh tahun. Berarti kamu bersama dia sejak aku masih merawat Mama-mu setiap malam."
Rahang Albert menegang. "Kamu membuka ponselku?"
Liana hampir tertawa. Bukan karena lucu, melainkan karena pertanyaan itu terlalu hina.
"Itu yang kamu khawatirkan?"
"Kamu tidak punya hak membuka barang pribadiku."
"Dan kamu punya hak punya keluarga lain?"
Albert mengusap wajahnya kasar. Ia berjalan mondar-mandir di samping ranjang, seperti dosen yang kehilangan bahan kuliah di depan kelas. "Kamu tidak mengerti situasinya."
"Jelaskan."
Albert berhenti. "Yuni tidak menuntut macam-macam."
Nama itu akhirnya keluar.
Yuni.
Perempuan di foto itu punya nama. Perempuan yang selama ini menerima uang, waktu, perhatian, dan tubuh suaminya.
"Dia tidak menuntut?" Liana menatapnya. "Aku yang menuntut apa selama ini, Albert? Aku minta rumah mewah? Aku minta mobil baru? Aku bahkan berhenti kuliah karena ibumu bilang keluarga lebih penting."
"Jangan bawa Mama."
"Kenapa? Kamu boleh bawa perempuan lain ke dalam hidup kita, tapi aku tidak boleh menyebut ibumu yang aku rawat sepuluh tahun?"
Albert menunjuk wajahnya. "Turunkan suaramu."
"Tidak ada siapa-siapa yang perlu kamu tipu malam ini."
"Liana!"
Bentakan itu dulu cukup untuk membuatnya diam. Dulu ia akan menunduk, meminta maaf meski tidak tahu salahnya apa. Dulu ia takut rumah ini retak jika ia menjawab terlalu keras.
Malam ini, retaknya sudah terlihat sampai ke tulang.
Liana meletakkan ponsel Albert di atas meja rias. Ia melepas celemek yang masih tergantung di tubuhnya, melipatnya sekali, lalu menaruhnya di kursi. Gerakan itu pelan, hampir terlalu rapi, tetapi di dalam dadanya sesuatu sudah terputus.
"Aku mau cerai."
Albert terpaku.
Beberapa detik ia hanya menatap Liana seolah perempuan di depannya berubah menjadi orang asing.
Lalu ia tertawa pendek. "Cerai?"
"Iya."
"Kamu bicara karena emosi."
"Aku bicara karena akhirnya sadar."
Albert melangkah mendekat. Bau minyak rambut dan sisa parfum kampusnya menusuk hidung Liana. Dulu bau itu terasa akrab. Sekarang terasa seperti barang asing di rumahnya sendiri.
"Dengar baik-baik," kata Albert, suaranya merendah, penuh tekanan. "Di usia lima puluh, kamu mau jadi apa setelah cerai?"
Liana menatapnya tanpa berkedip.
"Kamu tidak punya pekerjaan. Tidak punya penghasilan. Tiga puluh tahun kamu cuma di rumah. Kamu pikir dunia di luar sana menunggu perempuan sepertimu?"
Setiap kalimatnya seperti sengaja dipilih untuk menampar tempat paling lembut dalam diri Liana.
Ia bisa merasakan cincin nikah di jarinya. Logam itu tiba-tiba terasa sempit, menekan kulit yang sudah lama terbiasa menanggung beban.
"Lebih baik jadi bukan siapa-siapa daripada tetap jadi istri laki-laki yang membohongiku sebelas tahun."
Mata Albert menyala marah. "Jaga mulutmu."
"Kamu yang seharusnya menjaga pernikahanmu."
"Aku laki-laki, Liana. Ada hal yang tidak sesederhana pikiranmu."
"Pengkhianatan memang sederhana. Kamu memilih."
Wajah Albert memerah. Ia meraih ponselnya dari meja rias, tetapi Liana sudah menyalin cukup banyak bukti. Mungkin ia menyadari itu, karena tangannya berhenti di udara.
"Apa yang kamu kirim ke ponselmu?"
Liana diam.
"Jawab!"
"Cukup untuk mengingatkan diriku agar tidak memaafkanmu hanya karena takut lapar."
Albert menatapnya tajam, lalu tertawa sinis. "Kamu pikir bukti itu bisa membuatmu menang? Rumah ini atas namaku. Tabungan atas namaku. Mobil atas namaku. Semua yang kamu pakai selama ini dari uangku."
Liana merasakan kuku ibu jarinya menekan telapak tangan. Sakit kecil itu membuat kepalanya tetap jernih.
"Tiga puluh tahun hidupku juga kamu pakai, Albert."
"Jangan dramatis."
"Aku tidak sedang dramatis. Aku sedang menagih."
Albert mendekat satu langkah lagi. Kali ini, suaranya berubah dingin.
"Kalau kamu berani membawa ini keluar, aku pastikan semua orang tahu kamu istri yang gagal. Tidak bisa menjaga suami. Tidak bisa menjaga anak sampai Dede hilang. Setelah itu kamu mau tinggal di mana? Di rumah Jessy? Berapa lama dia sanggup menampung perempuan tua tanpa uang?"
Nama Dede membuat dada Liana seperti dihantam.
Selama dua puluh tahun, kehilangan itu menjadi luka yang tidak pernah benar-benar mengering. Dan malam ini, Albert menggunakannya seperti pisau.
Liana menahan napas. Ia tidak menangis. Justru karena ia ingin menangis, ia memaksa punggungnya tetap tegak.
"Jangan sebut Dede dengan mulut yang sama yang kamu pakai memanggil anak perempuan itu sayang."
Albert terdiam.
Untuk sesaat, kamar itu hanya diisi suara AC dan napas mereka yang sama-sama berat.
Liana melepas cincin nikah dari jarinya. Kulit di bawah cincin tampak lebih pucat, seperti bagian tubuh yang terlalu lama tidak terkena udara.
Ia meletakkan cincin itu di meja rias, tepat di samping ponsel Albert.
"Mulai malam ini, aku tidak akan melayanimu lagi."
Albert menatap cincin itu, lalu menatapnya. Tidak ada rasa kehilangan di wajahnya. Hanya amarah karena sesuatu yang selama ini ia anggap miliknya mulai berani bergerak sendiri.
"Kamu akan menyesal."
"Mungkin." Liana mengambil ponselnya sendiri dan menggenggamnya erat. "Tapi aku lebih menyesal kalau tetap di sini."
Albert tersenyum tipis, kejam dan penuh keyakinan.
"Kamu berani mengajukan cerai, aku buat kamu tidak mendapat sepeser pun. Ingat, Liana. Semua yang ada di rumah ini atas namaku."
Bab 2
Tiga Puluh Tahun Terbuang
Kalimat Albert tidak selesai di kamar itu. Ia ikut turun bersama Liana ke pagi berikutnya, menempel di kulitnya seperti bau asap yang sulit hilang.
Semalaman Liana tidak tidur. Ia duduk di tepi ranjang tamu dengan ponsel di pangkuan, membuka ulang foto-foto itu, lalu menutupnya lagi ketika dadanya terlalu sesak. Di luar jendela, lampu jalan perumahan BSD City perlahan padam satu per satu. Rumah yang selama ini ia sebut rumah tetap berdiri rapi, tetapi di matanya semua sudutnya berubah asing.
Pukul enam pagi, ia tetap masuk dapur.
Bukan karena ia sudah memaafkan. Bukan karena ia menyerah. Tubuhnya hanya bergerak mengikuti kebiasaan tiga puluh tahun. Menanak nasi. Memanaskan lauk. Mengisi botol minum. Menyeka meja yang sebenarnya sudah bersih.
Albert keluar kamar pukul tujuh lewat sedikit. Kemejanya rapi, rambutnya tertata, tas kerja di tangan. Wajahnya tidak menunjukkan tanda penyesalan. Jika seseorang melihat dari luar, mereka mungkin mengira ini pagi biasa di rumah keluarga Phua.
Liana berdiri di dekat meja makan, menatap punggung laki-laki itu.
"Aku ke UI," kata Albert datar.
Tidak ada maaf. Tidak ada penjelasan. Bahkan tidak ada usaha berpura-pura menyesal.
"Kita belum selesai bicara," ujar Liana.
Albert berhenti di depan pintu, tetapi tidak berbalik. "Aku ada rapat."
"Tiga puluh tahun pernikahan kalah penting dari rapat?"
Barulah Albert menoleh. Matanya dingin. "Jangan mulai pagi-pagi. Aku tidak mau tetangga dengar."
Liana menatapnya lama. Dulu kalimat seperti itu cukup membuatnya menelan semua kata. Nama baik keluarga. Omongan tetangga. Malu di depan orang. Semua selalu lebih penting daripada luka yang ia bawa.
"Yang membuat malu bukan suaraku," kata Liana pelan. "Yang membuat malu adalah perbuatanmu."
Rahang Albert bergerak. Ia ingin membalas, tetapi memilih membuka pintu.
"Pikirkan baik-baik. Kalau kamu tetap keras kepala, kamu sendiri yang rugi."
Pintu tertutup.
Liana masih berdiri beberapa detik setelah mobil Albert keluar dari garasi. Suara mesin menjauh, meninggalkan rumah yang terlalu sunyi.
Di meja makan, bekal untuk Albert masih ada. Ia lupa membawanya. Atau memang sengaja meninggalkannya.
Liana menatap kotak makan itu. Tiga puluh tahun hidupnya terasa terkumpul dalam benda kecil itu. Nasi yang ditakar sesuai selera Albert. Lauk yang tidak terlalu pedas karena lambungnya sensitif. Semua pantangan orang rumah ia ingat, sementara tubuhnya sendiri jarang ditanya.
Ia duduk pelan.
Tangannya menyentuh permukaan meja. Di meja inilah Jason dulu belajar menulis. Di kursi sebelahnya, Kim Hwa pernah duduk dengan wajah muram, memerintahnya mengambil obat, air hangat, bubur tanpa garam. Selama sepuluh tahun, Liana mengangkat tubuh perempuan itu dari ranjang ke kursi roda, menyeka keringatnya, membersihkan muntahnya, mendengar makiannya.
Dan sebelum semua itu, ia pernah punya mimpi. Ia pernah hampir masuk universitas, menyimpan brosur jurusan bahasa di laci, membayangkan dirinya bekerja sebagai penerjemah dan pulang dengan uang hasil usahanya sendiri.
Lalu ia menikah dengan Albert.
Sedikit demi sedikit, semua mimpinya dilipat dan disimpan, sampai ia sendiri lupa pernah memilikinya.
Ponselnya bergetar.
Nama Jessy muncul di layar.
Liana menatap nama itu seperti melihat pintu darurat di ruangan yang terbakar.
"Lia?" suara Jessy langsung terdengar cemas begitu panggilan tersambung. "Kamu kenapa? Semalam aku lihat kamu online sampai subuh. Aku chat, kamu nggak balas."
Untuk pertama kalinya sejak tadi malam, sesuatu di dada Liana goyah.
"Jess," ucapnya. Suaranya pecah sedikit. "Aku boleh ke rumahmu?"
"Sekarang?"
"Kalau kamu tidak sibuk."
"Gila kamu, pakai tanya. Datang sekarang. Aku tunggu."
Rumah Jessy hanya beberapa blok dari rumah Phua, masih di kawasan perumahan yang sama. Liana berjalan kaki karena tidak ingin mengambil mobil. Setiap pagar rumah dan suara ibu-ibu menyapu halaman membuatnya sadar betapa mudah hidup orang lain terlihat normal dari luar.
Jessy membuka pintu bahkan sebelum Liana menekan bel.
Perempuan itu memakai daster rumah dan rambutnya dijepit asal. Begitu melihat wajah Liana, ia tidak bertanya apa-apa. Ia hanya menarik Liana masuk, menutup pintu, lalu menggenggam bahunya.
"Duduk dulu."
Liana duduk di sofa ruang tamu. Di meja ada dua gelas teh hangat dan sepiring pisang goreng yang jelas dibuat tergesa-gesa.
"Sekarang cerita," kata Jessy. "Pelan-pelan."
Liana mengeluarkan ponselnya. Tangannya sudah tidak terlalu gemetar, tetapi ketika ia membuka folder bukti, napasnya tetap terasa pendek.
Ia menunjukkan pesan pertama. Foto Yuni. Foto Jayden. Transfer bulanan. Apartemen Golden Crown. Percakapan yang sudah berjalan bertahun-tahun.
Jessy tidak langsung bicara. Wajahnya berubah dari bingung, terkejut, lalu marah. Marah yang tidak dibuat-buat. Marah yang membuat Liana hampir menangis karena akhirnya ada seseorang yang tidak menyuruhnya sabar.
"Sebelas tahun?" Jessy mengulang, suaranya rendah.
Liana mengangguk.
"Dan anak itu sepuluh tahun?"
"Iya."
Jessy menutup mulut, lalu memukul bantal sofa. "Kurang ajar. Albert itu benar-benar kurang ajar."
Air mata Liana akhirnya jatuh satu. Hanya satu. Ia cepat menghapusnya dengan punggung tangan.
"Dia bilang kalau aku cerai, aku tidak akan dapat apa-apa."
"Dia pikir negara ini punya bapaknya?" Jessy mendengus. "Lia, dengar aku. Cerai. Kamu harus cerai."
Kata itu terdengar berbeda dari mulut Jessy. Bukan seperti ledakan emosi, melainkan seperti tali yang dilemparkan ke orang yang hampir tenggelam.
Liana menunduk. "Aku takut."
"Takut itu wajar."
"Aku sudah lima puluh. Aku tidak punya pekerjaan. Aku tidak tahu harus mulai dari mana."
Jessy menggenggam tangannya. "Mulai dari keluar dari rumah yang membunuh kamu pelan-pelan."
Kalimat itu membuat Liana diam.
Rumah yang membunuh pelan-pelan.
Ia teringat kamar Dede.
Kamar kecil di dekat tangga yang sekarang menjadi gudang. Dulu dindingnya penuh stiker bintang. Di lemari paling atas, Liana masih menyimpan satu foto lama, foto Dede ketika berusia enam tahun, memakai baju biru yang ia rajut sendiri. Anak itu tersenyum memperlihatkan gigi susu, satu tangan memegang mobil-mobilan murah dari pasar malam.
Hari ketika Dede hilang, hujan turun deras.
Kim Hwa berkata Liana lengah. Katanya, seorang ibu yang benar-benar mencintai anaknya tidak mungkin kehilangan anak sendiri. Kalimat itu mengejar Liana selama dua puluh tahun. Setiap malam ia bertanya pada Tuhan, di bagian mana tangannya terlepas, di detik mana ia gagal.
"Lia?" Jessy memanggil pelan.
Liana mengangkat wajah. "Aku kehilangan Dede. Aku bertahan karena kupikir setidaknya aku masih harus menjaga keluarga yang tersisa. Tapi ternyata selama aku menghukum diriku sendiri, Albert membangun keluarga lain."
Jessy menarik napas panjang. Matanya memerah, tetapi suaranya tegas. "Kamu tidak pantas dihukum seumur hidup."
Ponsel Liana berdering sebelum ia sempat menjawab.
Nama Kim Hwa muncul di layar.
Tubuh Liana menegang. Jessy ikut melihat, lalu wajahnya mengeras.
Dari latar panggilan terdengar suara perawat panti jompo memanggil nama pasien lain.
"Angkat," kata Jessy. "Pakai speaker."
Liana menekan tombol terima.
Suara Kim Hwa langsung meledak tanpa salam. "Liana! Kamu ini perempuan tidak tahu diri! Albert bilang kamu minta cerai. Otakmu masih waras?"
Liana memejamkan mata sebentar.
"Aku waras, Mama."
"Jangan panggil aku Mama kalau kamu mau menghancurkan anakku!"
Jessy menegakkan punggung, tetapi Liana mengangkat tangan, memberi tanda ia akan menjawab sendiri.
"Yang menghancurkan rumah tangga ini bukan aku."
"Laki-laki di luar punya godaan itu biasa! Kamu sudah tiga puluh tahun makan dari keluarga Phua. Sekarang, setelah Albert capek sedikit, kamu mau kabur? Kamu pikir siapa yang mau perempuan tua sepertimu?"
Dulu, kata-kata itu akan membuat Liana ciut.
Hari ini, ia hanya merasa lelah.
"Kim Hwa," katanya pelan.
Di seberang sana, suara Kim Hwa berhenti. Mungkin karena untuk pertama kalinya Liana tidak memanggilnya Mama dengan patuh.
"Apa kamu bilang?"
"Aku bilang, Kim Hwa. Aku sudah cukup lama menjadi menantumu. Kalau Albert boleh berhenti menjadi suamiku sejak sebelas tahun lalu, aku juga boleh berhenti menjadi menantu yang kamu injak."
Jessy menatapnya, mata melebar bangga.
Kim Hwa menjerit, "Kurang ajar! Setelah semua yang keluarga ini beri ke kamu, kamu membalas begini? Dulu Dede hilang juga karena kamu tidak becus jadi ibu. Sekarang kamu mau gagal jadi istri juga?"
Nama itu menghunjam.
Dede.
Liana menggenggam ponsel lebih kuat, tetapi suaranya tetap tenang. "Jangan pakai Dede untuk membungkam aku."
"Itu kenyataan!"
"Kalau memang kenyataan, kenapa setiap kali aku bertanya detail hari itu, kamu selalu marah?"
Kesunyian jatuh sekejap di ujung telepon.
Sangat singkat. Tetapi cukup untuk membuat darah Liana berdesir.
Kim Hwa cepat-cepat membentak lagi. "Jangan memutar balik! Pulang sekarang. Kita bicara di rumah. Jangan curhat ke orang luar seperti perempuan murahan."
Liana memandang Jessy. Lalu ia menatap layar ponsel, seolah bisa melihat wajah perempuan tua yang selama ini menguasai hidupnya.
"Tidak."
"Apa?"
"Aku tidak pulang untuk dimaki."
"Liana!"
"Aku akan pulang kalau aku siap. Dan mulai hari ini, jangan telepon aku untuk menghina."
Liana memutus panggilan.
Tangannya gemetar setelah itu. Bukan karena takut, melainkan karena sesuatu yang lama terkunci akhirnya bergerak.
Jessy duduk di sebelahnya, lalu memeluk bahunya.
"Lia," katanya pelan, "kamu tahu tidak, dari dulu aku merasa ada yang aneh dengan kejadian Dede."
Napas Liana tertahan.
Jessy menatapnya serius.
"Kamu benar-benar yakin hari itu Dede hilang karena kamu lengah?"
Bab 3
Musuh dalam Selimut
Pertanyaan Jessy tidak langsung mendapat jawaban.
Selama dua hari, kalimat itu terus mengikuti Liana. Saat ia mencuci gelas di rumah Phua. Saat ia melewati pintu kamar kecil yang dulu menjadi kamar Dede. Saat Albert pulang malam dan menatapnya seolah ia hanya gangguan kecil yang sebentar lagi bisa dibereskan.
Kamu benar-benar yakin hari itu Dede hilang karena kamu lengah?
Liana tidak yakin.
Yang ia tahu, selama dua puluh tahun, Kim Hwa selalu lebih cepat marah daripada menjawab setiap kali nama Dede disebut. Dulu Liana mengira itu karena perempuan tua itu ikut terluka. Sekarang, setelah melihat bagaimana Albert bisa berbohong sebelas tahun dengan wajah tenang, ia mulai memahami satu hal yang menyakitkan.
Di rumah ini, orang bisa menyimpan rahasia sambil duduk satu meja dengannya.
Pada hari ketiga setelah malam itu, rahasia lain datang bersama suara roda di teras.
Liana sedang merapikan laci dapur ketika mobil Albert berhenti di depan rumah. Pintu dibuka. Suara laki-laki itu terdengar lebih keras dari biasanya, dibuat-buat tenang.
"Pelan-pelan, Ma."
Liana keluar ke ruang tengah.
Kim Hwa berdiri di ambang pintu, satu tangan menggenggam tongkat, satu tangan ditopang Albert. Wajahnya pucat, tetapi matanya tajam seperti pisau kecil. Di belakang mereka, sopir panti jompo menurunkan satu tas pakaian dan sekantong obat.
Liana menatap tas itu.
"Kamu bawa dia pulang?"
Albert melepas sepatu. "Mama ingin bicara."
"Aku tidak diberi tahu."
"Ini rumah Mama juga," jawab Albert pendek.
Kim Hwa menghentakkan tongkat ke lantai. "Kenapa? Aku harus minta izin padamu untuk masuk rumah anakku?"
Liana menarik napas. Dua hari lalu, suara itu masih mampu membuat tubuhnya otomatis menegang. Hari ini tetap sakit, tetapi tidak lagi membuatnya mundur.
"Silakan duduk," kata Liana.
"Aku memang akan duduk." Kim Hwa bergerak menuju sofa utama, lalu menatap ruang tamu seperti hakim masuk ruang sidang. "Panggil Jason. Panggil Tiara juga. Urusan memalukan seperti ini harus diselesaikan di depan keluarga."
Albert tidak membantah.
Tentu saja tidak. Inilah rencananya.
Setengah jam kemudian, Jason datang dengan wajah kusut, masih mengenakan kemeja kantor. Tiara masuk beberapa langkah di belakangnya. Perempuan muda itu langsung menatap Liana. Tidak banyak, hanya sekilas. Namun, dari sekilas itu Liana menangkap rasa khawatir yang ditahan.
"Duduk," perintah Kim Hwa.
Jason duduk di sebelah Albert. Tiara memilih kursi paling ujung, tidak terlalu dekat dengan siapa pun.
Formasi itu sudah menjelaskan semuanya.
Kim Hwa menyandarkan kedua tangan di atas tongkat. "Liana, aku dengar kamu masih keras kepala mau cerai."
"Benar."
Jason menoleh cepat. "Mama..."
Kim Hwa mengangkat tangan, menghentikan cucunya. "Aku yang bicara." Lalu ia menatap Liana lagi. "Perempuan baik-baik tidak menghancurkan rumah tangganya sendiri. Istri ikut suami. Kalau suami punya kesalahan, tugas istri itu menutup aib, bukan membuka pintu keluar."
Liana menatap perempuan tua itu. "Kalau suami punya perempuan lain sebelas tahun, tugas istri masih menutup aib?"
Kim Hwa mendengus. "Laki-laki di luar rumah punya godaan. Itu biasa. Yang tidak biasa adalah istri lima puluh tahun tiba-tiba merasa dirinya paling benar."
Albert diam. Diam yang sudah Liana kenal. Diam yang artinya ia setuju selama kalimat itu menguntungkannya.
"Aku tidak merasa paling benar," kata Liana. "Aku hanya tidak mau lagi diperlakukan seperti pembantu yang bisa dibuang."
"Pembantu?" Kim Hwa tertawa kasar. "Kamu hidup di rumah ini. Makan dari uang anakku. Pakai nama keluarga Phua. Kalau bukan karena Albert, kamu jadi apa?"
Liana melihat tangan Kim Hwa di atas tongkat. Tangan yang dulu ia suapi obat. Tangan yang pernah mendorong mangkuk bubur hanya karena terlalu encer. Tangan yang sekarang menunjuknya seolah ia parasit.
"Aku jadi perempuan yang menyerahkan hidupnya untuk keluarga ini," ucap Liana.
Kim Hwa menyipit. "Jangan membesar-besarkan."
"Aku datang ke rumah ini membawa perhiasan dari keluargaku. Sebagian dijual untuk membantu Albert saat awal kariernya. Aku berhenti kuliah karena kamu bilang menantu harus tahu tempat. Aku merawatmu sepuluh tahun ketika separuh tubuhmu tidak bisa digerakkan. Aku membesarkan Jason. Aku memasak, membersihkan, mengurus semua acara keluarga, mengingat obat, jadwal dokter, cicilan, sampai ulang tahun orang-orang yang bahkan tidak pernah mengingat ulang tahunku."
Ruang tamu menjadi sunyi.
Jason menunduk sebentar. Tiara menggigit bibir.
Kim Hwa membuka mulut, tetapi Liana belum selesai.
"Dan ketika Dede hilang, tidak satu pun dari kalian bertanya aku hancur seperti apa. Kalian hanya menunjukku sebagai ibu yang gagal."
"Karena memang kamu yang membawanya hari itu!" bentak Kim Hwa.
Liana menatapnya tajam. "Aku membawanya. Tapi aku bukan satu-satunya orang dewasa di rumah itu."
Tongkat Kim Hwa bergetar sedikit.
Albert akhirnya bersuara. "Cukup. Jangan menyeret kejadian lama untuk membenarkan sikapmu sekarang."
"Kejadian lama?" Liana menoleh kepadanya. "Dede anakku, Albert. Hilangnya dia bukan catatan kecil yang bisa kamu lipat dan simpan."
Jason mengangkat wajah. "Mama, Papa juga tidak mudah."
Kalimat itu jatuh lebih sakit daripada bentakan Kim Hwa.
Liana menatap anak yang ia besarkan sejak kecil. Ia yang mengompres Jason saat demam. Ia yang menunggu di luar ruang ujian. Ia yang menambal celana sekolahnya, menyisihkan lauk terbaik untuknya, menutupi kesalahan remajanya dari Albert.
"Tidak mudah apa, Jason?"
Jason tampak gelisah, tetapi tetap bicara. "Papa kerja keras untuk keluarga. Kalau ada kesalahan, mungkin Mama juga harus lihat dari sisi Papa. Jangan langsung cerai. Ini akan bikin semua orang malu."
Liana merasa sesuatu di dadanya retak lebih halus.
"Jadi yang kamu takutkan malu?"
"Aku cuma bilang, jangan egois."
Tiara menatap Jason dengan kaget. "Jason..."
"Kamu diam dulu," potong Jason.
Tiara langsung terdiam, tetapi matanya pindah ke Liana. Ada maaf di sana. Ada ketidakberdayaan.
Di pangkuannya, jari-jari Tiara saling meremas sampai buku jarinya memutih. Ia seperti ingin bicara, tetapi takut membuat keadaan semakin buruk. Liana melihat gerakan kecil itu. Dalam ruang tamu yang hampir seluruhnya menekan dirinya, simpati diam Tiara terasa seperti cahaya tipis di sela pintu yang tertutup.
Liana mengangguk kecil, bukan kepada Jason, melainkan kepada dirinya sendiri. Baik. Ia mencatat satu lagi kebenaran malam ini.
Anak yang ia besarkan belum tentu berdiri di sisinya.
Ponsel Albert berdering.
Semua orang menoleh.
Albert melihat layar, lalu wajahnya berubah tegang. Ia hendak menolak panggilan, tetapi Kim Hwa lebih cepat membaca keraguannya.
"Siapa?"
"Tidak penting."
Namun, Jason sudah melihat nama yang muncul. "Yuni?"
Udara di ruang itu seperti berhenti.
Liana menatap Albert. "Angkat."
Albert menggenggam ponsel lebih kuat. "Tidak perlu."
"Angkat," ulang Liana. "Keluarga sedang berkumpul, kan? Biarkan semua mendengar anggota keluarga yang kamu sembunyikan."
Wajah Albert mengeras. Mungkin ia ingin menolak, tetapi panggilan itu terus bergetar. Akhirnya, entah karena panik atau kesal, ia menekan tombol terima. Suara perempuan langsung terdengar dari speaker karena ponsel sempat tersambung ke mode keras.
"Ko Albert? Kamu di rumah? Jayden nanya lagi. Katanya Papa janji mau datang akhir pekan."
Kim Hwa memucat. Jason terpaku. Tiara menutup mulut.
Albert cepat-cepat berkata, "Nanti aku telepon lagi."
Tetapi Yuni sudah mendengar suasana. "Ada Tante Liana di situ?"
Liana berdiri diam.
Yuni tertawa pelan, manis tetapi beracun. "Tante, kalau Tante dengar, aku cuma mau bilang jangan terlalu mempersulit. Ko Albert sudah lama capek. Di usia Tante sekarang, lebih baik pisah baik-baik daripada terus memaksa laki-laki yang hatinya sudah bukan di rumah."
Wajah Jason berubah tidak nyaman. Kim Hwa menggenggam tongkatnya kuat-kuat. Bukan karena marah pada Yuni, Liana sadar, melainkan karena skandal itu kini terlalu telanjang.
Liana mendekati meja, menatap ponsel Albert.
"Yuni," katanya tenang.
Di seberang sana, tawa itu berhenti sejenak. Mungkin Yuni tidak menyangka Liana akan menjawab setenang itu.
"Iya, Tante?"
"Nikmati waktumu. Laki-laki yang bisa membohongi istrinya sebelas tahun juga bisa membohongi perempuan berikutnya."
Yuni terdiam.
Albert membentak, "Liana!"
Liana tidak menoleh. "Dan satu lagi. Jangan ajari aku pisah baik-baik sebelum kamu belajar masuk ke hidup orang lain dengan cara baik-baik."
Tiara menunduk, tetapi Liana melihat bahunya bergetar pelan. Bukan menangis. Seperti sedang menahan sesuatu, mungkin kepuasan kecil yang tidak berani ia tunjukkan.
Albert memutus panggilan.
"Kamu mempermalukan aku," katanya.
Liana menatapnya. "Kamu melakukan itu sendiri."
Kim Hwa tiba-tiba memukul lantai dengan tongkat. "Cukup! Perempuan tidak tahu diri! Kamu pikir setelah punya beberapa bukti, kamu bisa menang? Kamu pikir kamu tahu semuanya?"
Liana menoleh.
Kim Hwa sudah kehilangan kendali. Napasnya memburu, wajahnya merah karena marah.
"Kamu tidak tahu apa-apa. Bahkan waktu Dede dulu..."
Kalimat itu terpotong.
Ruangan membeku.
Kim Hwa menutup mulutnya sendiri, terlambat.
Darah Liana seperti berhenti mengalir. Semua suara menghilang. Yang tersisa hanya nama itu.
Dede.
Pelan-pelan, Liana melangkah mendekat ke sofa.
"Waktu Dede dulu kenapa?" tanyanya.
Kim Hwa memalingkan wajah. "Tidak ada."
"Tadi kamu bilang aku tidak tahu apa-apa."
"Aku bicara karena marah."
"Tidak." Suara Liana turun, lebih dingin daripada sebelumnya. "Kamu hampir mengatakan sesuatu."
Albert ikut berdiri. "Liana, jangan mulai lagi."
Liana tidak memandangnya. Matanya tetap pada Kim Hwa.
"Kim Hwa," katanya, setiap suku kata keluar pelan dan jelas. "Waktu Dede dulu bagaimana? Bicara yang jelas."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!