Bab 1
Dompet kulit itu setengah masuk ke balik lengan jaket Nana ketika pemiliknya berbalik.
Nana menahan napas.
Di depannya, seorang pria berjas abu-abu sedang menawar jeruk mandarin di lapak Pecinan Surabaya. Bau kulit jeruk, dupa, minyak panas, dan knalpot motor bercampur di udara pagi.
Jari Nana berhenti di tempat.
Pria itu hanya menggaruk tengkuknya, lalu kembali membungkuk ke arah tumpukan jeruk.
Nana menarik dompet itu tanpa mengubah irama langkahnya. Begitu dompet menyentuh telapak tangan, dia langsung menyelipkannya ke kantong kain lusuh yang tergantung di bahu.
"Eh!"
Teriakan itu bukan dari si pemilik dompet.
Nana menoleh.
Seorang satpam dari toko perhiasan di seberang jalan menunjuk ke arahnya. Di atas pintu toko, kamera CCTV kecil berwarna hitam mengarah tepat ke kerumunan.
"Pencuri!"
Kerumunan pecah seperti air disiram ke lantai panas.
Nana tidak menunggu teriakan kedua. Kakinya langsung berlari, menyelip di antara pembeli, gerobak, dan sepeda motor yang parkir miring. Seseorang mengumpat ketika bahunya tersenggol. Seorang ibu hampir menjatuhkan kantong belanjaannya.
"Minggir!"
"Tangkap dia!"
Nana menunduk rendah. Sandal jepitnya hampir lepas, tapi dia menekan jempol kakinya kuat-kuat. Ia hafal jalan ini seperti hafal garis di telapak tangannya sendiri. Tiga langkah ke kiri ada kios obat. Lima langkah lagi ada gang sempit yang selalu bau air cucian ikan. Di ujung gang, ada pagar besi yang engselnya rusak.
Kalau sampai pagar itu, dia selamat.
Sebuah tangan nyaris meraih ujung jaketnya.
Nana memutar tubuh, menyenggol tumpukan kardus kosong sampai jatuh berhamburan. Satpam yang mengejarnya tersandung dan mengumpat keras.
"Anak kurang ajar!"
Nana tidak menoleh.
Jantungnya memukul keras. Napasnya panas sampai tenggorokan. Tapi rasa takut bukan hal baru baginya. Sejak kecil, rasa takut sudah mengajarinya bahwa orang miskin tidak boleh lambat.
Ia melompat melewati genangan hitam.
Gang itu sudah di depan mata.
Tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti di mulut gang.
Nana mengerem langkahnya terlalu mendadak. Telapak kakinya tergelincir, bahunya menghantam dinding lembap. Mobil itu terlalu bersih untuk berada di tempat ini. Kaca jendelanya gelap, bodinya mengilap, bannya masih menyimpan sisa air dari jalan raya besar.
Pintu belakang terbuka.
"Masuk."
Suara perempuan.
Nana membeku.
Di dalam mobil, seorang gadis muda menatapnya. Rambutnya terikat rapi, blus putihnya sederhana tapi jelas mahal, dan pergelangan tangannya memakai gelang giok tipis.
Nana mundur setengah langkah.
"Kalau kau mau tertangkap, silakan berdiri di situ," kata gadis itu lagi. "Mereka tinggal beberapa meter."
Teriakan satpam mendekat.
Nana menatap pintu mobil, lalu gang di belakang mobil yang sudah tertutup. Pilihannya tinggal dua, masuk ke kandang orang kaya yang tidak ia kenal, atau kembali ke tangan orang-orang yang pasti akan memukulnya.
Ia masuk.
Pintu tertutup tepat saat satpam muncul di ujung jalan.
"Jalan, Pak," ujar gadis itu kepada sopir.
Mobil bergerak mulus, meninggalkan pasar yang masih ribut di belakang.
Nana menempelkan punggung ke pintu. Tangannya masih mencengkeram kantong kain. Ia menatap gadis di depannya seperti menatap pisau yang dibungkus kain sutra.
"Dompetnya," kata gadis itu.
Nana diam.
"Aku tidak bilang akan menyerahkanmu ke satpam." Gadis itu mengulurkan tangan. Kukunya pendek, bersih, tanpa cat. "Aku bilang dompetnya."
"Bukan punya Cici," jawab Nana pelan.
Alis gadis itu naik sedikit. "Tapi juga bukan punyamu."
Nana menggigit bagian dalam pipinya. Di luar jendela, deretan toko tua bergerak mundur. Lampion merah yang mulai pudar, kabel listrik kusut, dan wajah-wajah orang yang tak pernah benar-benar melihatnya lewat begitu saja.
Ia mengeluarkan dompet itu dan meletakkannya di telapak tangan gadis itu.
Gadis itu membukanya, memeriksa kartu identitas, lalu mengambil ponsel dari tas kecilnya.
"Pak, putar balik sebentar. Dompet ini harus dikembalikan ke pemiliknya." Setelah memberi instruksi, ia kembali menatap Nana. "Namaku Stella Sie."
Sie.
Nama itu membuat punggung Nana menegang.
Di Surabaya, ada nama yang tidak perlu dijelaskan. Orang pasar menyebut keluarga Sie dengan suara pelan, seperti menyebut harga barang yang tidak sanggup mereka beli.
"Aku tidak tahu siapa Cici," kata Nana.
"Sekarang tahu."
"Kalau mau lapor polisi, lapor saja."
Stella memiringkan kepala. "Kau selalu bicara seperti sedang menantang orang menusukmu?"
Nana menutup mulut.
Mobil berputar sebentar. Sopir turun, mengembalikan dompet lewat seorang penjaga toko, lalu kembali masuk tanpa bertanya apa pun.
Nana melihatnya dengan dada sesak yang aneh.
Di dunianya, kalau jatuh, ia bangun sendiri. Kalau lapar, ia mencari sendiri. Kalau tertangkap, ia menanggung sendiri.
"Kau tinggal di mana?" tanya Stella.
"Dekat sini."
"Dekat sini sebelah mana?"
"Dekat sini."
Stella menatap sandal jepit Nana yang basah dan hampir putus, lalu kantong kain yang jahitannya menganga. Tatapannya tidak jijik, tidak geli, tidak juga pura-pura kasihan. Justru karena itu, Nana merasa lebih tidak aman.
"Keluargamu?"
"Tidak ada."
Hening sebentar.
Sopir melirik dari kaca tengah, lalu cepat-cepat menunduk lagi.
Stella menyandarkan tubuh ke kursi. Di wajahnya, sesuatu yang cerah tadi meredup sedikit, seperti lampu terkena angin.
"Usiamu berapa?"
"Tujuh belas." Nana menjawab asal. Ia tidak yakin. Tidak ada yang pernah merayakan tanggal lahirnya.
"Namamu?"
Nana menimbang apakah harus berbohong. Tapi untuk apa? Gadis ini sudah menyelamatkannya, dan itu justru membuat Nana semakin curiga.
"Nana."
"Nana apa?"
"Nana saja."
Stella mengangguk pelan. "Baik. Nana saja."
Jawaban itu membuat Nana menoleh. Biasanya orang akan memaksa. Orang yang punya rumah besar suka memaksa hal-hal kecil agar terasa berkuasa.
"Kenapa menolongku?" tanya Nana akhirnya.
Stella melihat keluar jendela. Mobil meninggalkan Pecinan lama. Toko-toko rapat berganti gedung kantor, pagar tinggi, dan pohon palem rapi.
"Karena kau berlari seperti orang yang sudah terlalu sering dikejar."
Nana tidak punya jawaban untuk itu.
"Dan karena kau tidak mencuri untuk bersenang-senang," lanjut Stella. "Orang yang mencuri untuk gaya tidak memakai sandal yang hampir putus."
Panas naik ke wajah Nana. Ia menarik kakinya ke bawah kursi.
"Aku tidak minta dikasihani."
"Bagus. Aku juga tidak sedang mengasihanimu."
"Lalu?"
Stella tersenyum, kali ini tipis sekali. "Aku sedang menawarkan pekerjaan."
Nana menatapnya tajam. "Pekerjaan apa?"
"Tinggal di rumahku. Bantu hal-hal kecil. Makan teratur. Tidur di tempat yang pintunya bisa dikunci dari dalam."
Tawaran itu terdengar terlalu bersih.
"Orang seperti Cici tidak memberi begitu saja."
"Benar," jawab Stella tanpa tersinggung. "Aku juga butuh sesuatu."
"Apa?"
Stella tidak langsung menjawab. Mobil berbelok melewati gerbang tinggi dengan dua penjaga berseragam. Di baliknya, jalan masuk memanjang di antara taman rapi, kolam kecil, dan pohon kamboja putih.
Nana lupa bernapas.
Rumah di ujung jalan itu seperti dunia lain yang diletakkan di tengah kota, besar, sunyi, dan terlalu terang. Tiang-tiang tinggi menopang teras depan. Jendela-jendelanya berkilau.
Stella membuka pintu mobil.
Angin dari taman membawa wangi bunga dan lantai yang baru dipel.
"Selamat datang di Rumah Besar Sie," katanya.
Nana turun perlahan. Sandalnya yang hampir putus menyentuh batu alam yang dingin.
Di belakang pintu besar itu, beberapa pelayan menoleh. Dua penjaga saling pandang. Dari lantai atas, tirai tipis bergerak lalu diam lagi.
Stella berdiri di samping Nana, masih tersenyum.
"Yang kubutuhkan sederhana," ucapnya pelan. "Di rumah ini, aku perlu seseorang yang tahu cara bertahan hidup."
Bab 2
Nana tidak langsung menjawab.
Kalimat Stella masih menggantung di antara mereka, lebih dingin daripada batu alam di bawah telapak kakinya. Di rumah ini, aku perlu seseorang yang tahu cara bertahan hidup.
Rumah macam apa yang membutuhkan kemampuan seperti itu?
Stella melangkah lebih dulu. Nana mengikuti setengah langkah di belakangnya, cukup dekat agar tidak tersesat, cukup jauh agar bisa berlari kalau semua ini berubah menjadi jebakan.
Begitu pintu utama terbuka, hawa dingin dari dalam rumah menyentuh kulitnya. Lantai marmer memantulkan cahaya lampu gantung yang besar. Di dinding kiri, ada lukisan keluarga dengan bingkai emas. Di bawahnya, meja altar kecil tertata rapi, lengkap dengan dupa yang baru padam dan buah-buahan segar.
Nana menahan diri agar tidak menatap terlalu lama.
Di tempat seperti ini, bahkan jeruk di atas meja terlihat lebih mahal daripada makan siangnya selama seminggu.
"Sepatumu basah," kata Stella pelan.
Nana spontan menarik kakinya. Jejak air dan debu tertinggal tipis di lantai.
Seorang pelayan perempuan yang berdiri dekat tangga langsung menunduk untuk mengambil lap. Gerakannya cepat, tapi sorot matanya sempat menyentuh sandal Nana. Tidak kasar, namun cukup untuk membuat Nana sadar bahwa seluruh tubuhnya tidak cocok berada di sana.
"Maaf," ucap Nana.
"Tidak apa-apa." Stella menoleh kepada pelayan itu. "Tolong siapkan kamar kecil di paviliun belakang. Baju bersih juga."
Pelayan itu ragu. "Untuk Nona ini?"
"Namanya Nana."
Kata itu jatuh ringan, tapi membuat beberapa orang yang ada di aula saling melirik.
Nana menangkap semuanya.
Di jalanan, orang melirik pisau. Di rumah besar, orang melirik nama.
"Stella."
Suara berat dari ujung ruangan membuat semua orang diam.
Seorang pria berusia hampir enam puluh berdiri di depan pintu ruang tengah. Kemeja putihnya sederhana, tapi jam di pergelangan tangannya berkilau tenang. Wajahnya keras, matanya kecil dan tajam. Ia tidak perlu meninggikan suara untuk membuat rumah sebesar itu berhenti bernapas.
Stella segera tersenyum. "Papa sudah pulang?"
Nana menunduk sedikit. Jadi inilah William Sie.
"Siapa dia?" tanya William.
"Nana. Aku membawanya dari Pecinan."
"Dari Pecinan?" Tatapan William turun ke sandal Nana, kantong kainnya, lalu kembali ke wajahnya. "Rumah ini bukan tempat penampungan."
Nana menelan ludah. Ia sudah sering dihina, tapi hinaan orang kaya berbeda. Tidak perlu kasar. Cukup satu kalimat bersih, dan orang yang mendengarnya tahu tempatnya.
"Aku tahu, Papa," jawab Stella. "Dia bisa bekerja. Aku yang bertanggung jawab."
"Kau bahkan belum tahu asal-usulnya."
"Aku tahu dia tidak punya siapa-siapa."
William menatap putrinya lama. Di belakangnya, seorang perempuan anggun keluar dari ruang tengah. Rambutnya disanggul rendah, wajahnya lembut, dan kalung mutiara di lehernya tidak bergerak saat ia berjalan.
"Kalau Stella sudah membawanya sampai ke sini, biarkan anak itu mandi dulu," ujar perempuan itu. Suaranya tenang, seperti air hangat. "Kita bisa bertanya setelah dia makan."
Stella langsung mendekati perempuan itu. "Cici Tamara, kau memang paling baik."
Tamara Sie tersenyum kecil, lalu menatap Nana. Tidak seperti William yang menimbangnya, Tamara melihatnya seperti melihat luka yang berusaha disembunyikan.
"Nana, ya?" tanyanya.
Nana mengangguk. "Iya, Cici."
"Di sini kau panggil aku Cici Tamara. Kalau butuh sesuatu, bilang ke kepala pelayan. Jangan mengambil sendiri."
Kata terakhir itu halus, tapi Nana mengerti.
Ia mengangguk lagi. "Saya mengerti."
"Mengerti?" Suara perempuan lain terdengar dari tangga. "Anak jalanan biasanya paling cepat mengerti di depan orang banyak."
Nana menoleh.
Seorang perempuan bergaun merah tua turun perlahan, kipas kecil di tangannya terbuka setengah. Wajahnya cantik, tapi senyumnya terlalu tipis untuk disebut ramah.
Stella menarik napas pendek. "Mama."
Lusia Lu berhenti di anak tangga terakhir. "Aku hanya bertanya. Pagi-pagi kau membawa pulang pencuri, sekarang kami semua harus pura-pura ini hal biasa?"
Udara di aula berubah.
Nana tidak terkejut Lusia tahu. Rumah seperti ini pasti punya mata lebih banyak daripada pasar. Yang membuatnya sulit bernapas adalah cara semua orang mendadak tidak melihat ke arahnya, seolah kata pencuri menempel di dahinya.
"Dompetnya sudah dikembalikan," kata Stella.
"Oh, kalau begitu hebat sekali. Dosa selesai setelah dompet kembali." Lusia tersenyum kepada William. "Ko William, kau benar-benar membiarkan ini?"
William tidak menjawab Lusia. Ia tetap menatap Nana.
"Kalau tinggal di rumah ini, kau ikut aturan rumah ini. Tidak mencuri. Tidak berbohong. Tidak masuk ke ruangan yang tidak diizinkan. Kau bekerja di bawah pengawasan kepala pelayan. Kalau ada satu barang hilang, kau pergi hari itu juga."
Nana mengangkat wajahnya.
Tatapan William berat, tapi jelas. Tidak manis, tidak berpura-pura menolong.
Itu lebih mudah ia pahami.
"Baik, Pak William."
Alis Lusia bergerak sedikit, mungkin karena Nana tidak menangis atau membela diri.
Tamara justru terlihat lega. "Stella, bawa dia makan. Setelah itu, aku minta orang menyiapkan kamar."
"Aku ikut," kata Stella cepat, seolah takut Nana akan berubah pikiran dan kabur.
Mereka melewati ruang makan yang pintunya terbuka. Nana sempat melihat meja panjang dengan dua belas kursi, peralatan makan mengilap, mangkuk sup porselen, dan bunga segar di tengah meja. Di salah satu kursi, ada koran bisnis yang dilipat rapi. Judul besarnya menyebut Sie Group dan tekanan dari perusahaan asing.
Stella menutup pintu itu sebelum Nana sempat membaca lebih jauh.
"Jangan terlalu banyak melihat," bisiknya.
"Kenapa?"
"Karena di rumah ini, orang akan marah kalau kau melihat hal yang tepat."
Nana menatap Stella.
Kali ini Stella tidak tersenyum.
Mereka tiba di lorong samping yang lebih sepi. Bau kayu tua dan obat pel lantai memenuhi udara. Di dinding, foto-foto keluarga tersusun rapi. William muda, Tamara saat remaja, Stella kecil dengan rambut dikuncir dua. Ada satu foto yang sengaja diletakkan agak tinggi, separuh tertutup bayangan.
Nana berhenti tanpa sadar.
Dalam foto itu, seorang pemuda berdiri terpisah dari yang lain. Wajahnya tampan, tapi matanya seperti tidak mau berada di sana.
"Jangan lihat lama-lama," bisik Stella.
Terlambat.
Dari belokan lorong, seseorang muncul.
Pemuda itu bukan lagi bayangan di foto. Ia berdiri beberapa langkah dari Nana, memakai kemeja hitam dengan lengan digulung, rambut sedikit berantakan, dan wajah yang terlalu dingin untuk rumah sehangat ini. Di tangannya ada kunci mobil. Matanya menatap Nana, lalu Stella, tanpa rasa ingin tahu sedikit pun.
"Koko Steven," suara Stella melembut.
Steven Sie tidak membalas.
Ia melewati mereka begitu saja. Bahunya hampir menyentuh Nana, membawa aroma hujan dan rokok tipis yang cepat menghilang.
Nana menoleh mengikuti langkahnya.
Di ujung lorong, dua pelayan yang tadi sedang membawa seprai langsung menunduk dan menepi. Tidak ada yang menyapa. Tidak ada yang bertanya. Bahkan Stella hanya berdiri diam sampai pintu samping tertutup di belakang Steven.
"Dia siapa?" tanya Nana pelan.
Stella baru menjawab setelah beberapa detik.
"Putra ketiga keluarga ini."
"Kenapa semua orang seperti takut menyebut namanya?"
Stella menatap pintu yang sudah tertutup itu.
"Karena di Rumah Besar Sie," ucapnya lirih, "ada nama yang lebih baik tidak kau panggil terlalu keras."
Bab 3
Nana menyimpan kalimat itu di kepala sepanjang malam.
Ada nama yang lebih baik tidak kau panggil terlalu keras.
Di jalanan, nama orang dipakai untuk memanggil, menipu, atau mengancam. Di Rumah Besar Sie, nama bisa membuat lorong tiba-tiba sepi. Nana baru tidur menjelang subuh di kamar kecil paviliun belakang, dengan pintu terkunci dua kali dan kantong kain diletakkan di bawah bantal.
Paginya, Stella datang membawa sandal baru.
"Pakai ini," katanya sambil meletakkan sepasang sandal rumah berwarna krem di depan pintu. "Sandalmu yang kemarin hampir putus. Kalau dipakai di marmer, kau bisa terpeleset."
Nana menatap sandal itu. Bersih, empuk, tidak ada bekas kaki orang lain.
"Aku harus bayar?"
Stella berkedip, lalu tertawa kecil. "Kau pikir aku toko?"
"Orang biasanya tidak memberi gratis."
"Di sini juga tidak gratis." Stella mengangkat satu jari. "Bayarnya dengan patuh ikut tur rumah pagi ini."
Nana tidak langsung menyentuh sandal itu.
Stella berjongkok, mendorong sandal itu sedikit lebih dekat. "Nana, kalau aku mau menjebakmu, semalam aku sudah bisa melakukannya. Rumah ini punya lebih banyak kunci daripada pasar punya tikungan."
Nada bicaranya ringan, tapi Nana tahu itu benar.
Ia memakai sandal itu.
Ukuran sandalnya pas.
Stella tersenyum seolah baru menang sesuatu. "Nah. Ayo."
Tur rumah versi Stella ternyata bukan tur untuk memamerkan barang mahal. Ia menunjukkan dapur besar tempat kepala pelayan mengatur jadwal makan, ruang laundry yang tidak boleh dimasuki tanpa izin, pintu samping yang dipakai staf, dan lorong kecil menuju taman belakang.
"Kalau lapar, jangan ambil sendiri dari kulkas utama," kata Stella. "Bilang ke kepala pelayan. Kalau kau ambil sendiri, orang bisa sengaja bilang barang hilang."
"Orang bisa begitu?"
Stella menoleh. "Kau sudah hidup di jalanan. Jangan pura-pura kaget."
Nana diam.
Benar juga.
Di dapur, kepala pelayan memberi Nana seragam sederhana warna abu-abu muda. Perempuan itu tidak banyak bicara, tapi matanya teliti.
"Baju lamamu akan dicuci," katanya.
Nana langsung memegang kantong kainnya. "Barangku tidak ikut dicuci."
Kepala pelayan menatap Stella.
Stella mengangguk cepat. "Biarkan kantongnya. Dia belum percaya siapa pun."
"Kalau begitu jangan sampai kantong itu masuk ruang makan utama," jawab kepala pelayan. "Pak William tidak suka barang lusuh di meja."
Nana hampir menjawab, tapi Stella lebih dulu menarik lengannya.
"Aturan pertama," bisik Stella ketika mereka keluar dapur. "Pilih perangmu. Jangan semua orang kau lawan di hari pertama."
"Aku tidak takut."
"Aku tahu. Itu masalahnya."
Nana menatapnya.
Stella berjalan mundur beberapa langkah sambil tersenyum. "Kau seperti pisau kecil. Tajam, tapi kalau dipakai menusuk semua hal, cepat patah."
"Cici selalu bicara seperti itu?"
"Seperti apa?"
"Seperti orang yang sedang bercanda, tapi sebenarnya memperingatkan."
Langkah Stella berhenti sebentar. Senyumnya masih ada, tetapi matanya berubah.
"Mungkin karena di rumah ini terlalu banyak peringatan yang harus terdengar seperti candaan."
Setelah itu ia membawa Nana ke ruang makan kecil, bukan ruang makan panjang yang kemarin Nana lihat. Di sana sudah ada bubur ayam, telur rebus, dan teh hangat. Stella mengajari Nana cara duduk ketika makan bersama keluarga, kapan harus menunggu William mengambil sumpit lebih dulu, dan kenapa tidak boleh menatap terlalu lama ketika orang-orang dewasa bicara soal bisnis.
"Kalau Cici Tamara bertanya, jawab jujur. Kalau Mama Lusia bertanya, jawab pendek. Kalau Papa diam, jangan isi diamnya."
"Kalau Steven Sie?"
Sendok Stella berhenti di atas mangkuk.
Nana melihatnya.
"Kau penasaran sekali."
"Aku hanya bertanya aturan."
Stella meletakkan sendoknya. "Kalau bertemu Koko Steven, beri jalan. Kalau dia bicara, dengarkan. Kalau dia tidak bicara, jangan paksa."
"Dia selalu begitu?"
"Dulu tidak."
Kata itu keluar terlalu pelan.
Sebelum Nana sempat bertanya, seorang pelayan masuk membawa kotak kayu kecil.
"Nona Stella, barang dari ruang musik sudah ditemukan."
Wajah Stella langsung berubah.
Ia menerima kotak itu dengan kedua tangan. Gerakannya hati-hati, seolah isi kotak bisa pecah hanya karena napas. Di tutupnya ada ukiran kecil berbentuk hujan jatuh di atas jendela.
"Terima kasih," ucap Stella.
Setelah pelayan pergi, Stella membuka kotak itu sedikit. Dari tempat Nana duduk, ia hanya melihat selembar foto tua dan sudut kartu nama dengan tulisan Patrick Pang.
Stella cepat-cepat menutupnya.
"Siapa Patrick?" tanya Nana.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Stella tidak langsung menjawab dengan ringan.
Jari-jarinya menekan tutup kotak. Buku-buku jarinya memucat.
"Seseorang yang pernah membuat rumah ini terdengar lebih ramai," katanya.
"Dia pergi?"
Stella menatap jendela. Di luar, taman belakang basah oleh sisa hujan malam. Daun-daun mengilap. Semua terlihat segar, kecuali wajah Stella.
"Ada orang yang pergi, ada yang dibuat pergi," ucapnya.
Nana merasakan bulu kuduknya naik.
Stella menarik napas, lalu tiba-tiba tersenyum lagi. Senyum itu terlalu cepat kembali, seperti pintu yang ditutup sebelum orang sempat melihat isi ruangan.
"Sudah. Sekarang aturan berikutnya. Jangan pernah masuk ruang kerja Papa. Jangan naik ke lantai tiga tanpa aku. Jangan menyentuh laci di meja koridor timur. Dan kalau ada orang bertanya siapa yang membawamu ke sini, jawab saja aku."
"Kenapa?"
"Karena lebih mudah menyalahkan aku daripada menyalahkanmu."
Nana memandangnya lama.
Orang seperti Stella seharusnya tidak perlu melindungi orang seperti dirinya. Namun sejak kemarin, gadis itu terus berdiri di depannya, bukan di belakang.
"Cici Stella," panggil Nana pelan.
"Hmm?"
"Kenapa mereka memanggilmu Xiao Liu?"
Senyum Stella kali ini lebih sungguh. "Karena aku anak keenam. Dulu, teman-teman dekat juga memanggilku begitu."
"Aku boleh?"
Stella terdiam.
Nana langsung menyesal. "Tidak usah kalau tidak boleh."
"Boleh," jawab Stella cepat. Matanya sedikit merah, tapi ia tetap tersenyum. "Tapi jangan di depan Mama Lusia. Nanti dia bilang aku terlalu mudah dekat dengan orang."
"Xiao Liu," coba Nana.
Stella menunduk, menggigit bibirnya sebentar, lalu tertawa kecil. Suaranya tidak secerah tadi, tetapi lebih nyata.
Mereka keluar dari ruang makan kecil menuju taman belakang. Untuk pertama kalinya sejak masuk Rumah Besar Sie, Nana tidak menghitung pintu keluar.
Ia menghitung langkah Stella di sampingnya.
Di dekat kolam, Stella berhenti.
"Nana."
"Ya?"
Stella menatap pantulan rumah besar di air. Dari sana, bangunan itu terlihat indah, hampir seperti tidak punya retak.
"Kau boleh percaya padaku pelan-pelan," katanya. "Tapi jangan percaya rumah ini terlalu cepat."
Nana mengikuti pandangannya.
Di permukaan air, bayangan jendela lantai tiga tampak gelap meski matahari sudah naik.
Stella menurunkan suaranya.
"Di rumah ini, tidak semua orang seperti yang terlihat."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!